Monthly Archives: Oktober 2009

Cara Menonton Konser Group Band Kesayangan Anda Secara Gratis

Ratusan penggemar berat band Kotak dan Changcutter yang tidak membeli tiket memaksa masuk ke areal konser dengan mendobrak pagar penghalang.

Mereka yang mengaku tidak memiliki uang untuk membeli tiket, memaksa masuk melalui pintu belakang untuk menyaksikan konser dua grup musik itu.

“Saya pingin nonton band Kotak mangung, tapi tidak punya uang, terpaksa kami masuk tanpa bayar,” kata Beno yang mengaku penggemar Kotak asal Cilaku, Cianjur.

Ratusan orang itu, merusak pagar pembatas dari seng, dengan cara digoyang dan ditendang bersama-sama.

Ratusan penonton illegal tersebut, riang ketika bisa memasuki tempat konser musik band kesayangan mereka.

Melihat keadaan tersebut pihak keamanan mencoba mengantisipasi dengan menerjunkan satuan polisi dengan cara memblokade pagar yang sudah rusak, agar penonton tetap membeli tiket.

Para penggemar semakin menggila dan beringas, sekalipun pagar dijaga barikade polisi tidak menyurutkan niat mereka untuk bisa masuk ke arena konser.

Melihat gelagat tersebut, untuk mengantisipasi terjadinya kericuhan, pihak panitia akhirnya membuka pintu gerbang dan membebaskan penonton masuk tanpa tiket.

“Demi keamanan kami buka pintu gerbang, daripada terjadi keributan nanti repot,” ungkap Leo panitia dari PT Djarum Tobaco.

Setelah pintu masuk dibuka, ribuan orang penonton yang masih di luar mulai masuk ke dalam. Para pecinta musik tersebut semakin asyik menikmati hentakan irama musik, sambil berteriak dan berjoget.

Walaupun sempat diguyur hujan deras, mereka tidak beranjak dari lapangan.

Seorang Anak Berumur 10 Tahun Tega Membunuh Ibunya Karena Kesal

Seorang siswa sekolah dasar berinisial M (10) mengaku membunuh ibu angkatnya, Ety Rochyati (55). M mengaku kesal karena sering dimarahi.

Kasus ini berawal dari penemuan jenazah Ety di selokan belakang rumahnya di Jalan Sembung I Nomor 137, RT 01 RW 07 Kompleks Perumahan Angkatan Darat, Cibubur, Jakarta Timur (Jaktim), Selasa pukul 05.00.

Jenazah ditemukan polisi setelah suami korban, Amir Hamzah (57), dan anaknya, Zulkarnaen Iskandar (28), pukul 01.00 melapor ke Polsek Metro Ciracas bahwa korban hilang sejak hari Minggu (11/10). Polisi menemukan korban dalam selokan selebar sekitar 40 sentimeter di belakang rumah. Ketika ditemukan, polisi melihat tiga titik luka akibat benda tumpul di kepala belakang korban. Selain itu, ada sebilah pisau menancap di pinggang kiri tanpa noda darah. Itu karena, Ngadiyo menduga, pisau ditikamkan ke tubuh korban setelah korban meninggal.

Jenazah kemudian dibawa ke RS Polri Kramatjati, Jaktim, untuk diotopsi. Selasa malam, jenazah sudah ada di rumah duka.

Menurut Hadi Suhaedi (49), sekretaris RT setempat, jenazah akan dimakamkan di pemakaman Pondok Ranggon, Jaktim. ”Keluarga tinggal menunggu kakak kandung almarhumah tiba dari Palembang,” ucapnya.

Menonton televisi

Ngadiyo menjelaskan, hari Minggu pukul 07.00 Amir keluar rumah mengantar Zulkarnaen kembali ke Bandung. Amir hanya mengantar anaknya sampai sekitar Universitas Kristen Indonesia, Cawang, Jaktim.

Ngadiyo menduga, saat itulah M, seperti pengakuannya kepada polisi, memukul ibu angkatnya dari belakang dengan balok kayu satu kali, lalu memukul lagi dengan martil dua kali.

”M mengaku melakukan hal itu saat ibunya menonton televisi, yaitu saat Amir dan Zulkarnaen meninggalkan rumah,” kata Ngadiyo. ”Pelaku pembunuhan adalah orang dekat korban. Sampai sekarang M baru kami tetapkan sebagai saksi kunci. Sekarang dalam penanganan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak,” papar Ngadiyo.

Amir tiba di rumahnya pukul 11.00. Ia mendapati rumah sudah kosong, terkunci. Ia mengira istrinya sudah berangkat ke hajatan di Bekasi. Amir pun memberi tahu tetangga bahwa ia akan ke Bekasi menyusul istrinya.

Karena di tempat hajatan Amir tidak menemui Ety, ia menelepon Zulkarnaen memberi tahu bahwa Ety hilang. Keduanya lalu melaporkan ke polisi, termasuk menghilangnya M.

Menurut Ngadiyo, M adalah anak Nias. Seluruh keluarganya tewas saat tsunami menerjang Nias. Dua tahun terakhir, ia diangkat anak oleh Amir dan Ety.

Sejumlah warga, termasuk Hadi, mengatakan, sampai pukul 22.00 hari Minggu lalu, rumah Amir gelap tanpa penghuni. Mereka sempat melihat M tidur berpindah-pindah di emperan rumah warga. Saat berjalan, M seperti kebingungan. Warga lalu menitipkan M ke seorang guru mengaji sampai akhirnya dibawa ke Polsek Metro Ciracas hari Selasa kemarin.