Monthly Archives: Juli 2012

Terdakwa Pembunuh Raafi Aga Winasya Benjamin Divonis Bebas

Terdakwa kasus penusukan Raafi Aga Winasya Benjamin, Sher Muhammad Febryawan alias Febry, dinyatakan tidak bersalah. Febry dibebaskan dari segala dakwaan Jaksa Penuntut Umum.

“Dengan ini kami membebaskan dan memerintahkan terdakwa dikeluarkan dari tahanan,” ujar Ketua Majelis Hakim, Muhammad Razad, dalam pembacaan vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, 31 Juli 2012.

Razad menyatakan Febry, yang sebelumnya dituntut hukuman 12 tahun penjara ini, tidak terbukti melakukan tindak pidana pembunuhan, pengeroyokan, dan penganiayaan terhadap Raafi.

Raafi Aga merupakan siswa Pangudi Luhur yang terlibat bentrok dengan rekan-rekan Febry di Resto and Lounge Shy Rooftop, Kemang, pada Sabtu, 5 November 2011. Dalam perkelahian itu, Raafi mengalami luka tusuk. Ia meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit.

Mendengar keputusan hakim, Febry, yang mengenakan baju putih lengan panjang dan celana berwarna hitam, mengucap syukur dan langsung sujud di depan kursi terdakwa.

Saat dimintai tanggapan atas vonis tersebut, Febry mengatakan sangat senang dan berterima kasih kepada jaksa. “Saya percaya hukum itu pasti ada,” ujarnya. Saat itu pula keluarga dan kerabat Febry berpelukan.

Ditemui usai persidangan, Febry berharap dengan bebasnya dirinya dapat membebaskan juga empat terdakwa lain yang merupakan rekannya. Mereka, lanjut Febry, tidak terlibat dan harus bebas.

Namun, Febry enggan merinci siapa empat terdakwa tersebut. “Baru sekarang ini saya melihat hukum di Indonesia adil. Saya sudah nyatakan, saya bukan pelakunya,” ujarnya sambil tersenyum. “Allah sangat adil, saya tidak meminta adik-adik saya di 234 SC melakukan tindakan apapun walau mereka telah merebut kebahagiaan saya dan memisahkan saya dengan keluarga saya. Fitnah itu akhirnya terbukti.”

Profesor Hukum National University of Singapore Dituduh Menerima Suap Seks Dari Mahasiswinya Untuk Dapat Nilai A

Profesor Hukum dari National University of Singapore bernama Tey Tsun Hang kini harus berhadapan dengan Komisi Anti-Rasuah Singapura (CPIB). Tuduhannya adalah gratifikasi seksual demi nilai bagus kepada mahasiswi.

Pria 41 tahun itu sudah diperiksa sejak April 2012, dan kini ia berstatus tahanan. Tapi sejumlah koleganya telah menebus profesor Tey dengan jaminan, sehingga ia bisa keluar.

Kisah Tey dan mahasiswinya Darinne Ko Wen Hui kini jadi bahan pembicaraan di negeri mini itu. Menurut polisi yang awalnya menyelidiki kasus ini, kasus Tey merupakan yang pertama kali terjadi di Singapura.

Hubungan terlarang itu justru diungkap oleh sang mahasiswi sendiri. Darinne Ko Wen Hui bercerita kepada sahabatnya bahwa ia mendekati Prof Tey demi nilai yang lebih baik. Sebab untuk bekerja di salah satu firma hukum terbaik di Singapura, sarjana hukum harus lulus paling tidak meraih nomor dua terbaik.

Pengacara kriminal Ravinderpal Singh menuturkan jaksa menjatuhkan satu dakwaan untuk tiap kali Profesor bercinta dengan Darinne Ko Wen Hui. Meskipun, Darinne Ko Wen Hui hanya mendapatkan satu nilai A dari sang Profesor. Memang dikabarkan mahasiswi dan Profesor tidak hanya sekali bercinta.

Alasan kenapa Profesor ditangani Komisi Antikorupsi adalah kasus tersebut masuk kategori rasuah. Menurut Singh, korupsi tidak sekadar soal uang, tapi bisa dalam bentuk hadiah dan berhubungan seksual.

Adapun sang mahasiswi diketahui kini bekerja di sebuah firma hukum lokal. Beberapa temannya menyebut mahasiswi tersebut adalah orang yang bersemangat dan sangat ambisius.

Kini Prof Tey menjalani cuti panjang yang dimulai Agustus 2012. Menurut pihak fakultas, cuti tersebut memang sudah diajukan lama, jauh sebelum kasus ini mencuat. Ketakutan akan nilai jelek membuat mahasiswi hukum National University of Singapore rela menjual harga dirinya. Ia mau bercinta dengan profesor selama beberapa kali untuk memastikan meraih nilai tugas yang tinggi.

Sebenarnya kejadian memalukan ini tak akan terungkap kalau sang mahasiswi Darinne Ko Wen Hui tidak bercerita kepada temannya. Tapi karena temannya itu kemudian bercerita lagi ke orang lain, akhirnya polisi pun ikut sibuk mengungkap kisah asusila yang terjadi pada 2011 itu.

Kala itu mahasiswi Darinne Ko Wen Hui berusia 23 tahun tersebut masih duduk di tingkat empat. Profesor memang tak meminta jatah hubungan intim karena mahasiswinyalah yang menawarkan. Darinne Ko Wen Hui ketakutan mendapatkan nilai tugas jelek, sehingga akan menurunkan kesempatanya direkrut firma hukum terbaik.

Lalu datanglah ide untuk tukar-menukar hubungan intim dengan nilai. Tampaknya itu jadi tawaran menarik, sehingga pasangan ini melakukannya lebih dari sekali hingga akhirnya ia lulus dan mendapat gelar sarjana hukum.

Kini ketika kasusnya terungkap, profil Darinne Ko Wen Hui di Internet tampaknya mulai dihapus. Ketika reporter berusaha melacak di akun Facebook maupun biodata dari Darinne Ko Wen Hui, tak ada satu pun keterangan yang bisa diperoleh. Adapun kepolisian meyakini bahwa kasus ini pertama kalinya terjadi di Singapura

Nama Profesor Tey Tsun Hang kini jadi populer bagi warga Singapura. Bukan karena karya yang fenomenal, tapi skandal seksual.

Pria 41 tahun itu kini berstatus tahanan Komisi Anti-Korupsi Singapura (CPIB). Tuduhannya cukup memalukan bagi pria pengajar hukum ini, gratifikasi seksual atau berhubungan intim dengan janji-janji sesuatu.

Kasusnya menyangkut karier akademis di National University of Singapore (NUS). Prof Tey telah berhubungan intim dengan mahasiswinya yaitu Darinne Ko Wen Hui dengan imbalan nilai A. Kisah terlarang yang terjadi tahun lalu itu tidak akan terungkap kalau sang mahasiswi tidak menceritakan hubungannya ke sejumlah teman.

Kini tak hanya kariernya yang terancam, tapi perkawinannya dengan seorang perempuan Jepang pun jadi tanda tanya. Tey memutuskan untuk cuti tahunan dan tidak bisa dihubungi. Ketika The Strait Times menyambangi rumahnya, tidak ada yang membukan pintu.

Profesor Tey adalah mantan pengacara kondang sebelum menjadi akademisi. Setelah lulus dari Universitas King College dan St Hugh College, Oxford. Lalu dia menjadi asistan profesor di NUS. Tey juga bergabung dalam layanan hukum sebagai panitera kehakiman.

Ia kemudian ditunjuk menjadi seorang hakim distrik dan juga menjadi penasihat negara dalam Undang-Undang Kamar Dagang. Hingga akhirnya Tey terjun di dunia akademisi murni sejak 1990-an. Ia dikenal oleh mahasiswa sebagai sosok yang cerdas dan seseorang yang bisa membuat ramai suasana belajar mengajar.

Bank BTN Kalijati Subang Jawa Barat Dirampok Dengan Hipnotis

Seorang perempuan menghipnotis Dea, seorang teler Bank BTN Kalijati, Subang, Jawa Barat, Selasa, 24 Juli 12, pukul 13.30 WIB. Hanya dengan gosokan balsem, perempuan itu berhasil menghipnotis korban dan membawa kabur uang tunai Rp 185 juta dari meja korban.

Saat kejadian, Dea sedang menghitung uang setoran yang diperoleh dari para nasabah. Lalu datang perempuan berkerudung dengan kaca mata ke meja Dea. Dia berpura-pura akan mengambil tabung. Dia lalu menanyai Dea, “Sakit neng?” Dea pun mengangguk.

Lalu, perempuan itu mengeluarkan balsem dan menggosokannya di bagian kening dan leher Dea. Tak berapa lama Dea tak sadarkan diri. Dalam kondisi tersebut, perempuan itu dengan leluasa membawa kabur uang di meja Dea.

“Saya baru sadar setelah uang lenyap dari tangan saya,” kata Dea kepada polisi di Polsek Kalijati.

Kepala Polsek Kalijati, Ajun Komisasris Undang Sudrajat, mengatakan aksi penjahat itu terekam dalam kamera CCTV di kantor bank BTN Kalijati itu. “Kami sedang melakukan pengejaran,” kata Undang.

Waspada Perampokan Merajarela dan Ada Yang Didalangi Oleh Tetangga Sendiri

DUA kasus perampokan terjadi pada waktu yang hampir bersamaan di Jakarta Barat, Rabu (25/7) dini hari. Satu kasus terjadi di Palmerah, dan satu kasus lainnya di Tanah Sereal.

Maya (20) ditodong dengan obeng saat berjalan di Gang Delima, Jalan Haji Senin, Palmerah, Jakarta Barat. Telepon seluler merk BlackBerry yang sedang digenggamnya dirampas.

Tak rela harta bendanya dirampas begitu saja, Maya memberontak dari bekapan perampok itu, dan berteriak minta tolong. Warga yang mendengar teriakannya mengepung perampok tunggal itu.

Tanpa ampun, massa menghujani pria itu dengan bogem mentah. Warga kemduian membawanya ke Mapolsektro Palmerah.

Perampok yang belakangan diketahui bernama Eko Hermawan (20) itu mengaku baru pertama kali menodong. “Saya udah enam bulan di Jakarta, mau cari kerja di sini, tapi nggak keterima dimana-mana, karena nggak punya ijazah SD,” katanya kepada wartawan, kemarin.

Kepada wartawan, Eko yang berasal dari Lampung, itu mengaku bahwa ia terpaksa merampok karena sudah seharian tidak makan. “Saya pengangguran. Duit saya udah abis. Makanya saya nekat,” katanya.

Dirampok tetangga

Kasus perampokan lain terjadi pada Rabu pagi di Jalan Tanah Sereal, RT 03/10 Tanah Sereal, Tambora, Jakarta Barat. Seorang karyawan swasta bernama Hardian dipukuli oleh dua perampok bermotor.

Kapolsektro Tambora, Komisaris Donni Eka Syaputra pada Rabu petang menuturkan, dari keterangan beberapa saksi mata dan korban, salah satu pelaku perampokan tersebut adalah tetangga Hardian yang bernama R.

Menurut Donni, peristiwa terjadi sekitar pukul 05.30. Kala itu, Hardian yang sedang berjalan kaki untuk bekerja tiba-tiba dipepet dua pemotor.

“Korban dimintai uang. Karena awalnya menolak, para pelaku memukul korban. Korban akhirnya memberikan uang Rp.50.000,” ujar Donni.

Tak puas dengan uang tersebut, para pelaku lalu meminta Hardian menyerahkan ponsel yang ada di sakunya. “Korban menolak sehingga para pelaku gelap mata. Korban lalu kembali dipukuli oleh dua pelaku,” kata Donni.

Saat para pelaku sedang menganiaya Hardian, seorang saksi mata bernama Ratningsih melihat kejadian itu. “Saksi lalu berteriak minta tolong. Teriakan itu membuat dua pelaku kalang kabut dan langsung melarikan diri,” ujar Donni.

Hardian dan Ratningsih kemudian melaporkan peristiwa itu ke Mapolsektro Tambora. “Menurut keterangan sementara, kami sudah berhasil mengantongi satu nama. Sisanya masih dalam pengembangan,” kata Donni.

Dua kasus per hari

Polda Metro Jaya mencatat, kasus kejahatan dengan kekerasan, termasuk di antaranya penodongan, perampasan dan pembajakan mencapai 675 kasus selama Januari-Juni 2012. Jumlah itu berarti kira-kira 115 kasus per bulan, atau rata-rata dua perampokan per hari.

Data dari Humas Polda Metro Jaya menyebutkan, selama semester pertama 2012, tercatat 331 penodongan, 286 perampasan, dan 58 pembajakan. Dari jumlah itu, yang pelakunya dapat terungkap hanya 87 kasus penodongan, 186 kasus perampasan, dan 19 kasus pembajakan.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, kejahatan jalanan seperti penodongan, perampasan, dan perampokan memang cenderung meningkat. Para pelaku kejahatan jalanan ini biasanya memanfaatkan situasi, ketika warga masyarkat sedang melakukan aktivitas, jual beli, atau penarikan uang tabungan.

Para pelaku yang beraksi, kata Rikwanto, bisa berasal dari kelompok pemain lama bisa juga muncul kelompok baru. Antisipasi terhadap berbagai jenis kejahatan ini salah satunya dengan menggelar berbagai operasi, salah satunya Operasi Patuh Jaya yang kini sedang berjalan.

3 Anak Jalanan Diperkosa dan Ditinggal Dalam Keadaan Terikat Dipinggir Jalan

Tindakan yang dilakukan TA (42) sungguh bejat. Selain memperkosa anak jalanan, ia juga tega menganiaya dan mengikat korbannya. Setelah melampiaskan hawa nafsunya, para korban diikat dan ditinggal di pinggir jalan.

“Korban yang pertama dan kedua ditemukan terikat. Yang ketiga (korbannya) dibekap,” kata Kasubag Humas Polres Jakarta Timur Kompol Didik Haryadi saat ditemui detikcom di Polres Jakarta Timur, Kamis (26/7/2012).

Didik menceritakan korban pertama dan kedua adalah dua orang kakak beradik. Kedua korban masih ada ikatan saudara dengan pelaku. Kedua korban diajak pelaku bertemu di Pusat Grosir Cililitan, Jakarta Timur, 23 Maret lalu. Dari sini, pelaku mengiming-imingi korban dengan membelikan es krim dan uang Rp 100 ribu.

“Sebelumnya dikasih makan, diajak ke kebun dekat Gedung BKN, Cililitan. Korban lalu diikat di pohon,” ujarnya.

Setelah mengikat korban, pelaku dengan bengisnya melakukan aksi pemerkosaan terhadap bocah perempuan tersebut. Korban lalu diajak ke Bekasi. Ketiga sempat bermalam di depan sebuah ruko di Bulak Kapal, Bekasi Timur.

“Paginya diajak ke Jakarta lagi dengan bis yang sama,” jelasnya.

Keesokan harinya, 24 Maret, kedua korban diajak kembali ke tempat yang sama. Kedua korban lalu ditinggalkan dan tidak dikasih makan. Keduanya ditemukan warga dalam keadaan terikat.

“Ditemukan warga siang itu karena korban yang menangis keras,” imbuhnya.

TA tak berhenti beraksi sampai di situ. Setelah meninggalkan kedua korban, ia mencari mangsa lainnya. Pada 12 April, pengamen cilik sekitar berusia 11 tahun jadi targetnya. Ia bertemu korban di daerah Bekasi.

“Awalnya korban bertemu di Bekasi. Dek ke daerah Cililitan ke mana ya? tanya pelaku. Dijawab korban, naik 9B Mayasari,” ujar Didik.

Pelaku lalu mengiming-imingi korban akan membelikan baju dan celana. Korban lalu ikut dengan pelaku. Sampai di pintu keluar Tol Kodam Jaya, pelaku melihat kondisi cukup sepi.

“Korban diajak ke situ dan dikerjain. Kali ini korban diancam karena korban sempat menolak, dia ditonjok. Kalau nggak mau akan diikat di atas pohon,” jelasnya.

Setelah melampiaskan nafsu bejatnya, pelaku mengajak korban jalan dan duduk ke sebuah pos ojek. Korban lalu ditinggalkan begitu saja.

Gadis ABG Umur 14 Tahun .. Malam Diperkosa Ayah dan Siang Diperkosa Teman Ayah Setelah Adegannya Direkam Dalam HP

Tragis benar hidup An. Sudah bolak-balik diperkosa ayah kandungnya, gadis berusia 14 tahun ini juga berulang kali dipaksa melayani teman ayahnya. Malam dinodai ayahnya, siang hari digagahi teman ayahnya. Akibat perbuatan bejatnya kedua pemulung, AD, 39, ayah korban, dan Sud, 26, teman ayah korban, dicomot anggota Satreskrim Polres Jakarta Barat, saat tidur di lapak bosnya di Bambu Larangan, Cengkareng, Jakarta Barat, Minggu (22/7) dinihari.

Setelah diperiksa di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jakarta Barat, dua lelaki bejat itu langsung dijebloksan ke sel. Hilangnya mahkota An itu, berawal dari perbuatan bejat ayah kandungnya pada pertengahan Januari 2012. Saat itu Agus yang sudah duda melihat putri kandungnya sedang tidur pulas di mes lapak pemulung dipaksa melayani layaknya suami istri.

Awalnya An meronta dan menolak kemauan ayahnya yang sudah dikendalikan nafsu setan, tetapi gadis yang tidak lulus SD ini kalah kuat sehingga hanya bisa pasrah. “Saya memang tidur satu kamar bersama korban dan adiknya,” kata AD, pemulung asal Sleman, Yogyakarta, yang ditinggal mati istrinya saat bencana gempa bumi pada tahun 2005 silam.
Perbuatan bejat ADs dilakukan hingga 10 kali pada hari berikutnya. ”Anak saya tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin karena takut dimarahi. Saya memang salah,” tutur tersangka yang menyebutkan bahwa putrinya yang tidak tamat SD itu kini bekerja di pabrik sandal di Cengkareng.

DIREKAM VIDEO
Perlakuan AD terhadap anaknya, rupanya sering diintip Sud, teman AD, dari atap rumah. Dengan gambar di HP, Sud lelaki bermental bejat ini juga suatu siang saat AD tidak di rumahnya mendatangi gadis yang masih bau kencur meminta dilayani seperti ayahnya.

Sambil menunjukkan gambar yang ada di dalam HP, Sud mengancam bila An ogah meluluskan permintaannya maka adegan mesum dengan ayahnya akan disebarluaskan. Kontan saja, An kaget dan ketakutan. Meski awalnya menolak, gadis bernasib sial ini tak berdaya dan terpaksa melayani perbuatan bejat Sud.

“Gambar yang di HP, saya gunakan sebagai senjata agar korban mau melayani,” kata Sud seraya mengaku bahwa perbuatan bejatnya sudah dilakukan 11 kali.

DIANTAR PAMAN
Menurut Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat, AKBP Hengky Haryadi SIK, MH, gading malang itu melaporkan perbuatan bejat ayahnya dan temannya diantar paman dari almarhun ibunya. An melapor ke Polsek Cengkareng lantaran sudah tidak kuat dan ketakutan harus bolak-balik melayani nafsu dua pemulung bejat tersebut.

“Atas petunjuk korban itulah, kedua tersangka kami tangkap. Bapaknya mengaku sudah 10 kali menodai korban, Sedangkan temannya Sudartono telah 11 kali,” jelas Hengky Haryadi didampingi AKP Kasranto selaku Kanit PPA, Senin (23/7) siang.
Tersangka Agus Darmawan di kantor polisi malah terkejut ketika mengetahui temannya Sudartono juga menodai putrinya. “Semua ini karena kesalahan saya. Hukumlah saya, karena saya memang salah,” ujar Agus

Perampokan dan Pembunuhan Sadis Bapak dan Anak Di Perumahan Griya Satria Jingga Bojong Gede Adalah Anak Umur 14 Tahun

Perampokan disertai pembunuhan sadis terjadi di Bojong Gede, Depok. Jordan (50) dan Edward (22), yang merupakan ayah dan anak dihabisi dengan luka-luka di kepala dan leher. Polisi sudah menangkap pelaku yang ternyata bocah masih berusia 14 tahun yang kemungkinan adalah psikopat muda. Informasi yang dikumpulkan detikcom, Kamis (19/7/2012) pelaku berinisial A dengan rekannya D merampok rumah korban di Bojong Gede karena ingin menguasai harta korban. A mengira Jordan dan anaknya memiliki harta berlimpah sehingga nekat menyatroni rumah korban.

Saat pelaku beraksi, korban melakukan perlawanan. Hingga akhirnya pelaku bertindak kejam dan membunuh korban. Namun pihak kepolisian yang dikonfirmasi soal kasus ini masih belum mau berbicara banyak. Pihak kepolisian hanya menyebut, A masih diperiksa intensif. “Ya masih diinterogasi,” kata Kanit Reskrim Polsek Bojong Gede, Iptu Ibnu. Pelaku ditangkap dini hari tadi sekitar pukul 02.00 WIB. Tidak ada perlawanan yang dilakukan remaja tersebut.

R, anak bungsu korban pembunuhan sadis di Bojong Gede, Yordan diinapkan di kantor Mapolsek Bojong Gede. Polisi butuh keterangannya untuk mengungkap pelaku sambil terus memberinya rasa aman. Dari keterangan polisi, R adalah orang pertama yang menemukan jenazah Yordan (50) dan Edward (20). Saat ini, gadis belia ini sekrarang berada di sebuah ruangan Mapolsek Bojonggede Jalan Raya Tojong, didampingi Kasat Reskrim olresta Depok Kompol Febriansyah. “Kasihan dia menerima kenyataan begini. Kita harus menanyainya secara perlahan-lahan. Kita buat dia senyaman mungkin dulu,” ujar seoran polisi.

Dari pengamatan, gadis belia coklat manis ini perawakan kurus dengan tinggi 140 cm dan berambut ikal panjang sebahu. Mengenakan kaos putih dan celana jeans hitam, dia hanya diam termangu dengan pandangan mata kosong. Polisi masih mencoba menghubungi ponsel Dina Sutiyem, istri Yordan. Pasangan tersebut mempunyai tiga anak. Sejak ada pertengkaran dengan Yordan, Dina sudah sekitar 2 bulan meninggalkan rumah. Informasi yang detikcom kumpulkan, polisi juga memanggil Buluk, hansip perumahan Griya Satria Jingga, Ragajaya ke Mapolsek Bojonggede. Namun, Buluk masih bertugas sebagai Satpam di PT KAI di Depok. penyidik ingin tanyakan kepada Buluk, apakah dia melihat orang yang mencurigakan ketika malam Selasa itu.

Polisi mencari istri dari korban perampokan dan pembunuhan sadis di Bojong Gede, Depok, Jawa Barat. Polisi mencoba menghubungi istri korban tersebut. Namun perempuan tersebut tidak bisa dikontak. “Istrinya menghilang, Karena kita coba hubungi namun tidak bisa,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, di Mapolda Metro Jaya, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (18/7/2012).

Hingga saat ini polisi masih terus mencari istri dari korban pembunuhan itu. Diketahui korban bernama Jordan Raturomon (50) dan Edwar (22). “Kita masuh upayakan pencarian untuk dimintai keterangan,” ucapnya. Sebelumnya diberitakan, Jordan Ratumoron (50) dan anaknya Edwar tewas dengan luka-luka di kepala. Ayah dan anak ini ditemukan tak bernyawa di kamar mandi rumah mereka di Perumahan Satria Jingga, Bojong Gede, Depok, Jabar. Keduanya diduga dibunuh perampok. Pelaku menggasak uang tunai sekitar Rp 10 Juta, Motor Jupiter Z dan beberapa barang lainnya.

Polisi masih mendalami kasus perampokan dan pembunuhan sadis di Bojong Gede, Depok, Jawa Barat. Malam ini polisi akan memeriksa lima orang saksi. Pelaku pembunuhan atas Jordan (50) dan anaknya Edwar (22) diperkirakan lebih dari satu orang. “Lima orang akan kita periksa,” kata Kapolsek Bojong Gede, Kompol Bambang Irianto, kepada detikcom, Rabu (18/7/2012). Bambang menjelaskan polisi saat ini masih berada di lokasi. Saat ini petugas masih mengumpulkan keterangan dari sekitar lokasi kejadian. “Kita coba urai. Kita panggil saksi, saksi korban, saksi yang dengar ada suara motor jam berapa, saksi yang kemungkinan melihat. Masih kita selidiki,” paparnya.

Bambang menduga pelakunya lebih dari satu orang. “Kalau melihat korbannya ada dua orang, kemungkinan pelakunya lebih dari satu orang,” ujarnya. Sebelumnya diberitakan, Jordan Ratumoron (50) dan anaknya Edwar tewas dengan luka-luka di kepala. Ayah dan anak ini ditemukan tak bernyawa di kamar mandi rumah mereka di Perumahan Satria Jingga, Bojong Gede, Depok, Jabar. Keduanya diduga dibunuh perampok. Bambang juga menegaskan, bahwa dari rumah korban yang hilang hanya motor Jupiter Z dan beberapa barang lainnya.

Polisi terus mengembangkan penyidikan atas tewasnya Edward alias Edo dan ayahnya Yordan di Bojong Gede, Bogor. Motif aksi keji tersebut masih dicari. Namun sementara beberapa pihak menduga karena utang-piutang.

Sebagai langkah awal menyidik kasus ini, polisi memeriksa istri Edo, Fifi Oktavianus. Wanita muda itu diperiksa oleh tim Reskrim gabungan dari Polda Metro Jaya, Polresta Depok dan Polsek Bojong Gede di rumah korban, Perumahan Griya Satria Jingga di RT 3/14, Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat.

Dalam pemeriksaan sementara, Fifi mengaku sudah dua minggu kerap bertengkar dengan sang suami seputar masalah keluarga. Cekcok biasanya dipicu oleh masalah keyakinan. “Karena beda agama, jadi kami kadang suka berantem,” tutur Fifi di lokasi, Rabu (18/7/2012). Dari Fifi, polisi ingin mengumpulkan serpihan-serpihan kasus ini sehingga dapat menemukan siapa pelakunnya. Menurut Fifi, sekitar pukul 00.00 WIB, Selasa (17/7/2012) dirinya masih SMS-an dengan Edo.

“Kalau saya sedang libur kerja, Edo suka mengajak saya jalan. Jadi semalam dia SMS saya ngajak jalan. Dia ingin baikan. Edo belum punya kerja tetap, sekarang kerja jaga internet di Tanah Baru, Kota Depok,” sambungnya.

Selain Fifi, polisi juga meminta ayahnya untuk datang ke Mapolsek Bojong Gede guna menjalani pemeriksaan. Terkait motif peristiwa sadis ini, polisi masih melakukan pengembangan. Namun dari informasi yang beredar di TKP, ada dugaan pembunuhan ini terkait masalah utang piutang. Belum bisa pastikan siapa pelakunya. Tapi ini korban pembunuhan. Bisa jadi utang-piutang atau pun jual beli sepeda motor,” ujar seorang polisi kepada detikcom di lokasi.

Polisi mencari informasi dan sumber terkait untuk merangkai kisi-kisi dari kasus pembunuhan ini. Namun, diduga, pembunuh adalah orang yang kenal dengan korban karena karpet dalam keadaan terbuka layaknya sedang menerima tamu dan duduk bersama di atas karpet.

“Kita masih terus menyidik dan mengumpulkan informasi dari pelbagai pihak. Semua yang kita anggap kenal dan terkait dengan korban perlu kita mintai keterangan,” tambah polisi tersebut. Para tetangga pun menduga kasus ini berkaitan dengan urusan utang piutang motor. “Saya dengar Pak Edo ngomong beberapa hari lalu, dia sekarang sedang rintis usaha jual-beli motor,” ujar Roland tetanggga korban.