Monthly Archives: Februari 2010

Gadis SMA Menghilang Bersama Teman Facebooknya

Stefani Abelina Tiur Napitupulu, bukan untuk kali pertama menghilang dari rumah. Siswi SMAN 22 Surabaya ini juga pernah menghilang pada tanggal 23 Desember 2009 lalu.

Kala itu Abel -sapaan akrabnya- gadis berusia 14 tahun ini meninggalkan rumah bersama seorang teman yang dikenalnya dari facebook. Abel kemudian ditemukan kerabatnya di Jakarta.

“Saya ini kecolongan karena sebetulnya Abel pernah hilang. Abel hilang tanggal 23 Desember lalu, tapi 24 Desember ditemukan Pakdenya di Jakarta. Saudara kita kan tinggal di Jakarta,” kata Binsar M Napitupulu, ayah Abel, saat berbincang dengan detiksurabaya.com di rumahnya Sepanjang Town House I/1, Wonocolo, Taman, Sidoarjo, Rabu (10/2/2010).

Abel ujar Binsar, saat itu diketahu kabur bersama temannya yang bernama Jeje atau Januar, yang tinggal di kawasan Rawasari, Jakarta Timur. Januar tambah Binsar tak seganteng wajahnya di facebook. Januar lebih terlihat seperti anak broken home.

“Saya ketemu dengan Jeje atau Januar ketika jemput Abel di Jakarta. Januar mengaku ke saya kalau Abel sendiri yang datang ke Jakarta. Tapi saya tidak percaya,” ungkapnya.

Binsar mengungkapkan dalam percakapannya dengan Januar, dia mengatakan kalau
kejadian terulang lagi dirinya tidak segan-segan akan menangkap Jeje. Jeje berjanji pada dirinya tidak akan mengulangi lagi.

“Jangan kamu ulangi lagi. Kalau kamu ulangi lagi kamu saya tangkap. Jeje waktu itu berjanji tidak akan mengulangi lagi,” tandasnya.

Setelah menghilang selama hampir 5 hari, Stefani Abelina Tiur Napitupulu berhasil ditemukan. Gadis berusia 14 tahun ini ditemukan tengah berada di Jakarta.

“Sudah ditemukan. Saat ini bapak sudah berangkat ke Jakarta,” kata Bryan, kakak kakndung Abelina, kepada detiksurabaya.com, Kamis (11/2/2010) siang.

Sayangnya, Bryan tidak tahu persis dimana dan bersama siapa saat adiknya ditemukan. “Saya tidak mengetahui persis karena saya baru pulang sekolah,”  ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Abelina, yang masih berstatus pelajar di SMAN 22 Surabaya ini diduga kabur bersama bersama teman yang dikenal di facebook  bernama Jeje atau Januar, (6/2/2010).

Jeje, sendiri diketahui tinggal di kawasan Rawasari, Jakarta Timur.

Meski memiliki sifat periang dan bercanda, Stefani Abelina Tiur Napitupulu (14), juga kerap membolos. Terakhir kali sebelum menghilang, gadis yang duduk di kelas X3 ini tidak masuk sekolah pada tanggal 3 hingga 4 Februari 2010.

“Abel jarang masuk sekolah. Bahkan kasus serupa terjadi pada Januari dan Februaru 2010 lalu,” kata Wali Kelas X3 SMAN 22 Surabaya, Wisyudo Abianto, saat ditemui deiksurabaya.com di sekolah yang ada di Jalan Balas Klumprik, Wiyung, Surabaya, Rabu (10/2/2010).

Pihaknya, ujar Wisyudo, pada Sabtu lalu juga dilapori orangtua Abelina jika anaknya belum pulang. Tapi, pagi tadi orangtuanya kembali menghubungi jika Abelina selama 4 hari, sejak Sabtu (6/2/2010) belum pulang.

“Sabtu malam sekitar pukul 20.30 WIB orangtua Abel menghubungi saya dan melaporkan anaknya belum pulang. Setelah itu tidak ada kabar dan baru tadi pagi menghubungi saya lagi,” tambahnya.

Pihak sekolah juga mengaku kaget jika orangtua Abelina telah melaporkan kasus menghilangnya anaknya ke polisi. Sebab selama ini orangtua Abelina tidak memberi keterangan penyebab anaknya jarang masuk sekolah.

“Saya tidak tahu kalau orangtua Abel melaporkan hal ini ke pihak kepolisian,” jelasnya.

Cewek ABG Baru Pertama Kali Ketemu Teman Di Facebook Langsung Berhubungan Badan 3 Kali dan Kabur Dari Rumah Orangtua

Perkenalan antara Nt (14) dengan Feb (18) terjadi sejak November 2008 lewat jejaring sosial Facebook. Perkenalan kemudian dilanjutkan dengan bertukar nomor handphone lalu terjadilah komunikasi yang lebih intensif antar keduanya.

“Itu pertemuan mereka yang pertama. Sebelumnya mereka komunikasi lewat SMS dan telepon,” ucap Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Boy Rafli Amar, di Polda Metro Jaya, Selasa (9/2/2010).

Nt yang berstatus sebagai pelajar SMP kelas II di Sidoarjo, Jawa Timur, dan Feb yang putus sekolah saat kelas II di salah satu SMK di Tanggerang dan kini berstatus penggangguran itu telah merencanakan untuk pergi bersama jika keduanya bertemu.

“Mereka punya komunikasi yang baik. Satu di Sidoarjo satunya lagi di Tangerang. Niatnya hanya ingin jalan-jalan. Nova-nya juga mau,” ucap Boy.

Selama tiga hari pergi meninggalkan kedua orang tuanya, kata Boy, Nt pergi jalan-jalan bersama Feb lalu menginap di rumah orang tua Feb di Cijeruk, Serang. “Orang tua tersangka sempat keberatan ketika tersangka membawa perempuan ke rumah dan menginap,” ucap dia.

Pada Senin malam, lanjut Boy, korban ingin pulang ke rumah salah satu keluarganya di Bumi Serpong Damai, Tangerang, tempat awal Nt sebelum pergi. Sebelum menuju BSD, tersangka terlebih dulu mengajak Nt singgah ke rumah neneknya di daerah Tangerang. Saat itulah, keduanya ditemukan polisi yang tengah mencari-cari setelah mendapat laporan anak hilang dari keluarga Nt.

“Mereka ditemukan lagi jalan di dekat rumah makan waktu mau ke rumah neneknya,” ujar dia.

Seperti diberitakan, Nt yang merupakan keponakan anggota DPR Fraksi PDI-P, Yosef Umar Hadi, itu datang bersama kedua orang tuanya ke Tangerang untuk menghadiri pesta pernikahan paman Nt. Namun, usai acara Nova menghilang.

Ia ditemukan Senin malam dan segera divisum di RSCM. Sementara Feb ditangkap dan dijadikan tersangka setelah dimintai keterangan.

Nt (14), keponakan anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Yosef Umar Hadi, selama tiga hari sejak Sabtu (6/2/2010) malam hingga Senin ini menghilang dari rumah keluarganya di Cluster Alamanda Blok L 14, Bumi Serpong Damai atau BSD, Tangerang Selatan. Siswa salah satu SMP di Surabaya diduga dibawa pergi teman lelaki yang dikenalnya melalui Facebook.

Nt, anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Heri Kristiono dan Ny Sri, datang ke Jakarta bersama orangtuanya untuk menghadiri pesta pernikahan Gatot Yunianto, salah satu paman Nt. Sebelum mampir di rumah Gatot di BSD, keluarga Nt menginap di Tanah Kusir, rumah Yosef, seorang mantan wartawan salah satu surat kabar nasional.

Herbuningsih, tante korban, mengatakan bahwa ibu Nt sempat kesal karena pada Jumat malam Nt bertemu laki-laki di Taman PJKA, seberang rumah Yosef. “Karena kesal, ibunya menampar Nova,” ucap Herbuningsih, Senin (8/2/2010).

Sabtu sore atau keesokan harinya seusai menghadiri pernikahan dari salah satu keluarga di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, korban dan keluarga pulang ke kediaman pamannya di BSD. Setelah tiba di BSD, Nt terlihat sibuk menerima telepon dari seseorang yang diduga kenalannya di Facebook, berinisial AP.

Menurut Herbuningsih, suasana di rumah pada Sabtu petang itu cukup ramai sehingga tidak ada yang konsentrasi memerhatikan Nt. Salah satu sepupunya, Fredi, melihat tiga cowok menemui korban di depan rumah. Selanjutnya, Fredi masuk dalam rumah dan korban pergi. Hingga saat ini, korban belum juga pulang. Setelah menghilang, pihak keluarga tidak bisa menghubungi telepon genggam milik korban.

Beredar di internet, Nt diperkosa dan dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, (RSCM), Jakarta Pusat. Pesan yang diterima secara berantai itu dibantah Kepala Polsek Serpong Ajun Komisaris Polisi Budi Hermanto.

Ciri-ciri korban

Hingga kini, pihak keluarga dan Kepolisian Sektor (Polsek) Serpong, Tangerang Selatan, terus mencari korban. Mereka juga telah menyebarkan fotokopi foto dan identitas korban ke tempat umum, seperti tempat hiburan, restoran, pasar, rumah sakit, dan mal di sekitar Serpong.

Pada lembaran berisikan identitas Nt yang diterima Kompas dari pihak keluarga disebutkan, telah meninggalkan rumah seorang gadis bernama lengkap Marieta Nova Triani. Kelahiran Surabaya 3 November 1995. Tinggi badan 150 sentimeter dengan berat badan 44 kilogram. Nt beralamat tinggal di Perumahan Megarsari Permai Blok E Nomor 2 Sidoarjo, Jawa Timur.

Pada lembaran fotokopi itu tertera pula dua foto Nt, salah satu di antaranya mengenakan seragam pramuka dengan pita merah pada rambutnya. Foto lainnya, Nt mengenakan kaus bertuliskan “You can see”.

Saat pergi, gadis yang memiliki ciri wajah bulat, berkulit putih, rambut lurus sebahu ini mengenakan kaus abu-abu tua, celana pendek warna krem, dan sepatu kanvas hitam corak tutul-tutul putih. Nt juga membawa tas coklat berisi beberapa pakaian.

Saat wartawan mengunjungi rumah Gatot selaku paman Nt (14) di Jalan Alamanda Blok L No 14, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, kedua orangtua korban sedang tidak ada. Menurut Herbuningsih yang merupakan tante Nt, ayah dan ibu korban saat ini terus mencari anaknya yang menghilang sejak Sabtu (6/2/2010) hingga Senin ini ke berbagai tempat.

“Saat ini Nova sedang jatuh cinta dengan seseorang yang bernama Arie Power. Kabarnya, mereka berkenalan lewat Facebook,” ujar Herbuningsih. Saat ditelusuri ke situs jejaring sosial itu, AP bahkan menyebut statusnya telah menikah dengan Nt.

Benedikta (15 tahun), sepupu Nt, membenarkan bahwa Nt sedang kasmaran dengan seorang teman Facebook. Sambil menunjukkan akun Facebook milik Nt, Benedikta mengatakan, Nt berniat menikah pada usia 17 tahun. Di akun Facebook, Nt menulis statusnya dengan kalimat, sudah menikah dengan AP. Begitu pula pada akun AP, dengan status yang sama.

“Kata Nova, Arie itu anak SMA 24 di Tangerang kelas II. Arie itu anak band,” ucap Benedikta.

Seperti diberitakan sebelumnya, Nt keponakan anggota DPR, Yoseph Umar Hadi dari Fraksi PDI-P, sejak Sabtu pukul 18.30 pergi dari rumah. Sampai sekarang, nasibnya belum diketahui.

Kasus hilangnya gadis 14 tahun berbuntut panjang. Pria kenalannya lewat Facebook terancam dibui lima tahun karena berhubungan badan dengan gadis tersebut.

Nt (14) akhirnya ditemukan setelah menghilang tiga hari. Nt ternyata dibawa pergi—atau ikut pergi—oleh kenalannya di Facebook, AP, sejak Sabtu (6/2/2010). Dalam pelarian, Nt tiga kali berhubungan badan dengan AP.

AP merupakan nama beken di akun Facebook. Nama sebenarnya remaja berusia 18 tahun itu adalah Feb. Baru tiga bulan dia berkenalan dengan gadis ingusan itu lewat Facebook. Baru sekali pula bertemu, tetapi mereka sudah berhubungan layaknya suami-istri.

Saat ditangkap polisi, Senin (8/2/2010) petang, Nt dan AP tengah berduaan di kawasan Jatiuwung, Tangerang. Tim kepolisian yang dipimpin Kompol Audie Latuheru dan AKP Danang D Kartiko turun tangan setelah orangtua Nt, Heri Kristiono, melaporkan anaknya hilang ke Polsektro Serpong.

Senin malam, Nt langsung dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk menjalani visum. Baru pada Selasa (9/2/2010) sekitar pukul 01.50, AP dan Nt dibawa ke Mapolda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan.

AP memakai kaus putih dan celana jins biru, sementara Nt memakai rok batik dan atasan hitam. Nt menutupi mukanya dan menangis sesenggukan saat tiba di Mapolda. Awalnya mereka diperiksa di Ditreskrimum, tetapi kemudian dipindahkan ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA).

Kemarin pukul 17.25, AP dibawa ke Polda Banten dengan mobil Kijang LGX bernopol 1123 QZ. AP mengenakan kaus putih dibalut jaket coklat dan celana pendek warna krem. Dia masuk ke mobil sambil menutupi kepalanya dengan jaket.

“Karena lokasi kejadiannya masuk wilayah Banten, dia kami bawa untuk ditahan di sana,” ucap Kanit PPA Kompol Murnila.

Lima menit kemudian disusul Nt yang keluar dari ruang pemeriksaan untuk pulang. “Sudah diperbolehkan pulang,” kata Heri Kristianto.

Kepala Satuan Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Nico Afinta mengatakan, kedua remaja itu suka sama suka atau bisa dibilang saling cinta. Meski sudah tiga kali menyetubuhi Nt, AP belum bisa dijerat dengan pasal pemerkosaan sebab polisi belum bisa menemukan unsur paksaan.

Namun, AP ditetapkan sebagai tersangka dengan Pasal 332 KUHP tentang perbuatan membawa kabur anak di bawah umur tanpa seizin orangtuanya. Remaja drop out SMA itu juga dijerat Undang-Undang No 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar mengatakan, AP dan Nt berkenalan di jejaring sosial Facebook sejak November 2009. Dari chatting, keduanya melanjutkan hubungan lewat telepon dan saling kirim SMS.

Pada hari Jumat di kediaman pamannya yang menjadi anggota DPR, Nt untuk pertama kalinya ditemui AP. Esok harinya, Nt menghilang hingga ditemukan Senin.

Nt sendiri bersama orangtuanya tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka datang ke Jakarta sejak pekan lalu untuk menghadiri resepsi pernikahan kerabatnya.

“Jadi, kemarin itu merupakan pertemuan pertama kali. Selama dua hari, tersangka membawa korban ke rumah orangtuanya di Cijeruk, Serang, Banten. Ibu tersangka sempat keberatan karena putranya itu membawa seorang anak gadis ke rumahnya,” ujar Boy.

AP merupakan anak pertama dari keluarga broken home. Ibu dan ayahnya bercerai. Dia juga putus sekolah dan hanya mengenyam bangku pendidikan sampai kelas II SMK di Tangerang.

Selain ke rumah ibunya di Serang, AP juga membawa Nt ke rumah ayahnya, Fahrurozi, di Periuk, Kota Tangerang. Fahrurozi sendiri sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik.

AP selalu nongkrong di warnet untuk bisa mengakses internet sebab di rumah orangtuanya tidak tersedia komputer. “Di rumah saya, apalagi di rumah ibunya, tak ada komputer. Jadi, dia selalu ke warnet,” kata Fahrurozi dalam wawancara dengan tvOne.

Fahrurozi ikut gelisah ketika AP membawa anak gadis ke rumahnya pada Sabtu (6/2/2010). Dia pun meminta AP untuk memulangkan Nt karena takut dicari orangtuanya, tetapi gadis itu malah menangis.

“Saya tak tahu lagi di mana mereka karena pada hari Minggu mereka berdua sudah pergi dari rumah saya. Dari televisi saya baru tahu bahwa ternyata AP membawa gadis itu ke rumah ibunya di Serang,” kata Fahrurozi.

Kekerasan seksual

Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengatakan, apa yang dilakukan AP merupakan bentuk kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. AP jelas melanggar UU Perlindungan Anak. “Ancamannya bisa 5 sampai 15 tahun penjara,” kata Arist.

Fenomena yang dialami AP dan Nt ini, kata Arist, merupakan bukti kecanggihan teknologi informasi dan jejaring Facebook. Menurut dia, Facebook berguna sebagai jejaring sosial, tetapi banyak disalahgunakan oleh sebagian orang. Bahkan, kecanggihan teknologi saat ini dimanfaatkan orang untuk modus-modus kejahatan.

Komnas PA mengimbau masyarakat, khususnya anak-anak remaja dan yang baru beranjak dewasa, agar tidak mudah percaya jika berinteraksi dengan seseorang di Facebook. Orangtua juga diimbau untuk proaktif memberikan saran kepada anak- anaknya yang gemar main Facebook.

“Keluarga mesti ekstra perhatian kepada anak remajanya. Bagi anak remaja, bermain Facebook adalah sebagai tempat curhat karena kurangnya perhatian dari orangtua. Karena itu, orangtua zaman sekarang jangan sampai gagap teknologi, harus bisa memerhatikan pengaruh perkembangan kemajuan teknologi terhadap anaknya,” tutur Arist

Foto Bugil Wanita Disebar Di Facebook Karena Diputus Pacar

Perbuatan PE (26) sungguh keterlaluan. Hanya karena kesal diancam akan diputuskan cintanya, dia tega menyebar foto bugil kekasihnya, CAW (17), di jejaring sosial facebook.
Kasus ini bermula ketika CAW meminta putus dari PE. Namun lelaki yang bekerja di Kantor Dinas Pekerjaan Umum Nusa Tenggara Barat (NTB) ini tak rela CAW pindah ke lain hati. Segala jurus rayuan ia keluarkan, tapi hati CAW tak juga luluh. CAW tetap minta putus.

PE tak kurang akal. Jurus andalan ia keluarkan. CAW dia ancam. PE berniat memberitahu orang tua CAW, kalau hubungan asmara di antara mereka sudah melampui batas-batas orang berpacaran.

CAW yang kini duduk di kelas III sebuah SMU swasta ini keder juga. Soalnya CAW tahu, PE memiliki sejumlah bukti berupa gambar video soal hubungan yang telah mereka lakukan. Tak cuma bersedia melanjutkan jalinan kasih antar mereka, CAW juga bersedia melakukan apa saja, asal orang tuanya tak diberi tahu.

Rabu (3/2/2010) siang kemarin, PE tiba-tiba menelpon CAW. Ia minta kekasihnya itu mengirimkan foto bugil melalui pesan multimedia telepon genggam. Tanpa curiga, CAW pun mengirimkan foto bugilnya.

Rabu sore, Roro teman sekelas CAW berniat memperbarui status di account facebook miliknya. Ia terperanjat. Pasalnya Roro melihat foto salah satu sahabatnya terpampang tanpa busana. Ia pun memberitahu sahabatnya. Diputuskan, sore itu juga, mereka lapor ke Polres Mataram.

Kasat Reskrim Polres Mataram, AKP Andi Dadi Nurcahyo Kamis (4/2/2009) sore mengatakan, pihaknya kini masih mengumpulkan bukti. Sejauh ini, laporan yang masuk kata dia, baru pencemaran nama baik.

“Baru laporan pencemaran nama baik, dengan cara menyebarkan gambar telanjang di facebook. Kami masih mengumpulkan bukti dan memeriksa keterangan saksi. Kalau terbukti, maka kasusnya bukan lagi pencemaran nama baik, tapi sudah mengarah ke pornografi,” ujarnya.

Mahasiswi Kedokteran Undip Hilang, Diduga Diculik Kenalan di Facebook

Kisah petaka terkait jejaring sosial Facebook kembali terjadi. Sylvia, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, dilaporkan hilang. Diduga kuat mahasiswa tingkat akhir itu dibawa kabur pria yang dikenalnya melalui Facebook.

Gadis bernama lengkap Sylvia Russarina (23) itu menghilang atau tidak jelas keberadaannya sejak dua minggu lalu. Dia tak pernah berkirim kabar kepada keluarganya di Jambi. Padahal, biasanya perempuan yang sering dipanggil Sylvi itu rajin menelepon ibunya.

“Kami sudah merasa ada keanehan dengan Sylvi sejak dua minggu belakangan ini. Terakhir dia kirim SMS bunyinya ‘mama jangan cari sylvi, sylvi baik-baik aja’,” kata Maria, kakak Sylvi di rumah pamannya di Perumahan Bogor Asri, Blok D III No.13, Cibinong, Jawa Barat, Kamis (11/2/2010).

Maria menambahkan, hal tersebut membuat keluarganya khawatir. Mereka pun mencoba mendatangi kos Sylvi di Jl Solo, tepatnya di depan RS Kariadi, Semarang, Jawa Tengah. Namun Sylvi tidak ada.

Keluarga kemudian berusaha menemui sejumlah teman kuliah Sylvi. Tapi beberapa orang yang ditemui juga mengaku tidak tahu. Sampai akhirnya ada secuil informasi dari salah seorang mahasiswa.

“Katanya Sylvi dekat dengan seorang pria yang dikenal lewat facebook. Pria tersebut terlihat datang beberapa kali ke kos Sylvi,” ujar Maria.

Khawatir terjadi sesuatu, sambung Maria, keluarga kemudian melaporkan hilangnya Sylvi ke Polwiltabes Semarang. Dia berharap, Sylvi bisa segera ditemukan.

“Tapi sampai sekarang belum ada kabar dari polisi,” ungkap Maria dengan berurai air mata.

Menurut Maria, salah satu tantenya sempat mencoba menghubungi handphone Sylvi semalam. Sempat terdengar suara jawaban dari adiknya.

“Tapi tidak lama ada suara pria yang meminta adik saya mematikan handphone-nya,” ujar Maria.

Sylvia Russarina, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Dipenegoro (Undip), diduga dibawa kabur pria yang dikenalnya di facebook. Barang-barang gadis tersebut masih utuh di tempat kosnya.

“Barang-barangnya masih ada,” kata teman kos Sylvia yang enggan disebut namanya, saat ditemui di tempat kosnya, Jl Solo no.11, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (11/2/2010).

Namun saat ditanya lebih jauh, gadis tersebut enggan berkomentar. Dia hanya mengatakan tidak tahu kemana Sylvia pergi.

“Ya tahu-tahu sudah nggak kelihatan di kos,” ungkapnya sambil berjalan pergi.

Kisah hilangnya Sylvia ini diungkapkan kakak kandungnya, Maria. Menurut Maria, Sylvia menghilang sejak 2 minggu lalu. Pihak keluarga sudah berusaha mencari kemana-mana, namun adiknya tak juga ditemukan.

Maria menduga, adiknya dibawa kabur seorang pria yang dikenalnya di facebook. Pria tersebut berinisial AR dan berasal dari Jombang, Jawa Timur. Dugaan tersebut berdasarkan informasi yang didapat S dari sejumlah teman kuliah Sylvia.

“Teman-temannya bilang adik saya suka berpergian bersama pria yang dikenalnya di facebook,” ujar Maria.

Sylvia Russarina, 23, mahasiswi Fakultas Kedokteran Undip yang diduga dibawa lari kenalan Facebook, diketahui mempunyai masalah akademis. Nilai semesternya jeblok.

Pembantu Dekan I Fakultas Kedokteran Undip, Hermanto mengatakan, berdasarkan catatan, beberapa semester terakhir, nilai Sylvia merosot. Ia mengaku tak tahu penyebabnya.

“Rapornya merah. Nilainya terus merosot,” kata Hermanto ketika ditemui di Kampus FK Undip, Kompleks RSUP Kariadi Semarang, Kamis (11/2/2010).

Hermanto tak menjelaskan seberapa jeblok nilai semester Sylvia. Namun ia memastikan, masalah itu sebetulnya bisa diatasi jika Sylvia mau mengikuti semester pendek.

“Saat ini, semester pendek tengah berlangsung. Tapi yang bersangkutan tak ikut,” ungkapnya.

Hermanto mengaku tak tahu menahu kemana perginya Sylvia. Kebetulan, saat ini tengah libur semester, sehingga pihak kampus kesulitan memantau keberadaan mahasiswi asal Jambi itu.

Babeh Pembunuh Berantai Dengan Korban 14 Orang Anak Yang Disodomi Ternyata Teman Robot Gedek

Hasil penyidikan polisi sampai saat ini terungkap, 14 anak di berbagai wilayah dibunuh oleh Baekuni (48) alias Babeh, yang delapan di antaranya dimutilasi. Jumlah korban ini jauh lebih besar dibandingkan kasus Robot Gedek maupun Very Idam Henyansyah alias Ryan.

Demikian diungkapkan Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Wahyono, yang didampingi Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, psikolog Sarlito Wirawan Sarwono, dan kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala di Polda Metro Jaya, Senin (1/2).

”Jumlah korban dalam kasus Babeh jauh lebih besar daripada kasus Robot Gedek dan Ryan yang ditangani Polda Metro Jaya,” kata Wahyono.

Korban mutilasi Robot Gedek (1994-1996) dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tahun 1997 disebutkan enam orang, sementara korban Ryan (2006-2008) 11 orang. Dari hasil pemeriksaan polisi, korban pembunuhan dan mutilasi Babeh sampai saat ini sudah mencapai 14 orang. Babeh membunuh sejak tahun 1993.

Korban Babeh yang sudah terungkap adalah Adi, Rio, Arif Abdullah alias Arif ”Kecil”, Ardiansyah, Teguh, dan Irwan Imran yang dimutilasi, serta Aris, Riki, dan Yusuf Maulana. Empat korban terakhir yang terungkap juga dimutilasi adalah Feri, Doli, Adit, dan Kiki. Rata-rata usia mereka 10-12 tahun, kecuali Arif yang masih berusia 7 tahun.

Kasus pembunuhan yang dilakukan Babeh ini, kata Adrianus, layak menjadi sebuah cerita kriminalitas yang paling mengerikan yang pernah terjadi di Indonesia.

Kasus Robot Gedek

Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menduga Babeh memiliki peran besar dalam kasus Robot Gedek. Bahkan, Babeh kemungkinan besar memanfaatkan kasus Robot Gedek karena Babeh menjadi saksi utama kasus itu.

Data yang dihimpun Kompas menunjukkan, dalam pengadilan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tahun 1997, di depan majelis hakim yang dipimpin hakim Sartono, Babeh mengaku melihat Robot Gedek menggandeng seorang anak laki-laki di Pasar Jiung, Kemayoran. Anak tersebut dibawa Robot Gedek ke semak-semak.

Sementara itu, Babeh menunggu giliran mendapat kesempatan untuk menyodomi bocah lelaki yang dibawa Robot Gedek. Babeh mengaku menunggu satu jam dan setelah itu mendekati lokasi Robot Gedek. Di lokasi itu, dia menyaksikan Robot Gedek memutilasi korbannya.

Akhirnya Robot Gedek (42) divonis pengadilan dengan hukuman mati pada 21 Mei 1997. Namun sehari sebelum dilakukan eksekusi diketahui bahwa Robot Gedek telah meninggal dunia di RSUD Cilacap karena serangan jantung.

Sampel darah

Sementara itu, Kepolisian Resor Magelang telah mengambil sampel darah Askin (54) dan Isromiyah (44), orangtua Sulistyono, bocah yang diduga korban mutilasi Babeh. Sampel darah ini akan dicocokkan dengan tes DNA dari tulang belulang yang ditemukan di Dusun Mranggen, Desa Kajoran, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

”Sampel darah sudah kami kirimkan untuk diteliti dan dicocokkan dengan hasil tes DNA oleh Dokkes (Bidang Kedokteran dan Kesehatan) Polda Jawa Tengah,” ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Ajun Komisaris Aris Suwarno, Senin. Proses penelitian dan pencocokan ini kira-kira memerlukan waktu sekitar dua minggu