Monthly Archives: April 2012

Anas Urbaningrum Ketua Umum Partai Demokrat Dimaklumi Polisi Saat Membuat Plat Nomor Mobil Palsu

Polisi diminta tak bersikap diskriminatif dalam menindak pemalsuan pelat nomor seperti yang terjadi pada mobil Anas Urbaningrum. Ketua Umum Partai Demokrat itu kedapatan menggunakan tanda nomor kendaraan yang sama untuk dua mobilnya yang berbeda. Belakangan juga terungkap bahwa tanda nomor kendaraan tersebut tak terdaftar dan palsu.

“Polisi semestinya bertindak tegas,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S. Pane Ahad 29 April 2012 kemarin. ”Mobilnya disita lalu diperiksa siapa yang punya inisiatif itu dan apa latar belakangnya.”

Neta berpendapat, polisi semestinya dapat memanfaatkan bukti foto yang beredar di media massa sebagai bukti pelanggaran yang dilakukan. Kepemilikan satu pelat nomor untuk dua mobil, menurut dia, melanggar Undang-Undang Lalu Lintas dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana pasal pemalsuan. “Kalaupun tidak diproses secara hukum, polisi bisa memperingatkan Anas lewat teguran,” kata dia.

Sebelumnya, juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, mengatakan tak akan ada sanksi terkait dengan penggunaan pelat nomor B-1716-SDC pada dua mobil milik Anas, Toyota Innova dan Toyota Vellfire. Menurut dia, polisi tidak mendapati langsung pelanggaran tersebut.

”Kami tahunya dari media,” kata Rikwanto di kantornya. “Bila ada mobil di jalan raya yang ketahuan petugas menggunakan pelat mobil ganda, pasti akan diberikan sanksi.”

Karena itu, Rikwanto menambahkan, pihaknya sebatas meminta pemilik kendaraan dan sopirnya segera mengganti pelat nomor B-1716-SDC dengan tanda nomornya masing-masing yang asli. Menurut polisi, Toyota Innova milik Anas mempunyai pelat nomor asli B-1584-TOM, sedangkan kendaraan kedua bernomor B-69-AUD.

Polisi diminta tak bersikap diskriminatif dalam menindak pemalsuan pelat nomor seperti yang terjadi pada mobil Anas Urbaningrum. Ketua Umum Partai Demokrat itu kedapatan menggunakan tanda nomor kendaraan yang sama untuk dua mobilnya yang berbeda. Belakangan juga terungkap bahwa tanda nomor kendaraan tersebut tak terdaftar dan palsu.

“Polisi semestinya bertindak tegas,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S. Pane Minggu 29 April 2012 kemarin. ”Mobilnya disita lalu diperiksa siapa yang punya inisiatif itu dan apa latar belakangnya.”

Sebelumnya, juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, mengatakan tak akan ada sanksi terkait dengan penggunaan pelat nomor B-1716-SDC pada dua mobil milik Anas, Toyota Innova dan Toyota Vellfire. Menurut dia, polisi tidak mendapati langsung pelanggaran tersebut.

”Kami tahunya dari media,” kata Rikwanto di kantornya Minggu 29 April 2012 kemarin. “Bila ada mobil di jalan raya yang ketahuan petugas menggunakan pelat mobil ganda, pasti akan diberikan sanksi.”

Karena itu, Rikwanto menambahkan, pihaknya sebatas meminta pemilik kendaraan dan sopirnya segera mengganti pelat nomor B-1716-SDC dengan tanda nomornya masing-masing yang asli. Menurut polisi, Toyota Innova milik Anas mempunyai pelat nomor asli B-1584-TOM, sedangkan kendaraan kedua bernomor B-69-AUD.

Namun Neta berpendapat, polisi semestinya dapat memanfaatkan bukti foto yang beredar di media massa sebagai bukti pelanggaran yang dilakukan. Kepemilikan satu pelat nomor untuk dua mobil, menurut dia, melanggar Undang-Undang Lalu Lintas dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana pasal pemalsuan. “Kalaupun tidak diproses secara hukum, polisi bisa memperingatkan Anas lewat teguran,” kata dia.

Lembaga yang dipimpin Neta itu pernah menemukan kasus serupa pada mobil-mobil mewah yang sebagian berakhir dengan sanksi denda. ”Jangan mentang-mentang yang punya (mobil) ketua partai penguasa,” kata Neta.

Neta juga menyayangkan alasan Anas yang diungkapkan lewat sopirnya bahwa motif penggantian pelat nomor itu adalah agar keberadaannya tidak diketahui. Anas merasa sering diikuti.

Menurut Neta, Anas sebagai ketua umum sebuah partai bisa saja mengajukan surat permohonan menggunakan nomor rahasia atau RHS, seperti yang berlaku bagi pejabat negara. ”Atau, kalau tidak mau dikuntit kan bisa pakai taksi atau mobil rental,” katanya.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S. Pane berkomentar soal pemakaian satu nomor pelat untuk dua mobil Anas Urbaningrum. Ia menyatakan Anas sebenarnya tak perlu melakukan itu meski takut dikuntit.

Harusnya Anas bisa mengajukan surat permohonan menggunakan nomor rahasia atau RHS kepada kepolisian. “Sebagai ketua umum partai, dia bisa mengajukan surat,” kata Neta ketika dihubungi, Ahad 29 April 2012.

Nomor RHS adalah nomor pelat yang lazim digunakan pejabat negara jika mereka merasa tidak aman memampang nomor pelat mobil aslinya. Walaupun Anas bukan pejabat negara, Neta menilai, Anas tetap dapat berupaya mengajukan.

Dengan nomor RHS, nantinya, si pemilik kendaraan memiliki dua pelat nomor. Satu pelat nomor asli kendaraan, lainnya nomor khusus untuk mengelabui.

Atas temuan media massa soal pelat nomor ganda mobil Anas, Neta mengatakan, Ketua Umum Partai Demokrat itu harus malu. “Anas sebagai ketua parpol harusnya malu. Kalau tidak mau dikuntit kan bisa pakai taksi atau mobil rental,” ia menegaskan.

Dua unit mobil milik Anas Urbaningrum, yaitu Toyota Vellfire dan Toyota Innova, terungkap menggunakan pelat nomor sama, yaitu B 1716 SDC. Anas menggunakan mobil Toyota Innova berpelat nomor B 1716 SCD saat menemani istrinya, Athiyyah Laila, saat diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi, Kamis lalu. Pelat nomor serupa juga digunakan mobil Toyota Vellfire milik Anas dalam kegiatan Partai Demokrat di Cibubur, Jakarta Timur, 12 Maret lalu.

Belakangan diketahui mobil Toyota Vellfire milik Anas berpelat nomor asli B 69 AUD atas nama Wasith Su Ady, beralamat di Cempaka Baru, Jakarta Pusat. Sedangkan mobil Toyota Innova mempunyai pelat nomor asli B 1584 TOM atas nama Irmansyah.

Lagi … Mayat Perempuan Telanjang Ditemukan di Belakang Gor Unesa

Sesosok mayat perempuan telanjang ditemukan kaku di belakang Gor Unesa Lidah Wetan. Jasad tersebut ditemukan hanya menggunakan bra berbintik merah dan putih pagi tadi, Sabtu (28/4/2012).

Sekitar pukul 06.30 WIB, Zaini Masturi (49) seorang petani Dusun Bangi, Lemahan Kayan Lor Kediri menemukan mayat tersebut dalam keadaan terlentang. Pria sehari-hari penjual korden ini kaget dan langsung melapor ke kantor satpam Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

“Zaini pertama mencium bau busuk, setelah dicari ternyata ada mayat dan lapor satpam unesa” kata Kapolsek Lakarsantri, Kompol Kuncoro, Sabtu (28/4/2012).

Berdasar olah tim identifikasi sementara, kematian jenazah perempuan ini terjadi sebelum kejadian pembunuhan Ayu Cahyawati (19) di lokasi yang tidak berjauhan pada Selasa (23/4/2012) lalu.

“Kalau melihat kondisi mayat, kejadian ini diperkirakan sebelum kasus pembunuhan Ayu terungkap,” terangnya.

Kini jenazah perempuan yang masih belum diketahui identitasnya itu dibawa ke kamar mayat RS Bhayangkara Mapolda Jatim.

Seorang Wanita Muda Berhasil Menebas Penis Pemuda Yang Akan Memperkosanya

Kejadian ini mungkin akan membuat perampok ini kapok. Seorang perampok mencoba memperkosa seorang wanita muda di Malaysia. Namun perampok itu malah harus mengaduh kesakitan karena alat kelaminnya terkena sabetan parang!

Saat kejadian pada Kamis, 26 April sore waktu setempat, wanita berumur 20 tahun itu sedang berjalan menuju toko kelontong dekat rumahnya di Ampang, Kuala Lumpur. Ketika itulah, seorang pria mencegat dia dan menempelkan parang ke lehernya.

Pria tak dikenal itu pun menarik wanita muda itu ke tempat yang gelap dan sepi. Tubuhnya kemudian didorong ke tanah. Pria itu lalu meminta uang dan perhiasan yang dikenakan wanita tersebut.

Dikatakan sumber kepolisian kepada harian lokal Malaysia, Harian Metro dan dilansir The Star, Sabtu (28/4/2012), ketika wanita itu menolak, penjahat tersebut merogoh saku celananya dan mengambil uang 100 ringgit serta telepon genggamnya.

Wanita tersebut terus memohon agar dirinya tidak dilukai. Namun perampok tersebut tetap menginjak tubuh korban dan bahkan memerintahkannya untuk melepas pakaiannya.

Ketika wanita itu menolak, perampok tersebut mencoba membuka celana si wanita. “Wanita itu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menendangnya. Dia pun kehilangan keseimbangan dan parangnya lepas dari tangannya,” kata sumber kepolisian.

“Si wanita dengan cepat merebut parang dan menebas alat kelaminnya,” imbuh sumber kepolisian tersebut.

Akibat kejadian itu, perampok tersebut mengalami luka pada penisnya. Dia pun harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Izzun Nahdiyah Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Diperkosa Ramai Ramai Sebelum Dibunuh Hanya Karena Minta Laptopnya Dikembalikan

Polisi menangkap lima tersangka yang diduga terlibat kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Izzun Nahdiyah, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat. Namun polisi masih merahasiakan identitas para tersangka. “Mereka ditangkap di Desa Ranca Buaya, Kecamatan Jambe, dinihari tadi,” kata Kepala Kepolisian Resor Kota Tangerang Komisaris Besar Bambang Priyo Andogo, Selasa 24 April 2102.

Menurut Bambang, polisi masih mengejar satu tersangka lagi yang diduga sebagai dalang pembunuhan. Dia adalah Muhammad Sholeh alias Oleng, 33 tahun. Oleng dikenal sebagai pemuda penganggur yang tinggal di Desa Jambe. Sejumlah saksi mengatakan, lelaki itu menjalin hubungan asmara dengan korban selama tiga bulan terakhir.

Mayat Izzun ditemukan di Jalan Pemda DKI, Ciangir, Legok, 7 April 2012. Ada luka sayatan di lehernya. Pakaian yang ia kenakan masih lengkap, termasuk jilbab putih di kepala. Identitas Izzun terungkap sepekan kemudian. Gadis 24 tahun itu berasal dari Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Dia duduk di semester 12 Fakultas Hubungan Internasional UIN.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kota Tangerang Komisaris Shinto Silitonga mengatakan korban memiliki laptop bermerek HP yang dipinjam oleh Oleng. Diam-diam Sholeh menjual laptop itu seharga Rp 600 ribu. Kepada korban, Sholeh mengatakan laptop itu rusak dan dibawa ke tempat servis komputer untuk didandani. Biaya perbaikan sebesar Rp 600 ribu.

Pada 6 April 2012, korban datang ke Desa Jambe untuk mengambil laptop. Izzun membawa uang Rp 600 ribu untuk membayar biaya perbaikan. Oleng tentu saja tidak bisa memberikan laptop itu. Dia menjadi kebingungan. Apalagi korban terus mendesak.

Sikap korban itu membuat Oleng kesal. Dia mengunci korban di dalam kamar dan meninggalkannya begitu saja selama beberapa jam. Saat itulah terlintas di kepala Oleng untuk menghabisi nyawa korban. Dia memanggil lima temannya yang tinggal di sekitar tempat itu. Rencana pembunuhan pun disusun. Namun, sebelum dibunuh, korban diperkosa oleh empat tersangka. “Dua tersangka memang tidak ikut memperkosa, tetapi mengetahui perbuatan itu,” kata Shinto. Mayat korban kemudian dibuang di Jalan Pemda DKI, Desa Ciangir.

Ketika mayat Izzun ditemukan, polisi sempat kebingungan mengungkap jati diri gadis itu. Identitas Izzun baru diketahui sepuluh hari kemudian setelah keluarganya datang dari Lamongan. Polisi pun bergerak mengumpulkan keterangan dari kawan-kawan korban. Dari sanalah muncul nama Oleng, pria yang baru tiga bulan menjadi kekasih korban.

Kemarin, sekitar pukul 03.00, polisi menangkap lima tersangka di kediaman masing-masing. “Para pelaku tinggal saling bertetangga,” kata Shinto. Karena itu, penangkapan bisa dilakukan secara serentak. Hanya, polisi tidak menemukan Oleng di rumah orang tuanya. Diduga, lelaki itu melarikan diri karena tahu tengah diincar polisi. Menurut Shinto, para pelaku dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Empat dari enam tersangka pembunuh Izzun Nahdiyah, mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, melakukan tindakan biadab sebelum membunuh korban. Mereka menyekap dan memperkosa korban secara bergantian.

Menurut Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Kota Tangerang Komisaris Shinto Silitonga, Izzun mendatangi rumah Muhammad Soleh alias Oleng, pacar korban, di Desa Ranca Buaya, Jambe, Kabupaten Tangerang, pada Jumat, 6 April 2012. Izzun mau mengambil laptopnya yang dipinjam Oleng, preman di desa tersebut yang berpacaran dengan Izzun dalam tiga bulan terakhir.

Sebelum datang ke rumah pelaku, korban telah menghubungi pelaku dan meminta laptopnya dikembalikan. Tapi Oleng mengatakan laptop tersebut sedang direparasi. ”Korban membawa uang Rp 600 ribu untuk menebus biaya reparasi laptop itu,” kata Shinto, Selasa, 24 April 2012. Ternyata laptop itu tidak pernah direparasi, tapi telah dijual oleh Oleng.

Di rumah tersangka, korban mendesak agar laptopnya segera dikembalikan. Tapi Oleng justru menahan Izzun dan menyekapnya di dalam kamar selama beberapa jam. Selama penyekapan, Oleng merencanakan pembunuhan pacarnya itu dengan lima temannya. Sebelum dibunuh, empat dari enam pelaku, termasuk Oleng, memperkosa Izzun secara bergantian. Setelah itu, korban langsung dibunuh dengan menggorok lehernya. “Para pelaku tinggal saling bertetangga,” kata Shinto.

Kemudian mayat gadis berkerudung putih itu dibuang ke Jalan Pemda DKI, Desa Ciangir, Legok, Kabupaten Tangerang. Esok harinya, Sabtu, 7 April 2012, warga Ciangir digemparkan dengan penemuan mayat gadis tersebut.

Polisi mencokok kelima tersangka di Desa Ranca Buaya pada Selasa dinihari, 24 April 2012. Adapun Oleng hingga kini masih buron. Motif pembunuhan Izzun Nahdiyah, mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, terungkap. Izzun ternyata dibunuh hanya gara-gara meminta laptopnya dikembalikan. “Korban menuntut agar laptop yang dipinjam pelaku dikembalikan,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Kota Tangerang Komisaris Shinto Silitonga, Selasa, 24 April 2012.

Menurut Shinto, Muhammad Soleh alias Oleng, yang diduga pelaku utama, meminjam laptop merek HP berwarna pink milik korban, kemudian menjualnya. Muhammad Soleh dikenal sebagai preman di Desa Ranca Buaya, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang, dan berpacaran dengan korban dalam tiga bulan terakhir ini.

Pada 6 April 2012, Izzun mendatangi rumah Oleng di Desa Ranca Buaya untuk mengambil laptop tersebut. Kepada korban, Oleng mengatakan laptop itu sedang direparasi. ”Korban membawa uang Rp 600 ribu untuk menebus biaya reparasi laptop itu,” kata Shinto.

Ketika sampai di rumah pelaku, korban mendesak agar laptopnya segera dikembalikan. Tapi Oleng justru menahan Izzun dan menyekapnya di dalam kamar selama beberapa jam. Selama disekap itu, Oleng merencanakan pembunuhan kekasihnya dengan lima temannya. Sebelum dibunuh, empat dari enam pelaku, termasuk Oleng, memperkosa Izzun secara bergantian. Setelah itu, korban langsung dibunuh dengan menggorok lehernya. “Para pelaku tinggal saling bertetangga,” kata Shinto.

Mayat gadis berkerudung putih itu kemudian dibuang ke Jalan Pemda DKI, Desa Ciangir, Legok, Kabupaten Tangerang. Keesokan harinya, 7 April 2012, warga Ciangir digemparkan oleh penemuan mayat Izzun.

Setelah hampir dua pekan menyelidiki kasus itu, Selasa dinihari, 24 April 2012, polisi mencokok lima tersangka pembunuh Izzun di Desa Ranca Buaya. Sedangkan Muhammad Soleh masih buron.

Menurut Shinto, para pelaku dijerat Pasal 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang Pembunuhan Berencana, dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Pembina Pramuka Perkosa Siswinya Sendiri Sebanyak 8 Kali Setelah Diancam Foto Telanjangnya Akan Disebarkan Ke Siswa Lain

Polres Tabanan Bali menangkap seorang pembina pramuka berinisial IM (40) yang memperkosa siswinya. Komisi Nasional Perlindugan Anak (Komnas PA) yang telah menemui siswi itu menyatakan kondisi korban saat ini masih trauma.

“Saat ini masih trauma dan harus mendapatkan pendampingan,” kata Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, saat dihubungi detikcom, Senin (23/4/2012).

Arist mengatakan Komnas PA sudah bertemu dengan korban pemerkosaan itu pada pagi tadi. Pertemuan ini dilakukan di Polres Tabanan, Bali.

“Siswa ini mendapatkan dukungan dari guru-guru sekolahnya,” sambungnya.

Kepada petugas kepolisian dari Polres Tabanan, Arist meminta agar kasus pemerkosaan ini bisa dikembangkan dan terus diselidiki. “Murid perempuan yang ikut Pramuka cukup banyak, jadi harus diselidiki lagi,” lanjutnya.

Arist membantah pernyataan pelaku yang menyatakan hubungan yang dilakukan dengan siswinya atas dasar suka sama suka. Menurut Arist, siswi tersebut dipaksa dengan acaman foto telanjangya disebarkan ke sekolah.

“Karena itu kita minta polisi menjerat tersangka dengan UU Perlindungan Anak dengan ancaman 15 tahun penjara,” tuturnya.

Sebelumnya, seorang siswi mengaku diperkosa dan diancam oleh IM. Karena tidak tahan, ia melapor ke polisi, Kamis (19/4/2012). Polisi pun langsung menangkap IM sekitar pukul 14.00 Wita.

Informasi yang dihimpun, korban sudah delapan kali ditiduri oleh pelaku. Kejadiannya berlangsung dari bulan November 2011 hingga Januari 2012. Masih dikroscek, apakah ada korban lain dalam kejahatan asusila ini.

“Selain pengakuan, kita mendasarkan pada nomor-nomor ponsel yang terdapat di ponsel pelaku,” kata Kapolres Tabanan, AKBP Dekananta Eko Purwono

Perusakan Hotel Dafam Semarang Dilakukan Oleh Geng Motor Pimpinan Remaja Umur 15 Tahun

Perusakan oleh geng motor di Hotel Dafam Semarang, Minggu (22/4/2012) kemarin, diduga dilakukan kelompok bernama Ran. Pemimpin dari kelompok tersebut adalah remaja berusia 15 tahun yang biasa dipanggil Mbah Ran.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Elan Subilan mengatakan, dari keterangan para saksi dan korban, diperoleh nama Mbah Ran dan sekarang sudah masuk dalam daftar target operasi (TO) pihak kepolisian.

“Sudah masuk daftar TO. Jika dalam seminggu belum tertangkap, maka kami akan belajar lagi,” kata Kombes Pol Elan Subilan usai menghadiri acara di Jalan Majapahit, Semarang, Senin (23/4/2012).

Kapolrestabes menyatakan Semarang masih masuk dalam katagori aman dari geng motor. Oleh karena itu, pihaknya akan terus melakukan pengamanan di beberapa titik guna mengantisipasi berkembangnya geng motor.

“Di Semarang baru muncul embrio dari geng motor, karena itu kami setiap hari akan melakukan pengamanan di Jalan Seokarno Hatta, Jalan Dr.cipto, Jalan Mataram, Jalan Arteri, dan Jalan Suratmo,” ujar Elan.

“Hal itu dilakukan agar warga Semarang tenang,” imbuhnya.

Hingga saat ini, polisi masih melakukan pengejaran terhadap kelompok Mbah Ran dan puluhan anggotanya yang diperkirakan mencapai 50 orang.

Perusakan oleh sejumlah orang yang diduga geng motor di Semarang terjadi Minggu (22/4), sekitar pukul 04.00 WIB di Hotel Dafam, Jalan Imam Bonjol, Semarang. Akibatnya beberapa fasilitas parkir hotel rusak dan LCD di pos parkir raib.

Setyo Utomo Membunuh Bibinya Dosen UI Karena Tidak Dipinjami Uang Buat Menafkahi Istri dan Anaknya Serta Bayar Kontrakan

Setyo Utomo alias Uus, 45 tahun, tersangka pembunuhan dosen UI, Suwantji Sisworahardjo, mengaku membunuh bibinya sendiri karena sakit hati tidak dipinjami uang. ”Malah saya dapat caci-maki,” katanya saat ditemui di Polres Metropolitan Tangerang, Rabu, 18 April 2012.

Lelaki pengangguran itu mengaku datang ke kediaman Suwantji pada Jumat, 13 April 2012. Saat itu Utomo langsung menyatakan keinginannya meminjam uang untuk bayar kontrakan dan biaya hidup anak dan istrinya. Namun, saat itu ia dibentak. ”Kamu laki-laki cari kerja dong, sudah lima tahun menganggur,” kata Utomo menirukan pernyataan korban. Utomo sendiri tidak menyebutkan jumlah nominal uang yang ingin dipinjamnya.

Merasa sakit hati, Utomo langsung membekap mulut korban dengan sapu tangan. Kemudian dia mengeluarkan alat setrum yang dibeli di toko ke tubuh Suwantji hingga pingsan. Namun, tak lama korban sadar dan Utomo mencekik leher korban dan membenturkan kepalanya ke lantai.

Setelah korban tidak sadar, Utomo menyatroni rumah dan mencari valas. Setelah mengacak-ngacak rumah korban, yang dicari Utomo tidak ketemu. Dia kemudian mengambil uang sebesar Rp 108 ribu dari dompet korban serta mempreteli perhiasan berupa anting-anting dan gelang yang dipakai korban dengan berat 22 gram.

Atas perbuatannya, tersangka terancam hukuman mati. Menurut Kapolres Metropolitan Tangerang Komisaris Besar Wahyu Widada, tersangka dijerat Pasal 340 subsider 338 atau 365 ayat 1,2 dan 3 KUHP. ”Dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup,” kata Wahyu.

Suwantji ditemukan tewas di kediamannya, Kompleks Larangan Indah, Jalan Kalpataru Ujung 28 RT 05 RW 07 Kelurahan Larangan, Kecamatan Larangan, Kota Tangerang, Minggu 15 April 2012. Setelah membunuh korban, tersangka kabur ke rumah saudara-saudaranya di Jakarta Selatan. Selasa malam, 17 April 2012, Utomo dibekuk tanpa perlawanan.