Pelacur Anak Anak Di Surabaya Ternyata Didukung Oleh Orangtua

Aparat Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polrestabes Surabaya melacak nomor ponsel milik beberapa pelaku dan korban kejahatan prostitusi anak yang terjadi di kota ini. Sebagian pelacur anak tersebut selama ini jika bepergian diantar-jemput orangtua mereka.

Menurut Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Anom Wibowo, pelacakan nomor ponsel ini untuk mengembangkan kasus dan mencari pelaku-pelaku lain yang diduga terlibat.

“Kami mencari nomor-nomor itu untuk mencari tahu dan membongkar kasus ini. Selain mencari pelaku, polisi juga mencari korban agar tidak sampai terjerumus lagi,” ujarnya kepada wartawan di ruangan kerjanya, di Mapolrestabes, Jalan Taman Sikatan 1, Selasa (21/9/2010).

Seperti diketahui, Polrestabes Surabaya menangkap sindikat pelaku praktik perdagangan anak yang dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK). Kedua tersangka kasus ini menyediakan perempuan yang katanya masih perawan, tidak tanggung-tanggung, jumlahnya sekitar belasan gadis yang mayoritas masih di bawah umur.

Sampai saat ini, piha Anom masih memburu pelaku lain, khususnya yang berperan sebagai mucikari atau pencari korban dan pelanggan. Anom yakin masih ada pelaku lain yang masih berkeliaran.  “Kami yakin masih ada pelaku lain. Semoga bisa segera terungkap dan membongkar sindikat kasus prostitusi perempuan serta perdagangan anak. Saat ini masih dalam tahap pelacakan,” papar dia.

Selain itu, lanjut dia, sampai saat ini polisi sudah mengamankan 12 korban prostitusi perempuan di bawah umur. Ini berarti ada delapan perempuan lain yang terungkap setelah polisi membongkar kasus ini tengah pekan lalu.

“Benar, korban dalam kasus ini bertambah. Awalnya empat, kemudian tambah tiga, kemudian tambah lima lagi. Kami masih berupaya mencari korban lainnya dan mengembalikan anak-anak ini ke bawah pengawasan orang tua,” ujar  mantan Kasat Pidana Umum Ditreskrim Polda Jatim itu.

Diajak Kawan

Anom juga menjelaskan, tidak semua korban terjerumus ke dunia ini karena alasan ekonomi. Di depan penyidik, korban mengaku karena diajak kawan yang sudah dikenalnya sejak lama.

“Korban ada yang setiap harinya di antarjemput orangtua dan mampu, ada juga yang terbentur persoalan ekonomi untuk menambah kehidupan mereka sehari-hari. Tapi ada juga korban terjerumus karena kurangnya perhatian dari orangtua,” ucapnya.

Karena itulah, ia mengimbau kepada para orangtua supaya selalu mengawasi dan memberikan nasihat kepada anaknya, terutama anak gadisnya, untuk tidak mudah terpengaruh dengan ajakan teman-temannya yang salah.

Menyediakan Gadis Gadis Perawan

Wali Kota Surabaya terpilih, Tri Rismaharini alias Risma, di Mapolrestabes Surabaya, Selasa (21/9/2010), memarahi tiga tersangka pelaku perdagangan manusia atau trafficking yang memperjual-belikan perempuan di bawah umur.

“Di mana hati dan nurani kalian? bayangkan kalau yang dijual itu saudara perempuan kalian! Di mana otak kalian? Sikap kalian ini pasti ada balasan dari Tuhan,” ujar Tri Rismaharini dengan nada tinggi kepada para pelaku.

Ketiga pelaku masing-masing berinisial SWM dan PUT, perempuan berusia 21 tahun, dan M, laki-laki yang juga berperan sebagai mucikari, hanya terdiam. Mereka duduk dengan kepala menunduk dimarahi perempuan yang selalu berbusaha Muslim tersebut.

“Ingat itu, jangan diulangi lagi,” tambah pejabat yang akrab disapa Risma tersebut, didampingi Kepala Dinas Badan Pemberdayaan Masyarakat, Dr Iksan S Psi

Selain itu, dia juga memberikan harapan kepada empat perempuan yang menjadi korban trafficking akibat ulah para pelaku. Sambil memegang tangan keempatnya, Risma meminta supaya mereka tetap tabah dan sabar serta tidak putus harapan untuk meraih masa depan.

“Kalian masih punya cita-cita dan harus melanjutkan sekolah. Ingat, Tuhan itu ada dan tidak diam. Ibu juga akan membantu kalian sampai semuanya selesai. Pokoknya jangan sampai putus asa, sebab kalian masih punya harapan,” tutur Risma, sambil memeluk mereka bergantian.

Cari Kehidupan

Mantan kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya tersebut mengucapkan terima kasih kepada Satreskrim Polrestabes Surabaya karena bisa mengungkap kasus ini. “Namun yang lebih penting dari semua ini, adalah terhentinya aktivitas pelaku dan korban pelaku, yang kemudian pasti memberikan harapan kepada para korban untuk mencari kehidupan sejatinya. Anak-anak ini punya harapan dan masa depan,” ucap Risma.

Ia juga berharap, supaya kasus semacam ini tidak terjadi lagi, khususnya di Surabaya. Perdagangan anak, lanjut dia, selain mendapat hukuman dari polisi, juga pasti mendapat balasan di akherat kelak.

Seperti diketahui, Polrestabes Surabaya menangkap sindikat pelaku praktik perdagangan anak yang dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK) alias pelacur. Kedua tersangka menyediakan perempuan yang katanya masih perawan, tidak tanggung-tanggung jumlahnya belasan gadis yang mayoritas masih di bawah umur.

Pelaku ini cukup lincah juga dalam menjaring pelanggan. Mereka punya cara lain untuk memuaskan tamu yang akan memesan dengan saling berkoordinasi menggunakan telepon seluler dalam mencari pelanggan di kawasan mal-mal di Surabaya.

One response to “Pelacur Anak Anak Di Surabaya Ternyata Didukung Oleh Orangtua

  1. himbauan bagi para orang tua, yang memiliki anak gadis. agar saling mengikhlaskan diri, untuk menjaga masa depan anak gadisnya.
    jangan sampai gelap hati, seperti fenomena di atas, astaghfirulloh…..
    sayangilah anak2 kalian.., karena mereka adalah titipan Tuhan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s