7 Orang Tewas Dalam Kerusuhan Di Buol dan Tersangkanya Adalah Kapolsek Buol

Sejumlah korban penembakan polisi di kabupaten Buol, Sulawesi Tengah minta keadilan. Sebab mereka mengaku tidak terlibat dalam aksi kerusuhan. Saat kerusuhan terjadi mereka mengaku hanya melintas di wilayah itu. Namun tiba-tiba peluru menembus tubuhnya.

Rio misalnya. Ia mengaku pada Rabu (1/9) sore , keluar rumah untuk sebuah keperluan. Setelah pulang dia melihat polisi sudah dalam posisi siap tembak semua. Namun tiba-tiba terdengar letusan. Dan ia pun terluka di bagian pipi. “Pipi saya terserempet peluru,” kata Rio, Kamis (2/9).

Begitu pun Iksan Mangge. Pegawai Hubungan Masyarakat (Humas) Pemerintah Kabupaten Buol ini mengaku hanya keluar rumah beli kue untuk buka puasa. Namun tiba-tiba saja ada polisi yang menembak. “Waktu itu saya tidak tahu kalau ada polisi. Tiba-tiba saya ditembak,” ujar Iksan.

Iksan tak bisa berdiri lama karena luka tembak tembus dari punggung ke perut kiri masih sering mengelarkan darah.

Sejumlah 23 korban tembak saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Buol. Dua diantara mereka kini dalam kondisi kritis. “Umumnya korban terkena peluru di atas bagian dada, sedangkan korban tewas terkena tembak dibagian kepala,”  kata Hamid Lakuntu, Pelaksana Tugas Direktur RSUD Buol.

Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri memastikan tujuh orang tewas akibat insiden kerusuhan  di Buol, Sulawesi Tengah.  Karena itu, pihaknya membentuk tim khusus untuk melakukan investigasi kasus ini. Tim dikepalai Wakil Kepala  Polri Jusuf Manggabarani.  ” Kami juga akan mengundang Komisi Hukum DPR”  kata Bambang Hendarso yang ditemui sebelum rapat kabinet di Istana Negara, Jakarta.  Hingga kemarin ketegangan masih menyelimuti Kota Buol, Sulawesi Tengah. Sedikitnya 500 orang dari sejumlah desa kembali menyerang kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Biau. Mereka melempari batu ke arah Polsek. Serangan tersebut merupakan ketiga kalinya. Akibatnya bentrokan massa dengan aparat menjadi tak terhindarkan.

Menurut Kapolri, kasus Buol diawali peristiwa tabrak lari. Dari kasus itu satu orang ditahan. Kasus menjadi besar karena ada yang menyebarkan isu terjadi kekerasan oleh aparat Polisi. “Tetapi sejak peristiwa itu seolah ada yang menghembuskan bahwa ada tindakan kekerasan dari Kepolisian,” kata Kapolri.

Akibat isu itu, ia melanjutkan, massa lantar berkumpul dan mulai melakukan kekerasan. “Sehingga ada tembakan peringatan dari petugas, tidak digubris, akhirnya ada penembakan,” katanya.

Siang ini, kata Kapolri, pihaknya telah mengirim 2 SSK untuk membantu pengamanan di Buol. Mereka berangkat dari Markas Brimob Kelapa 2. “Untuk mencegah agar tidak meluas ada tindakan perusakan,” katanya.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto mengatakan kondisi di Kota Buol saat ini berangsung membaik.

“Keadaan sudah mendekati normal. Aktivitas masyarakat sudah berjalan, sudah ada bantuan TNI dan Brimob jaga keadaan di sana,” katanya di Kantor Presiden, Kamis (02/09).
Kemarin ketegangan masih menyelimuti Kota Buol, Sulawesi Tengah. Sedikitnya 500 orang kembali menyerang kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Biau. Mereka melempari batu ke arah Polsek.
Djoko berharap kondisi kembali normal sehingga masyarakat bisa beraktifitas seperti biasa. Apalagi, kata Djoko, saat ini sudah mendekati lebaran. “Kita berharap suasana sejuk kembali,” katanya.
Mengeni penyelidikan kasus ini sendiri, kata Djoko, Kepolisian telah membentuk tim khusus dibawah Wakapolri. “Serahkan kepada Polri untuk usut lebih lanjut,” katanya.
Polisi Daerah Sulawesi Tengah, telah menetapkan empat orang anggota polisi sebagai tersangka kasus penembakan yang menewaskan tujuh orang warga sipil di Buol.

“Ya sudah empat orang yang anggota polisi yang ditetapkan sebagai tersangka penembakan yang menewaskan warga sipil di buol,” kata Kabid Humas Polda Sulteng, Kompol Kahar Muzakkir, di Buol, Kamis (2/9).

Keempat tersangka itu masing-masing adalah Kepala Satuan Lantas (Kasat Lantas) Polres Buol, Iptu Jefry Pantouw, Kaplosek Biau Iptu Muzakir Butudoka, Amirullah dan James. “Semua tersangka anggota Polres Buol,” katanya.

Saat ini, keempat tersangka itu sudah dalam pemeriksaan Prompam Polda Sulawesi Tengah. “Kabarnya, saat ini mereka sementara di BAP di Polda,” ujarnya.

Kahar megatakan, keempat tersangka itu dibawa ke Polda Sulteng oleh rombongan Wakapolri Komjen Pol Yusuf Manggabrani. “Mereka langsung di bawa menggunakan pesawat yang ditumpangi Wakapolri,” katanya.

Rombongan Wakapolri yang membawa para tersangka penembakan warga sipil Buol itu terbang dari bandara pogogul menuju bandara Mutiara Palu sekitar pukul 17.00 WITA.

Sementara hingga pukul 20.00 WITA malam ini, situasi Buol masih berlangsung kondusif. Belum terlihat adanya konsentrasi massa, seperti yang terjadi pada Kamis malam kemarin.

Sementara itu, pasien luka ringan korban penembakan kerusuhan di Buol sudah beberapa orang yang membaik. “Mereka yang dinyatakan membaik sudah di bolehkan pulang,” kata salah seorang perawat di Rumah Sakit Buol.

Menangani kasus kerusuhan di Kecamatan Biau, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, Markas Besar Polri mengirim tiga tim yang berasal dari Badan Reserse dan Kriminal, Divisi Profesi dan Pengamanan, serta Badan Intel dan Keamanan.

Dalam penyelidikan kerusuhan itu, Divisi Propam dan tim dari Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah akan memeriksa Kepala Kepolisian Biau, penjaga ruang tahanan, dan petugas yang menangani kasus tabrakan, awal kerusuhan tersebut.
“Mereka pasti akan jadi sasaran untuk mengetahui apakah ada pelanggaran kode etik, disiplin, atau pidana,” kata Juru Bicara Polri Brigadir Jenderal Iskandar Hasan, Kamis (2/9).
Menurut Kepala Bidang Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Marwoto Soeto, saat ini kerusuhan di Biau sudah meluas ke Momunu. “Karenanya, Polri memerintahkan seluruh anggota di Sulawesi Tengah untuk tiarap dulu, tidak melakukan kegiatan di luar markas,” ujarnya.
Bahkan anggota polisi yang tinggal di luar lingkungan markas, lanjut dia, sejak 31 Agustus diperintahkan untuk tinggal di asrama atau di kantor kepolisian sektor dan resor. Menurut Marwoto, penarikan anggota itu untuk menghindari sweeping warga yang mengincar rumah atau kontrakan polisi.
Alasan Kepala Polri mengeluarkan perintah itu, lanjut Marwoto, karena kondisi masyarakat masih emosional. Kerusuhan itu pun menimbulkan kerusakan rumah dinas Wakil Kepala Kepolisian Resort Boul. Sejumlah warga memaksa masuk dan mengeluarkan barang-barang yang ada dan dibakar di luar rumah.
Selain memeriksa anggota polisi di sana, tim Bareskrim memeriksa empat orang warga. Namun Iskandar mengaku belum mengetahui peranan keempatnya dalam kerusuhan itu. “Belum diketahui juga apakah mereka terlibat di kerusuhan semalam atau kemarin,” kata Iskandar.
Menurut Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri Komisaris Jenderal Ito Sumardi, hingga saat ini sekitar enam orang warga meninggal. “Puluhan lainnya luka-luka dan beberapa semakin buruk kondisinya,” kata Ito usai acara buka puasa bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Mabes Polri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s