Monthly Archives: Januari 2014

Diperkosa 15 Orang Selama 2 Hari Hingga Rahim Busuk … Gadis ABG Diberi Uang Damai 2 Juta

Kisah tentang perkosaan yang dialami gadis belia berusia 14 tahun di Desa Bau, Kelurahan Gunungsari, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur terus berlanjut. Melalui, Nasrul –warga setempat yang kemudian mendampingi korban, meski telah dijanjikan diobati setelah mendapatkan uang sebesar Rp 2 juta dari seorang anggota DPRD fraksi PDIP, selama di Bandarlampung, korban tidak diobati. Bahkan gadis belia itu diajak menggunakan sabu-sabu oleh anggota dewan yang menginginkan kasus itu berakhir “damai”.

Keberangkatan korban ke Bandarlampung, tanpa pendampingan dari pihak keluarga. “Saat pulang ke kampung, korban tidak diantar ke rumahnya, hanya diturunkan di sebuah persimpangan jalan dan kami yang menjemputnya karena anak ini nelpon minta dijemput,” kata Nasrul dalam percakapan dengan Kompas,com akhir pekan lalu.

Rahim membusuk
Pendamping lainnya Ali Arsyadat alias Ujang menjelaskan, kondisi korban sudah sangat memprihatinkan, rumah sakit Adiwaluyo mendiagnosa bahwa kondisi rahim korban sudah rusak bahkan mengalami kebusukan. “Bidan sudah angkat tangan, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan anak ini, harus diangkat rahimnya agar kebusukan itu tidak menjalar ke organ lainnya,” kata Ujang.

Ujang mengaku, untuk mengajak korban untuk dirawat secara medis sangatlah sulit. “Anak ini luar biasa kerasnya, sulit sekali kami mengajaknya untuk berobat dan visum, berbagai cara bujukan dipakai untuk bisa mengajak ini berobat,” kata dia. Atas persoalan yang melibatkan banyak pihak, ayah korban sebagai seorang buruh petani nan buta huruf itu merasa kelelahan mengikuti tahapan demi tahapan kasus yang menimpa putrinya itu.

“Beberapa kali ayahnya bilang, saya ini orang bodoh dan tidak punya biaya untuk meneruskan persoalan ini ke ranah hukum, ia kerap bilang pihak keluarga hanya ingin penyelesaian damai saja yang terpenting putrinya diobati,” terang Ujang.

LBH Lampung Timur mundur
Di tengah ketidakpastian hukum, LBH Lampung Timur yang semula ditunjuk menjadi kuasa hukum korban, malah mencabut diri melakukan pembelaan terhadap korban. “Pihak korban tidak kooperatif dalam memberikan keterangan. Korban tidak mau divisum hingga menyulitkan bagi kami untuk melakukan pendampingan,” kata staf advokasi LBH R Hutagalung saat dikonfirmasi.

Namun pihaknya tetap menyarankan pihak keluarga untuk melanjutkan perkara tersebut ke pihak berwajib.
Setelah berusaha panjang, Nasrul dan beberapa warga di Desa Bau, Kelurahan Gunungsari, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur, mampu membuat gadis korban perkosaan berbicara. Menurut cerita Nasrul, berdasarkan keterangan korban, gadis berusia 14 tahun ini diperkosa beramai-ramai di dua tempat berbeda hanya berselang beberapa hari.

“Kejadian pertama, korban diajak oleh teman lelakinya di satu rumah di Desa PP Brawijaya, Lampung Timur ternyata dalam rumah itu sudah ada pemuda sekitar 15 orang untuk menggilirnya,” tutur Nasrul. Dalam perkosaan itu korban dicekoki minuman hingga mabuk dan diancam jika tidak melayani akan dibunuh. Akibat tak ada perlawanan apapun dari korban, apalagi dia bungkam, korban dipanggil lagi di tempat berbeda. Kali ini sebuah lapangan di Desa Purwosari, Lampung Timur.

“Dia diperkosa oleh empat pemuda dengan perlakuan yang sama seperti kejadian pertama,” kata Nasrul. Atas permasalahan itu, ia dan beberapa warga lain termasuk kepala bersepakat menyampaikan perkara pelecehan seksual pada anak di bawah umur ini kepada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Lampung Timur.

“Tapi di tengah jalan, saya ditelpon supaya menemui salah satu anggota dewan dari PDIP yang katanya bisa membantu penyelesaian persoalan ini,” kata Nasrul. Korban tanpa didampingi keluarga inti bertemu dengan sejumlah pelaku yang didampingi keluarga pelaku dalam sebuah perundingan.

Uang damai
Nasrul mengatakan, telah terjadi kesepakatan sepihak. “Melalui tangan anggota dewan, korban diberi uang senilai Rp2 juta untuk biaya pengobatan lalu korban dibawa ke Bandarlampung,” terang dia. Beberapa hari kemudian korban menelpon Kriting, warga yang sebelumnya rumahnya disinggahi korban, ketika sakit parah. “Korban mengaku dibawa ke Bandarlampung oleh anggota dewan itu selama dua hari, ia merasa tidak betah dan minta minta pulang,” kata Nasrul lagi. Menurut pengakuan korban pula, kata Nasrul, selama di Bandarlampung korban tidak diobati. Bahkan, anak belia itu mengaku diajak memakai sabu oleh anggota dewan itu.

Seorang remaja perempuan berusia 14 tahun, warga Lampung Timur, melapor ke Polda Lampung, Rabu (22/1/2014), karena diperkosa oleh 12 orang. Peristiwa itu terjadi sebulan yang lalu, tetapi baru hari ini korban berani melapor ke polisi. Pada Rabu (22/1/2014), Kepala Bidang Humas Polda Lampung AKBP Sulistyaningsih mengatakan, tim penyidik Reskrimum masih memeriksa korban yang didampingi pamannya.

“Setelah sebulan, korban akhirnya berani mengadukan kasusnya ke Polda Lampung yang ditemani pamannya,” kata Sulistyaningsih. Lebih lanjut, ia menambahkan, dalam waktu dekat, pihaknya segera memanggil 11 orang yang diduga pelaku perkosaan yang mana salah satunya oknum anggota dewan.

Sementara itu, paman korban menyatakan, jumlah pelaku perkosaan sebanyak 12 orang. Dia menceritakan, saat itu korban yang tinggal di Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur, itu diculik, lalu diperkosa oleh lima orang yang tidak dikenal pada Desember 2013. Korban kemudian mengadukan kasus penculikan dan perkosaan itu ke saudaranya, Nas. Lalu, Nas mengajak korban menemui salah satu anggota dewan berinisial KI untuk meminta bantuan penyelesaian hukum.

Namun, sesampai di rumah KI, korban malah diajak oleh oknum wakil rakyat itu ke Bandar Lampung selama dua hari. Selama di sana, korban bukannya dibantu untuk penyelesaian hukum, malah diperkosa secara bergilir oleh KI dan enam teman KI.

Mendengar korban diperkosa 12 orang, paman korban merasa iba dan marah. Dia kemudian membawa korban ke Bandar Lampung untuk melaporkan kasusnya ke Polda Lampung.

Epi Suhendar Tusuk Anak dan Istri Hingga Kemudian Keluarkan Hatinya

Pembunuhan yang dilakukan Epi Suhendar (30) terhadap anaknya, Ikhsan Fazel Mawlana (3) sungguh biadab. Epi membunuh korban dengan cara menusuknya hingga 18 kali. Sadis benar-benar sadis.Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto mengatakan, pihaknya masih melakukan olah TKP di lokasi kejadian di Perum BCL Jl Arjuna X Blok B35 No 17, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.

“Dari hasil olah TKP ditemukan potongan hati korban di kursi tamu,” kata Rikwanto kepada wartawan, di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (27/1/2014). Rikwanto mengatakan, usai menusuk-nusuk korban, tersangka Epi membelah perut korban lalu mengambil hati korban. “Kemudian diambil potongan hatinya seukuran 1 Cm,” ucap Rikwanto.

Aksi sadis ini diketahui oleh istri tersangka, Ai Cucun (23). Karena aksinya ini diketahui, tersangka juga menusuk-nusuk Ai hingga 10 kali. “Istrinya masih dirawat,” imbuhnya. Belum diketahui apa motif pembunuhan yang dilakukan oleh tersangka. Polisi masih menyelidiki kasus itu dan memeriksa saksi-saksi di lokasi kejadian.

Entah apa yang merasuki fikiran Epi Suhendar (30), sehingga tega membunuh anaknya sendiri, Ikhsan Fazle Mawla (3), dengan cara menusuknya hingga 18 kali. Bahkan bocah kecil itu dibunuh tepat di hari ulang tahunnya yang ke-3, pada Senin 27 Januari 2014 dini hari tadi.

Pembunuhan itu terjadi di rumah korban di Perum BCL Jl Arjuna X Blok B 35 No 17, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Informasi yang dihimpun dari petugas SPK Polres Bekasi Kabupaten, pembunuhan itu terungkap oleh istri tersangka, Ai Cucun (23). Bahkan Ai Cucun pun ditusuk tersangka hingga 10 kali. Ai saat ini masih dirawat di rumah sakit.

“Saat itu, saksi bernama Cecep yang merupakan adik ipar korban, mendengar teriakan korban Ai Cucun ‘Astagfirullah dan Allahu Akbar’,” ucap petugas SPK Polres Bekasi Kabupaten kepada detikcom, Senin (27/1/2014). Saat itu, Ai melihat suaminya sedang menusuk-nusuk anaknya di rumah tersebut. Mengetahui aksinya ini diketahui istrinya, tersangka pun mengejar Ai lalu menusuknya berulang kali hingga 10 kali ke bagian perut dan kepala.

“Kemudian Cecep datang, lalu tersangka mengejar Cecep,” katanya. Cecep pun langsung melarikan diri ke lantai 2 rumahnya. Cecep berhasil meloloskan diri setelah membongkar genteng rumah korban. Cecep kemudian turun dari genteng rumah korban dan diketahui tersangka.

Cecep kemudian melaporkan hal itu kepada warga. Warga pun mengepung rumah hingga akhirnya Ikhsan diamankan oleh warga. Ai Cucun kemudian dibawa ke RS Anissa. Sementara tersangka diserahkan kepada aparat Polsek Cikarang untuk diperiksa. Pria ini sungguh tega membunuh anaknya sendiri yang masih berusia 3 tahun. Tidak hanya itu, tersangka bernama Epi Suhendar (29) ini juga membacok istrinya sendiri usai membunuh anaknya. Keji!

Informasi yang dihimpun dari Polda Metro Jaya, peristiwa itu terjadi pada subuh tadi, di rumah korban di Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Tersangka membacok Ayi Jujun, istrinya dan anaknya Iksan Fajri hingga tewas. “Istrinya masih hidup, dia mengalami luka bacok,” ujar anggota Polres Bekasi Kabupaten, Senin (27/1/2014).

Aparat Kepolisian Sektor Cikarang dikabarkan telah menangkap tersangka. Dari tersangka diamankan barang bukti 2 bilah pisau serta baju yang berlumuran darah. Belum diketahui motif pembunuhan sadis ini. Pihak kepolisian setempat masih memeriksa tersangka. Usai menusuk anaknya, Iksan Fesal Mawlana (3) sebanyak 18 kali hingga tewas,
Epi Suhendar (30) malah mencoba bunuh diri. Apa daya, karena gemuk, pisau yang digunakan Epi bunuh diri malah tidak bisa menembus badannya.

“Pelaku sempat mencoba mencoba bunuh diri dengan melukai dadanya dengan pisau,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (27/1/2014). Namun, lanjut Rikwanto, upaya itu tidak berhasil lantaran Epi memiliki badan yang gemuk. “Pisaunya tidak tembus karena badan pelaku yang gemuk atau obesitas,” imbuh Rikwanto. Belum diketahui jelas bagaimana kronologi lengkap peristiwa itu. Polisi saat ini masih mengumpulkan keterangan saksi-saksi untuk menyempurnakan kronologinya.

Pembunuhan itu terjadi di rumah korban di Perum BCL Jl Arjuna X Blok B 35 No 17, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, pukul 03.30 WIB tadi, bertepatan di hari ultah korban ke-3, 27 Januari 2014. Informasi yang dihimpun, pembunuhan itu terungkap oleh istri tersangka, Ai Cucun (23). Bahkan Ai Cucun pun ditusuk tersangka hingga 10 kali. Ai saat ini masih dirawat di rumah sakit. Saat itu, Ai melihat suaminya sedang menusuk-nusuk anaknya di rumah tersebut. Mengetahui aksinya ini diketahui istrinya, tersangka pun mengejar Ai lalu menusuknya berulang kali hingga 10 kali ke bagian perut dan kepala.

Cecep melarikan diri ke lantai 2 rumahnya dan berhasil meloloskan diri setelah membongkar genteng rumah korban. Cecep kemudian turun dari genteng rumah korban dan diketahui tersangka. Cecep kemudian melaporkan hal itu kepada warga. Warga pun mengepung rumah korban, hingga akhirnya tersangka diamankan oleh warga. Korban kemudian dibawak ke RS Anissa. Sementara tersangka diserahkan kepada aparat Polsek Cikarang untuk diperiksa.

Pemerkosa Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Dihukum Mati Mahkamah Agung

Soleh dihukum mati dan Orek dipenjara hingga tewas terkait pembunuhan dan pemerkosaan yang dilakukan secara sadis. Korban gadis berjilbab yang masih mengenyam bangku kuliah di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang diperkosa bergiliran oleh 5 orang sebelum akhirnya dibunuh. Seperti dikutip dari dakwaan jaksa yang dilansir website Mahkamah Agung (MA), Senin (13/1/2013), kasus bermula saat Soleh membekap mahasiswi di rumahnya pada 6 April 2012 tengah malam. Soleh lalu mengumpulkan teman-temannya yaitu Noriv, Chandra, Jasrip dan Endang. Setelah semuanya berkumpul di rumah Solaeh, mereka bergiliran memperkosa mahasiswa malang tersebut.

“Kumpul di sini dulu, nanti kalian abis gue,” kata Soleh kepada teman-temannya.

Setelah 15 menit memperkosa mahasiswi itu, berurutan mahasiswi itu digilir oleh Noriv, Orek dan Jasrip. Setelah puas, Orek sempat pulang kembali ke rumahnya namun dijemput lagi oleh Noriv untuk berkumpul kembali. Sesampainya di lokasi, Soleh gundah.

“Gimana tuh cewe, nggak terima diperkosa rame rame dan mau melaporkan ke polisi. Mau diapain? Apa matiin aja?,” kata Soleh.”Ya sudahlah,” jawab Orek, Noriv, Endang, Jasrip dan Endang kompak.

Lantas korban yang sudah lemas karena habis digilir rame rame dibopong ke sepeda motor untuk dibonceng dengan posisi Jasrip di depan dan Soleh di belakang. Adapun korban diapit di tengah. Udah, ikutin dari belakang,” kata Soleh kepada yang lain.

Saat melintas jalan Cor, Desa Siangir, Soleh meminta semuanya berhenti. Waktu yang merambat dini hari dan lokasi yang sepi dirasakan tempat yang aman untuk menghabisi nyawa korban. Namun sebelum dibunuh, mereka kembali memperkosa korban secara bergiliran sebanyak dua kali dengan posisi korban di atas motor.

Setelah selesai memperkosa, Chandra lalu memukul kepala korban dengan batu. Korban pun sempoyongan. Lantas Noriv memegang tangan kiri korban, Endang memegang kaki kanan, Chandra memegang kaki kiri korban dan Orek mengawasi situasi sekitar. Dalam kondisi lemah tak berdaya tersebut, leher mahasiswi tersebut digorok Soleh dengan pisau yang telah disiapkan. Mahasiswi itu pun menghembuskan nafas terakhir tepat pukul 02.30 WIB.

Atas perbuatannya, Soleh dihukum mati, Orek dipenjara seumur hidup dan lainnya dipenjara 20 tahun. MA memperberat hukuman Orek (30), salah satu gerombolan pembunuh sadis mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat. Jika sebelumnya Orek dihukum 20 tahun penjara, MA menguatkan hukuman penjara seumur hidup yang dijatuhkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Banten.

Kasus bermula saat ditemukannya korban tanpa nyawa di Jalan Ciangir, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang pada 7 April 2012. Korban mengenakan jilbab warna putih, celana hitam, baju hijau dengan dalaman kaos warna loreng. Belakangan terungkap korban yang masih kuliah di UIN Ciputat itu dibunuh oleh M Soleh, Orek, Chandra, Jasrip dan Endang dengan terlebih dahulu korban diperkosa secara bergiliran.

Pada 4 Desember 2012, jaksa menuntut Oreg penjara seumur hidup karena terlibat pembunuhan berencana dan pemerkosaan. Tuntutan ini tidak dikabulkan sepenuhnya sebab pada 18 Desember 2012 PN Tangerang menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara.

Atas vonis ini, jaksa lalu banding dan dikabulkan. Pada 14 Maret 2013 Pengadilan Tinggi Banten memperberat hukuman menjadi penjara seumur hidup atau sesuai tuntutan jaksa. Tidak terima, Orek pun mengajukan kasasi namun ditolak MA.

“Perbuatan terdakwa sangat brutal dan meresahkan masyarakat serta mengakibatkan korban meninggal dunia dengan dilakukan penganiayaan dengan cara memukul batu, kayu dan pemukulan itu setelah dilakukan pemerkosaan bergiliran,” putus MA seperti dilansir website MA, Senin (13/1/2014).

Vonis ini dijatuhkan oleh ketua majelis Andi Abu Ayub Saleh dengan hakim anggota Sofyan Sitmopul dan Syarifuddin. Dalam pertimbangannya, MA menyebutkan Orek menyadari betul melakukan tindakan kekerasan dan pemerkosaan sehingga jelas merupakan perbuatan kumulatif yang sangat berdasar hukum untuk dilakukan pemberatan pidana dengan menerapkan ketentuan concurcus realis.

“Yakni menjatuhkan pidana yang ancaman pidananya berat ditambah sepertiga atas perbuatan terdakwa melakukan perkosaan dan pembunuhan berencana,” ucap majelis secara bulat pada 23 Juli 2013 lalu.

Sebelumnya, M Soleh lebih dulu divonis mati dan putusan itu dikuatkan hingga MA. Adapun Chandra dihukum 20 tahun penjara dan dikuatkan hingga MA.

Polisi Tasikmalaya Kebingungan Cari Pasal Pidana Untuk Menjerat Pemuda Pemerkosa Ayam Tetangga

Kaur Bin Ops (KBO) Satuan Reserse Kriminal Polres Tasikmalaya Iptu Maulana mengaku kebingungan dengan pengakuan AS (17), tersangka pemerkosaan bocah perempuan, yang menyatakan juga telah memerkosa ratusan ayam. Pengakuan warga Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya, itu disampaikan saat dia menjalani sidang di Pengadilan Tasikmalaya, belum lama ini.

“Kita bingung enggak ada pasal pidana yang mengatur pemerkosaan ayam. Masak ayam harus bersaksi sebagai korban,” jelas Maulana kepada sejumlah wartawan di Markas Polres Tasikmalaya, Jumat (20/12/2013).

Menurut Maulana, saat disidik polisi beberapa bulan lalu, AS hanya mengaku memerkosa seorang anak di bawah umur. Namun, pihaknya kaget saat dalam persidangan tersangka mengaku juga telah memerkosa ayam.

“Tapi hampir tiga ratus ayam yang digituin oleh pelaku, hanya beberapa saja yang mati. Tidak semuanya mati. Pengakuan baru tersangka pun diakuinya sendiri saat menjawab pertanyaan hakim di persidangan,” kata Maulana.

Maulana menambahkan, tersangka ditangkap dengan dugaan telah menodai siswi sekolah dasar (SD) beberapa bulan lalu. Pelaku pun mengakui bahwa setelah memerkosa, korban sempat dibuang ke laut di Pantai Cikalong, Tasikmalaya Selatan. Beruntung, korban bisa diselamatkan oleh salah seorang nelayan setempat.

Menolak Damai … Korban Pemerkosaan Kini Jadi Tersangka

Bersama ayah dan pamannya, Ans (19) sepintas tampak tegar ketika menemui sejumlah wartawan di Balai Wartawan Polda Metro Jaya, Senin (6/1/2013). Namun, sesungguhnya wajahnya pucat. Tubuh mahasiswi semester tiga sebuah universitas di Jakarta itu pun kurus dan rambutnya menipis.

Ans berupaya menceritakan petaka yang menimpanya saat diperkosa seorang pemuda. Namun, suaranya semakin pelan, tenggelam. Ia ingin menangis, tetapi air matanya sepertinya sudah kering. Sejak menjadi korban pemerkosaan pada 1 September 2013, hampir setiap hari dia menangis. Terlebih lagi, polisi malah menetapkannya sebagai tersangka kasus perusakan setelah ia dan keluarganya menolak tawaran berdamai dari tersangka pemerkosanya.

”Sejak peristiwa itu, keponakan saya ini berubah drastis. Dia di rumah saja, tidak berani keluar dan akhirnya berhenti kuliah,” kata Arif Rafiatur, paman korban.

”Kalau malam hari tidak bisa tidur. Kerap terbangun atau meracau saat tidur,” tambah Afan, ayah Ans.

Arif menceritakan, keponakannya itu diperkosa HIS alias CK yang baru dikenal Ans selama empat bulan. Pemerkosaan terjadi di lantai dua sebuah ruko di Ciracas, Jakarta Timur. Lantai satunya adalah usaha warnet. Arif sudah mendatangi ruko itu. Warnet itu memasang musik sedemikian rupa sehingga jika ada teriakan di lantai dua, tidak akan kedengaran dari bawah.

”Itu sebabnya, ketika keponakan saya teriak minta tolong, enggak ada yang menolong. Namun, seorang penjaga warnet melihat saat Ans turun dari lantai dua dengan keadaan ketakutan dan menangis,” katanya.

Ans mengenal CK setelah dikenalkan Rn, teman kuliah Ans. Beberapa waktu kemudian, CK mengirim pesan singkat ke telepon seluler Ans yang isinya meminta tolong agar Ans bersedia menjadi model fotonya. CK mengaku ingin menekuni profesi sebagai fotografer mulai dari nol. ”Saya butuh bantuan kamu,” begitu isi SMS CK.

Pada 1 September, Ans bersedia diajak CK ke ruko itu karena dijanjikan akan mendapat honor. Ternyata, dalam pemotretan itu, pelaku membujuk dan mengintimidasi sehingga Ans difoto telanjang.

Setelah itu, CK memerkosanya. Tidak hanya itu, pelaku juga mengancam akan menyebar foto itu jika Ans melapor kepada orangtua dan polisi. Ketakutan yang amat sangat membuat Ans mencoba merampas kamera yang digunakan CK. Akhirnya, kamera itu jatuh ke lantai.

Sampai rumah, Ans langsung mengadu kepada orangtuanya dan bersama sang ayah dan Arif melapor ke Polres Metro Jakarta Timur. Tersangka ditangkap dan menginap di sel polisi selama 30 hari. CK lalu mengajukan penangguhan penahanan dan dikabulkan. Berkas kasusnya kini sudah P-21 sehingga tinggal menunggu persidangan.

Namun, sebelum itu, pelaku melaporkan Ans ke polres yang sama dengan sangkaan Ans merusak kamera CK. Polisi pun menetapkan Ans sebagai tersangka perusak kamera.

Kamera itu tidak lain adalah kamera yang digunakan CK untuk memotret Ans, yang menurut Arif ternyata tidak menjadi barang bukti dalam kasus pemerkosaan. Padahal, saat mem-BAP Ans dalam kasus pemerkosaan itu, polisi menyertakan empat foto telanjang Ans, yang diakui Ans dan CK difoto dengan menggunakan kamera itu. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto mengatakan, Polda akan memeriksa penanganan kasus itu. ”Polda akan mengecek proses penyidikannya,” ujarnya.