Monthly Archives: Maret 2011

Mahasiswi Ngeseks Di Atap Kampus Jadi Tontonan Warga Dan Videonya Beredar Di Facebook

Seorang mahasiswa University of Southern California berhubungan seks dengan pacarnya di atap asrama universitas pada siang bolong. Alhasil, aksi mahasiswa tersebut membetot perhatian ratusan pejalan kaki yang melintas.

Akibatnya, mahasiswa itu dikenai sanksi dari kelompok persaudaraan mahasiswa setempat. University of Southern California mengatakan mahasiswa tersebut juga terancam kena sanksi disiplin.

Foto-foto mahasiswa yang berhubungan seks di atap asrama bertingkat 12 tersebut beredar di internet dan menjadi virus.

Wanita yang melakukan hubungan intim tersebut dikabarkan bukan mahasiswi di University of Southern California.

Pihak universitas tengah menyelidiki apakah aksi mahasiswa itu ‘melanggar kebijakan universitas yang melarang akses ke atap gedung tanpa izin’. Kejadian terjadi di asrama Birnkrant Residential Hall.

Wakil Pembantu Rektor untuk Masalah Mahasiswa University of Southern California, Denzil Suite, mengatakan kepada Daily Trojan, “Saya tidak bisa mengungkapkan tindakan yang akan diambil secara spesifik terhadap tiap individu. Tetapi jenis tindakan seperti itu tidak bisa dibiarkan.”

Pernyataan dari kelompok persaudaraan mahasiswa, Kappa Sigma, menyebutkan mahasiswa yang berhubungan intim di atap gedung asrama dikenai sanksi tidak masuk lagi Kappa Sigma.

Belum ada komentar dari mahasiswa tersebut terkait kasus ini.

Polisi Berhasil Kembali Mengungkap Pembobol Bank BNI Margona Senilai Lebih Dari 100 Milyar

Polda Metro Jaya berhasil menggulung komplotan pelaku pembobol bank milik negara, Selasa (29/3). Sepuluh tersangka dibekuk polisi, seorang di antaranya Wakil Kepala Cabang Bank BNI Margonda, Simprug, Jakarta Selatan.

Kepala Satuan Fiskal Moneter dan Devisa Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Aris Munandar, Rabu, mengungkapkan, selain menangkap pembobol Bank BNI, polisi juga menangkap otak pelaku pembobol dana PT Taspen di Bank Mandiri dan Bank BRI.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Ito Sumardi memastikan kepolisian akan mengusut tuntas kejahatan perbankan, seperti kasus pembobolan dana nasabah.

Ito menilai kejahatan perbankan dapat muncul karena kelemahan di sistem perbankan. ”Bank harus bertanggung jawab atas dana nasabah,” katanya. Karena itu, diperlukan audit reguler dari lembaga pengawas independen yang dikontrol Bank Indonesia.

Bank BUMN

Menurut Aris, semua tersangka sudah dibekuk. ”Dalam kasus pembobolan dana BRI sebesar Rp 130 miliar, kami menangkap enam tersangka. Dalam kasus dana Tabungan Asuransi Pensiunan (Taspen) di Bank Mandiri sebesar Rp 110 miliar, kami menangkap otak pelakunya, residivis AF (38) dan beberapa tersangka lain,” katanya.

AF, warga Tambun, Bekasi, membobol dana pensiun Taspen tahun 2009 dan ditangkap pada Senin malam lalu. Namun, menurut Vice President Corporate Bank Mandiri Sukoriyanto Saputro, kasus pembobolan dana pensiun ini terjadi tahun 2007.

Saat diperiksa, AF mengaku mendapat bagian uang Rp 15 miliar. Aris berjanji akan memaparkan rincian kasus pembobolan di Bank BRI, Kamis ini.

AF, kata Aris, melakukan aksinya sejak tahun 1999. ”Dia sudah beberapa kali membobol bank di beberapa kota besar di Pulau Jawa. Sasarannya selalu bank BUMN. Ia beraksi dengan melibatkan orang dalam.

Dalam kasus pembobolan Bank BNI, AF bekerja sama dengan JKD (36), Wakil Kepala Cabang BNI 46 Margonda, Simprug, Jakarta Selatan, yang memalsu kredit lewat sentra kredit menengah (SKM). Dengan cara itu, JKD meminta Bank BNI Gambir, Jakarta Pusat, mengucurkan kredit fiktif senilai Rp 4,5 miliar ke kantor cabang.

Selain AF dan JKD, polisi juga menahan tersangka NCH (39), warga Cijantung; UK (48), warga Pisangan Timur; dan SHP (40), warga Pondok Aren. Kepada AF, JKD membocorkan nomor test key yang menjadi kode pencairan kredit. Salah satu perusahaan fiktif yang bakal menerima kredit adalah PT Bogor Jaya Elektrindo (BJE) yang dibuat AF-JKD untuk menampung kucuran dana.

Tanggal 20 Desember 2010 test key dimasukkan dalam teleks SKM yang sudah dipalsukan. Teleks kemudian difaksimile ke Bank BNI Gambir. Teleks adalah sarana perintah bayar kepada kreditor yang ditunjuk SKM. Dalam teleks itu seolah-olah SKM memerintahkan BNI Gambir mencairkan dana Rp 4,5 miliar ke PT BJE.

Petugas Bank BNI Gambir ternyata cermat. Petugas mengonfirmasi teleks ke SKM, yang ternyata SKM tidak memerintahkan mencairkan uang ke PT BJE.

Aris menambahkan, sebelum mencairkan dana, petugas Bank BNI telah melakukan dua kali pemeriksaan. Pertama dengan tester, yaitu proses untuk mengecek silang validitas nomor teleks yang berlaku ketika menerima perintah teleks. Begitu valid, bagian administrasi membuka rekening kredit atas nama BJE.

Langkah terakhir, pembayar memindahbukukan rekening ke rekening perusahaan. ”Saat hendak dibayar, ternyata isi berita teleks tak sesuai. Saat dikonfirmasi keesokan harinya, ternyata berita teleks itu palsu,” ujar Aris.

Tiga lapis

Direktur Utama Bank Mandiri Tbk (Persero) Zulkifli Zaini mengatakan, selama ini Mandiri memiliki tiga lapis pencegahan, yakni di setiap cabang, kontrol internal regional di setiap wilayah, dan direktorat audit internal di kantor pusat. Pencegahan semacam itu untuk menjaga kepercayaan nasabah.

Pada Februari lalu Polda Metro Jaya menangkap pembobol bilyet deposito senilai Rp 18,7 miliar di Bank Mandiri. Kasus yang terjadi pada April 2009 itu dilaporkan Bank Mandiri kepada polisi pada awal Februari 2011.

Salah satu tersangka pembobolan itu adalah karyawan customer service Bank Mandiri yang bertugas terhadap bilyet deposito tiga nasabah. Tanpa seizin ketiga nasabahnya, bilyet deposito itu dicairkan dan ditransfer ke rekening lain (Kompas, 24/2).

Sekretaris Perusahaan BNI Putu Bagus Kresna melalui siaran pers menjelaskan, sistem internal BNI mendeteksi transaksi mencurigakan senilai Rp 4,5 miliar pada 20 Desember 2010. Setelah diverifikasi, ternyata transaksi tersebut palsu.

Pada 23 Februari 2011 transaksi itu dilaporkan kepada Polda Metro Jaya. Selanjutnya, polisi menindaklanjuti dan salah satu tersangka yang ditangkap itu adalah Wakil Kepala Cabang BNI Margonda.

Hal yang sama dilakukan PT BRI Tbk (Persero). Menurut Sekretaris Perusahaan PT BRI Tbk Muhamad Ali, BRI menerapkan sistem pengawasan internal, salah satunya dengan mencetak semua transaksi pada keesokan paginya. Dari hasil cetak itu akan diketahui hal-hal atau transaksi yang tidak wajar.

”Prinsipnya kami berintegritas tinggi. Namun, apabila dedikasi tidak bagus, sebagus apa pun sistemnya, akan terjadi hal semacam itu juga,” kata Ali.

Kasus pembobolan terakhir kali menimpa BRI Cabang Panakkukang, Sulawesi Selatan, senilai Rp 30 miliar. Kasus itu dilaporkan BRI Panakkukang pada 24 Januari 2011.

Tigor M Siahaan, Country Business Manager Institutional Clients Group Citi Indonesia, bank yang juga dilanda pembobolan oleh karyawannya senilai Rp 17 miliar, mengatakan, nasabah perbankan diminta hati-hati dalam bertransaksi. Jangan pernah menandatangani formulir transfer atau cek kosong. Selain itu, selalu meneliti materi pernyataan bank karena berpotensi disalahgunakan orang lain.

Kantor Bank BNI Cabang Gambir, Jakarta Pusat 20 Desember 2010 lalu. Mesin telex berderit-derit. Lembar demi lembar kertas keluar dari mesin jatuh di atas meja. Semua surat yang masuk melalui telex kemudian di seleksi dan diserahkan kepada yang berhag menerima.

Manajemen Bank BNI Cabang Gambir terpaku pada salah satu telex. Dikirim atas nama pejabat Sentra Kredit Menengah BNI. Pesan yang tertulis memerintahkan pencairan kredit sebesar Rp 4,5 miliar kepada PT Bogor Jaya Elektrindo. Bank mencurigai telex itu palsu.

“Ada percobaan pembobolan bank,” Kepala Satuan II Fiskal, Moneter, dan Devisa Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Aris Munandar mengatakan pada wartawan, Rabu (30/3) di Jakarta.

Menyadari telex tersebut palsu, manajemen bank melakukan penyelidikan internal. Akhir Februari lalu Bank BNI membawa kasus ini ke Polda Metro Jaya. Lima orang yang diduga sebagai pelaku ditangkap, yaitu JKD, AF, NCH, UK, dan SHP.

NCH, UK, dan SHP pernah berusaha mengambil cek dana sebesar Rp 50 juta yang ada di rekening penampung di BNI Cabang Pasar Rebo.

JKD adalah Wakil Kepala BNI Cabang Margonda yang berperan untuk membuat contoh telex dengan kode-kode yang hanya diketahui orang dalam. Sedangkan AF bertindak menginstruksikan tiga tersangka lain untuk membuka rekening penampung dan membuat telex palsu.

Sementara itu AF yang memiliki nama asli Ahmad Fadilah alias Andre Aminuddin bukan orang baru dalam kejahatan perbankan. Ahmad bahkan merupakan buron polisi untuk kasus yang sama. Dia sempat tersangkut kasus pembobolan dana Taspen di Bank Mandiri senilai Rp 110 milyar. Dalam kasus itu, AF mendapat bagian lebih dari Rp 15 milyar.

Dalam melakukan aksinya Ahmad sering bergonta ganti rekan. Pria berusia 38 tahun ini juga tercatat pernah terlibat membobol sebuah bank di Bandung dan ikut dalam jaringan buronan Bank Indonesia, Richard Latif.

Entah kebetulan atau tidak, pada saat hampir bersamaan polisi juga mengungkap pembobolan Bank Citibank senilai Rp 17 miliar oleh karyawatinya sendiri, Melinda Dee. Trik yang digunakan perempuan berusia 47 tahun ini adalah dengan menyulap blanko investasi kosong yang ditandatangani nasabah untuk pencairan dana, namun uang tersebut tidak diinvestasikan. Melinda mengalirkan duit sejumlah Rp 17 miliar ke rekening perusahaan pribadinya, dengan bantuan seorang teller berinisial D.

Modus yang dilakukan tersangka tersebut menurut Juru Bicara Marka Besar Kepolisian Ri Inspektur Jenderal Anton Bahrul Alam tergolong kategori baru. Apalagi nasabah yang ditangani bermodal ratusan juta rupiah.”Sehingga pelaku seolah dengan mudah meraup dana dalam jumlah besar,” kata Anton.

Sitem perbankan sebenarnya sudah cukup kuat untuk mencegah terjadinya pembobolan oleh kalangan internal bank. “Tapi itu memang tidak bisa menjamin 100 persen,” katanya.

Melinda Dee Karyawati Cantik Tersangka Pembobol Citibank Indonesia Sebesar 17 Milyar Ditahan Polisi


Citibank dibobol oleh manajer dan teller bank itu sendiri. Nilai dana yang dibobol mencapai Rp 17 miliar. Polisi telah menangkap dua tersangka pelaku, yaitu MD dan D. Diduga modusnya dengan cara memindahkan uang nasabah ke beberapa perusahaan. Polisi masih terus mengembangkan penyelidikan kasus ini.

”Terakhir, petugas menangkap tersangka berinisial D di rumahnya di daerah Bintaro, Selasa pagi sekitar pukul 04.00,” kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam di Jakarta, Selasa (29/3).

Anton menjelaskan, tersangka ”MD” merupakan salah satu manajer di Citibank. Untuk memindahkan uang nasabah, MD dibantu tersangka D yang berperan sebagai teller di salah satu cabang Citibank.

Modus yang dilakukan para tersangka adalah dengan memindahkan uang nasabah ke beberapa perusahaan untuk kemudian ditarik uangnya oleh para tersangka. Kepemilikan perusahaan itu atas nama orang lain.

Saat ini, kata Anton, polisi masih terus mengembangkan kasus tersebut dengan memeriksa para tersangka secara intensif. ”Masih dikembangkan,” katanya ketika ditanya apakah kemungkinan masih ada tersangka baru yang menjadi target.

Hingga saat ini penyidik Polri telah memeriksa 13 saksi yang terdiri atas 10 karyawan bank dan 3 korban selaku pelapor.

Penyidik Mabes Polri juga telah menyita barang bukti berupa dokumen-dokumen transaksi dan satu unit mobil Hummer warna putih yang kini dititipkan di rumah penitipan barang sitaan di Jakarta Utara.

Sebagaimana dikemukakan Anton Bahrul Alam, MD dijerat dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Mengembalikan kerugian

Ditta Amahorseya, Director Country Corporate Affairs Citibank, dalam keterangan resmi melalui surat elektronik menyebutkan, kasus ini merupakan kejadian yang hanya terjadi di satu tempat. Citibank juga sudah bertindak cepat menghubungi seluruh nasabah yang mungkin terkena dampaknya.

”Adalah komitmen kami untuk melindungi kepentingan nasabah kami, termasuk secepatnya mengembalikan kerugian yang dialami oleh nasabah yang hilang melalui transaksi tidak sah di dalam rekening mereka secara adil dan tepat waktu. Kami bekerja sama penuh dengan seluruh pihak berwenang terkait,” kata Ditta.

Menurut Ditta, staf yang terlibat dalam kasus pembobolan uang nasabah tersebut juga sudah tidak lagi bekerja di Citibank. Namun, pihak Citibank menolak berkomentar lebih lanjut, dengan dalih kasus ini masih dalam tahap penyelidikan.

Tidak bertanggung jawab

Kepala Biro Humas Bank Indonesia Difi A Johansyah menyampaikan, pengawasan BI terhadap bank hanya berkaitan dengan kesehatan bank, termasuk hal-hal yang terkait dengan intermediasi perbankan. ”Misalnya, soal pengucuran kredit, benar atau tidak,” kata Difi.

Kasus yang terjadi di Citibank, tutur Difi, merupakan tanggung jawab Citibank. Pasalnya, kasus tersebut berkaitan dengan oknum di bank, bukan sistem bank tersebut. Secara umum, bank asing, termasuk Citibank, sistemnya sudah berjalan baik.

”Sekarang ini BI hanya meminta Citibank untuk menyelesaikan masalah itu agar nasabah tidak dirugikan,” ujar Difi.

Ekonom senior Standard Chartered, Fauzi Ichsan, yang ditanya wartawan tentang upaya mengantisipasi fraud atau penipuan di perbankan, menyatakan, manajemen risiko bank harus kuat. Penipuan umumnya terjadi di wilayah perbankan korporasi.

”Direktur manajemen risiko harus lepas dari urusan bisnis,” kata Fauzi. Dalam survei PwC Indonesia, yang dirilis pekan lalu, lebih dari separuh responden memperkirakan tingkat risiko penipuan akan tetap sama seperti tahun 2010.

Dari sisi jenis penipuan di sektor perbankan, penipuan identitas dikhawatirkan oleh 29 persen responden. Disusul kemudian penipuan berupa kolusi antara karyawan bank dan nasabah, sekitar 21 persen responden.

Seorang pegawai bank swasta berinisial MD, ditangkap dan ditahan karena kasus penggelapan uang. Uang yang berhasil digelapkan MD mencapai Rp 17 milliar.

“Jadi telah terjadi pelanggaran pidana perbankan money laundering yang melanggar UU Nomor 8 tahun 2010 tentangg pencucian uang di salah satu bank swasta di Jakarta,” ujar Kadiv Humas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jaksel, Jumat (25/3/2011).

Anton mengatakan, MD telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan Direktur II Ekonomi Khusus Bareskrim Polri. MD diduga menggelapkan uang nasabah hingga miliaran rupiah.

“Pelakunya seorang wanita dengan inisial MD usia sekitar 37 tahun. Pekerjaan pegawai bank tersebut,” imbuh Anton.

Modus pelaku melakukan manipulasi data dan mengalihkan dana milik nasabah ke rekening tersangka. “Jadi yang bersangkutan memanipulasi data kemudian memindahkan rekening orang ke rekening yang bersangkutan. Sehingga banyak terjadi korban,” jelas mantan Kapolda Jatim ini.

Kasus ini terbongkar setelah polisi menerima laporan dari korban yaitu nasabah bank tersebut. “Setelah diaudit, kurang lebih Rp 17 milliar uang dirugikan. Mungkin banyak masih belum ada korban melapor,” ungkapnya.

Sejumlah barang bukti disita antara lain dokumen-dokumen transaksi dan 1 unit mobil merk Hummer warna putih. Namun, Anton belum mau menyebut jabatan MD dalam bank swasta itu.

“Jadi yang bersangkutan menyalahgunakan keuangannya,” tandas Anton.

MD dijerat pasal 49 ayat 1 dan 2 UU no 7 tahun 1992 sebagaimana diubah dengan UU no 10 tahun 1998 tentang perbankan dan atau pasal 6 UU no 15 tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU no 25 tahun 2003 sebagaimana diubah dengan UU no 8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang.

Polisi sudah menahan MD, karyawan bank swasta, atas kasus dugaan penggelapan dana nasabah. Polisi akhirnya mengamini bahwa bank tersebut yakni Citibank. MD kini masih diperiksa.

Nasabah Citibank korban penipuan Melinda dipastikan akan mendapatkan kembali uangnya. Manajemen Citibank berjanji akan mengganti semua kerugian nasabah yang menjadi korban penipuan perempuan berusia 37 tahun itu.

“Kami secepatnya mengembalikan kerugian yang dialami oleh nasabah yang hilang melalui transaksi tidak sah di dalam rekening mereka secara adil dan tepat waktu,” kata Country Corporate Affairs Head Citibank Ditta Amahorseya pada Tempo lewat surat elektronik. Kerugian nasabah atas penipuan karyawati Citibank Melinda disebut mencapai Rp 17 miliar.

Ditta juga menyatakan, tidak bisa memberikan keterangan lebih lanjut soal kasus ini. “Mengingat kasus ini masih dalam tahap penyelidikan, Kami tidak dapat memberikan komentar lebih lanjut,” katanya.

Soal Melinda, pihak bank memastikan, sudah tidak berstatus karyawan lagi. “Staf yang terlibat tidak lagi bekerja pada kami,” katanya.

Mayat Polisi Iran Ditemukan Mengambang Di Ancol

Mayat lelaki dan perempuan ditemukan di perairan Muarapecah, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, oleh nelayan setempat, Sabtu (26/3).

Dari paspor diketahui, mayat lelaki itu bernama Mansour Muhsen (39), polisi Republik Islam Iran. Sementara mayat perempuan tidak beridentitas, tetapi diduga warga Indonesia.

Berdasarkan keterangan Denibo (40), Ketua RW 04 Desa Pantaibahagia, jenazah Mansour ditemukan mengambang sekitar 300 meter dari pantai Kampung Muarapecah, Desa Pantaibahagia.

Sementara itu, mayat perempuan ditemukan tersangkut di akar bakau (mangrove) atau rangkang, sekitar 500 meter dari mayat lelaki.

Ketika ditemukan, Mansour Muhsen mengenakan celana jins hitam, berbaju biru, dan bertas pinggang. Adapun mayat perempuan yang diperkirakan berusia 35 tahun itu bercelana cokelat dan berbaju krem.

Kedua mayat itu menggelembung dan menebar bau tidak sedap pertanda sudah sekitar tiga hari mengambang di laut.

Denibo mendapat informasi adanya kedua mayat itu dari para nelayan. Mereka ragu mengambil mayat itu dan melapor kepada petugas. Nelayan khawatir urusannya menjadi rumit.

”Makanya, saya dan tiga nelayan yang sanggup akhirnya mengambil dan melaporkan temuan mayat itu,” kata Denibo.

Dengan mendayung perahu, mereka berempat mengambil mayat Mansour pukul 13.00 WIB. Mayat perempuan diambil sekitar pukul 15.30 WIB.

Temuan itu dilaporkan kepada petugas Direktorat Polisi Perairan Polda Metro Jaya Pos Muarabendera Brigadir Satu Rino Effendi.

Bersama nelayan lain, Rino kemudian menggiring kedua mayat tersebut sambil menunggu petugas evakuasi. Jenazah kemudian dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Menginap di Ancol

Di kalangan nelayan beredar informasi, Mansour sempat menginap di salah satu hotel berbintang di Ancol, Jakarta, pada 20 Maret dan keluar pada 21 Maret karena ditemukan selembar kertas bukti menginap dan dua kunci kamar yang bentuknya mirip kartu ATM.

Berdasarkan hal itu, muncul dugaan bahwa kedua mayat tersebut memiliki hubungan. Kedua mayat ini juga diyakini berasal dari perairan Jakarta dan terbawa arus sampai ke Muaragembong.

Adapun sebab kematian kedua orang itu belum diketahui. Penyelidikannya diambil alih Direktorat Polisi Perairan Polda Metro Jaya.

”Dilihat dari fisiknya, yang perempuan sepertinya orang kita (Indonesia), tetapi saya tidak bisa memastikan sebab kondisi mayat sudah rusak sehingga sulit diidentifikasi,” tutur Rino.

Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Kecamatan Muaragembong Makmur Sanusi meragukan mayat itu berasal dari hulu Sungai Citarum. Sebab, kalau seperti itu, penarik perahu di Sungai Citarum pasti sudah menemukannya.

”Tahun lalu juga pernah ditemukan mayat lelaki di perairan sini, ternyata dari perairan Jakarta,” ujarnya.

Selly Yustiawati Penipu Lewat Facebook Tertangkap Di Bali Setelah Buron Selama Setahun

Masih ingat Selly? Penipu cantik yang tahun lalu menjadi topik hangat di jejaring sosial Facebook. Sepak terjang buronan yang diperkirakan telah menipu ratusan orang di sejumlah kota besar di Indonesia ini akhirnya terhenti di tangan Polsek Denpasar Selatan.

Selly Yustiawati alias Rassellya Rahman Taher dibekuk aparat Polsek Densel saat sedang berlibur bersama kekasihnya, Bima, di hotel the Amaris, Kuta, Bali, Sabtu kemarin.

“Setelah kita pastikan ciri-cirinya sama seperti DPO yang kita terima, akhirnya kita tangkap,” ujar Kepala Polsek Denpasar Selatan AKP Leo Martin Pasaribu kepada wartawan di Mapolsek Densel, Minggu (27/3/2011).

Wanita berusia 26 tahun ini kini sedang menjalani pemeriksaan di Mapolsek Densel dan rencananya akan segera dilimpahkan ke Polres Bogor malam ini. “Untuk kasusnya akan ditangani di sana,” jelas Leo Pasaribu.

Sementara Bima, sang kekasih, dibebaskan oleh polisi karena tak terbukti terlibat aksi kejahatan Selly.

Sekadar mengingatkan, Selly sempat menjadi perbincangan para “facebooker” lebih dari setahun silam setelah dia memanfaatkan situs jejaring sosial ini untuk melakukan penipuan.

Salah satu modusnya adalah menawarkan investasi melalui bisnis pulsa dengan menjanjikan keuntungan berlipat kepada korbannya. Namun, setelah si korban mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya, Selly langsung melancarkan jurus kaki seribu alias kabur.

Korban Selly berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Tangerang, dan beberapa kota lainnya. Modus lainnya yang sempat terendus polisi adalah pada tahun 2009 Selly pernah berpura-pura menjadi wartawati Kompas dan melakukan penipuan kepada karyawan Hotel Grand Mahakam dan Kompas Gramedia.

Terkuak motif Selly Yustiawati alias Rasellya Rahman Taher, wanita yang dituduh melakukan serangkaian penipuan di beberapa kota, yang baru saja tertangkap oleh aparat Polsek Denpasar Selatan.

Wanita berparas cantik ini mengaku uang yang selama ini dipinjam dari para korban dihabiskan untuk berfoya-foya. ”Saya meminjam uang kepada teman-teman dan menghabiskan bersama mereka juga, yang dipikirkan hanya kesenangan saja,” kata Selly saat ditemui Kompas.com di Mapolsek Denpasar Selatan, Senin (28/03/2011) pagi.

”Saya tidak pernah memakai uang itu untuk diri saya, misalnya membeli motor, enggak pernah,” tutur wanita berusia 27 tahun ini.

Selly juga menceritakan bagaimana hubungannya dengan korban yang tak lain adalah temannya, yakni Vika dan Mia. ”Kalau sama Vika, saya pinjam uang sama dia, tapi saya juga belikan dia baju, HP, dan uangnya kami habiskan sama-sama,” jelasnya.

Lulusan Universitas Padjajaran Bandung ini mengaku, gaya hidup glamor yang membuatnya terjerumus dalam kasus ini. ”Karena emosi, karena pengen terus-menerus berteman dengan mereka dan berhura-hura, jadi gelap mata,” tuturnya.

Sekadar mengingatkan, Selly sempat menjadi pergunjingan para facebooker lebih dari setahun silam setelah dia memanfaatkan situs jejaring sosial ini untuk melakukan penipuan.

Salah satu modusnya adalah menawarkan investasi melalui bisnis pulsa dengan menjanjikan keuntungan berlipat kepada korbannya. Namun, setelah si korban mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya, Selly langsung melancarkan jurus kaki seribu alias kabur.

Korban Selly berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Tangerang, dan beberapa kota lainnya. Modus lainnya yang sempat terendus polisi, pada tahun 2009 Selly pernah berpura-pura menjadi wartawan Kompas dan melakukan penipuan kepada karyawan Hotel Grand Mahakam dan Kompas Gramedia.

Nama Selly Yustiawati beberapa hari terakhir menjadi pembicaraan forum dan jejaring sosial di internet. Bukan karena paras cantiknya, melainkan karena kelicikannya menipu banyak orang selama bertahun-tahun dan di banyak kota.

Facebook pun digunakan untuk menyebarkan peringatan waspada terhadap perempuan licin tersebut. Jejaring sosial itu dimanfaatkan pula sebagai sarana tukar informasi untuk memburu Selly yang keberadaannya kini bak hilang ditelan Bumi. Selly kini masuk daftar pencarian orang (DPO) di internet.

Salah satu grup diskusi “PENIPUUUUUUUUUU SELLY YUSTIAWATI” kini sudah diikuti lebih dari 1.600 orang. Di situ ditampilkan foto-foto Selly dalam berbagai pose. Juga ada diskusi yang membicarakan seluk-beluknya, seperti modus aksi penipuannya dan informasi untuk melacak keberadaannya.

Pengguna Kaskus juga saling tukar informasi mengenai penipu ulung ini dalam salah satu thread berjudul “Hati-hati Dengan Selly Yustiawati”. Laporan penipuan yang dilakukan Selly pun banyak mendapat tanggapan, termasuk dari orang-orang yang pernah merasa menjadi korban Selly.

Selly memang dikenal licin dan sering berganti nama. Ia tercatat pernah menipu puluhan mahasiswi universitas swasta di Jakarta pada tahun 2006 dengan modus sebagai agen SPG dan meminta uang sebagai pelicin. Tahun ini, ia dua kali melancarkan aksinya dengan “menyusup” sebagai karyawan. Ia menjadi staf HRD sebuah hotel di Jakarta dan mulai meminjam uang dari para karyawan, tetapi menghilang begitu saja. Selly juga pernah menjadi karyawan di surat kabar terbesar dan berhasil mengelabui banyak karyawan hingga Rp 30 juta. Terakhir, pelaku dilaporkan melancarkan aksinya di Bandung, lagi-lagi dengan melarikan pinjaman.

Kepolisian meminta kepada masyarakat yang merasa menjadi korban penipuan Selly Yustiawati untuk segera melapor agar mereka bisa menindaklanjuti kasus tersebut. Polisi tidak dapat bertindak tanpa adanya laporan dari korban.

“Beri kepercayaan kepada polisi untuk melakukan penyelidikan,” ucap Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar di Polda Metro Jaya, Senin (22/2/2010), saat ditanyai mengenai kasus Selly.

Boy menjelaskan, berdasarkan data di kepolisian, Selly pernah diperiksa di Polsek Metro Tanah Abang saat tertangkap oleh korban yang merupakan karyawan surat kabar besar. Namun, saat itu terjadi perjanjian antara korban dan pelaku bahwa pelaku bersedia mengganti seluruh uang hasil penipuannya.

“Polisi tidak patut campur tangan atas kasus itu karena ada kesepakatan antara korban dan pelaku. Kalau dipercayakan kepada polisi, akan dibuatkan berita acara pemeriksaan lalu ditangani dan akan kelihatan tindak pidananya,” ungkap Boy.

Seperti diberitakan, Selly menjadi pembicaraan di forum dan jejaring sosial di internet lantaran kelicikannya menipu banyak orang selama bertahun-tahun dan di banyak kota. Keberadaannya kini tidak diketahui.

Selly pernah menipu puluhan mahasiswa salah satu universitas swasta di Jakarta pada tahun 2006. Ia juga menipu banyak karyawan saat menjadi staf HRD di salah satu hotel di Jakarta. Aksi selanjutnya, ia menjadi karyawan di sebuah surat kabar terbesar lalu mengelabui banyak karyawannya hingga Rp 30 juta.

Selly Yustiawati alias Rasellya Rahman Taher membantah dirinya adalah seorang penipu. Ia berdalih selama ini hanya meminjam uang rekan bisnisnya dan sebagian telah dikembalikan.

“Aku enggak nipu, aku cuma pinjam, karena semua enggak ada barang bukti, enggak ada yang tertulis, karena semua dari teman,” tegas Selly saat ditemui di Mapolsek Denpasar Selatan, Senin (28/3/2011).

Selly menolak disebut penipu. Lagi pula, menurut pengakuannya, uang yang selama ini ia pinjam sudah dikembalikan. “Ada beberapa yang aku kembalikan, ada yang sudah membuat surat pernyataan, dan ada yang sudah lunas,” imbuh wanita berusia 26 tahun ini.

Saat ditanya kenapa selama ini menghilang, ia mengaku takut karena opini masyarakat telah memandang dirinya negatif. “Sekarang bukan menyesal, tapi lebih dijelasin biar terungkap semua, karena selama ini wartawan hanya melihat satu sisi korban, tapi enggak melihat dari saya juga,” ungkap Selly.

Seperti diberitakan, Selly yang selama ini terkenal sebagai penipu ulung tertangkap aparat Polsek Denpasar Selatan saat sedang berlibur di Bali bersama kekasihnya, Sabtu (26/3/2011) lalu.

Lebih dari setahun yang lalu, Selly sempat menjadi bahan pergunjingan para facebooker setelah dia memanfaatkan situs jejaring sosial ini untuk melakukan penipuan.

Salah satu modusnya adalah menawarkan investasi melalui bisnis pulsa dengan menjanjikan keuntungan berlipat kepada korbannya. Namun, setelah si korban mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya, Selly langsung kabur.

Korban Selly berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Tangerang, dan beberapa kota lainnya. Modus lainnya yang sempat terendus polisi adalah pada tahun 2009 Selly pernah berpura-pura menjadi wartawati Kompas dan melakukan penipuan kepada karyawan Hotel Grand Mahakam dan Kompas Gramedia.

Sopir Taksi Trans Cab Ditusuk Dengan Pisau Pusaka Oleh Penumpang yang Tidak Mau Bayar Ongkos Di Bongkaran Tanah Abang

Nasib naas menimpa Zulkarnaen Predy, seorang sopir taksi Trans Cab, menjelang fajar, Sabtu pagi. Berniat mengantar penumpangnya ke daerah Bongkaran, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Predy malah ditusuk di dada kirinya. “Pelaku adalah penumpangnya sendiri,” kata Kepala Unit Reserse dan Kriminal Kepolisian Sektor Tanah Abang, Komisaris Tahmid, Sabtu sore.

Tahmid menyampaikan, penusukan itu diawali dari kekesalan penumpang karena ditagih membayar ongkos oleh sang supir. Menurutnya, sebelum penusukan sempat terjadi cekcok mulut antara Predy dan si penumpang selama beberapa menit. “Predy sampai turun dari mobil untuk menagih,” kisahnya.

Tak disangka, penumpang malah naik pitam, dan menghunus pisau sepanjang 15 jari ke dada sebelah kiri Predy. Si korban yang berumur 43 tahun itu langsung ambruk sejauh satu meter di sebelah kanan mobil taksinya. “Pisaunya masih menancap di dada saat ditemukan polisi,” Tahmid memberi tahu.

Tusukan penumpang itu, menurut Tahmid amat jitu. Karena langsung menembus ke jantung sang supir, sehingga langsung mati seketika. “Pisaunya seperti pisau pusaka. Pisau baru dicabut di RSCM saat otopsi,” katanya.

Kepala Kepolisian Sektor Tanah Abang, Ajun Komisaris Besar Johanson Ronald Simamora, menambahkan, penumpang bersenjata tajam itu masih dalam pengejaran pihaknya. Polisi sudah mengidentifikasi ciri-ciri pelaku dari hasil olah tempat kejadian perkara. “Kami memeriksa tiga saksi,” ujar Johanson di kesempatan terpisah.

Menurut Johanson, motif pembunuhan sudah teramat terang, yakni gara-gara penumpang yang tidak mau bayar ongkos taksi. Pun, dari olah TKP, Johanson mencatat, si pelaku sebenarnya sempat meminjam uang ke warga yang sedang nongkrong, namun tetap tidak cukup. “Nah, dari situ supir marah,” ulasnya.

Argo taksi terakhir yang dicatat polisi sendiri berjumlah Rp 28 ribu. Kala itu, si penumpang tidak memiliki uang lebih dari jumlah nominal argo taksi tersebut. “Kami sedang gali apakah pisaunya memang sudah dipersiapkan atau tidak,” timpal Tahmid.

Secara rinci, Tahmid memberi tahu, peristiwa pembunuhan itu terjadi di Jembatan Tinggi, Bongkaran, Tanah Abang, Jakarta Pusat pukul 04.00 WIB, Sabtu (26/3) dini hari. Korban Predy merupakan pria kelahiran Jakarta dan tercatat sebagai warga Kembangan Utara RT 005/03, Jakarta Barat.

Anggota Dewan Roy Surya Dengan Sombong Menzalimi Penumpang Lion Air

Anggota Dewan Roy Suryo membuat keributan saat akan naik pesawat Lion Air dari Bandara Soekarno Hatta tujuan Yogyakarta Sabtu (26/3) pagi. Namun, kali ini ia apes, karena diusir penumpang dan pilot.

Seorang penumpang Lion, dengan akun @ernestprakasa, dalam kicauannya di Twitter, mengatakan dirinya yang akan naik Lion Air 6:15 ke Yogya terkejut ketika di kursinya dan temannya telah diduduki oleh Roy Suryo dan istrinya.

Setelah dicek, ternyata tiket Roy Suryo adalah untuk penerbangan pukul 7.45, bukan 6.15. “Tapi dia kekeuh gamo turun, pk bw2 nama dir. Lion Air (dia berkukuh tidak mau turun, pake bawa-bawa nama direktur Lion Air),” tulisnya.

Karena bingung, awak Lion Air pun kasak-kusuk di mulut pintu pesawat. Sementara pilot yang bernama Captain Vino meminta lewat speaker: “Door close please.”

Tapi karena Ernest masih berdiri, pintu pesawat tidak bisa ditutup. Dan kebetulan semua kursi sudah terisi.

Akhirnya Capt. Vino keluar dari cockpit dan teriak ke pramugari: “Jam berapa ini? Kita sudah terlambat!” Saat itu sudah jam 6.30, penerbangannya jam 6.15.

Pramugari mencoba menjelaskan ke Captain Vino, lalu mereka diskusi sebentar. Setelah itu pramugari mulai sibuk ber-HT. Captain pun masuk lagi.

Ernest pun berpikir untuk mengalah dan keluar pesawat. Tiba-tiba seisi pesawat riuh. “Jangan mau mas, jangan ngalah sama pejabat!”

Salah satu penumpang berteriak “Roy Suryo, turun! Jangan kayak Nurdin Halid gak mau turun”.

Captain Vino pun keluar dari cockpit dan membanting pintu serta membawa tas. Dia jalan ke gerbang pesawat, lalu menjatuhkan tasnya, seraya berteriak kesal.

Pramugari bilang ke Ernest, “Kalau kalian gak bisa berangkat, Captain Vino gak mau jalanin pesawat.” Tak lama kemudian, beberapa petugas bandara datang.

Pramugari mencegat petugas itu: “Mas, kalau dua orang ini disuruh turun, penumpang yang lain akan mengamuk.” Ia menjawab: “nggak kok mbak, tenang aja.”

Mereka ngobrol sama Roy Suryo. Tak lama kemudian Roy berdiri lalu menghadap ke seisi pesawat: “Saya mohon maaf sudah mengganggu penerbangan anda.”

Ia dan istrinya berjalan keluar. Para penumpang pun menyoraki sambil tepuk tangan. Ernest dan temannya akhirnya duduk. Captain Vino pun kembali ke cockpit.