Waspadai Bandar Narkoba Asal Afrika Barat

Mabes Polri mengingatkan warga tentang kian kuat dan liciknya peredaran narkoba oleh jaringan Afrika Barat di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dalam Operasi Paniki dengan target khusus orang asing selama Oktober lalu, ada 19 warga asing terlibat dan tiga orang di antaranya ditembak mati.

Direktur IV/Tindak Pidana Narkoba Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Brigadir Jenderal (Pol) Harry Montolalu mengungkapkan itu kepada pers di Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Jakarta, Jumat (7/11). Harry didampingi Kepala Dinas Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Bambang Kuncoko.

Operasi dilaksanakan lima tim, yakni BNN dan Mabes Polri serta empat tim daerah, yakni Badan Narkotika Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Bali, dan Sumatera Utara. Dari 498 warga asing yang terjaring, ada 19 orang terlibat kasus narkoba dan tiga orang di antaranya ditembak mati karena melawan atau melarikan diri saat akan ditangkap.

Tiga orang yang ditembak mati ialah Oliver Uchechukwu Osondo alias Today Taouray (Nigeria) dengan barang bukti 100 gram heroin, Victor Thembo Macoba (Afrika Selatan) yang hendak mengedarkan 59,6 gram heroin, dan Steve alias Richard (Nigeria) yang memiliki 40 gram heroin. Total barang bukti heroin yang diambil dari tiga orang ini 199,6 gram.

Sebanyak 16 orang lainnya kini diproses hukum sehingga dari total 19 warga asing yang terlibat kasus narkoba, aparat berhasil menyita 370,1 gram heroin, 28,3 gram hasis, 13,7 gram ganja kering, tiga batang pohon ganja, 25.500 butir ekstasi, dan 200,5 gram sabu. Apabila dijual, nilai narkoba itu mencapai Rp 2,223 miliar lebih.

”Prakiraan jumlah penduduk yang dapat diselamatkan, yakni khusus para pencandu pemula dari barang bukti yang disita, adalah 308.161 orang,” kata Harry.

Menurut Harry, dalam pertemuan interpol yang terkait pemberantasan jaringan narkoba di Bangkok bulan lalu, ada satu catatan penting yang harus diketahui publik di Asia Tenggara, terutama rakyat Indonesia. Catatan itu adalah dari berbagai kasus yang terungkap, jaringan pengedar narkoba di kawasan ini umumnya dipelopori warga asal Afrika Barat.

Bahkan, warga asing yang menjadi narapidana karena kasus narkoba di lembaga pemasyarakatan (LP) masih bisa mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji. Kasus seperti ini antara lain ditemukan lewat terpidana Mirke (Nigeria).

Mereka mengendalikan anak buahnya dari LP lewat telepon seluler. Seharusnya, napi atau tersangka kasus narkoba tidak boleh menggunakan telepon.

Bambang menambahkan, modus yang dilakukan warga asing, terutama dari Afrika, tergolong unik. Untuk memuluskan peredaran narkoba, yang pertama dilakukan ialah dengan menikahi perempuan lokal dan mendapatkan keturunan sebagai pengikat hubungan darah. Baru setelah itu istri dijadikan sebagai kurir.

Dengan demikian, semakin luas warga Indonesia yang terlibat jaringan peredaran narkoba. ”Bahkan sampai ada beberapa warga Indonesia yang tertangkap di negara lain karena kasus narkoba ini,” ujar Bambang.

Operasi narkoba yang dilakukan dalam tiga bulan sebelumnya (Juli, Agustus, September), terjaring 6.383 tersangka, termasuk pelajar sekolah menengah. Ada 54 orang dijatuhi hukuman mati. ”Kita berharap tidak ada napi yang dihukum ringan, atau mendapat remisi,” kata Harry

Barang bukti yang disita selama tiga bulan itu mencapai Rp 195,641 miliar. ”Prakiraan jumlah penduduk yang dapat diselamatkan sebagai pencandu pemula dari barang bukti tersebut lebih dari 69 juta orang,” kata Harry.

Selain itu, BNK Kepulauan Seribu hari Jumat kemarin menangkap 13 orang, termasuk dua siswa SMU karena berpesta ganja di Dermaga Pulau Kelapa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s