Amirudin Penjual Busana Di Kompleks Cadrabaga Tewas Dibunuh Oleh Istri dan Anaknya Sendiri

Akhirnya terungkap siapa otak dan pelaku pembunuhan Amirudin (67), penjual busana, di kiosnya di Jalan Kompleks Candrabaga, RT 27 RW 19 Bahagia, Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (20/6) pukul 02.30.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bekasi Kota Komisaris Dedy Murti Haryadi mengungkapkan, tersangka pelaku berjumlah empat orang, yang semua telah ditangkap. Mereka ialah Njn (47), HN (26), Tiy (20), dan Wwn (30).

Yang mengejutkan, otak pembunuhan Njn adalah istri kedua korban dan HN, anak sulung dari enam bersaudara buah pernikahan korban dengan Njn.

Selain merencanakan pembunuhan, Njn dan HN terlibat dalam eksekusi yang menyebabkan korban tewas dengan luka sayat, tusuk, dan bacok di leher, dada, perut, pantat, serta tangan kanan.

Yang ironis, setelah pembunuhan, Njn meminta agar diikat dan mulutnya disumpal kain oleh pelaku untuk mengelabui.

Pembunuhan itu terungkap setelah warga mendengar tangis dan teriakan anak bungsu korban, Muhammad Sabri (5). Ada warga yang sempat melihat tiga lelaki berkelebat dan dicurigai sebagai pelaku.

Dari penyelidikan, petugas berhasil menangkap dua orang, yaitu Tiy dan HN, di Jakarta Utara. Kedua tersangka ditangkap sehari setelah peristiwa. Perburuan dan penangkapan kedua tersangka itu berdasarkan ciri-ciri pelaku dari Njn yang saat itu dimintai keterangan sebagai saksi.

Untuk menguatkan alibi bukan sebagai pelaku, pada awal dimintai keterangan, Njn berkali-kali histeris dan pingsan di hadapan penyidik.

Namun, dari penyidikan, petugas justru mengendus ada ketidakberesan dari keterangan Njn, HN, dan Tiy. Kecurigaan itu menguat setelah petugas bisa menangkap Wwn di Mesuji, Lampung, Sabtu (30/6).

”Dia (Wwn) mengakui bekerja sama dengan ketiga tersangka lainnya,” kata Dedy dalam jumpa pers pengungkapan kasus di Polres Bekasi Kota, Senin.

Tidak dapat warisan

Berdasarkan keterangan tersangka, pembunuhan itu sudah direncanakan sejak awal Juni 2012. Waktu itu, Amirudin menjual rumah di RT 4 RW 12 Rawa Badak Utara, Koja, Jakarta Utara, dan mendapatkan uang Rp 1,5 miliar. Korban masih tercatat sebagai warga Rawa Badak Utara berdasarkan kartu tanda penduduk yang ditemukan petugas.

Setelah penjualan aset itu, diduga terjadi percekcokan antara korban dan istrinya. Amirudin mengancam tak akan mewariskan harta atau uang hasil penjualan rumah itu kepada Njn.

”Akibatnya, tersangka mulai merencanakan pembunuhan terhadap korban demi mendapat warisan,” kata Dedy.

Njn kemudian mengajak HN, anak sulung dari pernikahannya dengan Amirudin, untuk menghabisi korban. Si sulung tergiur dan bersedia memenuhi tuntutan ibundanya karena diiming- imingi uang warisan korban.

Untuk memuluskan aksi, HN meminta bantuan Wwn dan menjanjikan imbalan Rp 20 juta. Wwn merasa aksi itu harus didukung satu orang lagi.

Untuk itu, Wwn mengajak Tiy bergabung dan meminta imbalan dinaikkan menjadi Rp 30 juta untuk dibagi dua. Oleh HN, kedua tersangka sudah dibayar Rp 8 juta. Namun, uang pembayaran itu didapat dari menjarah laci kios seusai korban dihabisi.

Atas perbuatan itu, keempat tersangka akan dijerat pelanggaran hukum berupa pembunuhan yang direncanakan (Pasal 340 KUHP) disertai pencurian dengan kekerasan (Pasal 365 KUHP). Ancaman hukuman yang bisa dijatuhkan kepada para tersangka ialah penjara seumur hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s