Monthly Archives: Maret 2009

Pemulung Cilik Tanpa Penyesalan Membunuh Wanita Penolongnya Untung Tidak Sampai Diperkosa

Istri pejabat Kantor Imigrasi Bogor tewas dibantai pemulung cilik di rumahnya, Jl. Darulung Raya RT 02/07 Perum Bantarjati Indraprasta, Kota Bogor. Pembantunya juga sekarat dibabat pakai pisau dan gaco sampah.

Ny Bianstuti Caniago 46, istri Kasubsi Forsakim Imigrasi Bogor, Muchlis Amri,48, jantung dan tangannya tertembus sabetan alat gaco oleh pelaku. Ia sempat dibawa di RS Azra Bogor, namun nyawa ibu empat anak ini tak tertolong.

Wanita pembantunya, Soliyem, 43, alias Iyem luka parah di kepala, dada, tangan, pundak dan tangannya. Pelakunya, Junaedi,13, sudah lama kenal dengan keluarga korban dan selama ini sering dibantu. Dia ditangkap warga tak lama setelah kejadian.

Peristiwa sadis Senin (30/3) ini, berawal ketika Junaedi masuk ke rumah korban sekitar Pk. 11:00 dan hendak mengambil DVD. Aksinya kepergok Iyem, pembantu korban. Dia langsung mengayunkan gaco hingga mengenai tangan Iyem.

Korban lari ke dalam rumah sambil berteriak minta tolong tapi dikejar. Bagai kerasukan setan pelaku menikam dan membabat tubuh wanita itu pakai pisau yang ada di dapur.

Ny Bianstuti yang saat itu baru selesai mandi, keluar dari kamar mandi dengan hanya menggenakan handuk. Belum sempat bertanya, pelaku menyerang membabi buta.

DISERAHKAN KE POLISI
Ibu empat anak, Muhamad Arief, Isti, Usti dan Amirul Akbar ini, terkapar bersimbah darah. Saat kejadian di dalam rumah hanya ada Ny Bianstuti dan Iyem, sedangkan Muchlis Amri sudah berangkat kerja dan keempat anaknya sedang sekolah.

Warga sekitar berdatangan ke rumah korban, termasuk Ketua RT 02 Sudrajat. ”Ketika saya tiba, warga lainnya sedang mengejar pelaku,” kata Sudrajat.

Junaedi, bocah yang hanya sekolah sampai kelas IV SD ini diserahkan ke polisi. Dia mengaku sudah berencana membunuh Ny Bianstuti sejak Minggu (29/3). Dia dendam karena meminta sepeda bekas yang tak dipakai tapi tolak.

Bocah yang tinggal di Tegalega Bogor Tengah ini mengatakan memulung mengikuti jejak bapaknya karena hidup melarat. Ibunya juga banting tulang menjadi tukang cuci pakaian.

”Sebetulnya Ibu Bianstuti sangat baik ke saya. Sering ibu dan bapak ngasih uang, kalau saya habis bantu membersihkan barang bekas di rumah. Tapi saya tidak menyesal membunuh ibu,” kata anak ke-10 dari 11 bersaudara pasangan Uci,55, dan Ny Ati,49, tersebut.

TELAH MEMAAFKAN
Muchlis Amri, suami korban yang datang ke rumah sakit juga mengakui Junaedi selama ini dekat dengan keluarganya. Meski kelihatan terpukul dengan peristiwa ini, Muchlis tampak tabah.

”Saya tidak tahu motifnya apa kenapa dia tega membunuh istri saya. Yang jelas, saya dan anak-anak telah memaafkan. Balas dendam, bukanlah solusi,” ucap Muchlis.

Kasat Reskrim Polresta Bogor, AKP Irwansyah didampingi Kapolsek Bogor Utara, AKP Saryono menegaskan pelaku dijerat dengan pasal 340 KUHP dan kemungkinan pasal 365 tentang perampokan.

”Ancaman pidananya 20 tahun atau hukuman mati, walau usianya masih 13 tahun. Pasalnya, perbuatannya mengakibatkan nyawa orang lain meninggal. Kami juga akan melakukan tes mental kepada pelaku serta menyilidiki latar belakang keluarganya,” tandas Irwansyah.

Berkurang Satu Penjahat Penebar Ranjau Paku Karena Tewas Ditembak Polisi Cekatan

Satu dari empat penjahat penggembos ban ambruk dibedil anggota Jatantras Polda Metro Jaya saat kepergok beraksi di Jalan Pangeran Tubagus Angke, Senin (30/3) petang.

Andi Irfan, 40, yang ditembak dada kirinya dilarikan ke RS Polri Sukamto Kramatjati, Jakarta Timur. Tiga tersangka lainnya yang kini meringkuk di tahanan, Dedi, 30, Joni, 26, dan Dendi alias Bocor, 29. Barang bukti yang disita, sebuah tas milik Dharmadi Gani, 52, satu buah ban dan satu ranjau paku.

Komplotan penebar ranjau paku ini beraksi sekitar Pk. 16:30 dengan berboncengan sepeda motor. Mereka membuntuti sedan yang ditumpangi Dharmadi Gani. Setiba di Jalan Pangeran Tubagus Angke dekat Rumah Duka Jabar Agung Jelambar, tiba-tiba ban mobil kempes.

Seorang dari mereka berlagak memberitahu korban. Saat Dharmadi turun dari mobil, pelaku lainnya menggasak tas korban berisi surat-surat dan sejumlah uang. Namun ketika berusaha kabur, korban yang memergoki tasnya dicuri langsung berteriak.

Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Drs M Iriawan menjelaskan anggotanya yang saat itu berada tak jauh dari lokasi mengejar kawanan itu. “Mungkin mereka tidak menduga ada anggota kami di sekitar lokasi. Pelaku yang berusaha kabur dilumpuhkan,” paparnya.

Lima Perampok Bank Beraksi Disiang Bolong Mengendarai Invonna Nopol BK 2454 PY

Perampokan siang bolong terjadi di Medan. Bank Mestika Cabang Pembantu, di Jl S. Parman Ujung, dirampok lima pria menggunakan senjata api.

Belum ada keterangan resmi masalah kerugian dari pihak bank. Seorang karyawan bank menyebutkan pelaku menggasak dua tas berisi uang milik bank Rp1,6 miliar.

Penjelasan itu dibantah Wakalpoltabes Medan AKBP Frederik Kalalembang usai meninjau lokasi kejadian. ”Tak sampai segitulah, mungkin sekitar Rp1 miliar,” katanya.

Aksi perampokan, Jumat (27/3), tergolong nekat. Pasalnya lokasi bank tak jauh dari Lapangan Merdeka yang dipadati ratusan simpatisan Partai Golkar berkampanye terbuka.

Pelaku yang disebut membawa dua senjata api jenis laras panjang dan laras pendek itu mendatangi Bank Mestika mengendarai Toyota Innova BK 2454 PY.

Petugas Satpam F. Budianto yang siaga di depan pintu masuk bank l dilumpuhkan, dan disekap di bawah meja. Seorang customer service, Yenny, mengaku diancam pelaku yang membawa pistol.

”Senjatanya warna putih, ketika itu jam istirahat jadi suasana bank lengang,” kata Yenny.

Informasi lain menyebutkan kelima pelaku sebelumnya sempat menodong wanita nasabah yang sedang menunggu temannya mengambil uang di mesin ATM yang berada di samping bank. Sejumlah uang yang diduga Rp3 juta dirampas pelaku.

Wakapoltabes Medan mengatakan belum mengetahui jenis senjata api yang digunakan pelaku. Bahkan perwira ini masih meragukan keaslian senjata yang digunakan pelaku.

”Menurut pegawai bank, pelaku membawa dua senjata api. Tapi masih perlu pembuktian yang kuat untuk memastikan senjata itu asli,” katanya.

Upaya mengusut kasus itu, sejumlah personel gabungan dari Direktorat Reskrim Polda Sumut dan Poltabes Medan diterjunkan melacak keberadaan pelaku

Sehabis Mengintip Tetangga Bersetubuh Kemudian Membunuh Tukang Ojek

Pengojek memergoki orang mengintip tetangga bersetubuh berakhir di ujung badik. Masri alias Mancis, 39, tengah mengintip, menghabisi peronda yang juga tukang ojek kenalannya.

Tersangka, warga Kampung Sampit, Desa Mompok, Kecamatan Cikeusal, Serang, ditangkap polisi Serang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (26/3) pagi.

Korban tewas, Asep Asmar, 20, juga pengojek, ternyata kenal dengan pelaku. Mereka bahkan bermusuhan.

Pengakuan tersangka, aksi penganiayaan yang merenggut nyawa Asep, buntut kekesalan tersangka terhadap Asep karena kepalanya pernah dibalok gara-gara menolak membayar minuman keras.

“Enak aja. Dia yang pesan minuman, kok saya yang harus bayar,” kata tersangka ditemui di ruang Unit Jatanras Polres Serang, kemarin.

Puncak kekesalan itu dilampiaskan Rabu (11/3) sekitar pukul 03:00 di Kampung/Desa Ranjeng, Kecamatan Ciruas, Serang, tempat tersangka mengontrak rumah.

RESIDIVIS
Dinihari itu, tersangka Mancis dipergoki Asep, sedang mengintip penghuni rumah tetangganya yang sedang bersetubuh.

Karena dicurigai akan melakukan kejahatan, Asep bersama dua temannya yang meronda, menghampiri pengintip yang kemudian diketahui sebagai Mancis. Malu kelakuannya diketahui, ditambah dendam lama yang belum hilang, Mancis mengamuk menghabisi nyawa seterunya dengan badik.

Usai membantai rekannya itu, Mancis pulang. Kepada orangtuanya, tersangka menceritakan kejadiannya. Karena tak mau anaknya ditangkap, Marjuki,60, menyuruh anak lelakinya kabur ke Jakarta.

Kasat Reskrim Polres Serang, AKP Sofwan Hermanto,menjelaskan pihaknya juga menangkap Marjuki karena membantu menyembunyikan anaknya, dengan meyuruh pergi ke Jakarta dan memberikan ongkos Rp200 ribu.

Produsen Jamu Palsu Cilacap Menjadi Tersangka

Balai Pengawas Obat dan Makanan Semarang menetapkan Kolipan (42), pengusaha jamu di Kabupaten Cilacap, sebagai tersangka pembuat jamu ilegal, Sabtu (21/3). Ribuan bungkus jamu ilegal sebanyak 1 ton ditemukan di dua lokasi gudang milik pengusaha jamu itu.

Dalam jumpa pers di Kabupaten Banyumas, Sabtu, Kepala Balai POM Semarang Maringan Silitonga mengatakan, hal itu merupakan hasil pengembangan dari temuan ribuan obat keras yang siap dikirim ke luar Jawa Tengah di perusahaan ekspedisi Bima Kargo Ekspres di Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap, awal Februari lalu.

Jamu ilegal yang ditemukan Sabtu tersebut merupakan hasil inspeksi mendadak (sidak) tim Balai POM yang terdiri dari tujuh orang. Mereka menemukan lima unit mesin pembuat jamu di dua gudang milik Kolipan di Desa Karangjati, Kecamatan Sampang, yang baru selesai dioperasikan dan 40 karung jamu ilegal merek Amrat dan Flu Tulang dengan total berat 1 ton.

”Mesin pembuat jamu di gudang masih hangat. Artinya, Kolipan masih aktif membuat jamu secara ilegal,” kata Silitonga.

Target utama

Menurut Silitonga, Kolipan merupakan target utama Balai POM Semarang selama ini. Pihaknya sudah berulang kali menyita jamu ilegal buatan Kolipan, tetapi dia selalu lolos dari jeratan hukum. Salah satu triknya, Kolipan memproduksi jamu secara berpindah-pindah. Kadang kala produksinya berhenti seolah ia berhenti berproduksi.

”Baru kali ini dia tertangkap tangan. Ternyata, dia terus memproduksi jamu,” kata Silitonga.

Dua pengusaha lain

Dari pengembangan kasus penemuan ribuan obat keras siap kirim awal Februari lalu, Balai POM Semarang juga menemukan dua pengusaha jamu lain di Cilacap yang terbukti memproduksi jamu secara ilegal, yaitu Rajiono dan Hadi Suwito.

Pemilik usaha ekspedisi Bima Kargo Ekspres juga ditetapkan sebagai tersangka karena ikut memasok obat keras kepada para pengusaha jamu di Cilacap.

Kolipan yang didampingi Sekretaris Koperasi Jamu Aneka Sari Cilacap Heri Nuryanto mengatakan, kedua gudang yang disidak Balai POM Semarang itu bukan milik Kolipan.

Menurut Kolipan, kedua gudang itu adalah milik adiknya, Slamet Susanto (33), yang kini bermukim di Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap.

Pengakuan itu diperkuat Kolipan dengan menunjukkan sejumlah akta notaris yang menunjukkan kepemilikan kedua gudang telah dilimpahkan dari Kolipan kepada Slamet Susanto pada tahun 2004. Pelimpahan itu berikut izin usaha pembuatan jamu.

”Gudang itu milik Kolipan, tetapi telah dilimpahkan kepada adiknya. Jadi, gudang dan usaha jamu itu milik Slamet Susanto, bukan milik Kolipan,” kata Heri menjelaskan.

Sopir Pemberani Yang Melawan dan Menewaskan 2 Perampok Mendapat Penghargaan dan Pantas Menjadi Pahlawan

Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Selatan Inspektur Jenderal Sisno Adiwinoto memberikan penghargaan kepada Sulaiman (38), sopir yang menabrak dua perampok hingga tewas (Kompas, 21/3), atas keberaniannya melumpuhkan pelaku perampokan terhadap dirinya.

Penghargaan diserahkan Kepala Bidang Humas Polda Sumsel Kombes Abdul Gofur, Sabtu (21/3) di RS Charitas, tempat Sulaiman menjalani perawatan.

Dua perampok berinisial JS (20) dan RH (31) menodongkan pistol lalu merampas tas plastik berisi uang Rp 130 juta yang dibawa Sulaiman, sopir seorang pedagang karet. Perampok kemudian melarikan diri dengan sepeda motor BG 6367 UF. Sopir itu nekat memburu dan menabrak dua perampok hingga tewas dengan mobil di kompleks perumahan Poligon, Palembang, Jumat (20/3) siang. Mobil yang dikendarai Sulaiman terbalik setelah menabrak sehingga dia menderita luka serius di kepala.

Menurut Gofur, polisi akan melindungi sopir itu dan keluarganya. Dia juga berharap warga tidak hanya berani melawan pelaku kriminal, tetapi mencegah tindakan kejahatan dengan minta pengawalan polisi jika membawa uang dalam jumlah besar.

Kepala Poltabes Palembang Komisaris Besar Lucky Hermawan menyatakan, seorang pelaku, RH, diduga juga terlibat dalam kasus pencurian dengan kekerasan lain.

Polisi menemukan barang bukti berupa dua paku yang ditancapkan pada potongan karet untuk mengempiskan ban mobil korban. Dengan demikian, pelaku kejahatan mudah mendekati korban yang terpaksa berhenti.

Menyinggung soal senjata yang digunakan, Lucky memastikan jenisnya revolver. Namun, saat ini sedang diperiksa di Laboratorium Forensik Mabes Polri untuk memastikan apakah senjata tersebut rakitan atau milik kepolisian RI

Bernadette Helen Karyawati PT. Abbot Dibunuh Di Pacific Place Motif Diduga Hubungan Asmara

Bernadette Helen, 20 tahun, ditemukan tewas dengan luka di leher dan perutnya. Jasad Helen ditemukan di tangga darurat antara lantai 6 dan 7 Mall Pacific Place, Jakarta Selatan, pada Selasa malam sekitar pukul 19.00 WIB. Helen diduga kuat menjadi korban pembunuhan karena ditemukan sejumlah luka di tubuhnya.

Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Firman Shantyabudi mengatakan ada luka di leher dan perut Helen. Luka itu fatal dan menyebabkan kematian korban. Namun Firman belum berani mengungkapkan motif pembunuhan itu.

Ia menampik dugaan perampokan karena barang-barang pribadi milik Helen, seperti kalung dan liontin, masih ada. Begitu pula dengan tindak kekerasan seksual. “Tak ada tanda-tanda itu (pencabulan),” katanya.

Polisi, menurut Firman, kini tengah memeriksa beberapa saksi plus alat bukti seperti rekaman kamera pengintai (CCTV). Penyidik rencananya juga akan meminta keterangan dari pihak Pacific Place. Untuk mengungkap penyebab kematian, jasad Helen kemarin diotopsi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Menurut Leo Tirayoh, salah satu kerabat korban, pihak keluarga mengetahui kematian Helen pada Rabu pagi saat dikabari polisi. Mereka mulai kehilangan kontak dengan Helen sekitar pukul 17.00 WIB Selasa kemarin. Pagi harinya Helen masih masuk kerja dan sempat mengontak ibunya pada pukul 08.25 WIB. “Tapi tak ada masalah saat itu, ia mengaku baik-baik saja,” kata Leo saat ditemui di RSCM.

Leo menambahkan, Helen, sulung dari tiga bersaudara anak pasangan Lenny Kosasih dan Eddy, pernah bekerja di Bank Central Asia (BCA) cabang Pondok Indah sebagai staf pemasaran. Sehari-harinya, Helen indekos di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Sedangkan keluarganya tinggal di Medang Lestari Karawaci Legok, Tangerang. “Karena kerjanya jauh, ia indekos,” tutur Leo, yang juga rekan sekerja Lenny, ibunda Helen.

Menurut ayah korban, Eddy Sutjiadi, Helen kini bekerja sebagai tenaga pemasaran di PT Abbott, perusahaan farmasi dan barang konsumsi. Setelah selesai diotopsi, jasad Helen dibawa oleh keluarga ke persemayaman Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta Barat

Bernadette Hellen (21), karyawati sebuah perusahaan farmasi di Jakarta Selatan, ditemukan tewas dibunuh di Pacific Place Mall di antara tangga darurat lantai 6 dan 7. Jenazah ditemukan petugas kebersihan gedung, Selasa (17/3) pukul 19.00.

Korban dibawa dan diotopsi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, Rabu pukul 00.01. Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka Rumah Sakit Sumber Waras pukul 17.30.

”Ia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan farmasi. Saya tidak punya firasat apa-apa dan baru dikabari polisi Rabu pagi,” kata Eddi Sutjiadi, ayah Hellen.

Lia Andalia, teman ibu korban, mengutip keterangan keluarga, menjelaskan, wajah korban berlumur darah dan terdapat luka.

Zulhasmar Syamsu, dokter yang mengotopsi Hellen, kemarin, menjelaskan, anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Eddi Sutjiadi-Lenny Kosasih ini mengalami gegar otak parah.

Ditemukan luka tusukan di leher kiri dan perut bagian atas. Otopsi berlangsung selama satu jam. Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Firman Shantyabudi menduga, korban dibunuh pada Selasa sekitar pukul 15.00.

Nyonya Merry (60), kerabat Hellen, mengatakan, cucu luarnya (cucu dari adiknya) itu anak yang baik. ”Tiap dua atau tiga bulan kami bertemu. Keluarga besar Hellen berasal dari Palembang,” katanya.

Seorang pria yang diduga teman dekat Hellen terlihat terpukul dan sempat memukuli dinding untuk melepas kesedihan. Sebagian besar pelayat yang datang ke kamar jenazah RSCM adalah rekan ibu Hellen yang bekerja di salah satu perusahaan pengembang. Keluarga Hellen tinggal di perumahan di kawasan Legok, Kabupaten Tangerang.

Perhiasan masih utuh

”Dompet dan telepon genggam korban tidak ada. Tetapi, perhiasan yang dikenakan masih utuh,” tutur Firman.

Petugas kebersihan yang menemukan jenazah Hellen diperiksa Kepolisian Sektor Metro Kebayoran Baru. Menurut saksi, saat ditemukan, wajah korban berlumur darah.

Monica dari Bagian Humas Pacific Place Mall mengatakan, lantai 7 adalah ruang mesin, bukan jalan umum atau ruang publik. ”Orang ke sana hanya untuk menyimpan perangkat mesin,” ujarnya saat ditemui di lobi gedung yang berada di Sudirman Central Business District itu.

Setiap gang dan tangga gedung dilengkapi monitor televisi. Kini rekaman gambar diperiksa polisi. Azis, sopir keluarga korban, mengatakan, Hellen pernah didekati pria di tempat kerja yang lama. Namun, perhatian pria itu tidak ditanggapi Hellen