Monthly Archives: September 2012

Kisah Germo Keyko dan 7 Polwan Cantik Yang Menyamar Jadi Pelacur

Sekian lama beroperasi sebagai manajer bisnis esek-esek, Yunita alias Keyko dikenal amat berhati-hati. Salah satu kunci kesuksesannya menyelenggarakan bisnis rahasia ini adalah kemampuannya menjaga identitas klien sekaligus perempuan yang bekerja untuknya. Maklum, para wanita yang bekerja untuk Keyko rata-rata punya profesi lain sehari-hari, seperti mahasiswa, perawat, dan pekerja kantoran.

Satu prinsip kehati-hatian yang dipegang Keyko adalah dia nyaris tak pernah bertemu dengan germo dan pelacur di bawah jaringannya sendiri. Semua transaksi dilakukan via BlackBerry Messenger.

Keyko kerap memamerkan koleksi terbaru pelacurnya dengan memajang foto mereka di profil BlackBerry-nya. Ia juga rajin mengirimkan foto ”barang terbaru” kepada para pelanggan. Sebagian foto itu ia simpan di laptopnya. Saat Keyko ditangkap di rumahnya, polisi menemukan foto-foto perempuan panggilan koleksinya. Semua ini, menurut sejumlah penyelidik, ”Akan dijadikan bukti di pengadilan.”

Tiga germo Keyko: Nugroho Tjahjojo alias Dion, Lanny Agustina alias Nonik, dan Gloria Nansiska Maulina, misalnya, tak pernah sama sekali bertatap muka dengan bosnya. Ketiganya ditangkap polisi pada 11 September 2012 lalu dan dipertemukan dengan Keyko di Markas Kepolisian Resor Kota Surabaya. “Mereka hanya berkomunikasi lewat telepon tanpa tatap muka,” kata sumber Tempo.

Terbongkarnya jaringan bisnis seks Yunita alias Keyko bisa dibilang tak sengaja. Awal Agustus lalu, polisi menangkap seorang pelacur muda berusia 16 tahun di sebuah hotel berbintang di Surabaya.

Remaja ini mengaku berasal dari Malang dan datang ke hotel itu untuk melayani permintaan seseorang. Diinterogasi berjam-jam, remaja ini akhirnya buka mulut. “Ternyata dia bagian dari jaringan Nita di Malang,” kata Kepala Unit Kejahatan Umum Polrestabes Surabaya Ajun Komisaris M.S. Ferry kepada majalah Tempo pekan lalu.

Dari si remaja inilah, polisi mendapat banyak keterangan yang berujung pada penangkapan Keyko di Bali, akhir Agustus 2012 lalu. Kini, dia bersiap untuk duduk di kursi terdakwa. Tuduhan terhadap perempuan ini tak main-main: pemimpin jaringan prostitusi di berbagai kota di Pulau Jawa dan Kalimantan. Kliennya tersebar di sejumlah kota. “Dia juga melayani pesanan PSK untuk ke Papua,” kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Hilman Thayib kepada Tempo, Rabu pekan lalu.

Menurut polisi, Keyko memiliki 2.000 lebih pelacur dalam jaringannya. Para pelacur itu tersebar di berbagai kota: mulai Surabaya, Malang, Semarang, Jakarta, Bandung, hingga Banjarmasin. Dalam mengoperasikan jaringan ini, ia dibantu 50 germo.

Untuk menangkap germo terkenal asal Surabaya, Yunita alias Keyko, Polda Jawa Timur harus bekerja keras. Mereka bahkan sempat menugaskan tujuh polisi wanita untuk menyamar menjadi pelacur, anak buah Keyko.

Mereka bukan polwan sembarangan. “Mereka ini yang paling cantik se-Polda Jatim,” ujar seorang penyidik kepada Majalah Tempo pekan lalu. Dari tujuh polwan yang ditugaskan, hanya satu yang berhasil lolos dan masuk jaringan Keyko.

Keyko rupanya sangat selektif dalam soal ini. Tak sekadar wajah atawa bodi molek yang dipertimbangkan Nita, rekomendasi dari germo atau pelacur lain yang mengenal perempuan itu pun menjadi pertimbangan.

Setelah polisi masuk ke lingkaran Keyko, penyidik lain berusaha memancing Nita keluar dari sarangnya. Caranya, polisi menelepon dan berpura-pura memesan teman kencan. Namun, cara ini kandas karena perempuan itu ternyata memiliki aturan tersendiri untuk memverifikasi kesahihan calon pelanggannya. “Meskipun jumlah pelanggannya banyak, ia sangat mengutamakan prinsip kehati-hatian,” kata Hilman.

Polisi juga ”mengepung” rumah Nita di Jalan Dharmahusada Megah Permai Kavling 29, Surabaya. Polisi berharap bisa menangkap perempuan itu di sana. Namun, rumah itu selalu kosong. “Setiap hari selalu ada beberapa polisi bergantian menunggu di sana,” ujar seorang penjaga kompleks rumah Nita menunjukkan rumah di kavling 29 itu kepada Tempo pekan lalu.

Sebelum terjun ke bisnis esek-esek, Yunita alias Keyko adalah model laris di Surabaya, Jawa Timur. Profesi model ini dia jalani saat awal-awal duduk di bangku kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di Surabaya.

Dunia model ini pula yang membawa Keyko ke gaya hidup glamor. Dia selalu memakai tas dan baju bermerek serta makan dan minum di hotel berbintang.

Seiring dengan berjalannya waktu, Keyko pun mulai merintis agensi modelnya sendiri. Menurut sumber Tempo yang mengaku cukup mengenal Keyko, perubahan mulai terjadi ketika honor model dan pendapatan agensinya tak lagi mendukung gaya hidupnya yang jetset. Dia pun memilih jalan pintas menjadi pelacur. Untuk layanannya yang spesial ini, ia mematok harga tinggi. “Ia laris karena wajahnya manis,” kata sumber Tempo ini.

Para modelnya, seperti juga dirinya, ternyata juga tertarik melayani lelaki hidung belang. Tanpa disangka, bisnis ‘sampingan’ ini ternyata berkembang pesat. Para model yang memiliki fungsi ganda ini senang bekerja sama dengan Keyko. Soalnya, harga jasa yang ditawarkan Keyko ke para klien dianggap masuk akal dan pembagiannya dengan sang model pun memuaskan.

Lebih dari itu, Keyko bisa menjamin identitas para pelanggannya selalu tertutup. Kerahasiaan ini yang membuat bisnisnya, ujar seorang penyelidik kasus ini, jauh mengalahkan bisnis sejenis yang dilakukan oleh “legenda esek-esek Hartono Ayam” di Jakarta pada 1990-an.

“Hartono dulu jaringannya hanya kuat di Jakarta dan hanya memiliki beberapa ratus perempuan, sedangkan ini ribuan…,” ujar sumber Tempo sambil geleng-geleng kepala.

Bisnis esek-esek Keyko sudah amat terkenal di Surabaya. Para lelaki hidung belang tahu persis bagaimana menghubungi perempuan ini dan menyewa jasa hiburannya. Rahasia kesuksesan Keyko adalah kemampuannya menghimpun para perempuan muda dari berbagai profesi untuk menjajakan diri pada klien-klien terpilih.

Pekan lalu, seorang sumber Tempo menunjukkan puluhan file foto koleksi milik Keyko. Dari file itu, tampak bahwa Keyko sangat rapi menyusun daftar ”anak asuh”-nya itu. Setiap file foto diberi nama sesuai dengan nama si pelacur, lokasi, dan tarifnya. Kebanyakan berasal dari Surabaya, Bandung, Malang, dan Semarang. Di sana tercantum tarif mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 15 juta. Seorang penyelidik kepada Tempo menyatakan angka itu juga diakui Keyko saat ia diinterogasi.

Penampilan para perempuan dalam file Keyko itu memang bisa membuat darah pria berdesir. Wajah mereka tak kalah cantik dibanding artis sinetron yang kerap muncul di layar televisi. Rambut terawat segar dan baju yang dikenakan terlihat mewah. Sebagian berpose seperti sengaja menampilkan dada mereka yang busung.

Seorang penyidik telah mengidentifikasi sebagian foto para pelacur itu. Usia mereka 19-23 tahun. Kebanyakan masih berstatus mahasiswa dan karyawan berbagai perusahaan, termasuk bank swasta. Beberapa foto bahkan menunjukkan si pelacur berada di Hollywood dan sedang berada di limusin.

Tempo juga menemukan seorang pelacur yang masih mengenakan baju perawat sebuah rumah sakit di Surabaya. “Jadi, profesi sampingan mereka itu menjual diri dengan masuk jaringan Nita (Yunita atau Keyko),” kata sumber Tempo.

Kepada penyidik, Keyko mengaku tak perlu repot merekrut para pelacur itu. Kebanyakan dari mereka justru menawarkan diri kepada sejumlah germo untuk mencari uang tambahan demi menutupi gaya hidup mewah mereka. Beberapa di antaranya ada yang langsung datang kepada Keyko.

Keberhasilan polisi mengungkap bisnis pelacuran kelas tinggi yang dikelola Keyko kabarnya membuat sejumlah pejabat tinggi di Jawa Timur panas-dingin. Maklum, pelanggan Keyko selama ini ditengarai sebagian merupakan para pejabat.

Sejumlah sumber Tempo membenarkan bahwa pelanggan Keyko berasal dari kalangan atas. Kencan dengan pelacurnya biasa dilakukan di sejumlah hotel mewah di Surabaya, tempat wisata sekitar Malang, atau Denpasar. Kencan itu bisa hanya beberapa jam, sehari, atau berhari-hari. “Pelanggan saya banyak yang pejabat,” kata Keyko kepada wartawan saat jumpa pers di Polrestabes Surabaya, dua pekan lalu.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur dan Surabaya kini gonjang-ganjing lantaran Keyko sempat menyebut nama beberapa anggota Dewan sebagai pelanggannya. Kepada Tempo, seorang polisi bercerita, Keyko juga menyebut nama seorang pejabat Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai pelanggannya. “Karena itu, beberapa hari setelah Nita (Yunita alias Keyko) ditangkap, ada pejabat yang merayu penyidik agar kasus ini dibuat berakhir damai,” ujarnya.

Jumlah pelanggan Nita, sesuai dengan jumlah koleksi pelacurnya, sangat banyak. Saat ia ditangkap, menurut seorang polisi, puluhan pesan pendek dan pesan BBM masih masuk ke teleponnya. “Isi pesan itu menanyakan apakah dia punya barang baru atau tidak,” ujar polisi tersebut. Polisi pun kini sudah punya daftar siapa saja pelanggan Keyko.

Sebelum ditangkap polisi, Keyko hidup mewah dari penghasilannya sebagai germo papan atas. Penghasilan Keyko sendiri murni berasal dari kutipan jasa anak buahnya. Dia memang mengendalikan semua transaksi sebelum membagi honor untuk perempuan yang bekerja pada jaringannya.

Ketika seorang pelanggan menghubungi Keyko lewat BlackBerry, biasanya si klien sudah memesan siapa perempuan yang dia inginkan. Keyko lantas mengontak germonya sesuai dengan kota tempat pemesan berada. Setelah dipastikan pelacur yang dipesan tersedia, klien diminta mentransfer sejumlah uang ke rekening Bank Central Asia milik Keyko.

Meski berperan sebagai bos, Keyko ternyata hanya mengambil Rp 500 ribu dari setiap transaksi. Sisanya, dia kirim langsung pada pelacur dan germo yang mengatur jaringannya di kota itu. “Setelah ada uang, baru pelacur itu melayani pelanggan,” kata sumber Tempo. Polisi memperkirakan pendapatan Keyko dari ”bisnis” ini per hari tak kurang dari Rp 25 juta.

Polisi Ungkap Identitas Mayat ABG Yang Ditemukan Tewas Setengah Telanjang Di Hutan Pinus Bogor

Identitas mayat ABG yang ditemukan di hutan pinus, Leuwiliang Kabupaten Bogor, Senin (10/9) sekitar pukul 06.30 pagi lalu, akhirnya diketahui, Senin (24/9) atau tepatnya dua minggu kemudian.

Korban diketahui bernama Nopianti 14, warga Kampung Ciemas Desa Banyu Asih Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor.
Pihak Polsek Leuwiliang, belum mau memberikan keterangan detail tentang pengungkapan identitas korban yang saat ditemukan dalam kondisi tanpa celana dengan baju tersingkap keatas hingga terlihat payudaranya.
Alasannya, sedang mengejar pelaku yang diduga orang dekat korban.

Identitas korban diketahui, dari temuan bukti baru disamping tebing sejauh 12 meter dari lokasi temuan mayat.
Kanit Reskrim Polsek Leuwiliang, AKP Asep Triono melalui pesan singkatnya enggan mengungkap kronolis hingga pengungkapan identitas korban, dengan alasan, pihaknya sedang memburu pelaku.

“Memang benar mayat gadis berjilbab yang ditemukan warga dalam posisi tertelungkup ditengah hutan pinus yang sekitarnya hanya di huni 70 rumah warga, diketahui bernama Nopianti. Detailnya nanti saya kabarin, karena sekarang saya lagi ngejar pelaku,”kata AKP Asep dalam pesan singkatnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, jasad cewek ABG tanpa identitas ditemukan dua warga Senin (10/9) sekitar pukul 06.30 pagi.

Korban diduga dihabisi teman dekatnya sekitar pukul 00.00. Hal ini karena sekitar pukul 23.30, masih ada warga yang melihat korban duduk diatas motor bebek dengan ditemani seorang pemuda yang umurnya sebaya.

Oknum Polisi Bantul Diduga Memperkosa Dua Gadis Bergantian Di Pos Polisi Karena Tidak Memiliki SIM

Seorang oknum Polantas Polres Bantul diduga memerkosa dua gadis secara bergantian. Lebih bejat lagi, perbuatan tersebut dilakukan di pos penjagaan di bawah ancaman pistol.

Oknum anggota polisi lalu lintas (polantas) berisial Briptu SLS ini dilaporkan dua korbannya, yaitu Ew,25, warga Gunungkidul dan Len,16, warga Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Keduanya kos di Panggungharjo, Kecamatan Sewon. Pelaku bertugas di Pos Penjagaan Perempatan Druwo,Jalan Parangtritis,Bantul. Kapolres Bantul AKBP Dewi Hartati menegaskan bila anggotanya nanti terbukti melakukan tindak pemerkosaan tersebut, maka akan dikenakan sanksi tegas berupa pemecatan.

“Kalau terbukti bersalah, kepolisian tidak segan melakukan pemecatan kepada yang bersangkutan,” ungkap Kapolres kemarin. Setelah para korban melapor ke Polda DIY, lanjut dia, Briptu SLSlangsungditahandiMapolda guna pemeriksaan lebih lanjut. Kasus pemerkosaan sendiri pada Selasa (11/9) pukul 00.30 WIB. Sedangkan korban melaporkannya pada Kamis (13/9) lalu. Kejadian tersebut berawal sekitar satu bulan lalu saat keduanya yang berboncengan terjaring razia operasi lalu lintas.

Seperti para pengendara lainnya, korban dimintai surat-surat kelengkapansepedamotoroleh Briptu SLS.Namun, korban tidak bisa menunjukkan Surat Izin Mengemudi (SIM). Kemudian, kedua korban disuruh masuk ke dalam pos polisi dulu. Di dalam pos korban bukannya diberikan surat tilang, malah dimintai nomor telepon seluler (ponsel) dan langsung disuruh pergi.

Beberapa waktu kemudian, setiap kali kedua korban melintas di jalan itu Briptu SLS memintai uang kepada keduanya. Perbuatan ini dilakukan karena mengetahui mereka tidak memiliki SIM. Pada malam laknat itu, Selasa (11/9), Ew dan Len yang melintas di jalan tersebut dengan berboncengan langsung dihentikan oleh Briptu SLS.Pelaku mencabut kunci kontak motor. Terpaksa mereka mengikuti Briptu SLS masuk ke dalam pos penjagaan.

Saat itulah korban dipaksa untuk melayani nafsu bejat Briptu SLS di bawah ancaman pistol. Dikonfirmasi,kemarin pagi, Ew tidak mau mengatakan hal yang dialaminya secara detail. Hanya dia mengaku memang menjadi korban pemerkosaan. “Iya, saya (memang) menjadi korban pemerkosaan,”ucapnya. Sementara itu, kriminolog dari Universitas Janabadra, Hartanti menilai sejauh ini pembinaan di lingkup kepolisian sudah baik.

Namun, kejadian tersebut kembali menyebabkan nama baik kepolisian kembali disorot. Lebih lanjut dikatakan, latar belakang oknum tersebut juga berpengaruh terhadap aksi bejat yang diduga dilakukannya. Tindak pemerkosaan tersebut, kata dia,memang sudah sering dilakukan dan baru ketahuan sekarang,atau memang baru sekali dilakukan.

Namun Hartanti menambahkan, dalam kasus ini korban sendiri kurang berhati-hati.Yang perlu dipertanyakan adalah korban melintas di jalan tersebut pada malam hari.“Kadang (apa yang dilakukan korban) juga berpengaruh menimbul niat jahat (seseorang),”tambahnya. Terpisah, psikolog dari Universitas Sanata Dharma,Paulus Eddy mengungkapkan, kedua korban pasti akan merasakan trauma karena perilaku kekerasan seksual tersebut.

Untuk mengatasi trauma, saran dia, para korban membutuhkan peran pendamping agar bisa lebih cepat menerima kejadian itu. “Bebannya berat kalau sesuatu yang berharga seperti itu diambil secara paksa oleh orang lain.Korban akan merasakan stres, malu, mengasingkan diri,”pungkasnya.

Sungguh kelewat batas kelakukan Briptu Sl, anggota polisi Polres Bantul. Polisi yang seharusnya mengayomi masyarakat malah dilaporkan melakukan tindakan asusila memperkosa dua gadis. Parahnya lagi, Sl dilaporkan memperkosa di dalam pos lalu lintas.

Pada laporan dua korban ke Mapolda DIY, kelakukan bejat oknum polisi itu dilakukan di dalam pos lalu lintas, Druwo, Jalan Parangtritis, Bantul, Selasa (11/9) sekitar pukul 03.00 dini hari.

Namun kedua korban Ew (25) dan (16) Yogya, baru melaporkan kejadian itu pada Jumat (14/9). Keduanya mengaku telah dipaksa melayani nafsu Sl sembari diancaman menggunakan pistol. Laporan itu masih diproses di kepolisian.

Belum selesai kasus itu, nasib apes menimpa Ew, Minggu (16/9) siang, EW mengaku sedang berada di Mapolda DIY guna melaporkan kendaraannya yang hilang. “Saya di Polda, Motor saya hilang,”ujarnya singkat kemudian menutup pembicaraan.

Perlu diketahui, laporan kasus perkosaan oleh Briptu Sl itu bermula ketika sekitar satu bulan yang lalu saat keduanya berboncengan sepeda motor, terjaring operasi lalu lintas.

Kedua korban kemudian diminta menunjukkan surat-surat oleh Briptu Sl namun hanya bisa menunjukkan STNK karena korban Ew tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Baik Ew maupun Len kemudian digiring ke Poslantas Druwo. Namun anehnya, oknum polisi itu hanya meminta nomor telepon seluler (ponsel) Ew dan kemudian mengembalikan STNK korban. Keduanya pun juga disuruh pulang oleh pelaku.

Beberapa waktu kemudian, pelaku selalu memeras korban saat melewati perempatan Druwo saat hendak pulang di tempat kosnya yang terletak di daerah Panggungharjo, Sewon Bantul.

Perbuatan ini dilakukan pelaku karena mengetahui jika korban tidak memiliki SIM. Pelaku selalu meminta uang dengan paksa kepada korban dengan cara menghentikan kendaraan korban dan langsung membuka jok dan isi dompet setiap korban melewati Poslantas itu. Kejadian pemerasan ini telah berlangsung berulang kali.

Namun pada 11 September 2012, saat korban Ew berboncengan sepeda motor dengan Len, Briptu Sl langsung menghentikan kedua korban dan mencabut kunci kontak motor saat keduanya melewati Tempat Kejadian Perkara (TKP) atau tepat di depan traffic light perempatan Druwo.

Karena kunci kontak dicabut, kedua korban yang saat itu lewat sekitar pukul 00.30 WIB dini hari, terpaksa mengikuti pelaku yang saat itu memasuki Poslantas Druwo lewat pintu belakang.

Sesudah keduanya memasuki ruangan Poslantas, Briptu Sl kemudian mencabut pistol miliknya sembari mengancam kedua korban. Korban lalu ditelanjangi satu persatu dan dipaksa untuk melayani pelaku secara bergiliran.

Selain itu, pelaku juga melempar kursi kepada korban Len yang sempat menolak melayani dirinya. Setelah puas melampiaskan nafsunya, pelaku kemudian membentak-bentak kedua korban dan menyuruh dengan kata-kata kasar agar keduanya pulang sembari melontarkan ancaman agar korban tidak membuka mulut.

“Kejadian itu benar, dia Dia mengancam akan menembak jika kami berteriak,”kata Ew saat melapor.

Menanggapi kasus tersebut, Kapolres Bantul AKBP Dewi Hartati, berjanji akan memberikan sanksi tegas berupa pemecatan bagi kedua anggotanya bila nanti terbukti melakukan tindak pidana.

“Saya tak tebang pilih, sesuai aturanlah, bila memang terbukti faktanya ada anggota terlibat tindak pidanan maka akan saya pecat,” ujarnya ketika dikonfirmasi Tribun via telepon selulernya, Minggu (16/9/2012).

Polisi Belum Mengetahui Identitas Mayat Wanita Telanjang Di Pondok Aren Bintaro

Polisi menyebar sketsa wajah wanita tanpa busana yang ditemukan di rumah kosong di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Polisi berupaya keras mengungkap identitas wanita yang mengenakan cincin di jarinya itu. Belum diketahui apakah wanita yang ditaksir berusia lebih dari 35 tahun itu korban pembunuhan atau bukan.

“Kita sudah sebar selebaran sketsa wajahnya. Kita juga mengimbau masyarakat yang tahu agar melapor,” kata Kapolsek Pondok Aren, Kompol Kompol Pramono, saat dikonfirmasi, Rabu (12/9/2012).

Mayat wanita itu ditemukan Selasa (11/9) di sebuah rumah kosong di Kelurahan Pondok Jaya, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Penemuan bermula saat warga sekitar mencium bau busuk dari rumah kosong yang ada di pinggir jalan. Setelah dicek ternyata ditemukan jenazah wanita.

Polisi memperkirakan korban sudah meninggal 4-5 hari yang lalu. Di sekitar tubuh korban ditemukan celana dalam dan daster. Ditemukan juga sebilah pisau dan botol minuman keras.

“Wanita itu rambutnya sebahu agak sudah beruban, giginya ada yang sudah ompong. Ada cincin berwarna emas di tangan kanan di jari tengahnya,” terangnya.

Mayat wanita itu masih diautopsi di RSUD Tangerang untuk diperiksa apakah ada tanda kekerasan atau tidak. “Kita berharap identitasnya bisa segera terungkap,” harap Pramono.

Yunita Germo Dengan Jaringan Ribuan PSK Antar Kota Ditangkap Polisi

Tertangkapnya Yunita (34) alias Keyko, penyalur pekerja seks komersial (PSK) kelas atas, tidak hanya menghanguskan omzet ratusan juta rupiah, tetapi juga meninggalkan para pelanggan yang selama ini setia mencari teman kencan darinya.
Siapa saja pelanggan Yunita? Menurut pengakuan Yunita, karena yang disediakan adalah para PSK kelas atas, pelanggannya juga kalangan menengah ke atas.

”Mereka mulai dari kalangan pejabat hingga pengusaha besar,” kata perempuan yang pada 25 Agustus lalu ditangkap di Kuta, Bali, itu. Namun, sayangnya, dia tidak pernah bertatap muka dengan para pelanggannya demi kerahasiaan praktiknya.
Kompol Suparti, Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya, mengatakan setelah klien memilih teman kencan lewat BBM (Blackberry Messenger), sebagian ongkos ditransfer ke rekeningnya sebagai tanda jadi. Sisanya baru diberikan langsung kepada PSK yang dipilih,” ujarnya Senin (10/9/2012).

Adapun tarif yang dipatok untuk sekali kencan, mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.

Data yang dihimpun di Polrestabes Surabaya menyebutkan, setiap kota ada seorang subgermo yang membawahi PSK-PSK tersebut. Di Surabaya sebanyak 790 orang, Malang 50 orang, Semarang 400 orang, Banjar sebanyak 125 orang, dan Jakarta sebanyak 500 orang.

Para PSK di bawah kendali Yunita ini bukanlah PSK sembarangan. Bahkan, Yunita melakukan seleksi dari foto yang dikirim melalui subgermo. “Para subgermo ini mengirimkan foto ke Yunita dan selanjutnya dia yang menyeleksi calon PSK dan diteruskan kepada pelanggan yang memesan,” katanya.

Polisi yakin aksi Yunita tidak dilakukan sendiri. Oleh karena itu, Unit Jatanum Subnit Vice Control (VC) Satreskrim Polrestabes Surabaya terus mengembangkan penyelidikan jaringan perdagangan manusia antarkota ini.

Santri Pondok Pesantren Bondowoso Diperkosa Tiga Kali Oleh Duda Kesepian

Nekat memerkosa seorang santri sebuah pondok pesantren di Kabupaten Bondowoso, Suryadi (27), warga Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Situbondo, Jawa Timur, Minggu (9/9/2012) dilaporkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polres Situbondo oleh Sadin (50), tetangga sekaligus bekas mertuanya.

Suryadi yang menduda setahun lalu diduga memaksa Bunga (13 tahun), santri yang juga mantan adik iparnya, untuk melayani nafsu bejatnya. Bahkan, pelaku melakukan hubungan layaknya suami istri sebanyak tiga kali. Perbuatan itu dilakukan pada Kamis (6/9/2012) lalu, di rumah nenek pelaku di Desa Wringin Anom, Kecamatan Panarukan, Situbondo.

Terungkapnya kasus perkosaan ini bermula dari pengakuan Bunga kepada orang tuanya, karena setiap akan membuang air kecil korban diketahui selalu merengek kesakitan.

“Awalnya anak saya tidak mengaku telah diperkosa oleh pelaku, namun setelah didesak anak saya akhirnya mengaku dipaksa untuk melayani nafsu bejat mantan suami kakaknya,” ujar Sa (50), orang tua korban, saat melaporkan ke SPK Polres Situbondo.

Karena mantan menantunya itu terbukti melakukan perbuatan bejat terhadap Bunga, pihaknya berharap Suryadi diberi hukuman setimpal.

Kasubag Humas Polres Situbondo AKP Wahyudi membenarkan adanya laporan dugaan perkosaan dengan korban anak di bawah umur tersebut. Menurutnya, berdasarkan keterangan orang tua korban, sebelum diperkosa korban dijemput di pondoknya di Bondowoso, serta dibujuk untuk diajak jalan-jalan, hingga akhirnya pelaku melakukan perbuatan bejatnya.

“Tersangka dapat dijerat Pasal 81 dan 82 No 23 Tahun 2002 tentang Pencabulan Anak di Bawah Umur, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara,” katanya.

Perampokan MiniMarket Marak Di Bekasi

Kasus perampokan terus merajalela di Bekasi. Baik di kota maupun kabupaten. Sepanjang Bulan Puasa, yang paling banyak terjadi adalah perampokan minimarket.

Ada lima aksi yang terekan lewat pemberitaan. Catatan Pos Kota, menjelang Lebaran, minimarket di Bintara disatroni delapan bandit pada 9 Agustus. Mereka menganiaya menginjak-injak satu dari tiga pegawai lalu menguras uang Rp60 juta dari brankas. Kawanan bersenjata api dan senjata tajam ini kabur dengan dua mobil.

Sehari sebelumnya, 8 Agustus, minimarket di Jalan Medan Satria, Kota Bekasi, juga menjadi sasaran perampokan. Penjahat menggasak uang Rp40 juta dari brankas.

Perampokan juga dilakukan bandit bersenjata tajam di toko swalayan di Perumahan Permata Harapan Baru, Medan Satria, Kota Bekasi, pada 7 Agustus. Mengikat dua pegawai, mereka membawa kabur uang dan barang hingga pengusaha merugi Rp15 juta.
Aksi dua bandit bermotor juga dilakukan di toko swalayan di Jatiasih, Kota Bekasi, 13 Agustus. Perampok berhelm dan cadar ini melumpuhkan empat pegawai untuk membawa kabur uang hasil penjualan Rp28 juta.

Tak hanya toko swalayan, penjahat juga mengincar motor. M. Riza Alfani, 29, yang sedang mencari makanan sahur dirampok saat bermotor di Jalan Raya Harapan Indah, Medan Satria, Kota Bekasi, 10 Agustus. Tangan kanannya dibacok dua bandit bermotor yang langsung membawa kabur kendaraan roda dua miliknya.

Meski begitu, petugas juga menangkap komplotan perampok minimarket bersenjata api di wilayah Kota Bekasi. Dua orang tersangka tewas karena tertembak dalam penangkapan .

Enam tersangka perampokan yang ditangkap adalah Budi, Samsul, Agung Gunawan, Zulkarnaen, Ali Wardaya, dan Idar. Ali Wardaya dan Idar tewas tertembak saat penangkapan di Jalan Raya Jatibening