Monthly Archives: Agustus 2011

Istri Cantik Ditinggal Sendirian Saat Mudik, Istri Diperkosa Tetangga yang Sudah Sering Intip Istri Saat mandi

Dua penjahat muda melakukan perbuatan biadab. Mereka tidak hanya merampok harta, juga memperkosa wanita pemilik rumah. Peristiwa yang tak mungkin dilupakan korban seumur hidup ini terjadi di kawasan Kunciran, Kota Tengerang, Sabtu (27/8) pagi. Kedua bandit bejad ini berhasil ditangkap.

Sebelum memperkosa Ny. Ri, 42, tersangka Sadam Abduh, 20, dan Rio Sabran Prabowo, 19, menggasak cincin kawin yang dikenakan korban dan HP BlackBerry. Tersangka Sadam menyetubuhi Ri di kamar tamu. Sedangkan Rio mengancam anak Ri yang berusia 12 tahun dan keponakannya berumur 10 tahun agar Ri mau melayani nafsu bejad Sadam dengan sepenuh hati.

Perampokan disertai perkosaan yang membuat heboh warga di kawasan Kunciran ini terjadi sekitar pukul 08.00. Pagi itu, Sadam dan Rio ngobrol-ngobrol di depan rumah Ri. Mereka memang berniat merampok rumah Ri, yang sedang ditinggal suaminya mudik Lebaran ke Palembang, Sumatera Selatan.

Setelah dirasakan aman, mereka masuk ke rumah korban dengan cara melompat pagar. Ternyata pintu utama tidak dikunci hingga keduanya bisa dengan leluasa masuk ke dalam rumah wanita berwajah cantik ini.

Saat itu, Ri hendak kekamar mandi dari kamar tidur karena ingin mandi. Tubuh korban saat itu hanya dibalut handuk kecil. Nyonya Ri kaget mendapati dua pria tak dikenal sudah berada di depannya. Belum sempat mengusir, kedua pemuda mengancam pakai golok dan samurai.

“Cepat lepas cincin. Kalau nggak gua bunuh,” ancam pelaku, seperti ditirukan Ny. Ri kepada petugas. Takut dilukai, Ri melepas cincin kawin yang dikenakannya. Usai mengambil cincin, pelaku mengambil HP BlackBerry di dekat kulkas.

DIPERKOSA
Sadam Abduh yang memegang golok, tergoda melihat tubuh Ri yang hanya mengenakan handuk kecil saja, apalagi pelaku sudah sering mengintip Ri saat mandi dari belakang rumah. Pelaku mengancam Ri agar tidak berteriak. Wanita bertubuh montok dan berwajah cantik ini kemudian digelandang ke ruang tengah dalam keadaan telanjang.

Di tempat ini, Sadam memperkosa dan menyetubuhi Ri beberapa kali, setelah lebih dahulu menyuruh Rio mengancam anak Ri dan keponakannya yang menginap di rumah tersebut. Setelah puas melampiaskan nafsu bejatnya, pelaku kabur sambil membawa hasil kejahatan.

Ri yang mendapat perlakuan tak senonoh melaporkan kasus ini ke Polsek Cipondoh, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari kediamannya. Petugas dipimpin Kapolsek Cipondoh, Kompol Arlon Sitinjak segera melakukan olah TKP termasuk memburu pelaku.

Dari keterangan sejumlah saksi, akhirnya petugas dapat mengenali pelaku yakni Sadam Abduh dan Rio Sabran Prabowo. Keduanya diringkus di tempat kos di kawasan Kunciran, saat hendak mudik Lebaran ke kampung halaman di Jogyakarta, sekitar pukul 16.30.

“Pelaku mengaku nafsu saat melihat korban hendak mandi dan langsung memperkosanya,” kata Kapolres Metro Tangerang, Kombes Tavip Yulianto, didampingi Kapolsek Cipondoh, Kompol Arlon Sitinjak.

Menurut Arlon, pelaku mengaku sering mengintip korban saat mandi dari belakang rumah tersebut. “Namun saat kejadian, mereka benar-benar mau merampok. Ternyata satu pelaku terangsang saat melihat korban dan memperkosanya,” tegasnya.

Pembunuh Mahasiswi Binus Livia Pavita Soelistio Tertangkap dan Ternyata Adalah Supir Angkot Spesialis Perampok dan Pemerkosa Penumpang Wanita

Kamis (25/8) menjelang tengah malam, informasi penting masuk. Sinyal telepon genggam milik Livia Pavita Soelistio yang berhari-hari mati, tiba-tiba terlacak berada di Rawa Belong, Kemangisan, Jakbar. Bersama anggotanya, Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat, AKBP Ferdy Sambo, langsung bangkit dari kursi di ruang kerjanya. Tak buang waktu, ia meluncur ke daerah Rawa Belong, tak jauh dari rumah kos mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Binus) itu.

Sesuai petunjuk sinyal HP, Sutarno dan Abdul Madjid dibekuk. Mereka baru saja bertransaksi HP Ericsson. Sutarno menjual HP itu kepada Abdul Majid yang dihargai Rp200.000. Dalam pemeriksaan, Sutarno mengaku HP yang dijualnya milik Rohman.
Tak buang waktu, polisi langsung memburu Rohman. Saat itu, sudah masuk Jumat (26/8) dinihari. Pria 24 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai sopir tembak itu dibekuk di rumah di Rawa Belong. Ketika itu ia bersama Fahri, 22, tengah menunggu Sutarno. Kduanya langsung digelandang ke Polres Jakarta Barat.

Dalam pemeriksaan terungkap Fahri dan Roman berperan dalam hilangnya mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Binus) Livia Pavita Soelistio, 21. Gadis cantik itu hilang pada 16 Agustus usai mengikuti sidang skripsi di jurusan Sastra Mandarin sekitar Pk. 13:00. Sejumlah temannya melihat ia menumpang Mikrolet 24 jurusan Srengseng-Slipi yang biasa ditumpanginya menuju tempat kos di Rawa Belong, Kemanggisan, Jakbar.

Sejak itu, keberadaan mahasiswi yang juga sekretaris sebuah biro perjalanan di Gambir, Jakpus, ini tak terlacak. HP-nya tak bisa dihubungi. Ny. Yusni Chandra, ibu kandung, dan Hermanto, ayah tiri, melapor kehilangan anaknya ke Polsek Kebun Jeruk pada 17 Agustus. Orangtua itu juga mengabarkan kehilangan anaknya melalui BlackBerry Messenger.

Empat hari kemudian, ia ditemukan membusuk di parit sedalam 2 meter di Cisauk, Tangerang. Bajunya terbuka karena seluruh kancingnya terlepas dan celana dalamnya melorot selutut. Ia dikenali sebagai Livia dari pakaian dan kalung berliontin Buddha yang dikenakannya.

PEMBUNUHAN DAN PERKOSAAN
Dalam pemeriksaan yang dilakukan Kanit Krimum AKP Agung Wibowo, SH, Fahri dan Rohman menuding Afri yang mencekik Livia hingga tewas. Aksinya dibantu Rohman dan Raymond. Afri juga memerkosa mayat Livia dalam angkot. Kini, polisi memburu Afri dan Raymond. “Kedua tersangka yang tertangkap itu kami jerat dengan pasal pencurian dengan kekerasan,” ujar Kapolres Jakarta Barat, Kombes Setija Junianta, Hum, tentang Fahri dan Rohman yang dikenakan pasal 365 KUHP karena perampokan HP dan uang Rp200,000 milik korban dan terancam hukuman 20 tahun penjara. “Kami juga memburu dua tersangka lainnya, termasuk pelaku pembunuhan dan perkosaan terhadap korban.”

Didampingi Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Baharuddin Jafar, kapolres mengatakan kawanan itu adalah komplotan bandit yang kerap menjadikan wanita sebagai korbannya. Bahkan, tersangka Rohman pernah dipenjara dua tahun terkait kasus narkoba.

Sementara itu, terhadap tersangka Sutarno dan Abdul Majid, polisi menjerat keduanya dengan pasal 480 KUHP karena menerima barang hasil kejahatan. Mereka terancam hukuman empat tahun penjara. “Kalau tahu HP itu bermasalah, apalagi korban pembunuhan, saya nggak bakal mau terima. Sekarang, saya nggak tau apa-apa masuk penjara juga,” ujar Sutarno.

Malang nian nasib Livia. Wanita cantik ini harus tewas ditangam empat awak angkot. Sedihnya pelaku hanya mengincar dua HP milik mahasiswi Binus, Kemandoran, Jakarta Barat ini. Keempat pelaku rupanya mengincar HP Black Berry dan Sony Ericsson model terbaru. Hanya saja seorang tersangka mengaku karena tergiur atas kecantikan Livia, dia tega memperkosa gadis ini meski sudah tidak berdaya.

PENGAKUAN PELAKU
Dalam wawancara dengan Pos Kota, tersangka Rohman dan Fahri bercerita. Pada Selasa (16/8) siang, angkot M24 B 2912 TK jurusan Srengseng-Slipi, yang dikemudikan Fahri dicegat Livia di depan kampusnya. Tiga teman Fahri; Rohman dan dua tersangka lain yang masih buron; Afri dan Raymond, juga berada di angkot. Mereka berlagak penumpang. “ Kami memang berniat mencari wanita penumpang untuk diambil hartanya, “ kata Rohman.

Meski berada dalam kendaraan yang sama, tersangka Rohman dan Fahri menuding Afri sebagai otak di balik kejahatan sadis itu. Fahri mengatakan, pembunuhan dan pemerkosaan dilakukan Afri di belakang kendaraannya. “ Afri yang mencekik sampai mati lalu memerkosa mayat korban,” ungkap Fahri.

Menurut Fahri, saat itu korban melawan tapi tak kuasa menahan kekuatan tiga pria yang menyergapnya. “ Silahkan ambil HP saya, tapi jangan bunuh saya,” kata Fahri, mengenang permintaan terakhir anak kandung Ny. Yusni Chandra itu.

Permohonan dengan derai airmata itu tak ditanggapi. Sebaliknya, Raymond dan Fahri semakin beringas dan bernafsu langsung memegang kedua tangan gadis itu dan Afri mencekik lehernya. Seketika, korban lemas. Tubuh Livia yang tersungkur diinjak punggungnya oleh Rohman. Kawanan penjahat sadis itu pun mencari tempat pembuangan mayat.

Sampai di kawasan Pos Pengumben, kendaraan diambil alih Rohman yang lebih mengerti daerah itu lalu membawanya ke kawasan Serpong, Tangerang.

Anggota Polres Jakarta Barat yang menangani kasus ini masih terus memeriksa dua tersangka yang sudah diringkus. Diyakini motif awalnya adalah perampokan. “Mereka rupanya mengincar dua HP korban. Apalagi satu yakni yang Sony Ericsson keluaran terbaru. Jika akhirnya

Livia Pavita Soelistio, mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Binus), telah tiada. Gadis cantik berusia 21 tahun yang baru lulus sidang skripsi jurusan Sastra Mandarin itu, diperlakukan biadab oleh kawanan preman. Ia dicekik hingga menemui ajal. Dalam keadaan tak bernyawa, korban diperkosa dalam angkot yang ditumpangi dari kampus menuju tempat kos.
Delapan hari setelah pembantaian terjadi dan Livia dilaporkan keluarga ke Polsek Kebon Jeruk sebagai orang hilang, petugas Polres Jakarta Barat dipimpin Kasat Reskrim AKBP Ferdy Sambo, yang bekerja keras membongkar peristiwa ini membuahkan hasil.

Tersangka Rohman, 23, dan Fahri, 22, ditangkap tak jauh dari rumah kos Livia Pavita Soelistio, di kawasan Rawa Belong, Kemanggisan, Jakbar, Jumat (26/8) dinihari. Polisi juga membekuk Sutarno dan Abdul Madjid, penadah HP korban yang dirampas pelaku.

Mahasiswi, yang juga sekretaris sebuah biro perjalanan di Gambir ini ditemukan membusuk di Cisauk, Tangerang, empat hari setelah menghilang sepulang dari kampusnya pada 16 Agustus. Saat ditemukan, baju korban terbuka karena seluruh kancingnya terlepas. Bahkan celana dalam korban melorot selutut.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua tersangka pembunuh Livia, mahasiswa Binus ditangkap polisi di Kemanggisan, Jakarta Barat, Jumat dinihari tadi. Pelakunya empat orang awak angkot. Dua lagi pelaku masih dikejar polisi. Menurut informasi, Livia pada 16 Agustus lalu usai mengikuti sidang skripsi pulang naik angkot bersama teman-temannya. Rupanya dia yang terakhir turun. Di angkot tersebut, wanita cantik ini disergap oleh empat orang yang ada di angkot tersebut.

Diduga karena melawan, pelaku makin ganas dan membekap korban. Livia, mahasiswa jurusan Bahasa Mandarin ini dibawa ke Tangerang tepatnya di Cisauk lalu korban dihabisi. Mayatnya dibuang ke selokan hingga akhirnya empat hari kemudian ditemukan penggembala kambing sudah dalam keadaan membusuk.Sebelum dibunuh sempat diperkosa karena ditemukan bercak sperma.

Rupanya pelaku membawa HP Black Berry korban. Oleh pelaku HP tersebut dijual kepada seseorang di Kemanggisan Jakarta Barat. Tadi pagi saat sahur, Black Berry itu tiba-tiba mengudara sehingga polisi berhasil melacak signyalnya. Lelaki yang membeli HP itu lalu ditangkap. Dia mengaku kalau Black Berry itu dibeli dari sopir angkot. Dengan gerak cepat polisi mengejar pelaku di daerah Kemanggisan dan berhasil meringkus dua tersangka. Dua lagi yang sudah diketahui identitasnya masih dikejar polisi.

Kepergian Livia Pavita Soelastio,21, membuat keluarga terpukul. Bagaimana tidak. Setelah dinyatakan lulus kuliah dari Universitas Bina Nusantara, Jakarta Barat mahasiswi jurusan Sastra Mandarin ini langsung menghilang.
Selama 5 hari mencari keberadaan anak semata wayang pasangan Hermanto,67, dengan Yusni Chandara,50, malah mendapat kabar jika Livia ditemukan sudah tak bernyawa.

“Saya sangat terpukul atas kematian anak saya. Bagaimana tidak, sejak kecil saya merawat dan membesarkan anak saya hingga terakhir dikabarkan lulus kuliah malah berakhir seperti ini. Saya berharap polisi berhasil menangkap anak saya,” ungkap Hermanto terbata-bata. Terakhir 16 Agustus sore, Livia menghubungi dirinya dan memberitahu jika dirinya baru selesai melakukan siding skripsi dan dinyatakan lulus. Mendapat kabar itu, Hermanto kemudian mengucapkan selamat atas kelulusan Livia.

Namun pada keesokan harinya, ketika akan dijemput oleh keluarga, Livia dikabarkan menghilang. Keluarga akhirnya melaporkan ke Polsek Kebun Jeruk. Keluarga kemudian berusaha mencari keberadaan Livia ke teman-temannya bahkan ke paranormal. Namun Minggu (20/8) malam, dirinya mendapat kabar jika ada mayat perempuan dengan pakaian yang sama dengan Livia ditemukan di parit di Jalan Suradita, Cisauk, Kabupaten Tangerang.

Mendapat Informasi tersebut Hermanto kemudian langsung mendatangi kamar mayat RSU Tangerang untuk melihat langsung jenazah wanita tersebut. Setelah diperiksa, mayat wanita malang itu adalah Livia Pavita Soelastio, mahasiswi Bina Nusantara jurusan Sastra Mandarin

Pembunuh Mahasiswi Bina Nusantara Livia Pavita Soelistio Ditangkap dan Ternyata Adalah Supir Angkot

BERITA LENGKAP KRONOLOGIS PENANGKAPAN PEMBUNUH DAN PEMERKOSA MAYAT LIVIA BACA DISINI

Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Jakarta Barat, Ajun Komisaris Besar Ferdi Sambo, menyatakan telah menangkap 3 pelaku kasus pembunuhan Livia Pavita Soelistio, mahasiswi Bina Nusantara yang ditemukan tewas pada 20 Agustus 2011.

“Salah satunya adalah residivis,” kata Ferdi saat dihubungi Jumat, 26 Agustus 2011.

Ferdi mengatakan ketiga pelaku tertangkap di daerah Slipi, dekat Universitas Bina Nusantara. “Mereka adalah sopir angkot tembak,” katanya. Kepada polisi, pelaku mengaku telah membunuh korban. Motifnya untuk menguras harta yang dibawa oleh korban.

Livia adalah mahasiswi jurusan Sastra Mandarin angkatan 2007. Ia menghilang sejak Selasa 16 Agustus 2011. Empat hari kemudian, anak tunggal keluarga Yusni Chandra itu ditemukan tewas. Jasadnya teronggok di daerah Jalan Baru, Desa Suradita, Tangerang.

Ferdi mengatakan pelaku menjerat Livia saat ia tengah berada di dalam angkot yang dikendarai pelaku. Di dalam angkot, Livia disekap dan mulutnya dibekap hingga tewas. “Ada 4 pelaku yang membekap,” katanya. Jasad Livia kemudian dibuang di daerah Tangerang. “Motifnya murni pencurian dengan kekerasan,” ujarnya.

Saat ini, kata Ferdi, polisi masih terus memburu pelaku lain yang diduga terlibat pembunuhan. “Nanti kami beri tahu,” ujar Feri.

Garuda Dituntut Karena Lecehkan Calon Pramugari Dengan Disuruh Telanjang dan Diraba Raba Payudaranya Oleh Pria

Maskapai penerbangan Garuda Indonesia diterpa isu tak sedap. Kantor berita Korea Selatan, Yonhap, menyebut maskapai pelat merah ini melakukan pelecehan seksual terhadap calon pramugari pada bulan lalu.

Pelecehan terjadi saat Garuda mewawancarai calon awak kabin asal Korea. Seorang wanita mengaku diperintahkan melepas semua pakaiannya kecuali pakaian dalam untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.

Saat itu seorang dokter pria disebut meraba payudaranya dengan alasan memeriksa implan. Pemasangan implan, menurut aturan perusahaan, dianggap membahayakan awak kabin ketika bertugas. Setelah kejadian tersebut, para pelamar langsung mengajukan komplain atas prosedur yang memalukan dan membuat mereka tidak nyaman itu.

Juru bicara Garuda Indonesia, Pujobroto, membantah adanya insiden tersebut. “Itu sama sekali tak benar. Tak ada pelamar yang diminta tampil tanpa busana saat rekrutmen pramugari di Korea,” katanya tadi malam.

Ia menegaskan, pemeriksaan kesehatan oleh Garuda sesuai dengan standar yang berlaku di dunia penerbangan. Dokter yang melakukan pemeriksaan juga mengacu pada standar profesi dan terikat sumpah dokter. “Ada staf lokal yang mendampingi untuk membantu menjelaskan pemeriksaan,” katanya.

Meski demikian, Pujobroto menyatakan Garuda belum berencana melayangkan somasi terhadap Yonhap maupun The Korea Herald, yang ikut memberitakan kasus ini. “Belum ada rencana ke sana,” katanya.

Proses seleksi dilakukan pada 27 Juli lalu. Ada 27 calon pramugari asal Korea yang mengikuti tes, lima di antaranya dinyatakan tak lulus. Proses rekrutmen dilaksanakan langsung oleh Garuda tanpa melibatkan pihak ketiga.

Garuda merekrut awak kabin asal Korea untuk mendukung pelayanan maskapai ini. Menurut Pujobroto, dalam sepekan Garuda terbang ke Korea sebanyak lima kali. Garuda juga merekrut pramugari asal Cina dan Jepang untuk rute Jakarta-Cina dan Jakarta-Jepang.

Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Perhubungan, Bambang S. Ervan, mengatakan proses rekrutmen awak kabin tak termasuk wewenang kementeriannya. “Kami hanya mengawasi dan mengatur keselamatan, keamanan, serta pelayanan penerbangan,” katanya.

Pemerintah juga belum berencana mengambil langkah apa pun terkait dengan berita itu. “Secara informal, kami akan memastikan kepada Garuda tentang berita tersebut,” ucapnya.

Kronologis Pembunuhan Mahasiswi Binus Livia Lavita Soelistio Yang Hilang Tanggal 16 Agusutus 2011 dan Mayatnya Ditemukan Di Cisauk

Celana dalam mayat yang diduga kuat adalah Livia Pavita Soelistio (21), mahasiswi Jurusan Sastra Mandarin Universitas Bina Nusantara (Binus),melorot sampai se-paha. Polisi akan melakukan identifikasi apakah korban diperkosa sebelum dibunuh. Mayat yang diduga Livia, ditemukan beserta sejumlah barang miliknya di daerah Cisauk, Kabupaten Tabgerang. Perhiasan korban mulai dari giwang, kalung, dan pakaiaannya masih utuh. Livia dilaporkan hilang sejak 16 Agustus 2011 setelah mengikuti ujian skripsi di kampus Binus.

Menurut Kapolres Jakarta Barat Kombes Pol Setija Junianta, mayat yang ditemukan di Tangerang tersebut adalah korban yang dilaporkan hilang ke Polsek Kebon Jeruk. “Ia lost contact sejak tanggal 16 Agustus 2011, setelah pulang kuliah,” ujar Setija kepada wartawan, Senin (22/8/2011). Keluarga Livia pertama kali melaporkan ke Polsek Kebon Jeruk.
Tutur Setija, berdasarkan penuturan keluarga, Livia mempunyai pacar yang bekerja di sebuah perusahaan pertmabangan milik swasta di Papua. “Kita belum tahu pacarannya sejak kapan,” ucapnya. Keadaan mayat menurut Setija sudah sulit diidentifikasi, sehingga polisi belum tahu apa ada unsur penganiayaan atau tidak dan kini masih menunggu hasil otopsi.
“Kita belum bisa pastikan, harus tunggu hasil otopsi,” ucapnya.

Apakah Livia dibunuh lantaran hamil atau diperkosa, polisi pun belum bisa mengungkapkan. Kata Setija, bengkak itu wajar, karena mayat diperkirakan sudah satu minggu. “Otopsi juga salah satunya untuk memastikan hamil atau tidak. Dari celana dalam kan juga melorot sepaha. Dari otopsi ini nanti bisa di cek, apa korban sebelomnya diperkosa atau tidak,” tutur Setija.Selai itu, polisi juga belum memastikan apakah Livia memang memiliki masalah keluarga atau temannya, sehingga catatan diarynya nanti akan menjadi petunjuk. “Kita tidak masuk ke ruang itu, karena keluarga juga masih berduka,tapi nanti kita lihat catatan apa saja yang ada di dalam diary di dalam kamarnya, ini mungkin bisa jadi petunjuk,” ungkapnya.

Sebelumnya mayat yang diduga Livia ditmukan mayat di pinggir jalan daerah Cisauk, Tangerang Kabupaten, Minggu (20/8/2011) pukul 17.50 WIB. Mayat ditemukan seorang penggembala yang sedang mencari kambingnya yang hilang.
Kemudian Si Gembala Kambing pun melaporkan penemuan mayat tersebut ke Polsek Cisauk. Kemudian penemuan mayat tersebut pun dikoordinasikan Polsek Cisauk kepada Polsek Kebun Jeruk. Tim polisi dari Kebon Jeruk sebagian ke RS Umum Tangerang dan sebagian mendatangi ke keluarganya.

Dari mayat tersebut ditemukan liontin bergambar Dewi Quan Im dan kaos kaki yang sudah berwarna cokelat masih menempel di kakinya. Kondisi mayat sudah bengkak dan tidak dikenali Wajah gosong dan rusak. Kata ibunya anaknya Livia menggunakan kalung yang sama. Livia Pavita Soelistio (21), mahasiswi Jurusan Sastra Mandarin Universitas Bina Nusantara, Jakarta dilaporkan hilang keluarganya ke Polsek Kebon Jeruk pada 16 Agustus 2011. Terakhir, Livia terlihat berada di lokasi parkir kendaraan kampus Bina Nusantara Kemanggisan, Jakarta Barat.

Catatan harian Livia Lavita Soelistio (21), mahasiswi Jurusan Sastra Mandarin Universitas Bina Nusantara, Jakarta yang ditemukan tewas di Wilayah Cisauk, Kabupaten Tangerang, Minggu (20/8/2011) sore tidak bercerita tentang masalah yang dihadapi sebelum ia menghilang. Hal tersebut diungkapkan Dosen Bagian Kemahasiswaan Universitas Bina Nusantara (Binus), Besar saat ditemui di Rumah Duka Jabar Agung, Jelambar, Jakarta Barat, Selasa (23/8/2011).

“Saya tidak membacanya secara keseluruhan. Tetapi diarynya tidak bercerita tentang masalah apa pun,” kata Besar. Ia menceritakan bahwa diary Livia tersebut hanya menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan masa-masa kuliahnya. “Kini buku tersebut sudah diserahkan ke Polsek Kebon Jeruk,” ucapnya. Mahasiswi yang diduga korban pembunuhan tersebut sejak malam tadi sudah berada di rumah duka Yayasan Jabar Agung, Jakarta Barat dan rencananya akan dikremasi besok. Sebelumnua jasad Livia menjalani otopsi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang, jenazah Livia pun langsung diberangkatkan ke rumah duka tanpa singgah terlebih dahulu ke rumah orang tuanya di Kali Baru Timur, Jakarta Pusat.

Kini jenazah Livia pun disemayamkan di Lantai Dasar, Jabar Agung, Ruangan 18 setelah sebelumnya berada di kamar jenazah. Orang tua Livia terlihat terpukul dengan kejadian yang menimpa anak semata wayangnya. Sesekali sang ibu menangis saat saudara datang untuk bersembahyang untuk jenazah Livia. Sebelumnya, Livia yang dikabarkan hilang oleh keluarganya pada 16 Agustus 2011 lalu. Setelah beberapa hari kemudian seorang penggembala kambing menemukan se sosok mayat di Cisauk, Kabupaten Tangerang Minggu (21/8/2011) sore yang ternyata jasad Livia.

Saat ditemukan jenazah Livia masih mengenakan busana lengkap mulai dari rok dan kemeja. Sejumlah aksesoris di tubuhnya pun masih lengkap seperti kalung dan giwang. Hal itu juga yang membuat keluarganya yakin bila mayat yang ditemukan di Tangerang adalah Livia. Polisi kini masih mendalami motif yang mengakibatkan melayangnya nyawa Livia. Polisi pun akan melihat catatan apa saja yang ada di dalam diary yang saat ini tersimpan di kamarnya.

Ayah dan Ibu Livia Lavita Soelistio (21) masih terlihat syok atas kepergian putri tunggalnya. Terlihat beberapa kali ibunya menguraikan air mata ketika para pelayat datang memberikan penghormatan terakhir di Rumah Duka Jabar Agung, Jelambar, Jakarta Barat, Selasa (23/8/2011).

Bahkan ayah Livia pun sempat menolak para wartawan yang hendak meminta komentarnya atas tewasnya Livia. “Bapak sama ibunya belum bisa diwawancara karena dari kemarin belum istirahat, belum tidur,” kata kerabat Livia, Parman.Parman yang sengaja datang untuk melayat Livia pun tidak banyak berkata. Alasannya, ia tinggal di Medan sehingga tidak tahu keadaan keponakannya. “Saya juga kurang tahu, karena saya baru datang dari Medan,” ucapnya. Rencananya besok jenazah Livia akan dikremasi pada Rabu 24 Agustus 2011. Sampai saat ini sejumlah pelayat mulai dari teman kuliah sampai dosen datang untuk melakukan sembahyang sebagai wujud penghormatan terakhir.

“Mungkin nanti di kampus teman-temannya akan melakukan doa bersama. Tetapi kalau dari pihak kampus tidak ada, mungkin itu insiatif mereka saja,” kata Besar, seorang Dosen bagian kemahasiswaan di Universitas Bina Nusantara.
Livia merupakan mahasiswa Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta awalnya dilaporkan hilang pada 16 Agustus 2011 usai mengikuti ujian skripsi di kampusnya.

Mayat Livia ditemukan penggembala kambing di sebuah selokan di Cisauk, Kabupaten Tangerang Minggu (21/8/2011). Saat ditemukan jenazah Livia masih mengenakan busana lengkap mulai dari rok dan kemeja. Sejumlah aksesoris di tubuhnya pun masih lengkap seperti kalung dan giwang. Hal itu juga yang membuat keluarganya yakin bila mayat yang ditemukan di Tangerang adalah Livia.

Jasad Livia lantas dilakukan otopsi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang. Setelah dipastikan jenazah adalah Livia, maka jenazah langsung diberangkatkan ke rumah duka tanpa singgah terlebih dahulu ke rumah orang tuanya di Kali Baru Timur, Jakarta Pusat.

Kini jenazah Livia pun disemayamkan di Lantai Dasar, Jabar Agung, Ruangan 18 setelah sebelumnya berada di kamar jenazah. Polisi pun kini masih mendalami motif yang mengakibatkan melayangnya nyawa Livia. Polisi pun akan melihat catatan apa saja yang ada di dalam diary yang saat ini tersimpan di kamarnya untuk mengungkap tabir gelap pelaku pembunuhan tersebut.

Orangtua Livia Pavita Soelistio, mahasiwa Binus, menolak dilakukan tes DNA. Mereka yakin mayat yang ditemukan di Cisauk, Kabupaten Tangerang, Minggu (21/8/2011) adalah mayat putrinya. Keyakinan pihak keluarga ini dari sejumlah barang yang dikenakan mayat tersebut. “Kita minta tes DNA, tapi dari keluarga dari ciri fisik 100 persen yakin. Itu dilihat dari giwang, kalung, rambut sudah rontok, dan baju terakhir yang dipakai,” kata Kapolres Jakarta Barat Setija Junianta kepada wartawan, Senin (22/8/2011). Livia selalu mengenakan kalung liontin bergambar Dewi Kwam In. Kondisi mayat yang sulit untuk diidentifikasi dan tanpa adanya kartu pengenal, menyebabkan polisi belum bisa memastikan.

Sebelumnya, mayat yang diduga Livia ditemukan mayat di pinggir jalan daerah Cisauk, Tangerang Kabupaten, pukul 17.50 WIB ditemukan seorang penggembala yang sedang mencari kambingnya yang hilang. Livia Pavita Soelistio (21), mahasiswi Jurusan Sastra Mandarin Universitas Bina Nusantara, Jakarta dilaporkan hilang keluarganya ke Polsek Kebon Jeruk pada 16 Agustus 2011. Terakhir, Livia terlihat berada di lokasi parkir kendaraan kampus Bina Nusantara Kemanggisan, Jakarta Barat.

Diduga kuat mayat yang ditemukan di Cisauk, Kabupaten Tangerang Minggu (21/8/2011) sore lalu adalah Livia Pavita Soelistio (21). Livia adalah mahasiswi Jurusan Sastra Mandarin Universitas Bina Nusantara, Jakarta yang dilaporkan hilang keluarganya ke Polsek Kebon Jeruk pada 16 Agustus 2011. Keanehan pun muncul, pasalnya saat ditemukan mayat tersebut masih berbusana lengkap ketika terakhir kali Livia di lihat keluarganya.

Sejumlah aksesoris di tubuhnya pun masih lengkap seperti kalung dan giwang. Hal itu juga yang membuat keluarganya yakin bila mayat yang ditemukan di Tangerang adalah Livia. Lalu, apa yang menjadi motif pelaku sampai tega menghabisi nyawa Livia? “Bengkak itu wajar, mayat yang sudah satu minggu bisa bengkak, otopsi juga salah satunya untuk itu memastikan hamil atau tidak. Dari celana dalam kan juga melorot sepaha. Dari otopsi ini nanti bisa di cek, apa korban sebelumnya diperkosa atau tidak,” kata Kapolres Jakarta Barat Kombes Pol Setija Junianta, Senin (22/8/2011).

Polisi pun akan melihat catatan apa saja yang ada di dalam diary yang saat ini tersimpan di kamarnya. “Ini mungkin bisa jadi petunjuk,” ucapnya. Livia diketahui memiliki seorang pacar yang bekerja di perusahaan pertambangan milik swasta di Papua. “Pacar mau diperiksa pasti nanti,” ujar mantan Kapolres Bekasi Kabupaten ini. Tetapi, di sekitar mayat Livia tidak ditemuka tas yang dibawanya sebelum meninggal. Ini membuat polisi susah mencari petunjuk untuk mengusut kasus ini.

“Korban bawa tas sebelum pergi, karena dia lagi ujian, tapi di TKP tidak ditemukan adanya tas,” ungkapnya.
Biasanya Livia pergi selalu menggunakan angkutan umum. Berdasarkan keterangan saksi mata, terakhir Livia terlihat dikampus pergi sendiri. “Sudah dua saksi dari pelapor (kita periksa), nanti kita intensifkan ke saksi lainnya seperti dosen dan teman dekat. Kita ambil keterangan saja,” ungkapnya.

PEMBUNUH DAN PEMERKOSA MAHASISWI BINUS LIVIA LAVITA SOELISTIO TELAH TERTANGKAP DAN TERNYATA ADALAH SOPIR ANGKOT PENJAHAT KAMBUHAN SPESIALIS PERAMPOK DAN PEMERKOSA PENUMPANG WANITA

Seorang Satpam Yang Sudah Beranak Istri Bunuh Diri Karena Pujaan Hatinya Dipromosikan ke Kanada

Tak ada yang tahu persis mengapa Ignasius Igo, sekuriti PT Bintan Central Gas, itu rela mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di pos jaga, tempat sehari-hari ia bertugas. Tak banyak curhat yang ia sampaikan ke rekan-rekannya, kecuali ungkapan sayangnya kepada pujaan hati, Dian Amanda, lewat dua pucuk surat yang ia ditinggalkannya.

Dalam surat yang diberi kop seweet (sweet-red) memories itu, Igo mengungkapkan rela meninggalkan Amanda untuk selama-lamanya karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Hanya saja, dari nomor telepon yang tertulis di surat cinta yang tergeletak itu, misteri love story Igo-Amanda sedikit tersibak.

Kakak Amanda, Ny Nita, kepada Tribun, Minggu (21/8/2011), mengungkapkan, Amanda baru dua bulan ini mengenal Igo. Mereka kerap berkomunikasi melalui telepon saja. Ia sendiri belum pernah bertemu dengannya. Cerita tentang Igo diketahui dari curhat adiknya itu. Amanda bekerja di sebuah perusahaan di Mukakuning, Batam. Namun, pada Sabtu (20/8/2011), ia telah terbang ke Kanada karena ada tugas semacam magang dari perusahaannya.

“Ampuuun, mungkin kepikiran kepergian adik saya itu atau apa, dia (Igo) nekat seperti itu. Kita sama sekali tak tahu urusan ini. Seharusnya kan bisa bicara baik- baik,” ucap Nita penuh heran. Dari cerita yang pernah disampaikan adiknya, Nita mengaku mengetahui bahwa Igo dan Amanda berkenalan sejak dua bulan lalu. Amanda menganggapnya sebagai kawan karena selama ini Igo sudah punya istri dan anak.

Dengan datangnya kabar Igo bunuh diri, sontak keluarganya pun kaget. “Kemarin silih berganti ada telepon yang mengaku dari keluarga menanyakan kenekatan Igo, kami sama sekali tak tahu. Dari situ justru saya telepon Amanda,” ujar Nita lagi. Nita menceritakan, Amanda memang sempat mengontak Igo pada Jumat sore, atau sehari sebelum pergi, bahwa ia pamit untuk menjalankan tugas ke luar negeri.

Saat itu Amanda juga menyampaikan permintaan agar Igo melanjutkan hubungannya dengan istrinya. “Adik saya tak pernah berpikir akan menikah dengan anak orang (orang yang sudah berkeluarga). Mana bisa begitu,” kata Nita dengan nada meninggi. Dengan kejadian itu, Nita juga menduga bahwa kenekatan Igo itu karena merasa cintanya kandas setelah hendak ditinggal pergi Amanda ke Kanada.

Nita mengatakan, dengan kejadian pada Sabtu pagi itu, persiapan Amanda yang sudah berada di Bandara Hang Nadim Batam jadi kalang-kabut. Amanda sempat menangis histeris karena mendapat kabar bahwa Igo gantung diri. “Seharusnya take off pagi, namun karena sempat nangis-nangis dan terlambat masuk pewasat akhirnya ditunda sampai penerbangan pada sore hari,” ujarnya.

Kini Amanda diperkirakan sudah tiba di Kanada. Namun Nita belum berkomunikasi karena belum ada balasan dalam facebook adiknya itu. Ditanya Tribun mengenai nomor telepon dirinya yang sempat tertulis di secarik kertas yang ditinggalkan Igo, Nita justru heran. Ia hanya menduga, handphonenya pernah dipinjam adiknya dan nomor disimpan oleh Igo. Nita sendiri mengaku kini di Jakarta, sekitar Lebak Bulus.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ignasius Igo ditemukan tewas tergantung di pos jaga tempatnya bekerja, Sabtu pagi.
Saat itu rekannya bernama Ansyel yang bertugas shift siang sudah mendapati Igo tergantung menggunakan tali plastik yang diikatkan pada kayu plafon. Saat ditemukan Igo dalam kondisi lidah terjulur dan dari kemaluannya mengeluarkan sperma. Menurut kerabatnya, jenazah Igo sudah dimakamkan di Teluk Dalam, wilayah arah Trikora, Tanjungpinang, pada Sabtu sore.

Karena Berhubungan Seks Dengan Pemuda Yang Baru Dikenal Didepan Umum Seorang Janda Muda Diperkosa Rame Rame Oleh 4 Orang

SEORANG janda, AH (28) diduga diperkosa empat pemuda secara bergantian. Aksi pemerkosaan terjadi Rabu (17/8) malam di bawah kolong jembatan Sempur, Jalan Jalak Harupat, Bogor Tengah, Kota Bogor. Tidak terima diperkosa, AH melaporkan kasus yang menimpanya ke Polres Bogor Kota.

Kepala Satuan Reskrim Polres Bogor Kota AKP Iman Imanuddin membenarkan laporan tersebut. Saat ini dua orang pelaku, Junaedi (23) dan Rizal (28) masih menjalani pemeriksaan oleh penyidik. “Kita juga sedang mengejar dua pelaku lainnya yang berhasil melarikan diri saat akan ditangkap petugas,” ujar Iman Imanuddin kepada wartawan, Kamis (18/8).

Informasi yang dihimpun menyebutkan, terungkapnya kasus pemerkosaan ini berawal saat AH, warga Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara diajak jalan-jalan oleh empat pemuda yang baru dikenalnya. Tidak terima diperkosa secara bergilirian, AH kemudian berteriak minta tolong sehingga mengundang perhatian warga sekitar. Warga yang mendengar teriakan itu kemudian menangkap pelaku, namun hanya dua orang yang berhasil diamankan yaitu Junaedi dan Rizal. Sedangkan dua pelaku yang berhasil melarikan diri adalah Ade dan Iwan.

Rizal sempat menjadi bulan-bulanan warga yang emosi dengan tindakan pria pengangguran tersebut. Dalam kondisi wajah babak belur, Rizal digelandang ke Polsek Bogor Tengah. Karena kasusnya menyangkut asusila, pelaku kemudian dilimpahkan ke Polres Bogor Kota.

Kepada penyidik Unit PPA Polres Bogor Kota, kasus perkosaan bermula saat Junaedi warga Sindang Barang Jero, Rizal warga Bogor Tengah, Ade dan Iwan berpesta tuak di Pasar Anyar. Setelah mabuk tuak empat pemuda itu kemudian berjalan ke Pasar Bogor. Disamping pintu Kebun Raya Bogor (KRB), tidak jauh dari Pasar Bogor, Junaedi Cs bertemu denga empat pemuda lainnya.

Saat itu empat pemuda lain sedang bersama AH. Melihat wanita itu, Junaedi yang memiliki gaya rambut funk langsung mendekati AH. Hal itu kemudian diikuti tiga pemuda lainnya. Melihat gaya Junaedi yang tampan dan oke punya, AH langsung tertarik. Wanita itu kemudian diajak berjalan ke arah Tugu Kujang oleh Junaedi untuk mencari tempat sepi.

Sambil berjalan menuju arah Tugu Kujang, kelompok Juanedi diikuti empat pemuda yang semula bersama korban. Junaedi yang menggandeng tangan korban, lalu berjalan didepan. Sementara Rizal, Iwan dan Ade mengikuti dari belakang. Mendekati jembatan Sempur, mereka kemudian mampir di kios di pinggir lapangan Sempur.

“Kami sengaja mampir warung untuk beli air, biar Junaedi duluan kebawah. Enggak lama kami turun dan Junaedi sudah memulai aksinya. Kami bertiga langsung membuka celana dan ikut dalam pesta seks itu,” kata Rizal. Awalnya, Junaedi dengan leluasa melakukan aksinya. Bahkan, pakaian bawah AH sudah dibuka oleh pelaku. Namun, belakangan AH berteriak minta tolong setelah tiga teman Junaedi ikut menyetubuhi korban.

Hingga Kamis petang, pelaku masih menjalani pemeriksaan di Unit PPA Polres Bogor Kota. Kepada penyidik, kedua pelaku mengakui perbuatannya.”Pelaku kita jerat dengan Pasal 285 KUHP tentang perkosaan dengan ancaman hukum diatas 12 tahun,” ujar Kanit PPA Ipda Mellisa Sianipar.

Mellisa menjelaskan, pelaku Junaedi mengakui, saat Rizal sedang melakukan hubungan badan dengan AH, dia terus memegang kepala korban sambil menggulum bibirnya. “Saya memegang kepalanya karena takut terbentur batu,” kata Junaedi berdalih.