Monthly Archives: Februari 2011

Ibu dan Mahasiswi Di Rampok, Dibunuh dan Mayatnya Diperkosa Oleh Mantan Karyawan

Pembunuhan yang dilakukan Kurniawan Edy Dhusiyanto alias Yanto dan Bagus Martin terhadap mahasiswi Widya Mandala (WM) Surabaya, Mariana Siniwati Bintoro dan ibunya, Tan Pratiwi Dewi Bintoro, benar-benar keji. Setelah dijerat hingga tewas, sebagian pelaku diduga mencabuli mayat Mariana.

Empat dari lima pelaku sudah diringkus polisi. Selain Yanto (20), warga Jl Putat Jaya V, tiga tersangka lain yang tertangkap adalah Agung Adi Nugroho (26), warga Jl Kalianak Gg Bunga Rampai; Ahmad Firmansyah alias Mamat (25), warga Jl Kedung Anyar II; dan Zirad Maulana (22) alias Siro, warga Jl Maspati VI. Sedangkan Bagus Martin, warga Jl Pacar Kembang, masih buron.

Berdasarkan pemeriksaan polisi terungkap, pembunuhan itu bermotif dendam terhadap mantan majikannya itu. Korban Tan Pratiwi adalah mantan majikan Yanto dan Martin. Keduanya keluar dari pekerjaan sekitar Lebaran 2010 lalu.

“Saya bunuh Tacik (panggilan Tan Pratiwi) karena dia sering menghina saya. Dia selalu membodoh-bodohkan saya,” ujar Yanto ditemui di Polsek Tambaksari, Minggu (27/2).

Selain itu, Yanto mengaku tak pernah diberi minum berupa teh botol atau sirup selama tiga tahun bekerja hanya air putih saja, sehingga setiap kali kehausan dan ingin teh botol atau coke, mereka selalu membeli minuman di luar.

Di mata Yanto, majikannya juga pelit. Gajinya per hari Rp 29.000 dan tiap tahun hanya naik Rp 3.000. Saat meminjam uang pun sekitar 5 jutaan, Tan Pratiwi tidak mau memberi.

Rasa dendam itu akhirnya mereka lampiaskan dengan merencanakan pembunuhan sekitar dua bulan lalu. Keduanya pun mengajak Agung, Sirad, dan Mamat. Agung itu masih sepupu Yanto. Ketiga tersangka mengaku ikut jengkel setelah mendengar curhat Yanto dan Martin tentang perilaku majikannya.

Selain itu, tiga tersangka juga tergiur hasil rampokan, karena Yanto dan Martin awalnya merencanakan perampokan terhadap mantan majikannya itu. “Kami mau ikut karena ingin dapat banyak uang dari hasil ngrampok di rumah korban,” kata Agung di Mapolsek.

Seperti diberitakan (Surya, 27/2), mahasiswi Widya Mandala (WM) Surabaya, Mariana Siniwati Bintoro (21) bersama ibunya, Tan Pratiwi Dewi Bintoro (49), dibunuh mantan karyawannya sendiri. Tak hanya dibunuh, tubuhnya dibakar kemudian dibuang di Gresik.

Pembunuhan itu diawali penganiayaan di toko dan gudang material bangunan milik korban di Jl Lebak Permai Utara III/11. Keduanya lalu diculik oleh pelaku berjumlah lima orang, lalu dinaikkan paksa ke mobil Daihatsu Luxio nopol L 1781 CV. Setelah dibunuh, mayat keduanya dibuang di wilayah Gresik.

Kedua jenazah warga Jl Lebak Timur Gg IV/5 Surabaya itu saat ditemukan, Sabtu (26/2), kondisinya sangat mengenaskan. Setelah dianiaya dan dibunuh, keduanya dibakar dalam kondisi kaki dan tangan terikat.

Mariana, mahasiswi jurusan akuntansi perguruan tinggi swasta ternama di Jl Dinoyo itu ditemukan di sekitar pertokoan Perumahan Alam Bukit Raya (ABR), Bunder. Dia dua bulan lagi diwisuda. Sedangkan ibunya ditemukan di persawahan dekat pintu masuk Perumahan Morowudi Village di Dusun Tendegan, Morowudi, Kecamatan Cerme.

Hendak Dibuang ke Tretes

Kepada polisi, para tersangka sebenarnya hanya mengincar Tan Pratiwi. Namun, saat menghajar perempuan usia 49 tahun itu, Mariana tiba-tiba muncul. Tersangka pun panik hingga Mariana menjadi sasaran berikutnya. Keduanya lantas disekap di bagian belakang mobil sewaan Daihatsu Luxio L 1781 CV dan hendak dibuang ke kawasan Tretes, Pasuruan.

“Rencana ke Tretes batal karena takut di jalan ada razia polisi. Akhirnya berbalik arah ke Sidoarjo lalu ke Gresik,” kata Mamat yang ditugasi nyetir mobil.

Di sepanjang perjalanan, kedua korban mengalami penyiksaan.

Yanto sempat memaksa Tan Pratiwi menandatangani giro kosong. Maksud tersangka, giro itu nanti akan dicairkan. Dalam kondisi setengah sadar akibat pukulan linggis, Tan Pratiwi pun menandatanganinya.

Namun, setelah itu Yanto mengaku bingung cara mencairkan uang yang nominalnya nanti akan dia tulis setelah membunuh korban. Setelah itu, tersangka meminta ATM milik Tan Pratiwi beserta nomer PIN-nya. Mereka juga merampas ponsel Tan.

Suasana di mobil semakin tegang ketika Tan Pratiwi sadar kalau salah satu pelaku adalah Yanto, mantan karyawannya. “Koen ta To (Yanto). Kok tego koen. Aku ojo dipateni yo. Sakno anak-anakku. Aku njaluk sepuro karo awakmu. Ampun (Ternyata kamu. Kok tega kamu. Aku jangan dibunuh ya, kasihan anak-anakku. Aku minta maaf, ampun),” ujar Yanto menirukan Tan Pratiwi sebelum dibunuh.

Bukannya mengampuni korban, Mamat malah menyela agar keduanya dibunuh saja. Pasalnya, identitas Yanto dan Martin sudah diketahui korban. Di kawasan Krian, Sidoarjo, Sirad dan Agung akhirnya menjerat leher Mariana dan ibunya dengan tali rafia hingga tewas.

Awalnya Agung duduk di bagian tengah mobil. Setelah itu dia bertukar tempat duduk dengan Yanto. Bersama Martin, Agung kemudian mencabuli Mariana yang sudah tak bernyawa.

Setelah itu, Martin meminta untuk berhenti guna membeli bensin dan tinner di kawasan Menganti dan Kedamean, Gresik. Para tersangka mengaku terlebih dulu membuang mayat Mariana di kawasan ruko dekat gerbang Perumahan Alam Bukit Raya, Kebomas, Bunder. Mamat yang membuang mayat Mariana sebelum dibakar oleh Martin.

Kemudian, para tersangka membuang mayat Tan Pratiwi di Perumahan Morowudi Village, Morowudi, Cerme, Gresik. Mayat Tan Pratiwi juga dibakar Martin. “Kami membakarnya untuk menghilangkan sidik jari,” kata Agung.

Dijelaskan Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Coki Manurung, terkuaknya kasus ini berawal dari pengakuan keluarga korban, termasuk suami Tan Pratiwi, Yahya Bintoro. “Ada informasi pada Lebaran tahun lalu beberapa karyawan korban keluar dari pekerjaan, antara lain, ya Yanto dan Martin,” ujarnya saat gelar perkara di Polsek Tambaksari, Minggu (27).

Dua tim dibentuk untuk menyelidiki kasus ini. Satu tim dipimpin Kapolsek Tambaksari Kompol Suhartono untuk mengejar Yanto dan Martin. Sedangkan tim lainnya di bawah komando Kanit Resmob Polrestabes Surabaya AKP Agung Pribadi, mengorek informasi dari mantan karyawan korban yang lain, Hanafi dan Iksan.

Penyelidikan terhadap Hanafi dan Iksan mentok. Keduanya memiliki alibi kuat tidak terlibat aksi penculikan dan pembunuhan ini. Terlebih, penyelidikan lain menyebutkan Yanto dan Martin-lah yang terlibat.

Yanto dan Mamat kemudian ditangkap anggota Polsek Tambaksari. Disusul penangkapan Zirad alias Siro di Jl Tembaan atau Maspati. Dari keterangan ketiga tersangka, anggota Unit Resmob kemudian meringkus Agung di rumah kerabatnya di Trenggalek.

“Aksi para tersangka ini sudah dipersiapkan secara rapi,” ungkap Coki. Ini dibuktikan dengan peran para tersangka yang sudah dibagi-bagi. “Mamat yang bertugas menyewa mobil dengan jaminan motor Suzuki Smash W 3446 SD miliknya,” imbuhnya.

Sedangkan Agung kebagian tugas menyurvei lokasi, dan Zirad mengawasi aksi teman-temannya saat aksi penculikan. Yanto dan Martin merupakan penyedia dana. Yanto mengaku sudah mengeluarkan uang untuk sewa mobil dan membeli bensin untuk motor serta bensin untuk membakar korban.

Terkait Martin yang masih buron, Kapolsek Tambaksari Kompol Suhartono mengatakan sudah melacaknya. “Masih pengejaran, tapi sudah bisa kita lacak,” katanya tanpa menyebut lokasi persembunyiannya.

Terkait ancaman hukuman, menurut Kapolrestabes Coki Manuruing, kelima tersangka terancam hukuman 20 tahun penjara dan maksimal hukuman mati sesuai Pasal 340 subsider Pasal 328 subsider Pasal 365 KUHP terkait pembunuhan yang direncanakan.

Misteri Suami Istri Di Perumahan Citra Indah Bukit Alamada Ditemukan Tewas Di Kamar Mandi Yang Terkunci Dari Luar

Pasangan suami istri ditemukan dalam kondisi mengenaskan di kamar mandi rumahnya di Perumahan Citra Indah Bukit Alamada di Desa Sukamaju, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor. Endah Indri (33) ditemukan meninggal dunia dengan luka di kepala, sementara suaminya, Jefri (40), ditemukan tidak sadarkan diri dengan kaki kanan patah dan bekas jeratan di lehernya, Minggu (27/2) siang.

Hingga Senin siang, Jefri masih menjalani perawatan intensif di Ruang ICU RS Thamrin Cileungsi, Kabupaten Bogor. Namun, polisi memperkirakan peristiwa tragis itu tidak berkaitan dengan kejahatan perampokan.

Keberadaan kedua korban di dalam kamar mandi ini pertama kali ditemukan oleh Data Y (9), anak pertama mereka, dan Ny Ratih, tetangga korban.

Kepala Polsek Jonggol Komisaris H Purnomo mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan penyebab peristiwa tersebut. Polisi belum menemukan saksi kunci yang dapat dimintai keterangan. Polisi juga belum berani mencari informasi dari data karena kondisi jiwa anak tersebut masih terguncang.

”Dari keterangan saksi Ny Ratih, ia masuk ke rumah korban setelah Data memanggilnya dan mengatakan orangtuanya tidak keluar dari kamar mandi yang ada di kamar tidur korban sejak hari Jumat. Kami masih belum jelas bagaimana Data mengetahui hal itu,” kata Purnomo.

Masih mengobrol

Menurut keterangan Ratih, kata Purnomo, dirinya masih mengobrol dengan pasangan suami istri itu di luar rumah pada Kamis pagi. Ratih juga mengatakan tidak pernah melihat suami istri itu bertengkar.

”Yang pasti, dari olah tempat kejadian perkara, tidak ditemukan tanda-tanda perusakan kunci pintu atau jendela dari luar rumah. Barang-barang ada pada tempatnya, tidak ada yang hilang. Mobil Honda Jazz milik korban masih ada. Kuncinya pun masih ada. Jadi, kecil kemungkinannya peristiwa itu karena perampokan,” katanya.

Purnomo belum dapat memastikan apakah Endah tewas karena dibunuh suaminya atau jatuh di kamar mandi karena melihat kondisi suaminya. Saat polisi datang ke lokasi, posisi kedua korban terlentang di kamar mandi. Kepala belakang Endah cedera berat, sedangkan Jefri tidak sadar. Polisi menemukan kabel setrika di kamar mandi itu.

”Waktu Ny Ratih masuk ke kamar korban bersama Data, pintu kamar mandi masih tertutup. Pintu itu oleh Data ditendangtendang sampai akhirnya terbuka. Ny Ratih lalu menelepon ke PT Holcim karena Jefri karyawan perusahaan tersebut. Yang menelepon ke kantor untuk melapor temuan itu, karyawan PT Holcim,” ujar Purnomo.

Pembunuh Satu Keluarga Di Probolinggo Tertangkap Dan Karena Ingin Uang Mudah Sebanyak 500 Ribu

Empat tersangka pembunuhan satu keluarga pemilik Toko Pusaka Jaya di Kota Probolinggo, Jawa Timur, dan satu tersangka penadah barang-barang milik korban tertangkap, Rabu (23/2) sore. Pembunuhan pada Minggu (20/2) tersebut dilatarbelakangi dendam.

Empat tersangka pembunuhan tersebut adalah MNR (29), MT (31), M (24), dan R (17). Adapun tersangka penadah barang curian milik korban adalah P (31), istri MT.

Mereka ditangkap di rumah masing-masing. MNR dan M adalah warga Desa Randupakis, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang. MT dan P adalah warga Desa Umbul, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang. Adapun R adalah warga Sumbertaman, Kota Probolinggo.

”Motif pembunuhan adalah dendam setelah MNR tidak dipinjami uang oleh korban Freddy Yuwono,” kata kepala Polresta Probolinggo Ajun Komisaris Besar Agus Wijayanto, Kamis (24/2), di Markas Polresta Probolinggo.

Freddy Yuwono (22) adalah anak Mulyani A Kardjono (58), keponakan pemilik Toko Pusaka Jaya, Liem Soe Niang alias Sri Murni (76). Mereka bersama Yuli Melyanti (28), anak Mulyani, ditemukan tewas dengan luka bacokan di toko yang sekaligus rumah mereka di Jalan Panglima Besar Sudirman 28, Kota Probolinggo, Minggu (20/2).

Kepada polisi, MNR mengaku, awalnya dia berniat utang Rp 500.000 kepada Freddy, tetapi Freddy menolak. MNR kenal dengan Freddy dan juga anggota keluarganya karena dia sudah lama bekerja

di toko bangunan milik Mulyono, adik Mulyani. Dia tidak meminjam uang kepada Mulyono karena memiliki utang hampir Rp 400.000 kepada bosnya itu.

Merasa tersinggung tidak diberi utang, MNR mengajak MT, R, dan M membunuh Freddy dan keluarganya. ”Saya waktu itu pokoknya tidak punya pikiran apa-apa. Yang ada pokoknya pikiran gelap saja. Saat ini, setelah semua terjadi, ya saya menyesal,” kata MNR.

Setelah mematangkan rencana, MNR pun memimpin rencana pembunuhan itu. Dengan berboncengan satu motor, mereka berangkat dari rumah MNR pada Sabtu (19/2) pukul 10.00 WIB menuju rumah korban.

Masuk lewat atap

R dan M bertugas mengawasi situasi dari luar rumah korban, sementara MNR dan MT masuk ke rumah korban pada Minggu sekitar pukul 03.00 WIB. Mereka memanjat tanaman di depan rumah korban dan naik ke atap. Mereka masuk rumah dengan cara membuka enam genteng dan menjebol eternit.

Pertama, mereka mendatangi Siti Aisyah (25), pembantu keluarga tersebut, dan menyekap Siti di kamarnya. Kemudian mereka ke kamar Mulyani, Freddy, dan Yuli. Saat mereka hendak beraksi, Yuli bangun sehingga dia dibunuh terlebih dahulu, baru kemudian Mulyani dan Freddy. Terakhir mereka membunuh Sri Murni yang berada di kamar sebelah.

Eksekutor utama adalah MT, dia menggunakan celurit dalam aksinya. MNR yang menjadi otak pembunuhan sekaligus pemilik celurit bertugas memegangi para korban.

Selain membunuh, mereka juga mengambil sejumlah barang milik korban, antara lain sepeda motor, enam buah HP, uang, dan rokok. Barang-barang tersebut disimpan di rumah P dan MT di Lumajang.

Agus Wijayanto mengatakan, MNR, MT, R, dan M diancam dengan Pasal 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang pembunuhan berencana, Pasal 365 tentang tindakan kekerasan yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang, serta Pasal 338 tentang pembunuhan.

”Ancaman hukumannya adalah hukuman mati,” kata Agus.

Mulyono mengaku tidak menduga pelaku pembunuhan keluarganya adalah karyawannya. ”Ia ikut saya sejak kecil. Ia juga kenal keluarga kakak saya,” ujar Mulyono

Seorang Istri Ketakutan Digrebek Suami Sedang Selingkuh Sembunyi Di Atap Rumah

Sepasang insan berlainan jenis sedang berasyik masyuk di sebuah kamar sewaan. Namun, ketukan di pintu kamar itu membuyarkan keintiman di kamar berukuran 3×4 meter tersebut. Mereka pun panik.

Insiden penggerebekan itu berlangsung di Desa Putatkidul, Kecamatan Gondanglegi, Rabu (23/2) sore. Mulanya, Rfk (37) curiga istrinya, Rht (32) berselingkuh. Begitu mendengar dari informannya bahwa sang istri pergi ke suatu tempat, ia pun membuntuti.

Bersama temannya, Rd (35), juragan tebu itu membuntuti Rht yang mengendarai Yama­­­- ha Mio. Rfk kaget ketika istrinya berhenti di sebuah rumah yang mirip penginapan yang dipetak-petak. Ia makin terkejut, karena di situ juga ada pria lain yang sudah dikenalnya, Fr (33), yang menunggu di atas mobil. Seperti diduga Rfk, begitu memarkir motornya, Rht langsung ikut Fr naik mobil.

Fr dan Rht kemudian menuju Kota Malang dan masuk ke sebuah supermarket untuk membeli kasur. Lalu mereka berkendara lagi dan mampir pasar Bululawang untuk membeli kebutuhan dapur.

Sekitar pukul 15.30 WIB, pasangan itu kembali lagi ke rumah sewaan. Sedangkan Rfk langsung melapor ke Polsek Gondanglegi, sementara Rd ditinggal di situ untuk mengawasi.

Begitu warga setempat sudah berkumpul, Rfk bersama petugas langsung menggerebeknya. Namun, sebelum masuk, mereka mengetuk dulu pintu kamar itu. Karena tak ada jawaban, mereka pun mendobraknya.

Ketika pintu terbuka, mereka tidak mendapati siapa pun di dalamnya. Mereka sempat merasa kecele. Namun, Rd meyakinkan bahwa baik Rht atau Fr tidak terlihat keluar dari kamar itu.

Kecurigaan warga pun mengarah ke lubang di plafon dan menduga ada orang bersembunyi di atasnya, meski di situ tidak ada tangga untuk memanjat.

Lalu ada warga yang cerdik. Asbes plafon itu disodok-sodok dengan kayu. Usaha ini berhasil, karena Rht yang tersodok pantatnya menjerit kaget.

Perempuan itu pun dipaksa turun. Beruntung sebelum terjatuh ke lantai, ada warga yang menolongnya. Bersamaan itu, Fr, ditemukan di kamar mandi dan berpakaian lengkap.

“Memang mereka sudah berpakaian, namun acak-acakkan, sepertinya asal memakai saja. Rht yang biasanya berjilbab, saat itu tidak,” kata Rd, saat ditemui di Polres Malang, Kamis (24/2) siang.

Selanjutnya, Kamis (24/2) siang, kasus itu ditangani penyidik Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Malang. Tak hanya Rfk, yang diperiksa, namun Rht dan Ft juga.

Siang itu, Rht dibawa ke RSUD Kanjuruhan untuk divisum. Yang diperiksa pertama adalah Rfk. Selama Rfk diperiksa, sejumlah temannya, yang mengaku ikut melakukan penggerebekan itu menunggu di luar.

Mereka menuturkan, rumah tangga Rfk dan Rht itu udah lama retak, dan dalam proses cerai. Mereka juga sudah tak lagi tinggal serumah, di Desa Harjokuncaran, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Sejak itu Rfk tinggal di rumahnya sendirian, sedang istrinya pulang ke orangtuanya.

Kompol Badriyah, Kapolsek Gondanglegi tak membantah soal penggerebekan itu. “Tapi soal tuduhan lain-lain, itu bukan hak saya menjelaskan karena kasusnya ditangani polres,” tutur Badriyah, Kamis (24/2).

AKP Hartoyo SH SIK, Kasat Reskrim Polres Malang juga belum bisa menjelaskan kelanjutan kasus yang masih disidik itu .

Saat diperiksa, Fr, penjual bakso terkenal di Kecamatan Sumbermanjing Wetan ini, membantah berbuat mesum dengan Rht. Ia berdalih, kedekatannya dengan Rht hanya terkait dengan bisnis bakso yang akan mereka buka bersama. Rht pun setali tiga uang. Ia membantah telah berbuat mesum dengan Fr.

Sebaliknya, Rfk bicara blak-blakan. Ia mengaku sudah lama mencium aroma perselingkuhan istrinya dengan Fr, yang juga sudah dikenalnya, namun tidak punya bukti. Ia curiga karena istrinya pernah tak pulang lama, hingga rumah tangganya berantakan.

Lalu, ia memerintahkan orang memata-matai Rht. Akhirnya, si informan mendapatkan kabar pertemuan Rht dengan Fr yang berujung pada penggerebekan itu

Seorang Pembantu PRT Yang Baru Bekerja 6 Jam Mencoba Meracuni Majikannya Dengan Obat Nyamuk

Iroh, pembantu rumah tangga ini menjadi pergunjingan warga Kelurahan Baktijaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, akhir pekan lalu. Dia mengaku memasukkan sekeping obat pengusir nyamuk elektrik ke dalam termos minuman milik majikannya, Tioma boru Hotasoit (32).

Akibatnya, Tioma, bukan Tomia seperti dalam Kompas, Minggu (20/2), merasa mual dan muntah. Merasa keselamatannya terancam, Tioma melaporkan Iroh ke Markas Kepolisian Resor Metro Depok.

Peristiwa itu mengejutkan Tioma. Betapa tidak, dia baru saja menerima Iroh sebagai pembantu, Jumat (18/2) pukul 08.30. Enam jam kemudian Tioma menenggak air gula berisi kepingan obat pengusir nyamuk buatan Iroh.

Saat minum air gula itu, Tioma merasa ada yang aneh dengan bau dan rasanya. Karena curiga, Tioma menuangkan air gula dalam termos tersebut di kamar mandi. Saat itulah dia menemukan sekeping obat pengusir nyamuk di dalam termos. Seketika dia melarang Iroh memegang termos itu karena akan melaporkan hal tersebut ke polisi.

Mendengar kata ”polisi”, Iroh langsung mengaku bahwa dia yang memasukkan kepingan obat pengusir nyamuk ke dalam termos minuman. Tioma langsung menyuruh Iroh keluar rumah seraya memanggil tetangga untuk mengawasinya sambil menunggu kedatangan suaminya, B Sianturi (38).

Bermacam-macam spekulasi muncul dalam benak Tioma dan Sianturi. Pembantu yang baru mereka kenal sudah berani memasukkan barang berbahaya di dalam termos minuman gula.

Sianturi dan Tioma yakin Iroh sengaja melakukan itu. Pasalnya, termos dan obat pengusir nyamuk terletak di ruangan berbeda. Termos terletak di meja makan, sedangkan obat pengusir nyamuk berada di dalam gudang yang terpisah jarak empat meter. Selain itu, obat pengusir nyamuk itu sudah hampir setahun belakangan tidak pernah dipakai.

”Apalagi kejadian siang hari, buat apa memasang obat pengusir nyamuk. Tidak mungkin dia tidak sengaja,” kata Sianturi.

Sianturi menduga ada orang lain yang menyuruh Iroh untuk berbuat jahat. Tujuannya melumpuhkan orang yang ada di dalam rumah. Ketika kejadian memang hanya ada Tioma dan anaknya, Stefan (5), tetapi siapakah yang menyuruh Iroh.

Kepada penyidik, Iroh mengaku tidak kerasan bekerja di rumah Tioma. Karena itu, dia sengaja membuat kesalahan agar diberhentikan dari pekerjaannya. Bagi Sianturi, pengakuan ini terasa aneh karena Iroh baru saja bekerja bahkan belum sampai satu hari.

Tioma mengenal Iroh dari tetangganya bernama Mpok Asih. Karena membutuhkan pembantu, Tioma menerima Iroh tanpa syarat berbelit. Kepada Tioma, dia mengaku berumur 20 tahun. Sementara kepada penyidik polisi, dia mengaku berumur 16 tahun. Tidak ada bukti tertulis mengenai umur Iroh karena dia tak memiliki kartu tanda penduduk. Keluarga Tioma hanya tahu Iroh berasal dari Brebes, sesuai pengakuan Iroh.

Iroh semula tinggal di rumah pacarnya, Amir, di Kampung Sugutamu, Kecamatan Sukmajaya, sekitar dua kilometer dari rumah Tioma. Karena digunjingkan tetangga, Amir meminta tolong Mpok Asih untuk mencarikan Iroh pekerjaan. Mpok Asih-lah yang membawa Iroh ke keluarga Tioma.

Mengenai identitas Iroh, polisi juga masih bingung. Untuk memastikan identitas Iroh, penyidik meminta keluarga Iroh datang ke Mapolres Metro Depok. Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Metro Depok Ajun Komisaris I Gusti Ayu mengatakan, kepastian identitas Iroh penting sebagai dasar perlakuan hukum terhadapnya.

Tetangga Tioma, Afrida (34), mengaku tak mengenal Iroh. Dia baru tahu setelah peristiwa ini muncul.

Kasus keping obat pengusir nyamuk Iroh ini bisa jadi peringatan bahwa kewaspadaan harus tetap ada di rumah kita. Seminggu sebelummya, kejahatan oleh pembantu rumah tangga juga terjadi di rumah Diana (36) di Kecamatan Cimanggis, Depok.

Satu Keluarga Tewas Pemilik Toko Pusaka Jaya Dibantai Perampok Di Probolinggo

Satu keluarga pemilik Toko Pusaka Jaya yang terdiri dari nenek, anak perempuan, dan dua cucu tewas dibunuh kawanan perampok di toko yang sekaligus rumah mereka di Jalan Panglima Besar Sudirman 28, Kota Probolinggo, Jawa Timur. Keempat korban ditemukan pada Minggu (20/2) dengan luka bacokan di tubuh mereka.

Korban tewas adalah Sri Murni (65); Mulyani (58), anak Sri Murni; serta Yuli Mulyati (28) dan Fredi Yuwono (24), cucu Sri Murni.

”Empat anggota keluarga itu ditemukan tewas dengan luka bacokan di tubuh, sedangkan pembantu keluarga tersebut ditemukan di kamarnya dalam posisi terikat tangannya serta mulutnya ditutup plakban. Saat ini pembantu tersebut sedang kami mintai keterangan di kantor polisi,” ujar Kepala Kepolisian Resor Kota Probolinggo Ajun Komisaris Besar Agus Wijayanto, Minggu, saat dihubungi dari Malang.

Keempat korban ditemukan pertama kali oleh Zainul, tukang becak, dan Husain, pedagang kaki lima di depan Toko Pusaka Jaya.

Zainul sehari-hari mengantar anggota keluarga ini dengan becaknya untuk berbelanja kebutuhan ke pasar. Adapun Husain biasa membantu keluarga tersebut membuka pintu gulung (rolling door) toko.

Kepada polisi, Husain menjelaskan, Minggu sekitar pukul 04.30, ia melihat pintu toko sudah terbuka sekitar 30 sentimeter.

Bersama Zainul, Husain pada pukul 05.30 mendatangi rumah tersebut untuk mencari tahu karena keluarga tersebut tidak juga keluar saat dipanggil-panggil.

Saat Zainul masuk ke dalam rumah, ia mendapati ada ceceran darah dan pemilik toko kelontong tersebut sudah tewas di kamarnya. Zainul segera melapor ke Pos Polisi Randu Pangger yang berjarak 200 meter dari lokasi kejadian.

Dari hasil olah tempat kejadian, sementara diduga pelaku pembunuhan masuk ke toko sekaligus rumah korban itu melalui atap.

Hingga kini belum diketahui jumlah kerugian materiil akibat kejadian tersebut

PEMBUNUHNYA TELAH TERTANGKAP … KLIK UNTUK BACA MOTIF DAN KRONOLOGINYA

SIswi SMP Terpaksa Membayar Traktiran Semangkok Bakso Dengan Menyerahkan Keperawanannya

At (15), siswa kelas III di salah satu sekolah menengah pertama swasta di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, terpaksa harus berurusan dengan polisi. Penyebabnya, At nekat memerkosa DC (15), perempuan warga Desa Rabak, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor.

Kamis (17/2) malam, At, yang merupakan anak salah seorang berpunya di Desa Cidokom, Kecamatan Rumpin, mengajak tetangga satu desanya, Yt (19), untuk makan bakso di Desa Gobang, juga di Rumpin. At lalu mengirimkan pesan singkat kepada DC yang baru seminggu dikenalnya.

Ia menawarkan ajakan yang sama kepada DC, gadis yang tak lagi melanjutkan sekolah seusai menamatkan sekolah dasar. Gayung bersambut, DC mau-mau saja ditraktir menyantap bakso oleh At.

Sekitar pukul 20.00, At dan Yt menjemput DC di rumahnya di Desa Rabak dengan menggunakan sepeda motor. Di rumah itu, DC tinggal bersama ayahnya dan ibu tirinya. Ibu kandung DC sudah meninggal dunia.

Mereka lalu berboncengan bertiga dengan satu sepeda motor. Setelah makan bakso, sekitar pukul 21.00, At dan Yt membawa DC ke Kampung Pengangkang, Desa Gobang, juga di daerah Rumpin. Di perkebunan karet itu mereka berhenti. Suasana di sekitar lokasi cukup sunyi dan sepi karena jalan yang membelah hutan karet itu tak banyak dilalui warga.

Lokasi itu pada akhir pekan kerap dijadikan lokasi berpacaran sejumlah muda-mudi. Ada beberapa gazebo yang kerap digunakan untuk tempat rehat bagi para penyadap karet di sekitar lokasi itu.

Di lokasi sepi itu At memaksa DC untuk diajak bersetubuh, tetapi gadis itu menolak ajakan tersebut. Penolakan itu tak diindahkan oleh At dan

meminta Yt untuk memegang tangan DC. Begitu gadis mungil ini tidak berdaya dalam pegangan Yt, seketika itu pula At melampiaskan hasrat seksualnya.

Setelah At selesai menyetubuhi DC, ia diduga sempat menawarkan kepada Yt untuk melakukan hal serupa. Namun, Yt menolak tawaran At karena merasa tak sampai hati memerkosa DC yang terus menangis.

Kedua pemuda ini kemudian mengantarkan DC pulang ke rumahnya. Tindakan At itu baru terungkap Sabtu (19/2) setelah DC menceritakan kejadian yang menimpanya kepada kakak perempuannya.

”Awalnya dia menangis terus dan menolak makan. Setelah ditanya baru akhirnya bercerita,” tutur Abet (40-an), paman korban, Minggu (20/2).

Dari pengakuan itu, keluarga lalu melapor ke Polsek Rumpin. Petugas lalu menangkap At dan Yt di rumah masing-masing pada Sabtu malam. Keluarga tengah berupaya memikirkan penyelesaian yang terbaik bagi masa depan DC.

Akibat kasus tersebut, konflik nyaris meluas menjadi konflik antarkampung. Pihak keluarga sudah ”panas” mendengar kejadian yang menimpa DC. Beruntung tokoh masyarakat sempat meredamnya.

Minggu siang, Kepala Desa Gobang M Harun, Kepala Desa Cidokom Asep Nuryana, serta keluarga korban dan pelaku bertemu untuk mendinginkan suasana.

Sementara itu, Kepala Polsek Rumpin Komisaris Nundun Radiaman mengatakan, setelah itu pihaknya pada Minggu kemarin melimpahkan kasus tersebut ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Polres Bogor.

Korban di bawah umur

Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak pada Polres Bogor Ajun Komisaris Ari Trisnawati mengaku masih mendalami latar belakang penyebab At nekat memerkosa DC. Namun, dari kasus yang pernah ditangani Polres Bogor, salah satu pemicu adalah mudahnya anak-anak mengakses pornografi. Setelah menonton, mereka kesulitan untuk mengendalikan hawa nafsu sehingga nekat memerkosa.

Sejak awal tahun 2011, kata dia, pihaknya sudah menangani lebih dari 10 kasus pemerkosaan dengan korban perempuan di bawah umur. Sebagian kecil dari kasus itu melibatkan pelaku di bawah umur, yakni kurang dari 18 tahun. Pelaku bisa dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak.

”Ada kecenderungan kasus kekerasan seksual terhadap anak meningkat, sedangkan kekerasan dalam rumah tangga agak turun pada awal tahun ini,” ujarnya.

Siti Maemunah, Ketua Forum Komunikasi Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Bogor, menuturkan, masalah akses tayangan pornografi memang bisa menjadi pemicu pelaku. Namun, lingkungan yang kini semakin permisif juga memberi andil terhadap kejadian itu.

Sementara dari sisi perempuan, gaya hidup kini membuat anak-anak menjadi dewasa sebelum waktunya. ”Misalnya, ada ibu-ibu menonton sinetron dewasa, tetapi anak perempuannya yang masih kecil dibiarkan ikut menonton. Dia bisa terpengaruh menjadi dewasa sebelum waktunya,” ujar Maemunah.