Category Archives: kebodohan

Gendra Aldiyasa Terjun Bunuh Diri Tanpa Busana Dari Apartemen Hampton Park Cilandak Karena Tidak Diberi Uang Untuk Nonton Final Piala AFF Di Malayasia

Motif bunuh diri Gendra Aldiyasa (18), dengan terjun bebas dari Apartemen Hampton Park, Cilandak, Jakarta Selatan, kemarin terkuak. Aksinya itu dipilih dilatarbelakangi kekesalannya karena orangtuanya tak memberi uang untuk acara nonton bareng final leg pertama antara Timnas Malaysia vs Indoensia.

“Menurut teman Gendra, korban loncat karena enggak dikasih uang sama orang tua buat nonton bareng final pertama Piala AFF, mereka ada acara nobar di Kemang Jakarta. Tapi untuk kejiwaan korban masih normal,” ujar Kepala Kepolisian Sektor Cilandak, Kompol Azhar Nugroho saat dihubungi wartawan, Selasa (28/12).

Azhar juga mengakui bahwa Gendra yang tercatat sebagai mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut terjun dengan tanpa sehelai benangpun di pakaiannya. Diketahui, sebelum aksinya pada 04.30 Wib, malamnya Gendra masih sempat ngobrol bareng teman-temannya.

Pagi tadi, pihak kepolisian masih terus memanggil saksi-saksi terkait peristiwa bunuh diri Gendra. Kanit Reskrim Polsek Cilandak Inspektur Satu Alam Nur dihubungi terpisah mengatakan telah memeriksa pengelola apartemen. Sementara untuk keluarga, belum bisa dilakukan karena masih syok.

Tergiur Uang Mudah dan Hidup Enak Pria Berpendidikan Tinggi Jadi Korban Penipuan

Berharap dapat uang puluhan juta, pria berpendidikan tinggi justru menjadi korban penipuan undian berhadiah
yang mengiming-iminginya.

Korban, J.A Soge Dawan, 50, warga Jatinegara, Jaktim, melaporkan kejadiannya ke Polisi, Kamis (23/12).

Kepada petugas Polsek Senen, korban menceritakan pada Kamis pagi dirinya mendapat telepon yang mengabarkan kalau dirinya memenangkan undian berhadiah Rp 50 juta yang diselenggarakan Telkomsel.

Namun, sebagai syarat pengambilan korban diminta terlebih dahulu mentransfer uang Rp1, 5 juta melalui ATM ke nomer rekening Mandiri atas nama Sofyan Akbar. Tanpa pikir panjang, korban pun mengikuti apa yang diperintahkan pelakunya.

“Saya seperti terhipnotis, nurut saja apa yang dibilang orang itu saya lakukan,” terangnya di kantor pelayanan Polsek Senen. Dia pun, sambungnya, tersadar setelah uang yang ada di dalam ATM miliknya sudah berpindah tangan.

Dengan menunjukan bukti struk tranfer uang dari ATM Mandiri Atrium Senen, korban juga meminta kepada petugas untuk memblokir rekening tabungannya.

Kasus penipuan dengan modus undian berhadiah tersebut masih dalam penyelidikan Polsek Senen

Dimas Bunuh Dua Orang Sahabat Karibnya Karena Kesal Pacar Hamil dan Minta Dinikahi

Mengaku stres karena pacarnya minta menikahi, terdakwa Dimas Nusantoro membunuh dua mahasiswa UPN. Gara-garanya, sepele karena kelinci milik korban (Fahmi) kencing di kamar tersangka. Ternyata, tidak hanya Fahmi yang dibunuh tapi juga rekannya Rizal.

Pada persidangan, di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (8/12). Ibu korban, Ny Abdul Latief sempat mengejar dan berusaha masuk ruang tahanan untuk memukul Dimas. Keluarga korban kasus pembunuhan dua mahasiswa UPN tetap tak mampu mengendalikan emosi saat terdakwa Dimas Nusantoro menampakkan diri dalam persidangan.

Sidang hari ini hanya berjalan beberapa menit. Saksi yang dijadwalkan hadir dari kepolisian tidak muncul. Terdakwapun akhirnya dibawa kembali ke ruang tahanan. Ny Abdul Latief, yang sedari tadi menahan emosi, langsung melampiaskannya dengan merangsek menuju terdakwa, namun dicegah dua satpam yang mengawalnya.

”Ayo minggir…satpam kok malah membela pembunuh ! Bagaimana itu !” serunya dengan suara agak parau.

Ny Latief kemudian berlari menuju ruang tahanan PN Surabaya, tempat terdakwa ngendon sebentar, sebelum dibawa oleh mobil tahanan ke Rutan Kelas I Surabaya (Medaeng). Terdakwa Dimas, yang saat ini mengenakan peci warna merah, langsung bergegas masuk sel tahanan untuk menghindari sergapan keluarga korban.

Begitu sampai di pintu sel terluar, Ny Latief berusaha mengirim bogem mentah ke terdakwa, namun luput karena pintu sel telah ditutup. Ny Latief berusaha mendorong pintu sel agar dia bisa masuk ke dalam, tapi dicegah petugas tahanan. Tak pelak, keluarga korban hanya bisa mengeluarkan sumpah serapah terhadap terdakwa.

”Dasar pembunuh kamu….!!” begitu teriak Ny Latief berkali-kali, sembari ditenangkan oleh keluarganya.

Sebelumnya, terdakwa yang alumni mahasiswa sebuah kampus di Ngagel ini ditangkap Polsek Rungkut.dan diancam dengan pasal berlapis yakni pasal 340 jo 359 KUHP tentang pembunuhan berencana dan menghilangkan nyawa seseorang dengan ancaman 20 tahun penjara. Dimas mengaku membunuh kedua korban karena stres, akibat kekasihnya mendesak meminta dinikahi.

Janda Muda Menawarkan Pelayanan Seks Gratis Tanpa Bayar Laris Manis

Adalah janda beranak satu bernama Ade (20) warga Tanjungpinang memberikan service gratis kepada para pria hidung belang. Kontan saja penawarannya itu laris manis karena Ade masih muda dan cantik.

Tapi apa akibatnya? Ternyata trik itu hanya jebakan bagi para pria hidung belang yang tidak waspada memilih teman kencan. Buktinya, begitu usai memberikan service hubungan intim gratis barangnya dipeloroti.

Sebelum memberikan service gratis, Ade pun minum miras bersama mangsanya. Usai kencan, pria hidung belang terlelap tidur maka Ade melancarkan aksinya.

“Saya tinggalkan ia sedang tidur pulas dalam keadaan tanpa busana,” aku Ade di kantor Polsek Tanjungpinang Barat, Kepulauan Riau setelah ditangkap petugas.

Dalam keadaan setengah mabuk mereka melakukan hubungan intim, dan pada dini hari melihat korbanya tertidur lelap pelaku mengambil HP diatas meja, uang di dompet dan kunci motor di celana korban. Kemudian Ade membawa motor korbanya keliling Tanjungpinang hingga dibawa ke pelabuhan saat ia hendak ke Batam.

Ade mengaku, hanya berniat mengambil uang dan hp korban saja. Sedangkan sepeda motor korban hanya untuk melarikan diri. Korban Ade hingga kini baru beberapa pria antara lain BM, MH dan AL. Mereka rata-rata kehilangan dompet dan uangnya setelah diservice gratis.

Setelah ditelisik, ternyata Ade seorang waitress cafe di Bintan Plaza baru dua bulan menjadi wanita penghibur. Pada Rabu malam (10/11) dirinya diajak oleh seorang pemuda hidung belang untuk menginap di Wisma Tanjung. Usai melakukan hubungan badan, pemuda bernama AL (25) tersebut meningalkannya.

AL yang merasa mendapat gratisan lantas memberitahu temannya bernama BH. Mendengar ada barang baru dan gratis, BH pun semangat menemui Ade dan mengajaknya makan, kemudian ke hotel. Usai melayani nafsu BH, Ade meminjam motor BH dengan alasan menjemput teman, yang berlanjut hingga tertangkap polisi selang dua hari.

Polisi pun menyamar menjadi pria hidung belang untuk membujuk Ade yang hampir menyeberang ke Batam. Selain ingin booking, petugas berpura-pura hendak membeli motor larian itu dan akhirnya Ade menunjukan dimana motor ia sembunyikan. Ade pun berhasil ditangkap.

“Kita berhasil melacak pelaku dari nomor Hpnya yang masih aktif, sehingga ia bisa dihubungi dan kita pancing,” kata Kapolsek Tanjungpinang Barat, AKP M Sibarani, Jumat (12/11).

Akibat perbuatanya Ade dijerat dengan pasal 363 KUHP tentang pencurian dan pasal 372 KUHP tentang Pengelapan dnegan ancaman 6 tahun dan 4 tahun penjara.

Makam Anggota Brimob Dibongkar Demi Mendapatkan Jimat

Makam seorang anggota kepolisian Briptu Isdiyanto di Taman Pemakaman Umum Kelurahan Kauman, Kota Blitar, dibongkar pencuri. Pelaku kemungkinan meyakini kain kafan Briptu Isdiyanto yang meninggal pada hari Selasa Kliwon sangat ampuh untuk jimat.

Untung saja, aksi pencurian kain kafan tersebut dipergoki anggota keluarga Briptu Isdiyanto yang memang rutin berjaga di pemakaman.

Menurut salah satu adik Briptu Isdiyanto, Roni, pencuri sudah berhasil menggali makam kakaknya sedalam 50 sentimeter. Maling nyeleneh tersebut menghentikan aksinya dan langsung kabur ketika tepergok.

Sejak awal, jelas Roni, keluarganya telah mengantisipasi mitos jenazah yang meninggal pada hari Selasa Kliwon maka kain kafannya bisa digunakan untuk jimat. Oleh karena itu, sejak jenazah dimakamkan, secara bergiliran anggota keluarga Briptu Isdiyanto berjaga di pemakaman.

“Makam kakak saya ditunggui tujuh hari tujuh malam nonstop, dan dilanjutkan selama 41 hari dijaga pada malam hari. Namun, di hari ke-36 ternyata ada pencuri yang berusaha mengambil kain kafan pembungkus jenazah setelah penunggu datang terlambat,” kata Roni, Jumat (12/11).

Briptu Isdiyanto, menurut Roni, meninggal dunia karena sakit darah tinggi. Ia meninggal setelah menjalani perawatan di rumah sakit. “Keluarga sudah mengikhlaskan kepergian beliau, tetapi rupanya ada yang mencoba memanfaatkan kematiannya dengan akan mencuri kain kafannya,” tukas Roni yang dibantu anggota keluarga lain langsung menimbun kembali makam Briptu Isdiyanto.

Juru kunci makam TPU Kelurahan Kauman, Kota Blitar, Warni, mengatakan, aksi pencurian kain kafan jenazah yang meninggal pada hari Selasa Kliwon baru pertama kali terjadi di areal pemakaman tersebut. Biasanya, kain kafan itu digunakan pencuri untuk melakukan ritual mendapatkan jimat.

“Biasanya jimat tersebut digunakan untuk mendukung aksi kejahatannya seperti mencuri, merampok dan sebagainya. Tapi, apakah itu benar atau tidak kami belum pernah mengetahui,” tutur Warni.

Sebelumnya, kuburan warga Desa Bagorejo, Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi juga dibongkar pencuri dan tali pocongnya berhasil dicuri. Para pencuri tali pocong itu sangat nekat karena membongkar kuburan Sapani, 70, warga setempat yang baru sehari dikuburkan, Agustus lalu. Pelaku mencuri semua (tiga buah) tali pocong yang mengikat mayat tersebut, yaitu di bagian atas kepala, badan, dan kaki. naru

Mafia Perekrutan CPNS Buka Cabang di 7 Kota Berhasil Menipu Puluhan Milyaran Rupiah

Polrestabes Surabaya dan Polsek Wonocolo menggulung mafia makelar calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang sudah menggurita, setidaknya di tujuh kota di Jawa Timur dan sudah mengeruk puluhan miliar rupiah.

Di ruang Eksekutif Polrestabes Surabaya, Selasa (2/11), Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Drs Coki Manurung, memamerkan 15 tersangka calo CPNS yang diperkirakan sudah menipu 1.100 pencari kerja di Jatim, Jateng, dan Jakarta. Di Jatim mereka bergerak di Malang, Jombang, Pamekasan, Bangkalan, Madiun, Sidoarjo, dan Surabaya.

Para tersangka itu adalah Sumardi Asmara, asal Malang, Joko Suparno (Malang), Totok Julianto (Jombang), Hasyim (Pamekasan), Wardi (Kediri), Hasan Marzuki (Jombang), Agus Yasmanto (Sidoarjo), Suryanto (Sidoarjo), Agus Supriyadi (Bangkalan), Mei Dartono (Madiun), Zakaria (Surabaya), Sirod (Bangkalan), Suwarno (Surabaya), Siswo (Madiun), dan Efendi (Madiun). Di antara mereka, Joko Sampurno-lah yang dianggap sebagai otak mafia ini. (lihat bagan)

Berdasarkan informasi, Joko yang punya banyak KTP (Jakarta, Malang, Mojokerto, Jombang) telah merekrut kaki tangan di Sidoarjo, Surabaya, Madura, Malang, Madiun, Jombang, Jateng, dan Jakarta. Di antara krucuk itu ada abdi pemerintah, yaitu Zakaria (guru di Surabaya) dan Hasyim (pegawai dinas pendidikan di Pamekasan).

Dari penyidikan polisi, diketahui bahwa Joko merekrut Totok Julianto, yang kemudian merekrut Hasyim, Hasan Marzuki, Zakaria dan Agus Yasmanto. Zakaria kemudian merekrut Zakaria yang dibantu Mei, Siswo, dan Effendi. Sementara, Agus Yasmanto merekrut Suryati, sedangkan Agus Yasmanto merekrut Suryanto dan Agus Yasmanto.

Meski sudah memasang kaki tangan di sejumlah daerah, Joko masih menyempatkan diri langsung menemui kliennya. Bahkan, agar menyakinkan, ia mengenakan seragam PNS berwarna khaki dan melengkapi diri dengan emblem Pemprov Jatim. Joko mengaku sebagai pegawai Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jatim.

Dalam rilisnya, polisi memperkirakan uang yang berhasil dikeruk mafia ini sekitar Rp 5 miliar. Namun, besar kemungkinan jumlahnya lebih dari Rp 20 miliar. Komplotan ini umumnya mematok harga 1 kursi CPNS minimal Rp 100 juta. Andai saja satu orang membayar uang muka Rp 25 juta, maka akan muncul angka Rp 27,5 miliar. Angkanya akan semakin fantastis bila banyak di antara mereka yang sudah melunasi Rp 100 juta.

Coki menjelaskan jumlah orang yang tertipu di Madura saja sudah sangat banyak. Ia menyebut Hasyim di Pamekasan sudah memangsa 400 orang, sedangkan Agus Supriyadi membujuk 150 orang di Bangkalan. Namun, hingga kini subjaringan Hasyim dan Hasan belum dibongkar. “Itu belum termasuk dari anak buahnya yang lain dan itu terus kami dalami hingga sampai akar-akarnya,” kata Coki.

Soal perjalanan uang suap itu, menurut informasi yang bisa dikumpulkan Surya, uang setoran dari klien tidak disetor utuh ke level di atasnya. Oleh ‘pejabat’ di level ini pun duit itu diambil sebagian sebelum disetor ke atas. Misalnya, tersangka Mei Dartono menyetor ke Zakaria, lalu diteruskan ke Joko melalui bank.

Sedangkan Joko sendiri mengaku disuruh Joni yang disebutnya sebagai ‘orang dalam’ di Pemprov Jatim. Ia pun mengaku sudah setor ke Joni Rp 1,5 miliar. “Joni yang membikin surat panggilan PNS,” tutur Joko Suparno. Wawancara tidak bisa berlanjut karena dicegah salah seorang polisi.

Joko ditangkap di rumah istri keduanya di Dampit, Malang dan hingga semalam masih diperiksa penyidik Satpidum Reskrim Polrestabes Surabaya. Sumber di kepolisian mengatakan, penyidik belum mendapatkan petunjuk soal dana dan saat ini sedang menelusuri rekening penerima setoran itu yang kini sudah terputus.

“Informasinya, Joko Suparno adalah orang kepercayaan salah satu pejabat pusat dan pernah menggolkan dua PNS yang di bawanya. Makanya ini terus kami telusuri. Kalau memang benar Joni itu paling atas langsung dicari,” ujar sumber di kepolisian.

Sumber di kepolisian menyebutkan, rencana untuk menjadi calo CPNS di lingkungan Pemrpov Jatim itu berawal dari tim empat yaitu Joko Suparno, Wardi, Hasyim dan Totok Julianto. Mereka menggelar pertemuan di salah satu hotel di Jakarta untuk mencari celah dalam perekrutan CPNS di Pemprov Jatim. Apalagi Joko yang tidak memiliki pekerjaan tetap dipercaya oleh salah satu pejabat di BKN yang kini sudah pensiun.

Lantas Joko mengepakkan sayapnya merekrut tiga orang untuk menguasai wilayah Madura, Madiun dan Sidoarjo. Dari tiga orang yang direkrut itu akhirnya tersebar dari mulut ke mulut. “Intinya bahwa ada orang yang bisa memasukkan menjadi PNS di Pemprov Jatim asal menyetor uang,” tutur sumber di kepolisian.

Karena banyaknya peminat untuk menjadi PNS, akhirnya berita itu tersebar dengan cepat. Apalagi masa depan menjadi PNS cukup menjanjikan karena ada pensiun dan gajinya di atas Rp 2 juta serta belum lagi sabetannya yang bernilai puluhan juta rupiah terutama bagi yang pendidikan agama dan ahklaknya lemah. “Orang-orang (korban) apa tidak mikir jika untuk menjadi PNS harus tes lebih dulu,” ucapnya.

Sejak 2007

Sementara itu, Kapolda Jatim Irjen Pol Drs Badrodin Haiti itu menegaskan, sindikat Joko Suparno ini beroperasi sejak 2007 hingga 2010. Dengan jangka waktu selama itu, diperkirakan korbannya mencapai puluhan ribu orang di Jatim, Jateng, dan DKI Jakarta. “Mereka hanya akal-akalan saja. Tidak ada yang diterima di lingkungan Pemprov,” tegas mantan kapolres Surabaya Timur.

Kapolda juga mengimbau kepada korban yang tinggal di Madiun segera lapor ke polisi terdekat. Mereka tidak mau lapor karena dengan alas an dijanjikan kelompok Joko Suparno yang merekrut para korban untuk menghadap ke BKD Provinsi Jatim tanggal 3 November atau hari ini, Rabu (3/11, Red). “Pelaku utamanya sudah ditangkap polisi. Undangan yang diberikan untuk menghadap ke BKD adalah palsu,” jelas Badrodin Haiti.

Meski pihaknya sudah membongkar sindikat percaloan CPNS, polisi akan terus memantau kegiatan tes CPNS di seluruh wilayah di Jatim. Dikhawatirkan praktik itu terus berjalan. “Untuk seleksi maupun pengangkatan ada sistemnya, jangan mudah percaya pada siapa pun,” kata Badrodin Haiti.

Terbongkarnya sindikat ini berawal dari tertangkapnya, Suryanto asal Sidoarjo. Lima korban datang ke BKD Provinsi Jatim untuk menghadiri undangan penghadapan. Setelah dicek ternyata undangan itu palsu. Suryanto akhirnya ditangkap di GOR Sidoarjo setelah dipancing oleh petugas Polsek Wonocolo. Setelah dikembangkan, akhirnya merembet hingga menangkap 14 tersangka lainnya termasuk otaknya, Joko Suparno dan Sumardi Asmara.

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jatim Akmal Boedianto langsung membantah pengakuan Joko Suparno yang menyebut bahwa dirinya adalah pegawai di BKD Jatim. “Pengakuan itu tidak benar. Di BKD Jatim, tak ada pegawai yang namanya Joko Suparno,” tegasnya kepada Surya, Selasa (2/11).

Menurut Akmal, pernyataannya tersebut bukan dimaksudkan untuk membela diri. Setelah mendengar pengakuan Joko di hadapan penyidik Polrestabes Surabaya, dirinya langsung memeriksa data nama semua pegawai BKD. “Ternyata namanya tidak saya temukan,” imbuh mantan sekretaris DPRD Jatim itu.

Untuk itu, pihaknya mengaku siap jika sewaktu-waktu petugas kepolisian memanggilnya untuk dimintai keterangan sekaligus mengklarifikasi pengakuan yang disampaikan Joko Suparno

Akibat Orangtua Ikut Ikutan Emosi Masalah Anak Anak Yang Berkelahi Kini Seluruh Kota Tarakan Dilanda Kerusuhan Etnis

Bentrokan antarkelompok warga yang muncul Minggu (26/9) lalu di sebuah perumahan di Kota Tarakan, Kalimantan Timur (Kaltim), ternyata meluas dan mengakibatkan lima orang tewas dan beberapa lainnya luka-luka sampai Rabu (29/9) dini hari.

Dampak dari meluasnya bentrokan itu, sekitar 32.000 warga Tarakan, di antaranya para pendatang, mengungsi ke tempat-tempat yang aman. Mereka berbondong-bondong meninggalkan rumah mereka menuju ke markas-markas instansi militer dan keamanan. Antara lain, Kantor Polresta Tarakan, markas Batalyon Infanteri Yonif 613/Raja Alam, markas TNI AU, markas TNI AL, Satuan Radar, Asrama Polisi di Jalan Sudirman, dan SDN 029 depan markas Yonif 613/Raja Alam.

Bahkan, untuk memudahkan proses pengungsian, pihak keamanan dan aparat pemerintahan menyediakan angkutan. Selain ke instansi-instansi tersebut, guna menghindari konflik pula, diberitakan bahwa warga Tarakan yang berada di pedalaman melarikan diri ke hutan-hutan dan pegunungan.

“Informasi terakhir, pengungsi terus bertambah, bahkan sekitar 30.000-an orang. Mereka mengungsi ke tempat yang lebih aman karena khawatir kondisi keamanan yang masih rawan,” kata Kepala Markas PMI (Palang Merah Indonesia) Kota Tarakan, Maharaja Laila Hady Candra, Rabu (29/9).

Kota Tarakan sendiri sampai kemarin malam masih mencekam. Pusat-pusat pertokoan dan perkantoran serta sekolah-sekolah tutup. Aparat keamanan dan kelompok-kelompok warga bersenjata tajam terlihat berada di berbagai tempat.

“Awalnya, bentrokan hanya berlangsung di pinggiran kota, mulai di kawasan Juwata hingga ke Jalan Gadjah Mada dan Yos Sudarso. Namun, pagi ini (Rabu) bentrokan sudah meluas hingga ke Selumit Dalam,” ucap salah seorang warga Tarakan yang tinggal di Selumit Dalam, Nanda.

Bersama ratusan warga lainnya, Nanda mengaku saat ini mengungsi di markas Kodim Tarakan.

“Semuanya sudah mengungsi karena takut menjadi sasaran dari orang-orang yang sedang bertikai itu,” ujar Nanda. Kedua kelompok yang bertikai terus terlibat bentrok di beberapa sudut Kota Tarakan.

“Aku masih mengungsi di Asrama Brimob. Mohon doanya kami baik-baik saja,” kata Yuliana Lelita, warga pendatang asal Surakarta, Jawa Tengah, melalui pesan telepon selulernya, Rabu (29/9) pagi.

Lelita mengatakan hingga saat ini kondisi Tarakan masih siaga satu dan mencekam. Warga pendatang dicekam ketakutan dan mengungsi. Menurut Lelita, sejak Selasa (28/9) malam, kelompok warga asli setempat melakukan aksi sweeping terhadap warga pendatang.

“Mereka membakar rumah dan isunya mereka sampai penggal kepala,” kata Lelita seperti dikutip tempointeraktif kemarin.

Warga setempat dan warga pendatang, lanjut dia, saling serang dengan senjata tajam di antaranya parang, mandau (senjata asli lokal) dan tombak.

Lelita mengatakan, sebelumnya dirinya memilih berada di dalam rumah. Namun, karena kondisi semakin mencekam, ia dan anaknya yang berusia 8 tahun kemudian diungsikan di Asrama Brimob pada Rabu dini hari.

“Tidak tahu sampai kapan mengungsi. Karena cuma bawa pakaian seadanya,” ujar dia. Di tempat pengungsiannya di Asrama Brimob, kata dia, terdapat ratusan warga pendatang.

Jumlah pengungsi di setiap lokasi antara 1.500 dan 3.000 jiwa. Eloknya, para pengungsi menanggalkan atribut kesukuan dan bersatu di lokasi pengungsian.

Menurut keterangan dari Divisi Humas Mabes Polri kemarin, bentrokan antarkelompok warga itu bermula ketika pada Minggu (26/9), Abdul Rahmansyah, warga Kelurahan Juanta Permai tiba-tiba dikeroyok lima orang tidak dikenal saat ia melintas di Perumahan Korpri Jalan Seranai III, Juata Kecamatan Tarakan Utara, Kota Tarakan. Abdul mengalami luka-luka di telapak tangan.

Selanjutnya Abdul pulang ke rumah untuk meminta pertolongan dan diantar pihak keluarga ke RSU Tarakan untuk berobat. Besoknya, Senin (27/9), orang tua Abdul, Abdullah Rahmansyah beserta enam orang yang merupakan keluarga dari Suku Tidung berusaha mencari para pelaku pengroyokan dengan membawa senjata tajam berupa mandau, parang dan tombak.

Mereka mendatangi sebuah rumah yang diduga sebagai rumah tingga salah seorang dari pengeroyok di Perum Korpri Jalan Seranai III, Juata, Tarakan Utara Kota Tarakan. Penghuni rumah yang mengetahui bahwa rumahnya akan diserang segera mempersenjatai diri dengan senjata tajam berupa badik dan parang. Kemudian terjadilah perkelahian antara kelompok Abdullah (warga Suku Tidung) dengan penghuni rumah tersebut (kebetulan warga Suku Bugis Latta). Akibatnya, Abdullah meninggal dunia akibat sabetan senjata tajam.

Senin (27/9) dini hari sekitar 50 orang dari kelompok suku Tidung menyerang Perum Korpri untuk melakukan pembalasan. Mereka merusak rumah Noordin, warga suku Bugis Letta. Bentrok kemudian meluas ke mana-mana pada Selasa (28/9) dan Rabu (29/9) dini hari.

Warga pendatang dari Bojonegoro, Koendariyati mengatakan hingga saat ini aktivitas di Kota Tarakan masih lumpuh dan mencekam. “Pendatang berusaha keluar dari Tarakan dengan pesawat atau kapal,” kata Koen melalui pesan pendek.

Pegawai negeri sipil di Tarakan ini mengatakan akan pulang ke Jawa jika kondisi semakin memburuk. Berkali-kali ia meminta doa agar selamat dari bentrokan suku. “Kami sudah di Bandara namun belum bisa keluar. Doakan bisa keluar dari Tarakan secepatnya ya,” kata dia via SMS.

Untuk melokalisir dua kelompok massa yang bertikai, pasukan TNI dan Polri diturunkan di berbagai sudut Tarakan. Kemarin, Gubernur Kaltim Awang Faroek, Wakil Kapolri (Komisaris Jenderal Makbul Padmanegara), dan Komandan Korem Kolonel Aries Martanto juga tiba di Tarakan untuk memantau dan mengendalikan situasi.

Gubernur Awang Faroek menampik bahwa konflik di Tarakan merupakan konflik etnis.

“Ini kan berawal dari tetangga yang bermasalah. Orangtua bertemu untuk menyelesaikan masalah anak-anak mereka. Tapi malah bentrok karena anak-anak mudanya emosi. Jadi, awalnya hanya pertikaian dua keluarga, tapi karena ada provokator jadi meluas. Sekarang jadi seluruh kota,” kata Awang.

“Sama sekali bukan pertikaian etnis. Ini perselisihan antarwarga yang meluas karena ada provokator.”

Presiden SBY mengaku prihatin dengan situasi di Tarakan, dan sudah menerima laporan dari Kapolri mengenai upaya aparat keamanan dalam menangani insiden tersebut.

“Saya prihatin dengan terjadinya kekerasan antar komunitas, saya sudah menerima laporan dari Kapolri dan sudah berkomunikasi dengan Panglima TNI dan Gubernur Kaltim,” kata Presiden.

SBY mengingatkan agar penanganan insiden tersebut sungguh-sungguh sehingga tidak terulang bentrokan antarkomunitas seperti yang terjadi di Sampit, Kalimantan Tengah, sepuluh tahun yang lalu. Bentrokan waktu itu antara pendatang beretnis Madura dengan etnis lokal Dayak.

“Saya berharap itu tidak terjadi lagi, dengan syarat langkah yang dilakukan harus terpadu, pejabat turun ke lapangan untuk langkah nyata,” tegasnya