Indonesia Adalah Negeri Yang Sangat Kaya Akan Budaya Kekerasan Terbukti Dalam Sejarah

Merebaknya budaya kekerasan di tengah masyarakat saat ini merupakan bingkai besar dari ragam praktik kriminalitas dengan berbagai gradasi kekejian. Di tengah kondisi itu media massa seharusnya kembali kepada perannya yang juga mengemban tanggung jawab sosial. Media massa tidak sepatutnya terus terjerumus dalam kendali pasar serta mengutamakan kepentingan modal.

”Bingkai besarnya adalah kekerasan yang menjadi budaya di tengah masyarakat kita. Kekerasan menjadi jalan, menjadi cara yang digunakan masyarakat dalam menghadapi masalah. Demokrasi yang kita nikmati saat ini adalah demokrasi yang menciptakan kekerasan. Kriminalitas menjadi salah satu wujudnya,” kata Hotman Siahaan, sosiolog dari Universitas Airlangga.

Hotman menambahkan, secara akademis dan statistik memang belum dapat dikatakan bahwa kriminalitas saat ini cenderung makin keji atau sadis. Sebab, di masa lampau pun tindak kriminalitas yang keji atau sadis beberapa kali telah terjadi.

”Meski begitu, frekuensi kriminalitas yang tampak berturut-turut bisa mengindikasikan masyarakat saat ini berada dalam situasi yang anomali, cenderung mencari cara gampang, penyelesaian yang cepat, dengan segala risikonya,” kata Hotman.

Hotman menjelaskan, situasi anomali merupakan suatu keadaan tidak normal, kacau, dan gamang. Realitas sosial saat ini, kata Hotman, banyak diwarnai oleh kekerasan dengan berbagai gradasinya. ”Mulai dari kekerasan politik, yang saban hari kita lihat di media. Masyarakat mudah marah tanpa takut terhadap konsekuensi hukumnya, gejala sektarian menguat, masyarakat tidak bisa memahami perbedaan. Tanpa ada rasa tanggung jawab dan dampak hukumnya,” papar Hotman.

Media massa

Dalam kondisi demikian, menurut Hotman, media sedikit banyak turut berperan.

”Sebenarnya masih debatable (diperdebatkan) apakah media massa membuat orang melakukan imitasi praktik kekerasan. Namun, ada juga yang berpendapat media justru membingkai bahwa perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum akan mendapat ganjarannya sehingga orang tidak mudah berbuat kriminal,” kata Hotman.

Terlepas ada atau tidak pengaruh media, Hotman berpandangan, media massa harus sekuat mungkin mempertahankan perannya dalam mengemban tanggung jawab sosial. Meskipun, tambah Hotman, media massa cenderung terkungkung dalam kekuasaan pasar dan persaingan antarmedia yang ketat.

Senada dengan Hotman, Awang Ruswandi, pengajar Jurnalistik Televisi di Departemen Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, berpandangan, media massa cukup berperan dalam memengaruhi perilaku agresif di tengah masyarakat, termasuk yang berujung pada praktik kriminalitas.

Paling tidak, menurut Awang, pengemasan pemberitaan kriminal, khususnya di televisi, memiliki kekuatan untuk menginspirasi penontonnya dalam perbuatan kriminal.

”Kasus Smack Down (acara di televisi yang menginspirasi anak kecil berbuat serupa), misalnya, itu terbukti. Tayangan rekonstruksi perbuatan kriminal di televisi dengan detail itu juga sebenarnya tidak beretika,” kata Awang.

Awang berpendapat, sebagian praktisi media, khususnya televisi, tidak lagi berpedoman kuat kepada etika jurnalistik. Peristiwa kriminal dieksploitasi sedemikian rupa tanpa mengindahkan etika. Menurut Awang, penyebabnya adalah industri media massa cenderung semakin digerakkan kepentingan pasar. Kriminalitas menjadi komoditas.

”Market-driven journalism, begitu gambarannya,” kata Awang.

Kriminolog dari Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, mengatakan, dalam hal kecenderungan gejala copycat (meniru) peristiwa kriminalitas, media massa sebatas merupakan penyebab antara.

”Praktik kriminalnya itu sendiri banyak faktor yang mendorong. Sementara, informasi dari media massa hanya menginspirasi caranya. Memutilasi, misalnya, lebih didorong oleh keinginan kuat untuk menghilangkan jejak, Sebab, pelaku sadar bahwa identitas korban adalah entry point bagi polisi untuk menuju ke pelaku,” kata Adrianus.

Senada dengan Adrianus, psikolog sosial Sartono Mukadis meyakini gejala copycat, jika toh demikian, tidak begitu saja terjadi. Sartono lebih cenderung meyakini sudah ada sesuatu yang salah di tengah masyarakat saat ini. Sartono menjelaskannya sebagai kondisi state of anomie, suatu kondisi masyarakat yang gamang karena mulai kehilangan norma.

Penuh perhitungan

Kesadaran pelaku kriminal tersebut justru dianggap Adrianus sebagai indikasi yang ”positif”. Menurutnya, masyarakat, termasuk pelaku kejahatan, sadar bahwa segala ruang saat ini telah terjangkau oleh hukum.

Dengan demikian, praktik kriminalitas harus dilakukan dan disembunyikan dengan upaya lebih keras. Pelaku kejahatan menjadi lebih kalkulatif. Dalam hal ini, mutilasi, menurut Adrianus, boleh dibilang cermin dari upaya keras itu. Sebab, hampir semua kasus mutilasi bertujuan menghilangkan jejak pelaku dengan cara merusak korban sehingga tanpa identitas.

Selain faktor media massa, Sudarmono, sejarawan Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo, mencermati dampak urbanisasi yang membuat kaum urbannya mengalami perubahan perilaku, mulai dari aspek materialisme sampai kekerasan.

”Hal-hal buruk dari Jakarta (kota) pun tertular dan dibawa pulang ke tempat asal. Begitu pula kekerasan, menjadi mudah diadopsi,” imbuh Sudarmono.

Sudarmono menilai sejarah negeri ini memang ”kaya” akan cerita kekerasan berikut kekejiannya. Bahkan, sejak zaman raja-raja Jawa berkuasa luas. Sudarmono memberi contoh pada suatu masa pernah ada seorang penjahat yang dihukum dengan dikuliti, lalu kulitnya dilekatkan di pintu alun-alun selatan Kota Solo sebagai peringatan.

Terlepas dari rentetan sejarah itu, bagaimanapun kekejian terus menggejala. Tak heran, Sartono pun bertanya apakah saat ini merupakan gejala mass neurosis, gangguan mental massal?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s