Monthly Archives: Januari 2012

Supir Angkot Ramai Ramai Perkosa Pembantu Di Rumah Kontrakan Di BSD

SOPIR angkutan kota (angkot) kembali berulah. Kali ini seorang pembantu rumah tangga (PRT), berinisial L (20), Senin (30/1) dini hari, diperkosa secara bergiliran di sebuah rumah kontrakan di daerah Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel).

Berdasarkan informasi yang dihimpun Warta Kota, L, warga Gunung Sirah RT 01 RW 01, Kabupaten Kuningan, diperkosa oleh sejumlah sopir angkot di sebuah rumah kontrakan di Kampung Cilenggang RT 01 RW 01, Kelurahan Cilenggang, Kecamatan Serpong, Kota Tangsel.

Setelah diperkosa, L, langsung kabur, hingga akhirnya ditemukan seorang satpam perumahan BSD. L pertama kali ditemukan oleh Rusdi, satpam cluster Versailles. “Saya temukan dia sedang menangis di pinggir jalan, sekitar pukul 03.00,” ujarnya. Selanjutnya Rusdi menanyakan kepada L, kenapa menangis di pinggir jalan yang sepi.

Lalu L mengaku bahwa dirinya adalah korban perkosaan sopir angkot. “Dia bilang habis diperkosa oleh sopir angkot D04, di rumah kontrakan para sopir angkot,” ucapnya. Tanpa banyak tanya, Rusdi langsung membawa L ke Polsek Serpong. Menurut Kapolsek Serpong Kompol Nico Andriano, sekitar pukul 24.00, L naik angkot D04, jurusan BSD-Cikokol.

“Kami belum dalami, dari mana dan hendak ke mana L pergi,” ujarnya saat dihubungi Warta Kota. Oleh karena angkot itu kosong, sang sopir mengajak ngobrol L. Lantaran sudah larut malam, sang sopir menawarkan jasa tempat penginapan bagi L.

Tawaran itu disambut L, tanpa menaruh curiga. Ternyata L diajak ke sebuah rumah kontrakan di daerah Cilenggang, Serpong, yang isinya para sopir angkot. Sesampainya di rumah kontrakan itu, L langsung dikerjai oleh para sopir angkot itu. Menurut Nico, pihaknya masih terus memburu para pelaku. Mengenai berapa jumlah pelaku, pihaknya belum bisa memastikan.

“Yang pasti lebih dari satu orang,” ujarnya yang baru dua minggu menjabat Kapolsek Serpong. Mengenai nomor plat mobil, pihaknya juga masih menyelidiki, karena L tidak ingat nomornya. “Identitas pelaku sudah kami kantongi, dan saat ini sedang diburu,” katanya. Sementara itu, kondisi L saat ini shock dan dibawa ke rumah keluarganya. Namun, polisi merahasiakan di mana lokasi rumah keluarga L.

Menurut Nico, L diperkosa di dalam kamar tengah rumah kontrakan tersebut. Namun tidak dijelaskan bagaimana proses sampai L bisa kabur dari rumah kontrakan itu, hingga akhirnya ditemukan satpam di pinggir jalan. “Kami sudah melakukan pengecekan, ternyata di rumah itu terdapat beberapa kamar. Saat kami cek, di lantai ada bekas sperma yang sudah dibersihkan,” ucapnya.

Untuk penyelidikan lebih lanjut, kata Nico, kasus ini dilimpahkan ke Polres Kabupaten Tangerang. “Penyelidikan lebih lanjut oleh polres. Kami polsek hanya mem-back up,” ujarnya

Gadis ABG asal Kuningan Jawa Barat, berusia 16 tahun dinodai bergilir oleh tiga sopir angkot di rumah kontrakan kampung Cilenggang, Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Senin (30/1). Menurut informasi yang didapat Poskota, kronologis peristiwa perkosaan itu terjadi ketika korban asal Kuningan, Jawa Barat ini naik Angkot D.04 dari Cikokol ke BSD Serpong sekitar pk.24.00.

Sesampai di BSD, korban bukannya diturunkan dari angkot, tapi malah dibawa sopir angkot berinisial I ke kontrakan Kampung Cilenggang Rt 01/07 kelurahan Cilenggang,Serpong. Sesampai di kontrakan, korban kemudian diperkosa bergiliran oleh I dan dua temannya yang memang sudah berada di kontrakan tersebut.

Korban yang merasa ketakutan dengan sekuat tenaga berusaha lepas dari cengkraman sang sopir angkot. Ia kabur menuju jalan Raya Serpong sambil menangis. Sekitar pk.02.00 seorang Satpam bernama Rusdi sedang patroli menemukan korban sedang menangis di pinggir jalan. Setelah ditanya Rusdi, dia mengaku habis diperkosa 3 sopir angkot. Mendengan penuturan gadis ABG itu, Rusdi lalu membawa korban ke Polsek Serpong.

SUDAH CEK RUMAHNYA
Sementara itu Kasat Reskrim Polres Kota/kab Tangerang Kompol Shinto Silitonga,Sik yang dihubungi mengaku pihaknya sudah mendapat laporan kasus perkosaan tersebut. “Kami sudah cek TKP di rumah kontrakan di Cilenggang,” jelasnya sambil menyebutkan hasil pengecekan korban diperkosa pelaku di kamar tengah. Di lantai kamar, kata Shinto ada bekas sperma yang nampak sudah dibersihkan oleh pelaku.

“Kontrakan itu memang ditempati para sopir angkot,” ungkapnya sambil menegaskan kini tim Buser sedang memburu 3 pelakunya hingga tertangkap. Pelaku akan dijerat pasal UU Perlindungan anak dengan ancaman 15 tahun penjara.

Purnawirawan TNI Ditangkap Terkait Kasus Penggelapan Uang Di PT Marguna Tarulata Produsen Obat Kuat Pilkita

Seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir brigadir jenderal ditangkap anggota Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Tengah karena menggelapkan uang Rp1,2 miliar milik PT Marguna Tarulata, produsen obat kuat merek Pilkita.

“Tersangka penggelapan uang senilai Rp1,2 miliar berinisial PP ini merupakan mantan komisaris utama di perusahaan tersebut,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng Komisaris Besar Firli di Semarang, Minggu.

Ia mengatakan, pengungkapan kasus penggelapan uang perusahaan ini berdasarkan laporan dari Direktur Utama PT Marguna Tarulata bernomor LP/5/VI/2010/Dit Krim pada 2 JUni 2010.

“Sesuai dengan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di perusahaan tersebut, tersangka diberhentikan dari jabatannya sejak 12 Maret 2009 karena ada pergantian pengurus,” ujar Firli didampingi Kasubdit I Ekonomi Khusus dan Perbankan Ditreskrimsus Polda Jateng AKBP Roma Hutajulu.

Menurut dia, tersangka yang pensiun sejak 10 tahun lalu dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI itu melakukan penggelapan uang perusahaan secara bertahap setelah tidak lagi menjabat sebagai komisaris utama.

Tersangka melakukan penarikan uang perusahaan pada 15 Maret di Bank Danamon Tegal dan Bank BNI Tegal dengan nominal masing-masing Rp600 juta kemudian dimasukkan ke rekening pribadi.

“Tersangka beralasan mengambil uang sebesar itu karena merasa mempunyai saham di perusahaan tersebut,” katanya.

Firli menjelaskan, penetapan tersangka berdasarkan hasil penyidikan dan bukti-bukti yang ditemukan, antara lain akta pendirian perusahaan, berita acara RUPS, risalah rapat, notulen RUPS, aplikasi pembukaan rekening tabungan, dan uang tunai Rp63 juta yang diduga merupakan hasil kejahatan.

Menurut dia, berkas pemeriksaan tersangka yang beralamat di Jalan Rangu Raya Nomor 20, Pangkalan Jati, Depok Jakarta, itu dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah pada 5 Desember 2011 dan sempat mangkir dari panggilan penyidik kepolisian sebanyak dua kali hingga memenuhi pada 24 Januari 2012.

“Tersangka saat ini telah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Tegal sesuai dengan lokasi yang bersangkutan melakukan tindak pidana,” ujarnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tersangka dijerat dengan Pasal 372 KUHP dan Pasal 374 KUHP tentang Penggelapan.

Bos Power Steel Mandiri Dibunuh Debt Collectornya Sendiri Karena Tidak Mau Bayar Hutang Jasa Fee Debt Collector

Aksi pembunuhan terhadap bos PT Sanex Steel Indonesia, kini bernama Power Steel Mandiri, Tan Harry Tantono (45), dibunuh dilakukan ketiga tersangka di kamar 2701 Swiss-Belhotel, Sawahbesar, Jakarta Pusat, tempat di mana Harry tinggal di situ.

Sebelumnya, Harry sempat menghubungi salah satu pelaku untuk menemui dirinya di kamar hotel tersebut. Pertemuan akhirnya jadi dilakukan Kamis (26/1/2012) sekitar pukul 20.00. C, A, dan T datang dan menemui Harry.

“Dari pengakuan pelaku, perbincangan itu dilakukan di kamar hotel. Ketiga pelaku menanyakan masalah uang jasanya. Tapi korban tidak mau memberi uang yang sudah dijanjikannya itu. Pelaku kesal dan sempat mencaci maki korban,” papar Helmy.

Mulanya T yang mengeluarkan senjata tajam jenis pisau. Tanpa banyak tanya lagi, T menyerang Harry dengan menikam bagian perut sebelah kiri. Setelah T, pisau beralih ke tangan C. Dia juga menusuk tubuh Harry di bagian yang sama. Harry berusaha melawan. Namun karena jumlah lawan tidak sebanding, Harry menjadi bulan-bulanan dianiaya oleh ketiga pelaku.

Setelah T dan C, giliran A yang menggenggam pisau yang sudah berlumuran darah itu. Dari arah belakang, A menggorok leher Harry hingga dia jatuh tersungkur di lantai kamar hotel tersebut. Usai melampiaskan kemarahannya, ketiga pelaku pergi dari kamar hotel itu.

Diduga lantaran ingkar janji membayar hutangnya sebesar Rp 600 juta, bos PT Sanex Steel Indonesia, kini bernama Power Steel Mandiri, Tan Harry Tantono (45), dibunuh di Swiss-Belhotel, Sawahbesar, Jakarta Pusat, Kamis (26/1/2012) malam. Kasus ini terungkap setelah tiga orang pelaku yang menghabisi nyawa Harry menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya, Jumat (27/1/2012) dinihari.

Ketiga pelaku masing-masing C (30), A (28), dan T (23). Mereka tercatat tinggal di wilayah Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Ketiganya langsung menjalani pemeriksaan. Saat ini, Polisi sedang berusaha mencari senjata tajam berupa pisau yang digunakan pelaku untuk membunuh Harry.

“Dari pengakuan tiga orang yang diamankan ini, mereka membunuh karena persoalan fee yang belum dibayarkan. Nilainya Rp 600 juta,” kata Kepala Subdit Umum Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Helmy Santika , Jumat (27/1/2012).

Dijelaskan Helmy, C, A, dan T ini adalah penagih hutang atau debt collector. Selama ini mereka sudah menjalankan tugas dan amanah Harry untuk menagih hutang. Namun ketiganya belum juga menerima upah seperti yang telah dijanjikan Harry sebelumnya. Kesal dan kecewa dengan janji manis Harry, C dan kedua kawannya itu melampiaskan amarahnya dengan membunuh bosnya itu

Terjadi Lagi dan Lagi … Mahasiswi Sekolah Kebidanan Diperkosa Oleh Supir Angkot C 01 Jurusan Ciledug Kebayoran Baru

JM (18), seorang mahasiswi sekolah tinggi kebidanan diperkosa lima pria tak dikenal saat menumpang angkutan umum C01 jurusan Ciledug-Kebayoran Baru. Lima pria itu adalah para penumpang dan sopir angkutan yang ditumpanginya itu.

Berdasarkan penuturan teman korban, Rizal, peristiwa ini terjadi pada Jumat (20/1/2012) sekitar pukul 21.00 WIB. Saat itu korban hendak pergi ke rumah saudaranya di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Korban menaiki angkot C01 dari rumahnya yang terletak di wilayah Ciledug. Ketika menaiki angkot, korban melihat di dalamnya ada lima orang pria termasuk sopir.

“Tiba-tiba saat di dalam angkot, korban dipukul pakai suatu benda di kepala belakang sebelah kiri,” ucap Rizal, Minggu (22/1/2012), saat dihubungi wartawan.

Korban langsung lemas dan tak sadarkan diri. Korban lalu merasa tubuhnya diangkat oleh orang lain. “Dia merasa saat itu diperkosa di jalan. Tepatnya di dekat Pasar Kebayoran Lama,” ungkap Rizal.

Berdasarkan pengakuan korban, kata Rizal, lima pria yang ada di angkot itu, termasuk sang sopir, lalu menyetubuhinya. Namun, karena korban masih dalam keadaan lemas, ia tak mampu memberontak. Ia pun diperkosa dalam keadaan setengah sadar.

Pada Sabtu (21/1/2012) malam, korban melapor ke Polres Metro Jakarta Selatan. Hingga Minggu pukul 10.00, korban masih menjalani pemeriksaan intensif unit Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Polrestro Jakarta Selatan.

Lindy Melissa Pandoh PNS Kabupaten Minahasa Selatan Ditemukan Tewas Telanjang Bulat Dalam Avanza DB 4026 QJ

Berikut kronologi singkat ditemukannya jenazah Lindy Melissa Pandoh, pegawai negeri sipil di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) Sulawesi Utara (Sulut). Kronologi yang bersumber dari polisi sektor Malalayang. Sekitar pukul 17.45 Wita, Polsek Malalayang melakukan patroli menggunakan motor di Kawasan Pantai Malalayang.

Anggota polisi mencurigai sebuah mobil Avanza silver DB 4026 QJ yang terparkir di dekat Tugu Boboca, Malalayang. Mereka kemudian langsung mengecek lalu menyenter ke dalam mobil tersebut. Petugas terkejut karena menemukan sepasang kekasih, satu di antara mereka dalam keadaan telanjang bulat dan di sekujur tubuhnya penuh dengan darah. Ada tiga luka tusukan di bagian tubuh yakni, di dada perut dan paha kiri.

Belakangan dari kartu identitas, korban bernama Lindy Melissa Pondoh. Korban berasal dari Tongkaina, Bunaken dan saat ini bekerja sebagai PNS di Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Selatan. Sementara pria yang mengaku bernama Wensi dan bertugas sebagai Sat Pol PP Minsel dan tinggal di Desa Kinalawiran kecamatan Tompaso Baru Kabupaten Minahasa Selatan itu, tak bisa mengelak dari polisi.

Saat ditanya, Wensi mengaku perempuan terkena tikaman seseorang. “Waktu itu ada yang mau menikam saya, tapi saya mengelak dan mengenai Lindy Melissa Pandoh,” katanya seperti dituturkan polisi. Tak percaya begitu saja, polisi lantas mengamankan pria yang diduga sebagai pelaku itu ke Polsek Malalayang. Pengunjung kawasan Pantai Malalayang heboh dengan ditemukannya mayat gadis muda dalam kondisi tanpa busana alias bugil di dalam mobil Avanza silver. Polisi yang mengidentifikasi di tempat kejadian menemukan KTP korban dengan nama Lindy Melissa Pandoh.

Penelusuran Tribun Manado (grup Tribunnews.com), korban berasal dari Tongkaina Bunaken. Korban saat ini bekerja sebagai PNS di Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Selatan. Menurut pengakuan polisi, korban ditemukan dalam keadaan tak berbusana dan mengalami luka-luka di beberapa bagian tubuh. Dugaan sementara, korban meninggal akibat penganiayaan.

Kepada penyidik, tersangka Winzy mengaku khilaf dan menyesal sebab korban Lindy Melissa Pandoh terus memintah uang kepadanya. Tersangka mengakui tidak ada pemasalahan sebelumnya dengan korban. Dia mengaku bertanggungjawab atas perbuatan terhadap korban hingga korban kehilangan nyawanya.

Dia menceritakan, sebelum kejadian korban menghubunginya pada pukul 11.00 wita. Korban mengatakan kepadanya bahwa korban ingin menumpang mobilnya saat pulang ke Manado. Mereka pun berjanji akan bertemu jam 16.00 di kantor pengadilan.

Dikatakan, pembunuhan tersebut terjadi di kilometer 19, tepatnya di Desa Mokupa pada pukul 17.00 Wita. Setelah membunuh korban dia langsung mematahkan pisau dan membuangnya di hutan, lalu melanjutkan perjalanan ke Manado dengan perlahan hingga tibah di Pantai Malalayang pukul 19.20 Wita.

Dia mengakui tidak bersetubuh dengan korban karena saat itu dia hanya ingin mengganti pakaian namun kepergok patroli.
Akibat perbuatannya, Winzy dipastikan langsung dipecat dari pekerjaannya sebagai pegawai honorer pada Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP) Minsel. Perbuatan Winsy dinilai berpengaruh terhadap nama baik dari Sat Pol PP, bahkan memalukan citra Pol PP

Kematian Lindy Melisa Pandoh, yang tak wajar masih menjadi buah bibir masyarakat Manado. Bahkan dalam BlackBerry Masengger (BBM) telah beredar bila korban tidak benar berpacaran dengan si tersangka, Winsi W.

Selain itu juga, dalam edaran BBM juga menceritakan tentang kronologis kematian Lindy yang juga Pegawai Negeri Sipil (PNS) berwajah cantik tersebut.

Berikut kronologi kematian Lindy yang beredar luas melalui BBM

The real story of RIP LINDY MELISA PANDOH
Lindy Pandoh TIDAK berpacaran dgn si pelaku Wensy Warou…si pelaku SUDAH MENIKAH,dan tidak benar bahwa Lindy adalah pacarnya menurut kesaksian si pelaku..karna Lindy berpacaran dgn Romel Walingkas…(Yg kebetulan 1 kampung dgn Romel)
Sekitar jam 2 sore lindy mo ke Manado,pas semntra tunggu oto penumpang,si pelaku pas mo ke manado..lindy pada waktu itu janjian sama yg namanya tony..trus karna sudah dapatkan tumpangan Lindy bbm tony “biarjo qt so manumpang dg teman” karna sifat lindy cepat akrab dgn orang2 :( jd lindy anggap teman si pelaku :'(

Setelah diselidiki ternyata si pelaku memang terobsesi pada Lindy…waktu lalu dia melihat lindy dia berkata “seandainya lindy suka pa qt,qt se cerai qt pe bini”. Jd tidak benar bahwa mereka adalah sepasang kekasih!!!
Sktr jam 5 sore oto patroli bolak balik d pinggir pante malalayang,mereka curiga kenapa tu oto d situ trus…lalu drg senter,ada 2 org d dlm,1 tu satpol yg 1 telanjang penuh darah. Ternyata tu satpol so tunggu2 malam krn si pelaku mo buang tu mayat d laut,mar polisi so riki. Kasian Lindy, setelah diotopsi ada 15 tusukan,ada yg da tusuk dr kiri tembus d kanan,dg da iris2 silet dp muka dg badan….

Tadi malam di interogasi polisi,si pelaku tidak mengaku bahwa dia yg melakukan perbuatan biadab itu…dia mengatakan bahwa,pada saat sampai di pantai malalayang ada 2 org menyergap si mereka…yg 1 menahan Lindy yg satunya lagi menahan si Pelaku sebenarnya…dia juga mengatakan akan menikahi si Lindy…padahal sebenarnya mereka tidak ada hub.apa2 :(
Syukur trimakasih Tuhan sudah membuat dia mengaku bahwa dia adalah pelaku yg melakukan Pemerkosaan dan pembunuhan….
Tuhan yang memberi,Tuhan yang mengambil,terpujilah nama Tuhan….Semoga tenang disisiNya Lindy Melisa Pandoh…we always love you dear friend :(

Ineke Gandaprajitna Warga Victoria Park Residence Jalan Rama Raya 2 Blok 1-3 No. 22 Karawaci Tewas Bersimbah Darah Dirumahnya

Seorang wanita muda ditemukan tewas bersimbah darah di kamar rumahnya di Victoria Park Residence Jalan Rama Raya 2 Blok 1-3 No. 22 Rt. 01/09 Kelurahan Nusa Jaya, Karawaci, Kota Tangerang, Kamis (19/1/2012) pagi. Korban bernama Ineke Gandaprajitna, 39 tahun, diduga korban pembunuhan.

Dikutip dari Humas Polda Metro Jaya, jenazah korban pertama kali dari kecurigaan sopir korban, Suyono, 46 , yang melihat ada ceceran darah dari dalam rumah korban. Penghuni rumah tersebut dipanggil-panggil, namun tidak ada jawaban. Karena tak ada jawaban, Suyono pun memberitahu warga dan petugas security yang dilanjutkan ke Polsek metro Karawaci.

Petugas Polsek Metro Karawaci bersama warga kemudian memeriksa dan mendobrak pintu kamar dan menemukan korban sudah tewas bersimbah darah. Jenazah korban selanjutnya dibawa ke RSUD Tangerang. Sedangkan kasus hingga kini masih dalam penyelidikan Polresta Tangerang Kota dan Polsek Metro Karawaci

Perampok Minimarket Jakarta Ternyata Psikopat Pasangan Kekasih Seperti Bonnie and Clyde

Tersangka perampokan minimarket PAT alias P (25) dan RAP alias R (25) punya alasan sendiri kenapa nekat berbuat tindak kejahatan. PAT dan RAP mengaku berasal dari keluarga bermasalah (broken home) lalu hidup sendiri di jalanan dan terlalu malas untuk kuliah karena terlalu senang nyabu.

PAT mengaku setelah kedua orangtuanya bercerai, ia tinggal berpindah-pindah. Terkadang ikut Ayahnya di Padang atau ikut Ibunya di Medan. Sampai akhirnya tahun 2009, PAT memutuskan pergi dari kedua orangtuanya dan hijrah ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, PAT langsung bergaul di Kampung Ambon, Jakarta Pusat. Di Kampung Ambon inilah, PAT bertemu dengan tersangka lainnya RAP dan MA alias L. PAT pun memulai mencari kerja sebagai penimbang sabu. Sampai akhirnya merampok minimarket bersama RAP dan pacarnya MA.

“Kerja nimbang sabu belum mencukupi. Kosan saja Rp 800 ribu sebulan, mau pindah ke kosan yang murah … gengsi. Makan kami (dengan MA) berdua Rp 50 ribu sehari. Putus asa cari kerja di Jakarta,” akunya.

Serupa seperti PAT. RAP juga mengaku berasal dari keluarga broken. Kedua orangtua RAP bercerai saat usianya 4 tahun. Ia pun lantas dititipin orangtuanya tinggal di rumah tantenya di Jakarta. RAP pun hijrah dari Surabaya. Sampai di tingkat SMP, RAP kabur dari rumah tantenya.

“Ya hidup sendiri di jalanan. Sampai ketemu sama pacar yang mau bayarin biaya hidup,” katanya.

Pacar RAP lantas membiayai hidupnya hingga kuliah. RAP pun kembali ke Surabaya dan dibiayai kuliah oleh pacarnya di sebuah perguruan swasta di Surabaya. Namun kuliah RAP tak sampai selesai.

“Drop out. Terus putus dan pacaran sama yang lain,” jelasnya.

Sebelumnya Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol Angesta Romano Yoyol memerintahkan anggotanya untuk menangkap komplotan perampokan minimarket yang beberapa minggu terakhir sudah meresahkan masyarakat. Dengan dipimpin AKBP Hengki, tim penyidik akhirnya membekuk 4 tersangka.

Keempatnya ditangkap di tempat terpisah. PAT ditangkap pada Senin (16/1) pukul 09.00 WIB di Kampung Ambon. Dari keterangan PAT, pukul 12.30 WIB, tersangka MA alias L ditangkap di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Berselang 30 menit, pukul 13.00 WIB, tersangka TA alias T dibekuk. Terakhir, tersangka RAP ditangkap pukul 19.30 WIB saat hendak masuk ke Plaza Indonesia, Jakarta Pusat.

Pasangan kekasih PAT alias P (25) dan MA alias L (23) yang merampok minimarket di kawasan Jakarta, ternyata kecanduan narkoba. Begitu juga dengan tersangka lainnya RAP alias R (25), ditengarai terkait dengan jaringan narkotika.

“P dan L mereka kecanduan narkotika. Rata-rata semuanya kecanduan narkotika,” kata Kapolres Jakarta Pusat Kombes Angesta Romano Yoyol saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/1/2012).

Yoyol mengatakan, PAT dan tersangka TA alias T bekerja di Kampung Ambon sebagai penimbang sabu. “Dia suka nimbang-nimbang narkoba,” kata Yoyol. Sementara menurut Kepala Satuan Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Hengki Haryadi, tersangka P ditangkap di Kampung Narkoba, Jakarta Barat. “P dan L memang kerjanya di tempat narkoba, tapi ini masih kita dalami,” ujar Hengki.

Bekerja di sebuah event organizer (EO) membuat tersangka perampokan minimarket, RAP alias R (25) masih belum bisa memenuhi kebutuhannya. Apalagi RAP punya utang sebesar Rp 7,5 juta juga di Pegadaian. RAP pun akhirnya mengaku merampok minimarket.

“Saya kerja di EO. Tapi kan kerja di EO nggak rutin dapat penghasilan. Ada utang yang harus dibayar Rp 7,5 juta. Jadi ya butuh uang untuk nutupi utang meskipun lebih sering buat foya-foya sambil nyabu,” ujar RAP .

Menurut RAP, pertama kali ia merampok minimarket yaitu minimarket di Circle-K Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di Kelapa Gading, RAP beraksi bersama PAT alias T (25). “Pertama di Kelapa Gading. Awalnya jalan-jalan. Terus sampai di Kelapa Gading lagi ramai tempatnya (minimarketnya). Terus balik lagi sudah sepi,” jelasnya.

Saat beraksi di Kelapa Gading, pacar RAP, IA juga ikut. Namun RAP mengaku pacarnya tidak tahu menahu mengenai aksinya. Saat aksi berlangsung, IA sedang tidur di dalam mobil. “Dia sebenarnya nggak tahu. Dia tidur. Pas sudah pulang baru saya bangunin dia,” ungkapnya. Sementara itu Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat AKBP Hengki Haryadi mengatakan komplotan ini sudah beraksi setahun terakhir. Motifnya berawal dari uji nyali alias suka mencoba-coba.

Minimarket yang sepi dan tidak memasang Circuit Closed Television (CCTV) menjadi sasaran empuk komplotan perampok, PAT cs. Mereka mensurvei minimarket sebelum beraksi.

“Mereka mengincar minimarket yang sepi, nggak ada satpam dan CCTV-nya,” kata Kapolres Jakarta Pusat Kombes Angesta Romano Yoyol saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/1/2012).

Yoyol mengatakan kawanan ini melakukan survei lebih dulu ke lokasi sasaran. Survei dilakukan dalam waktu yang singkat. “Hari itu survei, hari itu juga mereka melancarkan aksinya,” ujar Yoyol.

Dalam aksinya, kata Yoyol, masing-masing tersangka memiliki peran yang berbeda. Tersangka P yang merupakan otak perampokan dan tersangka R, bertugas menodongkan senjata airsoft gun.

“Yang lainnya menunggu di dalam mobil atau motor,” imbuhnya.

Sementara Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Hengki Haryadi menambahkan, tersangka L bertugas sebagai ‘pengepul’ dana hasil kejahatan.

“Dia sempat SMS pacarnya ‘masa cuma segini hasil ngerampok’,” kata Hengki.

Hengki mengatakan kendaraan operasional yang dibawa tersangka yakni motor dan mobil.

“Kadang pakai motor, kadang pakai mobil. Mobil punya tersangka P,” imbuh Hengki.

Setelah datang ke lokasi, dua tersangka yakni P dan R menodongkan senjata airsoft gun ke kasir. Mereka lalu menggasak uang yang ada di meja kasir, juga beberapa barang lain seperti cokelat, susu dan lain-lain.

“Mereka kadang menggunakan masker. Kalau pas bawa motor, mereka masuk ke minimarket menggunakan helm,” lanjutnya.

Usai merampok, kawanan ini lalu membagi-bagikan uang hasil kejahatannya. Rata-rata, uang hasil kejahatan digunakan untuk foya-foya.

Adapun, tersangka sudah melakukan 9 kali perampokan di 9 minimarket berbeda di kawasan DKI Jakarta. Selama aksi itu, mereka telah mengumpulkan uang sebesar Rp 30 juta lebih.

Empat dari lima perampok minimarket yang selama sepekan ini telah meresahkan warga dibekuk. Empat tersangka yakni tiga laki-laki berinisial PAT alias P, TA alias T dan RAP alias R serta seorang perempuan berinisial MA alias L, yang juga kekasih tersangka P.

Salah satu tersangka, RAP alias R mengaku merampok minimarket karena alasan desakan kebutuhan ekonomi. Padahal RAP sendiri bekerja sebagai koordinasi sebuah event organizer (EO).

“R malah bekerja sebagai koordinator event organizer (EO),” kata Kepala Satuan Reskrim Polres Jakata Pusat, AKBP Hengki Haryadi kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/1/2012).

Menurut Hengki, RAP berasal dari keluarga mampu. Begitu juga dengan PAT. Sedangkan tersangka MA, TA, dan IA yang masih buron masih belum jelas keterlibatan mereka ikut dalam aksi perampokan ini.

“Kalau PAT dan MA alias L, mereka baru pulang liburan di Bali terus kehabisan uang, lalu muncul ide merampok. Yang RAP alias R, IA dan TA alias T, belum jelas,” ujarnya.

Seperti diketahui, polisi menangkap empat dari lima pelaku perampokan minimarket di kawasan Jakarta. Tiga tersangka yakni pria berinisial PAT alias P, TA alias T dan RAP alias R serta wanita berinisial MA alias L.

“Tersangka I (perempuan) masih dikejar,” imbuhnya.

Tersangka P ditangkap di Jalan Berlian, Kampung Ambon, Jakarta Barat pada Senin (16/1). Dari keterangan P, polisi berhasil membekuk tersangka T di Jl Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Barat, lalu tersangka R yang ditangkap di Plaza Indonesia dan tersangka L ditangkap di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Kawanan ini, setidaknya telah melakukan perampokan di 9 lokasi berbeda di kawasan Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Sasaran mereka adalah minimarket.