Category Archives: gay dan lesbian

Horee … Anak Umur 12 Tahun Sodomi 3 Orang dan Perkosa 1 Perempuan Tidak Dipidana

Seorang bocah di Yogyakarta dihukum mengikuti pelatihan kerja hingga usia 18 tahun di LP Anak, Purworejo. Dia dihukum karena telah menyodomi 3 temannnya dan seorang perempuan yang berusia sebaya.

“Saya juga pernah disodomi,” kata terdakwa dalam buku ‘Kumpulan Putusan Pidana Khusus’ halaman 13 cetakan pertama yang diterbitkan MA, Senin (2/9/2013).

Pengakuan ini disampaikan di depan hakim tunggal Pengadilan Negeri (PN Sleman) Suratno. Orang yang menyodomi tersebut kini telah menjalani hukuman penjara dengan berkas terpisah.

“Saya sering dilihatin video porno oleh dia sehingga saya timbul nafsu untuk melakukan hal yang sama seperti dalam video itu,” tutur terdakwa.

Terdakwa merupakan anak dari keluarga miskin, ayahnya sopir dan ibunya buruh cuci baju. Sepanjang siang, terdakwa tidak mendapat perhatian dari orang tuanya karena keduanya sibuk mencari nafkah. Kedua orang tua telah meminta maaf kepada seluruh korban atas ulah anaknya itu dan sanggup mendidik anaknya kembali.

Bocah yang belum genap berusia 12 tahun itu memperkosa anak perempuan teman sepermainan pada 14 September 2011. Ulah cabul ini diulangi lagi pada awal Agustus 2011 hingga September 2011.

Atas perbuatannya, jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sleman menuntut agar si anak mengikuti pendidikan, pembinaan dan latihan kerja di LP Anak Kutoarjo sampai usianya 18 tahun. Tuntutan ini dikabulkan PN Sleman pada 29 Mei 2011 oleh hakim tunggal Suratno dan dikuatkan hingga tingkat kasasi.

“Putusan PN Sleman dan PT Yogyakarta sudah mencerminkan asas for the best interest of the child yaitu demi kepentingan anak maka terdakwa tidak perlu menjalani pidana penjara,” putus majelis kasasi yang diketuai Prof Dr Komariah Emong Sapardjaja dengan anggota Suhadi dan Sri Murwahyuni.

MA berpendapat pidana penjara bukanlah tempat yang tepat bagi anak karena anak masih dapat diperbaiki melalui sistem pembinaan yang tepat.

“Pembinaan anak sebagai anak negara hanya sampai 18 tahun adalah cara yang paling tepat untuk menghindari efek negatif pemenjaraan, lebih-lebih apabila bercampur dengan narapidana orang dewasa,” demikian pertimbangan MA pada 28 November 2012.

Meski menyodomi 3 anak lelaki dan memperkosa seorang anak perempuan, seorang bocah lolos dari hukuman penjara. Mahkamah Agung (MA) menilai penjara tidak perlu dijalani karena asas for the best interest of the child.

Kasus ini bermula saat seorang bocah yang belum genap berusia 12 tahun dimejahijaukan dengan dakwaan memperkosa seorang anak perempuan usai bermain kuda lumping bersama. Anak perempuan yang belum 12 tahun itu disuruh berpura-pura kesurupan dan disembuhkan oleh bocah tersebut pada 14 September 2011.

Namun dalam permainan itu, bocah itu memperkosa si anak perempuan di rumah bocah laki-laki itu.

Ulah cabul ini diulangi lagi pada awal Agustus 2011 dengan korban teman lelaki yang berusia sebaya. Berturut-turut hal ini diulang kepada teman lainnya pada akhir Agustus 2011 dan September 2011. Semua dilakukan di rumah si bocah.

Atas perbuatannya, jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sleman menuntut agar si anak mengikuti pendidikan, pembinaan dan latihan kerja di LP Anak Kutoarjo sampai usianya 18 tahun. Tuntutan ini dikabulkan PN Sleman pada 29 Mei 2011 oleh hakim tunggal Suratno.

Atas vonis ini terdakwa keberatan dan mengajukan banding namun ditolak. Pengadilan Tinggi (PT) Yogyakarta menguatkan vonis PN Sleman pada 29 Juni 2012. Atas vonis ini, terdakwa yang ingin bebas tetap melakukan perlawanan hukum dan lagi-lagi kandas. Sebab Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan kasasi itu.

“Putusan PN Sleman dan PT Yogyakarta sudah mencerminkan asas for the best interest of the child yaitu demi kepentingan anak maka Terdakwa tidak perlu menjalani pidana penjara,” putus MA dalam buku ‘Kumpulan Putusan Pidana Khusus’ halaman 46 cetakan pertama yang diterbitkan MA, Senin (2/9/2013).

Majelis kasasi yang diketuai Prof Dr Komariah Emong Sapardjaja dengan anggota Suhadi dan Sri Murwahyuni ini juga berpendapat pidana penjara bukanlah tempat yang tepat bagi anak karena anak masih dapat diperbaiki melalui sistem pembinaan yang tepat.

“Pembinaan anak sebagai anak negara hanya sampai 18 tahun adalah cara yang paling tepat untuk menghindari efek negatif pemenjaraan, lebih-lebih apabila bercampur dengan narapidana orang dewasa,” demikian pertimbangan MA pada 28 November 2012.

Pembunuh Instruktur Fitness Sabur Ditangkap Polisi Yang Ternyata Kelompok Spesialis Perampok Gay

Pembunuh instruktur fitnes Sabur akhirnya tertangkap. Pelaku dibekuk di tempat berbeda, salah satunya di Palembang. “Sudah ketangkap 4 hari lalu. Yang menangkap petugas dari Polda Metro,” kata Kapolsek Mampang Kompol Siswono saat dihubungi detikcom, Rabu (2/8/2012). Informasi yang dikumpulkan detikcom, pelaku berinisial AD, PR, dan DD. Otak dari pembunuhan Sabur ini diduga dilakukan oleh PR. PR ditangkap di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Setelah itu polisi menangkap AD di Jakarta Pusat, menyusul DD ditangkap di Palembang.

Sabur awalnya dilaporkan hilang oleh keluarganya, Sabtu (7/7). Warga Jl Pembangunan IV, Gambir, Jakarta Pusat, kemudian ditemukan tewas di kamar kostnya di Mampang, Jakarta Selatan, Sabtu Para pembunuh instruktur fitnes, Sabur alias Arbi, mencari sasaran pria-pria homoseksual untuk menjadi korban pemerasan. Mereka mencari sasaran di kafe-kafe atau mal-mal.

“Modusnya kalau ada (korban) yang suka sejenis, dikasih umpan sejenis. Kalau (korbannya) suka perempuan, dikasih perempuan,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Toni Harmanto, kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (2/8/2012). Bila korban sudah masuk dalam jeratannya, pelaku kemudian akan mengajak korban ke rumah kontrakannya. Untuk menyempurnakan aksinya, para pelaku sengaja menyewa rumah kontrakan untuk jangka waktu yang pendek.

“Rumah kontrakannya itu baru disewa, baru dua hari,” katanya. Jika korban menunjukkan gelagat menyukai pelaku, maka pelaku akan mengajak korban ke rumah kontrakannya untuk berhubungan badan. Saat korban telah telanjang bulat, salah satu pelaku kemudian mengirim pesan singkat kepada temannya untuk datang. “Kemudian teman-temannya ini menggerebek dan mengambil barang-barang milik korban dan korban akan diancam bila melapor ke aparat atau ke warga sekitar,” imbuhnya.

Sementara itu, Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya AKBP Helmy Santika mengatakan, para pelaku mengaku telah melakukan aksi pemerasan sedikitnya selama 10 kali. Semua korbannya adalah laki-laki. “Yang sudah-sudah tidak sampai dibunuh karena tidak melawan,” katanya. Hanya saja, korban-korban sebelumnya enggan melapor karena merasa malu. “Ini kan ada keengganan dari korban untuk melapor karena menurut mereka ini adalah aib,” tutupnya.

Pembunuh Sabur alias Arbi (45), instruktur fitnes yang ditemukan tewas di kamarnya di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, berjumlah 6 orang. Empat orang di antaranya berhasil ditangkap dan dua lainnya masih buron. Empat tersangka yang sudah ditangkap yakni HG alias FR (34), ditangkap di atas bus jurusan Merak-Bandung saat melintas di jalan Tol Merak arah Jakarta pada Rabu (25/7).

HG alias FR ditangkap bersama tersangka AS alias AN (23). Kemudian tersangka AL alias DM (38) ditangkap pada Kamis (26/7), di rumah kos Opak Tapa Jl Kayu Manis IV No 60 RT 07/14 Jakarta Timur, dan tersangka DD alias DDG ditangkap di Dusun Tiga, Desa Tirta Kencana, Kecamatan Makarti Jaya, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

“Dua orang lagi masih diburu, satu laki-laki dan satu lagi perempuan,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Kamis (2/8/2012). Dari keempatnya, polisi menyita sejumlah barang bukti berupa 2 buah kartu ATM, 2 unit handphone, sepasang sepatu warna biru-putih, selembar lakban bekas pakai, seutas tali rafia, sepotong celana jeans berlumuran darah dan sepotong kaos berkerah warna biru.

Sabur awalnya dilaporkan hilang oleh keluarganya, Sabtu (7/7). Warga Jl Pembangunan IV, Gambir, Jakarta Pusat, kemudian ditemukan tewas di kamar kosnya di Mampang, Jakarta Selatan, Sabtu (14/7).

Mujianto Pembunuh Berantai Asal Ngajuk Membunuh 15 Orang Homoseksual

Pengakuan mengejutkan disampaikan Mujianto, tersangka pembunuhan berantai di Nganjuk, Jawa Timur. Pemuda berusia 21 tahun ini mengaku telah meracuni 15 teman kencannya sesama gay sejak 2011.

Dalam sesi wawancara di Markas Kepolisian Resor Nganjuk, Rabu 15 Febaruari 2012, Mujianto mengaku meracuni mereka karena dianggap selingkuhan Joko Suprapto. Joko yang berusia 49 tahun adalah seorang duda majikan sekaligus kekasihnya. “Semua yang berhubungan dengan Pak Joko,” kata Mujianto saat menjelaskan seluruh korbannya, Rabu 15 Februari 2012.

Mujianto mengaku cemburu kepada orang-orang yang berhubungan dengan Joko. Karena itu dia berusaha mencelakai mereka dengan cara dijebak dan diracun. Kepada polisi Mujianto mengaku tak berniat membunuh. “Hanya mengerjai saja biar kapok,” katanya.

Sebelum melancarkan aksinya, Mujianto mencuri semua nomor telepon calon korbannya dari telepon seluler Joko. Selanjutnya dia menghubungi mereka satu per satu dengan dalih ingin berkenalan. Modus ini cukup efektif mengingat hampir semua korbannya berdomisili di luar Kabupaten Nganjuk.

Setelah merasa cukup dekat, Mujianto mengajak korban bertemu muka di Nganjuk. Setibanya di terminal bus Nganjuk, para korban dijemput Mujianto dengan sepeda motor untuk diajak jalan-jalan. Dalam perjalanan tersebut Mujianto sempat melakukan hubungan badan di tempat-tempat umum. Di antaranya areal persawahan hingga toilet Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Usai berkencan, Mujianto mengajak mampir ke warung untuk makan dan minum. Saat itulah dia meracuni minuman korban hingga sekarat. Setelah korbannya lemas, dia memboncengnya lagi dan menurunkan di rumah warga. Kepada pemilik rumah Mujianto mengaku akan memanggil dokter sebelum akhirnya menghilang.

Kepala Kepolisian Resor Nganjuk Ajun Komisaris Besar Anggoro Sukartono masih menyelidiki pengakuan tersebut. Saat ini polisi masih fokus pada empat korban tewas dan dua korban selamat untuk melengkapi pemeriksaan. “Kami masih akan selidiki sembilan korban lainnya,” katanya.

Dia mengimbau kepada masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga untuk menghubungi polisi. Sebab hingga saat ini masih terdapat dua jenazah yang belum teridentifikasi di Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Sementara dua korban lainnya sudah diketahui sebagai Basori, 42 tahun, warga Pacitan dan Ahya, 30 tahun, warga Situbondo.

Kepala Kepolisian Resor Nganjuk Ajun Komisaris Besar Anggoro Sukartono mengatakan korban Mujianto sebenarnya ada enam orang. Empat orang meninggal dunia dan dua lainnya kritis.

Dari empat korban tewas, dua diantaranya berhasil diidentifikasi. Mereka adalah Basori, 42 tahun, warga Pacitan dan Ahya, 30, warga Situbondo. Sedang dua lainnya masih disimpan di kamar jenasah Rumah Sakit Bhayangkara Kediri sebagai Mr X.

Adapun dua korban selamat lainnya adalah Anton Sumarsono, warga Solo yang masih dirawat di RS Bhayangkara Kediri serta Muhammad Faiz warga Blitar. Faiz sudah diperbolehkan pulang setelah sempat dirawat. “Kami akan periksa kondisi pelaku,” kata Anggoro Senin, 13 Februari 2012.

Mujianto, 24 tahun, warga Desa Jatikapur, Kecamatan Tarokan, Kediri, ditangkap tim reskrim Polres Nganjuk Senin, 13 Februari 2012 pagi. “Pelaku tengah berada di rumah Joko, pasangannya,” kata Anggoro.

Kepada polisi, Mujianto mengaku nekat menghabisi empat orang dan melukai dua lainnya karena cemburu. Keenam korbannya adalah para gay yang pernah menjalin hubungan istimewa dengan Joko, kekasihnya.

Modus yang dilakukan Mujianto cukup unik. Dia berpura-pura menyukai calon korbannya untuk kemudian diajak berkencan. Saat itulah Mujianto memasukkan racun tikus ke dalam makanan korban hingga sekarat.

Setelah melihat korbannya lemas, Mujianto menaikkannya ke atas sepeda motor dan menurunkan ke rumah warga. Kepada pemilik rumah, dia selalu mengatakan korban tengah sakit dan hendak mencari dokter. Setelah ditinggal, pelaku pergi begitu saja hingga akhirnya korban meninggal.

Peristiwa tersebut sempat menghebohkan warga Nganjuk dalam satu bulan terakhir. Sejumlah warga melaporkan menerima korban keracunan yang ditinggalkan seseorang. Polisi sendiri sempat menduga mereka adalah korban pembiusan di atas kendaraan umum.

Sembilan korban Mujianto yang lain masih belum diketahui nasibnya. Dalam pengakuannya di kantor Kepolisian Resor Nganjuk Rabu, 15 Februari 2012 kemarin, Mujianto mengaku membunuh karena cemburu. Para korban itu adalah lelaki simpanan pasangannya, Joko Suprianto.

“Kami masih menyelidiki sembilan korban lainnya,” kata Kepala Kepolisian Resor Nganjuk Ajun Komisaris Besar Anggoro Sukartono di Nganjuk, Rabu, 15 Februari 2012.

Sejak 2011, Mujianto meracuni 15 teman kencannya sesama gay. “Hanya ngerjain saja biar (mereka) kapok,” kata Mujianto. (Baca: Korban Tewas Mujianto Enam, Dua Selamat)

Mujianto dibekuk di rumah pasangannya, Joko Suprianto, di Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk, Senin, 13 Februari lalu. Joko adalah duda, 49 tahun, majikan dan kekasih Mujianto. Jejaknya terendus dari pengakuan korbannya yang selamat, yakni Muhammad Fais.

Dalam dua bulan ini, pria 21 tahun itu sudah menewaskan empat orang, yakni Ahyani, 46 tahun, warga Situbondo; Romadhon (55), Sudarno alias Basori (42), keduanya warga Ngawi; dan seorang lagi belum diketahui identitasnya, pria berusia 32 tahun.

Adapun korban selamat adalah Muhammad Fais, 28 tahun, asal Pasuruan, dan Anton S. Sumartono, 47 tahun, asal Surakarta. Sedangkan sembilan korban lainnya belum diketahui nasibnya.

Salah seorang korban pembunuhan berantai yang diduga dilakukan Mujianto di Nganjuk adalah Ahyani, 46 tahun, seorang pegawai negeri sipil. Ahyani bertugas di Unit Pelaksana Teknis Pelatihan Kerja Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Menurut Kepala Unit, Ainul Yaqini, korban merupakan pegawai yang berasal dari Solo. Pada 1986, dia diangkat sebagai pegawai negeri di Tuban dan 1991 dipindah ke Situbondo.

Di Situbondo inilah Ahyani menikah dengan Saljunianti, warga Desa Tokelan, Kecamatan Panji. Dari perkawinan tersebut, mereka dikaruniai dua anak.

Ainul bercerita, dia terakhir bertemu Ahyani 30 Desember 2011. Saat itu Ahyani mengeluh sakit. “Ahyani sudah lama punya penyakit diabetes,” katanya saat dihubungi Tempo, Kamis, 16 Februari 2012.

Kemudian pada 1 Januari 2012, Ahyani meminta izin tak masuk kerja pada 2 Januari karena akan menjenguk ibunya di Solo, Jawa Tengah. Namun, keesokan harinya, Ainul menerima informasi bahwa Ahyani ditemukan pingsan di terminal Nganjuk. “Setelah dibawa ke rumah sakit, jam 12 siang Ahyani dikabarkan meninggal,” katanya.

Keluarga menolak jenazah Ahyani diotopsi dan langsung dimakamkan di Solo. Keluarga dan rekan kantornya menduga korban memang tewas karena dibius. Hingga kemudian terungkap bahwa ternyata Ahyani menjadi korban pembunuhan Mujianto. “Kami sangat kaget,” kata Ainul.

Dua dari empat korban pembunuhan berantai oleh Mujianto, 24 tahun, di Kabupaten Nganjuk, adalah warga Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Keduanya adalah Romadhon, 55 tahun, warga Widodaren, dan Sudarno, 42 tahun, warga Desa Sukowiyono, Kecamatan Padas.

Menurut Suparno, keluarga Romadhon, korban diduga kuat diberi racun tikus melalui bakso yang diberikan Mujianto. “Sebelum meninggal dunia almarhum sempat bercerita pada orang yang menolongnya bahwa ia ditipu dan mengaku sempat makan bakso,” katanya, Rabu, 15 Februari 2012.

Cerita itu didapat dari petugas Kepolisian Sektor Loceret, Nganjuk, pemilik warung bakso, serta warga yang dititipi tersangka pada awal Januari 2012. Sebelum meninggal dunia Romadhon yang sudah terlihat teler dititipkan ke warga di Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk. Kepada warga yang dititipi, Mujianto beralasan, korban adalah temannya yang sedang sakit.

“Katanya orang ini (Romadhon) sakit dan akan dihubungi keluarganya serta dicarikan dokter,” ujar Suparno menirukan keterangan polisi dan saksi di Nganjuk. Namun orang yang menitipkan korban tak kunjung datang.

Warga akhirnya melapor ke Kepolisian Sektor Loceret. Korban yang semula diduga korban pembiusan lantas dibawa ke RS Bhayangkara, Nganjuk. Setelah dilakukan pemeriksaan, korban ternyata keracunan racun tikus.

Adik kandung korban, Nasir, semula juga menyangka kakaknya menjadi korban pembiusan dan perampokan. “Tidak menyangka ternyata meninggalnya diracun,” ujarnya. Jenazah Romadhon tiba di Ngawi dan dimakamkan pada 7 Januari 2012. “Saat jenazah tiba sempat dilihat dan sama sekali tidak ada luka bekas penganiayaan,” tutur Nasir.

Keluarga menyangkal Romadhon punya orientasi seksual yang berbeda. Apalagi Romadhon dan istrinya, Siti Fatimah, sudah dikaruniai tiga putri. “Selama ini hubungan almarhum dengan kakak (ipar) saya baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda seperti itu,” katanya.

Tersangka Mujianto mengaku meracuni 15 orang sejak 2011 karena cemburu. Ke-15 orang ini diduga kuat pernah berhubungan badan dengan pasangan gay Mujianto, Joko Susilo, yang tinggal di Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk. Mujianto sendiri merupakan warga asal Desa Jati, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Mujianto dan Joko sudah lama hidup serumah di Nganjuk.

Dari 15 orang yang pernah diracun dengan racun tikus lewat makanan dan minuman itu, baru terungkap enam orang. Empat di antaranya akhirnya tewas dan dua lainnya sempat kritis dan bisa diselamatkan. Para korban diracun tidak bersamaan dan empat korban di antaranya meninggal dunia dalam dua bulan terakhir.

Kepala Kepolisian Resor Nganjuk Ajun Komisaris Besar Anggoro Sukartono mengatakan penyelidikan kasus pembunuhan berantai sejak 2011 ini cukup sulit. Polisi membentuk tim khusus setelah korban tewas yang ditemukan di rumah warga berjatuhan.

Menurut dia, awal mulanya para korban diduga merupakan target pembiusan yang marak di angkutan umum. “Begitu jumlah korban tewas mencapai empat orang, saya bentuk tim khusus,” kata Anggoro kepada Tempo, Rabu, 15 Februari 2012.

Pengungkapan ini berawal dari lolosnya Muhammad Faiz, 21 tahun, asal Pasuruan, dari upaya pembunuhan itu. Kala itu Faiz tak menghabiskan minuman es teh yang telah dibubuhi racun tikus oleh Mujianto karena terasa pahit. Saat tubuh korban lemas, pelaku mengambil dompet dan telepon genggam Faiz, lalu kabur. Selanjutnya telepon genggam korban dijual kepada penadah di Nganjuk.

Berbekal nomor IMEI, telepon genggam milik Faiz yang tertera di dos book, polisi berhasil melacak keberadaan ponsel itu dan menemukan penadahnya. Selanjutnya polisi membuat sketsa wajah Mujianto berdasarkan keterangan penadah ataupun Faiz.

Tak hanya itu, Faiz juga masih mengingat nomor polisi sepeda motor yang dipergunakan Mujianto saat menjemputnya di terminal, yakni AG 2001 XX. “Setelah kami lacak di registrasi kendaraan, terdapat empat nomor polisi dengan angka itu. Dan kami temukan salah satu pemiliknya dengan wajah yang sama di sketsa,” kata Anggoro.

Pelacakan ini, menurut dia, berjalan lebih cepat dari target yang ditetapkan. Pelaku berhasil diringkus tiga hari setelah perburuan dimulai dari target waktu satu pekan. Ketika dikonfrontasi dengan Faiz, dia membenarkan bahwa Mujianto adalah Feri yang memberinya racun.

Dua korban pembunuhan oleh gay di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, dipastikan warga Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. “Dari empat korban yang meninggal dunia, dua orang warga asal Ngawi,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Nganjuk, Ajun Komisaris Polisi Ali Purnomo, saat dihubungi, Rabu, 15 Februari 2012.

Tersangka Mujianto, 24 tahun, mengaku meracun 15 orang sejak 2011. Ke-15 orang ini diduga pernah berhubungan badan dengan pasangan gay Mujianto, Joko Supriyanto, di rumah Joko di Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk. Mujianto sendiri merupakan warga Desa Jati, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Mujianto dan Joko sudah lama hidup serumah di Nganjuk.

Dari 15 orang yang pernah diracun dengan racun tikus lewat makanan dan minuman itu baru terungkap enam orang. Empat di antaranya tewas dan dua lainnya kritis, tapi bisa diselamatkan. Empat korban diracun tidak bersamaan dan meninggal dunia dalam dua bulan terakhir.

Empat korban tewas adalah Ahyani, 46 tahun, PNS, Desa Tokelan, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo; Romadhon, 55 tahun, Desa/Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi; Sudarno, 42 tahun, Desa Sukowiyono, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi; Mr X (belum diketahui), diperkirakan berusia 32 tahun.

Adapun korban selamat adalah Muhammad Fais, 28 tahun, swasta, Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, dan Anton S. Sumartono, 47 tahun, guru, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah.

Modusnya dengan meracun korban saat diajak jalan-jalan. Setelah teler atau sekarat, korban dititipkan di rumah warga. Warga semula mengira korban adalah korban pembiusan. Namun setelah dilaporkan ke polisi setempat dan diotopsi di RS Bhayangkara, korban dipastikan keracunan.

Dua korban asal Ngawi itu adalah Romadhon, 55 tahun, warga Desa/Kecamatan Widodaren dan Sudarno, 42 tahun, warga Desa Sukowiyono, Kecamatan Padas. “Benar, dua korban orang Ngawi. Saya sudah koordinasi dengan Polres Nganjuk,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Ngawi Ajun Komisaris Polisi Sukono.

Satu dari empat korban tewas sempat dikabarkan bernama Basori asal Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Namun setelah dilacak berdasarkan pengakuan tersangka dan pasangan gay-nya, Joko, serta keluarga korban, Basori hanya nama samaran. Basori ternyata Sudarno asal Ngawi.

“Setelah diteliti lagi, bukan orang Pacitan tapi Ngawi. Saya sudah koordinasi dengan Polres Nganjuk,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Pacitan Ajun Komisaris Polisi Sukimin.

Satu dari dua korban pembunuhan Mujianto di Nganjuk berhasil diidentifikasi. Istri korban syok saat mengetahui suaminya punya pacar lagi, seorang laki-laki. Ruang penyidikan Satuan Reserse Kriminal Polres Nganjuk mendadak pecah oleh tangis Warsini. Tubuhnya lemas usai melihat foto yang ditunjukkan petugas identifikasi Polres Nganjuk. “Ya, Allah,” katanya diiringi derai air mata, Rabu, 15 Februari 2012.

Ibu rumah tangga asal Desa Sukuwiono, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi ini mendatangi Polres Nganjuk untuk mengidentifikasi korban pembunuhan Mujianto siang tadi. Sejak 10 Februari 2012 lalu, Warsini kehilangan suaminya, Sudarno, 42 tahun.

Kala itu Sudarno pamit ke sawah. Saat itu Sudarno hanya mengenakan pakaian biasa dan tidak membawa barang berharga. Warsini pun melepas suaminya tanpa rasa curiga. Sejak itu, pria yang telah memberinya satu anak itu tak pernah kembali.

Warsini tergerak mendatangi Polres Nganjuk setelah melihat tayangan di media massa tentang korban pembunuhan Mujianto. Kala itu polisi menyebut ada dua jasad yang belum teridentifikasi.

Usai menyaksikan foto korban dan ciri-ciri tubuh serta pakaian yang ditemukan polisi, Warsini mengakui bahwa pria itu adalah suaminya. Apalagi Warsini juga membawa Kartu Tanda Penduduk dan Surat Izin Mengemudi milik korban yang identik dengan Sudarno.

Kepada polisi yang memeriksanya, Warsini mengaku tak melihat keganjilan perilakusuaminya. Namun dia menyadari bahwa Sudarno memiliki banyak teman laki-laki di jejaring sosial Facebook. Selama ini Sudarno memang aktif menjalin pertemanan melalui dunia maya yang bisa diakses di rumahnya.

Kepala Kepolisian Resor Nganjuk, Anggoro Sukartono, mengatakan, identifikasi ini telah menguak salah satu Mr X yang selama ini misteri. Saat ini jasad Sudarno sudah dimakamkan oleh petugas kepolisian di Nganjuk bersama satu jasad lain yang belum teridentifikasi. “Karena identitasnya sudah jelas, saya kira tidak perlu membongkarnya kembali,” katanya.

Dengan demikian, tiga dari empat korban meninggal itu telah terungkap. Mereka adalah Ahyani, 30 tahun, warga Situbondo yang berprofesi sebagai pegawai negeri Pemerintah Provinsi Jawa Timur; Romadhon, 42 tahun, warga Ngawi (yang sebelumnya disebut sebagai Basori, warga Pacitan); serta Sudarno, 42 tahun, warga Ngawi.

Ulah Mujianto yang membantai empat orang sesama gay mengundang kemarahan warga. Penduduk di sekitar rumah majikan Mujianto di Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Nganjuk menuding Mujianto sebagai perusak kehormatan kampung.

Kecaman ini disampaikan warga saat menyaksikan penggeledahan rumah Joko Suprianto, majikan Mujianto, sore tadi. Saat melihat Mujianto turun dari kendaraan polisi, warga yang memenuhi halaman rumah Joko menyampaikan kekesalannya. “Pendatang baru sudah rusak nama kampung,” kata Didik, 46 tahun, warga Desa Sonopatik, geram, Kamis, 16 Februari 2012.

Didik tidak menyangka Mujianto yang baru dua tahun tinggal di desa ini berbuat sangat keji. Selama ini warga sendiri juga tidak begitu akrab dengan Mujianto. Sebab, Mujianto dikenal selalu berdiam diri di dalam rumah majikannya yang tertutup pagar besi. Sesekali Mujianto terlihat keluar rumah untuk berbelanja ke pasar bersama Joko dengan mengendarai sepeda motor.

Rumah berukuran 25 x 20 meter yang dihuni Joko Suprianto ini terbilang paling bagus di desa itu. Selain mengajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 6 Nganjuk, Joko juga dikenal sebagai seniman yang piawai memainkan elektone atau organ tunggal. Sebagai warga yang telah delapan tahun berdomisili di kampung itu, Joko cukup akrab dengan tetangganya.

Karena itu mereka merasa sangat marah ketika mengetahui ulah Mujianto yang dianggap merusak citra Desa Sonopatik. Apalagi korban pembunuhannya cukup banyak dan dilakukan dengan cara sadis. “Saya ingin ikut menghajar saat melihat dia digelandang polisi,” kata Didik.

Sikap yang sama disampaikan Ny Salami, warga setempat. Ia menganggap Joko Suprianto memelihara anak macan di rumahnya. Salami merinding jika mengingat Mujianto yang kerap berpapasan dengannya. “Dihukum yang berat saja,” katanya saat berjejal di depan rumah Joko.

Mujianto diduga melakukan pembunuhan terhadap empat orang gay dan mencelakai dua lainnya dengan racun tikus. Para korban adalah orang-orang yang dicurigai memiliki hubungan asmara dengan kekasihnya, Joko Suprianto. Kepada polisi, Mujianto mengaku melakukan pembunuhan itu sejak tahun 2011 dengan jumlah korban mencapai 15 orang.

Karena Ketika Kecil Pernah Disodomi, Sartono Balas Dendam Dengan Menyodomi 69 Anak dan Menjadikannya Pelacur Bagi Kaum Homoseksual

Anak remaja laki-laki yang jadi korban sodomi Sartono (34) bertambah. Jika awalnya Sartono, tersangka pencabulan serta perdagangan anak remaja, mengaku hanya mencabuli 39 anak, dalam penyidikan ia kemudian mengaku telah mencabuli 96 anak.

Hal ini diungkapkan Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor (Polres) Metro Kepulauan Seribu Ajun Komisaris Reynold E P Hutagalung, Rabu (12/1) di Cilincing, Jakarta Utara. ”Dua tahun terakhir tersangka mengaku telah menyodomi 54 anak dan sebelumnya 42 anak. Rata-rata korban berumur sekitar 14 tahun hingga 17 tahun,” ucapnya.

Menurut Reynold, dari pengakuan tersangka, hampir seluruh korbannya adalah anak jalanan yang tinggal di sekitar stasiun kereta. Beberapa stasiun kereta yang sering menjadi daerah incaran Sartono adalah Jatinegara, Serang, Karawang, Cikampek, Purwakarta, dan Bandung.

”Tersangka sering beraksi memperdaya anak-anak remaja korbannya di gerbong-gerbong kereta rusak. Selain melakukan sodomi, tersangka juga melakukan kekerasan fisik dan psikis pada anak-anak remaja itu,” ujarnya.

Korban

Melihat kecenderungan tindakan pencabulan yang dilakukan tersangka, polisi menduga Sartono juga pernah jadi korban pencabulan. Untuk memperkuat dugaan itu, Polres Metro Kepulauan Seribu kemudian berinisiatif memeriksakan kondisi fisik tersangka ke Rumah Sakit Polri. Hasilnya, ternyata Sartono sering melakukan hubungan seksual lewat anus.

”Setelah kami telusuri, ternyata tersangka mengaku pernah menjadi korban sodomi sejak berusia 13 tahun. Hal ini diperkuat dengan hasil pemeriksaan Rumah Sakit Polri yang menyatakan anus tersangka telah rusak,” kata Reynold.

Sebelumnya, tersangka tak pernah mengaku apabila dirinya pernah menjadi korban sodomi. Bahkan, Sartono yang merupakan warga Dusun Wage RT 03/ RW 01, Dusun Sinarancang, Kecamatan Mundu, Cirebon, itu memiliki seorang istri dan empat anak.

Dengan latar belakang itu, polisi menduga Sartono memiliki kecenderungan biseksual. Artinya, ia memiliki ketertarikan seksual kepada wanita maupun laki-laki.

Sartono tertangkap polisi di Stasiun Kota, Jakarta Barat, setelah sempat melarikan seorang remaja berinisial HR (14), asal Pulau Harapan, Kepulauan Seribu. Selama diculik, HR disodomi sebanyak 18 kali. Karena tak punya uang, tersangka menjual korban kepada para lelaki homoseksual dengan imbalan Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per transaksi.

Di bawah ancaman tersangka, HR dipaksa melayani para laki-laki homoseksual. Sementara uang hasil transaksi seluruhnya diminta Sartono.

Selama 1,5 bulan, korban dibawa Sartono berkeliling ke beberapa kota, mulai Serang, Cikampek, Purwakarta, hingga Bandung. ”Ketika singgah lagi di sebuah hotel di Serang, korban dimarahi tersangka karena uang hasil transaksi, Rp 50.000, ternyata palsu. Korban lalu diminta mengembalikan uang itu. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan korban untuk kabur,” kata Kepala Polres Metro Kepulauan Seribu Ajun Komisaris Besar Hero Henrianto Bachtiar.

Dalam kondisi tertekan dan takut, korban akhirnya berhasil lolos hingga ke Muara Angke, Jakarta Utara. Polisi kemudian membantu HR dan mengantar ke keluarganya di Kelurahan Pulau Harapan, Kepulauan Seribu.

Dari penemuan inilah aksi pencabulan Sartono kemudian terungkap. Pencarian Sartono sempat terkendala karena dia sering berpindah-pindah dan berganti nomor telepon.

Dari keterangan korban, Sartono diduga telah melakukan tindak pidana sesuai Pasal 328 KUHP dan Pasal 83 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Pengusaha Warnet Di Cibodas Tangerang Dibunuh Pelamar Kerja Karena Memaksakan Syarat Oral Seks Sebagai Jaminan Diterima Kerja

Motif pembunuhan terhadap pengelola warnet dan restoran di Jalan Raya Sawo, Perumnas I, RT 01/24 , Kelurahan Cibodasari, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang dilatarbelakangi sakit hati. Boy Manurung, 24, nekat menghabisi nyawa Safarullah,45, setelah dipaksa melakukan oral seks oleh korban.

Hal tersebut diungkapkan Kapolres Metro Tangerang, Kombes Taviv Yulianto, soal motif pembunuhan yang terjadi Minggu (26/12) kemarin. Menurut Taviv, tersangka baru pertama kali bertemu dengan korban di daerah Kalideres, Jakarta Barat. Sabtun (25/12) siang. Pada pertemuan tersebut, Safarullah menjanjikan akan memberikan pekerjaan kepada pelaku mengurus warnet dan restoran yang dikelolanya.

Boy Manurung pun mengikuti korban ke rumah yang sekaligus tempat usaha warnet dan restoran itu . Ketika itu korban meminta pelaku untuk tidur di rumahnya. Tak curiga, korban pun menuruti kemauan Safarulah.

Di kamar tersebut, Safarulah meminta pelaku untuk berhubungan seks. Namun permintaan tersebut ditolak oleh Boy Manurung. Pengelola warnet Resident Café itu pun kesal dan mengancam pelaku tidak akan diberikan pekerjaan . Lantaran diancam, korban pun menuruti kemauan korban melakukan oral seks. “Karena tubuh korban lebih besar, pelaku pun mau melakukan oral seks,” ujar kapolres.

Usai melakukan perbuatan bejat tersebut, Safarullah tertidur. Melihat korban tertidur, Boy kemudian keluar kamar dan mengambil pisau dan golok di ruang dapur. Merasa sudah dilecehkan, pelaku kemudian berusaha menusuk korban. Rupanya Safarullah mengetahui pelaku akan menusuk dirinya. Keduanya pun terlibat perkelahian di kamar. Pelaku membabi buta menusuk pengelola warnet itu.

Suara gaduh , membuat Arif dan Tugiyo masuk ke kamar korban, namun pelaku mengacungkan golok kepada kedua karyawan warnet tersebut. Kedua karyawan itu pun kembali keluar kamar untuk meminta bantuan. Lantaran sudah terkepung dengan warga, Boy Manurung bersembunyi di lemari di kamar. Waktu tertangkap warga mengeroyok pelaku hingga babak belur.

Kapolres membantah jika dalam peristiwa itu terjadi perampokan. “Dari pengakuan tersangka kepada kami, pelaku merasa sakit hati karena dipaksa k memuaskan nafsu korban,” ungkap Kapolres menambahkan pelaku dijerat dengan pasal 338 subsider 351 ayat 3 dengan ancaman diatas 5 tahun penajara.

Gara Gara Tolak Ngeseks dengan Gerombolan Gay Homoseksual Malah Disiksa dan Dipukul Habis Habisan

Seorang pria berusia 21 tahun dipukuli hingga babak belur karena menolak ngeseks dengan sekelompok gay di Taiwan.

Senin pekan ini, pria yang hanya diidentifikasi bernama Liu, sedang mengendari motor kembali ke rumahnya di wilayah Kaoshiung setelah mengunjungi temannya di Tainan.

Karena suatu hal ia singgah di kamar mandi di taman Tainan Park. Baru saja melangkah keluar, ia kemudian dihadang oleh sekelompok pria dan berdiri mengelilinginya serta meminta untuk ngeseks. Liu mengatakan tidak dan para pria itu kemudian marah dan memukulinya sebelum melarikan diri. Tak berapa lama kemudian Liu menelepon polisi melaporkan kejadian itu.

Seorang Pria Homo Mencoba Kejantanannya Dengan Memperkosa Wanita Agar Tidak Disebut Bencong

Pegawai salon homoseksual penasaran mencoba kejantanannya dengan cara memperkosa teman wanitanya.Usai memperkosa Ryan ,21, ditangkap polisi di Jl. Cik Ditiro, Sumberagung, Kemiling, Bandarlampung, Senin (6/12) sekitar pukul 22.00 WIB.

Tersangka yang membuka salon kecantikan di Jl. Sam Ratulangi, Tanjungkarang Barat, Bandarlampung, memperkosa RT, 19, teman wanitanya semasa di sekolah dulu yang sempat menjadi pacarnya.

Ryan memutuskan hubungan cintanya pada korban lantaran lebih menyukai sesama jenis hingga akhirnya korban Rt menerima keputusan itu setelah tahu kelainan Ryan yang lebih menyukai laki-laki.

Adapun kronologis hingga terjadinya pemerkosaan berawal dari hari itu korban tanpa sengaja bertemu tersangka di salon. Korban yang sudah 3 tahun tidak bertemu spontan terkejut dan saat itulah digunakan tersangka menahan korban agar mereka berbagi cerita sejak putus cinta.

Tersangka kemudian mengajak korban main ke umah teman mereka, Ito, yang tidak jauh rumahnya dari rumah tersangka. Tanpa curiga sedikitpun, korban menurut saja. Ito menerima kedatangan mereka, namun karena ada pekerjaan yang harus dikerjakan Ito meninggalkan mereka berdua.

Saat hanya berdua itulah tiba-tiba saja timbul niat tersangka untuk menguji kejantanannya sebagai laki-laki karena tersangkas sering dipanggil bencong oleh teman-teman lain. Saat korban sedang duduk di kursi sofa, langsung dicengkram tersangka lalu diperkosa.

Walaupun korban menangis meronta-ronta tapi tersangka dengan sadis menampar dan mencengkram leher korban lalu memperkosa korban yang ketakutan dengan sadis.

Kasatreskrim Polresta Bandarlampung Kompol, Takdir Mattanete didampingi Kapolsek kemiling, AKP. Subandi mengatakan, tersangka ditangkap di rumahnya usai laporan korban dan perbuatan tersangka melanggar pasal 289 KUHP pencabulan dengan kekerasan. Ancaman hukumannya maksimal 9 tahun penjara,” kata Takdir.

Sementara itu, dihadapan petugas tersangka mengaku hanya ingin menguji kejantanannya yang selama ini lebih menyenangi sesama laki-laki alias homoseksual. “Saya sampe cape mencoba memperkosa korban tapi tidak juga bisa, saya jadi menyesal karena ternyata saya cuma senang dengan laki-laki dan tidak bisa melakukan hubungan seks dengan perempuan walau sudah saya coba berulang-ulang tetap tidak bisa, memang benar ternyata saya bencong”, ungkap tersangka.