AKBP Mindo Tampubolon Mantan Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Kepri Terlibat Pembunuhan Istrinya Sendiri Putri Mega Umboh

Sosok AKBP Mindo Tampubolon yang ikut terlibat langsung dalam pembunuhan istrinya, Putri Mega Umboh saat gelar rekontruksi, Kamis (8/9/2011), menjadi perhatian warga Angrek Mas 3, Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Masyarakat yang melihat langsung reka ulang itu terlihat tidak henti-hentinya menggeleng-gelengkan kepala, merasa belum percaya jika pria yang memperagakan rekonstruksi tersebut adalah Mindo, suami korban sendiri.

Seluruh mata warga Angrek Mas 3 yang melihat rekontruksi tertuju kepada AKBP Mindo Tampubolon saat keluar dari rumahnya hendak membuang jenazah Putri ke hutan Punggur, tak beberapa lama diikuti Ujang dan Rosma sambil membawa koper warna Ping. Pada rekonstruksi itu, Mindo menggunakan baju warna merah dan celana panjang hitam.

“Loh itu kan suaminya, itu ada tulisan di dadanya, Mindo Tampubolon. Waduh, berarti suaminya ikut membunuh ya. Kok tega ya?,” ujar seorang warga sembari menunjuk ke arah Mindo saat keluar dari rumahnya. Dalam rekontruksi itu, Mindo, Rosma, dan Ujang terlihat terlibat langsung mengeksekusi nyawa Putri.

Selama mengeksekusi korban, wartawan yang meliput tak bisa mengetahui detil peran masing-masing tersangka, pasalnya rekontruksi dilakukan secara tertutup dengan penjagaan yang super ketat dari aparat Brimob dan Shabara.
Bahkan tak satu pun wartawan diperbolehkan masuk ke dalam rumah.

Keterlibatan Mindo dalam pembunuhan istrinya mulai terlihat saat keluar dari rumahnya. Mindo terlebih dahulu keluar sebelum Ujang dan Rosma yang sambil membawa jenazah Putri dalam koper. Bahkan saat Ujang dan Rosma membawa jenazah Putri dan anaknya Keysia, Mindo juga ikut terlihat dalam mobil menemani.

Mindo dengan tenang duduk di sebelah Ujang yang membawa mobil miliknya Nisan Extrail BP 24 PM. Ujang terlihat sempat membawa mobil sampai keluar pos sekuriti Angrek Mas 1. Namun tiba-tiba setelah keluar, mobil yang dikendarai Ujang berhenti.

Tak beberapa lama Mindo keluar dari Mobil dan berpindah tempat. Ujang yang awalnya membawa mobil berpindah tempat duduk sebelah kiri yang sebelumnya ditempati Mindo. Setelah Mindo membawa mobil, mereka melanjutkan perjalanan ke SPBU depan Perumahan Plamo Garden.

Setelah sampai di SPBU mengisi bahan bakar, Mindo cs menuju ke mesin ATM bank Mandiri. Saat itu hanya Ujang yang turun dan masuk ke dalam menarik uang. Begitu keluar dari ATM, Ujang menemui operator SPBU membayar bahan bakar yang dibeli.
Selama berada di SPBU, sosok Mindo dan Rosma tidak turun dari mobil.

Kemudian Mindo, Ujang dan Rosma melanjutkan perjalanan ke hutan Punggur membuang jenazah Putri. Tepat di lokasi pembuanggan Putri ditemukan, Ujang turun dari mobil mengambil jenazah Putri yang diletakkan di belakang, tepatnya di sebelah Rosma dan Keysha duduk. Selanjutnya Ujang menarik koper ke dalam hutan sekitar 25 meter dari jalan raya.
Kemudian Mindo bersama Ujang dan Rosma melanjutkan perjalanan. Namun di tengah jalan, tak jauh dari Kapling Punggur, Mindo menghentikan mobilnya.

Ujang dan Rosma, sambil mengendong Keysha, kemudian menumpang taksi, sedangkan Mindo naik taksi yang berbeda.
Mobil Nisan Extrail yang digunakan untuk membuang jenazah Putri ditinggal begitu saja. Saat itu Ujang dan Rosma langsung menuju tempat kosnya di RT 8/RW 4, Kampung Dalam, Baloi Danau. Namun tidak beberapa lama keduanya kembali pergi dengan menggunakan taksi ke Hotel Bali.

Namun sebelum sampai di Hotel Bali, keduanya berhenti di depan pasar Pagi, Jodoh. Selanjutnya Ujang dan Rosma sambil mengendong Keysha menuju Hotel Bali untuk bersembunyi. Bagaimana kondisi AKBP Mindo Tampubolon setelah dinonaktifkan dari jabatan Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Kepri? Meski masih berstatus tersangka, Mindo merasa tenang dan bahagia.
Mengenakan baju hitam bergaris dipadu celana kain hitam, wajah Mindo tidak terlihat tertekan.”Saya sekarang kabar baik. Terkait kasus yang saya hadapi saya sekarang menang. Fitnah yang selama ini ditujukan ke saya ternyata tidak terbukti. Ini bukan karena saya tapi karena Tuhan menyertai saya,” kata Mindo yang terlihat lebih rileks dengan senyum mengembang, Minggu (21/8/2011).

Mindo ditetapkan menjadi tersangka pembunuhan Putri Mega Umboh, istrinya. Selain Mindo, penyidik telah menangkap Ujang dan Rosma. Selain itu, penyidik juga menetapkan tujuh sekuriti perumahan sebagai tersangka meski saat ini telah ditangguhkan. Belum jelas apa maksud Mindo mengatakan bahwa dia saat ini menang. Namun penyidik memang masih menunggu hasil sidang Rosma dan Ujang sebagai tersangka utama pembunuhan Putri. Getwein Mosse, Ibunda Putri Mega Umboh menyebut hingga kini pihak Polda Kepri belum memberikan hasil autopsi kepadanya. “Kami dari pihak keluarga korban belum mendapat hasil autopsi. Saya akan minta ini ke penyidik bagaimanapun saya berhak tahu seperti apa hasilnya,” katanya.

Rencananya penyidik akan menggelar rekonstruksi pembunuhan Putri. Getwein memastikan akan hadir saat rekonstruksi yang akan digelar minggu depan. “Saya ingin tahu seperti apa cara menghabisi anak saya itu. Saya heran sudah dua bulan penyidik belum bisa membawa ini ke meja hijau,” katanya.

Mertua AKBP Mindo itu mengatakan jangan sampai mengaitkan anaknya dan menantunya terkait adanya orang ketiga dalam rumah tangga Putri. Baik itu pria idaman lain (PIL) atau wanita idaman lain (WIL). “Jangan ada yang mengaitkan anak dan menantu saya dengan PIL maupun WIL. Saya siap berhadapan dengan mereka, termasuk paranormal yang coba mengaitkan hal itu saya siap tantang paranormal itu,” kata Getwein beberapa waktu lalu.

Beberapa waktu lalu, Kapolda Kepri Brigjen Raden Budi Winarso kedatangan paranormal Ki Joko Bodo. Ki Joko mengaku dimintai petunjuk mengenai pembunuhan tersebut. Saat itu, Ki Joko mengatakan pembunuhan itu terkait dengan permasalahan keluarga. Namun ia tidak secara pasti mengatakan bahwa itu menjadi pemicu pembunuhan atau tidak. Getwein sangat yakin menantu dan anaknya keluarga yang harmonis dan taat kepada orangtua.

“Saya melihat ada upaya mengalihkan dan membuat opini seolah-olah menantu saya terlibat. Saya katakan tidak ada menantu saya terlibat,” katanya. Putri ditemukan tewas dengan cara mengenaskan di hutan di Telagapunggur, 24 Juni lalu. Namun hingga sekarang, kasus tersebut belum terbuka secara terang.
Beberapa waktu lalu, Kombes Wibowo meminta Kapolda Kepri, Brigjen Raden Budi Winarso untuk memerintahkan Ditreskrimsus Polda Kepri menyerahkan beberapa item penting. Dalam surat itu berbunyi guna kelancaran pemberkasan terhadap tersangka Ujang dan Rosma dimohon untuk melengkapi administrasi penyidikan terhadap tindakan kepolisian yang dilakukan pada tanggal 25 Juni 2011 dengan mempedomani Pasal 75 KUHP Pidana.

Surat itu dibuat tanggal 15 Agustus 2011. Item yang diminta adalah surat perintah tugas, surat perintah penyelidikan, surat perintah penyidikan, surat perintah penggeledahan di hotel maupun tempat tertutup dan berita acara penggeledahan.

Selanjutnya berita acara pemeriksaan tersangka, dasar penangkapan terhadap tersangka, surat perintah penangkapan dan berita acara penangkapan, surat tanda penerimaan surat perintah penyitaan dan berita acara penyitaan, berita acara pemeriksaan baik di TKP, berita acara pencarian barang bukti di TKP, berita acara penemuan barang bukti di TKP dan berita acara penyerahan tersangka dari Ditreskrimsus ke Ditreskrimum. Getwein menyebut adanya permintaan itu sebagai pertanda, Penyidik Ditreskrimum, tidak sanggup sehingga harus dimulai dari awal lagi.

Sejak diotopsi akhir Juli lalu, hingga saat ini keluarga korban pembunuhan di Perumahan Anggrek Mas 3, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Putri Mega Umboh mengaku belum mendapatkan hasil otopsi tersebut. Getwein Mosse, ibunda Putri Mega menyebut hingga kini pihak Polda Kepri belum memberikan hasil otopsi kepadanya.

“Kami dari pihak keluarga korban belum mendapat hasil otopsi. Saya akan minta ini ke penyidik, bagaimanapun saya berhak tahu seperti apa hasilnya,” kata Getwein. Ia menyebut, reka ulang pembunuhan anaknya akan dilakukan minggu depan dan ia memastikan akan datang ke Batam untuk melihat reka ulang tersebut. “Saya ingin tahu seperti apa cara (tersangka) menghabisi anak saya itu. Saya heran, sudah dua bulan penyidik belum bisa membawa ini ke meja hijau,” kata Getwein lagi.

Mertua AKBP Mindo Tampubolon itu mengatakan, dirinya tidak ingin ada yang mengaitkan anaknya dan menantunya dengan pria idaman lain (PIL) maupun wanita idaman lain (WIL). “Jangan ada yang mengaitkan anak dan menantu saya dengan PIL maupun WIL. Saya siap berhadapan dengan mereka, termasuk paranormal yang coba mengaitkan hal itu saya siap tantang paranormal itu,” kata

Getwein beberapa waktu lalu. Terkait kasus ini, Ditreskrimum Polda Kepri, telah meminta kepada Kapolda agar
memerintahkan Ditreskrimsus (Direktorat Kriminal Khusus) Polda Kepri menyerahkan berkas perkara pembunuhan Putri Mega Umboh yang pernah ditangani Ditreskrimsus Polda Kepri.

Saat Putri dinyatakan hilang, 24 Juni 2011 dan akhirnya ditemukan meninggal dengan cara dibunuh, yang menangani kasus ini adalah Ditreskrimsus sebagai bentuk solidaritas terhadap AKBP Mindo Tampubolon yang merupakan anggota Ditreskrimsus Polda Kepri.

Kini Ditreskrimum pun belum bisa membuat kasus ini jadi terang. Malah semakin sulit mengusutnya sehingga Polda Kepri sempat mendatangkan paranormal Ki Joko Bodo untuk membantu menerawang siapa otak pembunuhan Putri. Sutan Siregar mantan pengacara Nurdin Harahap dan Suprianto, tersangka pembunuhan Putri Mega Umboh menyebut orang yang telah mengancamnya dengan SMS teror pengecut. Yang bersangkutan tidak berani menerima telepon ketika berkali-kali Sutan mencobanya untuk menghubunginya kembali.

“Takut juga orang itu, kirim SMS teror sampai tiga kali, tapi begitu saya coba telepon balik dia tidak angkat. Sejak saya coba untuk telepon dia itulah SMS terornya tidak masuk lagi. Saya juga sudah laporkan SMS itu ke Mapolsek Lubuk Baja dan saya masih tunggu perkembangannya,” kata Sutan, Minggu (21/8).

Setelah lebih dari sebulan mendampingi dua dari tujuh tersangka pembunuhan itri AKBP Mindo Tampubolon, pekan lalu dua kliennya itu mencabut kuasa darinya. Dia sudah mendapatkan informasi bahwa ada pihak yang memaksa mantan kedua kliennya itu untuk mencabut kuasa darinya karena khawatir para sekuriti akan terus memperkarakan penganiayaan yang mereka alamai selama ditahan di Mapolda Kepri.

“Kita sudah tahu siapa yang bawa draft surat pencabutan kuasa itu kemudian meminta kepada dua orang ini tandatangani. Itu bukan masalah bagi saya, karena yang penting keduannya menandatangani surat itu dalam keadaan sadar,” ujar Sutan.
Terkait SMS teror berupa ancaman yang dikirim orang tak dikenal ke nomor ponselnya, Sutan mengaku tidak peduli, karena dia beranggapan pengirim tersebut hanya mengada-ada. Apa yang dia lakukan, kata adalah memperjuangkan keadilan bagi para sekuriti yang teraniaya.

Selain nama dia dalam SMS tersebut juga disebutkan nama AKP Elmanyah, dan Sutan juga langsung menghubungi yang bersangkutan untuk menanyakan apakah menerima SMS yang sama. “Pak Elmasyah bilang dia juga terima, dia bilang tak usah ditanggapi, tapi kalau mau lapor polisi lebih baik,” ujarnya.

Kedatanggan Ujang ke rumah AKBP Mindo Tampubolon sehari sebelum pembunuhan ternyata dibenarkan, Dedek. Sehari sebelumnya, Kamis (23/6/2011) sekitar pukul 00.00 WIB, ia membenarkan mengantar Ujang dari tempat kosnya di Kampung Dalam, Baloi Danau ke Angrek Mas 3.

“Waktu itu benar saya yang ngantar Ujang bang, katanya mau ngantar nasi untuk Rosma. Tapi karena sudah jam 00.00 WIB portal masuk ke perumahan Angrek Mas 3 itu sudah ditutup. Lalu Ujang minta saya masuk melalui lapanggan kosong yang ada disebelah perumahan itu, setelah sampai di lapanggan itu Ujang turun dan saya balik lagi ke Baloi Danau,” ujar Dedek yang mengaku sebagai teman Ujang di tempat khosnya itu.

Bahkan Dedek mengaku sudah empat kali mengantar Ujang ke Angrek Mas 3. Namun sebelum-sebelumnya siang hari. Setiap kali mengantar Ujang, katanya, selalu mengantarkan nasi bungkus untuk Rosma. Namun setiap kali mengantarkan nasi bungkus tersebut, katanya lebih lanjut, selalu dititipkan ke securiti yang jaga di pos dua.

“Dalam permasalahan Rosma dan majikannya, Ujang tidak pernah cerita ke saya. Saya hanya selalu diminta mengantarkannya ke perumahan itu. Ujang ini orangnya pendiam bang. Selama lima bulan tinggal disini, tidak pernah dia cerita masalah pribadinya. Bahkan saat Rosma tinggal disini sebelum kerja di Angrek Mas 3 itu, tidak pernah juga kedua orang itu cerita-cerita,” ujar Dedek sambil menceritakan dirinya juga pernah diamankan selama dua hari di Polda Kepri.

Dedek menambahkan, Ujang diketahuinya bekerja di salah satu usaha pemasanggan Gipsun di daerah Pasar Angkasa. Selain itu Ujang juga dikenal sebagai laki-laki yang cukup perhatian terhadap pacarnya (Rosma-red). Seperti diberitakan sebelumnya, Ujang, Rosma dan AKBP Mindo jadi tersangka pembunuh Putri Mega Umboh. Putri adalah istri dari AKBP Mindo.

One response to “AKBP Mindo Tampubolon Mantan Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Kepri Terlibat Pembunuhan Istrinya Sendiri Putri Mega Umboh

  1. sungguh terlalu kalo emang benar terbukti…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s