Perawan Eh Perempuan Disarang Penyamun

Jakarta, kota yang serba gemerlap ini, pada saat yang sama sekaligus terasa semakin kelam. Kriminalitas terus merajalela. Perampokan semakin nekat, pembunuhan jadi berita ”biasa” sehari-hari. Belum lagi kejahatan yang dilakukan secara lebih halus. Jakarta semakin tak ramah.

Kriminalitas memang senantiasa mengintai warga Jakarta di mana pun, kapan pun. Tekanan ekonomi memang kerap menjadi faktor yang diyakini menjadi penyebab tindak kriminal. Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri saat melantik Kepala Badan Reserse Kriminal Polri yang baru Inspektur Jenderal Susno Duadji pekan lalu memperingatkan soal kecenderungan maraknya berbagai macam kriminalitas belakangan ini.

Menurut Bambang, gejala melesunya perekonomian belakangan ini yang menyebabkan penurunan produksi barang dan jasa di sektor riil akan menimbulkan pengangguran bertambah. Dan, hal itu pada akhirnya berpotensi menyulut tindak kriminal, khususnya yang berkategori konvensional. Kriminalitas berkategori konvensional itu, misalnya penganiayaan, pencurian dengan kekerasan, pencurian kendaraan bermotor, dan pemerkosaan.

Berdasar data Litbang Kompas, ”surga” kejahatan saat ini terdapat di wilayah Jakarta Barat. Tercatat sepanjang Januari-Mei terjadi lebih dari 2.000 kasus yang dilaporkan. Padahal dari rasio jumlah polisi dan penduduk, Jakarta Barat dengan rasio 1:983 masih ”lebih baik” dibandingkan dengan Jakarta Timur misalnya, yaitu 1:1.067.

Permukiman padat dan kampung kumuh menjadi salah satu titik maraknya kejahatan. Dalam berbagai peristiwa, pada kesempatan pertama, kejahatan kerap menjadikan perempuan dan anak sebagai sasaran empuk. Salah satu contoh mutakhir adalah pembunuhan Rosalina Sibarani (25), Guru SMP Citra Kasih, di Kalideres, Jakarta Barat. Rosa ditemukan terbunuh di kamar kos di permukiman padat di Gang Waru, Kelurahan Kalideres, Jumat (10/10) pagi.

Di Jakarta Barat, berdasarkan data yang dikumpulkan Litbang Kompas dari berbagai sumber, kawasan rawan kejahatan adalah Daan Mogot, Kyai Tapa, dan Tomang. Kerawanan kriminalitas tersebut tak hanya di DKI Jakarta, melainkan juga di wilayah pendukung lainnya, seperti Depok, Bekasi, dan Tangerang.

Makin tak nyaman

Lantas siapakah yang senantiasa jadi sasaran tindak kriminal di perkotaan? Kriminolog dari Universitas Indonesia Erlangga Masdiana mengatakan, di tengah kondisi sosial ekonomi saat ini—yang berpotensi menyulut praktik kejahatan—sasaran empuk tindak kejahatan selalu saja adalah perempuan. Erlangga menyebut, perempuan merupakan potential victim (korban potensial) tindak kriminal. ”Persepsi terhadap kaum perempuan itu memengaruhi terhadap realitas kejahatan itu sendiri,” kata Erlangga.

Erlangga menjelaskan, persepsi mendasar terhadap perempuan tersebut adalah bahwa perempuan bisa dieksploitasi membuat perempuan senantiasa bisa dijadikan korban. Turunan dari persepsi itu, di antaranya, perempuan dianggap punya rasa takut yang lebih tinggi, lemah, gampang menyerah, bisa dipaksa, mudah disuruh-suruh, lebih penyabar, tidak mudah melawan. Persepsi itulah yang senantiasa membuat perempuan kerap menjadi korban kejahatan.

Sejak enam bulan terakhir, setidaknya ada 11 peristiwa kriminal menonjol yang menyasar perempuan sebagai korban. Bentuknya, mulai dari perampokan sampai pembunuhan. Sementara motifnya, mulai dari faktor ekonomi sampai sakit hati.

Peristiwa terkini ialah pembunuhan terhadap Irma Yuli (19), mahasiswa Universitas Gunadarma Program Diploma III Bidang Kebidanan. Irma diduga dirampok sebelum dibunuh. Jenazahnya lalu dibuang di dekat gerbang masuk Universitas Indonesia di Pondok Cina, Depok.

Peristiwa semacam itu tentu saja mudah menebarkan rasa waswas dan ketakutan, khususnya di kalangan perempuan. Meskipun pembunuhan Irma tidak terjadi di areal Kampus UI, Yenti Aprianti, mahasiswi pascasarjana UI, Jurusan Antropologi, merasa semakin tidak aman. Yenti kini selalu meminta tukang ojek memilih jalan memutar melalui daerah yang ramai. ”Lebih jauh tidak apa dibanding memotong jalan yang dekat, tetapi sepi. Saya merasa tidak aman,” kata Yenti.

Erlangga mengatakan, kota Jakarta—yang lebih merupakan sebagai kota jasa ketimbang industri—sebenarnya tengah mengalami anomi terhadap peran perempuan. Anomi adalah suatu gejala kehilangan nilai moral yang merujuk pada pemikiran sosiolog asal Perancis David Emile Durkheim, belum terbentuknya nilai yang baru namun nilai yang lama semakin tergerus, penderita Anomi ini biasanya adalah mereka yang senang bergaul dan pandai bicara. Perempuan, misalnya, sejak dahulu dianggap harus dilindungi, dihormati, dihargai. Namun, dalam kehidupan kota saat ini, nyatanya kaum perempuan banyak yang dieksploitasi dan menjadi sasaran kejahatan.

Pada kota jasa seperti Jakarta, tambah Erlangga, perempuan banyak berperan dan dimanfaatkan sebagai pelaku ekonomi di sektor jasa. Hal itu karena bertolak dari persepsi perempuan cocok dalam hal pelayanan.

Namun, semakin tinggi keterlibatan perempuan di luar rumah atau wilayah domestik, keamanan terhadap mereka tidak terjamin baik. ”Sehingga di satu sisi kaum perempuan banyak terlibat dan berjasa dalam proses pembangunan, tapi di sisi lain sekaligus juga menjadi korban pembangunan,” tambah Erlangga.

Akibatnya, di tengah kondisi kota demikian, keberadaan perempuan seolah jadi serba salah. Di lingkungan domestik terancam KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), di lingkungan nondomestik senantiasa dibayangi jadi sasaran empuk kriminalitas.

Dengan demikian, mau tak mau kaum perempuan—terlebih yang turut terlibat di sektor nondomestik—sebaiknya lebih waspada menyadari wilayah-wilayah rawan serta berbagai modus kejahatan yang bisa sewaktu-waktu menimpa dirinya. Sebab, rasanya tak mungkin menunggu kondisi kota menjadi lebih ramah.

One response to “Perawan Eh Perempuan Disarang Penyamun

  1. tulisan bgs .. bs ikutan nyumbang berita gak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s