Category Archives: psikopat

Pemerkosa Berantai Khusus Penyanyi Dangdut Beraksi Kembali dan Tinggalkan Korban Dalam Keadaan Telanjang Bulat

Aksi bejat dan sadis terjadi di Semarang. Seorang pedangdut jadi korbannya. Ia diperkosa di hutan dan ditinggalkan dalam keadaan telanjang bulat. Si pelaku menggunakan masker. Siapa dia?

Korban yang berusia 20 tahun itu mengenal pelaku melalui Facebook pertengahan Oktober 2013 lalu. Keduanya berkomunikasi melalui telepon soal job dan honor untuk acara pernikahan di Tembalang Kota Semarang. Setelah deal, mereka janjian di RSUD Ungaran Kabupaten Semarang, Kamis (31/10) sekitar pukul 19.00 WIB.

“Motor korban dititipkan di RS, lalu diboncengkan pelaku ke lokasi acara,” kata Sekretaris DPC Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) Kabupaten Semarang Eko Budi Santosa melalui telepon kepada detikcom, Kamis (7/11) kemarin.

Korban tidak langsung ke lokasi acara, melainkan diajak berkeliling di kawasan Tembalang hingga pukul 22.00 WIB. Karena kawasan tersebut cukup ramai dan banyak permukiman, korban fine-fine saja. Lama-kelamaan motor menjauh dari keramaian dan sampai di kawasan Rowosari, Tembalang. Perbatasan Kabupaten dan Kota Semrang ini cukup sepi. Antarpermukiman dipisahkan perbukitan dan hutan.

“Pelaku menghentikan motor dan mengancam korban dengan senjata tajam. Di situ kejadiannya,” ungkap Budi.

Korban yang berasal dari Kabupaten Semarang ini disuruh melepas semua pakaiannya sampai telanjang. Mulut dan tangannya diikat lakban. Kemudian pelaku memerkosa dan menyodomi korban berulang kali hingga subuh.

“Pakaian, uang Rp 3 juta, dua handphone, satu BlackBerry, dan tas dibawa lari pelaku,” sambung Budi

Korban ditinggalkan dalam keadaan telanjang dan terikat di tengah hutan. Setelah berhasil melepaskan ikatan, ia berlari sejauh 2 km dengan kondisi telanjang bulat ke permukiman Ungaran Timur Kabupaten Semarang.

“Ditolong warga Ungaran (Kabupaten Semarang). Warga melaporkan ke polisi,” kata Budi

Lokasi kejadian masuk wilayah Tembalang Kota Semarang. Karena itu, Polres Semarang yang menerima laporan warga, meneruskan ke Polsek Tembalang. Kapolsek Tembalang AKP Wahyu Broto Narsono Adhi mengaku sudah menerima pelimpahan kasus tersebut. Namun ia belum bisa berkomentar banyak.

“Sudah kami terima pelimpahan kasusnya dari Polres Semarang,” kata Wahyu saat dikonfirmasi.

Informasi dari PAMMI, peristiwa serupa dialami oleh penyanyi asal Kendal seminggu sebelumnya. Ia diperkosa di Penggaron, Kabupaten Semarang. Ciri-ciri pelaku mirip. “Belum tahu apakah modusnya sama atau tidak,” tandas Kapolsek yang mengaku sudah mendengar informasi kasus tersebut.

Siapa pelakunya? Eko Budi Santosa menjelaskan, kepada korban, pelaku mengaku bernama Lilik. Ciri-cirinya badan tidak terlalu tinggi, agak gemuk, rambut pendek ikal, kulit putih, dan memakai motor Yamaha Jupiter.

“Sejak bertemu dan melakukan pemerkosaan pria itu pakai masker terus,” jelas Budi sambil menjelaskan saat ini korban shock berat karena ditinggal dalam keadaan telanjang dan meminta polisi menangkap pria sadis tersebut.

Horee … Anak Umur 12 Tahun Sodomi 3 Orang dan Perkosa 1 Perempuan Tidak Dipidana

Seorang bocah di Yogyakarta dihukum mengikuti pelatihan kerja hingga usia 18 tahun di LP Anak, Purworejo. Dia dihukum karena telah menyodomi 3 temannnya dan seorang perempuan yang berusia sebaya.

“Saya juga pernah disodomi,” kata terdakwa dalam buku ‘Kumpulan Putusan Pidana Khusus’ halaman 13 cetakan pertama yang diterbitkan MA, Senin (2/9/2013).

Pengakuan ini disampaikan di depan hakim tunggal Pengadilan Negeri (PN Sleman) Suratno. Orang yang menyodomi tersebut kini telah menjalani hukuman penjara dengan berkas terpisah.

“Saya sering dilihatin video porno oleh dia sehingga saya timbul nafsu untuk melakukan hal yang sama seperti dalam video itu,” tutur terdakwa.

Terdakwa merupakan anak dari keluarga miskin, ayahnya sopir dan ibunya buruh cuci baju. Sepanjang siang, terdakwa tidak mendapat perhatian dari orang tuanya karena keduanya sibuk mencari nafkah. Kedua orang tua telah meminta maaf kepada seluruh korban atas ulah anaknya itu dan sanggup mendidik anaknya kembali.

Bocah yang belum genap berusia 12 tahun itu memperkosa anak perempuan teman sepermainan pada 14 September 2011. Ulah cabul ini diulangi lagi pada awal Agustus 2011 hingga September 2011.

Atas perbuatannya, jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sleman menuntut agar si anak mengikuti pendidikan, pembinaan dan latihan kerja di LP Anak Kutoarjo sampai usianya 18 tahun. Tuntutan ini dikabulkan PN Sleman pada 29 Mei 2011 oleh hakim tunggal Suratno dan dikuatkan hingga tingkat kasasi.

“Putusan PN Sleman dan PT Yogyakarta sudah mencerminkan asas for the best interest of the child yaitu demi kepentingan anak maka terdakwa tidak perlu menjalani pidana penjara,” putus majelis kasasi yang diketuai Prof Dr Komariah Emong Sapardjaja dengan anggota Suhadi dan Sri Murwahyuni.

MA berpendapat pidana penjara bukanlah tempat yang tepat bagi anak karena anak masih dapat diperbaiki melalui sistem pembinaan yang tepat.

“Pembinaan anak sebagai anak negara hanya sampai 18 tahun adalah cara yang paling tepat untuk menghindari efek negatif pemenjaraan, lebih-lebih apabila bercampur dengan narapidana orang dewasa,” demikian pertimbangan MA pada 28 November 2012.

Meski menyodomi 3 anak lelaki dan memperkosa seorang anak perempuan, seorang bocah lolos dari hukuman penjara. Mahkamah Agung (MA) menilai penjara tidak perlu dijalani karena asas for the best interest of the child.

Kasus ini bermula saat seorang bocah yang belum genap berusia 12 tahun dimejahijaukan dengan dakwaan memperkosa seorang anak perempuan usai bermain kuda lumping bersama. Anak perempuan yang belum 12 tahun itu disuruh berpura-pura kesurupan dan disembuhkan oleh bocah tersebut pada 14 September 2011.

Namun dalam permainan itu, bocah itu memperkosa si anak perempuan di rumah bocah laki-laki itu.

Ulah cabul ini diulangi lagi pada awal Agustus 2011 dengan korban teman lelaki yang berusia sebaya. Berturut-turut hal ini diulang kepada teman lainnya pada akhir Agustus 2011 dan September 2011. Semua dilakukan di rumah si bocah.

Atas perbuatannya, jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sleman menuntut agar si anak mengikuti pendidikan, pembinaan dan latihan kerja di LP Anak Kutoarjo sampai usianya 18 tahun. Tuntutan ini dikabulkan PN Sleman pada 29 Mei 2011 oleh hakim tunggal Suratno.

Atas vonis ini terdakwa keberatan dan mengajukan banding namun ditolak. Pengadilan Tinggi (PT) Yogyakarta menguatkan vonis PN Sleman pada 29 Juni 2012. Atas vonis ini, terdakwa yang ingin bebas tetap melakukan perlawanan hukum dan lagi-lagi kandas. Sebab Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan kasasi itu.

“Putusan PN Sleman dan PT Yogyakarta sudah mencerminkan asas for the best interest of the child yaitu demi kepentingan anak maka Terdakwa tidak perlu menjalani pidana penjara,” putus MA dalam buku ‘Kumpulan Putusan Pidana Khusus’ halaman 46 cetakan pertama yang diterbitkan MA, Senin (2/9/2013).

Majelis kasasi yang diketuai Prof Dr Komariah Emong Sapardjaja dengan anggota Suhadi dan Sri Murwahyuni ini juga berpendapat pidana penjara bukanlah tempat yang tepat bagi anak karena anak masih dapat diperbaiki melalui sistem pembinaan yang tepat.

“Pembinaan anak sebagai anak negara hanya sampai 18 tahun adalah cara yang paling tepat untuk menghindari efek negatif pemenjaraan, lebih-lebih apabila bercampur dengan narapidana orang dewasa,” demikian pertimbangan MA pada 28 November 2012.

6 Pemuda Sehabis Mabuk dan Nonton Film Porno Perkosa Anak Tetangga Umur 8 Tahun Yang Lewat Didepan Rumah Lalu Dibunuh

Gadis cilik Im ,8, yang ditemukan tewas di semak belukar ternyata diperkosa secara bergilir lalu dibunuh dengan cara perutnya ditusuk senjata tajam dan bekas luka cekikan. Ini terungkap setelah lima dari enam tersangka ditangkap . Kelima tersangka itu PI ,20, RI ,17, R,20, C ,25, dan W ,17,

Menurut Kapolres Lampung Selatan, AKBP. Tatar Nugroho, pada Senin (15/10) pembunuhan terhadap Im terbilang sangat sadis. Bocah kelas I SD ini diperkosa enam pelaku. “Pelaku juga membuang baju bocah ini jauh dari lokasi ditemukan mayatnya,” ujar Tatar.

Tersangka akan dijerat dengan pasal berlapis yakni pembunuhan, pemerkosaan dan tentang perlindungan anak. UU RI No.23/2002 tentang perlindungan anak pasal 81 dan 340 KUHP dengan ancaman minimal 10 tahun.

Pengakuan pelaku mereka sebelumnya minum-minuman keras lalu bersama-sama menonton film porno. Saat itulah bocah malang yang pulang dari sekolah melintas di tidak jauh dari depan mereka yang langsung mereka gendong ke semak-semak lalu digilir. Mereka menusuk Imel karena terus menangis lalu dicekik hingga tewas. Setelah tewas tubuh Imel yang sudah tidak pakai baju ditutupi daun-daun pisang.

Terungkapnya kasus pembunuhan ini setelah melakukan olah TKP dan keterangan beberapa orang saksi yang melihat pelaku yang masih tetangga korban dalam keadaan mabuk menceritakan aksi bejat mereka. Celoteh mabuk mereka terdengar oleh salah seorang warga yang melintas sehingga saat dipemeriksa mereka mengakui menggilir Imel dan membunuhnya untuk menghilangkan jejak perbuatan bejat mereka.

Kedua orang tua Im meminta agar pelaku dihukum seberat-beratnya.
Sebelumnya diberitakan, diduga diperkosa lalu dibunuh, mayat gadis cilik Im ,8, warga Kalianda, Lampung Selatan, ditemukan warga hanya mengenakan rok sekolah di semak belukar areal perbukitan, wilayah Kelurahan Kalianda, Keacamatan Kalaianda, Lampung Selatan, pada Kamis (11/10) sekitar pukul 07.30 WIB.

Diduga diperkosa lalu dibunuh, mayat Imel ,8, warga Kalianda, Lampung Selatan, ditemukan warga pada Kamis (11/10) sekitar pukul 07.30 WIB. Imel ditemukan hanya mengenakan rok sekolah warna merah dan tidak mengenakan baju dan telah membusuk di semak belukar areal perbukitan, wilayah Kelurahan Kalianda, Keacamatan Kalaianda, Lampung Selatan.

Kepanikan warga sekitar pecah setelah mendengar informasi penemuan mayat gadis cilik di areal perbukitan Kebun Way Curup pagi itu. Tanpa dikomandoi mereka berbondong-bondong melihat mayat tersebut. Saat ditemukan kondisinya sudah membusuk dengan posisi terlentang mengenakan celana pendek warna merah dan rok sekolah warna merah dan tanpa baju.
Menurut Fikri ,30, warga Kalianda, mayat itu temukan bermula saat dia mencari rumput di kebun yang jaraknya 200 meter dari pemukiman.

Bau tak sedap membuat dia berhenti mengarit rumput dan mencari sumbernya. “Sebelumnya saya mengira bau itu dari hewan yang mati . Tetapi setelah diketemukan ternyata mayat gadis cilik yang telah membusuk,” kata Fikri.
Sontak Fikri lari ke kelurahan dan melaporkan hal itu ke aparat . Pihak kelurahan bersama warga datang ke lokasi, dan melaporkannya ke polisi .

Menurut keterangan, Amel , 8, merupakan putri pasangan Rali ,45, dan Darmini ,37, warga Kalianda Bawah,yang sudah 4 hari menghilang. Diduga sebelum dibunuh korban diperkosa terlebih dahulu, karena 5 meter dari jenazah ditemukan pakaian gadis cilik itu, lanjut Fikri.

Kapolres Lampung Selatan, AKBP. Tatar Nugroho membenarkan adanya laporan penemuan mayat bocah kecil siswa SD yang sudah membusuk. “Kami langsung olah TKP dan akan melakukan penyelidikan terhadap pelaku yang tega melakukan perbuatan sadis ini,” ujarnya.

Berdasarkan hasil visum Rumah Sakit Kalianda korban diperkosa dulu lalu dibunuh karena ditemukan luka di kemaluan dan bekas jeratan tali di leher korban. Mayatnya dibuang di semak belukar oleh pelaku dan ditutupi daun-daun pisang yang ada di lokasi kejadian.

Orang tua korban yang datang ke rumah sakit terlihat shock. “Saya sudah lapor polisi sejak anak saya hilang sepulang dari sekolah. Tapi sekarang saya tidak menyangka kalau nasib anak saya bisa seperti ini,” kata orang tua korban.

Mahasiswi Asal Jerman Diperkosa di Karo Sumatera Utara Oleh Tukang Becak

Wanita Warga Negara Jerman diperkosa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.Sarah Walter,22, mahasiswi yang saat ini tugas belajar di ITB Bandung, diperkosa dan dirampok pengemudi becak Jamirto Tambunan, 29, penduduk Desa Situnggaling, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo.

Pengakuan Sarah kepada wartawan, Kamis (22/11), ia tinggal di Jalan Tubagus Ismail, Bandung. Sementara keluarganya tinggal Germani C 2 V RPTJV 8.0A.90 dan Home Adres Imbaoh Garten 9 5676.Brachten Dorf Germani.

Kejadiannya kemarin petang, saat ia bermaksud mengunjungi tempat wisata Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. “Saya seorang diri dengan berjalan kaki mengunjungi lokasi wisata itu,”katanya. Di perjalanan, lanjut Sarah, tiba-tiba hujan turun, dan ia berteduh sejenak. Usai hujan reda, Sarah melanjutkan perjalanannya ke Desa Tongging. Dalam perjalanannya itu Sarah sempat nyasar ke arah Sipiso-piso. Merasa jalan yang dilaluinya tersesat dan tidak sesuai dengan peta yang dibawanya, ia pun balik menelusuri jalan tersebut.

Saat berjalan, tiba-tiba datang dari arah belakang becak yang di kemudikan Jamirto. Dan Sarahpun menumpang becak menuju Desa Tongging. Setengah jam setelah sampai di Tongging, korban pulang kembali dengan menumpangi becak tersebut.
Di perjalanan tersangka tiba-tiba menghentikan becaknya dan menarik korban ke tengah semak belukar. Karena merasa heran tak ada kata-kata yang dimengerti, Sarahpun melawan dan berteriak minta tolong.

Mendengar teriakan Sarah, membuat tersangka semakin berutal. Karena meronta korban dipukuli oleh tersangka. Melihat kebringasan tersangka dan merasa dirinya tak berdaya lagi untuk melawan, akhirnya korbanpun pasrah menerima perlakuan tersangka.

Korban masih sempat menyarankan supaya tersangka mengambil kondom di dalam tasnya untuk dipakaikan tersangka. Saran wanita bule itupun dituruti tersangka. Tidak puas hanya memperkosa, selanjutnya dengan paksa mengambil uang milik korban Rp. 1.300.000,- dari dalam tasnya. Usai melakukan aksinya itu, si pelakupun kabur bersama becanya.
Aparat Polres Karo yang menerima laporan korban langsung melakukan penyelidikan dan meringkus tersangka Jamirto di kediamannya Desa Situnggaling, Kamis dinihari.

Kapolres Karo AKBP Marcelino Sampouw, melalui Kasat Reskrim AKP Hary Azhar SH SIK, membenarkan kejadian itu dan pelakunya berhasil diringkus.

Sumber berita:
http://www.poskotanews.com/2012/11/22/mahasiswi-asal-jerman-diperkosa-di-karo-sumut/
http://www.harianterbit.com/2012/11/23/mahasiswi-asal-jerman-dirampok-diperkosa/
http://harianandalas.com/Hukum-Kriminal/Mahasiswi-Asal-Jerman-Diperkosa-di-Tongging
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=268954:cewek-jerman-dirampok-dan-diperkosa&catid=15:sumut&Itemid=28

Ibu Hamil dan Anaknya Dibantai Kakak Beradik Supardan Irianto dan Achmad Suganda Karena Dendam

Pembunuhan yang menimpa ibu bernama Rika R. Damayanti (32) beserta anaknya, Benyamin Nataniel (8), diduga dipicu dendam. Dua orang karyawan yang diduga pelaku sempat terlibat cekcok dengan korban.

Umri (40), salah seorang warga yang biasa beraktifitas di sekitar Toko Kasur Murah Jaya Makmur di Jalan Jatinegara Barat, RT 01 RW 06 Bali Mester, Jatinegara, Jakarta Timur itu mengungkapkan, dua karyawan yang diduga sebagai pelaku baru bekerja selama tiga bulan.

“Tadi pagi mereka dipecat. Pemilik tokonya bilang, kamu kan sudah dipecat, ngapain lagi datang ke sini? Gitu,” ujarnya meniru pembicaraan karyawan yang diduga sebagai pelaku dengan korban saat ditemui, Kamis (15/11/2012).

Sekitar pukul 15.00 WIB, Umri baru mengetahui insiden pembunuhan tersebut dari tukang parkir setempat. Pemilik toko yang menjual karpet dan kasur atas nama Daniel itu datang dan mendapati tokonya dalam kondisi rolling door tertutup.

“Saya baru tahu ada kejadian pembunuhan itu juga jam 15.00 WIB, kondisi toko sudah ramai. Masalah karyawannya itu saya sudah enggak ngeh lagi deh,” lanjutnya.

Sementara, Senut (60), salah seorang warga lainnya mengatakan, pukul 15.15 WIB dirinya mendengar teriakan ‘pembunuh’ dari toko itu. Ia yang tengah berjualan di belakang toko pun mendatangi toko tersebut dan masuk ke dalam. Kedua korban ditemukan tewas dengan kondisi usus terburai akibat sabetan senjata tajam.

“Ditemukan di dalam WC dua-duanya. Saya yang ngeliat pertama kali karena enggak ada yang berani liat. Ibu menghadap kanan, anaknya menghadap kiri,” ujarnya.

Rika yang tengah mengandung empat bulan mengalami luka sabet senjata tajam jenis golok. Begitu juga dengan sang anak yang juga mengalami luka sabet senjata tajam di perut, lengan, dan luka memar di wajah.

Berdasarkan informasi di lapangan, dua orang karyawan itu berinisial S dan AS. Keduanya diketahui adalah kakak beradik yang bekerja di toko tersebut. Keduanya pun diketahui telah menghilang dari indekost pelaku di bilangan Kampung Melayu atau pun lokasi kejadian.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Timur, AKBP M. Soleh membenarkan pelaku adalah kedua karyawannya. Kini, pihaknya tengah melakukan penyelidikan. “Pelaku sudah kami identifikasi, mereka sedang kami buru,” ujarnya.

Seorang ibu yang dibunuh di toko miliknya di Jalan Jatinegara Barat, Jatinegara, tewas dalam kondisi tengah mengandung empat bulan. Selain korban dan janinnya, anak korban juga tewas dibunuh di toko tersebut.

Korban bernama Rika Rahma Damayanti (32) dan putra kandungnya Benyamin Nataniel (8) ditemukan tewas bersimbah darah di kamar mandi toko karpet dan kasur Murah Jaya Makmur, Kamis (15/11/2012) sore. Mereka ditusuk di bagian perut dengan senjata tajam yang digunakan pelaku.

“Ibunya lagi hamil empat bulan. Tangan sama perutnya disabet pakai golok. Saya sempat lihat korban soalnya,” ujar Winson (46), salah seorang warga setempat, Kamis (15/11/2012).

Berdasarkan informasi dari petugas Polres Jakarta Timur, kedua korban ditemukan pertama kali oleh suami Rika bernama Daniel sekitar pukul 15.15 WIB di dalam kamar mandi lantai satu toko mereka. Kondisi fisik korban mengenaskan. Rika yang tengah mengandung empat bulan mengalami luka sabet senjata tajam jenis golok. Begitu juga dengan sang anak yang juga mengalami luka sabet senjata tajam di perut, lengan dan luka memar di wajah.

Warga tak menyangka kedua korban tewas dengan cara yang mengenaskan. “Enci (Rika) sama engkohnya (Daniel) padahal baik-baik loh orangnya,” ujar Winson.

Saksi mengatakan, sebelum peristiwa tersebut, dua orang karyawan yang diduga pelaku tidak boleh masuk bekerja pada pagi harinya. Itu terjadi karena keduanya terlibat cekcok mulut dengan orang lain yang belum diketahui identitas dan persoalannya.

Hingga kini, belum diketahui kronologi lengkap pembunuhan tersebut. Kedua jenazah telah dibawa ke ruang jenazah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sekitar pukul 17.30 WIB. Sementara, lokasi kejadian telah diberi garis polisi.

Pembunuhan sadis yang menimpa seorang ibu hamil bernama Rika R Damayanti (32) dan anaknya, Benyamin Nataniel (8), menyingkap fakta baru. Selain membunuh, pelaku yang diduga karyawan korban dan berjumlah dua orang tersebut juga melakukan aksi perampokan.

“Saya kecewa, itu di televisi polisi ngomongnya dendam. Itu bukan dendam, itu perampokan. Masalahnya HP, duit, dan ATM anak saya hilang semua,” ujar Ali Suwandi, ayah Rika, kepada Kompas.com, Jumat (16/11/2012).

Ali menjelaskan, setelah insiden tersebut, harta anaknya yang hilang berupa uang sebesar Rp 1,5 juta, dua unit ponsel merek Samsung dan Flexi, serta dompet berisi KTP, ATM, dan dokumen penting lain. Menurut Ali, kedua karyawan berinisial S dan AS, yang diduga pelaku pembunuhan disertai perampokan itu, baru bekerja di toko anaknya selama tiga bulan terakhir. Dua pemuda tersebut direkrut dari mantan karyawan atas nama Alfian. Ali sangat menyesalkan kejadian berdarah yang merenggut cucu, anak, dan calon cucu yang tengah dikandung oleh Rika.

“Saya tanya Pian (Alfian), dia bilang dua orang itu baik, makanya saya percaya. Sekarang anak saya, cucu saya, sama janin yang ada di anak saya sudah enggak ada,” ujarnya.

Kini jenazah Rika dan Benyamin masih disemayamkan di Rumah Duka Santo Carolus, Salemba, Jakarta Pusat. Keluarga korban masih akan melakukan koordinasi terkait pemakaman korban, apakah dengan kremasi atau dikubur.

Rika dan putranya ditemukan tewas bersimbah darah di kamar mandi toko kasur dan karpet Murah Makmur Jaya, Jalan Jatinegara Barat, Nomor 39, RT 01 RW 06, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (15/11/2012) sore. Rika kena sabetan senjata tajam jenis golok di perut bagian kanan sehingga mengalami luka parah. Begitu juga dengan anaknya, yang mengalami luka sabet golok di perut, lengan, dan luka sobek di wajah.

Dua orang kakak beradik yang diduga melakukan pembunuhan terhadap majikannya di Jatinegara, Jakarta Timur, dikenal kerap berbuat onar. Salah satu perbuatan onar pelaku terjadi beberapa hari sebelum insiden pembunuhan, Kamis (16/11/2012) lalu.

Hasaniah (60), ibu angkat dua orang terduga pelaku mengungkapkan, beberapa hari sebelum insiden pembunuhan, kakak beradik yang baru bekerja selama tiga bulan di toko kasur dan karpet milik korban itu terlibat keributan dengan sesama penghuni indekos. Rumah indekos itu milik orangtua Rika R Damayanti, ibu hamil yang dibunuh oleh kedua pelaku berinisial SR dan AS tersebut.

“Si AS itu memang orangnya rusuh. Anak kos yang lain enggak suka karena mau tidur enggak bisa karena AS berisik,” ujar Hasaniah saat ditemui Kompas.com, Jumat (16/11/2012).

SR diketahui sebagai kakak, AS adalah adiknya. Kedua terduga tersangka menghuni indekos di Jalan Permata II, RT 02/RW 06, Kebon Pala, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, milik orangtua korban.

Ikut tersulut amarah atas keributan yang melibatkan adiknya AS, SR pun turun tangan. Ia mengambil golok dan mengancam para penghuni indekos. Keributan tersebut cepat berakhir karena penghuni lain di indekos itu mengalah kepada SR dan AS. Namun, karena kesal terhadap perilaku kedua kakak beradik perantauan itu, penghuni indekos mengadukan ulah mereka kepada Ali Suwandi, sang pemilik indekos. Kebetulan SR dan AS bekerja di toko milik anak Ali.

“Si SR sama AS diusir sama Koh Ali gara-gara kelakuannya kayak gitu. Anak-anak kostan lain bilangnya suka kehilangan barang juga,” kata Hasaniah.

Keputusan berisiko

Ali membenarkan bahwa ia sempat mengusir SR dan AS dari indekos. Atas kelakuan kakak beradik tersebut, Ali pun menyuruh Rika, anaknya, untuk menasihati SR dan AS. Namun, ia tak menyangka justru berujung pada insiden pembunuhan terhadap anak dan cucunya.

“Saya bilang, ‘Kamu enggak boleh tidur di sini lagi.’ Saya enggak ngeh kalau itu berisiko merenggut anak dan cucu saya,” ujar Ali sambil menangis, Jumat.

Kini jenazah Rika dan Benyamin masih disemayamkan di Rumah Duka Santo Carolus, Salemba, Jakarta Pusat. Keluarga korban masih akan melakukan koordinasi terkait pemakaman korban, apakah dengan kremasi atau dikubur.

Rika dan putranya ditemukan tewas bersimbah darah di kamar mandi toko kasur dan karpet Murah Jaya Makmur, Jalan Jatinegara Barat, Nomor 39, RT 01 RW 06, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (15/11/2012) sore. Rika kena sabetan senjata tajam jenis golok di perut bagian kanan sehingga mengalami luka parah. Begitu juga dengan anaknya, yang mengalami luka sabet golok di perut, lengan, dan luka sobek di wajah.

Pelaku pembunuhan terhadap Rika Ramadayanti (32) dan putranya, Benjamin Nataniel Septian (8), ternyata tak bisa berlama-lama lari dari perbuatan kejam mereka. Supardan Irianto alias Andi dan Achmad Suganda alias Anda berhasil ditangkap petugas reserse gabungan Polrestro Jakarta Timur dan Polsektro Jatinegara.

“Kedua pelaku ditangkap di daerah Kotabumi, Lampung Utara, sekitar pukul 16.30 WIB tadi,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto dalam pesan singkatnya, Jumat (16/11/2012) sore.

Kedua tersangka ditangkap tanpa perlawanan setelah sempat buron sejak melakukan aksi kejamnya, Kamis (15/11/2012) di Toko Kasur Murah Jaya Makmur di Jalan Jatinegara Barat, RT 01 RW 06 Bali Mester, Jatinegara, Jakarta Timur.

Kedua pelaku merupakan eks karyawan toko tersebut. Berdasarkan keterangan dari saksi mata, pelaku diduga sakit hati setelah dipecat dan diusir akibat sering membuat keributan.

Rika dan putranya ditemukan tewas dalam keadaan mengenaskan dengan usus terburai. Para korban ditemukan oleh Daniel, suami Rika sekaligus ayah Benjamin. Di hari kejadian, Daniel sedang keluar rumah untuk membeli makanan. Saat kembali, ia justru menemukan keluarganya telah tergeletak tak bernyawa.

Hingga berita ini diturunkan, kedua pelaku dan anggota reserse masih berada dalam perjalanan pulang dari Lampung menuju Jakarta.

Dua orang pelaku pembunuhan sadis terhadap ibu hamil bernama Rika R Damayanti dan putranya, Benyamin Nataniel, di Jatinegara, Jakarta Timur, akhirnya ditangkap oleh polisi, Jumat (16/11/2012). Keluarga korban menuntut pelaku dihukum berat sesuai undang-undang.

“Kalau saya bilang anak cucu saya mati, nyawa harus dibalas nyawa. Tapi kan enggak begitu caranya. Kita serahkan saja ke polisi,” ujar Ali Suwandi, ayah Rika, kepada Kompas.com, Jumat.

Ali mengutuk peristiwa pembunuhan tersebut. Ia kesal karena selain membunuh anak dan cucunya dengan sadis, pelaku juga mencuri sejumlah harta milik korban. Harta yang diambil oleh pelaku itu meliputi uang tunai sebesar Rp 1,5 juta, dua unit ponsel Samsung dan Flexi, serta dompet berisi KTP, ATM dan dokumen penting lain.

Ali tak menyangka jika pelaku yang merupakan karyawan toko milik korban berbuat sesadis itu. Sekitar tiga bulan lalu, Ali mencari orang untuk dipekerjakan sebagai karyawan di toko kasur dan karpet Murah Jaya Makmur milik Rika dan suaminya Daniel. Ali kemudian meminta bantuan kepada Alfian, mantan karyawannya, untuk mencari orang yang tepat. Alfian kemudian merekomendasikan SR dan AS.

“Saya nanya sama Pian (Alfian), ‘Mereka itu orangnya gimana?’ Dia bilang baik anaknya. Tapi saya bilang harus suka kerja karena sehari di toko cuma dikasih Rp 30.000,” kata Ali.

Akibat merekrut kedua pelaku itu, Ali merasa bersalah karena dituduh turut bertanggung jawab atas kematian anak dan cucunya. Ali pun menyesal karena kedua orang itu telah menjemput nyawa anak dan cucunya dengan cara begitu sadis.

Kini jenazah anak serta cucunya tersebut masih disemayamkan di Rumah Duka Santo Carolus, Salemba, Jakarta Pusat. Keluarga korban masih akan melakukan koordinasi terkait pemakaman korban, apakah dengan kremasi atau dikubur.

Rika dan putranya ditemukan tewas bersimbah darah di kamar mandi toko kasur dan karpet Murah Jaya Makmur, Jalan Jatinegara Barat Nomor 39, RT 01 RW 06, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (15/11/2012) sore. Rika kena sabetan senjata tajam jenis golok di perut bagian kanan sehingga mengalami luka parah. Begitu juga dengan anaknya, yang mengalami luka sabet golok di perut, lengan, dan luka sobek di wajah.

Dua orang tersangka yang sempat buron seharian tersebut ditangkap di Kotabumi, Lampung Utara, Jumat tadi sekitar pukul 16.30 WIB.

Oknum Polisi Bantul Diduga Memperkosa Dua Gadis Bergantian Di Pos Polisi Karena Tidak Memiliki SIM

Seorang oknum Polantas Polres Bantul diduga memerkosa dua gadis secara bergantian. Lebih bejat lagi, perbuatan tersebut dilakukan di pos penjagaan di bawah ancaman pistol.

Oknum anggota polisi lalu lintas (polantas) berisial Briptu SLS ini dilaporkan dua korbannya, yaitu Ew,25, warga Gunungkidul dan Len,16, warga Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Keduanya kos di Panggungharjo, Kecamatan Sewon. Pelaku bertugas di Pos Penjagaan Perempatan Druwo,Jalan Parangtritis,Bantul. Kapolres Bantul AKBP Dewi Hartati menegaskan bila anggotanya nanti terbukti melakukan tindak pemerkosaan tersebut, maka akan dikenakan sanksi tegas berupa pemecatan.

“Kalau terbukti bersalah, kepolisian tidak segan melakukan pemecatan kepada yang bersangkutan,” ungkap Kapolres kemarin. Setelah para korban melapor ke Polda DIY, lanjut dia, Briptu SLSlangsungditahandiMapolda guna pemeriksaan lebih lanjut. Kasus pemerkosaan sendiri pada Selasa (11/9) pukul 00.30 WIB. Sedangkan korban melaporkannya pada Kamis (13/9) lalu. Kejadian tersebut berawal sekitar satu bulan lalu saat keduanya yang berboncengan terjaring razia operasi lalu lintas.

Seperti para pengendara lainnya, korban dimintai surat-surat kelengkapansepedamotoroleh Briptu SLS.Namun, korban tidak bisa menunjukkan Surat Izin Mengemudi (SIM). Kemudian, kedua korban disuruh masuk ke dalam pos polisi dulu. Di dalam pos korban bukannya diberikan surat tilang, malah dimintai nomor telepon seluler (ponsel) dan langsung disuruh pergi.

Beberapa waktu kemudian, setiap kali kedua korban melintas di jalan itu Briptu SLS memintai uang kepada keduanya. Perbuatan ini dilakukan karena mengetahui mereka tidak memiliki SIM. Pada malam laknat itu, Selasa (11/9), Ew dan Len yang melintas di jalan tersebut dengan berboncengan langsung dihentikan oleh Briptu SLS.Pelaku mencabut kunci kontak motor. Terpaksa mereka mengikuti Briptu SLS masuk ke dalam pos penjagaan.

Saat itulah korban dipaksa untuk melayani nafsu bejat Briptu SLS di bawah ancaman pistol. Dikonfirmasi,kemarin pagi, Ew tidak mau mengatakan hal yang dialaminya secara detail. Hanya dia mengaku memang menjadi korban pemerkosaan. “Iya, saya (memang) menjadi korban pemerkosaan,”ucapnya. Sementara itu, kriminolog dari Universitas Janabadra, Hartanti menilai sejauh ini pembinaan di lingkup kepolisian sudah baik.

Namun, kejadian tersebut kembali menyebabkan nama baik kepolisian kembali disorot. Lebih lanjut dikatakan, latar belakang oknum tersebut juga berpengaruh terhadap aksi bejat yang diduga dilakukannya. Tindak pemerkosaan tersebut, kata dia,memang sudah sering dilakukan dan baru ketahuan sekarang,atau memang baru sekali dilakukan.

Namun Hartanti menambahkan, dalam kasus ini korban sendiri kurang berhati-hati.Yang perlu dipertanyakan adalah korban melintas di jalan tersebut pada malam hari.“Kadang (apa yang dilakukan korban) juga berpengaruh menimbul niat jahat (seseorang),”tambahnya. Terpisah, psikolog dari Universitas Sanata Dharma,Paulus Eddy mengungkapkan, kedua korban pasti akan merasakan trauma karena perilaku kekerasan seksual tersebut.

Untuk mengatasi trauma, saran dia, para korban membutuhkan peran pendamping agar bisa lebih cepat menerima kejadian itu. “Bebannya berat kalau sesuatu yang berharga seperti itu diambil secara paksa oleh orang lain.Korban akan merasakan stres, malu, mengasingkan diri,”pungkasnya.

Sungguh kelewat batas kelakukan Briptu Sl, anggota polisi Polres Bantul. Polisi yang seharusnya mengayomi masyarakat malah dilaporkan melakukan tindakan asusila memperkosa dua gadis. Parahnya lagi, Sl dilaporkan memperkosa di dalam pos lalu lintas.

Pada laporan dua korban ke Mapolda DIY, kelakukan bejat oknum polisi itu dilakukan di dalam pos lalu lintas, Druwo, Jalan Parangtritis, Bantul, Selasa (11/9) sekitar pukul 03.00 dini hari.

Namun kedua korban Ew (25) dan (16) Yogya, baru melaporkan kejadian itu pada Jumat (14/9). Keduanya mengaku telah dipaksa melayani nafsu Sl sembari diancaman menggunakan pistol. Laporan itu masih diproses di kepolisian.

Belum selesai kasus itu, nasib apes menimpa Ew, Minggu (16/9) siang, EW mengaku sedang berada di Mapolda DIY guna melaporkan kendaraannya yang hilang. “Saya di Polda, Motor saya hilang,”ujarnya singkat kemudian menutup pembicaraan.

Perlu diketahui, laporan kasus perkosaan oleh Briptu Sl itu bermula ketika sekitar satu bulan yang lalu saat keduanya berboncengan sepeda motor, terjaring operasi lalu lintas.

Kedua korban kemudian diminta menunjukkan surat-surat oleh Briptu Sl namun hanya bisa menunjukkan STNK karena korban Ew tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Baik Ew maupun Len kemudian digiring ke Poslantas Druwo. Namun anehnya, oknum polisi itu hanya meminta nomor telepon seluler (ponsel) Ew dan kemudian mengembalikan STNK korban. Keduanya pun juga disuruh pulang oleh pelaku.

Beberapa waktu kemudian, pelaku selalu memeras korban saat melewati perempatan Druwo saat hendak pulang di tempat kosnya yang terletak di daerah Panggungharjo, Sewon Bantul.

Perbuatan ini dilakukan pelaku karena mengetahui jika korban tidak memiliki SIM. Pelaku selalu meminta uang dengan paksa kepada korban dengan cara menghentikan kendaraan korban dan langsung membuka jok dan isi dompet setiap korban melewati Poslantas itu. Kejadian pemerasan ini telah berlangsung berulang kali.

Namun pada 11 September 2012, saat korban Ew berboncengan sepeda motor dengan Len, Briptu Sl langsung menghentikan kedua korban dan mencabut kunci kontak motor saat keduanya melewati Tempat Kejadian Perkara (TKP) atau tepat di depan traffic light perempatan Druwo.

Karena kunci kontak dicabut, kedua korban yang saat itu lewat sekitar pukul 00.30 WIB dini hari, terpaksa mengikuti pelaku yang saat itu memasuki Poslantas Druwo lewat pintu belakang.

Sesudah keduanya memasuki ruangan Poslantas, Briptu Sl kemudian mencabut pistol miliknya sembari mengancam kedua korban. Korban lalu ditelanjangi satu persatu dan dipaksa untuk melayani pelaku secara bergiliran.

Selain itu, pelaku juga melempar kursi kepada korban Len yang sempat menolak melayani dirinya. Setelah puas melampiaskan nafsunya, pelaku kemudian membentak-bentak kedua korban dan menyuruh dengan kata-kata kasar agar keduanya pulang sembari melontarkan ancaman agar korban tidak membuka mulut.

“Kejadian itu benar, dia Dia mengancam akan menembak jika kami berteriak,”kata Ew saat melapor.

Menanggapi kasus tersebut, Kapolres Bantul AKBP Dewi Hartati, berjanji akan memberikan sanksi tegas berupa pemecatan bagi kedua anggotanya bila nanti terbukti melakukan tindak pidana.

“Saya tak tebang pilih, sesuai aturanlah, bila memang terbukti faktanya ada anggota terlibat tindak pidanan maka akan saya pecat,” ujarnya ketika dikonfirmasi Tribun via telepon selulernya, Minggu (16/9/2012).

Latar Belakang Keluarga dan Perkawinan Korban Pembunuhan Kakak Beradik Di Surabaya

Bagaimanakah sosok Sunarsih kakak kandung Supiati yang juga menjadi korban pembunuhan yang diduga dilakukan Warja Suwatman Mandala Putra alias Jaja suami Sunarsih. Dari keterangan keluarganya, Sunarsih dan Barja jahat dan berbalik dengan Supiati yang dikenal baik hati. “Supiati itu baik. Kalau Sunarsih dan suaminya Jaja itu jahat,” ujar kakak korban beda bapak, Saguni saat bincang-bincang dengan detiksurabaya.com di rumahnya, Senin (13/8/2012).

Sunarsih setelah lulus sekolah di Surabaya sudah merantau ke daerah Jakarta. Kemudian, ia menikah dengan seorang laki-laki. Sayangnya, pernikahan pertamanya yang barus berusia sebulan sudah pecaha dan keduanya bercerai. Dari suami pertamanya, Sunarsih mempunyai 1 anak. Namun, usianya juga tak berumur panjang.

Kemudian, Sunarsih (46) sering berkunjung ke Surabaya dengan seorang laki-laki yang usianya lebih muda yakni Warja alias Jaja (25) asal Subang Jawa Barat. “Sunarsih sering tinggal di sini sama Jaja. Sunarsih bisanya mengenalkan ke warga kalau Jajaj itu suaminya,” tuturnya. Sayangnya, meskipun keduanya menempati rumah adiknya di Simo Prona Jaya, keduanya nampaknya seperti menjadi tuannya. Bahkan, Jaja pernah melempar cangkir ke Supiati hingga lari meminta perlindungan ke keluarga Saguni. Saguni pun sempat akan bertengkar dengan Jaja, namun dihalau oleh Marnikem.

“Kalau keduanya nggak ada, Supiati mau berkunjung ke rumah kami. Tapi kalau sudah ada 2 orang itu, nggak berani ke sini, takut dimarahinya,” ujarnya. Memang kalau sama tetangga, keduanya baik. Tapi kalau sama keluarga kita, ibaratnya air dengan minyak, nggak akan nempel. “Kalau sama tetangga bisa tersenyum. Kalau sama keluarga kami, ya ibaratnya seperti minyak dan air, nggak pernah tegur sapa,” cetusnya.

Sunarsih dan Jaja sering Bogor-Surabaya. Bahkan ketika di Surabaya dan melahirkan anak pertamnya, Alif, Sunarsih dan Jaja menjual rumah Supiati yang di kawasan Simo Prona Jaya, dengan dalih untuk membiayai persalinan Alif. “Ya sering bolak balik ke Surabaya. Ya sekiranya ke Surabaya untuk mengambil harta atau uang. Kalau uangnya sudah habis, balik lagi ke Surabaya. Pokoknya apa saja yang di Surabaya, kalau bisa di jual ya dijual,” tuturnya.

Saguni menceritakan, dirinya pernah ditipu oleh Sunarsih dan Jaja. Rumahnya yang berda di Citarum, Kampung Karang Suko, Semarang, pernah dijual Sunarsih. Namun, sampai sekarang ini, Saguni tidak pernah merasakan hasil dari penjualan rumahnya. “Katanya Sunarsih, nanti kalau sudah dijual akan dibagikan. Tapi sampai sekarang nggak pernah dikasihkan. Kami sekeluarga nggak mau mengungkit-ngungkit lagi,” ujarnya.

Sunarsih dan Jajaj sudah sering menjual harta benda keluarga Supiati di Surabaya seperti di Semarang. Kemudian rumah kontrakan di Simorejo Timur II dan SImo Prona Jaya III. Namun, hasil penjualan itu tak pernah dirasakan oleh Supiati maupun keluarga lainnya seperti Saguni. Bahkan, ketika Supiati dan Sunarsih tidak ada, Jaja berani mengontrakan rumah Supiati yang juga menjadi tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan dan kakak adik itu yang dikubur di kamar belakang.

Rumah di Simo Prona Jaya III/2 ukuran 5×7 meter itu dikontrakan seharga Rp 4 juta untuk 2 tahun. Bahkan, rumah Supiati untuk kos-kosan di Simorejo Timur hendak dijual ke orang lain. Namun transaksi tersebut gagal, karena diketahui oleh anak angkat Juri.

“Anak angkatnya Pak Juri mengetahui kalau rumah di Simorejo itu ditawarkan Jaja mau dijual. Akhirnya nggak jadi dijual,” ujarnya. Saguni menilai Jaja sudah tidak beres dan hanya mengincar harta bendanya. Bahkan, sebelum kejadian ini maupun kelahiran anak kedua Sunarsih dari pasangan Jaja yang hanya berumur 2 hari, Saguni curiga dengan keberadaan Alif yang usainya baru 2,5 tahun.

“Kata tetangga, Alif sudah dipulangkan ke rumah neneknya di Subang. Tapi saya tidak percaya begitu saja. Sampai sekarang ini di mana anaknya juga belum jelas,” katanya. Ia berharap agar kasus ini terbongkar, sehingga semua permasalahan dapat terselesaikan, termasuk ijazah Supiati dan surat-surat sertifikatnya, maupun sertifikat rumah Saguni di Simo Prona Jaya III/5.

“Sertifikatnya saya titipkan ke Supiati, karena dia itu primpen (pandai menyimpan). Saya dengar-dengar rumah ini juga mau dijual oleh (Sunarsih dan Jaja). Kalau sampai ditawarkan ke orang lain, ta jak gelut mas (Saya ajak bertengkar),” jelasnya. Kabar tertangkapnya pelaku pembunuhan kakak adik, Sunarsih dan Supiati, membuat lega hati keluarga korban. Mereka meminta Warja Suwatman Mandala Putra alias Jaja suami dari Sunarsih, dihukum mati. “Saya nggak terima, harus dihukum mati,” cetus Saguni kepada detiksurabaya.com, Senin (13/8/2012).

Setelah mendengar kabar tertangkapnya Warja alias Jaja suami dari Sunarsih oleh kepolisian, Saguni dengan emosi tidak bisa mengutarakan lagi dan menyerahkan ke istrinya, Manikem untuk berbicara. “Saya mewakili keluarga meminta pelaku dihukum mati. Karena dia sudah membunuh 2 orang sekeligus sekeluarga,” ujar Manikem. Selain itu, Jaja suami korban Sunarsih bukan hanya membunuh saja, tapi juga merampok harta benda Supiati seperti semua isi rumah Supiati di Simo Prona Jaya III/2, seperti lemari dan perabotan rumah lainnya sudah habis dijual ke orang lain.

Rumah tersebut juga dikontrakkan ke orang lain sebesa R 4 juta untuk 2 tahun. Dan uang tersebut dibawa kabur Jaja. “Rencananya juga mau menjual rumah di Simorejo, tapi nggak jadi karena ketahuan. Pokoknya saya nggak terima harus dihukum mati,” katanya. Selain itu, keluarga juga meminta aparat kepolisian untuk mengusut keberadaan Alif (2,5) anak pertama pasangan dari Sunarsih dengan Warja (pelaku). Yang kabarnya dibawa Jaja ke rumah neneknya di Subang. Mereka khawatir Alif menjadi korban trafficking (perdagangan manusia).

“Kami harap keberadaan Alif juga dipertanyakan,” jelasnya. Supiati adalah salah satu korban pembunuhan yang dikubur dalam 1 liang lahat bersama kakaknya, di dalam kamar belakang rumahnya sendiri di Simo Prona Jaya III/2, Simo Mulyo Baru Surabaya. Siapakah sosok Supiati ? “Sama tetangga juga baik. Sama keluarga juga baik,” ujar Suci yang juga keponakannnya saat bincang-bincang dengan detiksurabaya.com di rumahnya, Senin (13/8/2012).

Dari informasi yang dihimpun, Supiati sebelumnya tinggal di kawasan Simorejo Timur Surabaya. Kemudian pada sekitar Tahun 2000, ia pindah dan tinggal di rumah orang tua Suci atau kakak beda bapak, Saguni di Simo Prona Jaya. Saat tinggal di rumah tersebut, Supiati sudah keluar dari tempat kerjanya sebagai Caddy Golf di salah satu lokasi di Surabaya barat.

“Setelah keluar dari Caddy, sudah tidak bekerja lagi,” tuturnya. Meskipun tidak bekerja lagi sebagai caddy, Supiati masih mendapatkan pendapatan dari hasil 2 rumahnya di Simorejo yang dikontrakan dan indekos. Kemudian, sekitar 2002 Supiati membangun rumahnya sendiri di Simo Prona Jaya III/2. Dalam kurun kurang dari setahun, rumah tersebut sudah bisa ditempati.

Sekitar 5 tahun lagi, Supiati berkenalan hingga menjalin hubungan pernikahan dengan duda purnawirawan TNI AL, Pak Juri. Meskipun umur keduanya selisih 30 tahun, hubungan rumah tangga mereka baik-baik saja dan tidak ada masalah dengan tetangga maupun keluarganya. “Ya kalau berjalan seperti anak sama bapaknya. Pak Juri orangnya juga baik kok,” tuturnya.

Sayangnya, hubungan Supiati dengan Juri tak berlangsung lama. Juri yang baru tinggal di rumah Supiati kurang dari setahun, mengidap penyakit diabetes hingga akhirnya meninggal dunia dan dikebumikan di tempat pemakaman umum di kawasan Simo Tambaan. Supiati pun menjanda dan sampai terbunuh pun belum pernah menikah lagi.

“Mbang Supiati itu orang sayang dan setia. Dia nggak mau menikah lagi, karena takut dengan laki-laki dan khawatir laki-laki hanya mau menikah untuk mengincar hartanya saja,” tuturnya. Selama menjanda, Supiati selalu mendapatkan penghasilan dari ‘usaha’ rumah kontrakannya di kawasan Simo Prona Jaya, dan rumah kontrakan serta rumahnya yang di-koskan sebanyak 5 kamar di kawasan Simorejo Timur.

“Selain itu juga mendapatkan pensiunan dari suaminya purnawirawan Pak Juri,” terangnya. Sementara itu, Manikem yang juga kakak iparnya, mengaku Supiati adalah anak yang baik. Bahkan, tak jarang Supiati selalu mengajak istri dari kakak beda bapak, Saguni itu untuk belanja di pasar.

“Ya baik sekali mas. Kalau setelah mengambil uang pensiunan, biasanya mengajak ke pasar,” ujar Manikem sambil menirukan ajakan Supiati, “Ayo yuk belanja ke pasar. Sampeyan mau beli apa,”. Meski mempunyai rumah sendiri, Supiati masih sering berkunjung ke rumah kakaknya, Saguni suami Manikem yang masih sekampung. “Kalau Supiati itu orangnya baik, sama tetangga juga baik,” ujar Ketua RT 1 RW 8, Agus. Bambang juga menilai Supiati masih sering berkomunikasi dengan tetangganya. “Orangnya baik mas. Sama tetangga juga baik,” kata Bambang yang juga tetangganya.