Category Archives: pemerkosaan

PNS Pegawai Negeri Sipil Di Lampung Memperkosan Pembantu Yang Masih ABG Saat Istri Tidak Ada Di Rumah

Terbukti memperkosa pembantu rumah tangganya, MY ,39, oknum PNS di Kecamatan Pakuan Ratu, Waykanan, dibekuk polisi, Minggu (1/5) sekitar pukul 17.00 WIB. MY memperkosa NU ,17,pembantu rumah tangganya yang baru dua minggu bekerja.

Sebelumnya MY diduga melakukan aksi bejatnya pada 5 Maret lalu sekitar pukul 04.00 WIB, di rumahnya di Jalan Bungamayang LK V, Kelurahan Sribasuki, Lampung Utara.

Menurut Kasat Reskrim Polres Lampung Utara, AKP. Hermansyah, membenarkan penangkapan MY. NU, warga Desa Sukamarga, Kecamatan Bukit Kemuning, Lampung Utara.

“Menurut olah TKP terjadi di wilayah Kotabumi, maka kasus dilimpahkan ke Polres Lampung Utara. Setelah diperiksa, MY kami tetapkan sebagai tersangka, dan langsung ditahan,” kata Kasatreskrim.

Pada Saat itu NU yang baru dua minggu bekerja di rumah tersangka, mengaku diperkosa saat sedang tertidur ketika itulah majikannya datang secara sembunyi-sembunyi lalu membekap mulutnya dan memeprkosa.

“Ketika saya tidur, tiba-tiba saya terkejut karena mulut saya dibekap dan saya diancam. Majikan saya sudah ada di dalam kamar,” kata NU.

Kemudian, lanjutnya, MY menciumi dan meraba-raba tubuhnya, lalu memperkosanya.

Karena tak kuat menanggung malu dan tidak tahan dengan perbuatan majikannya, NU kemudian melapor ke Polres Lampung Utara.

Terpisah, MY yang telah memiliki dua anak itu mengakui semua perbuatannya. Perbuatan bejatnya itu ia lakukan saat istrinya sedang tidak ada di rumah.

“Iya, memang benar saya melakukan perbuatan itu,” akunya.

Pihak Sat Reskrim Polres Lampung utara juga sudah memeriksa korban dan tersangka. Jika terbukti bersalah, MY bakal dijerat dengan pasal 81 dan atau pasal 82 UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Dua Pembantu Wanita Di Modernland Jalan Raya Taman Golf Blok DG Tewas Diperkosa Dalam Keadaan Telanjang

Dua wanita pembantu rumah tangga ditemukan tewas di garasi rumah majikan di Blok DG Perumahan Modernland, Kota Tangerang, Sabtu (16/4) malam. Salah seorang di antaranya dalam keadaan setengah bugil dan diduga diperkosa pelaku.

Tewasnya kedua korban menghebohkan warga sekitar maupun penghuni di kompleks perumahan mewah tersebut. Pasalnya, keamaan di tempat itu sangat ketat dan tidak sembarang orang bisa masuk.

Kedua korban Maryati, 25, dan Sarni, 24, meregang nyawa dengan kondisi tangan mereka terikat. Di kepala dan tubuh korban ada luka bekas pukulan benda tumpul. Belum diketahui kerugian yang dialami pemilik rumah, Holly.

Pembunuhan sadis ini diketahui sekitar Pk.17.30. Saat itu, adik kandung Holly, Meylani bermaksud mengunjungi kediaman kakaknya. Setibanya di rumah tersebut, ia memberi klakson mobil, namun tidak juga dibukakan pintu.

Karena curiga, Meylani turun dari mobil dan mengecek ke pagar rumah. Ternyata didapati pintu garasi dalam keadaan terbuka. Wanita ini pun masuk ke rumah Holly. Setibanya di garasi, Meylani kaget melihat kedua pembantu kakaknya sudah tidak bernyawa di garasi.

Meylani pun melaporkan kasus ini ke kakaknya dan meneruskan ke satpam perumahan. Selanjutnya petugas keamanan melapor ke Polres Metro Tangerang. Petugas langsung melakukan olah TKP untuk menyelidiki pembunuhan sadis tersebut.

Pembunuhan sadis terjadi di Kota Tangerang pada akhir pekan, Sabtu (16/4) malam. Sarni (22) dan Maryani (25), pembantu di rumah Kholiwyio—seorang pemborong—ditemukan tewas mengenaskan di garasi rumah megah, dua lantai, dan bercat putih di kawasan perumahan mewah Modernland, Jalan Raya Taman Golf Blok DG 2 Nomor 118 RT 01 RW 14, Kelurahan Poris Plawad, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, itu.

Di kawasan yang sepi dari arus lalu lintas itu, kedua pembantu tersebut ditemukan tewas dengan kedua tangan terikat ke belakang dan luka bocor di kepala akibat pukulan benda keras yang diduga menggunakan tabung gas berukuran 3 kilogram. Dugaan itu dikuatkan dengan bukti, tak jauh dari tubuh korban terdapat sebuah tabung gas berwarna hijau muda yang ada bercak darah.

Tak hanya pembunuhan, diduga dalam aksi itu juga terjadi pemerkosaan terhadap salah satu korban. Salah satu korban ditemukan dalam posisi setengah telanjang. Selain itu, polisi juga menemukan sebuah kondom bekas dipakai.

”Olah TKP (tempat kejadian perkara) sudah dilakukan. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk pemilik rumah dan orang dari pihak penyalur tenaga pembantu di Lampung yang mengirim kedua korban ke rumah tersebut,” kata Kepala Reserse dan Kriminal Polrestro Tangerang Kota Ajun Komisaris Besar Sumanto di Tangerang, Minggu siang.

Dari hasil olah TKP dan keterangan sejumlah saksi, lanjut Sumanto, peristiwa tersebut diduga merupakan pembunuhan dan pemerkosaan, bukan seperti yang diduga sebelumnya, yaitu perampokan disertai kekerasan.

”Kondisi lemari di kamar pemilik rumah terbuka, tetapi barang di dalam tak diacak-acak. Pemilik rumah mengatakan belum ada barang hilang. Jadi, sementara, peristiwa ini diduga pembunuhan dan pemerkosaan,” kata Sumanto.

Kepala Polrestro Tangerang Kota Komisaris Besar Tavip Julianto yang juga mendatangi TKP pada Sabtu malam menjelaskan bahwa kejadian tersebut masih terus didalami dan diselidiki.

”Kami masih belum tahu siapa pelakunya. Hasil dari olah TKP dan keterangan saksi masih dievaluasi untuk mencari siapa pelakunya,” kata Tavip.

Kejadian itu berawal ketika pemilik rumah pergi sekitar pukul 15.00. Saat itu di rumah hanya ada dua pembantu dan tukang yang sedang memperbaiki rumah yang bocor.

Peristiwa pembunuhan tersebut baru diketahui ketika adik salah satu korban melapor ke polisi.

Setelah sampai di lokasi, petugas langsung memeriksa TKP dan mendapati Sarni dan Maryani tewas dengan kondisi mengenaskan. Polisi juga menemukan tiga buah kamar yang acak-acakan habis dibongkar.

Polisi juga mengerahkan anjing pelacak untuk memeriksa seisi rumah dan lingkungan sekitar.

Pada Minggu siang garis polisi masih terpasang di sepanjang rumah korban. Warga sekitar mulai tampak berdatangan melihat rumah korban.

Hendrik (49), salah seorang warga Jalan Pulau Puteri Blok O VI Nomor 2—masih dalam kawasan itu—mengatakan bahwa dirinya sering melihat pacar pembantu tersebut masuk rumah setelah majikannya pergi.

”Apalagi, pemilik rumah sering bepergian ke luar kota sampai berhari-hari. Saya sering melihat, pembantunya suka membawa pacarnya masuk ke rumah,” kata Hendrik, pemilik awal rumah itu sebelum dijual kepada Kholiwyio.

Kasus ini sudah sepantasnya bisa mengingatkan kita semua bahwa kejahatan setiap saat bisa terjadi jika tidak waspada

Sabtu (16/4) malam terjadi perkosaan dan pembunuhan terhadap Sarni dan Maryani, pembantu rumah tangga di garasi sebuah rumah di Perumahan Modernland, Jalan Raya Taman Golf Blok DG 2 Nomor 118, RT 01 RW 14, Kelurahan Poris Plawad, Cipondoh, Kota Tangerang. Ini jadi pengingat akan tingginya angka kejahatan di kawasan penyangga Jakarta.

Polda Metro Jaya mencatat, Tangerang menjadi kawasan paling rawan dengan 284 kasus pada Januari dan 272 kasus pada Februari 2011. Peringkat kedua diduduki secara bergantian oleh kawasan Jakarta Barat (280 kasus pada bulan Januari dan 158 kasus pada bulan Februari) dan Jakarta Timur (274 kasus pada Januari dan 217 kasus pada Februari).

Di tingkat yang lebih mikro, pada periode yang sama, di lingkungan Polsek Metro tercatat, di Polsek Metro Cakung, Jakarta Timur, terdapat 39 laporan kejahatan yang masuk; di Polsek Metro Taman Sari, Jakarta Barat, 28 laporan; di Polsek Metro Kelapa Gading, Jakarta Utara, 26 laporan; dan di Polsek Metro Kemayoran, Jakarta Pusat, 21 laporan.

Di Pondok Aren, Tangerang Selatan, 45 laporan; Polsek Metro Cimanggis, Depok, 26 laporan; dan Polsek Metro Babelan, Bekasi, 18 laporan.

Teori makan bubur

Pada sebuah diskusi di Rumah Aspirasi Cisanggiri, Jakarta Selatan, para perwira polisi menengah dan kriminolog menyebut, kejahatan yang terjadi di kawasan penyangga Jakarta adalah langkah awal para penjahat meniti ”karier”. Mereka menyebutnya sebagai teori makan bubur ayam panas.

Sendok suapan pertama, kedua, dan ketiga berasal dari pinggiran bubur panas seperti saat para pemain baru kejahatan beraksi di pinggiran Jakarta. Mereka adalah kaum urban pengangguran yang umumnya berusia 20-40 tahun.

Di pinggiran Jakarta, mereka hidup bersama mengelompok berdasar asal daerah atau etnis.

Mereka mempelajari pola warga mencari nafkah. Pagi berangkat ke Jakarta, sore atau malam baru kembali ke rumah. Mereka rata-rata meninggalkan rumah selama 12 jam. Rumah hanya dihuni pembantu, orang lanjut usia, dan anak-anak.

Para pelaku kejahatan sudah membaca rapuhnya pola pengamanan lingkungan dan terbatasnya sumber daya polisi di kawasan penyangga Jakarta.

Pengamanan lingkungan di pinggiran rapuh karena warga kurang memberi perhatian terhadap keamanan lingkungan. Maklum, sebagian besar waktu mereka habis untuk bekerja. Selain itu, kohesi sosial antara warga pendatang dan warga penghuni lama juga lemah.

Untuk mengenali sasaran, para pelaku juga terkadang memacari para pembantu rumah tangga agar bisa lebih leluasa masuk menyelidiki rumah sasaran. Oleh karena itu, dalam kasus perampokan, pembunuhan, dan perkosaan di sebuah rumah di Cipondoh itu, kesaksian tetangga tentang mereka yang dekat dan pernah atau masih menjadi pacar kedua pembantu yang tewas layak diselidik polisi.

Sebagai pemula, penjahat yang melakukan kejahatan di kawasan pinggiran umumnya lebih brutal dan ceroboh, seperti ditunjukkan pelaku dalam kasus di Cipondoh tadi.

Mengapa mereka merampok dengan membunuh dan memerkosa? Apakah sepadan antara tindakan mereka dan ganjaran yang bakal mereka terima?

Namun, mereka akan mengalami pembelajaran kejahatan sehingga tidak lagi bersikap ceroboh dan emosional. Mereka akan belajar dari kelompok kerja sama dan kelompok pesaing sebelum beraksi di Jakarta.

Polmas

Untuk menghambat berdiasporanya kelompok penjahat di kawasan penyangga, pemerintah setempat, polisi, dan warga harus aktif membangun kohesi sosial lingkungan, membangun polisi masyarakat (polmas), disertai upaya pembangunan infrastruktur pengamanan lingkungan.

Menurut kriminolog Universitas Indonesia, Kisnu Widagso, polmas di kawasan penyangga Jakarta masih sangat lemah. Mereka jarang diberi pendampingan oleh polisi dalam kegiatan ini.

”Saya kira Kapolda Metro bisa menjadikan kawasan Tangerang dan Jakarta Barat sebagai kawasan proyek percontohan polmas,” kata Kisnu dalam diskusi di Cisanggiri itu, Minggu (17/4)

Pembunuhnya Sudah Tertangkap: Ternyata Teman Selingkuh Sang Pembantu Yang Telah Bersuami Baca Beritanya Disini

Gadis ABG Asal Bekasi Dipaksa Layani 7 Lelaki Setelah Keperawanannya Direngut Oleh Calo Tenaga Kerja

MAWAR (17), bukan nama sesungguhnya, anak dari warga Kelurahan Kayuringin Jaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi mengaku dijebak tetangganya sendiri. Diiming-imingi bekerja sebagai pembantu rumah tangga, ternyata perempuan belia itu diperkosa perantara dan dijual kepada pengelola diskotik di Mangga Besar, Jakarta Barat.

Selama sepekan keluar dari rumah orangtuanya, perempuan berusia 17 tahun yang berasal dari Suradadi, Tegal, Jawa Tengah itu dipaksa melayani tujuh lelaki tanpa ampun. “Saya tidak tahan diperlakukan begitu, makanya saya minta pulang,” tutur Mawar membuka percakapan.

Awalnya, cerita Mawar, dia diiming-imingi Eni (28), salah satu tetangganya untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. “Saya dijanjikan akan dapat bayaran lumayan untuk kerja di rumah kenalan dia,” kata Mawar.

Eni pun mengenalkan Mawar pada Sesil (25) yang mengaku berasal dari Brebes, Jawa Tengah. Oleh Sesil, Mawar kemudian diperkenalkan kepada kerabatnya yang bernama Sutarno (35). Senin (14/3) malam, Mawar dibawa menginap di rumah Sesil di Jalan Flamboyan, Perumnas I RT8/10, Bekasi Selatan. “Di rumah Sesil itu, saya diperkosa Sutarno dua kali. Saya nggak berani melawan karena diancam dibunuh,” kata Mawar.

Selasa (15/3) pagi, dia pun dibonceng Sutarno ke kawasan Mangga Besar, Jakarta Pusat. Mawar kemudian dititipkan kepada Mami Lily, pengelola salah satu diskotik di kawasan itu. Selama sepekan di diskotek itu, Mawar tak boleh absen melayani nafsu para tamu diskotek.

“Hari pertama saya dipaksa melayani orang Papua, hari kedua melayani orang Ciamis dan hari berikutnya orang-orang Cina. Pernah satu kali, sehari harus melayani dua orang sekaligus. Setiap kali saya berontak, saya diancam mau dibunuh Mami Lily. Dibilangnya saya sudah dibeli Rp5 juta sama si Mami,” tutur Mawar sembari terisak

TSN (37), perempuan asal Cilodong, Kota Depok, diamankan ke Polres Bogor karena diduga terlibat dalam kasus penjualan anak baru gede (ABG) atau trafficking. SN digelandang ke Polres Bogor, Selasa (22/3) malam karena telah membawa Bunga (19) ABG asal Pabuaran, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. Oleh SN, Bunga kemudian dijual ke seorang bos dan dipekerjakan di sebuah Kafe dan Karoeke di Biak, Papua.

Kasus penjualan ABG itu terungkap setelah MD (45), orangtua Bunga, mendapat pesan yang dikirim melalui SMS, yang mengatakan kalau dirinya tengah berada di sebuah Kafe di Biak, Papua. Melalui SMS tersebut, Bunga juga mengaku kalau dirinya ingin segera pulang karena sudah tidak betah. “katanya dia tidak boleh keluar dari mess. Yang bikin anak saya curiga, karena anak saya disuruh suntik KB,” ujar MD kepada polisi.

Mendengar pengaduan dari anak bungsunya, MD kemudian khawatir dan langsung melaporkan peristiwa tersebut ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Bogor. Berdasarkan laporan MD yang diperoleh dari anaknya, Polisi kemudian bergerak cepat dengan mengamankan SN di rumahnya.

Kepada polisi, SN mengaku sudah mengirim perempuan yang akan dipekerjakan di Biak, Papua, sejak tiga bulan yang lalu. “sudah sejak 3 bulan yang lalu sampai sekarang sudah 8 orang saya kirim ke sana,” kata SN kepada polisi.

SN berdalih sudah memberitahu apa yang akan dikerjakan para korbannya selama di Papua.

Agnes Kaharisma Primadona Penyanyi Jalan Jaksa Tewas Dibunuh dan Diperkosa Oleh Pembunuh Bayaran Suruhan Ibunya Sendiri

Tindakan Milly Patti alias Nenek memang di jauh dari batas kewajaran. Setelah 17 tahun lalu berjuang bertaruh nyawa melahirkan anak perempuannya, ia justru membunuhnya saat anak itu berangkat dewasa.

Mayat Risma sempat didiamkan dua hari di rumah kontrakan. Dua hari kemudian, menjelang subuh Milly dibonceng motor oleh lelaki pembunuh bayaran, membawa mayat itu pakai motor lalu dibuang ke selokan.

Tidak tampak penyesalan pada wajah Milly. Ibu tiga anak ini terlihat santai bahkan terkesan seenaknya saat dikonfirmasi tentang tindakan sadisnya.“Ngapain dipikirin. Namanya juga sudah terjadi,” ujarnya di Polres Jakarta Selatan, Selasa (23/3) siang.

Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, AKBP Budi Irawan Msi, menjelaskan dalam pemeriksaan Milly dan dua pembunuh bayaran yang disewanya, Sonny dan Warto, menghabisi Risma pada Senin (7/2) sekitar Pk. 20:30. “Saat itu, ketiga tersangka datang ke kontrakan Risma di Jl. Sirsak, Jagakarsa,” ungkapnya.

Milly yang telah diusir Risma dari tempat kos itu, mengetuk pintu rumah dengan alasan akan mengambil sabun dan sikat gigi. Tak curiga, remaja 17 tahun itu membiarkan ibunya masuk.Sesaat setelah Milly berada dalam dalam, ia memberi kode kepada Sonny dan Warto agar cepat masuk. “Tersangka Warto langsung mencekik leher Risma, sedangkan Sonny membekap mulutnya pakai handuk. Korban tewas di tempat,” ungkap Budi Irawan.

DIBUNGKUS SELIMUT

Setelah Risma tak lagi bernyawa, Sonny dan Warto menelanjangi korban lalu memandikan mayat gadis cantik itu dengan kain basah untuk menghilangkan sidik jari mereka. Bahkan, Sonny sempat beberapa kali bersetubuh dengan mayat gadis yang cantik itu.

Selanjutnya, jenazah Risma dibiarkan hingga dua hari di kamar rumah kontrakannya itu. Selama itu pula ketiga pembunuh itu tinggal di rumah tersebut sambil menikmati tubuh telanjang gadis malang tersebut.

Ketika mayat anaknya mulai membusuk, Milly berinisiatif membuangnya. Maka, Kamis (10/2) sekitar Pk. 02:00, Milly dan Sonny membawa mayat Risma yang sudah dibungkus kain selimut dan sprei itu naik motor Honda Vario.
Agar tidak diketahui warga, jenazah dibuang agak tersembunyi di got yang berjarak sekitar 2 Km dari rumah kontrakan Risma. Mayat itu ditemukan pada Minggu (13/2) oleh warga yang mencium bau busuk. Namun sepandai-pandainya Milly menutupi aksi busuknya, polisi tetap bisa mencium jejak kejahatannya.

Bagi pelanggan tempat hiburan malam di Jl. Jaksa, Jakpus, nama Agnes Kharisma yang ngetop dengan panggilan Risma amat dikenal. Gadis cantik 17 tahun ini adalah primadona yang namanya banyak disebut warga setempat dan wisatawan mancanegara.

Tak sekedar karena kecantikan dan kesupelannya dalam bergaul, tetapi juga karena sikapnya yang baik hati. Bungsu dari tiga bersaudara ini tumbuh di kawasan Kebon Sirih yang letaknya berdekatan dengan Jl. Jaksa.

Anak pasangan Budiasih, 60, dan Mely, 55, ini menghabiskan masa kecil hingga remajanya di jalan yang kesohor sampai manca negara itu. Jalan yang dilengkapi dengan banyak penginapan dan kafe itu memang menjadi favorit turis gaya backpacker. Risma pernah bekerja sebagai freelancer di beberapa kafe di tempat tersebut.

Kerapnya berkomunikasi dengan wisatawan mancanegara membuat Risma mahir cas-cis-cus Bahasa Inggris. Ia juga memiliki kekasih seorang pria Amerika berusia 50 tahun. Selain itu, dalam akun facebooknya, Risma tampak sangat akkrab dengan Candy yang menjadi teman dekatnya.

Keduanya kerap saling sapa di situs pertemanan itu dalam Bahasa Inggris. Dalam menulis status, Risma yang sangat menyayangi anjing yang diberi nama Egi itu juga hampir selalu mengunakan bahasa internasional itu.

BERI SUMBANGAN

Kerabat dekatnya mengenal Risma sebagai gadis yang selalu ingin berbagi. Tak jarang, ia menyerahkan sebagian uang yang didapat untuk diberikan ke panti sosial. Alasannya, ia sudah berpenghasilan sendiri hingga harus dibagi ke orang yang berkekurangan.

“Kalau ada arisan keluarga yang datang juga si Risma itu,” kata Pardi, warga setempat. “Anaknya memang nggak sombong. Dia ramah dan sering menegur orang duluan. Dandanannya memang kayak artis.”

Setiap malam, Jl. Jaksa tetap hingar bingar. Namun, Risma tak ada lagi disana. Namanya tetap disebut-sebut. Tidak lagi sebagai bunga jalan itu tetapi sebagai mantan primadona yang tewas mengenaskan di tangan ibunya sendiri.

Sejahat-jahatnya hewan tidak akan memakan anaknya sendiri. Tapi pepatah ini tidak berlaku bagi ibu tiga anak ini. Ia tega membunuh putri kandungnya, Agnes Kaharisma yang akrab dipanggil Risma. Bahkan untuk aksi sadisnya itu, wanita pecandu narkoba ini menyewa dua pembunuh bayaran.

Jasad Risma,17, ditemukan membusuk di selokan Jl. Joe, Jagakarsa, Jaksel, pada Minggu (13/2). Kematian Risma sempat menjadi buah bibir di masyarakat. Soalnya, gadis cantik ini memiliki pergaulan luas.

Misteri pembunuhan cewek primadona Jalan Jaksa tersebut akhirnya terungkap. Aksi sadis itu ternyata diotaki oleh ibu kandungnya, Milly Patti alias Nenek. Wanita 57 tahun ditangkap polisi di rumah kos Jl. Sirsak, Jagakarsa, Jaksel, Selasa (22/3). Ia berdalih terpaksa membunuh darah dagingnya sendiri lantaran sakit hati diusir dari rumah kos itu.

Ia juga mengaku kerap diperlakukan kasar. “Saya siap menerima hukuman terberat sekalipun. Semua sudah terjadi, ibarat nasi sudah jadi bubur, saya juga harus siap bertanggung jawab,” kata wanita yang seluruh rambutnya sudah memutih ini.

PECANDU NARKOBA

Milly enggan mengungkapkan alasan pengusiran yang dilakukan anaknya. Namun Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, AKBP Budi Irawan Msi, mengatakan keributan ibu dan anak itu terjadi lantaran Milly pecandu narkoba.

“Ia sering minta uang untuk beli narkoba kepada Risma. Akibatnya Risma menjadi marah karena merasa dirinya diperas oleh ibunya,” uangkapnya.

Keributan antara Risma dan ibunya kerap terjadi lantaran gadis 17 tahun itu kesal sang ibu menggunakan uang hasil keringatnya untuk beli barang terlarang. Padahal Risma bekerja keras untuk menghidupi keluarga, bahkan ia rela menjadi wanita malam yang kerap mangkal di Jalan Jaksa.

Berkali-kali Risma menasehati ibunya untuk berhenti menjadi budak narkoba, tapi tak pernah digubris malah sebaliknya sang ibu marah-marah pada anak bungsunya itu.

PANDAI BERAKTING

Pembunuhan Risma menjadi perhatian utama Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Gatot Eddy Pramono. Upaya mengungkap kasus ini, ia membentuk dua tim khusus beranggotan polisi pilihan dari polres dan Polsek Jagakarsa.

Pada awalnya, petugas kesulitan untuk mengungkap kasus ini. Soalnya, Milly pandai bersandiwara. Ia membuat alibi kuat saat pertama kali dimintai keterangan. Milly mengaku anaknya dijemput sopir kekasihnya seminggu sebelum ditemukan tewas. Katanya, anak dan pacarnya itu pergi ke Puncak, Jawa Barat.

Aktingnya yang penuh kesungguhan membuat petugas mempercayai keterangannya. Selanjutnya, pencarian diarahkan pada sopir kekasih Risma. Setelah pencarian ke berbagai tempat hiburan, sopir itu ditemukan. Pemeriksaan menunjukkan sopir pribadi Clark, pacar Risma yang warga Amerika, itak terlibat dalam pembunuhan.

Berdasarkan hasil olah TKP dan keterangan sejumlah saksi, polisi menemukan petunjuk bahwa semua cerita Milly hanya bualan. Empat kali diperiksa, Milly akhirnya tak bisa berkelit. Ia mengakui telah membunuh anak kandungnya lewat tangan pembunuh bayaran yakni Sinyo Ebenhaezer alias Sonny, 28, dan Warto alias Uwa, 32.

“Mereka saya kasih uang masing-masing Rp2 juta untuk membunuh Risma. Setelah Risma tewas, saya bersikap biasa agar tidak membuat warga sekitar curiga,” ungkap Milly.

Sonny diringkus di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sedangkan Warto ditangkap di Malang, Jawa Timur. “Mereka semuanya mengaku telah membunuh Risma,” kata Kombes Gatot.

Terungkapnya kasus pembunuhan sadis itu membuat Budiasih, ayah Risma, geram. Pria 60 tahun ini mengaku sulit memahami tindakan istrinya itu.

“Saya kecewa sekali. Saya juga tidak akan membesuk dia di tahanan. Dia tega membunuh anak kandung kami. Biarlah hakim yang memutuskan hukuman sesuai dengan perbuatannya,” ujar Budi yang ditemui di rumah kos di Jl. Sirsak, kemarin sore.

Saat pembunuhan itu terjadi, Budi mengaku ia sedang berkunjung ke rumah kerabat di Bogor, Jawa Barat. Karenanya, ia mengaku sangat terpukul saat diberitahu anaknya tewas. “Padahal dia anak yang baik dan berbakti pada orangtua,” katanya.

Tindakan sadis Milly juga membuat tetangga terheran-heran. Apalagi, mereka melihat bagaimana wanita itu tampak kehilangan anaknya ketika Risma ditemukan tewas.

“Artis sinetron juga kalah kalau disuruh berakting sama dia. Saya nggak habis pikir, kok bisa-bisanya dia mengarang cerita anaknya dijemput sopir pacarnya. Padahal dia yang membunuhnya,” kata Ny. Syifa, warga.

Hal senada disampaikan Ny. Rahmat. Meski pernah melihat ibu dan anak itu bertengkar, ia tak menyangka wanita itu tega membunuh anaknya. “Saya pernah melihat mereka cekcok. Tapi kejadian itu sudah lama,” katanya. “Bener-bener, saya nggak habis pikir kok bisa setega itu.”

Milly dan dua eksekutor yang menghabisi nyawa Risma kini mendekam dalam tahanan. Mereka dijerat dengan pasal 340 KUHP dengan tentang Pembunuhan Berencana dengan ancaman hukuman maksimal hukuman mati.

Tak Kuat Melayani Nafsu Suami Barunya, Seorang Istri Menyerahkan Anak Gadisnya Sebagai Pengganti

Perempuan 19 tahun ini terus menangis saat menceritakan aib yang menimpanya. “Saya diperkosa bapak tiri saya. Lebih sakitnya, ibu kandung saya membantu suaminya melepaskan pakaian saya,” kata Bunga –sebut saja begitu– kepada ketua majelis hakim di Pengadilan Negeri Sungguminasa, Gowa, kemarin.

Kalimat itu nyaris tidak kedengaran lantaran Bunga tak kuasa menahan sakit hati dan malu kepada kedua orang tuanya yang duduk di sebelah kanan ruang sidang. Sampai-sampai ketua majelis hakim meminta ia berhenti menangis dan memperjelas ucapannya.

Namun pelajar sebuah sekolah menengah kejuruan ini tetap tak mampu menyempurnakan ucapannya. “Ibu saya sangat tega. Dia terus memegang kaki saya sampai selesai diperkosa,” ujar Bunga, dengan suara bergetar.

Saat menceritakan awal kejadian, Bunga menutupi mukanya dengan baju berwarna cokelat. Namun ia berusaha menguasai diri sambil memandang ibu kandung dan ayah tirinya. Bunga menuturkan bahwa pemerkosaan itu berulang-ulang sejak 2007. Selama itu pula sang ibu ikut membantu.

Tragedi itu pertama kali terjadi sekitar pukul 10 malam. Ayah tiri Bunga, DL, yang baru pulang kerja, langsung tidur di sebelah istrinya, R. Novi berada di sisi lain ibunya itu.

Tak lama kemudian, DL bangkit dan langsung tidur di sebelah Bungasambil memeluknya. Bunga pun bangun dan berontak. Ia akhirnya pasrah karena diancam dengan gunting. “Ibu saya tidak menghiraukan saya, justru disuruh layani,” kata Bunga seraya menunjuk ibunya.

Karena tidak tahan lagi, Bungamenceritakan kebuasan ayah tirinya itu kepada teman-teman dan tantenya, Muli. Laporan tersebut pun diteruskan ke ayah kandung Bunga, yakni N. Bersama Muli, N melaporkan tindakan bejat DL ke Kepolisian Resor Gowa tahun lalu.

R membenarkan semua cerita Bunga. “”Suami saya minta berhubungan, tapi saya tolak. Makanya saya tawarkan Bunga, anak pertama saya,” katanya. Kedua terdakwa diancam hukuman penjara maksimal 15 tahun.

Ibu dan Mahasiswi Di Rampok, Dibunuh dan Mayatnya Diperkosa Oleh Mantan Karyawan

Pembunuhan yang dilakukan Kurniawan Edy Dhusiyanto alias Yanto dan Bagus Martin terhadap mahasiswi Widya Mandala (WM) Surabaya, Mariana Siniwati Bintoro dan ibunya, Tan Pratiwi Dewi Bintoro, benar-benar keji. Setelah dijerat hingga tewas, sebagian pelaku diduga mencabuli mayat Mariana.

Empat dari lima pelaku sudah diringkus polisi. Selain Yanto (20), warga Jl Putat Jaya V, tiga tersangka lain yang tertangkap adalah Agung Adi Nugroho (26), warga Jl Kalianak Gg Bunga Rampai; Ahmad Firmansyah alias Mamat (25), warga Jl Kedung Anyar II; dan Zirad Maulana (22) alias Siro, warga Jl Maspati VI. Sedangkan Bagus Martin, warga Jl Pacar Kembang, masih buron.

Berdasarkan pemeriksaan polisi terungkap, pembunuhan itu bermotif dendam terhadap mantan majikannya itu. Korban Tan Pratiwi adalah mantan majikan Yanto dan Martin. Keduanya keluar dari pekerjaan sekitar Lebaran 2010 lalu.

“Saya bunuh Tacik (panggilan Tan Pratiwi) karena dia sering menghina saya. Dia selalu membodoh-bodohkan saya,” ujar Yanto ditemui di Polsek Tambaksari, Minggu (27/2).

Selain itu, Yanto mengaku tak pernah diberi minum berupa teh botol atau sirup selama tiga tahun bekerja hanya air putih saja, sehingga setiap kali kehausan dan ingin teh botol atau coke, mereka selalu membeli minuman di luar.

Di mata Yanto, majikannya juga pelit. Gajinya per hari Rp 29.000 dan tiap tahun hanya naik Rp 3.000. Saat meminjam uang pun sekitar 5 jutaan, Tan Pratiwi tidak mau memberi.

Rasa dendam itu akhirnya mereka lampiaskan dengan merencanakan pembunuhan sekitar dua bulan lalu. Keduanya pun mengajak Agung, Sirad, dan Mamat. Agung itu masih sepupu Yanto. Ketiga tersangka mengaku ikut jengkel setelah mendengar curhat Yanto dan Martin tentang perilaku majikannya.

Selain itu, tiga tersangka juga tergiur hasil rampokan, karena Yanto dan Martin awalnya merencanakan perampokan terhadap mantan majikannya itu. “Kami mau ikut karena ingin dapat banyak uang dari hasil ngrampok di rumah korban,” kata Agung di Mapolsek.

Seperti diberitakan (Surya, 27/2), mahasiswi Widya Mandala (WM) Surabaya, Mariana Siniwati Bintoro (21) bersama ibunya, Tan Pratiwi Dewi Bintoro (49), dibunuh mantan karyawannya sendiri. Tak hanya dibunuh, tubuhnya dibakar kemudian dibuang di Gresik.

Pembunuhan itu diawali penganiayaan di toko dan gudang material bangunan milik korban di Jl Lebak Permai Utara III/11. Keduanya lalu diculik oleh pelaku berjumlah lima orang, lalu dinaikkan paksa ke mobil Daihatsu Luxio nopol L 1781 CV. Setelah dibunuh, mayat keduanya dibuang di wilayah Gresik.

Kedua jenazah warga Jl Lebak Timur Gg IV/5 Surabaya itu saat ditemukan, Sabtu (26/2), kondisinya sangat mengenaskan. Setelah dianiaya dan dibunuh, keduanya dibakar dalam kondisi kaki dan tangan terikat.

Mariana, mahasiswi jurusan akuntansi perguruan tinggi swasta ternama di Jl Dinoyo itu ditemukan di sekitar pertokoan Perumahan Alam Bukit Raya (ABR), Bunder. Dia dua bulan lagi diwisuda. Sedangkan ibunya ditemukan di persawahan dekat pintu masuk Perumahan Morowudi Village di Dusun Tendegan, Morowudi, Kecamatan Cerme.

Hendak Dibuang ke Tretes

Kepada polisi, para tersangka sebenarnya hanya mengincar Tan Pratiwi. Namun, saat menghajar perempuan usia 49 tahun itu, Mariana tiba-tiba muncul. Tersangka pun panik hingga Mariana menjadi sasaran berikutnya. Keduanya lantas disekap di bagian belakang mobil sewaan Daihatsu Luxio L 1781 CV dan hendak dibuang ke kawasan Tretes, Pasuruan.

“Rencana ke Tretes batal karena takut di jalan ada razia polisi. Akhirnya berbalik arah ke Sidoarjo lalu ke Gresik,” kata Mamat yang ditugasi nyetir mobil.

Di sepanjang perjalanan, kedua korban mengalami penyiksaan.

Yanto sempat memaksa Tan Pratiwi menandatangani giro kosong. Maksud tersangka, giro itu nanti akan dicairkan. Dalam kondisi setengah sadar akibat pukulan linggis, Tan Pratiwi pun menandatanganinya.

Namun, setelah itu Yanto mengaku bingung cara mencairkan uang yang nominalnya nanti akan dia tulis setelah membunuh korban. Setelah itu, tersangka meminta ATM milik Tan Pratiwi beserta nomer PIN-nya. Mereka juga merampas ponsel Tan.

Suasana di mobil semakin tegang ketika Tan Pratiwi sadar kalau salah satu pelaku adalah Yanto, mantan karyawannya. “Koen ta To (Yanto). Kok tego koen. Aku ojo dipateni yo. Sakno anak-anakku. Aku njaluk sepuro karo awakmu. Ampun (Ternyata kamu. Kok tega kamu. Aku jangan dibunuh ya, kasihan anak-anakku. Aku minta maaf, ampun),” ujar Yanto menirukan Tan Pratiwi sebelum dibunuh.

Bukannya mengampuni korban, Mamat malah menyela agar keduanya dibunuh saja. Pasalnya, identitas Yanto dan Martin sudah diketahui korban. Di kawasan Krian, Sidoarjo, Sirad dan Agung akhirnya menjerat leher Mariana dan ibunya dengan tali rafia hingga tewas.

Awalnya Agung duduk di bagian tengah mobil. Setelah itu dia bertukar tempat duduk dengan Yanto. Bersama Martin, Agung kemudian mencabuli Mariana yang sudah tak bernyawa.

Setelah itu, Martin meminta untuk berhenti guna membeli bensin dan tinner di kawasan Menganti dan Kedamean, Gresik. Para tersangka mengaku terlebih dulu membuang mayat Mariana di kawasan ruko dekat gerbang Perumahan Alam Bukit Raya, Kebomas, Bunder. Mamat yang membuang mayat Mariana sebelum dibakar oleh Martin.

Kemudian, para tersangka membuang mayat Tan Pratiwi di Perumahan Morowudi Village, Morowudi, Cerme, Gresik. Mayat Tan Pratiwi juga dibakar Martin. “Kami membakarnya untuk menghilangkan sidik jari,” kata Agung.

Dijelaskan Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Coki Manurung, terkuaknya kasus ini berawal dari pengakuan keluarga korban, termasuk suami Tan Pratiwi, Yahya Bintoro. “Ada informasi pada Lebaran tahun lalu beberapa karyawan korban keluar dari pekerjaan, antara lain, ya Yanto dan Martin,” ujarnya saat gelar perkara di Polsek Tambaksari, Minggu (27).

Dua tim dibentuk untuk menyelidiki kasus ini. Satu tim dipimpin Kapolsek Tambaksari Kompol Suhartono untuk mengejar Yanto dan Martin. Sedangkan tim lainnya di bawah komando Kanit Resmob Polrestabes Surabaya AKP Agung Pribadi, mengorek informasi dari mantan karyawan korban yang lain, Hanafi dan Iksan.

Penyelidikan terhadap Hanafi dan Iksan mentok. Keduanya memiliki alibi kuat tidak terlibat aksi penculikan dan pembunuhan ini. Terlebih, penyelidikan lain menyebutkan Yanto dan Martin-lah yang terlibat.

Yanto dan Mamat kemudian ditangkap anggota Polsek Tambaksari. Disusul penangkapan Zirad alias Siro di Jl Tembaan atau Maspati. Dari keterangan ketiga tersangka, anggota Unit Resmob kemudian meringkus Agung di rumah kerabatnya di Trenggalek.

“Aksi para tersangka ini sudah dipersiapkan secara rapi,” ungkap Coki. Ini dibuktikan dengan peran para tersangka yang sudah dibagi-bagi. “Mamat yang bertugas menyewa mobil dengan jaminan motor Suzuki Smash W 3446 SD miliknya,” imbuhnya.

Sedangkan Agung kebagian tugas menyurvei lokasi, dan Zirad mengawasi aksi teman-temannya saat aksi penculikan. Yanto dan Martin merupakan penyedia dana. Yanto mengaku sudah mengeluarkan uang untuk sewa mobil dan membeli bensin untuk motor serta bensin untuk membakar korban.

Terkait Martin yang masih buron, Kapolsek Tambaksari Kompol Suhartono mengatakan sudah melacaknya. “Masih pengejaran, tapi sudah bisa kita lacak,” katanya tanpa menyebut lokasi persembunyiannya.

Terkait ancaman hukuman, menurut Kapolrestabes Coki Manuruing, kelima tersangka terancam hukuman 20 tahun penjara dan maksimal hukuman mati sesuai Pasal 340 subsider Pasal 328 subsider Pasal 365 KUHP terkait pembunuhan yang direncanakan.

SIswi SMP Terpaksa Membayar Traktiran Semangkok Bakso Dengan Menyerahkan Keperawanannya

At (15), siswa kelas III di salah satu sekolah menengah pertama swasta di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, terpaksa harus berurusan dengan polisi. Penyebabnya, At nekat memerkosa DC (15), perempuan warga Desa Rabak, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor.

Kamis (17/2) malam, At, yang merupakan anak salah seorang berpunya di Desa Cidokom, Kecamatan Rumpin, mengajak tetangga satu desanya, Yt (19), untuk makan bakso di Desa Gobang, juga di Rumpin. At lalu mengirimkan pesan singkat kepada DC yang baru seminggu dikenalnya.

Ia menawarkan ajakan yang sama kepada DC, gadis yang tak lagi melanjutkan sekolah seusai menamatkan sekolah dasar. Gayung bersambut, DC mau-mau saja ditraktir menyantap bakso oleh At.

Sekitar pukul 20.00, At dan Yt menjemput DC di rumahnya di Desa Rabak dengan menggunakan sepeda motor. Di rumah itu, DC tinggal bersama ayahnya dan ibu tirinya. Ibu kandung DC sudah meninggal dunia.

Mereka lalu berboncengan bertiga dengan satu sepeda motor. Setelah makan bakso, sekitar pukul 21.00, At dan Yt membawa DC ke Kampung Pengangkang, Desa Gobang, juga di daerah Rumpin. Di perkebunan karet itu mereka berhenti. Suasana di sekitar lokasi cukup sunyi dan sepi karena jalan yang membelah hutan karet itu tak banyak dilalui warga.

Lokasi itu pada akhir pekan kerap dijadikan lokasi berpacaran sejumlah muda-mudi. Ada beberapa gazebo yang kerap digunakan untuk tempat rehat bagi para penyadap karet di sekitar lokasi itu.

Di lokasi sepi itu At memaksa DC untuk diajak bersetubuh, tetapi gadis itu menolak ajakan tersebut. Penolakan itu tak diindahkan oleh At dan

meminta Yt untuk memegang tangan DC. Begitu gadis mungil ini tidak berdaya dalam pegangan Yt, seketika itu pula At melampiaskan hasrat seksualnya.

Setelah At selesai menyetubuhi DC, ia diduga sempat menawarkan kepada Yt untuk melakukan hal serupa. Namun, Yt menolak tawaran At karena merasa tak sampai hati memerkosa DC yang terus menangis.

Kedua pemuda ini kemudian mengantarkan DC pulang ke rumahnya. Tindakan At itu baru terungkap Sabtu (19/2) setelah DC menceritakan kejadian yang menimpanya kepada kakak perempuannya.

”Awalnya dia menangis terus dan menolak makan. Setelah ditanya baru akhirnya bercerita,” tutur Abet (40-an), paman korban, Minggu (20/2).

Dari pengakuan itu, keluarga lalu melapor ke Polsek Rumpin. Petugas lalu menangkap At dan Yt di rumah masing-masing pada Sabtu malam. Keluarga tengah berupaya memikirkan penyelesaian yang terbaik bagi masa depan DC.

Akibat kasus tersebut, konflik nyaris meluas menjadi konflik antarkampung. Pihak keluarga sudah ”panas” mendengar kejadian yang menimpa DC. Beruntung tokoh masyarakat sempat meredamnya.

Minggu siang, Kepala Desa Gobang M Harun, Kepala Desa Cidokom Asep Nuryana, serta keluarga korban dan pelaku bertemu untuk mendinginkan suasana.

Sementara itu, Kepala Polsek Rumpin Komisaris Nundun Radiaman mengatakan, setelah itu pihaknya pada Minggu kemarin melimpahkan kasus tersebut ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Polres Bogor.

Korban di bawah umur

Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak pada Polres Bogor Ajun Komisaris Ari Trisnawati mengaku masih mendalami latar belakang penyebab At nekat memerkosa DC. Namun, dari kasus yang pernah ditangani Polres Bogor, salah satu pemicu adalah mudahnya anak-anak mengakses pornografi. Setelah menonton, mereka kesulitan untuk mengendalikan hawa nafsu sehingga nekat memerkosa.

Sejak awal tahun 2011, kata dia, pihaknya sudah menangani lebih dari 10 kasus pemerkosaan dengan korban perempuan di bawah umur. Sebagian kecil dari kasus itu melibatkan pelaku di bawah umur, yakni kurang dari 18 tahun. Pelaku bisa dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak.

”Ada kecenderungan kasus kekerasan seksual terhadap anak meningkat, sedangkan kekerasan dalam rumah tangga agak turun pada awal tahun ini,” ujarnya.

Siti Maemunah, Ketua Forum Komunikasi Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Bogor, menuturkan, masalah akses tayangan pornografi memang bisa menjadi pemicu pelaku. Namun, lingkungan yang kini semakin permisif juga memberi andil terhadap kejadian itu.

Sementara dari sisi perempuan, gaya hidup kini membuat anak-anak menjadi dewasa sebelum waktunya. ”Misalnya, ada ibu-ibu menonton sinetron dewasa, tetapi anak perempuannya yang masih kecil dibiarkan ikut menonton. Dia bisa terpengaruh menjadi dewasa sebelum waktunya,” ujar Maemunah.