Category Archives: kecelakaan

Mitsubishi Pajero B 11 HMB Terjun Dari Jalan Tol Tanjung Priok-Grogol Berisikan Dua Pria Keturunan Arab dan 5 Gadis ABG Telanjang Bulat

Secara tiba-tiba mobil Mitsubishi Pajero terjun dari jalan layang Tol Tanjung Priok-Grogol di Kilometer 24, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (22/3) pukul 00.30. Akibatnya, mobil itu mengalami kerusakan parah karena langsung menabrak badan jalan di bawah jalan layang tol. Sopir mobil itu pun tewas seketika.

Sebanyak enam penumpang di mobil itu, selain sopir, yang terdiri dari seorang laki-laki dan lima gadis berumur 16 tahun hingga 17 tahun yang masih duduk di sekolah menengah atas, mengalami cedera berat dan ringan. Bahkan, laki-laki penumpang itu pun akhirnya tewas dalam perjalanan ke Rumah Sakit Atmajaya, Penjaringan.

Cerita kecelakaan mengenaskan ini tak berhenti di sini. Ada cerita lain yang masih menyimpan tanya dari kecelakaan ini.

Cerita itu dimulai ketika Hamed Bahrun (51), warga Jalan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, memacu mobil Mitsubishi Pajero dengan kecepatan tinggi dari arah Tanjung Priok ke Grogol. Diduga saat itu dia berada di bawah pengaruh alkohol sehingga terus memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi hingga ban depan sisi kiri mobil itu pecah.

Mobil itu menjadi kehilangan kendali dan terjun dari jalan layang tol. Seketika Hamed menemui ajalnya, sedangkan enam penumpang lain di mobil itu masih selamat.

Namun, kemudian cerita berkembang ketika aparat Kepolisian Sektor Penjaringan mengevakuasi sopir dan penumpang di mobil itu. Tanpa disangka, Humas Polsek Penjaringan Ajun Komisaris Teddy Hartanto mengaku, aparat kepolisian malah menemukan seorang laki-laki penumpang, Abu Bakar (39), yang tak lain teman Hamed, duduk setengah bugil ditemani salah satu dari lima gadis belia yang menumpangi mobil itu, yang juga tak mengenakan busana.

Menurut Teddy, diduga kuat keduanya habis melakukan hubungan intim. Pasalnya, tak jauh dari mereka ditemukan beberapa butir obat kuat yang berfungsi untuk meningkatkan vitalitas pria.

”Di tengah perjalanan ke rumah sakit, Abu Bakar juga tewas,” katanya.

Menurut Teddy, aparat kepolisian juga mencium aroma alkohol yang cukup menyengat di mobil itu. Aroma itu juga tercium pada tubuh lima gadis di dalam mobil itu, yakni AA (17), LP (17), FS (16), SW (17), dan ML (17).

Beruntung, kelima gadis itu selamat dari kecelakaan maut itu. Mereka memperoleh perawatan di RS Atma Jaya. Hingga Selasa siang, tinggal FS dan SW yang dirawat karena mengalami luka serius. SW, misalnya, mengalami patah tulang pada kaki kirinya.

Ketiga gadis lainnya, menurut anggota staf Humas RS Atma Jaya, Ningsih, sudah pulang ke rumah masing-masing di kawasan Tambora dan Taman Sari, Jakarta Barat. ”Mereka yang pulang sudah pulih kesehatannya,” kata Ningsih.

Menyimak cerita ini, kita teringat kembali dengan kehebohan cerita pesta seks di dalam mobil sekitar tiga tahun lalu di kawasan Pluit, Jakarta Utara, yang dikenal dengan cerita Pajero Goyang. Apakah cerita itu terulang kembali?

Teddy mengaku tak dapat memastikan kelima gadis di mobil itu bagian dari prostitusi di Jakarta. Dia pun mengaku, pihaknya belum mengembangkan kecelakaan itu masuk ke wilayah kasus prostitusi.

”Kami belum bisa memastikan aktivitas kelima gadis itu. Namun, memang diduga kuat salah satu di antara mereka berhubungan intim dengan korban Abu Bakar,” katanya.

Kepala Induk Jaya II Patroli Jalan Raya Tanjungpriok Ajun Komisaris Tri Waluyo pun menampik jalan tol di kawasan Tanjung Priok biasa digunakan untuk bisnis prostitusi di dalam mobil. Hanya memang, dia melanjutkan, sudah satu tahun ini area istirahat di sepanjang tol itu ditutup agar truk tak lagi parkir di dalam tol.

”Area istirahat itu ditutup bukan karena dipakai untuk kencan. Sebab, setahu saya, itu tidak ada,” katanya.

Jakarta memang punya segudang cerita. Kemewahan dan kilau lampunya telah menyilaukan. Semua pilihan kembali kepada diri kita sendiri?

Pelanggan Telkomsel Meninggal Di Gapari Dengan Dugaan Kekerasan

-Telkomsel telah melakukan investigasi internal atas kasus Abdul Wahab , yang dikabarkan meninggal di Grapari Manado. Ihwal ada tidaknya tindak kekerasan dan penyebab kematian, diserahkan kepada kepolisian.

”Soal ada tidaknya kekerasan atau tindak pidana dalam kasus ini, termasuk penyebab kematian almarhum Abdul Wahab, bukan wewenang kami. Telkomsel tak akan memasuki wilayah ini,” kata Deputy Corporate Secretary Telkomsel, Aulia E Marinto di Jakarta, Kamis malam.

Berdasar hasil investigasi yang dilakukan, petugas di grapari Manado telah memberikan pelayanan yang layak kepada almarhum yang berencana mengganti kartu perdana yang hilang. ”Ada prosedur yang harus dipenuhi dalam proses ini, seperti kartu identitas yang masih berlaku,” kata Aulia.

Rupanya kartu identitas yang dibawa almarhum telah habis masa berlakunya. ”Petugas customer services meminta almarhum agar memperpanjang masa berlakunya kartu identitas, karena tanpa kartu identitas yang sah dan masih berlaku pergantian kartu tak bisa dilakukan,” ujar Aulia.

Patut diduga, almarhum tidak bisa menerima prosedur tetap yang berlaku di Telkomsel, sehingga timbul reaksi keras. Reaksi keras almarhum mengundang perhatian petugas keamanan di Grapari Manado. Petugas keamanan berusaha menenangkan.

Insiden ini kemudian diketahui supervisor Grapari. Supervisor menengahi dan mengajak almarhum ke ruang VIP. ” Membawa pelanggan ke ruang VIP untuk menenangkan juga prosedur kami,” kata Aulia. Sampai di ruang VIP tak terjadi insiden apa-apa.

Dari dialog antara almarhum dengan supervisor diketahui bahwa yang bersangkutan ingin meminta ganti kartu perdana yang hilang, namun tidak bisa diproses petugas customer services karena kartu identitas yang diserahkan telah habis masa berlakunya. Menyadari bahwa kartu diperlukan supervisor memutuskan untuk memprosesnya.

” Dari sisi protap, supervisor melakukan pelanggaran, karena memproses pergantian kartu tanpa didukung dengan kartu identitas yang masih berlaku. Namun karena pertimbangan kebutuhan pelanggan dan empati kepada pelanggan, permintaan ganti kartu tetap diproses,” kata Aulia.

Karena akan mengambil formulir pergantian kartu, supervisor Grapari kemudian meninggalkan Abdul Wahab di ruangan. Saat kembali ke ruangan Abdul Wahab diduga telah pingsan. ”Saat berada di ruang VIP, kondisi Abdul Wahab memang seperti kurang enak badan atau kelelahan,” papar Aulia.

Supervisor Grapari kemudian melarikan Abdul Wahab ke rumah sakit. Karena jalanan padat perlu waktu lama untuk sampai ke rumah sakit. Untuk mempercepat Supervisor harus turun dari kendaraan, minta pengemudi lain memberi jalan. ” Abdul Wahab dinyatakan meninggal oleh dokter yang memeriksanya di Unit Gawat Darurat,” kata Aulia.

Ketika ditanya, apakah Abdul Wahab meninggal karena serangan jantung atau sebab lain, Aulia menolak berkomentar. ”Ini wewenang dokter, kami tak bisa memasukinya,” kata Aulia.

Demikian pula dengan kabar yang beredar sebelumnya bahwa ada tindak kekerasan yang menyebabkan korban meninggal. Pengusutan mengenai ada tidaknya tindak pidana menjadi wewenang kepolisian.

Telkomsel untuk sementara menutup operasional Grapari Manado dan mengalihkan kegiatan operasional dan layanan pelanggan ke Kantor Telkomsel Manado di Mega Mall Manado dan GeraiHalo Jl Monginsidi. Penurtupan dilakukan sebagai bentuk dukungan kepada polisi yang tengah melakukan penyelidikan meninggalnya Abdul Wahab.

”Untuk sementara Grapari Manado ditutup. Kegiatan operasional dialihkan ke Gerai Halo Jl Monginsidi dan kantor Telkomsel Manado,” kata Deputy Vice President Corporate Secretary Telkomsel, Aulia E Marinto, Kamis malam, di Jakarta.

Penutupan sementara Grapari, kata Aulia, dilakukan untuk mendukung pengusutan yang dilakukan polisi menyusul tewasnya Abdul Wahab. ”Kami mendukung sepenuhnya upaya polisi dalam melakukan penyelidikan,” kata Aulia.

Penyelidikan mengenai ada tidaknya tindak kekerasan dalam kasus ini, termasuk penyelidikan mengenai sebab-sebab meninggalnya Abdul Wahab disebut Aulia merupakan wilayah hukum dan menjadi wewenang polisi. ”Kami tak bisa memasukinya,” papar Aulia.

Karena itu, Telkomsel menunggu hasil penyelidikan yang tengah dilakukan polisi. Ia hanya menegaskan bahwa Telkomsel telah berusaha maksimal dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan, termasuk kepada almarhum Abdul Wahab.

”Menjadi tugas kami memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan, dalam kondisi apapun,” kata Aulia.

Pelanggan Fitness Celebrity Di Bandung Tewas Saat Fitness Dengan Mulut Mengeluarkan Darah

Ruangan Fitnes Celebrity Paris van Java, Jalan Sukajadi, Bandung, heboh menyusul Yuyun,50, tewas saat  berfitnes. Dari mulut korban keluar darah. Besar kemungkinan korban tewas lantaran serangan jantung. Mayat korban langsung dibawa pihak keluarganya yang tinggal di Kembarsari Bandung. Jumat pagi sekira pukul 09.00.

Meski tak ada tanda-tanda yang mencurigakan di tubuh korban, namun polisi tetap memeriksa lokasi kejadian termasuk memeriksa sejumlah saksi terkait kasus tersebut.

Petugas di ruangan fitnes, Ujang, menjelaskan, korban  tewas saat sedang fitnes yang baru berlangsung  45 menit. Berdasar catatan, lanjutnya korban merupakan anggota club fitnes yang tergolong aktif melakukan olahraga kebugaran itu. ” Sebelum tewas korban sempat lari menggunakan pemanasan. Tak lama kemudian muntah darah dan tewas,”.

Dia mengakui, korban sebelum tewas sempat jatuh tersungkur. Saat jatuh kepala korban sempat terbentur ke lantai. ” Kami sempat menolong hanya saat mau dibawa ke rumah sakit dia meninggal ditempat,”.

Dugaan lanjutnya, korban meninggal didiuga kuat lantaran sakit. Sedang keluar darah bisa saja akibat luka karena korbansempat terjatuh ke lantai, akunya

Usai Kencan Biar Romantis, Mandi Bareng Disumur Diiringi Hujan Namun Sial Sang Wanita Malah Tewas Terjebur Kesumur Dalam Keadaan Telanjang Bulat

Usai berkencan dengan supir taksi, janda Komala,38, warga Cilengkrang, Bandung, tewas masuk sumur di rumah pacarnya, Ado,43, di Cicukang Kidul Bandung, Minggu malam.

Mayat korban yang bugil itu diangkat warga sekira pukul 23.00 saat hujan deras. Hingga Senin kemarin supir taksi Ado,43, masih ditahan di Mapolresta Bandung Timur.

Ketua RW 8 Adi Mulyadi menjelaskan, peristiwa naas yang menimpa janda Komala berlangsung Minggu malam sekira pukul 21.00.

Saat hujan deras, kata dia, korban yang sudah lama menjalin cinta dengan supir taksi, mendatangi rumah pria itu. Setelah tiga jam berkencan dan memadu kasih, korban yang berada di rumah itu keluar bersama Ado dalam keadaan bugil tanpa busana untuk mandi bersama ditengah guyuran hujan dihalaman belakang yang terbuka, tiba-tiba Ado berteriak minta tolong karena Komala jatuh ke sumur saat saling membersihkan badan.

Petugas di Polresta Bandung Timur menjelaskan, korban tewas lantaran masuk ke sumur yang berkedalaman 14 meter. Saat dievakuasi terdapat luka serius pada kepala dan tubuh korban.

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Televisi Indonesia Sebuah Industri Kejahatan

Berbagai berita kejahatan yang disajikan media, terutama televisi, dinilai mampu menginspirasi khalayak melakukan aksi-aksi kriminalitas.

Hal ini terbukti dari mutilasi yang dilakukan Sri Rumiyati (48). Perempuan yang akrab disapa Yati itu mengaku menirukan cara Very Idam Henyansyah (Ryan) dalam membunuh salah satu korbannya. Yati memotong mayat suaminya, Hendra, guna menghilangkan jejak.

Dalam catatan Litbang Kompas, sejak Januari hingga November 2008 terjadi 13 peristiwa pembunuhan mutilasi di Indonesia. Angka tertinggi untuk periode tahunan sejak kasus mutilasi muncul tahun 1967. Pada tahun 2007 terjadi tujuh peristiwa mutilasi (Kompas, 10/11/2008). Apakah tingginya kasus mutilasi merupakan akibat televisi gencar menayangkan kasus-kasus yang ditiru anggota masyarakat lainnya? Lebih mengerikan lagi, kejahatan telah menjadi industri tontonan yang dihadirkan televisi?

Tidak mudah menyimpulkan, berita kejahatan yang disajikan televisi berpengaruh langsung bagi khalayak. Ada tiga perspektif yang dapat dikemukakan. Pertama, media dipandang memiliki kekuatan penuh mendikte perilaku khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap pasif sehingga merespons begitu saja stimulus yang digelontorkan media. Situasi masyarakat yang penuh alienasi, isolasi, depresi, dan tingkat pengangguran tinggi merupakan lahan subur bagi media dalam menancapkan pesan-pesan kejahatan.

Kedua, media dipandang amat lemah untuk memengaruhi khalayak. Dalam kondisi ini, khalayak bisa bersikap aktif untuk menegosiasikan atau menolak pesan-pesan kejahatan yang disajikan media. Daya intelektualitas, level ekonomi, atau usia merupakan faktor determinan yang tidak dapat dikesampingkan.

Ketiga, media memiliki dampak terbatas bagi khalayak. Hal ini dapat terjadi karena media dipandang sebagai salah satu faktor, selain faktor-faktor lain, seperti kematangan psikologis, konteks sosial yang melingkupi individu-individu, dan daya selektivitas khalayak terhadap muatan media sehingga media bisa berpengaruh pada tingkat gagasan, sikap, atau perilaku.

Fenomena yang tidak boleh dianggap sepele adalah televisi terlalu permisif untuk menampilkan kasus-kasus kriminalitas. Adegan rekonstruksi yang secara rutin ditampilkan televisi telah menjadi tontonan keseharian. Industrialisasi kejahatan menjadi kian marak digulirkan televisi. Kejahatan dikemas secara masif dan berulang-ulang dalam ruang keluarga. Alasan utama yang menjadi dalih klise ialah tontonan kejahatan amat diminati khalayak. Hasrat penonton menjadi justifikasi yang tidak boleh disanggah. Rating, sharing, atau perhitungan komersial mengakibatkan kriminalitas mudah dikonsumsi.

Mistifikasi pasar

Ketika para pengelola televisi berdalih tingginya berita-berita kejahatan yang ditampilkan karena permintaan konsumen, maka terjadilah mistifikasi pasar. Artinya, pasar dianggap sebagai kekuatan penentu yang tidak dapat dibantah. Padahal, dalam pasar itu ada mekanisme penawaran dan permintaan. Selera pasar bisa diciptakan dan diarahkan. Pasar tontonan seolah berlangsung secara alami, padahal yang sebenarnya berlangsung di pasar kemungkinan dapat direkayasa.

Pasar mendorong jurnalisme berita kejahatan sekadar mengabdi kepentingan modal dan pelipatgandaan keuntungan. Kenyataan ini berlangsung konsisten karena, seperti dikatakan John H McManus (Market-Driven Journalism: Let the Citizen Beware?, 1994), pasar memiliki enam karakteristik, yaitu (1) kualitas dan nilai ditentukan konsumen ketimbang produsen atau pemerintah; (2) responsif terhadap konsumen; (3) koreksi diri karena pasar bersifat fleksibel; (4) motivasi konstan dari pelaku pasar untuk berkompetisi; (5) mengandalkan efisiensi; dan (6) konsumen bebas untuk menentukan pilihan.

Namun, nilai yang sering diabaikan pasar ialah moralitas. Pasar televisi tak pernah menggubris apakah tayangan berita kriminalitas berdampak buruk bagi khalayak. Doktrin utama pasar adalah semua tontonan dijual bagi konsumen. Apakah konsumen menjadi berperilaku jahat karena meniru adegan sadisme yang ditayangkan, para produsen tontonan tidak peduli. Bahkan, produsen cenderung menyalahkan khalayak yang dianggap tidak bisa bersikap kritis terhadap berita-berita kriminalitas. Itulah yang dalam bisnis dinamakan externalities, yakni kehancuran dan imoralitas sosial yang terjadi dianggap di luar tanggung jawab media. Televisi tidak pernah keliru karena konsumen sendiri yang dinilai tahu risikonya.

Dilanda anomi

Industrialisasi kejahatan yang dijalankan televisi secara potensial dan nyata mampu menciptakan inspirasi bagi aksi- aksi kejahatan berikutnya. Hal ini mudah dipicu saat masyarakat dilanda anomi, yakni situasi tanpa norma. Pada situasi anomi, tatanan komunitas dan sosial merosot, digantikan rasa keterasingan dan kekacauan. Dalam situasi anomi, terjadi penekanan berlebihan pada tujuan-tujuan hidup, tetapi cara-cara meraih tujuan itu tidak mampu disediakan secara mencukupi yang dikarenakan nilai-nilai kebaikan yang semuanya relatif seperti koruptor dihormati dan disegani. Salah satu kekuatan kunci yang terlibat dalam penanaman tujuan-tujuan hidup adalah media. Media pula yang mengajarkan bagaimana menjalankan kejahatan untuk meraih tujuan hidup itu (Yvonne Jewkes, Media and Crime, 2005).

Televisi berulang memberi contoh bagaimana cara menerabas hukum dapat digunakan untuk meraih tujuan hidup yang dianggap sukses. Meski itu dianggap tindak kejahatan, yang berarti pelanggaran terhadap hukum dan norma-norma, tetap saja diimitasi individu-individu tertentu. Sebab, mereka berpikir tiada cara lain yang lebih baik ketimbang beraksi sebagai kriminal. Di situlah televisi menanamkan perilaku kejahatan dan masyarakat melakukan pembelajaran. Mereka yang melakukan peniruan itu biasanya dari kelompok marjinal yang tidak punya akses untuk meraih tujuan hidup yang baik yang juga dikarenakan koruptor-koruptor yg duduk dipemerintahan.

Lazimnya, industri kejahatan yang diandalkan televisi adalah kasus-kasus kriminalitas jalanan yang melibatkan kaum pinggiran. Bukankah kejahatan jalanan mudah memancing sensasi karena melibatkan kekerasan fisik yang berdarah-darah? Klop dengan dogma industri kejahatan di televisi yang berbunyi: If it bleeds, it leads. Semakin berdarah-darah semakin meriah karena masyarakat yang dilanda anomi seperti Indonesia sangat haus darah seperti zaman romawi kuno.

Triyono Lukmantoro Dosen Sosiologi Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang

Tujuh Puluh Persen Kecelakaan Lalu Lintas Akibat Sepeda Motor

Sekitar 70 persen kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di jalan raya di Indonesia disebabkan oleh para pengendara sepeda motor, kata pakar transportasi, Djoko Setyowarno, Rabu.

Ia menyebutkan, sepanjang arus mudik dan balik Lebaran 2008, rata-rata per hari korban tewas tercatat 45 orang akibat laka lantas di jalan raya.

Sebagian besar korban tewas adalah pengendara sepeda motor. Jumlah korban tewas pada arus mudik dan balik Lebarabn itu meningkat drastis, sebab pada hari biasa korban tewas per hari sekitar 12 orang.

Melihat kenyataan itu, katanya, pemerintah harus lebih fokus untuk mengoperasikan moda transportasi massal, seperti kereta api (KA) dan bus-bus besar.

“Pengoperasian angkutan massal ini harus dijadikan program nasional,” katanya dosen Fakultas Teknik Unika Soegijapranata Semarang itu.

Ia menambahkan, pemerintah sebaiknya mulai mengurangi penggunaan sepeda motor sebagai moda angkutan mudik dan balik Lebaran atau saat libur panjang lainnya.

Sebab, menurut dia, pemudik yang menggunakan sepeda motor sebagai alat angkutan transportasi sangat riskan terhadap lakalantas.

Di negara-negara produsen sepeda motor, seperti Cina dan Jepang, katanya, penggunaan sepeda motor justru dibatasi.

“Tidak semua jalan raya di Cina dan Jepang boleh dilalui sepeda motor. Di sana (negara produsen sepeda motor) tidak semua jalan boleh dilalui sepeda motor karena negara tersebut tahu dan menyadari bahwa sepeda motor sangat rawan laka lantas,” katanya menjelaskan.

Untuk itu, sebaiknya Indonesia mulai melakukan tindakan sebagaimana yang dilakukan oleh negara produsen sepeda motor itu, katanya