Category Archives: narkotika

Jaringan Pemasok Inex dan Ekstasi Ke Klub Malam Berhasil Ditangkap Polisi

Polda Metro Jaya mengungkap pemasok inex atau ekstasi ke klub malam dari jaringan internasional. Salah satu kelompok bahkan meracik sendiri ekstasi tersebut dengan bahan campuran tersendiri.

“Ekstasi yang dipesan dari Malaysia oleh tersangka ini diblender lagi, kemudian dicampur dengan Bodrex,” kata Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol Nugroho Aji kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (24/9/2013).

Campuran tersebut kemudian diaduk kembali oleh para tersangka, lalu dicetak. “Cetakannya juga sederhana,” ujar Nugroho.

Nugroho mengatakan, tersangka mencampur ekstasi itu agar bisa mengambil untung yang lebih. Dengan mencampur ekstasi dengan obat sakit kepala, tersangka bisa mendapatkan keuntungan berlipat.

“Dari 20 ribu butir, setelah diolah lagi bisa menjadi 40 ribu butir,” imbuhnya.

Tersangka DLG dan IDG memproduksi ekstasi tersebut di rumah kontrakan di Kampung Rawa, Kedaung, Cengkareng Timur, Jakbar. Mereka digerebek aparat Polda Metro Jaya pada tanggal 16 September 2013 pukul 15.00 WIB.

Dari para tersangka ini, polisi menyita barang bukti 950 butir ekstasi siap edar dan 2,5 kilogram bahan bubuk ekstasi. Keterangan para tersangka, mereka memproduksi ekstasi tersebut atas perintah napi di LP Salemba berinisial VR.

“VR ini sudah menjalani 2 tahun penjara dari vonis 6 tahun penjara atas kasus narkotika,” ujarnya.

Selanjutnya, Nugroho menyatakan bahwa jaringan ini memasok ekstasi ke tempat-tempat hiburan di Jakarta. Mereka ini mendapatkan narkotika jenis ekstasi tersebut dari seorang WN Malaysia berinisial AGU yang masih DPO.

Ustaz Antinarkoba Tertangkap Bawa Sabu Di Balikpapan

Aparat Kepolisian Sektor Balikpapan Barat, Kalimantan Timur, menangkap seorang PNS yang sehari-hari bekerja di Kantor Kementerian Agama Balikpapan lantaran memiliki satu paket yang diduga kuat sebagai sabu.

Rahman Uriansyach M (39), warga Jalan P Antasari, Karangrejo, Balikpapan, ini tak bisa berkutik ketika polisi mendapati satu plastik kecil berisi bubuk kristal berat 0,03 gram itu dari dalam dompetnya.

Polsek Balikpapan Barat tengah menjalani operasi rutin, Rabu dini hari. Ketika melintasi Jalan Kilat yang dikenal sempit, sepi, dan padat, polisi memeriksa Rahman yang duduk seorang diri di sepeda motornya.

“Kami menjalani Operasi Pekat, yakni polisi mobile. Hal mencurigakan kami periksa. Misal, ada orang kumpul-kumpul sambil minum-minuman keras, kami datangi atau kami tangkap, termasuk dia. Ketika kami periksa, kami dapati paket dalam dompetnya,” kata Kapolsek Balikpapan Barat Kompol Drs Kifli S Suppu didampingi Kapolres Balikpapan AKBP Sabar Supriyono.

Rahman cukup dikenal di kalangan masyarakat dan lembaga nonformal keagamaan lantaran aktif memberikan penyuluhan bagi kelompok-kelompok masyarakat hingga majelis taklim-majelis taklim. Ia bekerja di Kemenag Balikpapan sejak 12 tahun lalu. Dari semula, ia menjabat sebagai penyuluh. “Di kantor kami menjabat sebagai penyuluh. Kalau di masyarakat ada juga yang menyebut ustaz,” kata Kepala Kantor Kemenag Balikpapan Drs H Saifi, MPd.

Lima tahun belakangan ini, kata Saifi, Rahman mengembangkan semangat penyuluhannya ke penyadaran tentang bahayanya narkotika dan zat adiktif lainnya. Rahman menjadi bagian dari Badan Narkotika Nasional Balikpapan.

“Di situ dia juga menjadi penyuluh di BNN khusus dengan ajaran-ajaran yang bersifat keagamaan,” kata Saifi.

Saifi mengatakan, ditangkapnya seorang PNS Kemenag karena memiliki narkoba tentu merupakan pukulan berat bagi kantornya. Karena itu, pihaknya menyerahkan sepenuhnya proses hukum Rahman kepada pihak terkait.

“Kami menunggu penetapan hukumnya. Keputusan hukum pada yang bersangkutan menentukan langkah kami selanjutnya kepada dia, termasuk apa perlu sampai diberhentikan,” kata Saifi.

PNS Yang Dihukum Berat Oleh Polisi Karena Jadi Justice Collaborator Dibebaskan MA

Bagi pemakai narkoba, kini jangan takut mengungkap jaringan mafia narkotika. Sebab perbuatannya bisa diampuni dan hukumannya menjadi sangat ringan.

Seperti dalam berkas kasasi yang didapat detikcom, Rabu (19/6/2013), kasus ini menjerat Thomas Claudius Ali Junaidi (38). PNS Kabupaten Maumere, didudukan di kursi pesakitan karena melanggar pasal 114 ayat 1 UU No 35 /2009 tentang Narkotika dengan ancaman pidana minimal 5 tahun penjara!

Oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Thomas dituntut 7 tahun pidana penjara dan denda Rp 1 miliar. Apabila Thomas tak mau membayar denda maka diganti 6 bulan kurungan.

Atas tuntutan ini, PN Maumere menjatuhkan pidana 5 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. Jika Thomas tak mau membayar diganti 3 bulan kurungan.

Lantas vonis ini dikuatkan di Pengadilan Tinggi Kupang. Merasa putusan ini tidak adil, Thomas lalu mengajukan kasasi dengan alasan Thomas dalam kasus tersebut sebenarnya justru menjadi Justice Collaborator.

“Karena saya yang awalnya diminta bantuan oleh para penyidik/Polri untuk membantu mengungkap jaringan narkoba di Maumere, dan oleh Polri saya dijanjikan tidak akan diproses hukum jika berhasil memberikan informasi jaringan narkoba,” beber Thomas dalam memori kasasinya.

“Tapi nyatanya setelah jaringan terungkap, justru saya juga ikut diproses,” sambung Thomas.

Atas alasan memori kasasi itu, majelis hakim kasasi yang terdiri dari Dr Artidjo Alkotsar, Prof Dr Surya Djaya dan Sri Murwahyuni menerima argumen Thomas. Putusan bernomor No.920 K/Pid.Sus/2013 ini mengadopsi konsep justice collaborator sesuai Surat Edaran MA No 4 Tahun 2011. Padahal ancaman minimal Pasal 114 ayat 1 UU Narkotika adalah 5 tahun dan minimal denda Rp 1 miliar.

“Membatalkan putusan banding. Mengadili sendiri, menjatuhkan pidana 1 tahun penjara. Hukuman ini tidak perlu dilakukan apabila dalam kurun 2 tahun tidak mengulanginya kembali,” ucap majelis dalam sidang pada 28 Mei 2013 silam.

Konsumsi Narkotika Indonesia Mencapai 42,8 Triliun Rupiah per Tahun

Hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan nilai transaksi narkoba di Indonesia mencapai Rp 42,8 triliun per tahun.

Menurut Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BNN, Sumirat Dwiyanto, di Nusa Dua, Selasa, penelitian yang dilakukan bersama Universitas Indonesia tahun 2011 itu juga menunjukkan bahwa peredaran ekstasi di Indonesia mencapai 140 juta butir per tahun.

Dari jumlah tersebut, kata dia, hanya sekitar 880.000 butir ekstasi yang berhasil disita aparat berwenang. “Jumlah terindikasi penyalahgunaan narkotik yang mencapai 3,8 hingga 4,2 juta orang,” katanya di sela International Drug Enforcement Conference (IDEC) XXIX.

Ia mengatakan, pemerintah berusaha mencegah kejahatan terkait narkotik dengan memperketat pengawasan pintu masuk seperti bandar udara, pelabuhan laut, dan daerah perbatasan.

Polisi Bidik Bisnis Narkotik Online Melalui Prima Online

Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Makassar menyita 100 gram narkotik jenis sabu dari Johannah Sattal, 40 tahun, Selasa, 12 Juni 2012, sekitar pukul 22.00 Wita.

Perempuan ini diciduk di kediamannya, Jalan Cendrawasih V Lorong 10. Serbuk haram seharga Rp 200 juta disita petugas berupa paket dari jasa pengiriman barang. Pada amplop, tertera pengirimnya yakni Prima Online.

“Ada dugaan ini bisnis narkotik online. Masih kami dalami dulu untuk tindak lanjutnya,” kata Wakil Kepala Satuan Reserse Narkoba, Komisaris Anwar Danu, Rabu, 13 Juni 2012. Pengirim diketahui berasal dari Jakarta. Namun identitas lengkapnya belum terungkap. “Bukan perorangan pengirimnya,” ujarnya.

Sabu dikirim dengan cara diselipkan dalam blender. Peralatan rumah tangga tersebut dikemas dalam sebuah kardus. Ia menjelaskan orang yang ditujukan sebagai penerima barang sebenarnya bukan atas nama Johannah, melainkan Abdul Kadir. “Tapi alamatnya sama dan tak ada nama Abdul Kadir di sana,” katanya.

Di alamat yang ditujukan, hanya ada Johannah. Karena itu ia segera menangkap yang bersangkutan untuk menjalani pemeriksaan. Mengenai status, hingga kini Johannah belum ditetapkan tersangka. Pasalnya, pemeriksaan intensif di Unit I Narkoba masih berlangsung hingga kini. “Ada di Unit I Narkoba diperiksa,” katanya.

Dalam waktu tiga hari ke depan pihaknya baru bisa merilis status Johannah, apakah dialihkan menjadi tersangka atau hanya sebagai saksi. “Termasuk perannya, sebagai bandar atau kurir juga masih kami dalami,” kata Anwar.

Di tempat terpisah, petugas Polres Pelabuhan Makassar meringkus dua pelaku tindak pidana narkotik di Jalan Malengkeri Lorong II, Selasa 12 Juni sekitar pukul 22.30 Wita. Kedua pelaku bernama Irsan, 35 tahun, dan Amirullah (30). Keduanya digerebek saat tengah mengkonsumsi serbuk haram.

Dari pelaku disita barang bukti narkotik jenis sabu sebanyak tiga paket, satu alat isap alias bong, dua korek gas, dua pirex, dua sendok dan dua sumbu. “Saat ini tersangka dan barang bukti sudah berada Markas Polres Pelabuhan untuk menjalani proses sidik,” kata Kepala Polres Pelabuhan Makassar, Ajun Komisaris Besar Polisi Audi A Manus

9 Sentaja Api, Ratusan Peluru Serta Narkoba Senilai 4 Milyar Ditemukan dalam Tabung Gas Elpiji

Aparat Polresta Bekasi menerima laporan dari sebuah perusahaan reparasi tabung gas yang menemukan sembilan pucuk senjata api berbagai merk beserta ratusan butir peluru dalam tabung gas elpiji ukuran 15 kilogram, Selasa (3/1/2012) lalu.
Dari dalam tabung gas yang sudah dimodifikasi itu, juga ditemukan tiga bungkusan plastik berisi amphetamine seberat 224,5 gram senilai sekitar Rp 4 miliar.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Baharudin Jafar dalam jumpa pers di Mapolresta Bekasi mengatakan hingga kemarin petang sudah meminta keterangan dari enam orang saksi terkait temuan tersebut. “Sampai dini hari tadi, sudah diperiksa enam orang saksi. Masih akan dikembangkan, darimana asalnya,” ungkapnya didampingi Kapolresta Bekasi, Kombes Wahyu Hadiningrat, kemarin.

Kapolres mengatakan, pihaknya menerima laporan dari Polsek Tarumajaya bahwa perusahaan reparasi tabung gas, PT Bejana Agung Wajatama yang beralamat di Kampung Pegadungan RT4/10 Desa Pantai Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi menerima 200 tabung gas dari PT Eramina Kencana di Cakung, Jakarta Timur.

“Ratusan tabung gas itu rencananya akan direparasi. Tapi saat dipindahkan, ada karyawan yang curiga salah satu tabung gas itu ternyata lebih berat dari yang lain. Saat dibuka klep atasnya, dari dalam tabung gas itu ternyata keluar dua butir peluru,” terangnya, kemarin.

Kapolresta Bekasi, Kombes Wahyu Hadiningrat menjelaskan penemuan sembilan senjata api dan ratusan peluru di dalam tabung gas saat akan direparasi.
Sebanyak, 200 unit tabung gas elpiji kosong itu diangkut menggunakan truk Isuzu Elf 135 PS bernomor polisi B9319SX oleh Sukirman (55). Sesampainya di PT Bejana Agung Wajatama, Tarumajaya, ratusan tabung gas itu diturunkan oleh karyawan PT Bejana Agung Wajatama, Husdi (31) untuk dilakukan pengecatan ulang.

“Husdi menemukan salah satu tabung gas elpiji itu melebihi kapasitas, namun saat itu dirinya tidak curiga karena mengira tabung itu berisi gas. Berat tabung itu 26 kilogram, padahal berat normal tabung gas elpiji itu 15 kilogram,” sambung Kapolres.

Oleh karyawan lainnya, Dalim (42), tabung gas itu dibuka di bagian ujung klepnya. “Ternyata saat dituang, yang keluar bukannya air, melainkan dua butir peluru kaliber 9 milimeter. Dia kemudian melaporkan temuan itu ke sekuriti perusahaan. Laporan itu diteruskan ke Polsekta Tarumajaya, dan diteruskan ke Polresta Bekasi. Kami kemudian menghubungi Tim Gegana Polda Metro Jaya untuk membongkar tabung gas itu,” bebernya.

Saat dibongkar, ternyata tabung gas elpiji itu sudah dimodifikasi di bagian pantatnya. Bagian tutup paling bawah sudah dilas dengan besi batangan berulir sehingga bisa dibuka dengan cara diputar. Dari dalam tabung gas itulah polisi menemukan 9 senjata api berbagai jenis, 161 butir peluru, sembilan magazen berbagai jenis, serta tiga bungkusan plastik amphetamine seberat 224,5 gram senilai sekitar Rp 4 miliar.

Penyidik sudah memeriksa enam orang saksi, yaitu tiga karyawan PT Bejana Agung Wajatama, dan tiga orang karyawan PT Eramina Kencana. “Mereka masih berstatus sebagai saksi, belum ada yang menjadi tersangka. Sampai saat ini kami sedang selidiki darimana senjata api dan amphetamine itu berasal,” kata Kapolres.

Tujuh Polisi Ditangkap Karena Memeras Sesama Anggota Polisi

Ibarat jeruk makan jeruk. Tujuh oknum polisi yang berkawan dengan waga sipil memeras sesama anggota Polri juga. Ketujuh oknum itu pun ditangkap dan saat ini sedang menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya.

Dalam aksinya, ketujuh oknum polisi ini berkedok sebagai tim khusus, bekerja sama dengan warga sipil berinisial S yang mereka jadikan umpan. Kejahatan ini akhirnya terbongkar setelah mereka tertangkap tangan oleh anggota Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya.

“S adalah warga sipil yang menjual sabu. Ia berteman dengan tujuh oknum polisi yang mengaku sebagai Tim Khusus Narkoba,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar, di Jakarta, Rabu ( 1/9/2010 ).

S dan tujuh oknum polisi itu saat ini masih diperiksa di Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya. “Kedekatan mereka saat ini sedang didalami,” kata Boy. Diduga pula S dan tujuh  oknum polisi ini sudah beroperasi sejak lama.

Aksi S dan tujuh oknum polisi ini terungkap setelah petugas dari Direktorat Narkoba menyamar sebagai pembeli narkotika jenis sabu.

Calon pembeli dari polisi yang menyamar ini diduga diperas oleh tujuh oknum yang mengaku tim khusus narkoba. “Ya kita duga mereka ingin melakukan pemerasan atas calon pembeli narkoba (polisi menyamar). Namun, ini juga tengah didalami kebenarannya,” lanjut Boy.

Menurut Boy, tujuh Oknum polisi ini pangkatnya Bintara. Namun Boy enggan menjelaskan lebih detail ketujuh inisial ketujuh polisi.

Berdasarkan informasi, tujuh anggota timsus gadungan tersebut terdiri dari satu anggota Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya, satu dari BNN, dan lima anggota dari Polres Metro Jakarta Utara. Kejadian ini terjadi di sebuah hotel di wilayah Jakarta Pusat.