Monthly Archives: Juli 2011

Kronologis dan Motif Pembunuhan Kakek Nenek Dan Cucu Warga Jalan Raya Banjaran RT 03/RW 03 Bandung Yang Didalangi Teman Korban dan Oknum TNI

Apa sebenanya motif pelaku pembantai keluarga Apo Sumarna, warga Jalan Raya Banjaran RT 03/RW 03, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Sabtu 30 Juli 2011 dini hari?

Apalagi, kata polisi, sang pelaku diduga adalah Asep Dudung Budiman, 31 tahun, teman dekat yang baru beberapa pekan dikenal Apo. “Motifnya, tersangka sakit hati dan dendam terhadap korban yang ingkar janji memberi uang,” kata Kepala Kepolisian Resor Bandung Ajun Komisaris Besar Sony Sonjaya di kantornya, Sabtu 30 Juli 2011.

Kepada polisi, kata Sony, Asep mengaku jika pembunuhan Apo serta istri dan cucunya tersebut direncanakan bersama temannya, Jajang, seorang anggota TNI. Janjang sendiri diamankan Sabtu siang tadi di rumahnya di Cilame, Kabupaten Bandung Barat.

“Tersangka seorang diri mengeksekusi para korban pada Selasa 26 Juli 2011 dini hari, sekitar jam 01.00 WIB” kata Sony. ” Ia lalu kabur sekitar pukul 05.00 dengan membawa mobil merek Karimun milik korban berikut surat-suratnya,”

Rencana pembunuhan keluarga korban dilakukan bersama Jajang, kawan yang dikenalnya saat berziarah ke sebuah pemakaman di kawasan Cicalengka, Kabupaten Bandung. Keduanya, saling mencurahkan isi hati.

Jajang juga saling mengaku bahwa mereka sama-sama sedang kelimpungan lantaran terlilit hutang. Saat sedang mengobrol itulah, terbit dendam Asep yang merasa diingkari janji duit oleh korban. Dia juga teringat jika dirinya baru mengantar korban membeli sebuah Suzuki Karimun D-1273-LX.

“Saat itu juga muncul niat tersangka untuk merampok mobil baru milik korban dan disampaikan kepada Jajang,”tuturnya.

Selanjutnya, keduanya pun merencanakan perampokan korban. “Disepakati, tersangka ADB akan menjadi eksekutor perampokan dengan cara-cara yang diajarkan Jj pada hari Senin,”kata Sony.

Lalu, pada Senin malam 25 Juli 2011 sekitar pukul 21.00, Asep mengontak Apo yang sudah cukup lama dikenalnya itu. Namun karena Apo dan keluarganya sudah terlelap, telefon tak ada yang mengangkat.

“Malam itu juga tersangka lantas mendatangi langsung rumah dan menggedor pintu minta dibukakan.”

Istri Apo, Lilis, lalu membukakan pintu garasi dan mempersilakan tamu dekat suaminya yang sudah beberapa kali menumpang menginap di rumahnya. Tak lama, Lilis kembali tidur di kamarnya bersama cucu mereka yang masih berumur 4 tahun, Keisya (sebelumnya ditulis Treisya).

Sementara Apo dan Asep mengobrol di ruang keluarga. Obrolan berlangsung hingga Apo terlelap di atas sofa. Setelah korban tertidur, Asep lalu bangkit dan mulai melaksanakan niatnya.

“Dia lalu mencari-cari alat membunuh hingga menemukan golok dan martil di gudang rumah korban.”

Sejenak kemudian, Asep mendekati Apo yang tertidur nyenyak sekitar pukul 01.00 WIB. “Korban lalu dibacok lehernya dengan golok dan digorok sampai meninggal di tempat.”

Selanjutnya, Asep melangkah ke kamar tempat Lilis dan Keisya tidur. Di dalam kamar yang lampunya dipadamkan itu, Asep lalu juga membacok dan menggorok leher Lilis. “Cucu mereka yang terbangun dan sempat menjerit juga akhirnya dihabisi dengan cara yang sama,”kata Sony.

Berikutnya, tersangka mencari surat-surat dan kunci mobil korban hingga akhirnya ditemukan di dalam mobil korban. Kemudian, dia membersihkan darah, mandi, dan mengontak Jajang.

“Selasa sekitar jam 05.00 pagi, Jj datang menjemput. Keduanya lalu meninggalkan rumah korban dengan membawa mobil milik korban,”kata Sony.

Keduanya bertolak menuju Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Mereka lalu berhenti di kawasan wisata Situ Ciburuy, Padalarang. “Di Situ Ciburuy itu ADB lalu membuang golok yang digunakan membunuh para korban.”

Dari Situ Ciburuy, keduanya lalu menuju ke rumah Jajang di Cilame. “ADB lalu istirahat dan Jj berangkat ke kantornya.”

Adapun mobil Karimun warna hijau muda milik korban berhasil mereka jual hari selasa itu juga di Kota Bandung dengan bantuan seorang perantara berinisial AM. Mobil milik korban terjual dengan harga sekitar Rp 77 juta. “Uang hasil penjualannya lalu dibagi diantara mereka,”tandas Sony.

Sony juga menyebutkan bahwa golok yang ditemukan anjing pelacak pada Jum’at malam kemarin di sebuah toko material di dekat rumah korban tak ada kaitan dengan kasus ini. “Setelah diteliti, ternyata bercak yang ada di golok itu bukan darah,”kata Sony.

Ajun Komisaris Polisi (AKP) Wawan, menjerit histeris ketika dantang ke Bandung setelah mendapat kabar ayah dan ibu kandungnya tewas dibantai perampok, di rumahnya di Jalan Raya Banjaran, kabupaten Bandung. Anggota polisi yang berpangkat AKP dan menduduki jabatan sebagai Kapolsek di jajaran Polda Kalimantan itu semakin terpukul saat anak terkecilnya turut tewas dibantai garong bersama kakek dan neneknya.

“Pak Wawan Nampak meneteskan air mata ketika datang ke Bandung. Dia langsung ke makam ayah dan ibunya serta anaknya tadi. Setelah itu Pak Wawan langsung ke Polres Bandung,” kata sejumlah anggota di Polsek Banjaran, Sabtu malam.
AKP Wawan, datang dari Kalimantan Sabtu pagi, setelah diberti kabar oleh anggota keluarganya yang ada di Banndung. “ Kami turut sedih melihat kondisi dia ketrika tiba dari Kalimantan,” komentarnya lagi.

Diberitakan, Apo,66, dan istrinya Lilis,62, tewas digorok bersama cucunya Eliysa,4, oleh rampok Asep yang berhasil ditangkap di daerah Cengkareng, Jakarta Barat. Tersangka merampok korban yang baru kenal saat sedang nyekar di daerah TPU Cibiuk, Kabupaten Garut karena ingin memiliki mobil Karimun untuk dijual demi bayar utang. Diluar dugaan, tersangka melakukan aksi kejahatan ini diduga dibantu oknum anggota TNI AD Ja yang bertugas di Koramil Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Anggota ini kini sudah ditangkap dan diperiksa di POM Cimahi.

Didin,50, menjelaskan, korban Elisa, sebanarnya baru berada di di Bandung tinggal bersama kakek dan neneknya lebih kurang sebulan. Bocah ini dijemput kakeknya dari Kalimantan lantaran sakit-sakitan kemudian atas persetujuan bapaknya AKP Wawan akhirnya diboyong ke Bandung. “Biasanya kakeknya yang suka menjenguk bocah itu. Tapi ketika menjemput akhir bukan kemarin bocah itu pun dibawa ke Bandung untuk diobati. Bocah itu sedang sakit.”

Siapa yang tahu atas peristiwa itu. Tanggal 20 Juli tepatnya dini hari sekira pukul 02.00 tersangka Asep yang baru dikenal keluarga korban datang ke rumah tersebut. Asep, mendatangi rumah dengan penuh dendam. Dia selain ingin menguasai harta bendanya, dan nekat menghabisi nyawa ketiga korban. Cukup menggunakan sebilah golok, tersangka pun mengghorok leher ketiga korban kemudian kabur membawa mobil karimun. Dalam askinya tersangka cukup sadis.

Setelah membantai suami isteri, juga bocah kecil turut dogorok hingga tewas bersama kakek dan neneknya. “Dibawa ke Bandung untuk berobat, bocah itu malah tewas bersama nenek dan kakeknya. Kasihan,” komentar warga setempat.

Demi Menghindari Tilang Polisi, 3 Orang Ibu Muda Ini Rela Ngeseks Rame Rame Bersama Polisi Di TKP

London-Ajun Brigadir Troy Van-Eda sungguh luar biasa. Anggota Kepolisian Manchester Raya berumur 43 tahun ini meniduri tiga perempuan selama kurang dari 24 jam saat sedang bertugas. Itu belum seberapa. Joanne Pinder, 34 tahun, mengaku bersebadan dengan Van-Eda di sebuah pos polisi di Rochdale.

“Setelah dia menyetopku karena tak pakai sabuk pengaman,” tutur Pinder. Dua perempuan lainnya juga mengadukan hal yang sama kepada Divisi Profesi dan Pengamanan Kepolisian Manchester Raya. Tapi hanya Pinder yang bersedia mengungkap jati dirinya. Ketiga perempuan itu mengaku tak cuma bercinta di kantor polisi, tapi juga di rumah mereka.

Kendati begitu, ketiganya mengaku melakukan hubungan seks itu atas dasar suka sama suka. “Kami tak menemukan adanya tindak kriminal,” demikian pernyataan Divisi Propam. Tak disebutkan alasan mengapa ketiganya mengadukan duda beranak tiga itu. Sejauh ini Van-Eda diberi sanksi disiplin, berupa larangan berhubungan dengan warga selama 12 bulan.

Kakek Nenek dan Cucu Warga Jalan Raya Banjaran Kabupaten Bandung Tewas Digorok Perampok

Perampokan disertai pembunuhan terjadi di Jalan raya Banjaran, Kabupaten Bandung, Jumat malam. Satu keluarga terdiri dari pasangan suami isteri dan cucunya tewas mengenaskan akibat digorok kawanan garong yang beraksi di rumah itu. Ratusan warga berkerumun ingin mengaksikan evakuasi mayat korban Apo,66, isterinya Lilis,64, serta mayat cucunya Teisha,4.

Ketiga korban ditemukan sudah tewas dan bersimbah darah dengan kondisi leher luka gorok. Polisi hingga kini masih melakukan penyelididikan dan identifikasi di lokasi kejadian. Setelah dilakukan pemeriksaan besar kemungkinan sekeluarga tewas dibantai rampok lantaran harta benda korban berupa kendaraan jenis karimun raib.

Undang,36, seorangh warga menjelaskan, terungkapnya ksus perampokan disertai pembunuhan terhadap tiga korban berawal salah seorang tetangga merasa curiga lantaran korban Apo suami Lilis, sudah dua hari tak kelihatan keluar rumah. Bahkan, aktifitas di rumah itu praktis tak ada. Saking penasaran, warga pun mencoba mengetuk-ngetuk pintu rumah tersebut namun tak ada jawaban. Warga setempat mulai curag, pasalnya dari dalam rumah itu tercium bau tak sedap. Saking penasaran, warga pun mencoba mendobrak pintu depan rumah korban. ” Pintu terbuka warga pun menjerit karena di dalam rumah tiga korban sudah tewas dan mulai membusuk,” katanya.

Dengan adanya peristiwa tersebut, warga pun bergegas melapor ke Polsek Bajjaran dan Polres Bandung. Sejumlah anggota yang tiba di lokasi Jumat petang sekira pukul 18.00 langsung melakukan pemeriksaan. ratusan warga mendadak tumplek di halaman rumah itu ingin melihat ketiga korban yang sudah tewas dan mulai membusuk. Dalam pemeriksaan, polisi menemukan kalau ketiga korban tewas lantaran dibantai pelaku menggunaklan gorok. ” Luka mengaga kelihat di ketiga leher korban.,”ucapnya.

Setelah empat jam melakukan olah TKP polisi mengevakuasi ketiga jenazah ke kamar mayat RSHS Bandung. ” Tubuh ketiga korban sudah mulai membusuk. warga yang melihat peristiwa itu hampir semua menutup hidung,”. Empat hari sebelum kejadian ini, Undang mengakui sempat melihat korban Apo yang tinggal Kampung Pengkolan RT 3 RW 3 Desa Banjaran Wetan Kecamatan Banjaran berdiri dihalaman. ” Tak menyangka tiga anghota keluarga tewas mengenaskan,”.

Kapolres Bandung AKBP Sony Sonjaya, menjelaskan berdasar hasil identifikasi ketiga korban dibantai pelaku lima hari lalu. pasalnya, selain ketiga korban sudah mulai membusuk, juga darah yang berceceran di dalam rumah itu sudah kering. Ketiga korban dibantai dengan cara lehernya dogorok. ” Kami menduga kuat ketiga korban dibantai kawanan garong.

Kendaraan korban jenis suzuki Karimun hilang,” kata kapolres. terkait kasus ini, Kapolres, menandaskan, ketiga korvban dibunuh perampok yang sudah kenal. ” tak ada kerusakan di rumah itu baik daun ;pintu maupun jendela. Ini membuktikan jika pelaku kenal dekat dengan korban.”

Pelakunya telah tertangkap: Baca disini kronologis dan motif pelaku yang adalah teman korban yang dibantu oknum TNI

Kepergok Selingkuh Saroso Bunuh Pasangan Selingkuhnya

Tersangka Saroso, 31, yang membunuh dua wanita pembantu rumah tangga mengaku sebelum membunuh berhubungan intim 2 kali.
Hal ini terungkap saat rekonstruksi di rumah majikan korban perumahan Modern Land jalan Taman Golf Raya Blok DG.2 no 1118 kelurahan Poris Plawad Indah, Kota Tangerang, Rabu (27/7).

Hubungan intim dilakukan Saroso dengan Sarni di lantai garasi mobil. Pada saat hubungan badan yang kedua, ternyata dipergoki oleh Maryati yang juga bekerja sebagai pembantu di rumah Holy majikan Sarni. Maryati sempat mengancam akan mengadukan ke suami Sarni yang ada di Lampung.

Atas ancaman Maryati itu, kata Saroso ia lalu panik sehingga memukul Maryati pakai tabung gas 12 Kg sebanyak dua kali hingga tewas. Pada saat tersangka Saroso menghabisi nyawa Maryati, Sarni menjerit ketakutan sambil berteriak minta tolong. Akhirnya Sarni juga dipukul tabung gas oleh Saroso dan ditusuk obeng lehernya hingga tewas. Kedua wanita pembantu asal Lampung ini kemudian diikat kaki dan tangannya pakai lakban oleh tersangka Saroso dibantu oleh tersangka Agung (buron).

Hal ini dilakukan Saroso untuk membuat kesan terjadi perampokan. Usai mengikat korban, Saroso dan Agung sempat mengambil 2 HP milik Sarni dan note book milik majikan korban Holy pengusaha di lantai dua. Kedua tersangka lalu menutup pintu garasi dan pulang ke kontrakannya di Kampung Transit, Kel. Pajang, Kec. Benda, Kota Tangerang.
Sejak terjadi pembunuhan 16 April 2011 Saroso menghilang dan tertangkap petugas Polres Metro Tangerang 11 Juli di kontrakannya . Sedangkan Agung belum tertangkap alias masih buron.

Sementara itu menurut Kapolsekta Cipondoh Kompol Arlon Sitinjak,SH menjelaskan rekonstruksi berjalan lancar. Tersangka Agung masih dikejar petugas. “Tersangka Saroso kita jerat pasal 338 KUHP dengan ancaman 15 tahun,”tegas kapolsek

Pelajar SMP Tewas Dirumah Dengan Leher Nyaris Putus Di Kampung Pondok Kelor Sepatan Timur Tangerang Karena Dibunuh Kakek 61 Tahun Tetangganya

Seorang remaja ditemukan tewas di rumahnya Kampung Pondok Kelor RT 02/01, Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang dengan luka gorok di leher. Diduga Subangun Yoris Setiawan, 16 ,korban perampokan karena emas 30 gram dan uang Rp 2 juta milik orangtuanya raib.

Dikutip dari Humas Polda Metro Jaya, jasad pelajar SMA Kelas 3 itu ditemukan kedua orang tuanya, Kristian dan Yeni, di ruang tamu rumah dengan luka gorokan di leher nyaris putus, Jumat (22/7) dini hari sekira pukul 03:00 WIB.
Saat itu kedua orang tua korban baru kembali dari acara keluarga di Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang. Keduanya terkejut karena pintu rumah tidak terkunci dan lampu dalam keadaan mati.

Dalam keadaan gelap, Kristian berusaha ke arah saklar lampu. Namun kaki Kristian merasakan basah terkena air. Begitu lampu dinyalakan, alangkah kagetnya, ternyata lantai rumah basah dengan darah dan didapati putranya tewas bersimbah darah.

Peristiwa tersebut selanjutnya dilaporkan ke Polsek Metro Sepatan yang langsung melakukan olah TKP. Menurut keterangan saksi, Aang, paman korban yang tinggal tidak jauh dari rumah korban, ia tidak tahu kejadian sebelumnya, karena saat itu Yoris ditinggal sendirian di rumah ketika kedua orang tuanya berangkat kondangan ke Curug sejak pukul 16:00 WIB, Kamis kemarin. Dirinya baru tahu kejadiannya setelah kedua orang tua korban berteriak minta tolong mendapati putranya telah tewas.

Kapolresta Tangerang Kombes Pol Wahyu Widada menduga peristiwa tersebut adalah perampokan yang disertai pembunuhan. Sebab menurut keterangan orang tua korban terdapat barang yang hilang berupa emas 30 gram, uang Rp 2 juta diduga dibawa perampok.

“Kita masih menyelidiki berapa jumlah pelaku dan modusnya. Jumlah kerugian juga belum diketahui. Kita harus memeriksa beberapa saksi,” ujar Kapolres. Tersangka perampokan disertai pembunuhan pelajar SMK di Kampung Pondok Kelor,Sepatan Timur Kabupaten Tangerang ternyata tetangga korban, kakek berusia 61 tahun bernama Rahmat.

Menurut Kapolsek Sepatan AKP Sunaryo, pelaku ditangkap di rumahnya tak jauh dari rumah korban RT 2/4 Sepatan Timur,Selasa (26/7). Menurut pengakuan tersangka, ia semula bernat mencuri tapi kepergok korban Subangun pelajar SMK itu sehingga pelajar kelas tiga itu digorok lehernya nyaris putus.

Tersangka yang bekas jagal kambing dan jualan sate ini kepada petugas mengaku sakit hati kepada orangtua korban,karena saat bekerja hanya diberi gaji saja. Di rumah korban kakek ini bekerja pemotong kayu untuk membikin valet (kotak kayu). Karena sakit hati itulah, kakek yang sudah memiliki beberapa cucu ini berniat mencuri di rumah Subangun. Pencurian itu dilakukan pada 22 Juli dengan mencongkel jendela belakang rumah. Saat sudah di rumah,aksinya dipergoki Subangun.

Panik, akhirnya Ramha membacok Subangun yang di rumah sendirian karena ditinggal orangtuanya kondangan di Subang . Usai membunuh, tersangka mencuri perhiasan emas 30 gram uang Rp 3 juta dan HP dua unit. Tersangka kini masih diperiksa di Polsek Sepatan. “Tersangka kami kenakan dua pasal yakni 365 KUHP pencurian dengan kekeasan dan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman 15 tahun penjara,”jelas Sunaryo

Siswi SMP Yang Punya Banyak Akun Facebook Dengan Nama Berbeda Kabur Dengan Pengamen Yang Dikenal melalui Facebook

Lelaki 38 tahun itu khawatir bukan main. Sudah tiga hari, anak perempuannya yang masih duduk di kelas 1 SMP 149 Kampung Melayu tak pulang ke rumah. Ia curiga dara bau kencur itu dibawa lari pengamen yang juga kekasih anaknya itu.
“Saya cari dia kemana-mana, saya juga cari lewat facebook-nya dan telepon terakhir yang keluar masih ke HP anak saya,” kata Revaldi, lelaki itu, di Polsek Jatinegara, Senin (25/7) siang. Hasil penelusurannya, ia mencium jejak anak perempuannya yang baru 15 tahun itu, Dewi Putranti alias Puput, terakhir berhubungan dengan Ardi, pacar Dewi. “Saya sama mamanya Puput mencari dan semua pencarian itu bermuara ke Ardi.”

Begitu khawatir Revaldi akan anaknya, penyakitnya kambuh. Ningsih, 34, ibu Puput, mengatakan sejak anaknya menghilang suaminya terus cemas akan nasib anaknya. “Suami saya punya penyakit limpa dan diabetes,” ungkapnya. “Penyakit itu kian menjadi karena dia terus memikirkan Puput. Semakin hari perutnya makin bengkak.”

Puput menghilang sejak kelur rumah sepulang sekolah pada Jumat (22/7) siang. Saat keluar rumah, ia tak pamit karena orangtua dan adik satu-satunya tengah tidur siang. Ditunggu sampai malam, dara belia itu tak juga kembali ke rumahnya di di Jl. Kebun Jeruk Barat, Cipinang Besar Utara, Jaktim.

FACEBOOK
Panik, keluarga itu mulai mencari-cari Puput. Orangtua itu pantas cemas. Soalnya setelah mereka memeriksa tas dan isi kamar anak sulungnya itu, Puput keluar rumah hanya mengenakan kemeja kotak-kotak merah lengan panjang dengan kaos putih juga celana panjang jins hitam. Diketahui anak itu tak membawa pakaian lain serta uang lebih yang memungkinkannya untuk hidup beberapa hari.

Kenyataan itu membuat orangtua itu kian khawatir. Pencarian juga dilakukan dengan memeriksa akun facebook Puput. Diakui Ningsih, sehari-hari di rumah anaknya itu selalu membuka facebook dan berkomunikasi dengan teman-temannya melalui situs pertemanan itu. Melalui facebook pula Puput berkenalan dengan Ardi, pengamen yang belakangan dengan dengan gadis itu.
Di situs pertemanan itu, Puput memiliki beberapa akun dengan nama dan foto berbeda. Sederet pesan yang terpampang di layar akun facebook-nya membuatnya yakin pemuda itu jatuh cinta pada putrinya. Pesan bernada sama juga terlihat pada pesan dalam HP Puput yang tertinggal di rumah.

“Semenjak kenal sama Ardi, setiap pulang sekolah anak saya bisa sampai jam 3 sore. Alasannya, selalu habis main di warnet. Tapi di rumah pun HP nggak pernah lepas dari tangannya,” ujar wanita pengusaha percetakan ini. “Kami pikir Puput kena hasut karena dia itu lugu.”

Mereka juga bertaya pada teman-teman Puput dan Ardi. Satu teman Ardi, Yuda, mengaku melihat pasangan itu pada Sabtu (23/7). Bahkan penngamen di kawasan Penas, Jaktim, itu juga meminjam Vespa miliknya dan belum dikembalikan.
Kenyataan itu makin membuat Revaldi dan Ningsih yakin anak perempannya yang dikenalnya masih polos itu dibawa kabur Ardi. “Kami berharap Puput bisa segera pulang. Kami sangat khawatir, apalagi papanya juga sakit,” kata Ningsih.

Sepasang Kekasih Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Agama Terpadu Syahid Pamijahan Tewas Dibunuh Di Semak Semak Dalam Keadaan Telanjang

Pembunuh sepasang kekasih di semak-semak di Kampung Cirangkong RT 03/02 Desa Sukamaju Kecamatan Cibungbulang, hingga kini masih misterius. Polisi kesulitan mengidentifikasi pembunuh lantaran terbatasnya keterangan dari sejumlah saksi.
“Belum ada titik terang. Keterangan dari saksi sangat minim, kami masih kerja ekstra mengorek dan menggali lagi keterangan dari teman, keluarga dan siapa saja yang mengenal kedua korban. Mohon doanya, kasus ini cepat terungkap,” ujar Kapolsek Cibungbulang AKP Sartono, Minggu (24/7).

Namun, dari olah TKP dan keterangan lima saksi yang sudah dimintai keterangan, Kapolsek menduga kuat motif pembunuhan ini berlatarbelakang dendam. Sebab motor Yamaha Mio B 6221 CKO milik Apriyadi,20, tidak hilang. Begitupula perhiasan cincin milik kekasihnya, Siti Anisyah juga tak lenyap. “Nah, dendamnya itu apakah cemburu, utang piutang atau lainnya, masih kita kembangkan,” tambahnya.

Dia juga mengatakan, hingga kini pihaknya masih menungu hasil visum, memastikan apakah almarhumah diperkosa sebelum dibunuh. Sebab saat ditemukan tak bernyawa dalam poisi tertelungkup Situ dalam keadaan bugil, sedangkan kekasihnya hanya mengenakan kaos oblong tanpa mengenakan celana. “Luka yang dialamia keduanya akibat hantaman benda tumpul, bukan senjata tajam,” kata Kapolsek.

Diberitakan sebelumnya, sepasang kekasih Apriyadi, dibunuh bersama kekasihnya Siti Anisyah di semak-semak di Kampung Cirangkong RT 03/02 Desa Sukamaju. Mayat sejoli ini kali pertama ditemukan Muklis, warga setempat dengan kondisi keduanya mengalami luka memar di bagian kepala dan wajah.

Kematian Apriyadi alias Apri yang tercatat sebagai mahasiwa semester III di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Terpadu (STAIT) Syahid Pamijahan, membuat teman sekaligus dosennya kaget. Satu di antaranya Bukhori yang menduga kematiannya Apri berlatarakan belakang asmara.

“Motor dan perhiasan kekasihnya tidak hilang. Sedangkan pelaku sengaja melepaskan seluruh pakain almarhumah seolah-olah diperkosa kekasihnya yang hanya mengenakan kaos oblong,” duganya. Semasa hidup Apri, dikenal taat beragama dan aktivis di kampusnya. “Dia tercatat mahasiswa jurusan Ekonomi Perbankan Syraiha di STAIT dan dia jago ngaji. Setiap kegiatan di kampus dia yang menjadi Qori, ( pembaca Al Quran-red),” kata Bukhori.

Dugaan motif pembubunhan ini juga dilontrakan Haya, teman almarhumah Siti, Haya yang mengakui jika Siti dan Apri punya hubungan asmara. “Jalinan asmara keduanya ini membuat beberapa pria tak suka dan iri. Dugaanya saya pasti keduanya dibunuh oleh pria yang citanya ditolak Siti,” ujarnya.

Kasus pembunuhan kembali terjadi diwilayah hukum Polres Bogor. Pembunuhan pelajar MTS belum terungkap , kini kembali warga dihebohkan dengan temuan mayat sepasang kekasih. Temuan ini terjadi di Kampung Cirangkong RT 03/02 Desa Sukamaju Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (23/7) sekitar pukul 05.30. Korban Siti Anisyah alias Icon 20, dan Apriadi alias Jepri 20.

Kedua saja itu ditemukan pertama kali oleh Mukhlis 38, di semak-semak dalam kondisi tanpa busana dengan sejumlah luka bacok di sekujur tubuhnya. Di lokasi kejadian, Polisi menemukan motor Yamaha Mio merah milik korban, batu dan kayu yang penuh bercak darah. Jasad pasangan muda ini dibawa ke RS Polri Kramatjati Jakarta Timur, guna diotopsi. Polisi kini terus mengumpulkan keterangan dan barang bukti.

Mayat kedua korban tergeletak di semak-semak belakang pabrik batako Trust. Mukhlis yang saat itu melintas di Jalan Raya KH Abdul Hamid, kaget melihat tubuh kedua pasangan ini bersimbah darah tanpa busana.
“Dari jalan menuju lokasi penemuan, banyak ceceran darah,” kata Tian 19, satu warga setempat yang masih kerabat Mukhlis.

Tian mengatakan, tubuh wanita tanpa busana dengan kondisi luka-luka di sekujur tubuhnya. Tidak jauh dari jasad wanita ini, terdapat tubuh pria yang juga sudah tewas penuh luka. Oleh warga, temuan itu lalu diteruskan ke warga lainnya dan polisi.

Warga mengenal korban wanita yang diakui bernama Siti Anisyah alias Icon warga Kampung Cemplang RT 03/01, Desa Sukamaju ,Gang Aliman I, Kecamatan, Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Sedangkan korban pria bernama Jepri, warga Kampung Bantar Karet, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Menurut warga, Siti lulusan SMK Pandu, sedangkan cowoknya mahasiswa di Sekolah Tinggi Sahid di Cibungbulang.
Ukar 43, orangtua Siti, mengatakan Jumat malam sekitar pukul 19.00, meminta ijin keluar rumah untuk makan bakso bersama pacarnya. “Dari pamit itu, dia nggak pulang lagi hingga tadi pagi ditemukan tewas bersama pacarnya,” kata Kasat Reskrim Polres Bogor, AKP Imron mengutip pernyataan Ukar kepada tim penyidik.

Madam 20, temen dekat Siti menduga, ada orang yang tidak suka dengan hubungan temannya dengan Jepri. “Dugaan saya, ada yang cemburu Siti pacaran sama Jepri,” kata Madam kepada penyidik.

Ditambahkan, di kampungnya, Siti dikenal sebagai gadis yang berparas cantik. Maknya banyak pemuda yang ingin berpacaran dengannya.“Dia bilang kalau tamat dari SMK Pandu, dia mau mengikuti pengajian di Pesantrean Sabirul Huda.Dia anak ke 3 dari 6 bersaudara. Dia juga aktif di grup marawis,” katanya.

Kapolsek Cibungbulang, Kompol Sartono mengatakan, hingga kini pihaknya masih melakukan penyelidikan. Tiga orang saksi sudah kita mintai keterangan, mereka adalah warga yang pertama kali menemukan dan keluarga korban.Sementara dari lokasi kejadian, petugas menemukan motor Yamaha Mio merah milik korban, pakaian korban, batu dan kayu yang diduga digunakan pelaku untuk menghabisi kedua korban. Saat ditanya apakah kasus pembunuhan itu dilatarbelakangi dendam, Kopolsek belum bisa memastikan hal itu.

“Kita bekerja secara proporsional, sehingga belum bisa dipastikan motif dari aksi pembunuhan itu. Hubungan kedua korban juga sedang kami dalami. Kita tunggu apakah korban wanita diperkosa terlebih dahulu oleh pelaku, sebelum dihabisi. Hasil medis akan membuktikan semua itu,” tandas Kompol Sartono.