Monthly Archives: Agustus 2012

Istri Di Gerayangi Oleh Calon Pegawai Ketika Suami Tidur Pulas

Lis (16) mengaku masih beruntung karena Ded gagal memerkosanya.

Ketika ditemui di Mapolsek Belinyu, Kamis (30/8/2012) siang, Lis memastikan Ded hanya meraba-raba beberapa bagian tubuhnya.
“Dia hanya meraba-raba saya, tapi saya terbangun dari tidur. Saya tepis tangannya, saya berusaha melawan,” kata Lis yang mengaku sedang hamil lima bulan.

Sedangkan sang suami, Sut alias Ar, mengaku sama sekali tak mengetahui istrinya dicabuli.
“Entah mengapa, saya seolah tertidur pulas, seperti sedang mabuk kapal. Saya sama sekali tak tahu, tak terbangun walaupun tidur bersebelahan dengan istri saya,” ujarnya.

Kejadian ini diakui Sut membawa hikmah. Di kemudian hari, ia harus lebih berhati-hati pada pria yang baru dikenalnya.
“Saya tidak kenal dengan dia (Ded). Kami ketemu dia karena dia diajak oleh kakak saya, dengan maksud akan dipekerjakan di TI (tambang inkonvensional) apung di Batuatap. Karena TI masih ada masalah, maka sementara waktu disuruh menginap di kontrakan,” tutur Sut.

Guru Mengaji Di Bogor Cabuli 13 Anak Gadis Muridnya Dari Usia 8 Hingga SMA

Seorang guru mengaji di Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, Nana Suryana, 44 tahun, diringkus Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Gunung Putri. Pria paruh baya ini harus mendekam di penjara karena diduga telah mencabuli 13 anak gadis dibawah umur, yang menjadi muridnya.

Menurut Kepala Satuan Resese Kriminal Kepolisian Resor Bogor, Ajun Komisaris Imron Ermawan, pelaku melakukan perbuatan tidak terpuji tersebut di kamar anaknya di Kampung Wanaherang Pasar, Desa Wana Herang, Kecamatan Gunung Putri.

Saat diciduk dari rumahnya, Nana yang juga karyawan perusahaan swasta tak bisa berkutik. Pelaku pasrah dan mengakui semua perbuatan bejatnya. Bahkan, seorang korban yang kini duduk di kelas 3 sekolah menengah atas masih dipaksa melayani nafsu binatangnya. Padahal, korban sudah dicabulinya sejak berusia 8 tahun.

Semua korban yang berjumlah 13 orang, Imron menjelaskan, rata-rata berusia antara 7-9 tahun. Usai mengaji anak yang mau dicabuli selalu diajak pulang terakhir. Korban ditarik kedalam kamar anaknya. “Setelah dicabuli, pelaku memberi korban uang sebesar Rp 2.000,” kata Imron di kantornya, Sabtu, 25 Agustus 2012.

Terungkapnya perbuatan cabul guru mengaji bejat ini bermula dari laporan salah seorang keluarga korban, sebut saja namanya Bunga,9 tahun. Ibu korban, Ir, 39 tahun, tanpa sengaja mendengar ungkapan anak bungsunya yang sedang bertengkar dengan kakaknya, Bunga.

Ir berusaha melerai pertikaian antara kakak dan adik itu. Rupanya, tindakan ibu kedua anak gadis tersebut dinilai tidak adil. Sang adik jengkel karena ibunya dinilai selalu membela Bunga. “Nah adiknya ini lalu mengatakan ”kenapa kemarin kakak ditiduri guru ngaji ibu diam.” Dari sini ibu Bunga lalu lapor dan pelaku kami tangkap,” kata Imron.

Keluarga korban membuat laporan polisi pada tanggal 22 Agustus 2012 lalu. Polisi langsung bergerak dan meringkus pelaku di rumahnya. Sementara korban melakukan visum karena mengaku telah digagahi guru mengajinya. “Alat vital pelaku masuk kedalam alat vital korban,” ujar Imron.

Kepada petugas, pelaku yang sudah beristri dan punya tiga anak itu mengaku puas jika berhasil mencabuli anak didiknya. Perbuatan terkutuk yang sudah berlangsung bertahun-tahun itu dilakukan Nana ketika anak dan istrinya tak ada di rumah. Korbannya digagahi secara bergiliran. Para anak gadis ini tak berani melapor karena takut dengan ancaman sang guru.

“Saya merasa kenikmatan lain usai berhubungan dengan anak-anak. Ada satu anak yang sekarang sudah kelas 3 SMA, masih suka saya setubuhi,” kata pelaku kepada penyidik.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 81 dan 82 UU-RI nomor 15 pidana penjara 15 tahun.

Saiful Dian Effendi Dihukum 5 Bulan Penjara Karena Kirim SMS Cabul Pada Adelian Ayu Septiana

Hati-hati mengirim SMS kepada teman Anda sebab bisa saja berakhir penjara. Apalagi jika SMS tersebut berisi kata-kata cabul, seronok atau mengandung pelecehan. Seperti yang dialami mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Madiun, Jawa Timur, Saiful Dian Effendi (22).

Kasus ini bermula saat Saiful mengirimkan perkataan cabul, jorok dan porno kepada beberapa nomor di handphone-nya pada awal 2011. Semua yang dia kirimi adalah perempuan, salah satunya Adelian Ayu Septiana. Isi SMS seronok tersebut membuat Adel merasa risih dan dilecehkan. Apalagi SMS dikirim berkali-kali. Adel pun melaporkan hal ini ke polisi.

Setelah melalui proses hukum, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Madiun menuntut Saiful untuk dihukum 10 bulan penjara dan denda Rp 1 juta. Jika tidak mau membayar denda, maka diganti pidana kurungan selama 3 bulan.

Namun tuntutan JPU ini tidak dipenuhi majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Madiun. Ketua majelis hakim, Arif Budi Cahyono, menghukum Saiful dengan hukuman percobaan. Yaitu jika selama 10 bulan Saiful tidak mengulangi perbuatannya maka tidak dipenjara. Tetapi jika dalam 10 bulan mengulangi, maka Saiful harus mendekam 5 bulan penjara tanpa proses hukum lagi.

Mendapati putusan ini, JPU pun banding namun Pengadilan Tinggi Surabaya bergeming dan tetap dengan putusan PN Madiun. JPU tidak patah arang dan mengajukan kasasi. Setelah dipertimbangkan matang, MA pun mengabulkan permohonan JPU.

“Mengabulkan permohonan jaksa. Menghukum terdakwa dengan hukuman 5 bulan penjara,” demikian bunyi putusan kasasi MA yang didapat detikcom, Rabu (15/8/2012).

Putusan ini dibuat oleh ketua majelis Djoko Sarwoko dengan hakim anggota Komariah Emong Sapardjaja dan Surya Jaya. Putusan yang menggunakan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) ini diketok pada Senin, 6 Agustus 2012 lalu dan menjadi kasus pertama yang masuk MA terkait SMS cabul yang dipidana.

Putusan kasasi ini mengubah nasib Saiful. Sebab hukuman percobaan dihapus. Selain menghapus hukuman percobaan, pidana denda pun dihapus oleh MA. Meski demikian, Saiful harus meringkuk selama 5 bulan di hotel prodeo untuk mempertangungjawabkan SMS seronok yang dikirimnya itu.

Latar Belakang Keluarga dan Perkawinan Korban Pembunuhan Kakak Beradik Di Surabaya

Bagaimanakah sosok Sunarsih kakak kandung Supiati yang juga menjadi korban pembunuhan yang diduga dilakukan Warja Suwatman Mandala Putra alias Jaja suami Sunarsih. Dari keterangan keluarganya, Sunarsih dan Barja jahat dan berbalik dengan Supiati yang dikenal baik hati. “Supiati itu baik. Kalau Sunarsih dan suaminya Jaja itu jahat,” ujar kakak korban beda bapak, Saguni saat bincang-bincang dengan detiksurabaya.com di rumahnya, Senin (13/8/2012).

Sunarsih setelah lulus sekolah di Surabaya sudah merantau ke daerah Jakarta. Kemudian, ia menikah dengan seorang laki-laki. Sayangnya, pernikahan pertamanya yang barus berusia sebulan sudah pecaha dan keduanya bercerai. Dari suami pertamanya, Sunarsih mempunyai 1 anak. Namun, usianya juga tak berumur panjang.

Kemudian, Sunarsih (46) sering berkunjung ke Surabaya dengan seorang laki-laki yang usianya lebih muda yakni Warja alias Jaja (25) asal Subang Jawa Barat. “Sunarsih sering tinggal di sini sama Jaja. Sunarsih bisanya mengenalkan ke warga kalau Jajaj itu suaminya,” tuturnya. Sayangnya, meskipun keduanya menempati rumah adiknya di Simo Prona Jaya, keduanya nampaknya seperti menjadi tuannya. Bahkan, Jaja pernah melempar cangkir ke Supiati hingga lari meminta perlindungan ke keluarga Saguni. Saguni pun sempat akan bertengkar dengan Jaja, namun dihalau oleh Marnikem.

“Kalau keduanya nggak ada, Supiati mau berkunjung ke rumah kami. Tapi kalau sudah ada 2 orang itu, nggak berani ke sini, takut dimarahinya,” ujarnya. Memang kalau sama tetangga, keduanya baik. Tapi kalau sama keluarga kita, ibaratnya air dengan minyak, nggak akan nempel. “Kalau sama tetangga bisa tersenyum. Kalau sama keluarga kami, ya ibaratnya seperti minyak dan air, nggak pernah tegur sapa,” cetusnya.

Sunarsih dan Jaja sering Bogor-Surabaya. Bahkan ketika di Surabaya dan melahirkan anak pertamnya, Alif, Sunarsih dan Jaja menjual rumah Supiati yang di kawasan Simo Prona Jaya, dengan dalih untuk membiayai persalinan Alif. “Ya sering bolak balik ke Surabaya. Ya sekiranya ke Surabaya untuk mengambil harta atau uang. Kalau uangnya sudah habis, balik lagi ke Surabaya. Pokoknya apa saja yang di Surabaya, kalau bisa di jual ya dijual,” tuturnya.

Saguni menceritakan, dirinya pernah ditipu oleh Sunarsih dan Jaja. Rumahnya yang berda di Citarum, Kampung Karang Suko, Semarang, pernah dijual Sunarsih. Namun, sampai sekarang ini, Saguni tidak pernah merasakan hasil dari penjualan rumahnya. “Katanya Sunarsih, nanti kalau sudah dijual akan dibagikan. Tapi sampai sekarang nggak pernah dikasihkan. Kami sekeluarga nggak mau mengungkit-ngungkit lagi,” ujarnya.

Sunarsih dan Jajaj sudah sering menjual harta benda keluarga Supiati di Surabaya seperti di Semarang. Kemudian rumah kontrakan di Simorejo Timur II dan SImo Prona Jaya III. Namun, hasil penjualan itu tak pernah dirasakan oleh Supiati maupun keluarga lainnya seperti Saguni. Bahkan, ketika Supiati dan Sunarsih tidak ada, Jaja berani mengontrakan rumah Supiati yang juga menjadi tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan dan kakak adik itu yang dikubur di kamar belakang.

Rumah di Simo Prona Jaya III/2 ukuran 5×7 meter itu dikontrakan seharga Rp 4 juta untuk 2 tahun. Bahkan, rumah Supiati untuk kos-kosan di Simorejo Timur hendak dijual ke orang lain. Namun transaksi tersebut gagal, karena diketahui oleh anak angkat Juri.

“Anak angkatnya Pak Juri mengetahui kalau rumah di Simorejo itu ditawarkan Jaja mau dijual. Akhirnya nggak jadi dijual,” ujarnya. Saguni menilai Jaja sudah tidak beres dan hanya mengincar harta bendanya. Bahkan, sebelum kejadian ini maupun kelahiran anak kedua Sunarsih dari pasangan Jaja yang hanya berumur 2 hari, Saguni curiga dengan keberadaan Alif yang usainya baru 2,5 tahun.

“Kata tetangga, Alif sudah dipulangkan ke rumah neneknya di Subang. Tapi saya tidak percaya begitu saja. Sampai sekarang ini di mana anaknya juga belum jelas,” katanya. Ia berharap agar kasus ini terbongkar, sehingga semua permasalahan dapat terselesaikan, termasuk ijazah Supiati dan surat-surat sertifikatnya, maupun sertifikat rumah Saguni di Simo Prona Jaya III/5.

“Sertifikatnya saya titipkan ke Supiati, karena dia itu primpen (pandai menyimpan). Saya dengar-dengar rumah ini juga mau dijual oleh (Sunarsih dan Jaja). Kalau sampai ditawarkan ke orang lain, ta jak gelut mas (Saya ajak bertengkar),” jelasnya. Kabar tertangkapnya pelaku pembunuhan kakak adik, Sunarsih dan Supiati, membuat lega hati keluarga korban. Mereka meminta Warja Suwatman Mandala Putra alias Jaja suami dari Sunarsih, dihukum mati. “Saya nggak terima, harus dihukum mati,” cetus Saguni kepada detiksurabaya.com, Senin (13/8/2012).

Setelah mendengar kabar tertangkapnya Warja alias Jaja suami dari Sunarsih oleh kepolisian, Saguni dengan emosi tidak bisa mengutarakan lagi dan menyerahkan ke istrinya, Manikem untuk berbicara. “Saya mewakili keluarga meminta pelaku dihukum mati. Karena dia sudah membunuh 2 orang sekeligus sekeluarga,” ujar Manikem. Selain itu, Jaja suami korban Sunarsih bukan hanya membunuh saja, tapi juga merampok harta benda Supiati seperti semua isi rumah Supiati di Simo Prona Jaya III/2, seperti lemari dan perabotan rumah lainnya sudah habis dijual ke orang lain.

Rumah tersebut juga dikontrakkan ke orang lain sebesa R 4 juta untuk 2 tahun. Dan uang tersebut dibawa kabur Jaja. “Rencananya juga mau menjual rumah di Simorejo, tapi nggak jadi karena ketahuan. Pokoknya saya nggak terima harus dihukum mati,” katanya. Selain itu, keluarga juga meminta aparat kepolisian untuk mengusut keberadaan Alif (2,5) anak pertama pasangan dari Sunarsih dengan Warja (pelaku). Yang kabarnya dibawa Jaja ke rumah neneknya di Subang. Mereka khawatir Alif menjadi korban trafficking (perdagangan manusia).

“Kami harap keberadaan Alif juga dipertanyakan,” jelasnya. Supiati adalah salah satu korban pembunuhan yang dikubur dalam 1 liang lahat bersama kakaknya, di dalam kamar belakang rumahnya sendiri di Simo Prona Jaya III/2, Simo Mulyo Baru Surabaya. Siapakah sosok Supiati ? “Sama tetangga juga baik. Sama keluarga juga baik,” ujar Suci yang juga keponakannnya saat bincang-bincang dengan detiksurabaya.com di rumahnya, Senin (13/8/2012).

Dari informasi yang dihimpun, Supiati sebelumnya tinggal di kawasan Simorejo Timur Surabaya. Kemudian pada sekitar Tahun 2000, ia pindah dan tinggal di rumah orang tua Suci atau kakak beda bapak, Saguni di Simo Prona Jaya. Saat tinggal di rumah tersebut, Supiati sudah keluar dari tempat kerjanya sebagai Caddy Golf di salah satu lokasi di Surabaya barat.

“Setelah keluar dari Caddy, sudah tidak bekerja lagi,” tuturnya. Meskipun tidak bekerja lagi sebagai caddy, Supiati masih mendapatkan pendapatan dari hasil 2 rumahnya di Simorejo yang dikontrakan dan indekos. Kemudian, sekitar 2002 Supiati membangun rumahnya sendiri di Simo Prona Jaya III/2. Dalam kurun kurang dari setahun, rumah tersebut sudah bisa ditempati.

Sekitar 5 tahun lagi, Supiati berkenalan hingga menjalin hubungan pernikahan dengan duda purnawirawan TNI AL, Pak Juri. Meskipun umur keduanya selisih 30 tahun, hubungan rumah tangga mereka baik-baik saja dan tidak ada masalah dengan tetangga maupun keluarganya. “Ya kalau berjalan seperti anak sama bapaknya. Pak Juri orangnya juga baik kok,” tuturnya.

Sayangnya, hubungan Supiati dengan Juri tak berlangsung lama. Juri yang baru tinggal di rumah Supiati kurang dari setahun, mengidap penyakit diabetes hingga akhirnya meninggal dunia dan dikebumikan di tempat pemakaman umum di kawasan Simo Tambaan. Supiati pun menjanda dan sampai terbunuh pun belum pernah menikah lagi.

“Mbang Supiati itu orang sayang dan setia. Dia nggak mau menikah lagi, karena takut dengan laki-laki dan khawatir laki-laki hanya mau menikah untuk mengincar hartanya saja,” tuturnya. Selama menjanda, Supiati selalu mendapatkan penghasilan dari ‘usaha’ rumah kontrakannya di kawasan Simo Prona Jaya, dan rumah kontrakan serta rumahnya yang di-koskan sebanyak 5 kamar di kawasan Simorejo Timur.

“Selain itu juga mendapatkan pensiunan dari suaminya purnawirawan Pak Juri,” terangnya. Sementara itu, Manikem yang juga kakak iparnya, mengaku Supiati adalah anak yang baik. Bahkan, tak jarang Supiati selalu mengajak istri dari kakak beda bapak, Saguni itu untuk belanja di pasar.

“Ya baik sekali mas. Kalau setelah mengambil uang pensiunan, biasanya mengajak ke pasar,” ujar Manikem sambil menirukan ajakan Supiati, “Ayo yuk belanja ke pasar. Sampeyan mau beli apa,”. Meski mempunyai rumah sendiri, Supiati masih sering berkunjung ke rumah kakaknya, Saguni suami Manikem yang masih sekampung. “Kalau Supiati itu orangnya baik, sama tetangga juga baik,” ujar Ketua RT 1 RW 8, Agus. Bambang juga menilai Supiati masih sering berkomunikasi dengan tetangganya. “Orangnya baik mas. Sama tetangga juga baik,” kata Bambang yang juga tetangganya.

Dua Mayat Wanita Kakak Beradik Ditemukan Dikubur Di Satu Liang Di Jalan Simo Prona Jaya III/2 Surabaya

Perkampungan di Simo Prona Jaya, Surabaya, digemparkan dengan penemuan mayat wanita kakak adik yang dikubur di kamar rumah mereka.

Jenazah kakak adik itu dikubur dalam satu liang. Keduanya itu diperkirakan korban pembunuhan. “Memang benar ada 2 jenazah perempuan yang dikubur di dalam rumah,” kata Kapolsek Sukomanunggal Kompol M Baderi, Minggu (12/8/2012) pagi.

Kedua jenazah perempuan yakni, Sunarsih yang diperkirakan berumur 46 tahun dan adiknya Supiati 34 tahun. Saat digali kuburannya, Sunarsih masih mengenakan pakaian daster. Bambang, warga setempat yang ikut menyaksikan evakuasi menyatakan bila kedua jenazah telah membusuk.

Kedua jenazah itu dikubur di kamar belakang. “Di rumah itu ada 2 kamar,” jelasnya.

Setelah mendapatkan laporan dari warga pada Minggu dini hari, polisi langsung melakukan penyelidikan ke lokasi. Kemudian, kedua jenazah yang dikubur di kedalaman sekitar 60 sentimeter, langsung dievakuasi ke kamar mayat RSU dr Soetomo Surabaya.

Pantauan detiksurabaya.com, rumah Supiati berukuran 5 x 7 meter di Kelurahan Simo Mulyo Baru Kecamatan Sukomanunggal telah diberi garis police line. Ratusan warga sekitar masih bergerombol ingin menyaksikan rumah yang rencananya akan dikontrakkan itu.

Kematian dua wanita kakak beradik masih misterius. Polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku yang mengubur dua korban dalam satu liang di kampung Simo Prona Jaya III/2, Surabaya.

Dua wanita itu yang kuburannya dibongkar polisi adalah Sunarsih yang diperkirakan berumur 46 tahun dan adiknya Supiati 34 tahun.

Kapolsek Sukomanunggal Kompol M Baderi masih belum bisa memastikan motif pembunuhan yang korbannya dikubur di dalam kamar belakang tersebut. Rumah milik Supiati itu kini diberi garis police line.

“Kita masih menyelidikinya,” kata Baderi, Minggu (12/8/2012).

Informasi yang dihimpun, selain kakak beradik itu yang tinggal di rumah tersebut adalah Barja. Pria asli Subang, Jawa Barat, itu adalah suami Sunarsih. Saat polisi membongkar kuburan korban di kamar belakang, Barja tak terlihat.

Saat dikonfirmasi, polisi masih enggan memberi penjelasan banyak. “Sementara saya belum bisa bicara banyak. Tunggu hasil penyelidikan dulu ya mas,” kata Baderi.

Baru Pacaran Sebulan Lewat Facebook Pelajar SMA Ini Langsung Berhubungan Seks Dengan Pacar

Baru kenal satu bulan, lewat facebook, pelajar SMA kelas I ini sudah digagahi oleh pacar saat berada di rumah teman mereka di Kampung Batangwangi, Tanjungseneng, Bandarlampung. Sang pacar yang juga pelajar SMA langsung ditangkap pada Jum’at (10/8) dini hari.

Korban yang ditemui saat bersama keluarganya melapor ke Polresta sehari sebelum ditangkapnya hanya tertunduk lesu, saat menceritakan peristiwa yang terjadi pada dirinya.”Saya kalau ingat kejadian itu rasanya pengin mati. Nyesel luar biasa”, tuturnya sambil mengusap airmata.

Sementara itu ibu kandung korban mengatakan, kejadian yang menimpa anaknya tersebut terjadi sehari sebelum ditangkapnya pelaku. “Waktu itu anak saya diajak pelaku main kerumah temannya di Kampung Batang Wangi Kelurahan Tanjung Seneng – Kecamatan Tanjung Seneng, Bandarlampung. Di sana lah, anak saya dipaksa berhubungan badan layaknya suami istri,” ujarnya.

Sang ibu mencurigai prilaku putrinya yang tampak murung dan tidak bersemangat seperti hari-hari sebelum kejadian tersebut, setelah kejadian. “Saya coba tanyakan apa yang terjadi kepada anak saya. Awalnya anak saya tidak mau cerita . Setelah didesak, akhirnya cerita. Rasanya seperti disambar petir, ” katanya.

Setelah berunding dengan keluarga diputuskan mendatangi keluarga Chaca dan minta pertanggung-jawaban. “Tapi tidak juga ada niat baik dari keluarga Chaca,” tandasnya. Karenanya, dia membawa ke jalur hukum dan melapor ke polisi.
Kasat Reskrim Polresta Bandarlampung, Kompol Musa Tampubolon mengatakan, atas laporan keluarga korban pelaku langsung ditangkap. “Perkara ini masih dalam tahap penyidikan,” kata Kasatreskrim.

Polisi Tangkap Perampok Menggunakan Taksi Yang Khusus Merampok Pria Sedang Spesialis Perampok Wanita Belum Tertangkap

Kepolisian Metro Jakarta Barat menangkap enam tersangka perampok yang biasa menggunakan taksi dalam menjalankan kejahatannya. Keenam tersangka ini adalah EEN, 50 tahun, AN (38), MA (37), DA (36), AS, dan MAR (32). Di Jakarta Barat, komplotan ini beraksi sebanyak lima kali. Dan di wilayah Jakarta, kelompok ini sudah beraksi sebanyak 10 kali.

“Kami tangkap mereka di Jakarta Selatan dan Tangerang lusa,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Barat, Ajun Komisaris Besar Hengki Haryadi, di kantornya, Kamis, 2 Agustus 2012. Hengki mengatakan kelompok ini merupakan komplotan yang fokus menyasar korban laki-laki.

Modus tersangka adalah mengaku sebagai anggota ormas dan anggota intel. Dengan memakai taksi, mereka berkeliling mencari korban dengan postur tubuh kecil. Setelah menemukan korban, pelaku memaksa korban masuk ke taksi. Pelaku menuduh korban mengganggu kerabatnya. Setelah itu, pelaku mengambil harta korban berupa uang dan telepon seluler. “Selanjutnya, korban diturunkan di tengah jalan,” kata Hengki.

Hengki menduga ada sindikat lain yang belum tertangkap. Sebab, berdasarkan laporan polisi, ada modus serupa yang menyasar perempuan. Ahad lalu, 29 Juli 2012, seorang perempuan bernama Julianan Taufic dirampok oleh sekelompok orang dengan menggunakan taksi. Korban dinaikkan taksi di Taman Palem, Jakarta Barat. Korban dibawa ke Kelapa Gading sebelum diambil uang dan telepon selulernya.

Martin, salah seorang tersangka pelaku, mengakui mereka sudah beraksi sebanyak empat kali di sejumlah lokasi. Dia mengatakan, selama menjalankan kejahatan, mereka tidak pernah memakai senjata tajam. “Kami hanya menggertak dengan tangan kosong,” kata dia.

Salah seorang korban adalah Terry Yudha Pratama. Pelaku memakai taksi dengan pelat nomor B 1297 CTB. Para pelaku menuduh Terry mengganggu anak bosnya dan memaksa korban ikut masuk ke dalam taksi. Setelah itu, korban diputar-putar kemudian diambil dua telepon selulernya serta uang tunai. Korban lalu diturunkan di sekitar Kembangan, Jakarta Barat.

Saat ini, para tersangka masih diperiksa Satuan Reserse dan Kriminal Polres Jakarta Barat. Mereka dianggap melanggar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 365 tentang Pencurian dengan Kekerasan dan Pasal 368 tentang Pemerasan.