Category Archives: anak durhaka

Istri dan Anak Pembunuh Bapak Kandung Pingsan Saat Rekonstruksi Pembunuhan

Reka ulang pembunuhan pedagang kain digelar di kios pakaian Perumahan Candra Baga, Kelurahan Bahagia, Babelan, Kabupaten Bekasi, Senin(9/7) siang. Rekonstruksi ini disaksikan kedua anak korban dari istri pertama. Dalam reka ulang itu, Ny Nurjanah,55, yang menjadi dalang lenyapnya nyawa Amirudin,62, suaminya itu, pingsan saat memperagakan adegan ke 40.

Petugas akhirnya mengganti peran Ny Nurjanah dengan Ny Dewi, wanita pedagang kacamata yang berjualan tak jauh dari lapak korban. Sementara Ny Nurjanah dipapah keluar kamar tempat terjadinya aksi pembantaian tersebut. Tersangka ibu lima anak ini dibaringkan di ruang dagangan baju. Sementara Rosanta,20, seorang wanita perawat didatangkan dari RSI Sayang Bunda Sektor Timur, berupaya menyadarkan Ny Nurjanah yang pingsan itu dengan mengoleskan minyak ke hidung tersangka.

Sedangkan tersangka Iwan,30, yang terpincang kakinya akibat ditembak petugas, terduduk tak jauh dari rebahan Ny Nurjanah. “Sekitar 66 adegan mereka memperagakan. Mulai dari perencanaan di Tanjung Priok sampai ke pembantaian,” papar Kasatreskrim Polresta Bekasi Kompol Dedi Murti Haryadi seraya mengatakan mereka dijerat pasal 338 KUHP, pasal 340 KUHP dan pasal 365 KUHP ancamannya seumur hidup atau hukuman mati.

Lanjut Dedi, saat pembantaian, Ny Nurjanah memegangi kaki suaminya. Yang menghajar pakai clurit dan pisau adalah Tiyo dan Hendrik alias Ompong (anak pertama Ny Nurjanah-red). Usai melakukan perbuatan itu, kedua pelaku mengikat Ny Nurjanah selanjutnya kabur dan berteriaklah Ny Nurjanah kalau kiosnya dirampok.

BU HAJI KOK TEGA
Di luar areal ratusan massa berdesakan ingin melihat dari dekat aksi pembantaian itu. Massa pun berteriak hu…. saat para pelaku kejahatan ini dikeluarkan dari kios. “Bu.. bu haji kok tega sih … bu kok tega sih.. ” teriak seorang ibu rumahtangga sambil menyaksikan wanita berkerudung itu dimasukkan ke dalam mobil petugas.

Sementara itu Hendra Jaya,30, dan Ny. Yesi Andriyani,34, kakak beradik anak dari Ny Refni,60,(istri pertama Amirudin-red), datang jauh-jauh dari Desa Ipuh Mandiangin, Bukittinggi, Sumatera Barat, ingin menyaksikan adegan pembunuhan yang dilakukan ibu tirinya bersama antek-anteknya itu.

Namun lelaki berambut pendek ini dan wanita berkacamata minus ini tak diperkenankan polisi untuk masuk melihat. “Saya sabar kok Pak saya ini sangat sabar.. saya sudah pasrah,” papar Hendra Jaya meyakinkan petugas. Namun petugas tetap tak memperbolehkannya.

MANTAN KARYAWATI
Menurut Ny Yesi Andriyani, Amirudin ayahnya itu menceraikan Ny Refni,(ibunya-red) ketika ia masih berusia sekitar 9 tahun dan duduk di bangku kelas 4 SD. Setelah bercerai, ayahnya menikahi Nurjanah yang saat itu wanita tersebut sebagai pembantu melayani dagangan baju di Padang. Diakui wanita berkaca mata minus ini, sejak menikah dengan Nurjanah, kehidupan ayahnya tak harmonis dan selalu ribut setiap harinya. “Ayah suka curhat sama saya,” papar Ny Yesi. Pernah suatu ketika ibu tirinya akan memberikan uang masing-masing Rp 100 juta untuk anak dari istri pertama jika rumah di Tanjung Priok laku dijual. Dan Ny Yesi akhirnya bercanda pada sang ayah dengan cara menghubungi lewat telepon soal janji sang ibu tiri.

Namun memperoleh jawaban dari sang ayah, kalau hal itu tak mungkin terjadi.”Memang buktinya sampai sekarang saya dan adik-adik nggak pernah dapet. Tapi kami lapang dada saja,” papar Yesi lagi.

Diungkapkan Hendra Jaya, sebenarnya seminggu sebelum peristiwa terjadi, ia sempat menghubungi Hendrik alias Ompong untuk ikut membantu berjualan pakaian di Padang bersamanya. Namun ketika dihubungi telepon adik tirinya itu tak pernah diangkat sampai akhirnya keluarga di Padang mendapat kabar kalau Amirudin, meninggal dunia. “Kami mohon dihukum sesuai aturan yang berlaku,” papar Hendrajaya.(yanto/b)

Pengusaha Siomay Yang Terkenal Lewat Wisata Kuliner Dibunuh dan Dibakar Oleh Anak Kandungnya Sendiri Karena Kalah Main Judi

Suami istri pengusaha siomay ditemukan tewas dibakar di rumahnya Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Jumat (5/7/2012). “Korban suaminya Jo Ribut,64 ditemukan luka dikepala dan bekas dibakar diruang tamu dan istrinya li sek nyo,58 ditemukan di ruang belakang luka di kepala robek dan bajunya terbakar.”

Menurut keterangan di lokasi kejadian pembunuhan disertai pembkaran suami istri diketahui pertama kali oleh anak korban bernama Budi. Budi anak ketiga dari lima bersaudara ini bersama istrinya datang ke rumah korban dan memberitahukan kepada warga dan keluarganya bahwa orangtuanya dirampok dan dibakar penjahat. Bahkan Budi yang sehari-harinya tukang parkir di rumah orangtuanya itu kepada polisi juga mengaku orangtuanya dibunuh perampok.

DUGAAN KUAT
Hasil olah TKP polisi tak ada perusakan pintu dan anjing korban tidak menggonggong sehingga polisi mencurigai pelaku orang yang sudah dikenal korban. Ada dugaan kuat pelakunya adalah anak kandung korban bernama Budi yang sering bertugas memarkir, sehingga diamankan oleh petugas Polres Metro Tangerang. Menurut Kasatreskrim AKBP Suharyanto yang ditemui di TKP ada kecurigaan pelakunya adalah Budi anak ke tiga dari lima bersaudara.

Awalnya justru Budi yang melaporkan terjadinya pembunuhan, namun petugas mencurigai pria yang sudah beristri dan selama ini bertugas menjaga parkiran di halaman restoran siomay Andy milik orangtuanya itu. Karena petugas tak menemukan kerusakan pintu dan anjing yng galak tidak menggonggong. “Saya menduga pelaku orang dekat korban,” tegas Suharyanto.

Di TKP petugas menemukan serokan penggorengan bernoda darah, jrigen berisi bensin dan balok kayu. Korban sang istri ditemukan tergeletak dengan luka kepala di ruang belakang dekat kamar mandi dan suami di ruang tengah keduanya luka di kepala dan luka bakar tapi wajah masih bisa dikenali. Petugas juga menyita seekor anjing kesayangan korban yang dikenal warga setia kepada majikannya dibawa ke polres, sedangkan dua mayat suaami istri dibawa ke RSU Tangerang untuk diotopsi.

Penyesalan selalu datang terlambat. Itulah yang dialami Budi Liya Putra yang tega membunuh orang tuanya, juragan ‘Siomay Andy’ alias Siomay Sewan. Putra ketiga pasangan Liesek Nio (istri, 58 tahun) dan Yo Ribut (suami, 63 tahun) ini mengaku menyesal. “Pengakuan dia, nyesal,” kata Kapolres Tangerang Kombes Wahyu Widada saat dihubungi detikcom, Sabtu (7/7/2012).

Menurut dia, Budi terlihat tenang saat dimintai keterangan. “Dia tidak menangis, tenang,” ujar Wahyu. Wahyu mengatakan aparat kepolisian masih melakukan pemberkasan. “Kita selanjutnya akan memintai keterangan saksi-saksi yang melihat, mendengar dan mengetahui. Saat ini keluarga masih berduka dan melakukan pemakaman,” kata dia.

Wahyu melanjutkan Budi bakal menjalani tes psikologi apabila diperlukan. “Kalau dibutuhkan, ya kita akan lakukan (tes psikologi),” kata Wahyu. Kemungkinan besar Budi menderita penyakit psikopat.

Hidup juragan ‘Siomay Andy’ alias Siomay Sewan, Liesek Nio (istri, 58 tahun) dan Yo Ribut (suami, 63 tahun) berakhir di tangan anaknya, Budi Liya Putra (32). Usai memukul kedua orang tuanya hingga tewas karena tidak diberi uang setelah kalah judi koprok, Budi masih tega mencuri uang dan membakar jasad kedua uang orang tuanya. Duh!

“Dia udah melihat bapak-ibunya terkapar, dia mengambil uang di laci Rp 1.350.000,” ujar Kapolres Tangerang Kombes Wahyu Widada saat dihubungi, Jumat (6/7/2012). Lantas, dengan tega pula Budi membakar jasad kedua orang tuanya itu.

“Mungkin untuk menghilangkan jejak, dia bakar jasad bapak-ibunya pakai koran. Koran ditumpukin di atasnya (jasad), dibakar, tapi badannya nggak sampai hangus hanya sebagian baju dan badan terbakar. Dia sempat mau pakai bensin tapi nggak jadi,” jelas Wahyu.

Untuk sementara, Budi yang juga anak ketiga pasangan itu ditetapkan sebagai pelaku tunggal. Apakah ada benda lain yang hilang, Wahyu mengatakan masih menyelidiki dan menginventarisirnya. Liesek Nio dan Yo Ribut memiliki 5 anak yang menetap di sekitar rumahnya, salah satunya Budi. Anak-anak korban juga turut membantu usaha dagang warung Siomay Andy yang beroperasi pukul 08.00 – 19.00 WIB. Budi diamankan polisi setelah anjing pelacak tak juga berhenti mengendusnya.

Budi Liya Putra, anak ketiga juragan ‘Siomay Andy’ alias Siomay Sewan membunuh kedua orang tuanya pada Jumat dini hari. Sebabnya, Budi jengkel karena tidak dikasih uang setelah meminta dengan paksa kepada orang tuanya, Yo Ribut (63) dan Liesek Nio (58). Budi habis kalah main judi. “Jadi dia ini senang main judi, kalah. Judinya judi koprok. Kalah judi Rp 450 ribu. Terus meminta sama orang tuanya, karena nggak dikasih kemudian dipukul,” jelas Kapolres Tangerang Kombes Wahyu Widada saat dihubungi, Jumat (6/7/2012).

Budi datang ke rumah orang tuanya pada Jumat pukul 03.00 WIB dini hari. Mulanya Budi mengetok jendela. Tak ada respons dari dalam rumah, kemudian Budi masuk ke rumah melalui pintu belakang. “Terus dia minta uang sama bapaknya, bangunin gitu, minta uang, nggak dikasih sama bapaknya. Terus dia marah lalu memukul bapaknya pakai besi. Ibunya waktu itu mau keluar, terus dimintain juga uang tapi nggak dikasih, terus ibunya juga dipukul,” jelas Wahyu.

Liesek Nio (istri, 58 tahun) dan Yo Ribut (suami, 63 tahun) memiliki 5 anak yang menetap di sekitar rumahnya, salah satunya Budi. Anak-anak korban juga turut membantu usaha dagang warung Siomay Andy yang beroperasi pukul 08.00 – 19.00 WIB. Budi diamankan polisi setelah anjing pelacak tak juga berhenti mengendusnya.

Pasangan suami istri pemilik Siomay Andy ditemukan tewas mengenaskan di kediamannya. Siomay ini sebelumnya sudah dikenal luas oleh masyarakat. Apa yang menyebabkan siomay ini terkenal? “Siomaynya enak, garing. Ikannya berasa dan enggak lembek. Biasanya siomay kan lembek,” ujar Iwa (48), Jumat (6/7/2012) di rumahnya, Sawan, Tangerang. Iwa yang merupakan istri ketua RT 001/006 ini sebetulnya bukan merupakan warga asli daerah tersebut. Namun ia mengaku sebagai pelanggan setia dari Siomay Andi.

“Harganya Rp 3.000 per siomaynya. Orang dari mana-mana kan juga sudah tahu tentang siomaynya. Terkenal emang,” kata Iwa.Andy tidak hanya sekedar menjual siomay, dia juga menjajakan kentang, tahu, kol, pare, dan telor yang kerap menjadi menu sandingan siomay. Rasanya juga tidak kalah enak. “Ya biasa, ada siomay, kentang, tahu, kol, pare sama telor. Termasuk minumnya es teh manis, es jeruk. Biasalah,” kata Iwa. Meski pemilik usaha siomay ditemukan tewas, Iwa berharap usaha tersebut tetap berjalan. “Kan sebelumnya anak mantunya yang kerja, ya mudah-mudahan dilanjutin usahanya sama anak-anaknya, tetap buka,” jelasnya.

Keluarga Yo Ribut (63) sudah lama menggeluti usaha dagang siomay. Makanan yang terbuat dari ikan tenggiri hasil racikan keluarga Yo Ribut dikenal banyak orang karena rasanya yang gurih dan teksturnya yang kenyal namun tidak alot. Siomay Andy, begitulah mereka memberi nama warung tersebut.

Warung Siomay Andy yang lebih dikenal dengan Siomay Sewan ini berlokasi di Gang Sewan, Rawakucing, Neglasari, Kota Tangerang. Dari Jalan Raya Rawakucing, lokasinya sekitar 100 meter. Di tempat ini, Yo Ribut bersama sang istri, Liesek Nio (58), dan anak-anaknya mencari rezeki. Beberapa tetangga turut membantu usaha itu. Aktivitas ini berlangsung sejak lama hingga Kamis kemarin. Sebab hari ini, Jumat (6/7/2012) sang pasutri tewas dibunuh.

Tidak mudah memang menemukan lokasi warung ini. Namun bagi yang sudah tahu daerah Kota Tangerang, tentu bukan masalah. Nah, di Gang Sewan itu, keluarga Yo Ribut bukan satu-satunya pedagang siomay. Ada beberapa pedagang siomay lainnya di situ. Warung Siomay Andy berada satu kompleks dengan rumah pemiliknya. Kedua bangunan ini sama-sama bercat pink. Di warung tersebut, tempat untuk meracik siomay dan tempat para pengunjung menikmati makanan itu terpisah.

Siomay diracik di dalam ruangan. Di ruangan itu terdapat tempat untuk menggiling daging, kompor, piring, tempat kecap, dan tempat untuk mencuci piring.Bagi pengunjung yang ingin menikmati gurihnya siomay dengan bumbu kacang yang kental dan legit, bisa duduk di kursi semen dan kursi kayu yang telah disediakan. Di tempat itu ada 11 meja yang disiapkan untuk para pengunjung.

Di tempat makan, lantai ruangan adalah keramik lama warna kuning. Tempat itu adalah ruangan beratap, seperti teras. Kipas angin kecil dipasang di salah satu sudut langit-langit. Ada ornamen tulisan China di pintu masuk. Kaca cembung kecil di pasang di ventilasi di luar warung. Di depan warung terdapat WC dengan cat dinding bercat biru untuk para pengunjung. Tulisan dengan huruf bercat kuning terdapat di dinding luar WC yang berisi informasi operasional warung. “Siomay Andy. Hari Senin tutup, kecuali senin libur buka terus….! Buka jam: 08.00 s/d 19.00 WIB.” Sedangkan di sebelah kiri informasi itu terdapat tulisan WC umum dan tanda panah warna kuning.

Warung itu memiliki nomor bangunan 50, sedangkan rumah pemilik warung bernomor 49. Kawat berduri dipasang mengelilingi tembok yang dipasang di sekitar rumah dan warung. Dua pohon ukuran sedang berada di halaman yang telah dipasangi paving block. Halaman itu sanggup menampung sekitar 18 mobil.

Menurut Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Wahyu Widada, pembunuhan pada pasangan suami istri itu terjadi sekitar 04.30 WIB. Menurut Wahyu, korban meninggal akibat luka di kepala dihantam dengan serok yang terbuat dari besi. Informasi yang dihimpun wartawan, pelaku pembunuhan diduga anak ketiga pasutri ini, Budi Liya Putra. Pria itu lahir pada tahun 1980.

Dalam hitungan jam, pembunuhan pasutri Liesek Nio (58) dan Yo Ribut (63) berhasil diungkap polisi. Anjing pelacak berperan besar dalam pengungkapan pembunuhan yang ternyata dilakukan anak kandung korban sendiri, Budi Liya Putra (32). Berikut ini kronologi peristiwa tersebut:

Pukul 03.00 WIB
Anak ketiga Liesek Nio (istri, 58 tahun) dan Yo Ribut (suami, 63 tahun) yang bernama Budi Liya Putra (32) mengetok jendela. Dia bermaksud minta uang kepada orangtuanya setelah kalah judi keprok Rp 450 ribu. Yo Ribut menolak memberi uang sehingga Budi marah dan memukul ayahnya dengan besi. Ibunya yang juga menolak memberi uang, juga dipukul hingga tewas. Budi mencoba membakar jasad orangtuanya untuk menghilangkan jejak. Dia lantas mengambil uang Rp 1.350.000.

Pembunuhan ini terjadi di kediaman pasutri itu di Gang Sewan, Jl Raya Rawakucing, Kota Tangerang. Rumah ini terletak bersebelahan dengan warung Siomay Andy, tempat keluarga ini mengais rezeki. Pecinta kuliner menyebut siomay bikinan mereka enak dan menyebut siomay itu sebagai Siomay Sewan.

Pukul 04.30 WIB
Budi yang biasa turut membantu mempersiapkan dagangan siomay memberitahu keluarganya atas peristiwa pembunuhan itu. Saat itu, jasad Yo Ribut ditemukan di ruang tengah, sedang Liesek Nio ditemukan di kamar mandi. Polisi menyebut ada bekas pukulan seperti serok di kepala korban.

Pukul 10.00 WIB
Polisi melakukan olah TKP. Anjing pelacak dikerahkan. Budi banyak memberikan informasi kepada polisi. Akibat peristiwa kejahatan ini, warung Siomay Andy terpaksa tidak beroperasi. Deretan kursinya melompong. Warung bercat pink ini sebelumnya biasa buka pukul 08.00 – 19.00 WIB. Anak-anak korban biasa turut membantu operasional warung ini. Warung ini menyediakan siomay yang gurih dan sambal kacang yang legit.

Pukul 12.50 WIB
Polisi mengamankan Budi Liya Putra sebagai tersangka pembunuhan. Hal ini dilakukan setelah anjing pelacak yang dikerahkan polisi tak berhenti mengendusnya. Setelah itu, Budi diinterogasi dan terkuaklah motif pembunuhan yang menggegerkan tersebut dalam hitungan jam. Sementara itu, siomay yang seharusnya dijual per buti Rp 3.000 itu hari ini terpaksa tidak bisa dijajakan. Siomay itu tinggal dihangati saja.

Anak Bunuh Bapak Kandung Karena Kesal Tidak Diberikan Warung Untuk Menafkahi Istri Keduanya

Pria satu ini bisa disebut anak durhaka. Ia sampai hati membacok kepala ayah kandungnya di kamar rumahnya di Beji, Depok, Rabu (23/5) dinihari. Tindakan keji ini dipicu rasa kecewa karena warung yang dibangun ayahnya bukan diberikan padanya untuk menafkahi istri keduanya melainkan disewakan ke orang lain.

Usai melampiaskan rasa kesalnya, Imron Rosadi, 36, langsung pergi meninggalkan ayahnya, Masri Muhammad yang tergeletak bersimbah darah di lantai kamar mandi rumah di Jl. Karet , Pondok Cinda, Beji. Beruntung, tetangga mendengar kegaduhan itu cepat berdatangan.

Dalam kondisi kritis, tubuh bapak delapan anak tersebut dibopong tetangga lalu dilarikan ke RS Mitra Keluarga, Depok. Tetangga juga membekuk Imron yang masih memegang clurit bernoda darah.

Dini hari itu, sekitar Pk. 02:00, Masri seorang diri di rumah karena istrinya tengah menginap rumah salah satu dari delapan anaknya. Ia terbangun dari tidur lalu pergi ke kamar kecil di belakang rumah.

Mendadak, Imron datang. Anak kelima Masri yang sudah tiga minggu minggat dari rumah, masuk menggunakan kunci cadangan. Pria beristri dua yang memberinya enam anak itu langsung mencari bapaknya. Mengetahui Masri ada di kamar mandi, Imron yang emosi mendobrak pintu.

Tanpa banyak bicara Imron mengayunkan clurit ke kepala bapaknya. Masri berteriak kesakitan lalu ambruk berdarah-darah. Tetangga pun berdatangan, sebagian meringkus Imron yang lainnya melarikan korban ke rumah sakit. Kanit Reskrim Polsek Beji, Iptu Cahyo Putra Wijaya bersama anggotanya datang ke rumah itu meringkus Imron. Clurit yang dipakai untuk menganiaya Masri disita.

KESAL SAMA BAPAK
Menurut Iptu Cahyo Putra Wijaya, saat dibawa ke kantor polisi tercium bau alkohol dari mulut tersangka. “Kami belum bisa meminta keterangan korban karena kondisinya belum memungkinkan,” katanya. Tersangka dijerat dengan pasal pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dan Undang-Undang Darurat Tahun 1951 karena kedapatan membawa senjata tajam.

Dalam pemeriksaan Imron mengaku kecewa dan kesal sama bapaknya karena warung yang didirikan di tanah orang tuanya itu semula dijanjikan akan diberikan padanya. “Tapi setelah saya merapikan warung, tiba-tiba saja bapak mau menyewakan ke orang lain,” ungkap Imron. “Padahal saya sudah menyiapkan warung itu untuk tempat dagang istri kedua.”

MERTUA DIJOTOS MENANTU
Kekerasan dalam keluarga juga dilakukan Amaluddin, 28, di rumahnya di Kampung Dukuh, Kebayoran Baru, Jaksel, Selasa (22/5) malam. Ia menghajar ibu mertuanya, Maryam Sadeli, 55, lantaran kesal ditegur karena sering menganiaya istri.
Maryam yang bibirnya jontor dan hidungnya berdarah, melapor ke Polsek Kebayoran Baru. Amaludin pun digelandang ke kantor polisi, setelah sempat dihakimi massa. Menurut Maryam, menantu pengangguran itu memang tinggal bersamanya. Maryam tak senang anaknya, Fatimah, 26, sering dianiaya hingga ia sering menasihati Amaludin.

Rupanya bapak dua anak ini tersinggung hingga ibu mertuanya dijotos. Amaludin sempat mau kabur, tapi keburu dibekuk massa. ”Dia mau kabur dan sudah mengambil golok tapi kami menangkapnya lalu membawa ke kantor sekretariat RW,” kata Heri, warga.

Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol Hamdan Maulana, mengatakan pelaku bisa dijerat pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. “Kami masih memeriksanya,” ujar kapolsek.