Category Archives: penganiayaan

Abdul Aziz Gorok Istri Tetangga Yang Ditinggal Sumai Keluar Kota Karena Sang Istri Tidak Rela Diperkosa

Devita Sari (32) warga Pajarakan, Probolinggo, Jawa Timur yang sedang ditinggal suaminya keluar kota harus mengalami nasib buruk lantaran rumahnya didatangi pencuri yang tidak lain adalah tetangganya sendiri Abdul Aziz (24). Menurut Kapolsek Pajarakan AKP Sugeng Wikhanto kejadian pencurian ini terjadi pada hari Sabtu (7/6) malam. Pelaku berhasil menggasak uang tunai sejumlah Rp 600 ribu dan juga STNK motor milik korban.

“Benar ada kejadiannya, pencurian itu dilakukan Abdul Aziz yang merupakan tetangga korban sendiri Devita Sari. Pelaku mencuri uang tunai Rp 600 ribu dan STNK korban,” Ujar Sugeng saat dikonfirmasi, Senin (9/6).

Sugeng mengatakan adanya kasus ini lantaran adanya laporan dari warga yang mendatangi TKP karena mendengar teriakan korban saat kejadian. Setelah dapat laporan tersebut polisi langsung kesana dan menangkap pelaku yang sedang berusaha melarikan diri. “Setelah dapat laporan warga adanya kasus pencurian tersebut polisi langsung ke TKP dan mengusut kasus tersebut, namun korban tidak bisa dimintai keterangan lantaran dalam keadaan kritis. Kami sudah tangkap pelakunya dan sekaligus meminta laporan dari warga,” ujar Sugeng.

Sugeng mengungkapkan, kronologi kejadian berawal dari pencurian yang dilakukan Abdul Aziz, seusai mencuri pelaku melihat korban yang sedang tertidur. Saat melihat korban yang tertidur, dia tergoda dan berniat untuk memperkosa korban. “Setelah menjalani aksinya menurut keterangan dari pelaku dia tergoda melihat keindahaan tubuh korban yang sedang tertidur dan akan memperkosanya,” ujar Sugeng.

Saat akan diperkosa, menurut Sugeng, korban terbangun dan kaget bahwa Abdul Aziz menodongnya dengan pisau lipat. Pelaku mengancam korban akan dibunuh apabila berteriak saat akan diperkosa olehnya, namun nahas korban tetap berteriak sehingga warga mendatangi rumah korban.

“Korban yang mau diperkosa digorok pakai pisau lipat karena dia teriak minta tolong pada warga,” ujar Sugeng. Setelah kejadian itu pelaku tidak bisa melarikan diri karena dikepung oleh warga. Setelah polisi tiba di TKP, polisi langsung melumpuhkan pelaku lantaran saat akan ditangkap dia memberikan perlawanan. “Kami terpaksa lumpuhkan karena dia melawan saat akan ditangkap,” ujar Sugeng.

Kini korban sedang menjalani pemeriksaan di rumah sakit Waluyo Jati Kraksaan sekaligus menjalani proses visum untuk mengetahui adanya dugaan pemerkosaan atau tidak. Sedangkan pelaku kini mendekam di tahanan untuk menjalani proses penyidikkan.

Mahasiswi Binus Disiram Air Keras Oleh Mantan Pacar

AL (19) masih menjalani perawatan intensif di RS Royal Taruma akibat air keras yang disiramkan mantan pacarnya Riki Halim Levin (23) di kamar kos di Jalan U, Palmerah, Jakarta Barat. Di dalam kamar kos mahasiswi jurusan Manajemen tersebut masih terlihat sisa-sisa air keras yang menimbulkan bercak warna kuning.

Pantuan detikcom, Rabu (9/10/2013), di kamar kos yang berukuran 3×4 meter terlihat banyak bercak-bercak warna kuning sisa air keras. Bercak-bercak kuning tersebut paling banyak terlihat di kasur lipat warna merah yang berada tepat di depan pintu masuk kamar.

Bercak kuning sisa air keras juga terlihat pada dispenser yang ada di belakang pintu dan televisi yang berada di sebelah kanan pintu. Lantai di dalam kamar tersebut juga terlihat kotor bekas cairan. Terlihat juga belum ada police line di depan kamar korban. Kunci kamar masih dipegang oleh penjaga kos berlantai 4 tersebut.

Menurut penjaga kos, Amink, saat kejadian dirinya sedang makan bubur ayam di depan kos. Dirinya sempat curiga ada seorang lelaki yang tiba-tiba lari dari dalam kos, tapi tidak sempat bertanya kenapa orang tersebut lari. “Saya lihat dia lari, terus balik lagi tapi pas lihat tukang sampah turun dari lantai dua kos, pelaku lari lagi. Lalu, tukang sampah tersebut panggil-panggil saya bahwa ada penghuni kos yang butuh bantuan,” ujar Amink.

Amink menceritakan, saat melihat korban dia langsung tahu bahwa korban tersiram cairan kimia. “Dari baunya saya tahu, oleh karena itu saya langsung bawa korban ke kamar mandi dan men-shower wajah dan terutama matanya karena dia mengeluh tidak bisa buka matanya,” imbuh Amink. Dalam kasus ini, pelaku masih dalam pengejaran polisi. Diduga pelaku marah karena korban tidak mau diajak balikan. Akibat penyiraman air keras itu AL menderita luka di bagian wajah, tangan dan kakinya.

Pelaku penyiraman air keras terhadap mahasiswi Binus, Ricky Halim Levin (23), sampai sekarang belum juga bisa ditangkap. Untuk itu, Polisi juga meminta bantuan jasa paranormal untuk mengetahui keberadaan pelaku. “Kita juga sudah mencoba menggunakan jasa indigo. Dari infonya, kepalanya sudah dibotakin,” kata Kanit Reskrim Polsek Palmerah Sigit Kumono, Kamis (10/10/2013).

Sigit mengatakan, polisi juga telah mengumpulkan semua data mengenai pelaku dari aku sosial media miliknya. Dan kasus ini sudah dilimpahkan ke Polres Jakarta Barat.”Kasus ini ditangani Reskrim Polres Jakbar,” ujar Sigit.Sebelumnya, menurut Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat, AKBP Hengki Haryadi, Tim Pemburu Preman Polres Jakarta Barat siap membantu mencari pelaku. “Kita akan bantu polsek untuk mencari pelaku,” ujar Hengki Haryadi, Selasa (8/10).

Sedangkan Kakak Korban, Fuad Hamdani, mengatakan pelaku memiliki tinggi 170 cm, berbadan kurus dan berkulit putih. “Namun, kata teman-temannya pelaku tempramen dan suka bohong,” ujar Fuad. Hingga kini mahasiswi Binus AL (19) yang menjadi korban penyiraman air keras oleh mantan pacarnya itu masih menjalani pengobatan di RS Royal Taruma. AL menderita luka di bagaian wajah akibat penyiraman air keras tersebut.

Mahasiswi Binus AL (19) yang menjadi korban penyiraman air keras oleh mantan pacarnya masih menjalani pengobatan intensif di RS Royal Taruma. Menurut kakak korban, Fuad Hamdani, korban saat ini mentalnya masih terguncang.

“Kata dokter adik saya kena luka bakar grade 3 tapi itu masih dugaan awal. Tapi yang tidak kalah mengkhawatirkan ya mentalnya yang masih terguncang,” ujar Fuad kepada wartawan saat berbincang di RS Royal Taruma, Tanjung Duren, Jakbar, Senin (7/10/2013).Fuad mengatakan, dari hasil pemeriksaan untuk organ dalam tidak masalah. Namun, kedua matanya saat ini bengkak akibat terkena air keras tersebut.

“Untuk kedua matanya masih harus di terapi terus. Semoga tidak terjadi apa untuk kedepannya,” ujar Fuad yang tampak sedih saat menceritakan kondisi adiknya.Fuad dan keluarga berharap adiknya tersebut bisa segera sembuh dan pelaku segera ditangkap. “Mohon doanya ya semoga lekas sembuh. Dan yang terpenting pelaku cepat ditangkap,” imbuh Fuad.

Mahasiswi Binus jurusan manajemen LD (19) menjadi korban tindak penyiraman air keras yang dilakukan oleh Riki Halim Levin (23), mantan kekasihnya. Sebelum terjadi penyiraman air keras, pelaku sering datang ke tempat kos korban dan mengaku sebagai pengantar makanan.

“Itu katanya mantannya, pernah beberapa kali ke sini ngaku-ngaku pengantar makanan. Tapi gak pernah ketemu korban,” ujar Merlina salah satu penghuni kos saat ditemui di kosan korban di Palmerah, Jakarta Barat, Senin (7/10/2013). Merlina mengatakan, saat datang pelaku memakai kaos dan terlihat santai. “Tapi setelah itu dia lari kenceng banget. Saya gak lihat dia pake motor apa tidak,” ujar Merlina. Penjaga kos, Danu mengatakan pagi itu keadaan kos memang lagi sepi. Jadi tidak melihat pelaku masuk dan keluar dari tempat kos itu.

“Yang punya kos lagi ngopi di warung depan. Tiba-tiba ada minta tolong dan pelakunya sudah kabur. Tapi pas ada tukang sampah, sempat lihat pelaku tapi gak ketangkap. Itu kalau ketahuan bisa dihajar sama warga,” ujar Danu. Danu mengatakan, sebelumnya belum ada kejadian kayak. Korban juga belum satu bulan tinggal disini. “Waktu baru pindahan orang itu (pelaku) kesini. Nanya nyari korban. Waktu itu dia nanya sama saya. Sudah dua kali ke sini,” imbuh Danu.

Mahasiswi Binus yang menjadi korban penyiraman air keras masih menjalani perawatan di rumah sakit atas luka bakar yang dialaminya. Keluarga korban masih mengharapkan adanya itikad baik dari keluarga pelaku yang merupakan mantan kekasih korban. “Sampai saat ini, belum ada itikad baik, belum ada permintaan maaf,” ucap kakak korban, Fuad saat dihubungi, Selasa (8/10/2013).

Fuad sendiri mengaku tidak begitu mengenal pelaku karena hanya sempat bertemu 2 kali. Hubungan asmara antara adiknya dengan pelaku memang hanya berjalan singkat selama 2 bulan. Lebih lanjut dia menuturkan, kondisi adiknya sedikit mengalami kemajuan. Luka yang paling mengkhawatirkan adalah di bagian mata korban yang juga terkena cipratan air keras. Namun, dokter menyatakan ada kemungkinan untuk pulih.

“Kata dokter, untuk mata ada kemungkinan recovery,” terangnya. Fuad meminta doa agar adiknya bisa sembuh. Serta agar pelaku yang kini masih dalam pengejaran, bisa segera tertangkap. Keluarga korban juga tetap terbuka untuk menyambut itikad baik pelaku dan keluarganya. “Harusnya ada itikad baik. Tapi kalau enggak, ya enggak apa-apa,” tandasnya.

Dalam kasus ini, pelaku yang diketahui bernama Riki Halim Levin (23) mendatangi kost korban di Palmerah, Jakarta Barat dan menyiramkan air keras ke tubuh korban. Pelaku yang juga mantan kekasih korban ini masih dalam pengejaran polisi. Diduga pelaku marah karena korban tidak mau diajak balikan.

Polsek Palmerah masih terus mencari Riki Halim Levin (23) pelaku penyiraman air keras ke wajah mantan pacarnya Mahasiswi Binus AL (19). Supaya segera tertangkap Tim Pemburu Preman Polres Jakarta Barat siap membantu mencari pelaku. “Kita akan back up polsek untuk mencari pelaku,” ujar Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat, AKBP Hengki Haryadi, Selasa (8/10/2013).

Sebelumnya, kaka korban Fuad Hamdani mengatakan, pelaku memiliki wawasan yang luas dan sopan. Pelaku juga memiliki ciri-ciri tinggi 170 cm, kulit putih, berbadan kurus. “Namun, kata teman-temannya pelaku tempramen dan suka bohong,” ujar Fuad. Fuad mengatakan, terakhir pelaku bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan asuransi swasta. Tapi menurut Fuad, pelaku sudah dipecat. “Dan sekarang saya tidak tahu dia kerja dimana,” imbuh Fuad.

Unsur air keras yang disiramkan Riki Halim Levin (23) kepada mahasiswi Binus di kostan korban di korban disiram air keras di kosnya di Jalan U No 7B, Rt 09/ Rw 15, Palmerah, Jakarta Barat, Kamis (3/10) lalu masih diteliti. Baju korban yang rusak akibat cairan tersebut dibawa ke Labfor untuk penelitian selanjutnya.

“Masih kita selidiki untuk jenis cairan kimianya dan dapat dari mana juga ini msh kita selidiki karena RH (Riki Halim) belum tertangkap. Pakaian korban sudah dikirim ke labfor untuk ketahui jenisnya,” jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (8/10/2013).

Rikwanto mengatakan, saat ini penyidik sudha memeriksa 4 orang saksi yang merupakan teman kost korban dan juga keluarganya. Polisi akan mengembangkan kasus tersebut dengan memeriksa saksi-saksi lain. Selanjutnya, Rikwanto mengatakan, pihaknya masih mencari Riki. Polisi, kata dia, sudah mencari Riki di rumah ibunya di Pademangan, Jakarta Utara dan di rumah ayahnya di kawasan Tamansari, Jakarta Barat.

“Tetapi tidak ada di dua rumah orang tuanya itu,” kata Rikwanto. Seorang mahasiswi Binus menderita luka bakar di bagian wajah karena disiram air keras oleh mantan pacarnya Riki Halim Levin (23). Akibatnya mahasiswi itu harus menjalani operasi di Rumah Sakit Royal Taruma.

Peristiwa itu dilakukan pelaku karena sakit hati lantaran ditolak bekali-kali oleh korban untuk kembali menjalin hubungan. Pelaku kemudian mendatangi kostan korban, berpura-pura mengantarkan minuman. Saat di depan kamar kost korban, pelaku kemudian mengetuk-ngetuk pintu kamar. Setelah korban membukakan pintu kamar, pelaku kemudian menyiramkan minuman yang sudah diisi air keras itu.

2 Pria Diculik Di Olimo Jakarta Oleh Perusahaan Penyaluran Satpam

Mertua dari salah satu korban mengatakan bahwa menantunya AZ memang sedang terbelit utang piutang. Menurutnya, jumlah utang pria 35 tahun tersebut sebanyak Rp 300 juta. “Dia memang lagi ngutang Rp 300 juta tapi bilangnya dia sanggup bayar dan akan membayar. Tapi mungkin yang punya uang tidak sabaran,” ujar Samuji (60), mertua AZ di Polsek Taman Sari, Rabu (18/9/2013).

Samuji mengatakan, menantunya tersebut memang seorang pebisnis. Namun, dirinya tidak tahu bisnis apa yang sedang digeluti menantunya tersebut saat ini. “Bisnis tempo hari si hasil bumi. Namun yang di cilacap kita sendiri kurang tahu bisnis apa. Dan dia terkena tipu bosnya saat itu,” ujar Samuji.

Samuji mengatakan, saat ini keadaan menantunya baik-baik saja. “Keadaannya sehat. Dia mengaku memang sering ditonjoki mukanya. Dan disundut putung rokok,” imbuh Samuji. Semalam, korban AZ memang mengaku jika dia dan temannya terlibat utang. “Intinya saya usaha sama kawan saya, tapi tidak ada sangkut pautnya dengan kantor sini, usaha saya sedang bangkrut jadi saya berusaha memulihkan tetapi tak sabar ingin uangnya kembali. Jadi menggunakan jasa debt collector dan menyekap saya,” ujar AZ.

AZ (35) dan AA (49) berhasil dibebaskan Polsek Taman Sari dari penyekapan di sebuah ruko di kawasan Olimo. dalam pembebasan itu polisi juga membawa 8 orang saksi yang merupakan karyawan dari PT BJM, perusahaan penyalur satpam. Polisi menggerebek sebuah ruko dua lantai tempat penyekapan 2 orang di Olimo, Jakarta Barat tadi malam. Ruko tersebut ternyata kantor penyalur tenaga keamanan.

Pantuan di lokasi, tepatnya di Jalan Hayam Wuruk no 120 D, Taman Sari, Jakarta Barat, Rabu (18/9/2013), ruko berplang PT Benteng Jaya Mandiri tersebut sudah diberi garis polisi dan dijaga sekitar dua petugas polisi di depannya. Terlihat juga ada sekitar enam buah sepeda motor terparkir di depan ruko. “Itu memang tempat penyalur satpam. Dan yang punya orang Cina,” ujar salah seorang penjual nasi di dekat ruko yang enggan disebut namanya.

Dalam penggerebekan tersebut polisi menangkap 8 orang pelaku penyekapan. Salah satunya disinyalir adalah oknum anggota TNI AL. Ketua RT 10 RW 09 Mapar, Taman Sari, Jakarta Barat, Wito Lesmana (48) mengaku dirinya sering melihat beberapa anggota TNI AL keluar masuk ke dalam ruko tersebut.

“Ya namanya juga perusahaan jasa pengamanan. Sepengetahuan saya yang paling banyak itu anggota TNI AL paling banyak, kan yang melatih mereka-mereka itu,” kata Wito ketika ditemui di lokasi penyekapan. 2 Pria disekap sekelompok orang di ruko tersebut selama dua minggu. Diduga motif penyekapan tersebut karena masalah hutang piutang. Kedua pria nahas itu akhirnya berhasil dibebaskan dalam operasi penggerebekan yang dilakukan polisi, Selasa (17/9) malam.

Polsek Taman Sari membebaskan dua korban penyekapan di ruko di kawasan Olimo, Taman Sari, Jakarta Barat. Menurut salah satu penjual nasi di dekat ruko tersebut, karyawan ruko pernah mengaku membeli nasi untuk tahanan yang ada di dalam ruko.

“Waktu itu karyawan ruko pernah beli nasi dengan lauknya yang sederhana banget. Saya coba tanya ke security itu. Katanya nasinya buat orang yang ditahan,” kata penjual nasi yang enggan disebutkan namanya tersebut di sekitar ruko, di kawasan Olimo, Taman Sari, Jakarta Barat, Selasa (18/9/2013). Penjual nasi tersebut langsung kaget. Kemudian dia menanyakan soal keberadaan tahanan di dalam ruko tersebut.

“Saya kaget. Saya tanya, kok bisa ada tahanan di dalam ruko? Kata dia, iya ada sel tahanan, katanya sih ada 2 sel tahanan. Kata security, yang ditahan itu ada masalah utang piutang,” tuturnya. Dalam penggerebekan itu, polisi menangkap 8 orang yang dijadikan saksi kasus penyekapan, salah satunya oknum anggota TNI AL. Wito Lesmana (48), Ketua RT 10 RW 09, Mapar, Taman Sari, Jakarta Barat, mengaku dirinya sering melihat beberapa anggota TNI AL keluar masuk ke dalam ruko tersebut.

“Ya namanya juga perusahaan jasa pengamanan. Sepengetahuan saya anggota TNI AL itu paling banyak. Kan yang melatih mereka-mereka itu,” kata Wito ketika ditemui di lokasi penyekapan. Petugas dari Polsek Taman Sari, Jakbar melakukan operasi penggerebekan di salah satu ruko yang ada di kawasan Olimo, Taman Sari pada Selasa (17/7/2013) malam. Polisi berhasil membebaskan dua orang yang disekap selama sekitar dua minggu.

Seorang anggota TNI ikut diamankan polisi saat operasi penggerebekan kasus penyekapan di sebuah ruko di Olimo, Taman Sari, Jakarta Barat. Anggota TNI tersebut saat ini menjalani pemeriksaan. Jika terbukti terlibat, anggota TNI tersebut akan ditindak tegas.

“Sedang dalam investigasi, kalau salah diberesin,” kata Panglima TNI Jenderal Moeldoko di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (18/9/2013).

“Diberesin gimana pak?” tanya wartawan.

“Ya diembat dong, kalau salah ditindak hukum. Kalau dia pidana ya maaf masuk penjara,” jawab Moeldoko.

Moeldoko menjelaskan, dirinya juga mengikuti proses pemeriksaan anggota Lantamal tersebut. Jika terbukti bersalah maka tindakan keras akan diberikan kepada anggota tersebut. “Belum didalami, tapi saya mengikuti dan sedang dalam investigasi. Prinsipnya itu bagi saya, tindakan keras ke dalam. Kalau ada prajurit yang begitu tidak pantas,” ucapnya.

2 Pria disekap sekelompok orang di ruko tersebut selama dua minggu. Diduga motif penyekapan tersebut karena masalah hutang piutang. Kedua pria nahas itu akhirnya berhasil dibebaskan dalam operasi penggerebekan yang dilakukan polisi, Selasa (17/9) malam. Sebanyak 8 saksi diamankan dalam penggerebekan itu, salah satunya anggota TNI AL.

Dua pria menjadi korban penyekapan di sebuah ruko di Jalan Hayam Wuruk, Taman Sari, Jakarta Barat. Menurut pengakuan mertua salah satu korban, menantunya diculik saat sedang tidur pada hari Jumat.

“Dia diculik dari Jumat berarti sampai sekarang sudah lima hari. Saat itu dia sedang tidur lalu dipaksa diborgol, langsung matanya ditutup dan langsung dimasukkan ke dalam mobil,” ujar Samuji (60), mertua dari AZ, salah satu korban penyekapan di Polsek Taman Sari, Rabu (18/9/2013).

Menurut Samuji, saat itu istri dan keluarga sangat kaget dan tidak mengetahui ke mana korban akan dibawa. “Dibawa kemana tidak tahu. Soalnya tidak ada telepon anak itu,” ujar Samuji. Samuji yang hadir bersama kerabatnya memang mengetahui bahwa menantunya tersebut memiliki hutang. Namun ia yakin bahwa sebenarnya menantunya tersebut sanggup membayar.

“Memang ada utang piutang dan yang punya uang nggak sadar, akhirnya nyuruh premanlah. Dia utangnya Rp 300 juta dan bilangnya sanggup dibayar dan mau bayar gak melarikan diri,” imbuh Samuji. Semalam, korban AZ memang mengaku bahwa dia dan temannya terlibat utang. “Intinya saya usaha sama kawan saya, tapi tidak ada sangkut pautnya dengan kantor sini, usaha saya sedang bangkrut jadi saya berusaha memulihkan tetapi tak sabar ingin uangnya kembali. Jadi menggunakan jasa debt collector dan menyekap saya,” ujar Ahmad.

Semalam AZ (35) dan AA (49) berhasil dibebaskan Polsek Taman Sari dari penyekapan di sebuah ruko di kawasan Olimo. Dalam pembebasan itu polisi juga membawa 8 orang saksi yang merupakan karyawan dari PT BJM, perusahaan penyalur satpam.

Mahasiswi Asal Jerman Diperkosa di Karo Sumatera Utara Oleh Tukang Becak

Wanita Warga Negara Jerman diperkosa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.Sarah Walter,22, mahasiswi yang saat ini tugas belajar di ITB Bandung, diperkosa dan dirampok pengemudi becak Jamirto Tambunan, 29, penduduk Desa Situnggaling, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo.

Pengakuan Sarah kepada wartawan, Kamis (22/11), ia tinggal di Jalan Tubagus Ismail, Bandung. Sementara keluarganya tinggal Germani C 2 V RPTJV 8.0A.90 dan Home Adres Imbaoh Garten 9 5676.Brachten Dorf Germani.

Kejadiannya kemarin petang, saat ia bermaksud mengunjungi tempat wisata Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. “Saya seorang diri dengan berjalan kaki mengunjungi lokasi wisata itu,”katanya. Di perjalanan, lanjut Sarah, tiba-tiba hujan turun, dan ia berteduh sejenak. Usai hujan reda, Sarah melanjutkan perjalanannya ke Desa Tongging. Dalam perjalanannya itu Sarah sempat nyasar ke arah Sipiso-piso. Merasa jalan yang dilaluinya tersesat dan tidak sesuai dengan peta yang dibawanya, ia pun balik menelusuri jalan tersebut.

Saat berjalan, tiba-tiba datang dari arah belakang becak yang di kemudikan Jamirto. Dan Sarahpun menumpang becak menuju Desa Tongging. Setengah jam setelah sampai di Tongging, korban pulang kembali dengan menumpangi becak tersebut.
Di perjalanan tersangka tiba-tiba menghentikan becaknya dan menarik korban ke tengah semak belukar. Karena merasa heran tak ada kata-kata yang dimengerti, Sarahpun melawan dan berteriak minta tolong.

Mendengar teriakan Sarah, membuat tersangka semakin berutal. Karena meronta korban dipukuli oleh tersangka. Melihat kebringasan tersangka dan merasa dirinya tak berdaya lagi untuk melawan, akhirnya korbanpun pasrah menerima perlakuan tersangka.

Korban masih sempat menyarankan supaya tersangka mengambil kondom di dalam tasnya untuk dipakaikan tersangka. Saran wanita bule itupun dituruti tersangka. Tidak puas hanya memperkosa, selanjutnya dengan paksa mengambil uang milik korban Rp. 1.300.000,- dari dalam tasnya. Usai melakukan aksinya itu, si pelakupun kabur bersama becanya.
Aparat Polres Karo yang menerima laporan korban langsung melakukan penyelidikan dan meringkus tersangka Jamirto di kediamannya Desa Situnggaling, Kamis dinihari.

Kapolres Karo AKBP Marcelino Sampouw, melalui Kasat Reskrim AKP Hary Azhar SH SIK, membenarkan kejadian itu dan pelakunya berhasil diringkus.

Sumber berita:
http://www.poskotanews.com/2012/11/22/mahasiswi-asal-jerman-diperkosa-di-karo-sumut/
http://www.harianterbit.com/2012/11/23/mahasiswi-asal-jerman-dirampok-diperkosa/
http://harianandalas.com/Hukum-Kriminal/Mahasiswi-Asal-Jerman-Diperkosa-di-Tongging
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=268954:cewek-jerman-dirampok-dan-diperkosa&catid=15:sumut&Itemid=28

Jumhani Pedagan Gorengan Yang Dirampok dan Disetrum Oleh Polisi Kemudian Dipaksa Mengaku Sebagai Pencopet

MULYANA (5) menggelendot manja ke tubuh bapaknya, Jumhani (35), yang sedang duduk di balai-balai bambu sebuah rumah di Kampung Juhut, Desa Padasuka, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (12/6/2012). Anak itu seolah ingin memuaskan rasa rindu kepada bapaknya yang sempat ”menghilang” selama sembilan hari, dari 30 Mei hingga 7 Juni 2012.

Dalam kurun waktu tersebut, Jumhani yang sehari-hari menjadi penjaja gorengan di Kota Cilegon, Banten, harus merasakan pengalaman yang menyakitkan raga dan menyedihkan hatinya. Dia dipaksa mengaku sebagai pencopet oleh oknum polisi dari Kepolisian Resor (Polres) Serang.

Jumhani berkisah, Rabu (30/5/2012) sekitar pukul 14.00, dia berada di Stasiun Cilegon menunggu kedatangan kereta dari arah Stasiun Merak menuju Stasiun Besar Rangkasbitung, Lebak. Saat itu dia hendak pulang ke rumahnya di Lebak.

Selama ini Jumhani terbiasa pulang ke rumah tujuh hingga 10 hari sekali, membawa hasil berjualan gorengan di Cilegon kepada keluarganya di Juhut.

Begitu kereta tiba di Stasiun Cilegon, suami dari Siti Mumun Munawarah (22) itu segera naik dan duduk dekat pintu kereta. Semua berlangsung biasa seperti selama ini dia pulang ke rumah.

Namun, begitu kereta berhenti sebentar di Stasiun Serang, tiba-tiba ada dua petugas berpakaian preman yang menyergap, menarik, dan memintanya turun. Jumhani sempat meronta, tetapi dia tetap saja ditarik dan dimasukkan ke sebuah mobil.

”Di dalam mobil saya ditanya-tanya, disuruh mengaku copet. Sambil mobil terus jalan, saya juga dipukuli, bahkan disetrum dua kali di telinga pakai alat semacam penjepit yang ada kabelnya,” kata Jumhani.

Matanya pun kemudian ditutup dan dirinya diancam akan dibuang ke laut. ”Enggak kuat menahan siksaan, saya terpaksa mengaku. Duit Rp 1,3 juta di dompet hasil usaha jualan dari keringat sendiri, KTP, dan HP saya juga diambil,” katanya.

Setelah berputar-putar, mobil yang membawa Jumhani pun sore itu tiba di Markas Polres Serang. Jumhani kemudian dimasukkan ke ruangan. Tangannya diborgol. ”Selama sembilan hari di sana saya kadang ditanya-tanya. Kadang ada saja yang memukul meski tidak seberat seperti waktu di mobil,” kata Jumhani yang mengaku sangat ingat wajah-wajah para petugas.

Selama berada di sana, dia meminta agar dapat menghubungi keluarganya. Dia memohon kepada seorang petugas untuk meneleponkan nomor yang dia berikan kalaupun dia tidak boleh menelepon sendiri. ”Namun, tetap enggak dikasih sampai saya sudah mau pulang,” katanya.

Keluarga panik

Tidak adanya pemberitahuan itu membikin panik keluarga dan kerabat Jumhani di Juhut. Begitu kehilangan kontak, Rubai, seorang teman masa kecil Jumhani di Juhut, berikhtiar menanyakan kepada pihak Stasiun Besar Rangkasbitung.

Rubai mencari tahu kemungkinan adanya penumpang yang ketinggalan di kereta. ”Mereka juga ikut membantu kontak-kontak. Namun, ternyata dari Stasiun Kota (Jakarta) sampai Stasiun Merak pada hari-hari itu tidak ada kejadian orang tertinggal di kereta,” katanya.

Keluarga dan tetangga terus mencari ke arah lain dengan berbagai cara. Meski tanpa kabar pasti, setiap malam keluarga tetap menggelar pengajian di rumah Jumhani.

Mereka terus mencermati setiap kabar, termasuk ketika ada orang linglung di suatu tempat. Bahkan, Sabtu (2/6/2012) pagi, Rubai dan teman-temannya mengendarai delapan sepeda motor untuk mencari keberadaan Jumhani begitu mendengar ditemukan karung berisi bangkai di Cibeureum yang berjarak sekitar 5 kilometer dari Juhut. ”Setelah kami datangi, ternyata itu bangkai kambing. Kami saat itu sama sekali tidak tahu di mana Jumhani berada,” katanya.

Isak tangis Siti Mumun Munawarah mengisi hari-hari tanpa kejelasan nasib suaminya tersebut. ”Anak saya yang masih kecil kadang melamun,” kata Siti dengan mata berkaca-kaca.

Akhirnya, Kamis (7/6/2012), Jumhani diperbolehkan pulang. Jumhani menuturkan, dirinya sore itu diantar ke Stasiun Serang dalam kondisi tanpa uang sepeser pun. Dia pun menumpang kereta untuk kembali ke kontrakannya di Cilegon.

”Saya bertekad kalau ketemu kondektur di atas kereta saya akan bilang mau numpang karena benar-benar enggak bawa uang. Pakaian pun dekil karena belum sempat ganti dan juga enggak pakai alas kaki,” katanya.

Jumhani kemudian mengabari keluarganya di Juhut yang malam itu juga segera menjemputnya. Senin (11/6/2012), Jumhani diantar keluarga dan kerabatnya melaporkan kekejian yang dilakukan oleh oknum polisi Polres Serang ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Kepolisian Daerah Banten. Mereka meminta pihak Polda Banten menindak tegas oknum petugas yang menangkap dan menganiaya Jumhani.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Banten Ajun Komisaris Besar Gunawan, Selasa malam, menuturkan, polisi akan memproses laporan dari Jumhani. ”Saat ini sedang dalam proses di Propam Polda Banten, termasuk menyelidiki siapa anggota yang dilaporkan warga tersebut,” katanya.

Kepala Bagian Operasional Polres Serang Komisaris Yudhis Wibisana mengatakan, pihaknya menunggu proses dari Propam Polda Banten. ”Kalau ada warga yang melaporkan seperti itu, ya, akan kami tunggu prosesnya dari Propam. Karena nanti dari Propam, kan, akan dipanggil saksi-saksinya,” kata Yudhis.

Geng Wools dan Teror 58 Spesialis Mengincar Pelajar Untuk Dipukuli Setiap Hari Berantem Di Johar Baru

Geng Wools, kelompok pemuda yang dipimpin tersangka berinisial LH, 16 tahun, sering bikin onar. Terakhir, geng ini membacok dua remaja pada Kamis dan Sabtu, 21 April 2012 lalu. LH ditangkap polisi pada 22 April.

Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Metro Cempaka Putih, Ajun Komisaris Gozali Luhulima, mengatakan kelompok itu sering tawuran. “Hampir setiap hari mereka bikin ribut di daerah Johar Baru, Kemayoran, dan Cempaka Putih,” kata Gozali saat dihubungi Selasa, 24 April 2012.

Menurut Gozali, anggota geng Wools berjumlah 17 sampai 19 orang. Mereka memiliki ciri-ciri, yakni memakai jaket berwarna biru dengan tulisan “We Are The Wools Big Family”.

Geng ini mengincar pelajar yang mengenakan seragam sekolah. “Tidak ada target tertentu. Pokoknya, kalau ada anak sekolah yang bergerombol atau agak ngebut, pasti diserang,” kata Gozali.

Pengakuan LH kepada penyidik, geng Wools sudah eksis sejak dua tahun lalu. Tapi, kata Gozali, kasus pembacokan secara tiba-tiba seperti yang menimpa Dwiki Hendra Saputra, siswa SMP Negeri 216 Jakarta, 21 April 2012, baru pertama terjadi. “Sebelumnya mereka sering tawuran. Kalau itu, kami sudah antisipasi dengan berjaga di lapangan,” kata Gozali.

LH mengatakan Dwiki dan temannya mengendarai sepeda motor dan menggeber gas di depan tempat LH dan teman-temannya berkumpul. “Saya emosi, saya bacok saja mereka,” kata LH, 22 April 2012. LH juga membacok Rusydan Fathy, siswa MAN 3 Jakarta, Kamis, 19 April 2012.

Kepolisian Sektor Cempaka Putih telah menangkap tiga orang anggota geng ini, yakni LH, 16 tahun; RP (16); dan E (16). Ketiganya saat ini masih ditahan di Polsek Metro Cempaka Putih. “Tapi satu atau dua hari lagi akan dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Salemba Jakarta. Di sana ada tempat untuk anak. Di sini kami tidak punya fasilitas untuk anak,” ujarnya.

Geng Wools, yang tiga anggotanya kini ditahan Kepolisian Sektor Metro Cempaka Putih, ternyata masih bersaudara dengan geng Teror 58. Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Metro Cempaka Putih, Ajun Komisaris Gozali Luhulima, menyatakan ada beberapa anggota Wools yang merangkap sebagai anggota Teror 58. “Ketua gengnya pun sama, LH,” kata dia saat dihubungi Selasa, 24 April 2012.

Menurut Gozali, dalam melakukan aksinya, kedua geng itu sama-sama mengincar pelajar. “SMP, SMA, SMK, tidak ada sasaran dari sekolah tertentu,” kata Gozali menceritakan hasil pemeriksaan LH yang ditengarai sebagai Ketua Geng Wools maupun Teror 58. Perbedaannya, geng Teror 58 mengincar siswa-siswa berseragam yang menumpang Kopaja 58. “Makanya, namanya Teror 58,” ujar Gozali.

Polisi belum mengetahui jumlah anggota Teror 58. Hanya, ada beberapa anggota geng itu yang juga tergabung dalam geng Wools. Tempat nongkrong mereka pun sama, yakni di warung Wools di Jalan Cempaka Tengah IV, Jakarta Pusat. Adapun jumlah anggota geng Wools berkisar antara 17 sampai 19 orang.

Geng yang sering berkumpul di warung itu, menurut Gozali, memang kerap tawuran di daerah Johar Baru, Kemayoran, atau Cempaka Putih. “Mereka sudah ada sejak dua tahun lalu,” katanya.

Sabtu pekan lalu, LH membacok Dwiki, seorang siswa SMP Negeri 216, Jakarta Pusat. LH mengatakan Dwiki dan temannya mengendarai motor dan menggeber gas di depan tempat LH dan teman-temannya berkumpul. “Saya emosi, jadi saya bacok,” kata LH saat ditemui Ahad, 22 April.

Saat ini Kepolisian Sektor Cempaka Putih telah menangkap tiga orang anggota geng, yakni LH, 16 tahun, RP (16), dan E (16). Ketiganya saat ini masih ditahan di Polsek Metro Cempaka Putih. “Tapi satu atau dua hari lagi akan dipindahkan ke Lapas Salemba yang ada tempat untuk anak. Di sini, kami tidak punya fasilitas untuk anak,” ujarnya.

Anak Bunuh Bapak Kandung Karena Kesal Tidak Diberikan Warung Untuk Menafkahi Istri Keduanya

Pria satu ini bisa disebut anak durhaka. Ia sampai hati membacok kepala ayah kandungnya di kamar rumahnya di Beji, Depok, Rabu (23/5) dinihari. Tindakan keji ini dipicu rasa kecewa karena warung yang dibangun ayahnya bukan diberikan padanya untuk menafkahi istri keduanya melainkan disewakan ke orang lain.

Usai melampiaskan rasa kesalnya, Imron Rosadi, 36, langsung pergi meninggalkan ayahnya, Masri Muhammad yang tergeletak bersimbah darah di lantai kamar mandi rumah di Jl. Karet , Pondok Cinda, Beji. Beruntung, tetangga mendengar kegaduhan itu cepat berdatangan.

Dalam kondisi kritis, tubuh bapak delapan anak tersebut dibopong tetangga lalu dilarikan ke RS Mitra Keluarga, Depok. Tetangga juga membekuk Imron yang masih memegang clurit bernoda darah.

Dini hari itu, sekitar Pk. 02:00, Masri seorang diri di rumah karena istrinya tengah menginap rumah salah satu dari delapan anaknya. Ia terbangun dari tidur lalu pergi ke kamar kecil di belakang rumah.

Mendadak, Imron datang. Anak kelima Masri yang sudah tiga minggu minggat dari rumah, masuk menggunakan kunci cadangan. Pria beristri dua yang memberinya enam anak itu langsung mencari bapaknya. Mengetahui Masri ada di kamar mandi, Imron yang emosi mendobrak pintu.

Tanpa banyak bicara Imron mengayunkan clurit ke kepala bapaknya. Masri berteriak kesakitan lalu ambruk berdarah-darah. Tetangga pun berdatangan, sebagian meringkus Imron yang lainnya melarikan korban ke rumah sakit. Kanit Reskrim Polsek Beji, Iptu Cahyo Putra Wijaya bersama anggotanya datang ke rumah itu meringkus Imron. Clurit yang dipakai untuk menganiaya Masri disita.

KESAL SAMA BAPAK
Menurut Iptu Cahyo Putra Wijaya, saat dibawa ke kantor polisi tercium bau alkohol dari mulut tersangka. “Kami belum bisa meminta keterangan korban karena kondisinya belum memungkinkan,” katanya. Tersangka dijerat dengan pasal pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dan Undang-Undang Darurat Tahun 1951 karena kedapatan membawa senjata tajam.

Dalam pemeriksaan Imron mengaku kecewa dan kesal sama bapaknya karena warung yang didirikan di tanah orang tuanya itu semula dijanjikan akan diberikan padanya. “Tapi setelah saya merapikan warung, tiba-tiba saja bapak mau menyewakan ke orang lain,” ungkap Imron. “Padahal saya sudah menyiapkan warung itu untuk tempat dagang istri kedua.”

MERTUA DIJOTOS MENANTU
Kekerasan dalam keluarga juga dilakukan Amaluddin, 28, di rumahnya di Kampung Dukuh, Kebayoran Baru, Jaksel, Selasa (22/5) malam. Ia menghajar ibu mertuanya, Maryam Sadeli, 55, lantaran kesal ditegur karena sering menganiaya istri.
Maryam yang bibirnya jontor dan hidungnya berdarah, melapor ke Polsek Kebayoran Baru. Amaludin pun digelandang ke kantor polisi, setelah sempat dihakimi massa. Menurut Maryam, menantu pengangguran itu memang tinggal bersamanya. Maryam tak senang anaknya, Fatimah, 26, sering dianiaya hingga ia sering menasihati Amaludin.

Rupanya bapak dua anak ini tersinggung hingga ibu mertuanya dijotos. Amaludin sempat mau kabur, tapi keburu dibekuk massa. ”Dia mau kabur dan sudah mengambil golok tapi kami menangkapnya lalu membawa ke kantor sekretariat RW,” kata Heri, warga.

Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol Hamdan Maulana, mengatakan pelaku bisa dijerat pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. “Kami masih memeriksanya,” ujar kapolsek.