Monthly Archives: Juni 2012

Oknum TNI Beristri Dua Terlibat Dalam Perampokan Minimarket

Kasat Reskrim Polres Kota Tangerang, Kompol Shinto Silitonga, mengatakan ada oknum TNI yang terlibat dalam rangkaian perampokan minimarket di Serpong, Kota Tangerang Selatan, beberapa waktu lalu.

“Dari hasil pengembangan penyelidikan, ternyata ada keterlibatan oknum TNI. Yang bersangkutan berinisial MCN, berusia sekitar 40 tahun, berpangkat bintara,” ucap Shinto kepada wartawan, Senin (25/6/2012).

Menurut Shinto, oknum TNI itu memiliki dua orang istri, dan tinggal di Curug dan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Oknum tersebut diduga tergabung dalam komplotan Pitam Kuning.

“Berkas dua orang tersangka yang kami tangkap beberapa waktu lalu sudah kami serahkan kepada Kejari Tangerang. Jika sudah P21, kami akan mengirim surat kepada Pomdam Jaya, untuk menindaklanjuti tersangka dari anggota TNI itu,” ucap Shinto.

Menurut Shinto, diketahuinya keterlibatan oknum TNI itu selain dari pengakuan dua tersangka yang sudah ditangkap, juga dari rekaman CCTV perampokan minimarket di Serpong. Bahkan oknum itu juga terlibat dalam perampokan toko emas di Balaraja.

“Dalam waktu 14 hari kedepan, kita akan ketahui hasilnya untuk penindakan pelaku dari pengembangan penyelidikan,” ucapnya.

Menurut Shinto, pihaknya juga sudah menyebar sketsa ciri-ciri pelaku lainnya ke beberapa daerah seperti Polda Banten hingga Karawang. “Karena daerah operasi kelompok ini hingga ke sana,” ujarnya.

Selain itu kata Shinto, pihaknya juga dibantu oleh Resmob Polda Metro Jaya. Sebab, perampokan terjadi di beberapa wilayah lainnya selain Tangerang. “Ciri – ciri pelaku lainnya sudah kami peroleh dan kini masih dalam tahap pengejaran hingga ke luar daerah,” katanya.

Seperti diketahui, komplotan Pitam Kuning merupakan organisasi yang terorganisir dengan baik. Hal tersebut diketahui dari adanya pola perekrutan anggota hingga ketua wilayah yang tersebar di Tangerang, Karawang, Bekasi, Jakarta, Serang, dan Semarang.

Tak hanya itu, setiap beraksi, ketua wilayah menyiapkan empat unit sepeda motor dan empat unit mobil bagi anggotanya. Pimpinan komplotan Pitam Kuning berinisial P, dan suka menggunakan mobil Honda Jazz berwarna merah untuk mencari lokasi perampokan dan disebarkan kepada ketua wilayah masing – masing.

Modus Baru Pencopet Yaitu Remas Remas Payudara Korban Sementara Teman Yang Lain Ambil Dompet

Seorang wanita tukang kredit pakaian dicabuli dan dijambret kawanan copet di dalam Metromini 07 , Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (23/6) siang. Uang Rp 550 ribu berikut handphon miliknya raib.

Korban, Prisila, 28, saat itu habis belanja pakaian di ITC Cempaka Putih kemudian pulang naik Metromini 07 jurusan Semper-Senen. Dari belakang 3 pria tak dikenal mengikuti korban dan ikut angkutan yang sama.

Di dalam Metromini, korban sempat curiga melihat gerak-gerik tiga pria muda tersebut, hingga ia sengaja turun dari angkutan umum tersebut meski tujuannya ke Plumpang, Koja belum sampai.

Korban kemudian kembali menyetop Metromini 07 yang lain. Baru beberapa meter jalan, tiga pria yang ternyata copet tersebut tiba- tiba kembali naik metromini yang dinaiki korban. “Mereka rupanya juga turun beberapa meter begitu saya turun,” kata korban.

Korban dan tiga penumpang wanita di dalam mikrolet hanya bisa diam dan menjaga barang berharganya. Namun ketika korban ingin turun di depan putaran Plumpang, satu pelaku langsung menjambak rambut dan meremas payudaranya.

Rekan pelaku yang lain kemudian menyobek tas menggunakan pisau lalu mengambil dompet berisi Rp 550 ribu Berikut HP milik korban.

Para pelaku lalu kabur, naik angkutan umum lainnya. “Saya berteriak tapi tidak ada yang menolong.”

“Kita masih memeriksa keterangan korban dan mengejar para pelaku,” kata Kasat Reskrim Polres Jakut, AKBP Didi Hayamansyah.

Gara Gara Pacaran Dengan Gadis Tidak Setia Kuli Bangunan dan Supir Mikrolet M27 Kampung Melayu Duel Sampai Tewas

Ahmad Sofian alias Dongkrak (20), pelaku penganiayaan yang menewaskan Rian (23), sopir mikrolet M27 jurusan Pulogadung – Kampung Melayu akhirnya tertangkap Sabtu (15/6/2012) dini hari, sekitar pukul 01.30 WIB.

Kanit Reskrim Polsek Pulogadung, AKP Doni Widodo mengungkapkan, pelaku ditangkap beberapa jam setelah membunuh korban dan melarikan diri. “Karena pengejaran sampai ke Cikarang sehingga dikejar bersama tim Resmob dari Polres Jakarta Timur, dan Buser Polsek Pulogadung. Sekitar 2 jam kemudian pelaku tertangkap,” ujar Doni.

Menurut Doni pelaku merupakan seorang kuli di pasar sayur. Sedangkan korban adalah seorang sopir angkutan umum. Antara pelaku dan korban terjadi cek-cok yang berakhir pada perkelahian yang menyebabkan Rian meninggal di rumah sakit.

“Pelaku berantem di lokasi, dan kebetulan di lokasi ada pisau dan yang dapat duluan itu pelaku,” jelas Doni.

Akibat perkelahian itu, korban mendapat luka tusuk mematikan pada leher, badan, bahu, kepala, dan beberapa luka kecil lainnya di tubuh korban.

Sementara itu keluarga korban sampai saat ini belum ada yang mendatangi kepolisian. Alamat korban sendiri tidak diketahui karena tidak ada KTP pada tubuh korban.

Barang bukti berupa pisau berukuran sedang telah diamankan oleh petugas. Polisi juga memeriksa empat orang saksi. Kasus ini ditangani oleh Polsek Pulogadung. Pelaku akan dikenakan pasal 351 tentang penganiayaan berat yang mengakibatkan meninggalnya seseorang dengan ancaman 7 tahun penjara.

Kasus penusukan yang dilakukan oleh Ahmad Sofian alias Dongkrak (20), terhadap Rian (23), sopir Mikrolet M27 yang menyebabkan korban tewas di rumah sakit, bermotif cinta segitiga. Kejadian yang berlangsung pada Jumat (15/6/2012) malam, sekitar pukul 22.00-23.00 WIB itu terjadi di pasar sayur, belakang Stasiun Klender, Jakarta Timur.

Hal itu ungkapkan oleh Kanit Reskrim Polsektro Pulogadung, AKP Doni Widodo kepada wartawan, Sabtu (16/6/2012). “Jadi, motif pelaku menusuk korban ini karena cinta segitiga, (pelaku) cemburu, karena pacarnya pakai bajunya yang meninggal ini (korban), dibakarlah (baju) sama si pelaku,” kata Doni.

Dia mengatakan, dari situlah antara pelaku dan korban terjadi cekcok yang berakhir pada perkelahian dan penusukan yang dilakukan Dongkrak terhadap Rian. Korban kemudian meninggal di rumah sakit karena luka yang parah di beberapa bagian tubuhnya.

“Jadi pelaku berantem di lokasi, dan kebetulan di lokasi ini ada pisau, dan yang dapat duluan (pisau) itu pelaku, korban kemudian ditusuk, dan mendapat luka tusuk mematikan pada leher, badan, bahu, kepala, dan beberapa luka kecil lainnya di tubuhnya. Korban akhirnya meninggal di rumah sakit,” ujar Doni.

Doni mengatakan, setelah kejadian pelaku melarikan diri. Tim Resmob gabungan dari Polrestro Jakarta Timur dan Buser Polsektro Pulogadung, langsung mengejar. Tim dipimpin Ipda Napitupulu dari Polrestro Jakarta Timur.

Seperti diberitakan sebelumnya, Dongkrak, pelaku penusukan terhadap Rian, tertangkap di daerah Cikarang, Sabtu (16/6/2012) sekitar pukul 01.30 WIB. Dongkrak kemudian diperiksa di ruangan Kasubnit I Reskrim, Polsektro Pulogadung. Setelah menjalani pemeriksaan, Dongkrak kemudian ditahan.

Empat orang saksi juga turut diperiksa pada kasus ini. Barang bukti berupa pisau berukuran sedang telah diamankan oleh petugas. Pelaku nantinya akan dikenakan Pasal 351 tentang penganiayaan berat yang mengakibatkan meninggalnya seseorang dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara.

Konsumsi Narkotika Indonesia Mencapai 42,8 Triliun Rupiah per Tahun

Hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan nilai transaksi narkoba di Indonesia mencapai Rp 42,8 triliun per tahun.

Menurut Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BNN, Sumirat Dwiyanto, di Nusa Dua, Selasa, penelitian yang dilakukan bersama Universitas Indonesia tahun 2011 itu juga menunjukkan bahwa peredaran ekstasi di Indonesia mencapai 140 juta butir per tahun.

Dari jumlah tersebut, kata dia, hanya sekitar 880.000 butir ekstasi yang berhasil disita aparat berwenang. “Jumlah terindikasi penyalahgunaan narkotik yang mencapai 3,8 hingga 4,2 juta orang,” katanya di sela International Drug Enforcement Conference (IDEC) XXIX.

Ia mengatakan, pemerintah berusaha mencegah kejahatan terkait narkotik dengan memperketat pengawasan pintu masuk seperti bandar udara, pelabuhan laut, dan daerah perbatasan.

Polisi Bidik Bisnis Narkotik Online Melalui Prima Online

Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Makassar menyita 100 gram narkotik jenis sabu dari Johannah Sattal, 40 tahun, Selasa, 12 Juni 2012, sekitar pukul 22.00 Wita.

Perempuan ini diciduk di kediamannya, Jalan Cendrawasih V Lorong 10. Serbuk haram seharga Rp 200 juta disita petugas berupa paket dari jasa pengiriman barang. Pada amplop, tertera pengirimnya yakni Prima Online.

“Ada dugaan ini bisnis narkotik online. Masih kami dalami dulu untuk tindak lanjutnya,” kata Wakil Kepala Satuan Reserse Narkoba, Komisaris Anwar Danu, Rabu, 13 Juni 2012. Pengirim diketahui berasal dari Jakarta. Namun identitas lengkapnya belum terungkap. “Bukan perorangan pengirimnya,” ujarnya.

Sabu dikirim dengan cara diselipkan dalam blender. Peralatan rumah tangga tersebut dikemas dalam sebuah kardus. Ia menjelaskan orang yang ditujukan sebagai penerima barang sebenarnya bukan atas nama Johannah, melainkan Abdul Kadir. “Tapi alamatnya sama dan tak ada nama Abdul Kadir di sana,” katanya.

Di alamat yang ditujukan, hanya ada Johannah. Karena itu ia segera menangkap yang bersangkutan untuk menjalani pemeriksaan. Mengenai status, hingga kini Johannah belum ditetapkan tersangka. Pasalnya, pemeriksaan intensif di Unit I Narkoba masih berlangsung hingga kini. “Ada di Unit I Narkoba diperiksa,” katanya.

Dalam waktu tiga hari ke depan pihaknya baru bisa merilis status Johannah, apakah dialihkan menjadi tersangka atau hanya sebagai saksi. “Termasuk perannya, sebagai bandar atau kurir juga masih kami dalami,” kata Anwar.

Di tempat terpisah, petugas Polres Pelabuhan Makassar meringkus dua pelaku tindak pidana narkotik di Jalan Malengkeri Lorong II, Selasa 12 Juni sekitar pukul 22.30 Wita. Kedua pelaku bernama Irsan, 35 tahun, dan Amirullah (30). Keduanya digerebek saat tengah mengkonsumsi serbuk haram.

Dari pelaku disita barang bukti narkotik jenis sabu sebanyak tiga paket, satu alat isap alias bong, dua korek gas, dua pirex, dua sendok dan dua sumbu. “Saat ini tersangka dan barang bukti sudah berada Markas Polres Pelabuhan untuk menjalani proses sidik,” kata Kepala Polres Pelabuhan Makassar, Ajun Komisaris Besar Polisi Audi A Manus

Pendatang Baru Di Citra Gran Cibubur Marah Karena Tetangga Punya Anjing dan Melempari Tetangganya Dengan Batu Akhirnya Dilaporkan Polisi

Erlinda hanya bisa pasrah kala dipolisikan tetangganya Setiadi. Erlinda pun mengaku apa yang dilakukannya hanya sebagai protes karena anaknya sakit. Berdasarkan keterangan dokter anaknya sakit karena bulu anjing milik tetangganya itu.

“Anak saya sakit, ada surat dokter positif karena bulu anjing,” jelas suami Erlinda, Bambang Heru saat dihubungi lewat telepon, Sabtu (9/6/2012).

Bambang bercerita, istrinya itu protes karena tetangganya yang memiliki 8 ekor anjing tidak mendengar keluhannya. Kala sore hingga malam, anjing itu dilepas walau dengan pengawasan. Kadang anak-anak juga takut kalau hendak bersepeda. Dia mengaku ada sejumlah warga yang lain yang juga melaporkan soal anjing itu. Bahkan urusan ini sempat dibawa ke RT dan RW.

“Jadi malam itu Rabu 6 Juni, istri saya (Erlinda) datang ke rumah itu. Anjingnya itu dibiarkan di luar, istri saya meminta agar anjingnya dimasukkan, tapi pembantunya malah masuk ke dalam,” jelas Bambang yang juga dosen di UNJ ini.

Ketika keluarga Setiadi yang juga pemilik anjing itu datang, pecah keributan antar tetangga di Citra Gran Cibubur Cluster Castle Garden di Blok H Cibubur ini. Entah bagaimana, akhirnya keributan itu berujung kepada pelaporan ke polisi. Padahal, Bambang menegaskan, istrinya tidak pernah melempar batu ke rumah Setiadi seperti yang dituduhkan.

“Istri saya dilaporkan ke Polsek Pondok Gede,” jelas Bambang.

Sementara itu pihak Setiadi yang dikonfirmasi membenarkan dirinya melaporkan tetangganya ke polisi. Dia menegaskan, pelaporan dilakukan pada 7 Juni lalu. Erlinda tetangganya dianggap telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan dengan melempar batu ke rumahnya.

Sementara menurut istri Setiadi, Lia, anjingnya memang berjumlah 8. Namun 4 anjingnya itu kecil-kecil. Kalau pun dilepas, memakai tali dan ada pengawasan.

Erlinda, warga Citra Gran Cibubur dipolisikan tetangganya Setiadi. Erlinda dilaporkan atas dugaan perbuatan tidak menyenangkan. Asal muasal persoalan ini karena Erlinda protes atas 8 anjing milik Setiadi yang dianggap mengganggu kenyamanan bertetangga.

“Iya, saya laporkan ke Polsek Pondok Gede, tanggal 7 Juni,” kata Setiadi saat berbincang, Sabtu (9/6/2012).

Lebih lanjut, Setiadi enggan berbicara. Dia mengaku sedang rapat. “Sudah ya, saya sedang meeting, nanti saja,” imbuhnya.

Namun kemudian, cerita lebih terang datang istri Setiadi, Lia, pelaporan itu dilakukan karena Erlinda sudah melempar batu ke rumahnya. “Ya itu sudah beberapa kali,” jelas Lia.

Pelaporan itu pun terjadi karena keributan yang pecah pada Rabu (6/7) malam. Erlinda datang dan marah-marah karena anjing milik Setiadi yang dianggap mengganggu.

Sedang soal protes yang dilakukan soal anjing itu, menurut Lia, keluarganya sudah tinggal lebih lama di Citra Gran. Selama ini pun tidak ada yang protes. Dia juga mengamini memiliki 8 ekor anjing. Namun apabila anjing itu dilepas maka telah dipakaikan tali, dan ada pengawasnya. Anjing itu pun tidak semuanya besar, hanya 4 saja yang besar, sisanya kecil.

“Saya sudah tinggal lebih lama di sana. Bu Erlinda itu baru 3 tahun,” tutur Lia.

Sementara itu, pihak Erlinda menepis kalau pihaknya melakukan pelemparan batu. Suami Erlinda, Bambang Heru mengaku, keluarganya protes karena anjing berjumlah delapan itu telah mengganggu kenyamanan bertetangga.

“Jadi pada Rabu 6 Juni, istri saya datang dan menggedor-gedor pintu besi. Kita protes karena anjingnya dibiarkan begitu saja, anak-anak terganggu kadang ketakutan,” tuturnya.

Bambang Heru pun sudah mendengar laporan polisi yang dilakukan tetangganya itu. Dia kini hanya bisa pasrah. “Sampai saat ini, istri saya belum dapat panggilan,” terangnya.

Anak Umur 6 Tahun Dibunuh Dengan Cara Diberi Parfum Kemudian Dimasukan Tong Air Karena Benci

Malang nian nasib Rahayu Noviandini (6), anak pasangan Dian Hadiansyah (35) dan Lilis (30) warga Kampung Patrol, Desa Margahayu, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Rahayu ditemukan tewas mengenaskan di dalam tong berisi air di rumah tetangganya.

Menurut paman korban, Muhamad Sulaeman (29), sebelumnya Rahayu sempat dikabarkan hilang usai mengaji di masjid yang tak jauh dari rumahnya. ” Korban harusnya sudah pulang mengaji sekitar jam 19.30 WIB, tapi waktu dicari keluarga di masjid, korban tidak ada,” kata Sulaeman, Jumat (8/6/2012).

Akhirnya pencarian Rahayu dilakukan oleh masyarakat setempat. Namun hingga pukul 01.00 WIB tadi, Rahayu tidak kunjung ditemukan. Sekitar pukul 02.30 WIB, tiba-tiba keluarga mendengar jeritan dari rumah tetangga.

“Kemudian kami bersama-sama mendobrak rumah tetangga dan menemukan korban sudah tak bernyawa di dalam tong,” paparnya. Korban selanjutnya dibawa ke RSU dr Slamet Garut untuk dilakukan autopsi. Dugaan sementara Rahayu meninggal akibat dibunuh. Kasat Reskrim Polres Garut, AKP Mikra Hasibuan SIK, mengatakan pihaknya saat ini sedang melakukan pemeriksaan terhadap Sr (17) yang diduga sebagai pelaku pembunuhan.

“Kita masih melakukan pengembangan pemeriksaan kepada Sr yang diduga pelaku,” ucapnya singkat.Meski belum bisa memastikan adanya unsur kriminal dalam kematian, Rahayu Noviandini (6), bocah asal Kampung Patrol, Desa Margahayu, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, polisi menyelidiki kejadian itu. Sejauh ini, mereka menunggu hasil autopsi dari RS.

Kasat Reskrim Polres Garut AKP Mikra Hasibuan SIK, mengatakan pihaknya telah memanggil sejumlah saksi untuk data awal proses penyelidikan, mengingat hingga saat ini masih terjadi kesimpangsiuran informasi terkait peristiwa tersebut. Seorang tetangga korban berinisial SR (17) juga diperiksa.

“Yang sedang kita pastikan, apakah korban tewas diracun kemudian ditaruh di tong atau tenggelam di dalam tong air,” kata Mikra kepada wartawan, Jum’at (8/6/2012). Untuk memastikan kematian korban, polisi juga masih menunggu hasil autopsi dari pihak RSU dr Slamet Garut. “Ya, kalau sacara kasat mata dari bagian mulut dan hidung korban keluar busa,” ungkap Mikra. Sebelumnya, korban yang merupakan anak pasangan Dian Hadiansyah (35) dan Lilis (30) tak pulang ke rumah pada Kamis (7/6) malam. Ia kemudian ditemukan tewas mengenaskan di dalam tong berisi air di rumah tetangganya.

Hanya gara-gara benci, Sr (17), warga Kampung Patrol, Desa Margahayu, Kecamatan Leuwigoong, Garut, Jawa Barat, tega membunuh tetangganya yang masih berumur 6 tahun. Bocah itu diracun dan jasadnya dimasukkan dalam tong air. Waka Polres Garut Kompol Legawa Utama mengatakan, Sr sakit hati kepada korban yang sering mengajak adiknya bermain, sehingga adik tersangka sering membantah jika diperintah oleh tersangka. “Jadi adik tersangka lebih menurut korban. Tersangka sakit hati,” ujar Legawa kepada wartawan, Jum’at (8/6/2012).

Untuk proses pemeriksaan berikutnya, pihak Polres Garut akan mendatangkan psikolog untuk memeriksa kejiwaan tersangka. Polisi ingin memastikan tersangka mengalami kelainan atau tidak. Menurut Legawa, pihaknya menjerat tersangka dengan pasal 338 KUHP subsider pasal 340 dan pasal 365 KUHP dengan ancaman hukuman seumur hidup. Rahayu Noviandini (6) ditemukan tewas mengenaskan terendam air di dalam tong di kamar mandi rumah tersangka. Sebelum dimasukan kedalam tong air, tersangka juga meracuni korban dengan parfum hingga korban tak berdaya.

Warga kesal terhadap kelakuan Sr. Mereka merusak dan bahkan hampir membakar rumah Sr. Beruntung petugas Polsek Leuwigoong segera tiba rumah tersangka dan menenangkan warga. Diiringi isak tangis kedua orang tua, Dian Hadinsyah (35) dan Lilis (30), jenazah Rahayu Novindini (6), korban pembunuhan sadis akhirnya dimakamkan di pemakaman umum Kampung Patrol, Desa Margahayu, Kecamatan Leuwigoong, Garut, Jawa Barat, Jum’at sore ini. Keluarga minta pelaku dihukum mati.

Puluhan pelayat baik sanak saudara maupun tetangga dekat, menitikan air mata mengantar kepergian Ayu, sapaan akrab Rahayu. Sedangkan sang ayah almarhum, Dian Hadiansyah, mengaku sangat terpukul atas peristiwa tersebut. Sebelum peristiwa yang merenggut nyawa anaknya, tidak ada pirasat buruk apapun.

“Hanya saja waktu pencarian, sekelebat saya sempat melihatnya. Bahkan mendengar suaranya memanggil nama saya,” ucap Dian sambil menitikan air mata. Hal yang sama disampaikan kakek korban, Atang (56). Saat melakukan upaya pencarian, dirinya melihat bayangan cucunya di tembok rumah tersangka. “Sehingga waktu itu, kami bersama warga mendobrak pintu rumah tersangka. Hasilnya memang benar, hanya sayang Ayu sudah meninggal,” paparnya sambil menghela napas panjang.

Pihak keluarga meminta aparat kepolisian untuk mengusut kasus tersebut hingga tuntas serta berharap tersangka dihukum dengan hukuman yang setimpal. “Kalau bisa dihukum mati!” tandas Atang.