Monthly Archives: April 2011

Hati Hati … Pelaku Pelecehan Seksual Terhadap Wanita Di KRL Dilakukan Pria Secara Berkelompok Dan Sampai Mengeluarkan Penis Dan Mendesah Dalam Kereta

KASUS pelecehan seks di dalam kereta rel listrik kembali menimpa wanita. Sekitar 10 pria mengurung seorang wanita di tengah sesaknya penumpang sambil melecehkannya disertai ejekan dan desahan nakal di telinga. Sungguh biadab!

Cerita kelam tentang pelecehan seksual terhadap kaum Hawa di kereta api itu kembali menghentakkan publik, Selasa (26/4). Mirisnya, aksi pelecehan kali ini dilakukan secara beramai-ramai oleh sekelompok pria di atas Kereta Rel Listrik (KRL) Ekonomi dari Bogor menuju Jakarta. Di tengah sesaknya penumpang, sekawanan pria melakukan aksi biadab terhadap seorang karyawati.

Perbuatan tak bermoral itu diceritakan oleh Dina Nirmala, seorang karyawati di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Karyawati sebuah perusahaan swasta ini mengisahkan sebuah kejadian mengenaskan yang dialami oleh rekan sekantornya.

Menurut dia, Selasa pagi rekannya itu datang ke kantor dengan kondisi tak seperti biasanya. Wajahnya tampak murung, sesekali menangis, wajahnya terus tertunduk, dan sekujur tubuhnya gemetar.

Sejumlah rekannya yang melihat kejadian itu merasa heran karena korban yang selalu ceria tiba-tiba tampil seperti itu. Mereka lantas menanyakan apa yang telah terjadi. Dengan susah payah, cerita pahit itu akhirnya terungkap.

“Sambil menangis dan dengan susah payah korban menuturkan pengalaman pahit yang baru saja menimpanya,” katanya.

Dikurung 10 pria

Menurut Dina, saat itu rekannya berangkat kerja dengan menumpang KRL dari Stasiun Universitas Pancasila sekitar pukul 09.00. Kondisi KRL saat itu sangat padat dan penumpang berdesakan. Sebenarnya, saling dorong dan saling senggol antarpenumpang dengan kondisi kereta padat seperti itu adalah hal yang wajar dan dirasakan oleh hampir semua penumpang.

Namun, yang dirasakan korban kemarin sungguh memilukan. Saat berada di dalam kereta, korban dikurung oleh sekitar 10 penumpang pria. Namun, karyawati swasta itu masih tak curiga karena melihat tampang para pria itu seperti orang baik-baik.

“Tampang mereka baik-baik semua, jadi saya tidak curiga apa-apa,” ujar korban yang mengenakan jilbab, seperti dituturkan Dina.

Akibat kondisi dalam kereta terus berdesakan dan terjadi pergeseran, korban akhirnya semakin terpojok dan benar-benar dikurung oleh kawanan pria tadi. Dan, terjadilah hal yang tak pernah dibayangkan. Salah satu pria yang berada di belakangnya mulai menurunkan tangan.

“Pria itu membuka kancing celana panjangnya, dan (maaf), mengeluarkan alat vital, lalu menggesek-gesekkannya di bagian belakang tubuh korban,” kata Dina seperti dilansir VIVAnews.com.

Tragisnya lagi, sejumlah pria lain seperti sengaja menutupi aksi yang ada. Ketika korban berteriak minta tolong, tidak ada satu pun yang membantu karena kondisi kereta sangat padat. Korban bahkan memohon agar tindakan itu dihentikan.

“Pak, tolong, saya mohon jangan didorong, kereta sudah padat dan saya terjepit,” ujar korban.

Ironisnya, gerombolan pria itu malah tertawa. Mereka seperti kegirangan dan mengejek korban sambil terus melakukan aksi bejat itu. “Pria itu bahkan sedikit mendesah dan mengeluarkan kata-kata kotor di kuping korban,” kata Dina.

Antara marah, malu, dan kecewa, korban berteriak sambil merangsek ke luar dari kurungan para pelaku menuju ke arah pintu. Setelah bersusah payah, akhirnya korban keluar dari desakan gerombolan laki-laki itu, lalu turun di Stasiun Pasar Minggu. Padahal., kantornya masih jauh, yakni di Tanah Abang.

Korban memilih melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kendaraan umum roda empat.

Trauma dan stres

Kisah pahit ini, kata Dina, diceritakan rekannya itu sambil terus menangis. Korban sangat terpukul, trauma, dan stres dengan kejadian yang tak pernah dibayangkannya itu. Kalaupun akhirnya kasus ini disampaikan, jelas Dina, agar pengalaman menyakitkan yang dialami temannya itu bisa mengingatkan kaum wanita penumpang kereta untuk lebih waspada.

Ia berharap, kasus ini tidak lagi terjadi karena para pelaku telah merendahkan martabat wanita. “Banyak kasus seperti ini, tapi korban tidak berani mengadu,” ujarnya.

Kalaupun mengadu, Dina bertanya ke mana harus mengadu. Apakah disampaikan ke PT Kereta Api (KA)? Apakah pasti ada tindakan nyata? Rasanya tidak.

Menurut Dina, biasanya PT KA cenderung menyalahkan korban yang mengadu, ketimbang mencari tahu siapa pelaku pelecehan seks yang kerap bergentayangan di atas kereta. “Biasanya, mereka beralasan dengan mengatakan harusnya korban bisa membela diri. Harusnya korban bisa begini dan begitu, atau yang lebih ekstrim lagi, harusnya jangan naik kereta ekonomi kalau mau nyaman,” ungkapnya kesal.

Atas nama para wanita, Dina mengatakan sangat berkabung dengan pengalaman rekannya itu. “Sudah berulang kali dikatakan buruk, tetapi mereka (PT KA) seperti bangga akan keburukannya,” katanya.

Apa yang dialami rekannya itu, ungka Dina, hendaknya menjadi pelajaran berharga buat semua orang. Pasalnya, hingga saat ini rekannya itu seperti trauma dan terus membayangkan kejadian itu. Dia, ujarnya, seperti masih merasakan tertawaan dan ejekan jorok orang-orang biadab itu di telinganya.

“Sungguh lelaki tidak bermoral, lahir dari batu, mungkin,” umpatnya dengan nada tinggi.

Kepala Humas Daop I PT KA Mateta Rizalulhaq akan mengusut kejadian itu dan sudah menginformasikan kepada unit terkait untuk segera menindaklanjuti kasus memalukan ini. Namun, Mateta meminta agar para penumpang tak memaksakan diri bila kereta sudah dalam kondisi sangat penuh.

Mateta berjanji tak akan berhenti meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, terutama terhadap penumpang wanita, dengan menyediakan gerbong kereta khusus wanita pada kelas eksekutif atau ekspres. “Ini usaha kami untuk menghindari kejahatan terhadap penumpang wanita,” ujarnya.

Selain itu, paparnya, penegakan hukum dianggap menjadi penting. Dia berharap, setiap korban sebaiknya melapor ke petugas yang ada di tiap stasiun atau ke polisi. Sejauh ini, PT KA tak mungkin mengerahkan petugas dalam jumlah banyak di dalam kereta.

“Berteriak, menghindar, dan laporkan kepada petugas. Tidak mungkin petugas diam, kalau perlu kami akan hentikan perjalanan kereta,” ujarnya.

Perlu tindakan tegas

Kasus pelecehan yang terjadi di atas kereta api sangat disayangkan pemerhati hukum Yanti Nurdin. Advokat di Jakarta ini mengatakan, apa pun bentuk pelecehan yang mengarah pada harga diri seseorang, harus ditindak.

Tindakan tak terpuji ini, jelasnya, bisa dijerat dengan Pasal 281 dan 282 KUHP dengan ancaman hukuman tiga tahun penjara. Atau, ujarnya, bisa dijerat dengan perbuatan tak menyenangkan yang diatur dalam Pasal 335 KUHP.

“Saya sarankan wanita harus berani berteriak bila digerayangi seperti itu. Beranilah mengungkap masalah yang dilaminya, jangan malah ikut menikmati,” tegasnya.

TransJakarta

Terlepas dari kejadian di atas, pelecehan seksual yang biasa dialami wanita cenderung terjadi di mana dan kapan saja. Umumnya, pelanggaran kesusilaan ini sering dilakukan di tempat umum, termasuk bus TransJakarta yang kebanyakan penumpangnya adalah karyawan dan kaum terpelajar. Namun, hawa nafsu ternyata tak mengenal pendidikan, bahkan dengan kedok terpelajar, pelecehan di TransJakarta lebih banyak dari kereta api ekonomi.

Hal ini pernah dialami seorang wanita bernama Devi ketika berada di kendaraan umum. “Saat naik busway, pantat saya yang paling sering jadi korban diraba-raba dan dielus-elus. Pundak saya juga dicolek lelaki sesama penumpang. Orang itu sengaja iseng memanfaatkan suasana,” ujar wanita berusia 34 tahun ini.

Ketika ditemui di halte TransJakarta Harmoni, wanita seksi, aduhai, dan sintal berkulit putih itu menuturkan tak bisa berbuat apa-apa. “Kalau saya teriak, justru lelaki itu akan berkelit dan mengatakan penumpang yang tidak mau mengerti dengan keadaan. Dan ini bisa membuat saya malu, lebih baik pasrah saja asal jangan sampai ke bagian sensitif saja, ” tambahnya.

Tak hanya Devi, penumpang TransJakarta lain juga mengatakan hal yang sama. “Pantat saya juga sering dicolek-colek, bahkan pernah ada yang menaruh tangan di pinggul saya,” ucap Ririn, karyawati.

Untuk itu, baik Devi maupun Ririn mendesak Pemprov DKI Jakarta menyediakan bus khusus perempuan. Bagi mereka, ini langkah segera dan sangat penting mengingat sudah banyak korban pelecehan seksual terhadap wanita.

Mahasiswa Bunuh Siswi Pelajar MTs Umur 15 Tahun Karena Setelah Disetubuhi Sekali Minta Dibelikan Perhiasan dan Bertunangan Padahal Sudah Tidak Perawan Lagi

Cecep Kusandi (20) berkaus putih, saat menjali proses penyidikan di Satuan Reserse Kriminal Polres Bogor Kota, Sabtu (23/4/2011) siang. Mahasiswa tersebut membunuh Dini Fitriyani (15), siswa kelas III SMP, yang adalah tetangganya sendiri di Kampung Pasir Gabug, Desa Cisarua, Kecamtan Sukajaya, Kabupaten Bogor

Aparat Polres Bogor Kota menangkap Cecep Kusnadi (20), seorang mahasiswa tersangka pembunuh Dini Fitriani (15), di rumahnya di Kampung Pojok Gabug, Desa Cisarua, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Sabtu (23/4/2011) sekitar pukul 03.00. Tersangka dan korban bertetanggaan.

Kepala Polres Bogor Kota Ajun Komisaris Besar Hilman mengatakan, dirinya bersyukur karena satuan resersenya dapat mengungkap dan menangkap cepat tersangka pembunuh Dini, siswa kelas III Sanawiyah Al Mujahidin, dalam waktu dua hari. Tersangka mengaku membunuh korban karena korban mendesak meminta dibelikan perhiasan dan bertunangan.

“Merasa tidak siap dan tidak punya uang, tersangka menjadi kalut. Pembunuhan tersebut tidak direncanakan tersangka,” ujar Hilman di kantor Polres Bogor Kota di Kedung Halang Talang, Sabtu (23/4/2011) siang.

Cecep menyatakan menyesal telah membunuh Dini. “Dia bukan pacar saya, tapi dia yang senang pada saya. Saya sendiri sudah punya pacar,” katanya saat ditemui di sela pemeriksaannya.

Mahasiswa Universitas Ibnu Khaldun yang tengah cuti kuliah sejak empat bulan lalu itu mengatakan memang pernah berhubungan badan dengan Dini satu kali di rumah korban sekitar lima bulan lalu.

“Cuma satu kali itu. Waktu begituan itu, dia juga tidak berdarah. Masak sekarang dia minta macam-macam. Saya juga tidak punya uang,” katanya.

Pembunuhan dilakukan di depan televisi di rumah kontrakan Prabowo (31), teman Cecep, di Gg H Marhadi RT 02 RW 02, Desa Cilebut Timur, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Rabu (20/4/2011) sekitar pukul 09.00. Ia memukulkan batu kali yang diambilnya dari luar rumah, ke pipi kiri dan kepala belakang korban. Saat itu korban tengah menonton televisi.

“Pagi itu dia kembali minta perhiasan dan bilang pokoknya setelah UN selesai saya harus bertunangan dengannya. Saya jadi marah dan panik,” kata Cecep, yang empat bulan terakhir bekerja sebagai buruh di pabrik aksesori pipa di Parung, Bogor.

Setelah Dini meninggal, Cecep pun bingung. Kebetulan di kamar kontrakan Bowo ada kardus besar. Lalu, dia memasukkan jasad Dini ke dalam kardus itu. Dengan menggunakan motor Prabowo, dus tersebut dibawa keliling, lalu diletakkan di teras masjid di Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, pada Rabu siang. “Pokoknya saya ingin buang dus itu di tempat sepi,” katanya.

Identitas mayat wanita di dalam kardus yang ditemukan di teras Masjid Nur-Quba Kampung Sukaresmi RT 03 RW 04, Kelurahan Sukaresmi, Kecamatan Tanah Sareal, Rabu (20/4/2011) sekitar pukul 15.30, akhirnya terkuak. Korban diketahui bernama Dini Fitriani bin Mihad (15), pelajar MTs (SMP) Al Mujahidib kelas III.

Korban adalah warga Kampung Pasirgabug RT 02 RW 02, Desa Cisarua, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Kepastian identitas korban diketahui setelah orangtua Dini, Mihad (45), melaporkan telah kehilangan anaknya ke polisi. Setelah mendapatkan laporan tersebut, polisi kemudian membawa Mihad ke RS Polri Kramat Jati untuk dilakukan pengecekan.

Kepala Satuan Reskrim Polres Bogor Kota AKP Indra Gunawan membenarkan terungkapnya identitas korban. Indra mengatakan, saat ini pihaknya masih mengembangkan kasus pembunuhan tersebut dengan melakukan pemeriksaan sejumlah saksi dan mengumpulkan bukti-bukti.

“Identitasnya sudah kita dapat dari orangtuanya. Sekarang sedang kita kembangkan ke rumah orangtua korban untuk mengumpulkan bukti-bukti,” ujar Indra Gunawan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, terungkapnya identitas korban pembunuhan tersebut berawal dari adanya tayangan televisi dan pemberitaan di sejumlah media cetak tentang penemuan mayat di dalam kardus di teras Masjid Nur-Quba, Kelurahan Sukaresmi, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Rabu (20/4/2011) sore. Mihad, orangtua Dini yang melihat tayangan di televisi, mencurigai kalau korban adalah anaknya sendiri.

Kepada polisi, Mihad mengaku anaknya Dini Fitriani pergi dari rumah pada Selasa (19/4/2011) sekitar pukul 11.00. Saat itu, menurut keterangan Mihad kepada petugas, Dini pergi setelah ditelepon seseorang. Polisi masih menyelidiki apakah orang yang menelepon adalah pelaku pembunuhan atau bukan.

Kecurigaan Mihad diketahui dari ciri-ciri fisik korban. Mihad kemudian mendatangi Polres Bogor Kota untuk melakukan pengecekan mengenai adanya penemuan mayat perempuan tersebut.

“Adanya laporan itu langsung kita tindak lanjuti dengan membawa orangtua korban ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati karena korban disimpan di rumah sakit itu,” kata Indra.

Hasil pengecekan, kata Indra, ternyata jenazah wanita itu adalah anak Mihad bernama Dini Fitriani siswi kelas 3 MTs Al-Mujahidib. Indra menjelaskan, pihaknya masih menyelidiki siapa orang yang menelepon korban sesaat sebelum wanita itu ditemukan tewas dan dimasukkan ke dalam kardus.

“Kalau korban diketahui pergi dari rumah pada Selasa siang, dan ditemukan Rabu pagi, ada dugaan korban dihabisi pada Selasa malam, atau Rabu pagi. Tapi, kita masih melakukan pengembangan dan penyelidikan lebih lanjut,” tukasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sesosok mayat wanita tanpa identitas ditemukan di dalam kardus di halaman Masjid Nur-Quba, Kampung Sukaresmi RT 03 RW 04, Kelurahan Sukaresmi, Tanah Sareal, Kota Bogor, Rabu (20/4/2011) sekitar pukul 15.30.

Wanita itu diduga korban pembunuhan karena ditemukan bekas luka di sekujur tubuhnya. Saat ditemukan, mayat wanita dalam kondisi haid. Hal ini terlihat dari celana dalam korban yang terdapat pembalut wanita dipenuhi darah kering. Polisi yang datang ke lokasi kejadian masih melakukan identifikasi mayat wanita tersebut

Mayat perempuan dengan luka-luka di kepalan ditemukan di dalam dus di teras Masjid Nurqoba, Kelurahan Sukaresmi, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (20/4/2011). Polisi memperkirakan korban berusia sekitar 17 tahun dan tewas pada pagi hari.

“Beberapa ibu mengatakan sudah melihat dus itu sejak siang. Mereka tidak terlalu curiga karena menyangka dus besar yang diikat tali rafia merah itu barang milik orang yang tengah salat zuhur di masjid,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bogor Ajun Komisaris Indra Gunawan.

Kehebohan baru terjadi menjelang salat ashar sekitar pukul 15.00. Mereka heran melihat dus tersebut tetap di situ. Kekhawatiran mereka pun muncul karena takut dus berisi bom. Namun, ada juga warga yang memberanikan diri menyibak tutup dus yang tidak dilem itu.

Samar-samar terlihat seperti ada gelang putih yang menempel di kaki. Namun, mereka tetap tidak berani membuka dus tersebut. Ketua RW Yadi lalu menelepon polsek. Sekitar pukul 16.00, polisi tiba di lokasi.

“Semula kami khawatir itu berisi bahan peledak karena segala hal harus dipertimbangkan. Namun, setelah kami teliti dus itu, kami lihat semut-semut sudah ada. Apalagi ada yang bilang sempat mengintip dan melihat seperti ada kaki. Tutup dus pun kami buka. Isinya mayat perempuan dalam keadaan meringkuk,” ucap Indra.

Polisi pun membawanya ke Bagian Forensik RS PMI Bogor. “Pemeriksaan selintas pada mayat tersebut menunjukkan, perempuan itu korban pembunuhan dengan benda tumpul. Luka-lukanya ada pada bagian kepala. Ada luka lecet juga di lehernya,” ungkap Indra.

Menurut Indra, perlu dua orang untuk mengangkut dus tersebut serta membawanya dan meletakkannya di teras masjid karena dus berat dan besar. Namun, sejauh ini, pihaknya belum menemukan saksi yang melihat pelaku peletak dus tersebut.

Adapun ciri perempuan malang tersebut adalah berkulit agak gelap, rambut hitam lurus sebahu, dan memiliki tinggi badan 148 cm. Korban berpakaian lengkap, sweter abu-abu dengan monogram bertulisan “Performent Tophot”, kaus tanktop merah garis putih, celana jins biru, ikat pinggang hitam, kutang hitam, dan celana dalam merah dengan pembalut. Korban juga tengah haid.

“Diperkirakan korban meninggal sekitar lima atau enam jam sebelum ditemukan atau pada pagi hari,” ungkap Indra, mengingat belum semua darah yang keluar dari kepala korban membeku.

Debt Collector Tewas Setelah Diculik, Dianiaya dan Dibunuh Oleh Nasabah Kartu Kredit Yang Menunggak Hutang

Seorang jasa penagih utang (debt collector), Helmy Yohanes Manuputi (34), Senin (18/4/2011) malam, meninggal di Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia, Cawang, Jakarta Timur. Helmy diduga meninggal setelah sebelumnya dianiaya oleh nasabahnya.

Selama ini pria asal Ambon itu bekerja di Sinar Mitra Sepadan Finance, Jalan Margonda, Depok. Helmy meninggalkan seorang istri, Theresia Wattimuri (33), dan seorang putri bernama Bianca.

Menurut Theresia, suaminya pada 11 April lalu diculik oleh nasabahnya yang tidak mampu membayar utang yang ditagih Helmy dan temannya. Dia mengatakan, nasabah itu selalu berkelit ketika diminta membayar utangnya. Hal tersebut berujung pada penculikan Helmy dan dua temannya di kantor mereka. Helmy meninggal setelah satu minggu dirawat di RS UKI.

“Masalah dari kantor dari kerjaan. Dia (Helmy) ke kantor urus masalah tagihan mobil ada orang yang belum bayar. Sore-sore perginya tetapi setelah itu tidak pulang. Teman-temannya bilang dia dibawa beberapa orang pakai mobil dan motor. Saya juga tidak tahu jelas ceritanya bagaimana. Dia pulang sudah penuh luka,” ungkap Theresia berurai air mata di kamar duka RS UKI, Selasa (19/4/2011).

Menurut cerita dari ibunda Helmy, Ena Manuputi (57), anaknya dibawa kembali oleh nasabah setelah dianiaya. Helmy dan dua temannya dilempar ke jalan kawasan Margonda. Mereka kemudian berusaha mencari teman-temannya untuk dibawa ke rumah sakit. Ena mengaku mendapat ceritanya langsung dari putranya saat merawatnya. Ena baru datang ke Jakarta, Jumat (15/4/2011). Dia mengatakan, telinga anaknya juga dipotong oleh orang-orang suruhan nasabahnya.

“Saya sempat membasuh badan Helmy, dia cerita tangan dan kakinya diikat. Terus dipukul dengan mata tertutup. Akibatnya, semua badannya biru lebam, lengannya dipukul pakai besi. Telinganya yang sebelah kiri tinggal setengah karena dipotong. Kakinya juga ada bekas luka kena parang tumpul sepertinya,” ujar Ena tak kuasa menahan tangis mengingat nasib anaknya.

Ena menyesalkan setelah enam tahun tak berjumpa anaknya justru dia hanya dapat melihat anaknya teraniaya dan meninggal. Menurut penuturan keluarga, Helmy sudah 10 tahun tinggal di Jakarta. Selama ini masih baik-baik saja selama dirawat meskipun dia sempat mengeluh sakit akibat luka-luka yang diderita. Keluarga tak menduga Helmy akhirnya mengembuskan napas terakhir malam tadi.

Tampak keluarga dan teman-teman Helmy datang ke kamar duka untuk mengucapkan belasungkawa. Baik Ena maupun Theresia tidak mengetahui pasti pelaku penganiayaan Helmy dan kronologi peristiwa tersebut.

“Mereka sempat mau omong damai biar pihak yang bersalah bayar ganti rugi rumah sakit. Tetapi kalau saya punya anak sampai meninggal begini, kami tidak terima. Kami akan lanjut ke proses hukum,” ujar Ena.

Rencananya jenazah Helmy akan disemayamkan di kota kelahirannya, Ambon. Keluarga akan membawa jenazah sekitar pukul 02.00 dengan pesawat Lion Air.

Kepolisian Resor Depok, Jawa Barat hanya menangani laporan tindakan tidak menyenangkan yang dilayangkan oleh pihak nasabah PT Sinar Mitra Sepadan yang juga dari anggota TNI kepada pihak PT Sinar Mitra Sepadan. Hal ini berkaitan dengan tewasnya Helmy Yohanes Manuputi (34), seorang debt collector di perusahaan tersebut.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Baharudin Djafar mengatakan, kepolisian hanya menangani kasus pidana umumnya saja.

“Polres Depok hanya menerima laporan perbuatan tidak menyenangkan. Karena kasus ini adalah kasus melibatkan oknum TNI dan sedang ditangani pihak Pomdam dan ini masih diproses,” kata Baharudin saat ditemui di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (19/4/2011).

Seperti diberitakan, seorang jasa penagih utang (debt collector), Helmy Yohanes Manuputi (34), Senin (18/4/2011) malam, meninggal di Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia (UKI), Cawang, Jakarta Timur. Helmy meninggal diduga akibat sebelumnya dianiaya oleh nasabahnya.

Dua Pembantu Wanita Di Modernland Jalan Raya Taman Golf Blok DG Tewas Diperkosa Dalam Keadaan Telanjang

Dua wanita pembantu rumah tangga ditemukan tewas di garasi rumah majikan di Blok DG Perumahan Modernland, Kota Tangerang, Sabtu (16/4) malam. Salah seorang di antaranya dalam keadaan setengah bugil dan diduga diperkosa pelaku.

Tewasnya kedua korban menghebohkan warga sekitar maupun penghuni di kompleks perumahan mewah tersebut. Pasalnya, keamaan di tempat itu sangat ketat dan tidak sembarang orang bisa masuk.

Kedua korban Maryati, 25, dan Sarni, 24, meregang nyawa dengan kondisi tangan mereka terikat. Di kepala dan tubuh korban ada luka bekas pukulan benda tumpul. Belum diketahui kerugian yang dialami pemilik rumah, Holly.

Pembunuhan sadis ini diketahui sekitar Pk.17.30. Saat itu, adik kandung Holly, Meylani bermaksud mengunjungi kediaman kakaknya. Setibanya di rumah tersebut, ia memberi klakson mobil, namun tidak juga dibukakan pintu.

Karena curiga, Meylani turun dari mobil dan mengecek ke pagar rumah. Ternyata didapati pintu garasi dalam keadaan terbuka. Wanita ini pun masuk ke rumah Holly. Setibanya di garasi, Meylani kaget melihat kedua pembantu kakaknya sudah tidak bernyawa di garasi.

Meylani pun melaporkan kasus ini ke kakaknya dan meneruskan ke satpam perumahan. Selanjutnya petugas keamanan melapor ke Polres Metro Tangerang. Petugas langsung melakukan olah TKP untuk menyelidiki pembunuhan sadis tersebut.

Pembunuhan sadis terjadi di Kota Tangerang pada akhir pekan, Sabtu (16/4) malam. Sarni (22) dan Maryani (25), pembantu di rumah Kholiwyio—seorang pemborong—ditemukan tewas mengenaskan di garasi rumah megah, dua lantai, dan bercat putih di kawasan perumahan mewah Modernland, Jalan Raya Taman Golf Blok DG 2 Nomor 118 RT 01 RW 14, Kelurahan Poris Plawad, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, itu.

Di kawasan yang sepi dari arus lalu lintas itu, kedua pembantu tersebut ditemukan tewas dengan kedua tangan terikat ke belakang dan luka bocor di kepala akibat pukulan benda keras yang diduga menggunakan tabung gas berukuran 3 kilogram. Dugaan itu dikuatkan dengan bukti, tak jauh dari tubuh korban terdapat sebuah tabung gas berwarna hijau muda yang ada bercak darah.

Tak hanya pembunuhan, diduga dalam aksi itu juga terjadi pemerkosaan terhadap salah satu korban. Salah satu korban ditemukan dalam posisi setengah telanjang. Selain itu, polisi juga menemukan sebuah kondom bekas dipakai.

”Olah TKP (tempat kejadian perkara) sudah dilakukan. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk pemilik rumah dan orang dari pihak penyalur tenaga pembantu di Lampung yang mengirim kedua korban ke rumah tersebut,” kata Kepala Reserse dan Kriminal Polrestro Tangerang Kota Ajun Komisaris Besar Sumanto di Tangerang, Minggu siang.

Dari hasil olah TKP dan keterangan sejumlah saksi, lanjut Sumanto, peristiwa tersebut diduga merupakan pembunuhan dan pemerkosaan, bukan seperti yang diduga sebelumnya, yaitu perampokan disertai kekerasan.

”Kondisi lemari di kamar pemilik rumah terbuka, tetapi barang di dalam tak diacak-acak. Pemilik rumah mengatakan belum ada barang hilang. Jadi, sementara, peristiwa ini diduga pembunuhan dan pemerkosaan,” kata Sumanto.

Kepala Polrestro Tangerang Kota Komisaris Besar Tavip Julianto yang juga mendatangi TKP pada Sabtu malam menjelaskan bahwa kejadian tersebut masih terus didalami dan diselidiki.

”Kami masih belum tahu siapa pelakunya. Hasil dari olah TKP dan keterangan saksi masih dievaluasi untuk mencari siapa pelakunya,” kata Tavip.

Kejadian itu berawal ketika pemilik rumah pergi sekitar pukul 15.00. Saat itu di rumah hanya ada dua pembantu dan tukang yang sedang memperbaiki rumah yang bocor.

Peristiwa pembunuhan tersebut baru diketahui ketika adik salah satu korban melapor ke polisi.

Setelah sampai di lokasi, petugas langsung memeriksa TKP dan mendapati Sarni dan Maryani tewas dengan kondisi mengenaskan. Polisi juga menemukan tiga buah kamar yang acak-acakan habis dibongkar.

Polisi juga mengerahkan anjing pelacak untuk memeriksa seisi rumah dan lingkungan sekitar.

Pada Minggu siang garis polisi masih terpasang di sepanjang rumah korban. Warga sekitar mulai tampak berdatangan melihat rumah korban.

Hendrik (49), salah seorang warga Jalan Pulau Puteri Blok O VI Nomor 2—masih dalam kawasan itu—mengatakan bahwa dirinya sering melihat pacar pembantu tersebut masuk rumah setelah majikannya pergi.

”Apalagi, pemilik rumah sering bepergian ke luar kota sampai berhari-hari. Saya sering melihat, pembantunya suka membawa pacarnya masuk ke rumah,” kata Hendrik, pemilik awal rumah itu sebelum dijual kepada Kholiwyio.

Kasus ini sudah sepantasnya bisa mengingatkan kita semua bahwa kejahatan setiap saat bisa terjadi jika tidak waspada

Sabtu (16/4) malam terjadi perkosaan dan pembunuhan terhadap Sarni dan Maryani, pembantu rumah tangga di garasi sebuah rumah di Perumahan Modernland, Jalan Raya Taman Golf Blok DG 2 Nomor 118, RT 01 RW 14, Kelurahan Poris Plawad, Cipondoh, Kota Tangerang. Ini jadi pengingat akan tingginya angka kejahatan di kawasan penyangga Jakarta.

Polda Metro Jaya mencatat, Tangerang menjadi kawasan paling rawan dengan 284 kasus pada Januari dan 272 kasus pada Februari 2011. Peringkat kedua diduduki secara bergantian oleh kawasan Jakarta Barat (280 kasus pada bulan Januari dan 158 kasus pada bulan Februari) dan Jakarta Timur (274 kasus pada Januari dan 217 kasus pada Februari).

Di tingkat yang lebih mikro, pada periode yang sama, di lingkungan Polsek Metro tercatat, di Polsek Metro Cakung, Jakarta Timur, terdapat 39 laporan kejahatan yang masuk; di Polsek Metro Taman Sari, Jakarta Barat, 28 laporan; di Polsek Metro Kelapa Gading, Jakarta Utara, 26 laporan; dan di Polsek Metro Kemayoran, Jakarta Pusat, 21 laporan.

Di Pondok Aren, Tangerang Selatan, 45 laporan; Polsek Metro Cimanggis, Depok, 26 laporan; dan Polsek Metro Babelan, Bekasi, 18 laporan.

Teori makan bubur

Pada sebuah diskusi di Rumah Aspirasi Cisanggiri, Jakarta Selatan, para perwira polisi menengah dan kriminolog menyebut, kejahatan yang terjadi di kawasan penyangga Jakarta adalah langkah awal para penjahat meniti ”karier”. Mereka menyebutnya sebagai teori makan bubur ayam panas.

Sendok suapan pertama, kedua, dan ketiga berasal dari pinggiran bubur panas seperti saat para pemain baru kejahatan beraksi di pinggiran Jakarta. Mereka adalah kaum urban pengangguran yang umumnya berusia 20-40 tahun.

Di pinggiran Jakarta, mereka hidup bersama mengelompok berdasar asal daerah atau etnis.

Mereka mempelajari pola warga mencari nafkah. Pagi berangkat ke Jakarta, sore atau malam baru kembali ke rumah. Mereka rata-rata meninggalkan rumah selama 12 jam. Rumah hanya dihuni pembantu, orang lanjut usia, dan anak-anak.

Para pelaku kejahatan sudah membaca rapuhnya pola pengamanan lingkungan dan terbatasnya sumber daya polisi di kawasan penyangga Jakarta.

Pengamanan lingkungan di pinggiran rapuh karena warga kurang memberi perhatian terhadap keamanan lingkungan. Maklum, sebagian besar waktu mereka habis untuk bekerja. Selain itu, kohesi sosial antara warga pendatang dan warga penghuni lama juga lemah.

Untuk mengenali sasaran, para pelaku juga terkadang memacari para pembantu rumah tangga agar bisa lebih leluasa masuk menyelidiki rumah sasaran. Oleh karena itu, dalam kasus perampokan, pembunuhan, dan perkosaan di sebuah rumah di Cipondoh itu, kesaksian tetangga tentang mereka yang dekat dan pernah atau masih menjadi pacar kedua pembantu yang tewas layak diselidik polisi.

Sebagai pemula, penjahat yang melakukan kejahatan di kawasan pinggiran umumnya lebih brutal dan ceroboh, seperti ditunjukkan pelaku dalam kasus di Cipondoh tadi.

Mengapa mereka merampok dengan membunuh dan memerkosa? Apakah sepadan antara tindakan mereka dan ganjaran yang bakal mereka terima?

Namun, mereka akan mengalami pembelajaran kejahatan sehingga tidak lagi bersikap ceroboh dan emosional. Mereka akan belajar dari kelompok kerja sama dan kelompok pesaing sebelum beraksi di Jakarta.

Polmas

Untuk menghambat berdiasporanya kelompok penjahat di kawasan penyangga, pemerintah setempat, polisi, dan warga harus aktif membangun kohesi sosial lingkungan, membangun polisi masyarakat (polmas), disertai upaya pembangunan infrastruktur pengamanan lingkungan.

Menurut kriminolog Universitas Indonesia, Kisnu Widagso, polmas di kawasan penyangga Jakarta masih sangat lemah. Mereka jarang diberi pendampingan oleh polisi dalam kegiatan ini.

”Saya kira Kapolda Metro bisa menjadikan kawasan Tangerang dan Jakarta Barat sebagai kawasan proyek percontohan polmas,” kata Kisnu dalam diskusi di Cisanggiri itu, Minggu (17/4)

Pembunuhnya Sudah Tertangkap: Ternyata Teman Selingkuh Sang Pembantu Yang Telah Bersuami Baca Beritanya Disini

Antung Gatot Budianto Sudah Beranak Istri Menyekap Gadis 14 Tahun Unutk Dijadikan Pelampiasan Seksual

Kepolisian Sektor Singosari berhasil menangkap Antung Gatot Budianto , 34. Bapak satu anak yang tinggal di Desa Gunung Rejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Senin (11/4) disergap Polisi saat bersembunyi di rumah kakak kandungnya di daerah Singosari.

Antung ditangkap atas tuduhan membawa kabur dan menggagahi Citra (bukan nama sebenarnya).

“Pelaku kami tangkap saat bersembunyi di rumah saudaranya. Saat ini, masih dalam pemeriksaan kami,” ungkap Kepala Kepolisian Sektor Singosari, Kompol Hariyono, Senin (11/4) siang pada wartawan.

Menurut keterangan, Antung ternyata sudah beristri dan punya satu orang anak. Ia memperdaya Citra yang masih berusia 14 tahun, untuk dijadikan kekasih. Perkenalan awal bermula saat Antung, mengirimkan pesan pendek lewat HP.

Dari situlah, Antung akhirnya menjadikan Citra sebagai pacar. Nah, tergiur mendapatkan kemolekan tubuh Citra, seminggu lalu Antung pun merencanakan niat jahatnya untuk menggauli Citra. Hasilnya, setelah janjian ketemu di Jalan Raya dekat rumahnya, Antung akhirnya membawa Citra ke rumah kakak kandungnya.

“Korban tidak dipulangkan pelaku selama empat hari. Atas laporan keluarga korban, pelaku akhirnya kami amankan,” paparnya.

Ditambahkan Hariyono, korban disekap dalam rumah saudara pelaku sejak tanggal 6 hingga 10 April 2011 lalu. Selama dalam penguasaan pelaku, korban dipaksa melayani hasrat seksualnya hingga empat kali. Aksi ini terbongkar setelah korban, pulang ke rumah.

Orang tua korban yang tak terima anak gadisnya dijadikan budak nafsu pelaku, akhirnya melaporkan kejadian asusila tersebut ke Polsek Singosari. Guna menjalani pemeriksaan lanjutan, Antung terpaksa dilimpahkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang.

“Pelaku sudah kami limpahkan ke UPPA. Pasalnya, korban masih berusia belia,” pungkas Hariyono.

10 Bulan Menikah Siri Seorang Istri Digorok Suami Yang Pengangguran

Pembunuh wanita beranak tiga di Hotel Pangestu, di Jalan Raya Klari, Karawang yang mayatnya ditemukan tanpa busana, bersimbah darah lehernya digorok dan mukanya remuk dihajar benda tumnpul, Kamis (7/4), terkuak. Lelaki yang selama ini dikenal sebagai suaminya mengaku sebagai pelakunya.

Tersangka H. Ruhya alias H. Ujang, 43, kelahiran Cirejag Desa Cibalongsari Kecamatan Klari, Karawang tersebut, baru 10 bulan menikah siri dengan korban. Dia dikenal sebagai lelaki penganguran yang sehari-harinya membantu Mintarsih binti Enjud, 35, yang dibunuhnya secara sadis di kamar No D 41 Hotel Pangestu, di Desa Duren Kec. Klari.

Kapolsek Klari, Karawang, AKP. Wahidin, H, kepada Pos Kota, Senin pagi mengungkapkan, pelaku H. Ruhya, setelah tiga hari diperiksa anggota Satreskrim Polres Karawang, akhirnya mengakui perbuatannya itu pada Minggu (10/4) siang.

“Dia mengaku melakukan pembunuhan seorang diri,” ujar Akp. Wahidin.

Latar belakang terjadinya kasus pembunuhan ini, masih terus diusut anggota Satreskrim Polres Karawang, tetapi pengakuan sementara pelaku ngaku kesal, karena korban sering nagih uang pinjamannya kepada pelaku.

“Saya punya hutang, untuk keperluan pribadi saya, tapi dia terus nagih hutang, saya jadi kesal,” aku pelaku ketika diperiksa di Mapolres Karawang

Dalam pengakuannya itu, pelaku setelah membunuh kemudian kabur membawa sepeda motor Vario abu-abu milik korban serta uang tunai Rp 51 juta, yang beberapa jam sebelum masuk ke hotel, korban diantar pelaku mencairkan uang di BRI Unit Blendung, Klari.

Ternyata, korban melarikan diri ke Cikarang, Bekasi, dengan maksud menghilangkan barang bukti sepeda motor korban. Motor Vario di STNK nya atas nama korban tersebut, dititipkan di tempat parkir motor dekat Mall SGC, Cikarang.

“Setelah menitipkan motor berikut kunci kontaknya itu kepada penjaga parkir, malam itu sekitar pukul 06:00 pelaku pulang ke rumah istrinya di Kampung Kaliaren RT 08 RW 02 Desa Pasirmulya Kec. Malajaya, Karawang,” kata petugas Satreskrim Polres Karawang.

Untuk menghilangkan kecurigaan keluarga korban, sampai di rumahnya, selanjutnya pelaku mengaku masuk angin minta dikerok punggung dan dadanya dan di lehernya yang terdapat bercak bekas cakaran kuku korban yang diduga sempat melawan pelaku sewaktu akan dibunuh.

Hingga Senin siang, pelaku yang saat ini ditahan di balik jeruji Polres Karawang, kepada petugas yang memeriksanya belum mengakui dikemanakan uang korban Rp 51 juta sesuai dengan bukti pengambilan dari BRI Unit Desa Blendung tersebut.

“ Menurut pengakuannya uang tersebut disimpan di bawah jok motor yang dititipkannya di temnpat parkir di Cikarang. Pengakuan itu tak masuk akal, mana ada uang sebesar itu diksimpan dibawah jok, bahkan kunci kontaknya pun dititipkan di tukang parkir itu,” ujar petugas yang menangani kasus tersebut.

Saman Penumpang Yang Tewas Dibunuh Calo Di Cengkareng Karena Ingin Mempertahanankan Kebebasan Memilih Naik Omprengan Yang Ia Suka

Masih jelas terekam dalam benak Mochtar (50), kejadian yang dialaminya Sabtu lalu sekitar pukul 14.00. Ketika itu dia bersama sejumlah kawan pengojek tengah mencari penumpang di Jalan Daan Mogot, tepatnya di bawah JORR, Rawa Buntu, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Mendadak seorang laki-laki berlari dari seberang jalan ke arahnya.

Laki-laki yang masih muda itu berusaha mencari pertolongan di balik deretan para pengojek. Sementara seorang pria lain yang berperawakan kecil memburu laki-laki itu.

Sejumlah pengojek yang tengah mangkal memilih menyingkir daripada membantu laki-laki muda yang tengah dikejar itu. Namun, Mochtar memilih bersikap lain. ”Sudahlah, jangan nyawa orang dihilangkan,” kata Mochtar yang berusaha melerai. Bukannya mundur, laki-laki yang mengejar itu justru tambah beringas. Dia malah mengacungkan pisau trisula yang berukuran sekitar 20 sentimeter ke arah korban.

Sementara korban sudah jatuh terlentang di tepi jembatan dan berteriak-teriak mohon ampun. Pelaku bukannya memberi ampun, melainkan justru menghujamkan senjata tajam itu dua kali ke arah perut korban.

”Darah korban banyak sekali. Dia langsung meninggal seketika,” kata Lemu, juga pengojek di kawasan itu.

Sesaat setelah melihat korban bersimbah darah, pelaku segera kabur. Di sisi jalan yang lain, seorang kawan korban bernama Sarpin lolos dari kejaran maut si pelaku. Korban yang meninggal lantas dibawa ke kamar jenazah RS Cipto Mangunkusumo. Di rumah sakit, korban diketahui bernama Saman (32) dan tercatat sebagai warga Dusun Bakti Jaya RT 11 RW 05, Batu Jaya, Karawang.

Gara-gara Rp 1.000

Mochtar berusaha mengejar pelaku yang kabur ke seberang jalan, tempat asal-muasal kejadian ini. Tikungan itu terkenal sebagai tempat ngetem omprengan. ”Tadinya saya mau kejar, tetapi karena dia kabur ke arah seberang tempat omprengan, saya enggak berani. Di sana kan kumpulan mereka. Saya takut diapa-apakan. Sementara saya enggak punya senjata,” kata Mochtar saat dijumpai di tempat mangkal, Minggu (10/4).

Dia mengaku belum mengetahui persis persoalan yang berujung pada kematian laki-laki yang tidak dikenalnya itu. Namun, dari cerita di lokasi, diperkirakan korban menjadi korban tarik-menarik antarcalo omprengan.

”Katanya, korban sudah naik ke satu mobil. Lalu, pelaku yang juga calo itu menyuruhnya turun dan pindah ke mobil lain yang dicaloinya. Kasihan korban. Dia meninggal gara-gara Rp 1.000,” ucap Mochtar.

Calo di kawasan itu bertugas menggiring penumpang ke mobil dan diupah Rp 1.000 oleh pengemudi omprengan.

Kepala Polsek Cengkareng Komisaris Ruslan dan Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Ferdi Sambo membenarkan kejadian itu. ”Korban disuruh naik ke mobil omprengan oleh calo. Tetapi, dia tidak mau dan sempat terjadi cekcok mulut. Korban lantas dikejar dan dibunuh,” tutur Ruslan saat dihubungi lewat telepon.

Perkara ini kini ditangani Polres Jakarta Barat. Ferdi menambahkan, polisi sudah membekuk satu tersangka penusukan. Namun, identitas pelaku baru akan disampaikan pada Senin ini.