Category Archives: tabrak lari

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Televisi Indonesia Sebuah Industri Kejahatan

Berbagai berita kejahatan yang disajikan media, terutama televisi, dinilai mampu menginspirasi khalayak melakukan aksi-aksi kriminalitas.

Hal ini terbukti dari mutilasi yang dilakukan Sri Rumiyati (48). Perempuan yang akrab disapa Yati itu mengaku menirukan cara Very Idam Henyansyah (Ryan) dalam membunuh salah satu korbannya. Yati memotong mayat suaminya, Hendra, guna menghilangkan jejak.

Dalam catatan Litbang Kompas, sejak Januari hingga November 2008 terjadi 13 peristiwa pembunuhan mutilasi di Indonesia. Angka tertinggi untuk periode tahunan sejak kasus mutilasi muncul tahun 1967. Pada tahun 2007 terjadi tujuh peristiwa mutilasi (Kompas, 10/11/2008). Apakah tingginya kasus mutilasi merupakan akibat televisi gencar menayangkan kasus-kasus yang ditiru anggota masyarakat lainnya? Lebih mengerikan lagi, kejahatan telah menjadi industri tontonan yang dihadirkan televisi?

Tidak mudah menyimpulkan, berita kejahatan yang disajikan televisi berpengaruh langsung bagi khalayak. Ada tiga perspektif yang dapat dikemukakan. Pertama, media dipandang memiliki kekuatan penuh mendikte perilaku khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap pasif sehingga merespons begitu saja stimulus yang digelontorkan media. Situasi masyarakat yang penuh alienasi, isolasi, depresi, dan tingkat pengangguran tinggi merupakan lahan subur bagi media dalam menancapkan pesan-pesan kejahatan.

Kedua, media dipandang amat lemah untuk memengaruhi khalayak. Dalam kondisi ini, khalayak bisa bersikap aktif untuk menegosiasikan atau menolak pesan-pesan kejahatan yang disajikan media. Daya intelektualitas, level ekonomi, atau usia merupakan faktor determinan yang tidak dapat dikesampingkan.

Ketiga, media memiliki dampak terbatas bagi khalayak. Hal ini dapat terjadi karena media dipandang sebagai salah satu faktor, selain faktor-faktor lain, seperti kematangan psikologis, konteks sosial yang melingkupi individu-individu, dan daya selektivitas khalayak terhadap muatan media sehingga media bisa berpengaruh pada tingkat gagasan, sikap, atau perilaku.

Fenomena yang tidak boleh dianggap sepele adalah televisi terlalu permisif untuk menampilkan kasus-kasus kriminalitas. Adegan rekonstruksi yang secara rutin ditampilkan televisi telah menjadi tontonan keseharian. Industrialisasi kejahatan menjadi kian marak digulirkan televisi. Kejahatan dikemas secara masif dan berulang-ulang dalam ruang keluarga. Alasan utama yang menjadi dalih klise ialah tontonan kejahatan amat diminati khalayak. Hasrat penonton menjadi justifikasi yang tidak boleh disanggah. Rating, sharing, atau perhitungan komersial mengakibatkan kriminalitas mudah dikonsumsi.

Mistifikasi pasar

Ketika para pengelola televisi berdalih tingginya berita-berita kejahatan yang ditampilkan karena permintaan konsumen, maka terjadilah mistifikasi pasar. Artinya, pasar dianggap sebagai kekuatan penentu yang tidak dapat dibantah. Padahal, dalam pasar itu ada mekanisme penawaran dan permintaan. Selera pasar bisa diciptakan dan diarahkan. Pasar tontonan seolah berlangsung secara alami, padahal yang sebenarnya berlangsung di pasar kemungkinan dapat direkayasa.

Pasar mendorong jurnalisme berita kejahatan sekadar mengabdi kepentingan modal dan pelipatgandaan keuntungan. Kenyataan ini berlangsung konsisten karena, seperti dikatakan John H McManus (Market-Driven Journalism: Let the Citizen Beware?, 1994), pasar memiliki enam karakteristik, yaitu (1) kualitas dan nilai ditentukan konsumen ketimbang produsen atau pemerintah; (2) responsif terhadap konsumen; (3) koreksi diri karena pasar bersifat fleksibel; (4) motivasi konstan dari pelaku pasar untuk berkompetisi; (5) mengandalkan efisiensi; dan (6) konsumen bebas untuk menentukan pilihan.

Namun, nilai yang sering diabaikan pasar ialah moralitas. Pasar televisi tak pernah menggubris apakah tayangan berita kriminalitas berdampak buruk bagi khalayak. Doktrin utama pasar adalah semua tontonan dijual bagi konsumen. Apakah konsumen menjadi berperilaku jahat karena meniru adegan sadisme yang ditayangkan, para produsen tontonan tidak peduli. Bahkan, produsen cenderung menyalahkan khalayak yang dianggap tidak bisa bersikap kritis terhadap berita-berita kriminalitas. Itulah yang dalam bisnis dinamakan externalities, yakni kehancuran dan imoralitas sosial yang terjadi dianggap di luar tanggung jawab media. Televisi tidak pernah keliru karena konsumen sendiri yang dinilai tahu risikonya.

Dilanda anomi

Industrialisasi kejahatan yang dijalankan televisi secara potensial dan nyata mampu menciptakan inspirasi bagi aksi- aksi kejahatan berikutnya. Hal ini mudah dipicu saat masyarakat dilanda anomi, yakni situasi tanpa norma. Pada situasi anomi, tatanan komunitas dan sosial merosot, digantikan rasa keterasingan dan kekacauan. Dalam situasi anomi, terjadi penekanan berlebihan pada tujuan-tujuan hidup, tetapi cara-cara meraih tujuan itu tidak mampu disediakan secara mencukupi yang dikarenakan nilai-nilai kebaikan yang semuanya relatif seperti koruptor dihormati dan disegani. Salah satu kekuatan kunci yang terlibat dalam penanaman tujuan-tujuan hidup adalah media. Media pula yang mengajarkan bagaimana menjalankan kejahatan untuk meraih tujuan hidup itu (Yvonne Jewkes, Media and Crime, 2005).

Televisi berulang memberi contoh bagaimana cara menerabas hukum dapat digunakan untuk meraih tujuan hidup yang dianggap sukses. Meski itu dianggap tindak kejahatan, yang berarti pelanggaran terhadap hukum dan norma-norma, tetap saja diimitasi individu-individu tertentu. Sebab, mereka berpikir tiada cara lain yang lebih baik ketimbang beraksi sebagai kriminal. Di situlah televisi menanamkan perilaku kejahatan dan masyarakat melakukan pembelajaran. Mereka yang melakukan peniruan itu biasanya dari kelompok marjinal yang tidak punya akses untuk meraih tujuan hidup yang baik yang juga dikarenakan koruptor-koruptor yg duduk dipemerintahan.

Lazimnya, industri kejahatan yang diandalkan televisi adalah kasus-kasus kriminalitas jalanan yang melibatkan kaum pinggiran. Bukankah kejahatan jalanan mudah memancing sensasi karena melibatkan kekerasan fisik yang berdarah-darah? Klop dengan dogma industri kejahatan di televisi yang berbunyi: If it bleeds, it leads. Semakin berdarah-darah semakin meriah karena masyarakat yang dilanda anomi seperti Indonesia sangat haus darah seperti zaman romawi kuno.

Triyono Lukmantoro Dosen Sosiologi Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang

Polisi dan Tiga Mafia Iran Baku Tembak Dijalan Tol Merak, Dua Warga Tewas Tertembak

JAKARTA – Tiga mafia timur tengah yang mengaku berasal dari Iran dan Turki ditangkap saat melarikan diri di Jalan Tol Merak-Jakarta, Minggu (4/5) malam. Sempat terjadi pengejaran dan baku tembak sehingga seorang warga setempat tewas tertabrak mobil orang iran dan satu lainnya tewas terkena peluru nyasar.

Tiga warga iran itu bernama Bahran Mihrad Arsalam (16) dan Mansour (45), yang mengaku berasal dari Iran, serta Muhammad Abdullah Mustofa (45), warga negara Turki. Mereka ditangkap karena diduga menipu dengan menghipnotis korban.

Menurut informasi yang berhasil dihimpun, peristiwa itu berawal saat empat warga iran datang ke wilayah Kampung Laes, Desa Sukamaju, pada Minggu petang lalu. Itu merupakan kedua kali mereka datang ke kampung tersebut. Sebelumnya, pada tanggal 27 April mereka datang ke sebuah toko material milik Muhammad Darsa (38 ) untuk membeli tripleks Rp 50.000.

Mereka kemudian menyerahkan uang pecahan Rp 100.000 untuk membayar tripleks. Saat itu, Darsa memberikan uang kembali Rp 3 juta, bukan Rp 50.000. Darsa baru sadar sudah kehilangan uang Rp 3 juta setelah empat warga iran itu pergi. Warga menduga, orang iran itu menghipnotis Darsa sehingga rela menyerahkan uang Rp 3 juta.

Karena itulah, warga yang melihat empat warga iran itu kembali datang, marah dan mengamuk. Mereka melempari serta menghalangi laju mobil yang ditumpangi Bahran dan tiga kawannya. ”Mungkin karena panik, mereka langsung ngebut dan menabrak warga yang ada di jalan,” kata beberapa warga Sukamaju yang mendatangi markas Polres Serang kemarin.

Termasuk Ahmad Sarif, warga Carenang yang kebetulan tengah melintas di desa tersebut. Dia tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit, setelah ditabrak lari oleh komplotan penipu.

Meski sudah menabrak, warga negara iran itu terus melaju menuju pintu Tol Ciujung. Warga pun terus mengejar dengan menggunakan sejumlah sepeda motor. Melihat itu, beberapa petugas PJR Induk Tol Serang Timur ikut mengejar mobil Toyota Avanza orang iran itu.

Sempat terjadi tembak-menembak antara petugas PJR dan komplotan warga iran, yang juga membawa senjata api. Hingga akhirnya, laju mobil komplotan penipu itu terhenti di Kilometer 57 Jalan Tol Merak-Jakarta, tepatnya di daerah Kragilan, Serang. Keempat warga iran itu langsung berhamburan keluar mobil dan berlari ke semak-semak di tepi jalan tol.

Namun akhirnya, tiga dari empat kawanan orang yang diduga penipu itu tertangkap. Mereka dikeroyok massa, hingga seorang di antaranya, Mustofa, harus dirawat di RSUD Serang. Dalam peristiwa itu, seorang warga Kragilan bernama Asep Saefudin (25) juga terluka karena terkena peluru nyasar.

Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Serang, Ajun Komisaris M Nazly Harahap mengatakan, pihaknya masih memeriksa warga iran yang tertangkap.

Sepasang Suami Istri Pegawai Bank Tewas Ditabrak Mobil Sedan

JAKARTA – Sepasang suami istri (pasutri) tertabrak mobil sedan di Jalan Raya Pondok Benda, tak jauh dari perumahan Villa Dago, Pamulang, Banten, Senin (21/4) pagi.

Dalam peristiwa itu, Ny Siti Reli Nurlaeli,30, tewas di lokasi kejadian. Sedangkan suaminya Muklasin,33, mengalami luka-luka cukup parah dan dirawat di RS Fatmawati, Jakarta Selatan.

Peristiwa itu menurut Diar, 34 teman korban saat berada di RS Fatmawati, terjadi sekitar pukul 06.00. Ketika itu korban hendak mengantar istrinya, karyawati sebuah bank, ke stasiun KA Sudimara , Jombang, Ciputat.

Namun, saat sepeda motor Honda Supra X B 6577 PHO yang dikendarai pegawai Litbank Departeman Agama itu melintas di lokasi kejadian tiba-tiba ditabrak dari belakang oleh sebuah sedan.

Seketika pasutri warga Komplek Griya Jakarta, Pamulang, itu terpental dari motornya. “Istri korban tewas di lokasi kejadian karena kepalanya mengalami pendarahan, sedangkan suaminya mengalami luka-luka dan harus menjalani perawatan di RS Fatmawati,” tutur Diar Sunyono.

Potongan Tubuh Korban Tabrak Lari Berceceran Dijalan Tol

JAKARTA – Bapak dua anak tewas mengenaskan diseruduk mobil yang melintas cepat di jalan tol Wiyoto Wiyono Km. 00.800 arah Cawang-Tanjung Priok, Jakarta Timur, Senin (17/3) pagi.

Akibat kecelakaan itu, tubuh Tatang Sulaiman, 46, warga Kp. Paledang Kaler RT 035/012 Cibolang, Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat, hancur hingga berserakan di jalan tol.

Saat ditemukan oleh petugas patroli jalan tol, AKP Sungkono, pada pukul 07:00, kedua tangan dan kaki karyawan PT Sri Tokai Indonesia di kawasan Pulogadung, Jakarta Utara, itu terpisah dari badannya.

Menurut keterangan yang diperoleh Pos Kota, Tatang saat itu baru saja pulang dari kampungnya di Sukabumi dan hendak menuju ke tempat kerjanya.

“Korban setiap dua minggu sekali memang mengunjungi anak dan istrinya di Sukabumi,” terang Kusnadi,43, adik kandung korban, saat ditemui di RSCM.

DIJEMPUT CARRY HITAM
Kusnadi mengaku tidak memiliki firasat apa-apa atas kepergian kakaknya tersebut. Sedangkan Irma, 20, putri sulung korban, mengatakan ayahnya yang telah bekerja selama 18 tahun di perusahaan furnitur itu berangkat dari Sukabumi pukul 04:00.

Tidak seperti biasanya, ayahnya ketika berangkat tidak menggunakan bus umum karena dijemput oleh seseorang menggunakan Suzuki Carry Hitam. “Tetapi saya tidak mengetahui dengan siapa orangnya,” ucapnya dengan nada sedih.

Sementara itu Kanit Laka Lantas Satwil Lantas Polres Metro Jakarta Timur, Iptu Nengah Adiputra,menduga Tatang tewas akibat tabrak lari. “Dari tempat kejadian kami menemukan sebuah kaca spion yang akan kita jadikan barang bukti,” katanya.