Monthly Archives: Februari 2012

Pemain Sriwijaya FC Hilton Moreira Bersama Pramugara Lion Air Ditangkap Polisi Karena Percobaan Pemerkosaan Terhadap Pramugari Lion Air

Pemain Sriwijaya FC Hilton Moreira ditangkap petugas Polres Metro Kota Tangerang. Hilton ditangkap atas dugaan pelecehan seksual terhadap pramugari Lion Air.

“Iya benar dia ditangkap karena aduan tersebut,” ujar salah satu pejabat di Polres Metro Kota Tangerang yang enggan disebutkan namanya, Senin (27/02/2012).

Pejabat kepolisian itu tidak merinci lokasi penangkapan. Namun Moreira ditangka pada Minggu (26/2) pukul 20.00 WIB. Moreira pada Rabu (22/2) dilaporkan seorang pramugari karena nyaris memperkosa di Apartemen THe Colour, Modernland, Cikokol, Tangerang.

Sang pramugari itu, khawatir kasus ancaman pemerkosaan itu akan terulang. Dia pun melaporkan ke polisi.

Informasi yang dikumpulkan, peristiwa itu bermula saat sang pramugari yang sedang tidak enak badan dikunjungi beberapa temannya yaitu MG (20), VA (21), dan AZ (19) di apartemen tempat dirinya tinggal. Ketika dikunjungi itu, dirinya sempat tidur karena sedang sakit.

Namun, begitu terbangun, di ruang tamu apartemennya sudah ramai dengan WNA yang berjumlah 3 orang. Satu orang berkulit putih, dua orang hitam.

Meski terkejut, dirinya berusaha tidak mengambil pusing, dan akhirnya ikut bergabung dengan teman-temannya yaitu VA, AZ dan ketiga WNA itu, sementara itu MG sudah pergi. Namun, tiba-tiba salah dua orang berkulit hitam tersebut melecehkannya, dengan menggerayangi tubuh LS. Korban lalu pindah ke dalam kamarnya, tapi pria berkulit gelap tersebut tetap mengikutinya.

Korban yang sempat meminta pertolongan AZ tidak bisa bebuat apa-apa karena AZ malah memegangi tangan LS. Kedua pria berkulit hitam itu pun justru semakin nekat, dengan mencoba membuka baju dan celana korban. Sang pramugari pun berteriak. Teriakan itu membuat para tamu tersebut pergi sambil tertawa-tawa.

Kasat Reskrim Polres Metro Kota Tangerang, AKBP Rahmat menjelaskan, korban merasa dirugikan dan melaporkan kejadian ini ke Polres Kota Tangerang pada Kamis (23/2) 01.00 WIB lalu.

“Kami masih melakukan penyelidikan. Kami fokuskan pada teman korban yang juga seorang pramugara Lion Air berinisial AZ,” ujar Rahmat.

Siswi SMP Di Garut Lolos Dari Pemerkosaan Karena Pelaku Sudah Ejakulasi Dini Sebelum Sempat Menelanjangi Korban

Ejakulasi dini bisa jadi petaka bagi kaum Adam, tapi bagi siswi SMP ini merupakan berkah. Remaja itu lolos dari pemerkosaan gara-gara pelaku tindakan amoral itu ejakulasi dini.

Siswi SMP di Garut itu semula diberitakan menjadi korban pemerkosaan Y alias R. Setelah mendapat pemeriksaan medis, kegadisan siswi SMP itu masih utuh. Itu karena pelaku ejakulasi dini.

Gagal memperkosa korban, tersangka meninggalkan korban begitu saja di gubuk di persawahan 500 meter dari rumah korban, Selasa (21/2). Sebelumnya pelaku meminta uang kepada korban sebesar Rp 2.000.

Kasat Reskrim Polres Garut AKP Yusuf Hamdani menyatakan bahwa selain dimintai uang, pada bagian telinga korban terdapat luka, diduga tersangka akan menjambret anting yang dikenakan korban.

“Kami bersyukur, ternyata hasil visum dokter, kegadisan korban masih utuh, hanya terdapat luka di bagian telinga korban,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (22/2/2012).

Walaupun selamat, kondisi kejiwaan korban sangat terguncang. Hingga saat ini aparat kepolisian masih kesulitan memintai keterangan korban.

“Kemungkinan korban sangat terguncang akibat perlakuan terangka yang nyaris memperkosanya,” ungkap Yusuf.

Sementara itu, tersangka Y atau R, menjelaskan, dia berangkat dari rumah kedua orang tuanya di Kampung Galemo, Wado Sumedang, dengan naik angkutan umum, menuju rumah neneknya di Malangbong, tidak jauh dari rumah korban.

“Saat beristirahat saya lihat korban dan tiba-tiba ada hasrat untuk memperkosa. Selain itu tempatnya sepi,” ucapnya saat menjalani pemeriksaan di Mapolres Garut.

Y mengaku bahwa ia tinggal di Kampung Kebon Coklat, Kelurahan , Pasar Atas, Kota Cimahi, bekerja sebagai tukang cuci mobil. Bersama teman-temannya, Y sering menonton blue film.

“Saya memang sering terangsang kalau melihat wanita. Atas kejadian kemarin saya menyesal,” katanya.

Siswi SD 12 Tahun Di Garut Diperkosa Remaja 18 Tahun Serta Di Tonton Teman Temanya

Malang menimpa NT (12), warga Kampung Cirawa Jati, Desa Mekar Asih, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Siswi SMPN 1 Malangbong itu diperkosa sepulang sekolah di saung yang tak jauh dari rumahnya oleh YE (18).

Gilanya, aksi perkosaan tersebut disaksikan oleh dua orang teman YE yang hingga saat ini masih dalam pengejaran jajaran Polsek Malangbong.

Kapolsek Malangbong, Kompol Edison Harepa, mengatakan peristiwa tersebut terjadi saat NT pulang sekolah, Selasa sore tadi sekitar pukul 14.30 WIB. Di jalan sepi sekitar 500 meter dari rumah NT, tersangka YE membekap korban dari belakang dan menggusur ke sebuah gubuk di persawahan, lalu korban diperkosa hingga jatuh pingsan.

“Baru saja korban tersadar. Memang dia diperkosa seorang diri oleh YE yang disaksikan oleh dua orang temannya,” ujar Edison kepada wartawan, Selasa (21/2/2012).

Pihak Polsek Malangbong hingga malam ini berhasil menangkap tersangka YE, warga Kampung Kebon Coklat, Kelurahan Pasar Atas, Kecamatan Cimahi, Kota Cimahi. Kini tersangka masih dalam pemeriksaan petugas.

“Sementara dua orang teman tersangka masih kita kejar karena diduga turut membantu tindak kejahatan pemerkosaan,” ungkap Edison.

Sementara itu, korban NT saat ini masih menjalani visum dokter di Puskesmas Malangbong. Kondisi kejiwaan korban sangat terguncang dan masih syok.

“Kita menunggu pengembangan kasus ini setelah kondisi kejiwaan korban mulai stabil,” pungkas Edison.

Kronologi Penyerangan Di RSPAD Gatot Subroto Yang Menewaskan 2 Orang dan Melukai 6 Orang Serta Dilakukan Oleh Wanita

Penyerangan brutal terjadi di Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto pada Kamis (23/2/2012) dini hari menyebabkan dua orang tewas.

Kepala Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Angesta Romano Yoyol mengatakan, peristiwa tersebut bermula saat kelompok yang berjumlah 15 orang sedang melayat salah seorang kerabatnya, yakni Bob, di Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto. Mereka berkumpul di rumah duka itu pada Rabu (22/2/2012) pukul 22.00.

Pada Kamis dini hari tepatnya pukul 01.30, sekitar 50 orang tak dikenal mendatangi rumah duka. Mereka datang dengan menumpang delapan mobil taksi. “Begitu keluar, mereka bawa golok dan langsung menyerang secara membabi buta kelompok yang sedang duduk-duduk di rumah duka itu,” ucap Yoyol, Kamis pagi, saat dihubungi wartawan.

Kelompok penyerang ini langsung menyeruak masuk dan menikam para pelayat. Penyerangan, kata Yoyol, berlangsung selama 20 menit. Sebanyak dua orang tewas di lokasi kejadian, yakni Stanley AY Wenno dan Ricky Tutu Boy dari kelompok pelayat. Sementara itu, enam orang lainnya mengalami luka berat hingga ringan. Mereka adalah Oktavianius (35), Yopi (35), Stanley (39), Ricky (37), Erol (38), dan Jefrey (38) yang juga dari kelompok pelayat.

Setelah menyerang, para pelaku lalu meninggalkan lokasi menggunakan taksi. Menurut Yoyol, kedua kubu berasal dari Kampung Ambon, Jakarta Barat. Korban tewas sudah dievakuasi ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), sementara enam korban luka dilarikan ke RS Mitra Kemayoran. Polisi kini juga tengah mengejar pelaku. Motif penyerangan masih belum diketahui.

Bentrokan yang terjadi di antara dua kelompok pemuda di Rumah Duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto di Jalan Abdul Rahman Saleh Nomor 24, Jakarta Pusat, dini hari tadi, berlangsung sadis. Hal itu dikatakan Egidius (20), salah seorang saksi mata. Peristiwa tersebut diakui terjadi sekitar pukul 02.00 saat ia tengah berjaga di Ruang A RSPAD, tempat jenazah salah satu keluarganya disemayamkan.

“Kami lagi duduk-duduk di depan sana, mereka kejar orang dari depan. Yang beta lihat dua orang,” ujarnya kepada Kompas.com di lokasi kejadian, Kamis (23/2/2012).

Kelompok tersebut diakui berjumlah belasan dan semuanya menggunakan senjata tajam berupa parang. “Beta tidak tahu mereka ke sini naik apa. Korban yang satu kabur bersembunyi di dalam ruangan rumah duka, itu ditebas sampai putus tangannya,” ujarnya.

Dia mengatakan, salah satu korban lainnya sempat diserang di bagian dada dan punggung sampai terjatuh. Peristiwa kedua tersebut berjarak sekitar 20 meter dari ruangan rumah duka. “Kami lihat tidak begitu jelas, tapi dia masih bangun lagi, lari ke tempat parkir, sampai dibantai di sana. Kondisinya mengenaskan sekali. Ada luka bacok di leher,” ujarnya.

Diakuinya, setelah membantai dua orang tersebut, pelaku kemudian melarikan diri ke arah pintu gerbang rumah sakit. Dalam peristiwa yang berlangsung lebih kurang 20 menit tersebut, Egi sama sekali tidak melihat aparat kepolisian atau TNI yang berjaga sehingga kelompok tersebut dengan mudahnya masuk dan melakukan penganiayaan.

Egi yang berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, mengaku tidak mengenal, baik belasan orang yang menganiaya, maupun kedua korban. Ia mengaku bahwa kejadian begitu cepat dan pada saat pembantaian terjadi, dia bersembunyi di bawah meja sambil mengintip pembantaian tersebut. Diketahui, identitas korban tewas adalah Ricky Tutu Boy, kelahiran Ambon 29 april 1975, warga Jalan F Kalasut RT 08 RW 06 Barong Utara, Sorong, Papua, dengan luka di kepala. Korban tewas lainnya adalah Stanley AY Wenno, warga Jalan Ruas B2 Kemayoran, Jakarta Pusat, dengan luka di kepala dan perut, serta kaki kiri patah.

Sementara itu, informasi satu korban lain yang dikabarkan tewas masih belum bisa dipastikan. Salah satu korban luka diketahui bernama Oktavianus Maximilion, warga Jalan Kelapa Dua Wetan Nomor 1A RT 11, Cibubur, dengan luka tusuk di perut kiri. Semuanya berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Polda Metro Jaya telah mengidentifikasi bahwa kedua kelompok yang terlibat dalam bentrokan berasal dari kelompok pemuda daerah tertentu. Kepolisian Daerah Metro Jaya sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Dari lokasi, polisi menemukan sebuah gagang parang, celana, dan kemeja berlumuran darah.

Hal ini disampaikan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, Kamis (23/2/2012), di Mapolda Metro Jaya. “Barang bukti yang disita adalah gagang parang, celana, dan kemeja berlumuran darah,” ujar Rikwanto.

Seluruh barang bukti itu diduga milik para kelompok penyerang. Saat ini, seluruh barang bukti sedang diuji tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor). “Nanti kita lihat hasil Labfor-nya,” papar Rikwanto.

Diberitakan sebelumnya, sekelompok orang tak dikenal yang berjumlah sekitar 50 orang menyerang sekelompok orang yang tengah melayat kerabatnya di RSPAD Gatot Subroto, Kamis (23/2/2012) dini hari pukul 01.30 WIB.

Sebanyak dua orang tewas di lokasi kejadian, yakni Stenley Wenno dan Ricky Tutuboy. Sedangkan enam orang lainnya mengalami luka berat hingga ringan.

Mereka adalah Oktvianius (35), Yopi (35), Stanley (39), Ricky (37), Erol (38), dan Jefrey (38). Polisi saat ini masih memeriksa EC yang dicurigai sebagai salah satu pelaku penyerangan.

Ricky Tutu Boy dan Stanley AY Wenno diketahui bekerja sebagai penagih utang atau yang kerap disebut debt collector. Hal tersebut dikatakan Sumiyati (31), istri Stanley, saat bertemu di kamar jenazah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, Kamis (23/2/2012).

“Kerjanya debt collector, tapi nggak ngerti kerjaannya kaya apa,” ujarnya kepada wartawan sambil mengeluarkan air mata.

Sehari-hari, suaminya tidak pernah bercerita ada masalah dalam pekerjaannya. “Nggak ada masalah sebelumnya, tiba-tiba nemuinnya sudah mayat aja,” lanjutnya.

Sumiyati mengungkapkan bahwa ia kali terakhir bertemu Stanley sekitar pukul 20.00 di rumahnya di kawasan Kramat Pulo, Kramat, Jakarta Pusat. “Dia bilang mau nengok temannya yang meninggal. Saya juga nggak kenal,” lanjutnya.

Almarhum yang berasal dari Maluku tersebut diakui Sumiyati sempat memberikan uang sebesar Rp 20.000 ke anak tunggalnya, Brian Weno (13), sebelum pergi.

Sumiyati mengaku terpukul saat kali terakhir melihat jenazah Stanley karena kondisi tubuh suaminya sangat mengenaskan dengan luka besar di bagian kening dan lengan, serta luka tusuk di bagian pinggang sebelah kiri. Ia mengaku tidak tahu motif penganiayaan yang berakibat tewasnya suami yang dinikahinya 14 tahun lalu tersebut.

Sebelumnya diberitakan, terjadi bentrokan di antara dua kelompok di dalam Rumah Duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto di Jalan Abdul Rahman Saleh Nomor 24, Jakarta Pusat, sekitar pukul 01.30 dini hari.

Pihak kepolisian masih menyelidiki motif tewasnya dua orang tersebut. Namun, Polda Metro Jaya telah mengidentifikasi bahwa kedua kelompok yang terlibat dalam bentrokan berasal dari sesama kelompok pemuda daerah tertentu. Seorang dari puluhan pelaku penyerangan di halaman parkir Rumah Duka RSPAD di Jakarta Pusat, adalah seorang perempuan. Adapun enam orang yang menjadi korban penyerangan, tidak satu orang pun masuk daftar pencarian orang (DPO) Polda Metro Jaya.

“Berdasarkan keterangan saksi, salah seorang yang ikut dalam rombongan penyerang itu seorang perempuan. Ciri-cirinya berbadan kurus, tinggi, dan rambutnya kemerahan,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, Kamis (23/2/2012) siang.

Sementara ketika ditanya, siapa saja saksi tersebut, ia menolak menyebut nama-nama saksi, dengan alasan untuk melindunginya dan keperluan penyidikan.

Rikwanto menambahkan, enam orang yang menjadi korban penyerangan itu, tidak satu pun yang masuk daftar pencarian orang, terkait kasus pembunuhan Tan Harry Tantono.

Terkait kasus pembunuhan Tan Harry, selain sudah menangkap enam orang tersangka kasus pembunuhan itu, polisi masih mencari sekitar 10 orang lagi, yang diduga terlibat atau mengetahui proses pembunuhan terhadap pengusaha peleburan baja itu. Pembunuhannya terjadi di kamar 2701 Swiss Belhotel pada 26 Januari lalu.

Bagian Forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) telah melakukan otopsi terhadap kedua jenasah korban penganiayaan hingga menyebabkan meninggal dunia. Hasilnya, kedua korban diidentifikasi mengalami luka akibat senjata tajam.

“Jadi, proses otopsi itu ada dua, otopsi luar dan otopsi dalam. Korban pertama atas nama Riki Tutu Boy (37), hanya dilakukan otopsi luar atas permintaan keluarga,” ujar Yuli Budiningsih, Kepala Departemen Ilmu Forensik dan Medikolega RSCM.

Pria asal Maluku tersebut diketahui mengalami luka mengenaskan di bagian tubuhnya, yaitu luka akibat senjata tajam di leher sampai menembus ke pembuluh darah, kerongkongan putus, luka lecet lengan, tungkai, kaki dan kepala. Sementara korban meninggal kedua bernama Stanley AY Wenno (39) diketahui telah dilakukan otopsi dalam dan luar. Hasilnya ia diidentifikasi mengalami luka akibat senjata tajam di dahi dan pelipis menembus ke otak, lengan, perut.

Kedua jenasah adalah korban penyerangan yang terjadi di area parkir Rumah Duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto di Jalan Abdul Rahman Saleh No. 24, Jakarta Pusat, sekitar pukul 01.30 WIB. Situasi di kamar jenazah di RSCM pun tampak didatangi oleh kerabat dan keluarga korban yang berasal dari Maluku. Meski demikian, tidak ada yang mau berkomentar tentang peristiwa tersebut.

asca-penganiayaan yang mengakibatkan dua orang meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto di Jalan Abdul Rahman Saleh Nomor 24, Jakarta Pusat, dini hari lalu, kedua jenazah masih disemayamkan di kamar jenazah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Kamis (23/2/2012).

Berdasarkan pantauan Kompas.com, dari kedua jenazah yang disemayamkan, yaitu Ricky Tutu Boy dan Stanley AY Wenno, hanya keluarga dari almarhum Stanley yang berada di ruangan jenazah, sementara belum ada pihak yang mengatasnamakan keluarga dari Ricky.

Sumiati, istri Stanley, mengaku masih tak percaya, pria yang dinikahinya 14 tahun silam tersebut meninggal dengan cara yang mengenaskan. “Tiap hari dia sebenarnya pulang ke rumah, kemarin doang izin minta nggak pulang,” ujarnya sambil tak kuasa menahan tangis.

Kerabat kedua korban tampak berada di sekitar ruangan jenazah. Mereka yang rata-rata berkulit gelap, berbadan kekar, dan sebagian bertato tersebut menunggu kedua jenazah diserahkan kepada keluarga untuk disemayamkan.

Sebelumnya diberitakan, terjadi bentrokan antar-kelompok yang terjadi di dalam Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto di Jalan Abdul Rahman Saleh Nomor 24, Jakarta Pusat, sekitar pukul 01.30. Pihak kepolisian masih menyelidiki motif tewasnya dua orang tersebut. Namun, Polda Metro Jaya telah mengidentifikasi kedua kelompok yang terlibat dalam bentrokan itu berasal dari daerah yang sama.

Isak tangis keluarga pecah saat salah satu jenazah, Stenly AY Wenno, korban penyerangan di RSPAD Gatot Subroto, dini hari tadi, dipindahkan dari kamar otopsi ke ruang persemayaman di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, Kamis (23/2/2012).

“Biar dihukum mati pelakunya, karena dia sudah bunuh suami saya,” teriak Sumiyati (31), istri korban.

Sumiyati datang bersama anak semata wayangnya, ibunya, dan sepupunya. Sumiyati hanya bisa memandangi petugas rumah sakit mendorong kereta jenazah menuju ruang persemayaman sambil menangis tersedu-sedu.

Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi, jenazah Stenly telah selesai diotopsi dan dimandikan sekitar pukul 14.10 WIB. Mengenakan jas hitam dengan bunga mawar di saku kiri, jenazah pria berbadan kekar tersebut dibaringkan di dalam peti jenazah. Tampak luka bekas jahitan disepanjang pelipis dan dagu.

Anak tunggal korban, Brian Wenno (13) yang masih duduk di kelas VI SD, tampak terduduk lesu sambil terisak. Tampaknya, bocah lugu tersebut telah mengerti peristiwa yang terjadi pada ayahnya. “Enggak mau kayak bapak, ngeri,” ujarnya sambil menatap dengan pandangan kosong.

Dia mengenang saat terakhir bertemu adalah pada malam sebelum insiden yang merenggut nyawa ayahnya tersebut. “Bapak kasih duit Rp 20.000, katanya buat sekolah besok,” kata bocah yang bercita-cita menjadi pemain bola terkenal tersebut.

Hingga Kamis sore, baru jenazah Stenly yang telah dibawa ke ruangan persemayaman untuk selanjutnya dibawa ke kediaman masing-masing. Sementara jenazah Ricky Tutu Boy masih berada di ruang otopsi dan belum ada keluarga yang menjemput. Kedua jenazah merupakan korban penyerangan oleh sekelompok orang dengan menggunakan senjata tajam di RSPAD Gatot Subroto, dini hari lalu. Pihak kepolisian telah menangkap empat pelaku dan tengah melakukan penyelidikan intensif.

Dokter Yuli Budiningsih dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengatakan dua korban tewas dalam perkelahian di Rumah Duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) disebabkan kekerasan senjata tajam.

Kepala Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolega, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, ini menuturkan korban pertama, Ricky Tutuboy, 37 tahun, ditemukan dengan luka di leher sampai menembus ke dalam, memutuskan pembuluh darah di leher, tulang rawan gondok.

“Luka utamanya di leher. Kerongkongannya putus jadi seperti digorok,” kata Yuli kepada wartawan, Kamis, 23 Februari 2012. Luka lain juga ditemukan. Tapi, menurut Yuli, itu tidak fatal. “Luka lecet di lengan, tungkai, dahi. Terjatuh barangkali,” ujarnya. Ada pula luka dangkal terbuka di daerah kepala.

Hasil otopsi korban kedua, Stendly Ayweno, 39 tahun, menunjukkan terdapat luka tebasan sajam di kepala, dari dahi sampai pelipis sepanjang sepuluh sentimeter. “Tembus sampai tulang tengkorak dan sampai ke otak,” katanya. Terdapat juga luka lain di lengan bawah, perut, jari, dan kepala belakang.

Ricky meninggal di tempat. Sedangkan luka Stendly sempat dijahit di RSPAD sebelum meninggal.

Terhadap jenazah Ricky, kata dia, sudah dilakukan pemeriksaan luar maupun dalam. Sedangkan pada jenazah Stendly, tim medis melakukan pemeriksaan luar karena pihak keluarga tidak menyetujui otopsi atau pemeriksaan dalam. “Saya tidak tahu alasannya. Biasanya banyak yang menolak otopsi karena dianggapnya sudah jelas sebab (kematiannya) dan sudah menerima,” ucap Yuli.

Soal jenis senjata, Yuli mengatakan belum dapat menyimpulkan. Yang jelas, luka-luka itu karena senjata tajam, bukan senjata api. “Kami belum meneliti sampai ke sana. Luka tembakan tidak ada, cuma luka akibat kekerasan sajam,” ujarnya lagi.

Lebih lanjut mengenai soal itu, menurut dia, adalah wewenang penyidik. “Tentang jenis senjata, itu kewenangan penyidik. Kami hanya yang berkaitan dengan tubuh manusia,” katanya.

Pukul enam pagi, RSCM menerima kedua jenazah. Bersama jenazah, pihak rumah sakit menerima surat permintaan visum dari kantor Kepolisian Sektor Senen, Jakarta Pusat.

Sebelumnya, sekitar pukul 02.00, sekelompok orang menyerang beberapa orang di Rumah Duka RSPAD. Saksi mata menyebutkan orang-orang itu membawa parang dan menebas korban.

Pihak kepolisian hingga saat ini masih bekerja keras untuk menyelidiki motif penusukan pada peristiwa penusukan di RSPAD. Beberapa orang telah diperiksa untuk mengetahui kronologis peristiwa tersebut.

“Kita enggak tau motifnya seperti apa. Karena orang besuk kok tau-tau di serang. Itu yang masih kita selidiki,” terang Kabareskrim Polri, Komjen Pol Sutarman, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (23/2/2012).

Sutarman juga mengakui pihaknya hingga kini belum mengetahui apakah peristiwa ini terkait dengan kelompok tertentu atau tidak. Karena ini masih dalam tahap penyelidikan awal.

“Belum kita temukan ada keterkaitan dengan kelompok mana. Saat ini kita masih melakukan pengumpulan bukti, keterangan saksi terhadap peristiwa tersebut,” tuturnya.

Sebelumnya, terjadi penyerangan di RSPAD terjadi sekitar pukul 01.30 WIB – 02.30 WIB. Puluhan pelaku yang menumpang taksi tiba-tiba menyerang beberapa orang di rumah duka RSPAD. 4 Orang terluka dan 2 orang meninggal yaitu:

1. Oktavianus Mag Milion, mengalami luka tusuk di pinggang kanan.
2. Yopi Jonatan B, mengalami luka di kepala, pergelangan tangan, pinggang.
3. Stendly Wenno, meninggal dunia dengan luka di dahi, perut dan kepala.
4. Ricky Tutuboy, meninggal dengan luka bacok kepala dan wajah.
5. Errol Karl, mengalami luka di bahu kiri dan kepala.
6. Jefry H, mengalami luka di pinggang kiri.

Penipuan Berkedok MLM Gaya Koperasi Langit Biru

Kasus penggelapan dana bermotif multi level marketing (MLM) kembali mencuat. Kali ini, Koperasi Langit Biru pelakunya. Modusnya berupa investasi daging dalam berbagai paket, mulai Rp 385 ribu hingga Rp 14 juta dengan bonus hingga 259 persen per bulan. Banyak akal bulus Koperasi Langit Biru untuk menjerat nasabahnya. Salah satunya dengan brosur pengentasan kemiskinan warga muslim. “Mereka mengajak investasi untuk membantu pengentasan kemiskinan warga muslim,” ujar Rochadi, 47 tahun, salah satu nasabah koperasi asal Cikupa, Tangerang, kepada Tempo, Selasa, 21 Februari 2012.

Brosur koperasi yang dibagikan menjadi umpan pertama koperasi untuk menjerat nasabah. Setelah membaca brosur tersebut, Rochadi pun ikut bergabung karena ajakan sang istri. “Bagaimana tidak percaya karena tertulis di brosurnya untuk pengentasan kemiskinan warga muslim,” ujarnya.

Iswadi, warga Cikupa yang lain, menambahkan dalam satu tahun terakhir, brosur investasi yang dilakukan koperasi cukup berhasil. Banyak warga Cikupa yang bergabung menjadi nasabah. “Bahkan, ada yang sampai jual mobil, tanah segala,” katanya.

Namun, seiring dengan mencuatnya persoalan koperasi, banyak warga yang kemudian mengeluh. “Kemarin sempat ada warga curhat, bingung soal uangnya di koperasi,” ujar pedagang warung nasi Padang ini.

Masalah muncul ketika pembayaran profit mulai seret dan sejumlah pihak mengadukan ke kepolisian. Duit ratusan miliar dari ratusan ribu nasabah hingga kini tidak jelas kemana rimbanya. Mulai pertengahan bulan ini, kepolisian menggandeng Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mulai menyelidiki kasus penggelapan dana investor yang diduga dilakukan oleh oleh Koperasi Langit Biru.

Bisnis Kelompok John Refra alias John Kei Tersebar Di Indonesia, Singapura dan Australia

Kelompok pemuda pimpinan John Refra, alias John Kei, populer dengan nama Pemuda Kei. Nama itu diambil dari daerah asal mereka, yaitu Kei, di Maluku. Kelompok ini memiliki pesaing yang terdiri dari para pemuda Flores.

Di bawah pimpinan John Kei, kelompok ini bergerak di jasa pengamanan dan penagihan utang. Kelompok ini menguasai pusat perbelanjaan Tanah Abang di Jakarta Pusat. Tidak cukup hanya di Tanah Air, bisnisnya meluas ke Singapura dan Australia.

Kelompok John Kei banyak berbisnis di jasa pengamanan tempat hiburan, pembebasan lahan, dan lahan parkir. Pentolan kelompok Kei, Agrafinus, mengklaim bisnisnya bukan usaha kelas rendahan. “Kami etnis Maluku tidak ada bisnis penjagaan tempat hiburan,” ujar Agrafinus dalam wawancaranya dengan majalah Tempo yang terbit pada 15 November 2010.

Karena itu, bisnis tempat parkir dan tempat hiburan tidak disentuh John Kei cs. Pemuda Kei beberapa kali dikabarkan terlibat dalam bentrokan. Tidak jarang perkelahian menimbulkan pertumpahan darah yang menyebabkan korban tewas.

Kompetitor kelompok John Kei berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dipimpin oleh Thalib Makarim. Mereka menguasai pusat hiburan elite di daerah Jakarta Selatan. Lingkungan pasar di Blok M dan Melawai pun dikuasainya.

Salah satu tempat hiburan ternama yang dikuasai kelompok Thalib adalah “Blowfish Kitchen and Bar” di gedung Menara Mulia, Jakarta Selatan. Di situlah mereka bertugas menjaga keamanan.

Pada 4 April 2010, terjadi bentrokan antara kelompok Kei dan kelompok Flores. Pertumpahan darah mengakibatkan dua anggota kelompok Kei tewas.

Bentrokan Blowfish ini berlanjut dalam persidangan 29 September 2010 di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, di Jalan Ampera. Sidang ini menyulut pertikaian yang mengakibatkan jatuhnya lebih banyak korban. Tiga orang dari kelompok Kei tewas, puluhan lainnya luka-luka.

Wakil Angkatan Muda Kei (AMKei), Daud Kei, mengatakan konflik sudah bukan lagi melibatkan kelompok, namun membawa nama daerah. “Ini bukan antara Kei dan Flores, tapi antara Maluku dan Flores Ende. Jangan salah tulis,” katanya.

Kini John kembali berhadapan dengan hukum. Ia ditangkap pada Jumat malam, 17 Februari 2012 di sebuah kamar di Hotel C’One, Pulomas, Jakarta Timur. Ketika ditangkap, ia sedang bersama artis Alba Fuad yang mengisap obat terlarang jenis sabu-sabu.

John ditangkap atas dugaan terlibat kasus pembunuhan Direktur Power Steel Mandiri Tan Harry Tantono. Harry ditemukan tewas dengan luka penuh tusukan di Swiss Bell Hotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat, 26 Januari 2012.

John Kei, alias John Refra, dikenal memiliki bisnis jasa pengamanan yang cakupannya luas. Di Ibu Kota, bisnis tersebut menguasai wilayah Tanjung Priok sampai Tanah Abang. Bahkan bisnisnya juga berkembang ke luar negeri hingga menyeberang ke Singapura dan Australia.

Menurut salah seorang pentolan kelompok John Kei, Agrafinus, kelompok John Kei juga berfokus kepada jasa penagihan utang dan pengacara. Wawancara tersebut diterbitkan di majalah Tempo pada 15 November 2010.

Pria yang sempat menjadi pencari bakat tinju ini, sebelum ditangkap pada Jumat malam, 17 Februari 2012, pernah terbentur berbagai kasus. Pada 2008, John Kei ditangkap di Kota Tual, Maluku. Ia diduga menganiaya dua warga Tual, Charles Refra dan Remi Refra. Penganiayaan menyebabkan jari kedua pemuda itu putus.

Sidang pada kasus tersebut diselenggarakan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya pada 9 Desember 2008. Pemindahan tempat sidang disebabkan situasi keamanan tidak memadai untuk mengadili preman seperti John Kei yang sudah sangat dikenal di daerahnya.

Kelompok John Kei pernah bentrok dengan kelompok Basri Sangaji yang juga asal Maluku. Perseteruan kedua kelompok terjadi di Diskotek Stadium, Jakarta Barat, pada 2004. Bentrokan menewaskan dua orang.

Pada Juni 2005, bentrok kelompok John Kei-Basri kembali terjadi di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat. Kakak John Kei, Walferus Refra, tewas dalam bentrokan ini. Kematian Walferus disebut-sebut sebagai ganti rugi nyawa atas kejadian di Diskotek Stadium yang menewaskan anggota kelompok Basri.

John Kei kembali berurusan dengan kepolisian setelah ditangkap Jumat malam, 17 Februari 2012 di sebuah kamar di Hotel C’One, Pulomas, Jakarta. Ia ditangkap bersama artis Alba Fuad ketika keduanya tengah pesta sabu-sabu.

John ditangkap atas dugaan terlibat kasus pembunuhan Direktur Power Steel Mandiri Tan Harry Tantono. Harry ditemukan tewas dengan luka penuh tusukan di Swiss Bell Hotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat, 26 Januari 2012 lalu.

Tito Refra, adik kandung John Kei, menuduh Kepala Satuan Reserse Mobil (Resmob) Kepolisian Daerah Metro Jaya Ajun Komisaris Besar (AKBP) Herry Heriawan yang menembak kakaknya.

Tito menyampaikan hal tersebut setelah membesuk John Kei yang sedang dirawat di Rumah Sakit Kepolisian RI Kramat Jati pada Minggu 19 Februari 2012.

“Saat bertemu dia (John Kei) hanya satu hal yang saya tanyakan. Apa yang terjadi saat penangkapan?” kata Tito di RS Polri Kramat Jati, Senin 20 Februari 2012. “Dia bilang ketika pintu kamarnya dibuka, polisi acungkan senjata. Dia angkat tangan kemudian ditembak,” kata Tito.

Tito mengatakan John ingat siapa yang menembaknya itu. Menurut John yang menembak adalah AKBP Herry Heriawan.

Herry Heriawan sendiri membantah ia menembak John Kei. Ia mengatakan dirinya datang terlambat saat penangkapan. “Saya datang sudah bubar,” ujarnya ketika dihubungi pada Sabtu 18 Februari 2012 dini hari lalu.

John Kei ditangkap di Hotel C’one, Pulomas, Jakarta Timur, pada Jumat 17 Februari 2012 malam. Juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan ada 75 reserse yang dikerahkan untuk menangkap John. Menurut Rikwanto jumlah polisi yang dikerahkan sepadan dengan tingkat ancaman. “Dia itu kan orang yang dituakan. Ke mana-mana pasti banyak loyalisnya yang ikut,” katanya.

Keluarga Made Purnabawa Tewas Mengenaskan Dibunuh Supir Pribadi dan Istrinya Di Jembrana Bali

Hasil otopsi terhadap tiga mayat keluarga Made Purnabawa menunjukkan adanya bukti kekerasan. Ketiga korban dibunuh dengan benda tumpul. ”Bukti adanya benda tumpul itu ada di bagian kepala,” kata Kepala Bagian SMF Ilmu Kedokteran Forensik Universitas Udayana Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Ida Bagus Putu Alit, Selasa (21/2/2012).

Tiga mayat keluarga Made Purnabawa itu ditemukan di Banjar Sumbul, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali, Senin kemarin. Ketiga mayat tersebut adalah Purnabawa (27), Ni Luh Ayu Sri Mahayoni (istri, 27), dan Ni Wayan Krisna Ayu Dewi (anak, 9).

Menurut Alit, tanda bekas benda tumpul itu terdapat di kepala bagian kiri (mayat Mahayoni), kepala bagian kanan (mayat Ayu Dewi), serta kepala dan wajah (mayat Purnabawa). ”Di tubuh Purnabawa juga terdapat tanda bekas perlawanan di lengannya,” kata Alit.

Kini polisi telah menduga pelaku pembunuhan itu adalah sopir keluarga Purnabawa, yaitu Heru Ardianto. Heru beserta istri dan anaknya yang juga tinggal bersama keluarga Purnabawa masih menghilang.

Keluarga Purnabawa yang tinggal di Kampial Residence, Kelurahan Benoa, Kuta Selatan, Badung, Bali, diduga dibunuh sopirnya sendiri. Pembunuhan diduga bermotif dendam.

Made Purnabawa (27), Ni Luh Ayu Sri Mahayoni (istri, 27), dan Ni Wayan Krisna Ayu Dewi (anak, 9) ditemukan tewas setelah menghilang satu pekan lalu. Mayat keluarga itu ditemukan di sebuah kebun di Banjar Sumbul, Desa Yehembang Kangin, Mendoyo, Jembrana, Bali, Senin (20/2/2012) pagi.

Sejak keluarga itu menghilang, sopir korban, yaitu Heru Ardianto juga. menghilang. Heru menghilang bersama istri dan anaknya. Istrinya merupakan pembantu keluarga Purnabawa.

“Pelaku kami duga adalah orang yang tinggal bersama mereka (sopir), ” kata Kepala Kepolisian Resor Kota Denpasar Komisaris Besar I Wayan Sunartha, Senin malam setelah menerima hasil otopsi mayat Purnabawa di ruang jenazah Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar, Senin malam.

Polisi menduga pelaku sudah berada di luar Bali. Mobil milik korban diperkirakan juga sudah dibawa pelaku. Ketika keluarga Purnabawa diketahui menghilang, satu unit mobil, dan dua unit sepeda motor milik korban juga lenyap. Hasil otopsi terhadap tiga mayat yang ditemukan di Banjar Sumbul, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali, menunjukkan bahwa mereka meninggal karena dibunuh. Dua dari tiga mayat diidentifikasi sebagai keluarga yang dilaporkan hilang msiterius.

“Mereka kami pastikan dibunuh,” kata Kepala Polres Kota Denpasar Komisaris Besar I Wayan Sunartha, Senin malam. Pembunuhan itu diperkirakan terjadi sepekan lalu.

Mayat yang teridentifikasi itu adalah mayat Made Purnabawa (27) dan istrinya, Ni Luh Ayu Sri Mahayoni (27). Mayat pasangan suami istri itu ditemukan dalam kondisi bertumpuk di sebuah kebun.

Sementara mayat anak perempuan yang berada sekitar 10 meter dari kedua mayat tersebut belum dapat diidentifikasi. Alasannya, kepala korban sudah hancur dan berada sekitar 2,5 meter dari tubuhnya. “Kami akan tes DNA dulu,” kata Sunartha.

Keluarga Made Purnabawa diketahui menghilang sejak awal pekan lalu. Purnabawa memiliki seorang anak perempuan berusia 9 tahun, yaitu Ni Wayan Krisna Ayu Dewi.

Hilangnya keluarga Purnabawa juga diikuti dengan hilangnya sopir mereka, yaitu Heru Ardianto. Istri dan anak Heru juga menghilang.

Tiga mayat yang ditemukan di Banjar Sumbul, Desa Yeh Embang, Kecamatan Mendoyo, Senin (20/02/2012) sekitar pukul 07.00 WITA pagi tadi, seluruhnya dalam kondisi mengenaskan. Tubuh ketiga korban sudah membusuk, bahkan mayat anak kecil ditemukan di dalam jurang dengan kondisi tidak utuh.

“Satu mayat diidentifikasi laki-laki dewasa, satu wanita dewasa dan seorang lagi anak kecil perempuan. Semuanya sudah membusuk dan anak kecil ditemukan sekitar 8 meter di dalam jurang,” ujar Kabag humas Polres Jembrana, AKP Wayan Setiajaya Senin siang.

Saat ini aparat Polsek Kuta Selatan yang menangani kasus keluarga hilang sudah berada di Jembrana untuk mencocokkan ciri-ciri ketiga mayat dengan keluarga yang tinggal di Kampial Residence tersebut.

“Mayat akan diantar petugas Polsek Kuta Selatan dan akan dibawa ke RS Sanglah untuk diotopsi,” jelas Setiajaya. Dari olah TKP, polisi menemukan sebuah telepon genggam, remote, dan selimut di sekitar mayat korban. “Barang bukti ini akan diperiksa oleh Labfor,” imbuh Setiajaya.

iga mayat yang ditemukan di Banjar Sumbul, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali, Senin (20/2/2012) pagi, sudah tiba di ruang jenazah Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar, sekitar pukul 20.00 wita.

Tiga mayat tersebut kemudian dibawa satu per satu ke ruang otopsi. Otopsi dilakukan untuk memastikan bahwa ketiga mayat tersebut merupakan mayat dari keluarga Made Purnabawa di Kampial Residence, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Bali.

Keluarga Made Purnabawa (27) menghilang secara misterius sejak awal pekan lalu. Purnabawa hilang bersama istri dan anaknya, Ni Luh Ayu Sri Mahayoni (27) dan Ni Wayan Krisna Ayu Dewi (9). Heru Ardianto, sopir Purnabawa, beserta istri dan anaknya, Ni Putu Anita dan Agus, juga ikut menghilang.

Senin pagi sekitar pukul 07.00 wita, seorang petani menemukan tiga mayat yang terdiri mayat pria dewasa, perempuan dewasa, dan anak perempuan usia 9 tahun.

Saat penyerahan mayat tersebut tampak beberapa tetangga dan kerabat Made Purnabawa. Meski demikian, polisi belum dapat memastikan bahwa ketiga mayat itu adalah keluarga Purnabawa. Namun, dalam catatan medis penyerahan mayat itu, tertulis nama Purnabawa, istri, dan anaknya.

“Otopsi kira-kira berlangsung dua jam,” kata Kepala Bagian Humas Polda Bali Komisaris Besar Hariadi