Terbukti Kejahatan Seksual Tidak Berhubungan Dengan Cara Berpakaian Atau Perilaku Wanita Tetapi Semata Mata Karena Pria Tidak Bisa Menahan Nafsu

Seorang wanita alumnus Universitas Indonesia melaporkan mantan dosennya telah menodai semasa ia kuliah di perguruan tinggi tersebut. Laporan ke polisi itu mendapat sambutan luas lewat situs internet yang lalu memunculkan dugaan ada belasan korban lain.

Pihak kampus bereaksi cepat. Setelah dimintai keterangan, dosen yang telah mengajar belasan tahun itu diskors dan terancam pemecatan bila kelak terbukti bersalah. Polisi sendiri masih mendalami kasus ini, murni pemerkosaan ataukah ada motif ingkar janji pelaku kepada korban.

Pada saat yang sama muncul berita, seorang remaja putri melapor telah diperkosa oknum petugas reserse di Polres Metro Jakarta Timur. Ia dipaksa menuruti kemauan pelaku dengan ancaman kekasihnya yang kini ditahan polisi dalam kasus narkoba akan dijatuhi hukuman berat. Pihak provost kini tengah memproses laporan itu.

Sebelum dua kasus itu dilaporkan, berita di media massa juga diwarnai kasus-kasus kejahatan seksual. Pemerkosaan di dalam lingkungan keluarga, seperti anak perempuan dinodai ayah tiri atau bahkan ayah kandung, keponakan dinodai paman. Di lingkungan permukiman juga terjadi kasus pemerkosaan antartetangga, anak-anak dinodai pedagang keliling. Kejahatan seksual di lingkungan kerja, atasan menodai anak buah atau sesama pegawai.

Kasus-kasus tersebut seolah menegaskan bahwa sebagian besar kasus justru terjadi dalam situasi antara korban dan pelaku saling mengenal. Lembaga Kriminologi Universitas Indonesia pernah melansir hasil penelitian, 74 persen kasus menunjukkan pelaku adalah ‘orang dekat’ korban. Artinya, lebih banyak kasus kejahatan seksual yang didahului oleh interaksi antara korban dan pelaku. Sebaliknya, sangat sedikit kasus pemerkosaan di mana korban dan pelaku tidak saling kenal. Pelaku kasus seperti ini mungkin tergolong sebagai psikopat yang jumlahnya relatif tidak banyak.

Realitas tersebut memberi pemahaman baru terutama kepada kaum perempuan yang lebih banyak menjadi korban kejahatan seksual, untuk lebih cermat dan berhati-hati dalam bergaul. Ketika terhadap orang asing, perempuan dan anak-anak diminta waspada, maka terhadap orang sekitar, perempuan juga tidak

boleh lengah.

Mengingat lebih banyak kasus kejahatan seksual yang didahului oleh interaksi antara korban dan pelaku, maka kerap ada anggapan agar perempuan juga tidak bersikap atau berperilaku ‘mengundang.’ Pandangan semacam ini kadang dinilai bias gender karena terkesan memberi bobot tanggungjawab lebih berat pada pihak perempuan. Seolah kejahatan seksual yang dilakukan kaum pria karena berpikiran penuh hawa nafsu dan kurang pengendalian diri disumbang oleh kesalahan perempuan.

Pengenaan hukum yang lebih berat agaknya bisa menerbitkan harapan agar kaum pria pelaku kejahatan seksual menanggung akibat yang setimpal. Tambahan ancaman sanksi pidana sepertiga masa hukuman harus sungguh-sungguh dikenakan kepada pelaku yang mestinya melindungi korban, seperti pada kasus
pemerkosaan orang dewasa terhadap anak-anak, atasan terhadap bawahan, guru terhadap murid, dan sebagainya.

Pengenaan hukuman tambahan dengan menggunakan aturan hukum yang terkait juga perlu dipertimbangkan. Misalnya, pelaku kejahatan seksual terhadap anak-anak, juga bisa dikenai hukuman dengan mengunakan UU Perlindungan Anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s