Jhon Weko Spesialis Perampok Wanita Panggilan High Class PSK Kelas Atas

Jimmi Muliku alias Jhon Weko (33) tidak hanya berhasil memperdaya wanita panggilan (PSK) high class. Bahkan seorang wanita yang berprofesi sebagai sopir bus TranJ pun ia kadali. “Jadi, dia (John) kalau mau transfer uang hasil kejahatan itu melalui rekening perempuan berinisial DS. Dia ini sopir busway,” kata Kasubdit Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Selasa (9/8/2013).

Herry mengungkapkan, DS tidak terlibat dalam aksi kejahatan tersebut. Jhon Weko adalah pelaku tunggal dalam kejahatan perampokan yang disertai penyekapan itu. “DS ini hanya dipakai rekeningnya untuk menampung transferan uang dari rekening korban, setelah itu ditransfer ke rekening Jhon,” ujar Herry. Jhon mengaku kenal dengan DS ketika dia ditahan di Rutan Salemba. Saat itu DS tengah membesuk temannya yang juga ditahan di Rutan Salemba.

“Saya pacaran sama DS. DS tinggal di Mampang,” kata Jhon. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Begitu kiranya pepatah yang menggambarkan aksi kejahatan Jhon Weko. Jhon tidak hanya menggasak harta benda korban, tetapi juga menikmati kemolekan tubuh para wanita panggilan yang merupakan korbannya.

“Modusnya yakni dengan mengajak kencan melalui mucikari, kemudian korbannya dilakban, ditodong pisau dan setelah itu diambil barang-barangnya,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (9/7/2013). Jhon mengaku telah melakukan aksi perampokan dengan sasaran wanita panggilan ini selama 16 kali sejak tahun 2010 lalu. Selama 2 kali tertangkap, Jhon tidak pernah mengubah sasaran dan modus operandinya.

“Selama saya melakukan ini, saya tidak pernah menganiaya korban-korban saya, saya tidak pernah memukul juga. Paling hanya mengancam dan mengikat korban dengan lakban,” jelas Jhon. Sasaran Jhon adalah wanita-wanita panggilan kelas atas mulai dari ayam kampus hingga model-model profesional. Menurut Jhon, wanita-wanita panggilan kelas atas (high class) memiliki banyak uang dan harta yang bisa dia rampas.

Berlaga borjuis, Jhon mulai mencari mangsanya melalui mami-mami pemandu karaoke. Kepada mami, Jhon meminta disediakan wanita panggilan yang berkelas. Soal tarif, tidak jadi masalah. “Kalau yang high class itu biasanya Rp 5-15 juta semalam. Katanya suka dipakai pejabat-pejabat,” ujar Jhon. Setelah bersepakat dengan mami mengenai tarif booking, Jhon akan menyiapkan kamar hotel berbintang. Agar meyakinkan korbannya, Jhon menyewa kamar suite yang memiliki ruang tamu di dalamnya.

“Saya yang check in dan menggunakan uang saya,” ujar Jhon. Setelah janjian, Jhon akan mengajak PSK tersebut ke dalam kamar hotel. Biasanya, Jhon mengajak 2 wanita PSK sekaligus. Setelah berada di dalam kamar, Jhon lalu mengencani salah satu korbannya, sementara korban lainnya disuruh menunggu di ruang tamu.

Setelah memuaskan nafsunya, Jhon lalu memborgol korban dan mengikat kaki serta tangan korban dalam keadaan masih telanjang. Ia lantas menodongkan pisau lipat ke korban dan mengancam korban untuk segera menyerahkan barang-barang berharga milik korban. “Setelah itu saya keluar dari dalam kamar hotel dan setelah di luar, baru saya telepon resepsionis dan meminta resepsionis untuk merapikan kamar,” ujar Jhon.

Sementara Jhon langsung kabur ke Surabaya, Jawa Timur. Tujuannya adalah untuk menjual barang-barang hasil rampasan ke penadah di Surabaya. “Kalau BlackBerry Q10, Z10, Porsche itu dihargai Rp 4 juta satunya. Kalau berlian yang kata korban harganya Rp 150 juta, saya jual ke engko itu harganya Rp 8 juta,” pungkas Jhon.Perjalanan hidup Jimmy Muliku alias Jhon Weko (33), penuh lika-liku. Lahir dari keturunan keluarga ningrat, namun hidupnya melarat. Kekayaan sang kakek, rupanya tidak diwariskan kepada orangtuanya lantaran memiliki prinsip hidup yang berseberangan.

Alasan pribadi ini pula, yang melatarbelakangi Jhon melakukan kejahatan perampokan. Ia ingin kaya dengan cepat, namun tanpa harus mengeluarkan keringat. “Awalnya dari masalah pribadi, punya keluarga di Gorontalo. Opa-oma saya orang terkaya di Kopayato, Gorontalo. Mereka tuan tanah,” kata Jhon Weko kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (9/7/2013). Jhon lahir di Manado pada tanggal 2 Juni 1980 silam. Dikisahkan Jhon, kakeknya yang kaya itu menghambur-hamburkan uangnya untuk wanita simpanan. Hal ini lantas membuat ayah Jhon gerah, hingga menegur sang kakek. “Opa saya suka main perempuan, gonta-ganti wanita, lalu ditegur bapak saya,” ujar Jhon.

Saat itu, Jhon masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas 3. Enam tahun sekolah di Manado dan terpisah dari orangtua, Jhon harus menerima kenyataan pahit ketika kembali ke Gorontalo. “Selidik punya selidik, Opa malah bunuh bapak saya. Tetapi opa tidak pernah dipenjara. Dari situ, warisan-warisan ke bapak saya tidak ada satu pun,” kenang Jhon. Pengalaman itu, membuatnya bertekad untuk menjadi orang kaya. “Di situ saya berpikir harus bisa jadi orang banyak duit agar bisa bahagiakan mama saya. Dari situ punya inisiatif, cara apa pun harus bahagiakan ortu saya,” jelas Jhon.

Sekitar tahun 2001, Jhon lalu merantau ke Surabaya. Ia lalu tinggal di keluarganya di Surabaya. Tahun 2008, ia kemudian ke Batu Licin, Kalimantan. “Ketemu perempuan muslim, lalu pacaran sama dia dan dia hamil. Saya tidak menikahi dia karena ortunya nggak setuju” kata dia. Ia kemudian melanjutkan hidupnya. Sekitar tahun 2009, Jhon muda pergi ke Bontang hingga 2010 akhir, ia kembali ke Surabaya. “Lalu akhir 2010 baru ke Jakarta, kos di Cempaka Mas. Di situ saya punya pemikiran bagaimana saya harus bisa dapat duit,” kata Khon.

Suatu hari, ia membaca koran Ibu Kota. Ia lalu tertarik dengan sebuah iklan cewek panggilan. Jhon lalu timbul niat untuk merampok cewek panggilannya. Modusnya, dengan meniduri cewek panggilan itu lebih dulu. “Terpikir di benakku bahwa wanita malam punya banyak duit,” tutur Jhon. Jimmi Muliku alias Jhon Weko merampok puluhan wanita panggilan high class. Dengan modus pura-pura hendak berkencan, Jhon yang mengaku pengusaha ini setidaknya meraup keuntungan hingga miliaran rupiah. Namun, uang panas itu pun habis tak bersisa lantaran gaya hidup Jhon.

“Saya pakai uangnya untuk hura-hura saja. Tidur dari hotel ke hotel,” ungkap Jhon di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Selasa (9/7/2013). Jhon telah memperdaya puluhan wanita PSK high class yang memiliki barang-barang mewah. Ia melakukan aksinya di belasan hotel berbintang di kawasan Bogor, Jakarta dan Bandung. Namun, sepak terjang Jhon berakhir ketika digerebek aparat Subdit Jatanras Polda Metro Jaya, ketika ia mengencani wanita panggilannya di Hotel Grand Mercure, Jl Gadjah Mada, Jakarta Pusat pada Sabtu (7/7/2013) lalu. Jhon dibekuk tanpa perlawanan.

Polisi menyita barang bukti berupa 4 buah borgol, 2 buah handphone, 1 buah pisau lipat, 1 lakban, beberapa KTP korban berikut memory card dan SIM cardnya, 2 buah cincin berlian dan 1 buah liontin berlian. Atas perbuatannya, Jhon dijerat dengan Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan. Sepak terjang Jimmy Muliku alias Jhon Weko (33) berakhir. Perampok spesialis wanita panggilan kelas atas ini dibekuk tim Jatanras Polda Metro Jaya. Catatan kepolisian, sedikitnya Jhon telah merampok lebih dari 16 wanita. Wanita korban perampokannya, rata-rata memiliki harta benda yang berlimpah.

“Terpikir di benakku bahwa wanita malam punya banyak duit,” kata Jhon kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (8/6/2013). Jhon mengaku, telah melancarkan aksinya itu sejak 2011 lalu. Awalnya, ia mengencani seorang wanita panggilan bernama Deby, yang ia peroleh dari iklan baris sebuah harian ibu kota.

“Lalu saya telepon dia dan saya ajak dia ke Hotel Pecenongan,” kata Jhon. Untuk mengencani cewek tersebut, Jhon harus merogok kocek Rp 1,5 juta plus uang untuk sewa kamar seharga Rp 300 ribu. Namun, hal itu tidak seberapa dengan hasil kejahatan yang ia dapat. “Saya waktu itu cuma ambil handphone, 2 handphone. Waktu itu saya jual HP-nya di Cempaka Mas, Jakarta Pusat,” kata Jhon.

Sejak itu, Jhon mulai ‘ketagihan’. Ia kemudian kembali membooking sejumlah wanita panggilan, mulai dari cewek-cewek pemandu karaoke hingga ayam kampus yang berkelas tinggi. “Kalau ayam-ayam kampus sama model-model gitu sekali booking itu Rp 5-15 juta. Kata maminya, mereka ini suka dipakai pejabat-pejabat,” kata Jhon.

Awalnya, ia mendapat cewek panggilan berkelas kakap, dari seorang mami yang biasa nongkrong di mal besar di kawasan Bundaran Hotel Indonesia. Untuk meyakinkan sang mami, Jhon saat itu mengaku sebagai pengusaha. “Kebetulan saat itu saya pakai kalung emas yang 300 gram, sehingga maminya percaya kalau saya banyak uang. Lalu saya minta cewek sama mami, ” kata Jhon.

Dari situ, link dia ke sejumlah mami kian melebar. Ia pun bisa mengencani sejumlah wanita panggilan yang berkelas. Hingga ia tertangkap, korbannya sudah mencapai puluhan. “Kalau yang berkelas kan handphonenya banyak, mereka juga pakai perhiasan,” tutup Jhon. Jimmy Muliku alias John Weko (33), bukan sekali ini dia tertangkap polisi lantaran merampok wanita-wanita panggilan yang ia kencani. Jhon rupanya pernah dipenjara pada tahun 2011 lalu atas kasus yang sama.

Jhon bercerita, 29 Desember 2011 lalu, ia pernah ditangkap aparat polisi dari Polres Jakarta Barat. “Saya ditangkap di Citraland, Jakarta Barat setelah mengencani cewek kampus, model juga,” kenang John kepada wartawan. Kala itu, Jhon dilaporkan seorang korbannya karena telah menyekap dan merampok korban di sebuah hotel berbintang di kawasan Grogol, Jakarta Barat. Jhon lalu divonis 2 tahun penjara atas perbuatannya itu.

“Waktu itu, saya sudah melakukan 8 kali kasus yang serupa,” ujar Jhon. Jhon lalu mendapat Pembebasan Bersyarat (PB), hingga ia hanya menghabiskan 1 tahun 8 bulan penjara di Rutan Salemba karena kelakuannya dianggap baik. Selama di Rutan. Selama di Rutan Salemba, Jhon mengenal seorang perempuan asal Manado yang sering datang ke rutan untuk memberikan pelayanan. Jhon dan perempuan itu pun terlibat hubungan asmara.

“Saya bohong sama cewek itu, saya bilang kalau saya ditahan karena kasus curanmor,” ujar Jhon. Dengan memanfaatkan hubungannya itu, Jhon lalu meminta perempuan tersebut untuk mengumpulkan sejumlah uang dari keluarganya. “Saya bilang sama dia, kalau mau ambil mobil-mobil mewah, sama saya saja, tinggal kumpulkan saja uangnya,” ungkap dia.

Jhon rupanya berhasil memperdaya perempuan itu. Melalui perempuan tersebut, Jhon akhirnya bisa mengumpulkan uang hingga Rp300 juta. Setelah keluar dari penjara tanggal 26 Januari 2013, Jhon langsung mencairkan uang di rekeningnya.

“Di dalam saya pegang HP. Pertama kali keluar cairkan Rp300 juta untuk beli mobil,” kata dia. Sepekan setelah bebas dari penjara, Jhon kembali meminta pacarnya untuk kembali mengumpulkan uang lagi. Ia meminta pacarnya mengumpulkan uang Rp200 juta untuk membeli mobil seperti yang ia janjikan sebelumnya. “Sambil nunggu uang Rp200 juta cair, itu saya bikin KTP Sorong atas nama Jhon Weko dan rekening atas nama Jhon Weko,” kata dia.

Uang terkumpul hingga Rp500 juta. Setelah itu, Jhon kabur ke Jogjakarta, tepatnya Maret 2013. Di sana, uang yang ia dapat, digunakan untuk hura-hura. “Saya beli mobil CRV, motor besar Ninja dan hura-hura. Sebagian, Rp20 juta saya kasih mama saya plus 2 motor saya belikan buat mama,” kata dia.

Di Jogja, ia kemudian menyewa sebuah rumah minimalis seharga Rp20 juta dari seorang tentara. Seiring berjalannya waktu, uang hasil kejahatan menipis. Di situ, ia pun kembali mengakali cewek-cewek panggilan. “Di Jogja saya terpikir untuk begitu lagi di Hotel Ibis Malioboro, dapat ceweknya ini tetangga kontrakan. Cewek ini cuma mahasiswi,” kata Jhon.

Melalui seorang mami yang juga pemilik kontrakan, Jhon dikenalkan dengan ayam kampus. Untuk ‘memakan’ mangsanya, Jhon mengeluarkan uang Rp1 juta. “Saya pancing mereka ke Hotel Ibis, saya siapkan borgol, lakban. Pertama mahasiswi high class bawa BB Z10. Setelah itu saya pakai dia,” kata dia.

Jhon rupanya kurang puas. Ia lalu meminta mami untuk kembali menyiapkan 2 orang perempuan. Permintaan Jhon dipenuhi, lantas dua orang perempuan tadi dimasukkan ke kamar Hotel Ibis, di lantai atas.”Lalu saya telpon maminya sambil maminya menuju ke kamar itu, saya bawa 2 ke bawah, lalu saya kumpulkan lalu saya ancam, borgol, pisau lipat kayak tentara itu. Bawa 4 borgol,” kata dia.

Setelah semua terkumpul, sang mami mendatanginya ke kamar hotel itu. Ia pun memborgol sang mami di kamar hotel tersebut, lalu mengambil barang-barang berharga milik 4 korban sekaligus. “Dari Jogja, saya baru ke Jakarta lagi, dan selama di Jakarta, saya tinggal di hotel,” tutup Jhon.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s