Masyarakat Indonesia Hanya Pandai Meniru Termasuk Dalam Kasus Pembunuhan

Dokter ahli forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Abdul Mun’im Idris, Senin (3/11), mengatakan, jenis kejahatan, terutama pembunuhan, saat ini makin beragam dan cenderung meniru. Mutilasi dan mayat dalam koper, misalnya, telah menjadi tren yang terus berulang serta makin sulit diungkap pelakunya.

”Lihat juga kasus Robot Gedek. Setelah ia ditangkap polisi, tak lama berselang muncul kasus kematian lima bocah laki-laki serupa dengan kasus Robot Gedek. Pada tahun 2008, ada lagi pembunuhan dua bocah laki-laki dengan luka bekas sodomi dan kekerasan fisik di tubuhnya. Pelakunya belum terungkap hingga kini,” kata Mun’im Idris.

Sepanjang tahun 2008, terjadi sedikitnya delapan kali kasus mutilasi. Pertengahan tahun ini, muncul kasus pembunuhan Eka Putri, warga Bekasi berusia sekitar 20 tahun. Dari hasil visum dan otopsi terhadap jasad korban, Mun’im menemukan banyak persamaan luka seperti korban- korban luka dalam kasus Ryan, si pembunuh berantai.

Berdasarkan analisis Mun’im, pembunuhan ada dua kategori, yaitu membunuh sebagai sarana dan karena alasan emosional. Membunuh sebagai sarana, seperti perampok yang terpaksa membunuh pemilik rumah agar usahanya berhasil.

”Sedangkan, karena alasan emosional, seperti tersulut amarah, bisa dendam atau cemburu. Bisa juga karena kelainan seksual. Pembunuhan karena alasan emosional paling banyak terjadi. Demi menghilangkan jejak agar tak tertangkap, pelaku makin kreatif, termasuk meniru cara pelaku lainnya,” kata Mun’im.

Sudarmono, sejarawan Universitas Negeri 11 Maret, Solo, menjelaskan, makin seringnya kasus kejahatan sadis terjadi dapat dikaitkan dengan ada fenomena kaum urban, mereka yang hijrah dari daerah ke kota dan terbiasa mengadopsi seluruh gaya hidup. Nilai-nilai kekerasan pun mudah diterima dan merasuki mereka.

Sudarmono mengambil contoh kasus Ryan. Ryan dengan latar belakang keluarga tak harmonis, miskin, dan terlepas dari pengawasan keluarga tidak punya pegangan apa-apa selain kekosongan hidup di pengembaraan. Ada elemen masuk, seperti homoseksual dan materialisme, merasuki Ryan dan menjadi tujuan hidupnya.

Dipicu media massa

Sementara itu, Awang Ruswandi, pengajar jurnalistik televisi di Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, dan kriminolog dari UI Adrianus Meliala berpandangan, media massa cukup berperan dalam memengaruhi perilaku agresif di kalangan masyarakat, termasuk yang berujung pada tindak kriminalitas dan kecenderungan meniru.

Menurut Awang, pengemasan pemberitaan kriminal, khususnya di televisi, memiliki kekuatan untuk menginspirasi penontonnya dalam berbuat kriminal.

2 responses to “Masyarakat Indonesia Hanya Pandai Meniru Termasuk Dalam Kasus Pembunuhan

  1. busyet dah, pembunuhan banyak yang niru… ntar kalau pembunuhan di komik dtektif conan ditiru bakal berabe.. banyak yang gak ketahuan siapa pembunuhnya kan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s