Ryan Pembunuh Berseri Asal Jombang Tetap Dihukum Mati Setelah MA Menolak PK

MAHKAMAH Agung (MA) menolak permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan Very Idham Henyansyah alias Ryan pada perkara pembunuhan berencana terhadap 11 orang di Depok, Jawa Barat dan Jombang, Jawa Timur. Dengan demikian pria yang dijuluki ‘Jagal dari Jombang’ itu tetap divonis hukuman mati. Namun Ryan masih dapat mengajukan grasi ke Presiden.

“Berdasarkan musyawarah mufakat majelis terhadap perkara No. 25 PK/PID/2012 Pengadilan Negeri Depok, maka diputuskan bahwa PK perkara saudara Ryan ditolak. Dasar penolakannya adalah berdasarkan putusan PN Depok,” kata Ridwan Mansyur, Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat MA di gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Senin (9/7).

Dijelaskan Mansyur, setelah ini upaya terakhir yang bisa dilakukan Ryan adalah mengajukan grasi ke Presiden. “Dapat mengajukan grasi paling lama setahun setelah ketetapan MA. Ryan dapat mengajukan grasi karena hal itu sesuai dengan undang-undang,” ujar Ridwan seperti dikutip Kompas.com.

Di MA, perkara Ryan diputus pada 5 Juli 2012 oleh majelis hakim yang terdiri dari Artidjo Alkostar, Gayus Lumbuun, dan Salman Luthan. Suara pengambilan keputusan majelis hakim MA dalam perkara PK ini bulat, yaitu menolak PK yang diajukan Ryan.

Dengan ditolaknya permohonan PK oleh MA, maka Ryan tetap divonis hukuman mati karena telah terbukti melakukan pembunuhan berencana.

Hal itu diperjelas oleh keputusan Pengadilan Negeri Depok No. 1036/Pid.B/2008/PN.DPK Tahun 2009 yang sudah berkekuatan hukum tetap atau inkracht. Permohonan grasi, lanjutnya, dapat diajukan oleh terpidana mati, seumur hidup atau minimal 2 tahun kurungan.

“Keputusan eksekusi mati ada di tangan jaksa penuntut umum sebagai eksekutor. Jadi, setelah PK ditolak, Ryan dapat dieksekusi kecuali ada usaha darinya untuk mengajukan grasi ke Presiden. Biasanya pelaksanaan eksekusi mati membutuhkan waktu bertahun-tahun setelah waktu pengajuan grasi lewat,” tambahnya.

Psikopat

Dalam mengajukan PK kemarin, kata Mansyur, Ryan mengajukan novum (bukti baru) bahwa dirinya mengalami gangguan jiwa, psikopat, sehingga tidak pantas dijatuhi hukuman mati atau bisa dinyatakan tak bersalah. Dalam memori PK-nya pihak Ryan telah menyerahkan novum berupa pendapat tiga orang ahli yang menyatakan bahwa Ryan adalah psikopat, yakni Profesor Robert D Hare dari British Columbia University, Profesor Farouk Muhammad, dan Irjen Iskandar Hasan.

Seperti diketahui, kasus Ryan bermula dengan ditemukannya tujuh potongan tubuh manusia di dalam dua buah tas dan sebuah kantong plastik di dua tempat di dekat Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu 12 Juli 2008. Korban ternyata Heri Santoso (40), seorang manager penjualan sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Heri dibunuh dan dimutilasi oleh Ryan di apartemen Margonda Residence di Jalan Margonda Raya, Depok. Menurut pengakuan Ryan, dia membunuh Heri karena tersinggung setelah Heri menawarkan sejumlah uang untuk berhubungan dengan pacarnya, Noval (seorang laki-laki).

Dalam penyelidikan polisi, terungkap, korban Ryan tidak hanya Heri. Ryan membunuh 10 orang lainnya dan mengubur mayat mereka di halaman rumah orangtuanya di Jombang, Jawa Timur. Korban pertama Ryan adalah Guruh Setyo Pramono alias Guntur (27) yang dibunuh pada Juli 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s