Category Archives: selebriti psikopat

Pemain Sinetron Rio Raifan Aniaya Pengusaha Kafe Didepan Istri dan Anak

JAKARTA (Pos Kota)- Pamain sinetron Rio Rafifan, 25 bersama kakak kandungnya , Edison ditangkap anggota Polsek Jatinegara  karena menganiaya pengusaha kafe di Jalan Otista Raya, Jatinegara, Jakarta Timur Minggu malam.

Pribadi Gunawan pemilik Kafe An-De-Ko ini menderita luka parah di hidung dan wajah akibat dihajar pakai kunci pengaman mobil. Menurut warga Kemang Pratama Bekasi ini, sekitar pukul 21.00, ia baru pulang dari rumah ibunya di di Cipinang dengan naik mobil Panther 8209 LY.

Ketika berada di TKI atau tepatnya depan Gelanggang Olahraga Jakarta Timur, mobilnya terhalang oleh mobil Kian Carens B-252 RIO yang dikemudikan Rio Raifan.

Rupanya merasa terganggum pemain Sinetro “Intan” ini turun bersama abanganya kandunngnya Edison. Di antara mereka sempat terjadi cekcok mulut. Entah kenapa, Rio bersama abangnya mengambil kunci pengaman mobil lalu menghajar Gunawan .

Yang menyedihkan pengusaha kafe ini dianiaya di depan istrinya Laurence Panjaitan dan anaknya Jpuergen yang baru berusia 3 bulan.

Rupanya perbuatan pelalu diketahui oleh petugas Polantas. Keduanya lalu ditangkap dan diserahkan ke Polsek Jatinegara. Hingga pagi ini masih diperiksa. (tiyo/B)

Ingin Dihukum Ringan Dalam Kasus Narkoba … Jadilah Artis

Rendahnya hukuman terhadap artis yang tersandung kasus narkoba disorot kalangan praktisi hukum. Mereka menilai seharusnya pengadilan menghukum lebih berat mengingat artis merupakan figur publik.

“Sebaiknya hukuman kepada mereka diperberat. Karena sebagai panutan, gaya hidup mereka mendapat peniruan dari masyarakat,” ucap selebriti, pengacara sekaligus politisi Ruhut Sitompul, Sabtu (20/12).

Pria yang selama ini menunjukkan perlawanannya terhadap narkoba itu bahkan menegaskan tidak setuju anggapan bahwa seorang pemakai adalah korban sehingga hukumannya menjadi rendah. Menurut Ruhut, saat menggunakan Narkoba mereka umumnya sadar ingin mencapai sesuatu dengan cara yang melawan hukum. “Memang sampai saat ini hukuman pengguna Narkoba pertama kali sekitar satu tahunan,” katanya.

Diharapkan hukuman ini bisa diperberat, apalagi untuk bandar dan pengedar yang dikatakannya harus dihukum seberat-beratnya.

Hal sama juga disampaikan praktisi hukum Ferry Juan. Seharusnya Public figure atau artis layak dihukum berat asal sesuai dengan tingkat kesalahannya.”

Karenanya, dia menyesalkan hukuman ringan. “Apalagi, jika tersangka kasus narkoba dari kalangan artis itu, malah mengulangi perbuatannya untuk kedua kali,” jelas dia.

SETAHUN PENJARA
Pernyataan keras Ruhut dan Ferry berkaitan dengan hukuman setahun penjara terhadap Sheila Marcia oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara karena kasus shabu-shabu.

Hukuman ringan tersebut juga dinikmati Roy Marten, Imam S Arifin, Ahmad Albar, Zarima, dan Polo. Begitu juga Ibra Azhari, kasus pertamanya pada tahun 2001, meskipun divonis 1 tahun penjara oleh PN Jaksel, bintang film dari keluarga Azhari ini tak sempat masuk penjara karena dibebaskan sebelum vonis dijatuhkan.

Dia masuk penjara pada tahun 2003 setelah tertangkap lagi karena sebagai pengedar. Aktor ganteng itu divonis hukuman 15 tahun penjara.

Marcella Somasi Roy Suryo Karena Berhasil Mengangkat Kembali SMS dan Video Rekaman Penyiksaan Yang Telah Dihapus Marcella Dari Handphonenya

Marcella Zalianty (MZ) melalui pengacaranya, Minola Sebayang, mensomasi pakar telematika Roy Suryo. Somasi ini buntut dari aksi Roy membeberkan bukti-bukti di handphone (HP) kepada publik.

“Kami menolak seluruh kesaksian Roy Suryo dan kami tunggu 3x 24 jam, kalau dia tidak meminta maaf saya kami akan mensomasinya. Roy itu bersengkongkol dengan Agung, karena tadi dia (Roy, red) bilang sama saya pas malam Idul Adha ketemu dengan pengacara Agung, Malik Bawazier,” cetus Minola, Jumat (12/12).

Minola meyesalkan Roy memberikan pernyataan di tengah penyelidikan. “Ini benar-benar dia mengabaikan azas praduga tak bersalah,” cetusnya.

Menganggapi somasi itu, Roy Suryo mengemukakan itu (somasi) bukti ketidaksiapan pihak MZ terhadap bukti-bukti yang ada. “Biarkan saja kalau mau disomasi. Itu hanya reaksi ketidak siapan saja terhadap perkembangan teknologi yang bisa mengangkat file-file yang sudah dihapus. Saya bicara sesuai fakta,” ujarnya kepada Pos Kota.

Dalam waktu 2 jam, Roy menemukan 8 foto adegan penyekapan pada 3 Desember mulai pukul 02:35 hingga pukul 02:54 WIB, dari ponsel N 70 dan SE K550i milik karyawan MZ, H dan R yang jelas-jelas itu terbukti bentuk penganiyaan yang dialami Agung Setiawan. Selain itu, dirinya menemukan rangkaian SMS yang dimulai dari MZ, AM dan para eksekutor Agung.

“Foto-foto tersebut tidak pantas diceritakan. Soal SMS-SMS tersebut sudah ada 2 hari sebelum kejadian, bahkan setelah kejadian pun ada. Yang paling mencengangkan ada SMS dari MZ yang berbunyi ‘Bego kenapa Agung dikasih HP’. Untuk membuktikan semua ini perlu ahli bahasa,” ungkapnya.

BELUM DIPINDAH
Secara terpisah, Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Pol Ike Edwin mengatakan dari hasil penyidikan, telah mendapatkan bukti kuat berupa hasil foto HP yang telah dihapus tersangka. “Iya, sudah dibuka isi filenya dan bukti itu dapat dijadikan dalam penyidikan nantinya.”

Dia juga mengemukakan pemeriksaan terhadap Marcella belum tuntas. Karena itu, pihaknya belum dapat memindahkan Marcella ke Rutan Pondok Bambu. Bintang sinetron ‘Belahan Jiwa’ tersebut bersama Ananda Mikola masih berada di lantai 2 Reskrim Polres Jakarta Pusat.

Di tempat berbeda, adik Marcella, Olivia Zalianty, menemui Menpora Adyaksa Dault. Olivia menegaskan pertemuan itu bukan dimaksudkan untuk meminta dukungan menpora kepada Marcella.

Marcella Zalianty Akhirnya Dikirim Ke Penjara

Setelah diperiksa di kantor Kepolisian Resor Jakarta Pusat sejak Kamis pekan lalu, aktris Marcella Zalianty, yang menjadi tersangka kasus penganiayaan, akan dititipkan di Rumah Tahanan Wanita Pondok Bambu, Jakarta Timur.

“Belum pasti kapan, tapi akan dititipkan,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Pusat Komisaris Suwondo Nainggolan kemarin.

Marcela dititipkan di Pondok Bambu karena Polres tidak memiliki ruang tahanan khusus perempuan.

Meskipun sudah resmi ditahan, Marcella memang belum sempat mendekam dalam tahanan karena masih diperiksa polisi. “Ini semua untuk kepentingan penyidikan. Nanti, kalau tidak diperlukan lagi, akan kami titipkan. Kalau butuh, ya, kami jemput,” ujar Suwondo.

Sampai kemarin polisi telah menahan tujuh tersangka kasus penculikan dan penganiayaan terhadap Agung Setiawan. “Surat penahanan sudah ada,” kata Suwondo. Ketujuh tersangka itu adalah Marcella Zalianty, Ananda Mikola, tiga karyawan PT Kreasi Anak Bangsa, yaitu Ruli Hasbi, Yoga Mega Permana, dan M. Harianto, serta Egi (adik Marcella) dan Lasya (asisten pribadi Marcella). Suwondo enggan menerangkan lebih lanjut perihal keterlibatan para tersangka.

Agung adalah kontraktor yang diminta Marcella merombak kantornya pada Februari lalu. Tapi ia dianggap gagal memenuhi janji, sehingga ada sejumlah barang yang dikembalikan dan harus diganti dengan uang Rp 30 juta. Marcella menilai Agung tidak mau membayar utang sehingga terjadilah penganiayaan itu.

Pengacara Marcella menyatakan aktris dan produser film itu tidak pernah memerintahkan anak buahnya menyerang Agung. “Tidak ada instruksi penjemputan, karena Marcella baru minta pengecekan apakah Agung ada di Menara Imperium,” kata pengacaranya, Minola Sebayang.

Agung dicari-cari lantaran sudah dua bulan tidak bisa dihubungi. Karyawan yang disuruh mencari ternyata menemukan Agung di Menara Imperium. Sang karyawan lalu melaporkan penemuan Agung. Laporannya diterima via telepon oleh Lasya, asisten Marcella. Lasya meminta agar sang perancang interior tidak dibiarkan pergi.

Agung malam itu lalu dibawa ke Hotel Ibis Tamarin di Jakarta Pusat dan disiksa. “Tapi sebenarnya tidak ada perintah dari Marcella,” kata Minola.

Keesokan paginya, Agung baru dipertemukan dengan Marcella di kantornya. Di situlah terjadi pemukulan yang, menurut Agung kepada polisi, dilakukan Ananda Mikola.

Menurut Minola, karena disuruh melunasi utangnya, Agung kemudian menelepon ibu dan kakaknya. Minola membantah tuduhan soal penyekapan di kantor Marcella.

Pengacara Ananda Mikola, Heri Subagyo, juga membantah pengakuan Agung yang menyatakan bahwa kliennya ikut memukul dan menendang. Meski dua kali datang ke kantor Marcella, Ananda mengaku tidak menyentuh korban. YUDONO | ISTIQOMATUL HAYATI | SOFIAN | TITO SIANIPAR

Dari Selembar Kontrak…

Setelah filmnya, Lastri, dicekal Front Pembela Islam saat pengambilan gambar di Solo bulan lalu karena dianggap menyebarkan komunisme, aktris sekaligus produser Marcella Zalianty kini menjadi tersangka penganiayaan terhadap Agung Setiawan, kontraktor yang diorder mengerjakan interior kantornya. Marcella menilai Agung melakukan pelanggaran kontrak.

Kasus ini juga melibatkan pacarnya, pembalap Ananda Mikola; tiga karyawannya, Ruli Hasbi, Yoga Mega Permana, dan M. Harianto; adiknya, Egi; serta asisten pribadinya, Lasya.

Februari 2008
Marcella Zalianty meminta Agung Setiawan mengerjakan interior kantornya dengan kontrak senilai Rp 200 juta. Marcella ternyata tak puas dengan hasil kerja Agung.

22 September 2008
Di depan pengacara Juanda, SH, Agung dan Marcella meneken kontrak kesepakatan. Isinya, Agung siap mengembalikan Rp 30 juta lebih karena pembelian barang yang tidak sesuai pada 25 November 2008 dan 28 Desember 2008.

3 Desember 2008
Pukul 01.00 WIB, Agung, yang tengah berada di Menara Imperium, didatangi beberapa pria. Agung dalam keterangan kepada polisi mengatakan ia diculik lalu disekap di Hotel Ibis Tamarin, Jakarta Pusat, dan dianiaya.

Siang harinya, dari hotel, Agung dibawa ke kantor Marcella di Cikini, Jakarta. Agung mengaku dipukul oleh Ananda, disaksikan Moreno dan Marcella. Agung sempat mengirim SMS ke temannya, yang kemudian menghubungi pengacara dan polisi. Malam harinya, polisi memeriksa beberapa saksi.

4 Desember 2008
Ananda, Moreno, Marcella, dan tiga karyawannya diperiksa polisi. Mereka lalu ditetapkan sebagai tersangka, kecuali Moreno.

Marcella Zalianty Menonton Secara Langsung Lewat Bluetooth Penyiksaan, Penelanjangan, Pemerkosaan dan Minum Sperma Dari Korban Yang Ia Culik Hanya Karena Berhutang

Polisi masih memeriksa pembalap Ananda Mikola dan aktris Marcella Zalianty sampai tadi malam dalam kasus penculikan dan penganiayaan desainer interior Agung Setiawan. “Mereka sedang menjalani pemeriksaan tambahan,” kata Kepala Kepolisian Resor Jakarta Pusat Komisaris Besar Ike Edwin.

Keduanya bersama tiga orang lainnya sudah diperiksa lebih dari 24 jam sebagai tersangka. Ananda, 28 tahun, dan Marcella, 28 tahun, bersama tiga karyawan Marcella ditetapkan sebagai tersangka pada Kamis lalu. Tiga karyawan itu adalah M. Harianto, Yoga Mega Permana, dan Ruli Hasbi.

Tadi malam, dua lagi karyawan Marcella dijadikan tersangka. Ananda adalah putra bekas pembalap nasional Tinton Soeprapto. Moreno Soeprapto, adik kandung Ananda, sempat diperiksa sebagai saksi. Ananda dan tiga karyawan Marcella dijerat Pasal Pemaksaan Kehendak dan Penculikan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Marcella dituduh merampas kemerdekaan seseorang, menyandera, serta melakukan perbuatan tak menyenangkan.

Pengacara korban, Petrus Balla Pattyona, mengatakan mestinya polisi menahan para tersangka. “Semua unsur untuk segera menahan para pelaku sudah tercukupi,” katanya. Marcella dinilainya mengendalikan penculikan dan penganiayaan terhadap kliennya.

Menurut dia, ada bukti percakapan telepon antara Marcella dan para karyawannya itu. “Semua aktivitas anak buah Marcella dikoordinasikan dengan Marcella melalui hubungan telepon.” Bahkan gambar ketika Agung disiksa ditransfer via Bluetooth ke telepon seluler Marcella.

Polisi belum menerbitkan surat penahanan. Tapi seorang penyidik memberikan isyarat bahwa mereka bakal ditahan. “Mereka pulang nggak sekarang? Ini udah lewat jamnya (pemeriksaan sebagai tersangka),” kata penyidik kepada Tempo.

Pengacara Marcella, Minola Sebayang, dan Heri Subagyo, pengacara Ananda, menyatakan belum menerima surat penahanan klien mereka. “Kami terpikir mengajukan penangguhan penahanan,” ujar Heri kepada Tempo kemarin petang.

Minola menjelaskan, Hari, Yoga, dan Ruli memang karyawan Marcella. Kliennya tak pernah menyuruh mereka menganiaya Agung. Ketiganya “bertindak” karena kesal lantaran Agung memberikan alamat fiktif dalam kontrak. “Apalagi ketika tahu Agung sedang karaoke di Menara Imperium,” katanya.

Semua itu bermula dari kisah Agung yang berutang kepada PT Kreasi Anak Bangsa, yang dipimpin Marcella, sebesar Rp 54 juta. Utang ini muncul ketika ia menggarap interior kantor PT Kreasi di gedung Central Cikini Nomor 58 W-X, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat.

Diduga, gara-gara itulah ia “dijemput” karyawan Marcella dari Menara Imperium, Kuningan, lalu dianiaya dan diperlakukan tak senonoh di Hotel Ibis Tamarin, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, pada Rabu dinihari lalu. Agung mengaku dipukul, ditelanjangi, difoto, lalu duburnya dimasuki sendok. “Saya juga disuruh meminum sperma,” ucapnya dua hari lalu.

Tinton Soeprapto menyatakan Ananda tak berada di hotel tempat Agung dianiaya. “Kalau dia berniat mau berantem, tak mungkin pakai baju batik,” ujarnya.

Kemarin tim pengacara korban dan Ketua Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Usman Hamid menyerahkan bukti rekaman CCTV di Menara Imperium kepada Markas Besar Polri. “Kepala Bareskrim (Komisaris Jenderal Susno Duadji) berjanji mengawal kasus ini,” ucap Usman.

KURSUS KEPRIBADIAN MARCELLA ZALIANTY TIDAK MENGUBAH BANYAK TABIATNYA

Kasus penganiayaan yang menyeret Marcella Zalianty membuat produksi film layar perak berjudul Lastri terhambat. Apalagi belum ada kepastian kapan pemeriksaan oleh polisi bakal tuntas.

Posisi putri aktris senior Tety Liz Indriati tersebut memang menentukan karena ia adalah produser sekaligus pemeran utama film yang disutradarai Erros Djarot itu. “Agenda yang jelas terganggu adalah pembuatan film Lastri,” kata Sheila, manajer Marcella, ketika dihubungi di Jakarta kemarin.

Sebelumnya, pembuatan Lastri tersendat perizinan di Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah. Sheila pun sedang berembuk dengan tim produksi Lastri untuk mengantisipasi persoalan ini.

Marcella bersama kekasihnya, Ananda Mikola, dan tiga karyawan Marcella menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap Agung Setiawan. Marcella, kelahiran Jakarta, 7 Maret 1980, diancam pasal perampasan kemerdekaan seseorang, penyanderaan, serta perbuatan tak menyenangkan. Agung adalah bekas desainer interior kantor PT Kreasi Anak Bangsa di gedung Central Cikini Nomor 58 W-X, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, yang dipimpin Marcella.

Kasus itu dilatarbelakangi utang Agung kepada PT Kreasi sebesar Rp 54 juta. Agung melaporkan, ia “dijemput” karyawan Sheila, lalu dianiaya dan diperlakukan tak senonoh di Hotel Ibis Thamrin pada Selasa malam lalu. Esok harinya, Agung bertemu dengan Marcella dan Ananda di PT Kreasi.

Nama Marcella, putri pertama pasangan Gozali Amran-Tety Liz Indriati, melambung setelah sukses di dunia sinetron dan membintangi film, seperti Bintang Jatuh, Eliana Eliana, dan Brownies. Bahkan ia dianugerahi Pemeran Perempuan Terbaik oleh Festival Film Indonesia 2005 dalam film Brownies.

Ibunya beberapa kali membintangi film, di antaranya Barang Antik (1983), Hatiku Bukan Pualam (1985), dan Takdir Marina (1986). Olivia Zalianty, adik Marcella, juga aktris film dan sinetron. Tety pernah mengatakan sifat maskulin Marcella muncul ketika kecil sehingga ia mendaftarkannya ke kursus kepribadian dan perlombaan model tapi ternyata tidak banyak mengubah kepribadiannya.

ANANDA NIKOLA SANG PEMBALAP NASIONAL DARI HERO KE ZERO

Jika kasus hukum yang melilit Ananda Mikola tak juga selesai, pembalap Formula A1 itu terancam batal mengikuti 10 seri balap Super Star, yang mulai berlangsung pada Februari 2009. “Bisa saja batal,” kata Tinton Soeprapto, ayah Ananda, kepada Tempo kemarin. Super Star adalah arena bagi para pembalap yang tidak bisa mengikuti Formula 1 dan juga World Series.

Menurut Tinton, Ananda tak bisa diganti dalam ajang ini karena pesertanya harus memiliki lisensi A Eropa. Padahal dialah satu-satunya pembalap Indonesia yang memiliki lisensi itu. “Tidak ada yang bisa gantikan Nanda,” katanya.

Ananda Mikola Soeprapto–lahir di Jakarta, 27 April 1980–pertama kali mengikuti lomba balap pada 1993, ketika usianya baru 13 tahun, dengan kendaraan Honda V-Tech Grup N. Pembalap favoritnya adalah mendiang Ayrton Senna, juara dunia tiga kali Formula 1 asal Brasil.

Kata “Mikola” di belakang nama Ananda diadopsi dari nama pereli veteran dan mantan juara dunia Hannu Mikola. Tinton Soeprapto, yang pernah menjadi navigator Hannu Mikola dalam kejuaraan reli di Indonesia pada 1976, sangat terkesan dengan pembalap Finlandia itu sehingga memakai Mikola sebagai nama belakang Ananda.

Nanda–begitu Ananda Mikola biasa dipanggil–bercita-cita ingin tampil di Formula 1, arena balap paling bergengsi di dunia. Bakat balapnya sudah ia perlihatkan ketika masih kanak-kanak dan berkali-kali menjuarai lomba balap sepeda BMX pada 1986.

Ananda tampil di Formula 3.000 pada 1999 hingga 2001. Pada musim lomba 2005, dia menjuarai Asian F3. Ananda ikut membela tim A1 Indonesia di arena A1 GP selama dua musim, yaitu 2005/2006 dan 2006/2007. Pada 2008 ini, Indonesia diwakili Satrio Hermanto.

Di arena Speed Car–arena balap yang mirip balapan Nascar di Amerika–Ananda tampil di empat seri di Uni Emirat Arab, Bahrain, Indonesia, dan Malaysia. Lomba ini digelar pada akhir 2007 hingga pertengahan 2008. Di Sirkuit Sentul, Ananda menempati urutan ketiga. Juni lalu, Ananda berada di urutan ketiga Formula 3.000 di Italia.

“Saya bangga pada Ananda karena dia selalu memberikan prestasi buat saya,” kata Tinton. Entah kasus penculikan dan penganiayaan berat ini termasuk prestasi atau tidak menurut Tinton.

Pembalap Ananda Mikola dan Artis Marcella Zalianty Ditangkap Polisi Terkait Aksi Kekerasan dan Penganiayaan Berat

Ananda Mikola digelandang aparat Unit Resmob Polres Jakarta Pusat tadi malam. Pembalap nasional itu dikenai tuduhan mengotaki aksi kekerasan kawanan debt collector. Hingga menjelang tengah malam tadi, Ananda masih menjalani pemeriksaan di ruang penyidik Unit Resmob Polres Jakpus.

Berdasar informasi yang dihimpun Indo.Pos, korban yang bernama Agung Setiawan dibawa Nikola cs Selasa (2/12) sore dari sebuah kafe di Menara Imperium, Jalan Rasuna Said, Jaksel. Dari kafe itu, Agung digiring ke sebuah kamar di Hotel Ibis, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.

Di kamar hotel tersebut Agung sempat dianiaya. Bukan hanya itu. Di kamar hotel yang sama, Agung sempat dipaksa menari striptis sambil bugil. Bahkan, dia sempat dilempari uang oleh para pelaku layaknya artis cabul di luar negeri. Hampir 24 jam korban disekap di kamar hotel itu. ”Agung sudah dipukul saat dibawa dari kafe di Menara Imperium,” ujar sebuah sumber di Polres Jakpus.

Penjemputan paksa korban oleh para tersangka bukan tanpa alasan, justru melibatkan artis sinetron Marcella Zalianty. Kabarnya, korban berutang ratusan juta rupiah kepada Marcella, namun tak kunjung melunasi. Marcella yang memang berkawan dengan Ananda mengadukan hal itu. Lantas, Ananda menawarkan jasa baik untuk menagih ke korban dengan memanfaatkan empat orang kawannya sebagai debt collector. Tawaran Mikola itu pun disambut Marcella. Maka, meluncurlah keempat kawan Nikola untuk menagih utang dengan berbagai cara kepada korban.

Beruntung, saat korban menghadapi berbagai bentuk ”siksaan” pelaku di kamar Hotel Ibis, korban sempat mengirim pesan singkat melalui ponselnya ke ponsel rekannya yang bernama Chichi. Chichi cepat tanggap dan langsung melaporkan ke aparat Polres Jakpus. Polisi langsung bergerak. Tujuh personel resmob dikirim ke hotel tersebtu dan berhasil mengamankan korban berikut pelakunya ke Polres Jakpus.

Ironis. Berdasar keterangan keempat pelaku kepada penyidik, Ananda Mikola-lah yang menyuruh mereka menyekap dan menyiksa korban. Saat itu juga Ananda dicokok polisi dari hotel yang sama, namun berbeda kamar dengan lokasi kejadian.

Kasatreskrim Polres Jakpus Kompol Suwondo Naenggolan saat dihubungi mengatakan, tempat kejadian perkara (TKP) benar di Menara Imperium dan Hotel Ibis. ”Sekarang kami memeriksa keempat pelaku dan Ananda Mikola. Semua kami periksa secara terpisah agar dapat keterangan yang benar, sekaligus menentukan hubungan antara kejadian, pelaku, dan pembalap itu. Pokoknya semua masih kami dalami,” terangnya.

Senada dengan Kasatreskrim, Kapolres Jakpus Kombespol Ike Edwin sempat memberikan keterangan kepada wartawan bahwa pihaknya memang memeriksa Ananda. ”Sementara ini tuduhannya pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan dan pasal 351 KUHP tentang penganiayaan berat. Tapi, tunggu pemeriksaan penyidik selama 1 x 24 jam. Baru setelah itu kami tentukan tersangka. Soal keterkaitan artis Marcella, nanti kami panggil untuk diperiksa,” tuturnya.

Ayahanda Ananda, Tinton Suprapto, tadi malam sekitar pukul 20.00 sempat menengok anaknya selama satu jam. Namun, sayang, Tinton tak mau memberikan keterangan secuil pun kepada wartawan

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta