Category Archives: paedofilia

Karena Kasus Pemerkosaannya Belum Ditangani Oleh Polisi Siswi SMP Malu Masuk Sekolah

Malu akibat kasus pelecehan disertai pemerkosaan oleh seorang pegawai negeri sipil (PNS), PH (15) memilih berhenti dari sekolahnya. Padahal, peristiwa yang menimpa gadis malang itu sudah dilaporkan kepada pihak kepolisian sejak tiga bulan lalu.

Orang tua korban, Nurjanah (39) mengaku bingung mendengar keputusan putrinya tersebut. Terlebih, tempat PH bersekolah segera melaksanakan ujian dalam waktu dekat.

“Saya bingung membujuknya untuk kembali sekolah. Padahal sebentar siswa kelas III akan ujian,” keluhnya.

Tidak hanya Nurjanah, pihak sekolah juga mengharapkan agar PH kembali bersekolah karena namanya sudah terdaftar sebagai peserta UN 2013. Namun, keputusan untuk berhenti tetap berlanjut jika polisi belum melanjutkannya ke jalur hukum.

“Pihak sekolah sudah meminta kami untuk membujuk PH sekolah, tapi anaknya tetap tidak mau. Katanya malu. Dan memilih berhenti kalau persoalannya belum selesai di jalur hukum,” ungkap dia.

Diakui Nurjanah, hingga saat ini kasus pemerkosaan yang dialami oleh anaknya belum juga selesai ditangan kepolisian. Bahkan, dia juga tidak mendapat Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) dari unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polresta Jambi.

“Padahal saya sudah datangi polresta. Tapi kata polisi dua saksi bernama Firman dan Dara tidak datang ketika dipanggil untuk dimintai keterangan, jadi SP2HP-nya belum ada,” jelas Nurjanah.

Nurjanah mengaku bingung, pasalnya sudah lebih dari tiga bulan kasus ini ditangani oleh pihak yang berwajib, namun sampai kini belum juga ada kejelasan dari yang berwajib.

“Bahkan pengacara yang mendampingi anak saya dari LSM perlindungan anak memilih mengundurkan diri dari urusan ini. Dia mengaku tidak tahan ditekan dan diancam oleh banyak pihak. Jadi saya haru mengadu kemana lagi?” lanjut Nurnajah memelas.

Kanit PPA Polsresta Jambi, Iptu Sri Kurniati yang dikonfirmasi wartawan terkait masalah ini tidak mengangkat panggilan. Pesan pendek yang dikirim tidak dibalas.

Nurjanah melaporkan PNS Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jambi berinisial U (46) ke polisi dengan tuduhan telah mencabuli PH (15) siswa kelas IX salah satu SMP di Kota Jambi pada 25 Oktober 2012 lalu.

Pada saat melapor, kata Nurjanah, pelaku sempat berunding dan meminta perdamaian dan ditandatangani di atas materai.

“Isi surat perjanjian itu menyatakan bahwa pelaku mengaku telah menyetubuhi anak di bawah umur, namun dia berjanji menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan,” katanya.

Selain itu, pelaku berjanji akan akan menanggung biaya sekolah PH sampai dia kuliah. Dan pihak keluarga korban akan mencabut laporan dan tuntutan di kepolisian, kejaksaan serta Pengadilan Negeri Jambi.

Karena tidak merealisasikan isi perjanjian perdamaian, keluarga PH kemudian mencabut perjanjian tersebut dan melaporkan kembali U ke Unit PPA Polresta Jambi pada Sabtu 15 Desember 2012.

“Tapi telah lebih tiga bulan sejak kejadian itu, sampai kini pelaku tidak juga bertanggung-jawab atas apa yang menimpa anak saya, sehingga dia merasa malu ke sekolah dan bermain,” pungkas Nurjanah.

Guru Mengaji Di Bogor Cabuli 13 Anak Gadis Muridnya Dari Usia 8 Hingga SMA

Seorang guru mengaji di Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, Nana Suryana, 44 tahun, diringkus Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Gunung Putri. Pria paruh baya ini harus mendekam di penjara karena diduga telah mencabuli 13 anak gadis dibawah umur, yang menjadi muridnya.

Menurut Kepala Satuan Resese Kriminal Kepolisian Resor Bogor, Ajun Komisaris Imron Ermawan, pelaku melakukan perbuatan tidak terpuji tersebut di kamar anaknya di Kampung Wanaherang Pasar, Desa Wana Herang, Kecamatan Gunung Putri.

Saat diciduk dari rumahnya, Nana yang juga karyawan perusahaan swasta tak bisa berkutik. Pelaku pasrah dan mengakui semua perbuatan bejatnya. Bahkan, seorang korban yang kini duduk di kelas 3 sekolah menengah atas masih dipaksa melayani nafsu binatangnya. Padahal, korban sudah dicabulinya sejak berusia 8 tahun.

Semua korban yang berjumlah 13 orang, Imron menjelaskan, rata-rata berusia antara 7-9 tahun. Usai mengaji anak yang mau dicabuli selalu diajak pulang terakhir. Korban ditarik kedalam kamar anaknya. “Setelah dicabuli, pelaku memberi korban uang sebesar Rp 2.000,” kata Imron di kantornya, Sabtu, 25 Agustus 2012.

Terungkapnya perbuatan cabul guru mengaji bejat ini bermula dari laporan salah seorang keluarga korban, sebut saja namanya Bunga,9 tahun. Ibu korban, Ir, 39 tahun, tanpa sengaja mendengar ungkapan anak bungsunya yang sedang bertengkar dengan kakaknya, Bunga.

Ir berusaha melerai pertikaian antara kakak dan adik itu. Rupanya, tindakan ibu kedua anak gadis tersebut dinilai tidak adil. Sang adik jengkel karena ibunya dinilai selalu membela Bunga. “Nah adiknya ini lalu mengatakan ”kenapa kemarin kakak ditiduri guru ngaji ibu diam.” Dari sini ibu Bunga lalu lapor dan pelaku kami tangkap,” kata Imron.

Keluarga korban membuat laporan polisi pada tanggal 22 Agustus 2012 lalu. Polisi langsung bergerak dan meringkus pelaku di rumahnya. Sementara korban melakukan visum karena mengaku telah digagahi guru mengajinya. “Alat vital pelaku masuk kedalam alat vital korban,” ujar Imron.

Kepada petugas, pelaku yang sudah beristri dan punya tiga anak itu mengaku puas jika berhasil mencabuli anak didiknya. Perbuatan terkutuk yang sudah berlangsung bertahun-tahun itu dilakukan Nana ketika anak dan istrinya tak ada di rumah. Korbannya digagahi secara bergiliran. Para anak gadis ini tak berani melapor karena takut dengan ancaman sang guru.

“Saya merasa kenikmatan lain usai berhubungan dengan anak-anak. Ada satu anak yang sekarang sudah kelas 3 SMA, masih suka saya setubuhi,” kata pelaku kepada penyidik.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 81 dan 82 UU-RI nomor 15 pidana penjara 15 tahun.

3 Anak Jalanan Diperkosa dan Ditinggal Dalam Keadaan Terikat Dipinggir Jalan

Tindakan yang dilakukan TA (42) sungguh bejat. Selain memperkosa anak jalanan, ia juga tega menganiaya dan mengikat korbannya. Setelah melampiaskan hawa nafsunya, para korban diikat dan ditinggal di pinggir jalan.

“Korban yang pertama dan kedua ditemukan terikat. Yang ketiga (korbannya) dibekap,” kata Kasubag Humas Polres Jakarta Timur Kompol Didik Haryadi saat ditemui detikcom di Polres Jakarta Timur, Kamis (26/7/2012).

Didik menceritakan korban pertama dan kedua adalah dua orang kakak beradik. Kedua korban masih ada ikatan saudara dengan pelaku. Kedua korban diajak pelaku bertemu di Pusat Grosir Cililitan, Jakarta Timur, 23 Maret lalu. Dari sini, pelaku mengiming-imingi korban dengan membelikan es krim dan uang Rp 100 ribu.

“Sebelumnya dikasih makan, diajak ke kebun dekat Gedung BKN, Cililitan. Korban lalu diikat di pohon,” ujarnya.

Setelah mengikat korban, pelaku dengan bengisnya melakukan aksi pemerkosaan terhadap bocah perempuan tersebut. Korban lalu diajak ke Bekasi. Ketiga sempat bermalam di depan sebuah ruko di Bulak Kapal, Bekasi Timur.

“Paginya diajak ke Jakarta lagi dengan bis yang sama,” jelasnya.

Keesokan harinya, 24 Maret, kedua korban diajak kembali ke tempat yang sama. Kedua korban lalu ditinggalkan dan tidak dikasih makan. Keduanya ditemukan warga dalam keadaan terikat.

“Ditemukan warga siang itu karena korban yang menangis keras,” imbuhnya.

TA tak berhenti beraksi sampai di situ. Setelah meninggalkan kedua korban, ia mencari mangsa lainnya. Pada 12 April, pengamen cilik sekitar berusia 11 tahun jadi targetnya. Ia bertemu korban di daerah Bekasi.

“Awalnya korban bertemu di Bekasi. Dek ke daerah Cililitan ke mana ya? tanya pelaku. Dijawab korban, naik 9B Mayasari,” ujar Didik.

Pelaku lalu mengiming-imingi korban akan membelikan baju dan celana. Korban lalu ikut dengan pelaku. Sampai di pintu keluar Tol Kodam Jaya, pelaku melihat kondisi cukup sepi.

“Korban diajak ke situ dan dikerjain. Kali ini korban diancam karena korban sempat menolak, dia ditonjok. Kalau nggak mau akan diikat di atas pohon,” jelasnya.

Setelah melampiaskan nafsu bejatnya, pelaku mengajak korban jalan dan duduk ke sebuah pos ojek. Korban lalu ditinggalkan begitu saja.

Gadis ABG Umur 14 Tahun .. Malam Diperkosa Ayah dan Siang Diperkosa Teman Ayah Setelah Adegannya Direkam Dalam HP

Tragis benar hidup An. Sudah bolak-balik diperkosa ayah kandungnya, gadis berusia 14 tahun ini juga berulang kali dipaksa melayani teman ayahnya. Malam dinodai ayahnya, siang hari digagahi teman ayahnya. Akibat perbuatan bejatnya kedua pemulung, AD, 39, ayah korban, dan Sud, 26, teman ayah korban, dicomot anggota Satreskrim Polres Jakarta Barat, saat tidur di lapak bosnya di Bambu Larangan, Cengkareng, Jakarta Barat, Minggu (22/7) dinihari.

Setelah diperiksa di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jakarta Barat, dua lelaki bejat itu langsung dijebloksan ke sel. Hilangnya mahkota An itu, berawal dari perbuatan bejat ayah kandungnya pada pertengahan Januari 2012. Saat itu Agus yang sudah duda melihat putri kandungnya sedang tidur pulas di mes lapak pemulung dipaksa melayani layaknya suami istri.

Awalnya An meronta dan menolak kemauan ayahnya yang sudah dikendalikan nafsu setan, tetapi gadis yang tidak lulus SD ini kalah kuat sehingga hanya bisa pasrah. “Saya memang tidur satu kamar bersama korban dan adiknya,” kata AD, pemulung asal Sleman, Yogyakarta, yang ditinggal mati istrinya saat bencana gempa bumi pada tahun 2005 silam.
Perbuatan bejat ADs dilakukan hingga 10 kali pada hari berikutnya. ”Anak saya tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin karena takut dimarahi. Saya memang salah,” tutur tersangka yang menyebutkan bahwa putrinya yang tidak tamat SD itu kini bekerja di pabrik sandal di Cengkareng.

DIREKAM VIDEO
Perlakuan AD terhadap anaknya, rupanya sering diintip Sud, teman AD, dari atap rumah. Dengan gambar di HP, Sud lelaki bermental bejat ini juga suatu siang saat AD tidak di rumahnya mendatangi gadis yang masih bau kencur meminta dilayani seperti ayahnya.

Sambil menunjukkan gambar yang ada di dalam HP, Sud mengancam bila An ogah meluluskan permintaannya maka adegan mesum dengan ayahnya akan disebarluaskan. Kontan saja, An kaget dan ketakutan. Meski awalnya menolak, gadis bernasib sial ini tak berdaya dan terpaksa melayani perbuatan bejat Sud.

“Gambar yang di HP, saya gunakan sebagai senjata agar korban mau melayani,” kata Sud seraya mengaku bahwa perbuatan bejatnya sudah dilakukan 11 kali.

DIANTAR PAMAN
Menurut Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat, AKBP Hengky Haryadi SIK, MH, gading malang itu melaporkan perbuatan bejat ayahnya dan temannya diantar paman dari almarhun ibunya. An melapor ke Polsek Cengkareng lantaran sudah tidak kuat dan ketakutan harus bolak-balik melayani nafsu dua pemulung bejat tersebut.

“Atas petunjuk korban itulah, kedua tersangka kami tangkap. Bapaknya mengaku sudah 10 kali menodai korban, Sedangkan temannya Sudartono telah 11 kali,” jelas Hengky Haryadi didampingi AKP Kasranto selaku Kanit PPA, Senin (23/7) siang.
Tersangka Agus Darmawan di kantor polisi malah terkejut ketika mengetahui temannya Sudartono juga menodai putrinya. “Semua ini karena kesalahan saya. Hukumlah saya, karena saya memang salah,” ujar Agus

Agung Mulyana Mahasiswa Pedofilia Spesialis Sodomi Anak Kecil Babak Belur Dihajar Warga Karena Tertangkap Basah Sodomi Bocah Di Mushola

Mahasiswa tersangka pencabulan, Agung Mulyana saat ditanya mengaku melakukan pencabulan terhadap MI karena sudah tidak bisa menahan nafsu birahinya. “Awalnya dia (MI-red) saya jajani dia milk kuat, terus saya bawa ke mushola dan di dalam mushola saya tindih anak itu,” kata Agung di Mapolres Bogor Kota, Jalan Kapten Muslihat, Kota Bogor.

Pria yang saat ini duduk di semester 3 sebuah perguruan tinggi ekonomi di Sentul juga mengaku memiliki ketertarikan kepada anak laki-laki. Selain MI, dia juga pernah melakukan perbuatan yang sama kepada dua bocah lainnya. “Ini yang ketiga, dua kali sebelumnya saya melakukannya saat masih SMA di sebuah bedeng kosong di daerah Kemang,” kata anak kedua dari tiga bersaudara.

Ny Endah (45) saksi mata lainnya menjelaskan, beberapa saat sebelum kejadian, dia sempat melihat pelaku bersama korban duduk di depan pos ronda. Namun, saat itu Endah tidak tahu kalau pelaku akan melakukan pencabulan terhadap bocah itu. “Paginya saya sudah ngeliat orang itu duduk berduaan di depan pos ronda. Tapi, saya enggak tahu kalau kemudian terjadi pencabulan,” katanya.

MI, korban pencabulan yang diduga dilakukan Agung, merupakan anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Rahman dan Eli. Korban sendiri saat ini sudah tidak bersekolah, dan hanya mengenyam bangku pendidikan di kelas 1 SD. Asep Suryana (40) salah seorang saksi mata mahasiswa sodomi di Mushala menjelaskan, siang itu dia hendak mengambil air di mushola untuk keperluan berjualan bakso. Namun, saat akan masuk ke mushola yang lokasinya berada di samping pos ronda, pintu mushola dalam kondisi terkunci dari dalam.

“Ternyata pintu dikunci pakai paku dari dalam. Terus saya buka lewat tralis, pas saya masuk, tahunya ada pria yang sedang menindih anak kecil di ruang tempat mengaji,” ujar Asep Suryana saat ditemui di lokasi kejadian.

Melihat hal itu, Asep yang berjualan bakso di depan mushola kemudian menghardik pria tersebut. Saat itu, Asep mendapati pria itu sudah membuka celana panjangnya, demikian pula dengan bocah yang ditindihnya.”Saya langsung teriak, eh lagi ngapain luh, orangnya langsung kaget dan reflek saya tampar pipi pria itu,” kata Asep.

Asep yang sebelumnya akan memulai berjualan bakso langsung mengamankan pelaku yang belakangan diketahui bernama Agung Mulyana, warga Salabenda, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Kejadian itu langsung mengundang perhatian puluhan warga lainnya.

Warga yang marah lalu meluapkan emosi dengan menghajar pelaku hingga babak belur. Guna mengamankan keselamatan pelaku, Agung digiring ke rumah ketua RT setempat. “Terus polisi datang dan bersama warga pelaku dibawa ke kantor Polisi,” katanya.

Seorang bocah, MI (8) menjadi korban sodomi yang diduga dilakukan Agung Mulyana (21) seorang mahasiswa sebuah sekolah tinggi ilmu ekonomi di daerah Sentul. Ironisnya, aksi pencabulan dilakukan pelaku di sebuah mushola yang berlokasi di Gang Makam RT 02/5, Kelurahan Cilendek Barat, Kecamatan Bogor Barat, Rabu (14/3/2012) sekitar pukul 10.30.

Pelaku babak belur dihajar massa setelah aksinya dipergoki seorang warga yang hendak masuk dalam ke mushola. Dalam kondisi babak belur, Agung digelandang warga ke Polsek Bogor Barat untuk diamankan.

Karena kasusnya menyangkut perbuatan asusila, tersangka dan korban kemudian dibawa ke Mapolres Bogor Kota untuk ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Bogor Kota

Siswi SD 12 Tahun Di Garut Diperkosa Remaja 18 Tahun Serta Di Tonton Teman Temanya

Malang menimpa NT (12), warga Kampung Cirawa Jati, Desa Mekar Asih, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Siswi SMPN 1 Malangbong itu diperkosa sepulang sekolah di saung yang tak jauh dari rumahnya oleh YE (18).

Gilanya, aksi perkosaan tersebut disaksikan oleh dua orang teman YE yang hingga saat ini masih dalam pengejaran jajaran Polsek Malangbong.

Kapolsek Malangbong, Kompol Edison Harepa, mengatakan peristiwa tersebut terjadi saat NT pulang sekolah, Selasa sore tadi sekitar pukul 14.30 WIB. Di jalan sepi sekitar 500 meter dari rumah NT, tersangka YE membekap korban dari belakang dan menggusur ke sebuah gubuk di persawahan, lalu korban diperkosa hingga jatuh pingsan.

“Baru saja korban tersadar. Memang dia diperkosa seorang diri oleh YE yang disaksikan oleh dua orang temannya,” ujar Edison kepada wartawan, Selasa (21/2/2012).

Pihak Polsek Malangbong hingga malam ini berhasil menangkap tersangka YE, warga Kampung Kebon Coklat, Kelurahan Pasar Atas, Kecamatan Cimahi, Kota Cimahi. Kini tersangka masih dalam pemeriksaan petugas.

“Sementara dua orang teman tersangka masih kita kejar karena diduga turut membantu tindak kejahatan pemerkosaan,” ungkap Edison.

Sementara itu, korban NT saat ini masih menjalani visum dokter di Puskesmas Malangbong. Kondisi kejiwaan korban sangat terguncang dan masih syok.

“Kita menunggu pengembangan kasus ini setelah kondisi kejiwaan korban mulai stabil,” pungkas Edison.

Tuduhan Cabul Di Istana Habib Hasan Bin Jafar Assegaf

Keresahan jamaah dan santri Majelis Taklim Salawat dan Zikir Nurul Musthofa (NM) akhir-akhir ini makin menjadi-jadi. Keresahan ini sebenarnya sudah terjadi sejak setahun lalu. Semua dipicu kabar miring tentang pimpinan tertinggi NM, Al Habib Hasan Bin Jafar Assegaf.

Aib sang habib menyebar melalui jejaring sosial facebook. Habib Hasan dikabarkan melakukan pencabulan terhadap sejumlah santri. Tuduhan ini tentu menjadi aib yang sangat besar, sebab Hasan adalah seorang yang bergelar habib. Gelar ini tidak bisa dimiliki sembarang orang. Sebutan habib dinisbatkan secara khusus terhadap keturunan Nabi Muhammad atau keturunan dari orang yang bertalian keluarga dengan sang nabi.

Selain bergelar Habib, Hasan juga ulama yang cukup moncer di Jakarta dan sekitarnya. Pimpinan majelis yang bermarkas Jl. RM Kahfi I, Gang Manggis RT 01/01 No. 9A, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, itu punya ribuan pengikut. Ia juga kerap tampil di berbagai pengajian di masjid-masjid.

Tuduhan pencabulan ini sebenarnya bukan tuduhan pertama bagi Hasan. Sebelumnya, pada 2002, telah muncul tuduhan serupa. Namun, karena korban hanya satu orang, masalah diselesaikan secara kekeluargaan. Tapi kini santri yang mengaku dicabuli Hasan makin banyak, jumlahnya yang melapor mencapai belasan.

Tidak hanya melapor ke polisi dan meminta bantuan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), korban pencabulan Habib Hasan juga menyambangi Komnas Perlindungan Anak. Mereka berharap semakin mendapat banyak dukungan untuk mengungkap tindakan bejat yang pernah diterimanya.

Seorang pemuda belasan tahun yang mengaku korban pencabulan Habib Hasan datang didampingi ibunda korban lainnya dan seorang perempuan yang mengaku sebagai saksi. Mereka datang ke kantor Komnas PA, Jl TB Simatupang No 33, Jakarta Timur, Selasa (21/02/2012) sore.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 2 jam tersebut perwakilan korban yang juga merupakan saksi, Mariam, menjelaskan kedatangannya untuk menceritakan kondisi anak-anak korban Habib Hasan.

“Saya melaporkan dari beberapa anak yang memang jadi korban pencabulan yang kita memang sama-sama prihatin jadi ini bukan masalah agama, sekali lagi bukan masalah agama. Tapi ini mutlak masalah pencabulan anak-anak di bawah umur di mana generasi muda kita harus diselamatkan,” kata Mariam kepada wartawan.

Dia juga mohon agar berbagai pihak dari kalangan ulama, pejabat, masyarakat untuk bersama-sama bergotong royong untuk menolong anak-anak tersebut.

“Tolong sekali, kasihan! Itu korban sudah berbagai macam cara untuk berusaha. Kasihan mereka itu. Saya mohon sekali bantuannya. Ini anak kita, ini warga kita, mereka semua adalah bagian dari kita. Kasihan anak-anak generasi muda kita mau jadi apa kalau dibiarkan begitu saja,” ungkapnya sambil meneteskan air mata.

Dia menjelaskan semua bukti sudah diserahkan kepada polisi. Sedangkan para korban saat ini trauma dan butuh dukungan. Bahkan untuk bicara saja sepertinya sulit. Meski demikian, para korban terus dimotivasi agar tidak menyerah. Karena yang diperjuangkan adalah kebenaran.

“Ini benar-benar murni kejahatan yang harus sama-sama kita ungkapkan agar kita bisa membersihkan dan membenahi dari pada penistaan-penistaan yang ada, terutama anak-anak yang berharap menjadi anak-anak yang soleh, jadi anak-anak yang berguna tapi dirusak masa depannya,” jelas Mariam.

Sementara Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, membenarkan kedatangan rombongan itu untuk melaporkan tindakan yang diduga pencabulan atau kekerasan seksual. Perlakuan itu dihadapi anak di bawah umur oleh salah seorang yang seharusnya bisa menjadi panutan.

“Mereka datang ke sini untuk konsultasi tapi tentu konsultasi itu perlu menghadirkan korban,” kata Arist. Dalam waktu dekat Komnas PA berniat menghadirkan para korban untuk mendengar langsung kesaksiannya. Bagi Arist, informasi yang diterima dia dari rombongan pelapor itu sangat mengerikan. “Karena seharusnya kan seorang habib, seorang ulama, apakah dia pastur, pendeta atau kiai, itu harus menjadi garda terdepan untuk melindungi anak,” tuturnya.

Arist menilai penegak hukum sangat berhari-hati merespons laporan pencabulan yang dilakukan Habib Hasan. Sebab kasus kekerasan seksual harus dibuktikan.

“Kasus kekerasan seksual kan tidak ada orang yang bisa menyaksikan. Itu pasti tersembunyi tetapi bisa digunakan dengan pengakukan korban dan saksi-saksi di antara korban langkah yg harus kita lakukan adalah mencari informasi semaksimal mungkin dari korban baru kita lakukan langkah-langkah penyelamatan korban dari praktik-praktik dugaan kekerasan seksual,” tutupnya.

11 Pemuda melaporkan Habib H ke polisi karena merasa telah dicabuli Sang Habib. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun mengingatkan polisi agar tidak mengulur-ulur proses hukum Habib H. “Walau (laporan) sudah di kepolisian, polisi diharapkan tidak mengulur-proses hukum ini,” ujar Wakil Ketua KPAI Asrorun Ni’am, di Kantor KPAI, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (17/2/2012).

Proses cepat kasus ini diharapkan segera dilakukan karena KPAI mengindikasi adanya teror pada keluarga korban. Selain itu ada indikasi korban yang terpengaruh disorientasi seksual. “Kami dorong agar cepat,” imbuhnya.

Menurut Ni’am, pelaku pencabulan ini bisa dijerat dengan pasal 82 UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Sebab beberapa orang yang dicabuli masih dikategorikan anak-anak. “Ancaman pidana maksimal 15 tahun, minimal 3 tahun. Dan denda maksimal Rp 500 juta dan minimal Rp 60 juta,” tambah Asrorun.

Disampaikannya, KPAI juga telah meminta Polda Metro Jaya melakukan visum kepada para korban. Seperti diberitakan sebelumnya, Habib H dilaporkan oleh 11 pemuda ke Polda Metro Jaya pada 16 Desember 2011 silam. Mereka melaporkan Habib H atas tuduhan pencabulan selama pengobatan alternatif. Polisi sendiri mengaku kesulitan menyelidiki kasus tersebut, karena para korban melaporkan kasus yang sudah terjadi selama bertahun-tahun. Saat kejadian itu, para korban masih berusia belasan tahun. Kemudian, tidak adanya saksi dalam kasus tersebut semakin menyulitkan pihak penyidik.

KPAI berharap Habib Hasan segera memberikan klarifikasi mengenai tudingan pencabulan kepada santrinya. Namun hingga kini Habib Hasan belum bisa datang ke kantor KPAI karena masih sibuk.

“Jumat kemarin sudah ada panggilan ke Habib tapi tidak datang,” kata Sekretaris KPAI M Ihsan kepada wartawan di kantor KPAI, Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (21/2/2012) petang.

Ihsan mengatakan, dirinya telah menghubungi pengacara Habib Hasan untuk mengetahui kapan dia bisa datang ke KPAI. “Pengacaranya bilang minggu ini sibuk, mungkin minggu depan. Kalau dia mau datang pasti konfirmasi dulu,” katanya.

Ihsan mengatakan pemanggilan bisa dilakukan dua sampai tiga kali. Kalau tidak juga datang maka KPAI akan meminta bantuan polisi.

Dihubungi terpisah pada Selasa pagi, Wakil Ketua KPAI Asrorun Ni’am mengatakan kalaupun Habib Hasan tidak akan bisa hadir ke KPAI untuk mengklarifikasi tudingan perbuatan cabul kepada santrinya, proses KPAI akan tetap berjalan.