Monthly Archives: Maret 2012

Punya Hobi Videokan Para Siswi Yang Lagi Mandi Telanjang Seorang Siswa Ditangkap Polisi

Seorang siswa di sekolah menengah elit terpaksa berurusan dengan hukum. Semuanya berawal dari hobinya memvideokan para siswi di sekolah itu yang sedang mandi dan disimpan sebagai koleksinya di komputer.

Siswa usia 16 tahun itu bersekolah di Charterhouse School, salah satu sekolah bergengsi dan mahal biayanya di Inggris Raya. Per tahun, pelajar yang sekolah di sana harus membayar 30 ribu poundsterling atau di kisaran Rp 430 juta.

Belum jelas apakah video porno yang direkam sang siswa itu sudah disebarkan ke internet atau media lainnya. Namun polisi setempat langsung tanggap karena perbuatan itu dinilai sebagai kasus pornografi anak di mana korbannya masih di bawah umur.

Tersangka yang tidak disebutkan namanya karena alasan hukum telah ditangkap dan diwawancarai polisi sebagai bagian dari investigasi. Ia dibebaskan sementara dengan uang jaminan. Pihak sekolah pun mengakui ada siswanya yang ditangkap.

“Charterhouse bisa mengkonfirmasi bahwa seorang siswa telah ditanyai oleh polisi tentang material yang ditemukan di komputernya,” kata juru bicara sekolah, seperti dilansir DailyMail Senin (26/3/2012).

Tidak dijelaskan bagaimana pelaku bisa merekam temannya yang sedang mandi. Kemungkinan, dia menempatkan kamera video tersembunyi.

Jika terbukti, kasus ini bisa mempermalukan nama sekolah itu, yang punya alumni terkenal seperti Baden Powell yang adalah pendiri kepramukaan. Namun memang pornografi anak dipandang sebagai kejahatan serius di Inggris. Pembuat dan pemirsa tontonan pornografi anak biasanya mendapat hukuman cukup berat.

Pacar Menyamar Di Facebook Untuk Memeras Kekasih Agar Berpose Mesum dan Telanjang

Pasangan kekasih seharusnya saling menyayangi. Namun tidak demikian bagi Darrel Bingham, pria asal Inggris ini. Dia menipu habis-habisan pacarnya sendiri melalui situs jejaring Facebook.

Bingham membuat profil palsu di Facebook. Ia menyamar sebagai seorang pemain football, kemudian berteman dengan pacarnya tersebut. Si pacar tidak mengetahui profil tersebut palsu dan dibuat oleh pacarnya sendiri.

Nah melalui profil palsunya, Bingham berhasil merayu si pacar untuk mengiriminya foto telanjang. Kemudian setelah dikirimi, ia mengancam akan menyebarkan foto bersangkutan jika sang pacar tidak mau menuruti permintaannya.

Takut dengan ancaman tersebut, wanita yang tak disebut namanya itu pun terpaksa menuruti permintaan Bingham. Ia berpose mesum siang dan malam melalui webcam. Pemerasan ini berlangsung selama enam bulan lamanya.

Bingham sendiri tetap berpura-pura menjadi pacar yang baik. Ketika dilapori masalah tersebut oleh si pacar, ia pun pura-pura marah dan berjanji akan menyelesaikannya. Bahkan, ia mengaku sudah membunuh Grant dan menunjukkan fotonya.

Namun kemudian, ia ternyata tetap melanjutkan aksinya. Bingham membuat profil Facebook lainnya yang mengaku sebagai teman Grant. Kembali ia meminta sang pacar berpose bugil karena mengaku memiliki foto foto mesumnya terdahulu.

Tidak tahan dengan keadaan tersebut, sang pacar curhat kepada temannya yang lapor pada polisi. Polisi pun berhasil membongkar penyamaran Bingham dan menangkapnya. Tidak diketahui alasan Bingham sehingga melakukan perbuatan jahat itu. Yang pasti si pacar merasa sangat terluka.

“Saya merasa dikhianati dan sakit hati. Ketika saya tahu pelakuknya adalah Bingham, aku hancur. Dia adalah satu-satunya orang yang kuandalkan,” kata korban

Dewi Buruh Di Cirebon Mencoba Membunuh Ibu Kosnya Karena Diminta Bayar Uang Kos

Kesel ditagih uang kos dengan cara gedor-gedor pintu saat sedang tidur, seorang buruh pabrik garmen nekat menikam pemilik rumah kos dengan cara dibekap saat sedang tidur. Beruntung korban yang juga istri seorang anggota TNI dari kesatuan Arhanud Cirebon, itu selamat dan hanya mengalami luka dibagian tangan dan bahu terkena sabetan senjata tajam, Sabtu (24/3/2012).

Informasi yang diperoleh, tersangka bernama Dewi, 19, warga Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, saat itu tengah tertidur di dalam kamar kosnya. Tersangka baru lima hari menghuni kamar kos yang berada di RT 03 RW 02 Blok Buyut, Desa Karang Mulya, Kecamatan Plumbon. Pemilik kos, Ny Uherti, 31, istri Aat Suhardi, yang rumahnya berada tak jauh kost-kosan datang ke kamar tersangka dengan maksud untuk menagih uang kos. Kebetulan sejak menempati lima hari sebelumnya, tersangka belum membayar.

Rupanya kedatangan korban untuk menagih uang kos tersebut membuat tersangka kesal. Apalagi saat menagih dengan cara menggedor pintu itu, dilakukan saat tersangka tengah tertidur. “Siapa yang tidak kesel, dia gedor pintu keras banget, saya khan jengkel, saya tidak peduli dia juga jengkel karena saya tidak mau bayar uang kos tapi kalo dia buat saya jengkel harus dikasih pelajaran,” kata tersangka.

Karena keselnya itulah, perempuan bertubuh kecil ini marah dan dendam terhadap korban. Ketika malam tiba, tersangka mengambil pisau di dapur. Lalu dia mendatangi rumah korban, dan mendapati korban sedang tertidur. Tak rasa takut, tersangka mengambil bantal dan membekapkan ke wajah korban. Korban kaget dan sempat melawan.

Tersangka sudah kalap, dan mengeluarkan pisau dari sakunya. Pisau itu dia hujamkan ke tubuh korban. Tapi korban yang terus berontak hingga pisau itu hanya megenai bagian tangan dan bahu korban saja. Meski demikian darah sudah berceceran di lantai. Usai melampiaskan aksinya, tersangka melarikan diri.

Menurut Kapolsek Depok AKP Dian S, tersangka memang sudah berniat melakukan perbuatan itu. “Selain sudah membawa pisau, tersangka juga sudah mengemasi pakaiannya. Rencananya setelah melakukan perbuatan itu tersangka akan kabur, tapi tersangka sudah kita amankan di Mapolsek Depok,” kata kapolsek.

Selain mengamankan tersangka, polisi juga menyita barang bukti berupa pisau, kaos dan bantal korban yang berlumuran darah.

Polisi Perkosa Tahanan ABG Kemudian Dibebaskan Sebagai Imbalannya

Aparat Kepolisian Resor Timor Tengah Utara menyelidiki kasus pemerkosaan terhadap tahanan yang dilakukan oleh anggota polres setempat, Bripda DT. Setelah diperkosa, tahanan itu dibiarkan kabur dari sel markas polres.

“Awalnya kami menduga korban melarikan diri dengan cara merusak plafon ruang tahanan,” kata Kepala Polres Timor Tengah Utara Ajun Komisaris Besar I Gede Made Suparwitha, yang dihubungi Tempo dari Kupang, Jumat 23 Maret 2012.

Dugaan itu muncul karena plafon di ruang tahanan rusak. Namun, setelah dilakukan dicek ulang, ternyata korban dilepas anggota polisi, DT, yang sedang bertugas malam itu. Polisi pun memeriksa memeriksa korban, YM, yang ditangkap kembali pada 20 Maret 2012, pelaku, dan keluarga korban.

DT diduga memerkosa YM, perempuan berusia 16 tahun yang ditahan di sel polres akibat kasus pencurian. YM mengisahkan saat itu dia sedang tidur di dalam ruang tahanan. Tiba-tiba ia dibangunkan oleh DT, yang saat itu sedang piket, Jumat malam lalu.

DT pun menyuruh korban merusak plafon ruangan tahanan itu. Karena tidak berhasil, DT kemudian masuk ke dalam sel dan merusak plafon tersebut. Lalu DT mengajak korban kabur melalui pintu sel. “Dia (DT) mengajak saya keluar. Katanya akan mengantar saya pulang ke rumah,” kata YM.

Keduanya lalu berjalan melewati belakang kantor polres dan asrama polisi. Di sekitar lokasi itulah DT memerkosa YM. “Kami kemudian pulang ke rumah. Di tengah jalan, saya disuruh pulang sendiri. Akhirnya saya pulang dengan menumpang ojek,” ujar YM.

Memburu Harta Karun 60 Milyar Milik Pegawai Pajak Dhana Widyatmika

Wajah laki-laki muda itu sangat pucat. Pria yang mengenakan baju batik cokelat itu terlihat sangat sedih. Bahkan shock. Ia hanya diam menunggu penyidik Kejagung membuat surat penahanan terhadap dirinya.

Pria muda itu adalah Dhana Widyatmika, mantan pegawai pajak yang menjadi tersangka kasus korupsi dan pencucian uang. Jumat, 2 Maret 2012 malam hari, Kejagung memutuskan untuk menahan Dhana setelah memeriksanya dua kali. Ia ditahan selama 20 hari.

“Penahanan dilakukan mulai tanggal 2 sampai 21 Maret 2012. Malam ini sudah ditahan di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung,” kata Kapuspenkum Kejaksaan Agung, Adi Toegarisman kepada majalah detik.

Pada 17 Februari 2012, Kejagung telah menetapkan Dhana sebagai tersangka kasus korupsi dan pencucian uang. Namun, anehnya Dhana baru diperiksa pertama kali pada Kamis, 1 Maret 2012.

Dhana tiba di Kejagung pukul 07.00 WIB, tiga jam sebelum jadwal pemeriksaan. Setibanya di Gedung Bundar, Dhana disuguhi air mineral dalam gelas kemasan. Namun suguhan itu tak diminumnya. Kamis 2 Maret 2012, itu ia sedang puasa. Dia memang terbiasa puasa Daud.

Hari itu, Dhana diperiksa Kejagung untuk pertama kalinya. Ia dijerat Pasal 3, 5, 11, 12ab, dan 12 B ayat 1 dan 2 UU No. 31 Tahun 1999 tentang korupsi dan pasal 3 dan undang-undang Nomor 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan pencucian uang. Dhana juga telah dicekal selama 6 bulan.

Kejagung mengklaim ihwal penyidikan kasus ini bermula dari laporan masyarakat. Laporan itu diterima pada akhir tahun 2011. Kejagung menerima data pendukung dari Pusat Pelaporan Transaksi Keuangan (PPATK) tentang transaksi tidak wajar di rekening pribadi milik Dhana. “Laporan itu hanya dipakai sebagai informasi penegak hukum untuk menindaklanjuti,” kata Jaksa Agung Basrief Arief.

Menurut data yang dilansir Kejagung, selama 2005 hingga 2011, diketahui adanya transaksi uang antara Rp 500 juta hingga Rp 1,9 miliar ke rekening Dhana. Beberapa rekening sudah diblokir, ada yang di Bank Mandiri, BCA, Bukopin, BNI dan Bank Mega.

Kejagung menduga Dhana melakukan penyimpangan selama menjadi Account Representative (AR) di Kantor Pajak. AR hampir mirip tugasnya dengan customer service di bank. Sebagai AR, Dhana bertugas menangani pemeriksaan pajak sampai keberatan di Pengadilan Pajak.

Direktur Penyidik pada Jampidsus Kejagung, Arnold Angkow, mengatakan, setidaknya ada enam perusahaan wajib pajak yang dicurigai menjadi sumber uang yang masuk ke rekening Dhana. Enam perusahaan ini merupakan wajib pajak yang ditangani Dhana.

Uang dari wajib pajak itu diduga lantas dipergunakan Dhana untuk berbisnis, antara lain dengan jual beli mobil melalui PT Mobilindo. Seorang sumber di Gedung Bundar menuturkan, uang yang diperoleh Dhana itu dipakai juga untuk membeli aset-aset. “Seperti membeli tanah, rumah, dan mobil. Tapi semuanya udah campur-campur begitu,” katanya.

Sumber itu menambahkan, sebagai AR Kantor Pajak, Dhana dekat dengan para wajib pajak. Tapi, ketika ditanya apakah modus yang dipakai Dhana sama dengan Gayus Tambunan, dia cuma tersenyum kecil.

Sempat beredar kabar yang kurang jelas, kekayaan Dhana sebagai PNS Ditjen pajak mencapai angka Rp 60 miliar. Kejagung hingga kini belum menyebutkan angka pasti kekayaan Dhana itu. Termasuk, nilai aset yang telah disita dari Dhana seperti mobil dan beberapa sertifikat.

***

Setelah diperiksa hampir 9 jam, akhirnya, sekitar pukul 18.45 WIB, Dhana keluar dari ruang penyidikan. Ditemani tiga pengacaranya, Dhana muncul dengan baju batik warna cokelat, mengenakan topi hitam dan masker. Wajahnya selalu tertunduk.

Lewat dari pintu kaca Gedung Bundar, PNS Golongan III/C itu langsung dikerubuti wartawan yang sudah menunggunya dari pagi. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan, tetapi tak dijawab. Ia terus dikawal menuju pintu mobilnya, meski tertahan oleh wartawan. Saling dorong pun terjadi.

Dhana mencoba masuk melalui pintu sebelah kanan mobil Toyota Avanza B 907 DA itu, tetapi tak berhasil. Ia lalu berlari kembali masuk ke dalam. Akibat kericuhan itu, kening Dhana mengalami luka, entah apa sebabnya. Kabarnya, dia kena pukul. Begitu juga dengan penasihat hukum dan para jaksa yang mengawal Dhana. Mereka mengalami benturan-benturan di badan dan kepala.

Tak cuma itu, kamera seorang fotografer juga rusak karena terjatuh. Mobil Avanza berwarna silver itu pun rusak di bagian pintu belakang sebelah kanan. “Tak bisa ditutup nih, mobil adik ipar lagi,” keluh sopir yang mengantar Dhana itu.

Di dalam sebuah ruangan di Gedung Bundar, Dhana dibiarkan seorang diri. Sementara di luar gedung, pengacara dan petugas Pengamanan Dalam (Pamdal) Kejagung bernegosiasi dengan wartawan. Pengacara Dhana, Daniel Alfredo, sempat bersitegang dengan wartawan, tetapi emosinya langsung mereda.
Selang beberapa menit kemudian, Dhana kembali tenang. Ia diboyong keluar sekitar pukul 19.30 WIB. Kini tampaknya ia lebih percaya diri menghadapi sorot kamera. Masker dan topi tak lagi menghiasi wajahnya.

Alfredo berbicara seputar pemeriksaan perdana kliennya. “Baru ditanya seputar pekerjaannya saja. Besok akan kembali dilanjutkan,” ucap dia. Dhana, yang berdiri di dekat Alfredo, diam dengan wajah pucat. Hanya sebentar, Dhana lalu masuk ke dalam mobil. Buliran bening tampak menetes dari kedua matanya.

Alfredo pun membantah kliennya melakukan korupsi dan pencucian uang. Ia pun mengklarifikasi berita-berita yang ada. Ditegaskan, Dhana tidak memiliki kekayaan fantastis. Rekening yang dimiliki Dhana pun bukan 18, tapi hanya lima. Uang yang berada di kelima rekening itu pun hanya berjumlah ratusan juta rupiah bukan 60 miliar. “Jumlah uang yang ada di rekening Pak Dhana itu hanya Rp 450 juta,” kata Alfredo.

Kekayaan Dhana, lanjut Alfredo, bukan hasil korupsi saat menjadi pegawai pajak. Tapi berasal dari harta warisan orang tuanya dan bisnis yang ditekuninya sejak sebelum menjadi PNS. Dhana memang tumbuh di keluarga yang berada. “Duit itu asal muasal dari warisan dan usaha dia,” kata Alfredo.
Pagi harinya, Jumat, Dhana dengan didampingi Daniel Alfredo dkk kembali memenuhi pemeriksaan lanjutan di Kejagung. Kali ini Dhana tampak sedikit lebih tenang, meski dia masih datang ke Kejagung dengan mengenakan topi.

Pada pemeriksaan kedua ini, penyidik melanjutkan pemeriksaan administratif dan masih menanyakan banyak hal terkait pekerjaan Dhana di Ditjen Pajak. Nah, mulai menjelang sore, materi pemeriksaan sudah masuk tahap substansi perkara.

Di tengah pemeriksaan, Dhana sempat dibawa ke kantor pusat Bank Mandiri di Jl Gatot Subroto, untuk menginventarisir kembali uang dan barang-barangnya yang disimpan di save deposit box yang kini disita Kejagung. Hasilnya, tak ada perubahan data.

Tak lama setelah kembali ke Kejagung, sekitar pukul 21.00 WIB, Kejagung memutuskan menahan pria yang dikenal para tetangga dan koleganya sebagai orang baik itu. Kejagung mengaku sudah punya cukup bukti. Tapi, bukti apa yang dimiliki Kejagung, belumlah jelas. Dhana tak percaya dengan keputusan Kejagung yang begitu cepat. Ia shock berat!

Beda Dhana dengan Gayus

Dhana Widyatmika sempat disebut-sebut sebagai ‘The Next Gayus’. Ini karena keduanya sama-sama mantan pegawai pajak dan dijerat dengan pasal yang sama, penyuapan dan pencucian uang.

Dhana kini ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh Kejaksaan Agung. Data Kejagung, ada transaksi mencurigakan dalam jumlah besar di rekening Dhana. Kekayaan pegawai golongan III/C itu pun disebut-sebut cukup fantastis.

Apakah kasus Gayus dan Dhana ini saling berkaitan? Wakil Jaksa Agung Dharmono tak menutupi kemungkinan itu. Penyidik kini terus mengembangkan penyidikan terhadap dana.

Pengacara Dhana tak memungkiri Dhana dekat dengan Gayus. Namun, mereka memberi catatan, Dhana hanyalah seorang Account Representative yang tak berhubungan terlalu jauh dengan para wajib pajak. Tugas Dhana cuma melayani konsultasi dan mengingatkan wajib pajak agar membayar pajak.
Jadi nggak ada kewenangan dia untuk katakan menutupi kasus ini atau apa,” kata pengacara Dhana, Reza, kepada majalah detik.

Secara logika, katanya, tidak mungkin wajib pajak memberi uang miliaran rupiah kepada Dhana atas konsultasi pajak itu. Ia membenarkan adanya mutasi dalam rekening milik Dhana, namun itu merupakan transaksi bisnis yang dibangun oleh kliennya.

Reza menilai Kejagung terlalu buru-buru memproses hukum Dhana. Meski tidak menyalahkan, namun opini di masyarakat tentang Dhana sudah berkembang sedemikian rupa. Dhana sendiri keberatan disamakan dengan Gayus. “Sangat tidak relevan masalah ini dikaitkan dengan Gayus Tambunan,” katanya.
Sementara Gayus juga keberatan namanya diseret-seret dalam kasus juniornya ini.

Mantan anggota DPR dari PKS, Misbakhun, memberi kesaksian Dhana sangat berbeda dengan Gayus. Dhana merupakan orang yang sangat taat beribadah dan berkepribadian kuat. “Jauh berbeda secara profile pribadinya,” kata Misbhakun kepada majalah detik.

Misbakhun mengenal Dhana saat masih sama-sama bekerja di Dirjen Pajak. Ia tidak yakin Dhana memiliki rekening dengan nilai Rp 60 miliar. “Angka 60M itu pergeseran mutasi debet kredit rekening di bank berbeda tapi ditotal penjumlahan oleh kejaksaan. Aslinya tidak sejumlah itu,” ujar Misbakhun.

Selasa, 21 Februari 2012, menjadi siang yang sungguh sibuk bagi Kuntadi. Jaksa senior di Kejagung ini memimpin Tim Satuan Khusus Penanganan Perkara Tindak Pidana Khusus (PPTPK) untuk sebuah misi penting.

Siang itu, tim yang terdiri sekitar 60 orang jaksa dengan naik sejumlah mobil bergerak meninggalkan Kejagung. Mereka berpencar untuk melakukan penggeledahan ke lima tempat yang berbeda. Satu tim mendatangi Kantor Ditjen Pajak Kementerian Keuangan, sementara yang lain menyebar.

Di Kantor Ditjen Pajak itu, tim menuju ke salah satu ruangan di lantai 19. Ruangan itu adalah bekas tempat kerja Dhana Widyatmika, Pegawai Negeri Sipil (PNS) Ditjen Pajak golongan III/C. Mereka hendak melakukan penggeledahan.

Si pemilik ruangan tidak ada di tempat. Lalu, penyidik meminta istri Dhana, Dian Anggraeni (DA), untuk melepon suaminya. Dian juga pegawai Ditjen Pajak, tepatnya di bagian Keberatan Saksi Banding dan Gugatan. Kita harus pegang dulu orangnya (Dhana),” kata salah satu sumber majalah detik yang ikut serta dalam penggeledahan itu.

Tak hanya kantor Dhana, ruangan istrinya pun juga digeledah. Di tempat lain, tim juga sedang bekerja. Sekitar 15 orang penyidik mendatangi showroom Mobilindo milik Dhana di Jl. Raya Dermaga Nomor 38 Duren Sawit, Klender, Jakarta Timur. Mereka mengubek-ubek showroom jual-beli truk itu. Sebelumnya selama dua hari ada yang survei-survei. Dia Tanya-tanya,” kata penjual es kelapa di depan showroom itu.

Tempat lain yang digeledah tim adalah rumah Dhana di Jl. Elang Indopura, Blok A7/15, Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jaktim, dan Bank Mandiri di Jl. Gatot Subroto. Di berbagai tempat itu, tim PPTPK melakukan sejumlah penyitaan barang bukti.

Penyidik mengangkut uang milik Dhana dalam bentuk rupiah dan dolar, emas sekitar 1 Kg, dan sertifikat-sertifikat tanah dan rumah. Dari meja istrinya, penyidik menyita satu unit komputer. Satu unit mobil Daimler Chrysler buatan tahun 2001 juga ikut disita.

Rabu 1 Maret 2011 malam, tim kembali mendatangi showroom Mobilindo. “Tim penyidik semalam berhasil menyita 17 unit truk, Mitsubishi, Toyota, dan sebagainya,” kata Kapuspenkum Kejagung, Adi Toegarisman. Deposit box Dhana di Bank Mandiri yang berisi dokumen, uang US$ 28 ribu, Rp 10 juta dan dinar Irak senilai 15 juta juga disita.

Hanya ruang kerja Dhana di Dispenda DKI yang tidak ikut digeledah. Dhana yang mantan pegawai pajak memang belum lama pindah ke Dispenda DKI. “Meja kursinya aja belum ada,” kata seorang jaksa di Kejagung kepada majalah detik.

Kejagung belum menjelaskan secara resmi berapa nilai total dari penggeledahan itu. Rinciannya juga belum dipaparkan. Namun, dari daftar barang sitaan yang dilihat majalah detik, uang yang disita jaksa juga terdiri dari satuan-satuan kecil, antara lain delapan uang pecahan Rp 5.000 dan 25 lembar uang pecahan Rp 10.000.
Yang diambil itu uang recehan juga. Itu uang dari minimarket punya Dhana,” kata sumber yang mengetahui penggeledahan di rumah Dhana. Bapak satu anak itu memang memiliki minimarket tak jauh dari rumahnya.

Kejagung juga sempat akan menyita Rp 7 juta di tas Dhana. Namun Dhana keberatan dan memohon agar uang itu tidak ikut disita. “Kalau uang Rp 7 juta itu juga disita, bagaimana saya memenuhi kebutuhan sehari-hari nanti,” kata sumber itu menirukan ucapan Dhana.

Kejagung juga telah memblokir lima rekening milik Dhana, yaitu di Bank Mandiri, BCA, Bukopin, BNI dan Bank Mega. Dua rekening tak ikut diblokir, yaitu rekening gaji Dhana dan istrinya masing-masing di BRI. Pengacara Dhana, Daniel Alfredo menyatakan, jumlah uang di kelima rekeing itu cuma Rp 450 juta bukan puluhan miliar.

Perihal pemblokiran rekening itu, majalah detik mendapatkan cerita menarik. Kabarnya, dari situlah awal mula Dhana mengetahui dirinya sedang dibidik Kejagung. Sekitar awal Februari, Dhana hendak melakukan transaksi melalui internet banking di salah satu bank, tetapi selalu gagal.

Dhana lantas menghubungi bank itu dan memperoleh informasi rekeningnya akan dihentikan sementara oleh Pusat Analisa dan Transaksi Keuangan (PPATK). Ia pun mendatangi PPATK meminta penjelasan, tetapi hasilnya tak memuaskan. Seminggu kemudian, ia diberitahu bank bahwa kelima rekeningnya telah diblokir Kejagung. Dhana bertambah panik.

Tanggal 17 Februari, ia secara mengejutkan sudah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus penyuapan dan pencucian uang. Kejagung menjerat Dhana dengan Pasal 12 B ayat 1 dan 2 UU No. 31/1999 tentang Tipikor dan pasal 3 UU Nomor 8/2010 tentang pencegahan dan pemberantasan pencucian uang.

Sebagai PNS golongan III/C, kekayaan yang dimiliki Dhana itu dianggap tak wajar. Kejagung hingga kini masih menelusuri dari mana asal usul kekayaan fantastis yang dipunyai Dhana itu. Kejagung telah mendapatkan surat persetujuan untuk membuka isi rekening Dhana.

Diduga kuat uang di rekening itu berasal dari wajib pajak yang tengah ditangani oleh Dhana. Kejagung menyebut setidaknya ada enam wajib pajak yang pernah berhubungan dengan pria kelahiran Malang, Jawa Timur, itu. Namun, pengacara Dhana berulang kali membantah. Menurut mereka, uang Dhana berasal dari warisan orang tua. Dhana berasal dari keluarga berada, termasuk pula istrinya.

Selain berbisnis jual-mobil dan mendirikan minimarket,kekayaan Dhana juga didapatkan dari usaha lain, di peternakan ayam. Orang dekat Dhana menuturkan, uang Dhana juga berkembang dari bisnis reksadana yang mulai dijalaninya sejak sekitar enam tahun lalu.

Dia main saham sejak 2006 dan 2008. Saat itu reksadana lagi bagus-bagusnya. Kalau transaksi itu terakumulasi beberapa kali ya bisa jadi sebesar yang mereka sebutkan,” kata sumber yang dekat dengan Dhana.

Kuasa hukum Dhana,Reza Dwijanto mengatakan, selain uang Rp 450 juta, total aset yang dipunyai kliennya sekitar Rp 1,2 miliar. Kekayaan itu juga telah dilaporkan oleh Dhdalam Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN).

Meski Dhana dan pengacaranya membantah, Kejagung yakin punya alasan kuat untuk menjerat Dhana. Mantan pegawai pajak itu pun ditahan karena dinilai tidak bisa membuktikan aliran dana dan transaksi besar ke rekeningnya. Nilai transaksi itu mencapai Rp 60 miliar, “Ya sekitar itulah (Rp 60 miliar), dia juga punya banyak lagi rekening,” kata Direktur Penyidikan Kejagung, Arnold Angkow. (WAN/YOG)

Dilaporkan ke KPK Rp 1,2 M

Tersangka kasus penyuapan dan pencucian uang Dhana Widyatmika tercatat pernah melaporkan harta kekayaannya ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dhana dan istrinya melaporkan total nilai hartanya Rp 1,2 miliar pada Juni 2011.

Berikut rincian daftar harta pasangan ini yang dilaporkan ke KPK:

A. Harta tidak bergerak Rp 656,722 juta.
Yaitu, berupa tanah dan bangunan seluas 125 m2 dan 45 m2 di Depok yang berasal dari hasil sendiri perolehan dari 1993 sampai 2011 dengan NJOP Rp 108,2 juta. Tanah dan bangunan seluas 300 m2 dan 110 m2 di Jakarta Timur yang berasal dari warisan perolehan dari 1980 sampai 2011 dengan NJOP Rp 576,3 juta
B. Harta bergerak alat transportasi dan mesin lainnya senilai Rp 165 juta.
C. Harta bergerak berupa logam mulia dan benda bergerak lainnya Rp 57,32 juta.
D. Surat berharga senilai Rp 312,125 juta.
Sumber: KPK

Agung Mulyana Mahasiswa Pedofilia Spesialis Sodomi Anak Kecil Babak Belur Dihajar Warga Karena Tertangkap Basah Sodomi Bocah Di Mushola

Mahasiswa tersangka pencabulan, Agung Mulyana saat ditanya mengaku melakukan pencabulan terhadap MI karena sudah tidak bisa menahan nafsu birahinya. “Awalnya dia (MI-red) saya jajani dia milk kuat, terus saya bawa ke mushola dan di dalam mushola saya tindih anak itu,” kata Agung di Mapolres Bogor Kota, Jalan Kapten Muslihat, Kota Bogor.

Pria yang saat ini duduk di semester 3 sebuah perguruan tinggi ekonomi di Sentul juga mengaku memiliki ketertarikan kepada anak laki-laki. Selain MI, dia juga pernah melakukan perbuatan yang sama kepada dua bocah lainnya. “Ini yang ketiga, dua kali sebelumnya saya melakukannya saat masih SMA di sebuah bedeng kosong di daerah Kemang,” kata anak kedua dari tiga bersaudara.

Ny Endah (45) saksi mata lainnya menjelaskan, beberapa saat sebelum kejadian, dia sempat melihat pelaku bersama korban duduk di depan pos ronda. Namun, saat itu Endah tidak tahu kalau pelaku akan melakukan pencabulan terhadap bocah itu. “Paginya saya sudah ngeliat orang itu duduk berduaan di depan pos ronda. Tapi, saya enggak tahu kalau kemudian terjadi pencabulan,” katanya.

MI, korban pencabulan yang diduga dilakukan Agung, merupakan anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Rahman dan Eli. Korban sendiri saat ini sudah tidak bersekolah, dan hanya mengenyam bangku pendidikan di kelas 1 SD. Asep Suryana (40) salah seorang saksi mata mahasiswa sodomi di Mushala menjelaskan, siang itu dia hendak mengambil air di mushola untuk keperluan berjualan bakso. Namun, saat akan masuk ke mushola yang lokasinya berada di samping pos ronda, pintu mushola dalam kondisi terkunci dari dalam.

“Ternyata pintu dikunci pakai paku dari dalam. Terus saya buka lewat tralis, pas saya masuk, tahunya ada pria yang sedang menindih anak kecil di ruang tempat mengaji,” ujar Asep Suryana saat ditemui di lokasi kejadian.

Melihat hal itu, Asep yang berjualan bakso di depan mushola kemudian menghardik pria tersebut. Saat itu, Asep mendapati pria itu sudah membuka celana panjangnya, demikian pula dengan bocah yang ditindihnya.”Saya langsung teriak, eh lagi ngapain luh, orangnya langsung kaget dan reflek saya tampar pipi pria itu,” kata Asep.

Asep yang sebelumnya akan memulai berjualan bakso langsung mengamankan pelaku yang belakangan diketahui bernama Agung Mulyana, warga Salabenda, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Kejadian itu langsung mengundang perhatian puluhan warga lainnya.

Warga yang marah lalu meluapkan emosi dengan menghajar pelaku hingga babak belur. Guna mengamankan keselamatan pelaku, Agung digiring ke rumah ketua RT setempat. “Terus polisi datang dan bersama warga pelaku dibawa ke kantor Polisi,” katanya.

Seorang bocah, MI (8) menjadi korban sodomi yang diduga dilakukan Agung Mulyana (21) seorang mahasiswa sebuah sekolah tinggi ilmu ekonomi di daerah Sentul. Ironisnya, aksi pencabulan dilakukan pelaku di sebuah mushola yang berlokasi di Gang Makam RT 02/5, Kelurahan Cilendek Barat, Kecamatan Bogor Barat, Rabu (14/3/2012) sekitar pukul 10.30.

Pelaku babak belur dihajar massa setelah aksinya dipergoki seorang warga yang hendak masuk dalam ke mushola. Dalam kondisi babak belur, Agung digelandang warga ke Polsek Bogor Barat untuk diamankan.

Karena kasusnya menyangkut perbuatan asusila, tersangka dan korban kemudian dibawa ke Mapolres Bogor Kota untuk ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Bogor Kota

Siswa Kelas 6 SD Di Lumajang Yang Menghamili Siswi SMP Sudah Ditangkap Polisi

DAMPAK pornografi terhadap dunia anak telah menapaki titik paling buruk di Jawa Timur. Seorang siswa kelas 6 sekolah dasar (SD) di Lumajang, ditangkap polisi karena dituduh menghamili temannya setelah terpengaruh video porno.

Satu lagi dampak buruk tayangan film porno melalui VCD yang bisa diperoleh dengan bebas di pasaran merusak moral generasi bangsa ini. Mirisnya, kejadian ini menimpa seorang bocah ingusan yang masih duduk di bangku kelas 6 SD di Dusun Sukosari, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur.

Bocah berinisial WY (12) itu melakukan seks bebas dengan anak gadis tetangganya, EK, yang berusia tiga tahun di atasnya atau 15 tahun hingga hamil enam bulan. Perbuatan buruk WY ini sebagai dampak buruk dari kegemarannya menonton VCD porno di rumah salah seorang temannya.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh, kediaman WY dan EK hanya berjarak beberapa meter. EK sendiri selama ini tak sekolah karena menderita keterbelakangan mental alias idiot.

Kasus ini terungkap setelah orangtua EK melihat adanya perubahan fisik pada diri putrinya. Karena curiga, mereka memeriksakan anak gadis itu ke seorang bidan. Hasil pemeriksaan, EK positif hamil. Itulah yang menggegerkan kedua orangtuanya.

Apalagi, mereka mendapatkan pengakuan bahwa orang yang menghamili EK tak lain adalah WY yang masih tetangganya. Atas keterangan ini, akhirnya orangtua EK melaporkan perbuatan pelajar SD itu ke Mapolsek Candipuro, Selasa (8/2) siang.

Menyusul laporan itu, petugas langsung menjemput WY di rumahnya saat bocah itu baru pulang dari sekolah. Lantaran kasus ini melibatkan korban dan pelaku yang masih di bawah umur, aparat Polsek Candipuro melimpahkannya ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reskrim Polres Lumajang.

Guna mengungkap kasus ini, petugas memboyong WY dan EK didampingi orangtua masing-masing serta perangkat Desa Sumberwuluh ke Mapolres Lumajang untuk menjalani proses hukum. Dalam pemeriksaan terungkap juga bahwa WY telah melakukan perbuatan itu cukup lama alias sudah berkali-kali.

Kepada petugas, pelajar itu mengaku bahwa dia melakukan perbuatan tersebut bersama korban pertama kali sebelum Lebaran 2010. Tindakan itu dia lakukan lantaran terdorong nafsu setelah sering melihat tayangan film porno melalui VCD di rumah temannya.

“Saya sering melihat film porno di rumah teman saya berinisial RC. Saya melihat film porno melalui VCD yang diberi seseorang kenalan,” kata WY blak-blakan.

Yang mengejutkan lagi, di usianya yang masih anak-anak itu, WY tak hanya melakukan seks bebas, tapi sudah terbiasa dengan minuman keras dan obat-obatan berbahaya. Bocah ingusan ini mengaku sering menenggak pil koplo dan mabuk-mabukan bersama teman-temannya.

Ketagihan

Dia mengaku, setelah menonton film porno, rasa ingin melakukan sendiri begitu dahsyat. Makanya, dia mendatangi EK. Secara kebetulan pula, saat itu kediaman EK sedang kosong. Dia lantas mengajak korban masuk kamar, lalu menyetubuhinya. Perbuatan itu leluasa dilakukan tersangka karena orangtua korban sedang tidak berada di rumah.

“Perbuatan itu awalnya memang ada pemaksaan. Sampai-sampai WY melakukan pemaksaan dengan merobek celana dalam EK,” kata Kapolsek Candipuro Ajun Komisaris H Sutopo.

Perbuatan pertama itu tak terendus, karena WY mewanti-wanti agar EK tak melaporkannya kepada siapa pun. Pengalaman pertama itu membuat WY ketagihan, sehingga terus mengulang perbuatannya. Dan, terakhir kali pekan lalu sebelum perbuatan itu terbongkar.

“Meski korban diketahui hamil, WY masih terus melakukan hubungan intim dengan EK di rumahnya. Sampai akhirnya, perbuatannya terbongkar berkat kecurigaan orangtua EK,” ujar Kapolsek.

Menurut Kapolsek, karena perbuatan ini melibatkan anak di bawah umur, pasal yang dikenakan adalah Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Namun, untuk proses penyidikan, ungkapnya, dilimpahkan ke Unit PPA Satuan Reskrim Polres Lumajang.

Hanya saja, lanjutnya, untuk melengkapi prosedur penyidikan pihaknya telah memintakan visum dari dokter yang menyatakan bahwa korban EK memang hamil 6 bulan. “Kami juga telah menyita VCD porno yang menjadi pemicu WY melakukan perbuatan itu untuk proses penyidikan lebih lanjut,” tambahnya.

67% siswa SD

Sementara itu, keterlibatan anak SD dalam mengakses atau menonton tayangan pornografi saat ini sudah dalam tahap memprihatinkan. Berdasarkan hasil penelitian Yayasan Kita dan Buah Hati, sejak tahun 2008 sampai 2010 muncul fakta bahwa 67 persen dari 2.818 siswa SD kelas IV, V, dan VI di wilayah Jabodetabek mengaku pernah mengakses informasi pornografi. Sekitar 24% mengaku melihat pornografi melalui media komik, 22% dari internet, 17% dari game, 12% dari film di televisi, dan 6% melalui telepon genggam.

Menurut Elly, pengurus Yayasan Kita, komik dan game perlu diwaspadai. Komik Naruto, game Counter Strike dan Point Blank, ujarnya, sangat digemari anak-anak. Belakangan ini, kata Elly, ada game baru bernama Rape Play (Permainan Perkosaan) yang bisa diunduh secara gratis dari internet.

Menurut dia, tontonan-tontonan itu telah menanamkan pornografi di benak anak-anak dan remaja. Makanya, belakangan ini banyak pertanyaan dari anak SD yang sudah berbau seks seperti halnya orang dewasa.

Menurut survei, lanjutnya, kebanyakan anak-anak (sekitar 48%) melihat pornografi justru di rumah. Dan, orangtua mereka tanpa sadar membayari biaya internet dan pulsa telepon genggam anak-anaknya.

Selain itu, yang juga perlu dikhawatirkan, imbuh Elly, saat ini kita belum mempunyai ahli pengobatan khusus pornografi. Padahal, sebagaimana dikatakan Randy Hyde, anak-anak yang mengalami kejadian ini harus segera dibantu. Pasalnya, bukan saja merusak mental sang pecandu pornografi, tapi bagian otaknya pun ikut terpengaruh. Jika kecanduan narkoba merusak tiga bagian otak, maka kecanduan pornografi bisa merusak lima bagian otak.

“Harus kita tangani secara serius sebelum terlambat. Jangan sampai menjadi fenomena gunung es,” kata Elly.

Sedangkan praktisi home schooling Seto Mulyadi mengatakan, orangtua harus intensif mendampingi anak untuk mengantisipasi dampak pemberitaan video seks. Komunikasi orangtua dan anak harus mengutamakan dialog.

“Orangtua harus mendengarkan pendapat anak tentang kasus itu. Jangan memberi ceramah panjang lebar,” katanya.

Orangtua diminta proaktif berdialog dengan anak terkait peredaran video seks itu. Namun, orangtua sebaiknya lebih banyak mendengarkan anak daripada menasehatinya.

“Yang harus dilakukan adalah dialog. Lalu, orangtua bisa mengkaitkan kasus itu dengan nilai-nilai moral maupun agama yang telah diajarkan,” katanya.

Menurut dia, penyebar video seks itu telah melakukan tindak kriminal dan harus diproses hukum. Pemberitaan dan penyebaran video itu mengancam perkembangan jiwa anak yang dalam proses imitasi atau meniru. “Penyebaran video itu membuat masyarakat goncang,” ujarnya