Monthly Archives: September 2010

Akibat Orangtua Ikut Ikutan Emosi Masalah Anak Anak Yang Berkelahi Kini Seluruh Kota Tarakan Dilanda Kerusuhan Etnis

Bentrokan antarkelompok warga yang muncul Minggu (26/9) lalu di sebuah perumahan di Kota Tarakan, Kalimantan Timur (Kaltim), ternyata meluas dan mengakibatkan lima orang tewas dan beberapa lainnya luka-luka sampai Rabu (29/9) dini hari.

Dampak dari meluasnya bentrokan itu, sekitar 32.000 warga Tarakan, di antaranya para pendatang, mengungsi ke tempat-tempat yang aman. Mereka berbondong-bondong meninggalkan rumah mereka menuju ke markas-markas instansi militer dan keamanan. Antara lain, Kantor Polresta Tarakan, markas Batalyon Infanteri Yonif 613/Raja Alam, markas TNI AU, markas TNI AL, Satuan Radar, Asrama Polisi di Jalan Sudirman, dan SDN 029 depan markas Yonif 613/Raja Alam.

Bahkan, untuk memudahkan proses pengungsian, pihak keamanan dan aparat pemerintahan menyediakan angkutan. Selain ke instansi-instansi tersebut, guna menghindari konflik pula, diberitakan bahwa warga Tarakan yang berada di pedalaman melarikan diri ke hutan-hutan dan pegunungan.

“Informasi terakhir, pengungsi terus bertambah, bahkan sekitar 30.000-an orang. Mereka mengungsi ke tempat yang lebih aman karena khawatir kondisi keamanan yang masih rawan,” kata Kepala Markas PMI (Palang Merah Indonesia) Kota Tarakan, Maharaja Laila Hady Candra, Rabu (29/9).

Kota Tarakan sendiri sampai kemarin malam masih mencekam. Pusat-pusat pertokoan dan perkantoran serta sekolah-sekolah tutup. Aparat keamanan dan kelompok-kelompok warga bersenjata tajam terlihat berada di berbagai tempat.

“Awalnya, bentrokan hanya berlangsung di pinggiran kota, mulai di kawasan Juwata hingga ke Jalan Gadjah Mada dan Yos Sudarso. Namun, pagi ini (Rabu) bentrokan sudah meluas hingga ke Selumit Dalam,” ucap salah seorang warga Tarakan yang tinggal di Selumit Dalam, Nanda.

Bersama ratusan warga lainnya, Nanda mengaku saat ini mengungsi di markas Kodim Tarakan.

“Semuanya sudah mengungsi karena takut menjadi sasaran dari orang-orang yang sedang bertikai itu,” ujar Nanda. Kedua kelompok yang bertikai terus terlibat bentrok di beberapa sudut Kota Tarakan.

“Aku masih mengungsi di Asrama Brimob. Mohon doanya kami baik-baik saja,” kata Yuliana Lelita, warga pendatang asal Surakarta, Jawa Tengah, melalui pesan telepon selulernya, Rabu (29/9) pagi.

Lelita mengatakan hingga saat ini kondisi Tarakan masih siaga satu dan mencekam. Warga pendatang dicekam ketakutan dan mengungsi. Menurut Lelita, sejak Selasa (28/9) malam, kelompok warga asli setempat melakukan aksi sweeping terhadap warga pendatang.

“Mereka membakar rumah dan isunya mereka sampai penggal kepala,” kata Lelita seperti dikutip tempointeraktif kemarin.

Warga setempat dan warga pendatang, lanjut dia, saling serang dengan senjata tajam di antaranya parang, mandau (senjata asli lokal) dan tombak.

Lelita mengatakan, sebelumnya dirinya memilih berada di dalam rumah. Namun, karena kondisi semakin mencekam, ia dan anaknya yang berusia 8 tahun kemudian diungsikan di Asrama Brimob pada Rabu dini hari.

“Tidak tahu sampai kapan mengungsi. Karena cuma bawa pakaian seadanya,” ujar dia. Di tempat pengungsiannya di Asrama Brimob, kata dia, terdapat ratusan warga pendatang.

Jumlah pengungsi di setiap lokasi antara 1.500 dan 3.000 jiwa. Eloknya, para pengungsi menanggalkan atribut kesukuan dan bersatu di lokasi pengungsian.

Menurut keterangan dari Divisi Humas Mabes Polri kemarin, bentrokan antarkelompok warga itu bermula ketika pada Minggu (26/9), Abdul Rahmansyah, warga Kelurahan Juanta Permai tiba-tiba dikeroyok lima orang tidak dikenal saat ia melintas di Perumahan Korpri Jalan Seranai III, Juata Kecamatan Tarakan Utara, Kota Tarakan. Abdul mengalami luka-luka di telapak tangan.

Selanjutnya Abdul pulang ke rumah untuk meminta pertolongan dan diantar pihak keluarga ke RSU Tarakan untuk berobat. Besoknya, Senin (27/9), orang tua Abdul, Abdullah Rahmansyah beserta enam orang yang merupakan keluarga dari Suku Tidung berusaha mencari para pelaku pengroyokan dengan membawa senjata tajam berupa mandau, parang dan tombak.

Mereka mendatangi sebuah rumah yang diduga sebagai rumah tingga salah seorang dari pengeroyok di Perum Korpri Jalan Seranai III, Juata, Tarakan Utara Kota Tarakan. Penghuni rumah yang mengetahui bahwa rumahnya akan diserang segera mempersenjatai diri dengan senjata tajam berupa badik dan parang. Kemudian terjadilah perkelahian antara kelompok Abdullah (warga Suku Tidung) dengan penghuni rumah tersebut (kebetulan warga Suku Bugis Latta). Akibatnya, Abdullah meninggal dunia akibat sabetan senjata tajam.

Senin (27/9) dini hari sekitar 50 orang dari kelompok suku Tidung menyerang Perum Korpri untuk melakukan pembalasan. Mereka merusak rumah Noordin, warga suku Bugis Letta. Bentrok kemudian meluas ke mana-mana pada Selasa (28/9) dan Rabu (29/9) dini hari.

Warga pendatang dari Bojonegoro, Koendariyati mengatakan hingga saat ini aktivitas di Kota Tarakan masih lumpuh dan mencekam. “Pendatang berusaha keluar dari Tarakan dengan pesawat atau kapal,” kata Koen melalui pesan pendek.

Pegawai negeri sipil di Tarakan ini mengatakan akan pulang ke Jawa jika kondisi semakin memburuk. Berkali-kali ia meminta doa agar selamat dari bentrokan suku. “Kami sudah di Bandara namun belum bisa keluar. Doakan bisa keluar dari Tarakan secepatnya ya,” kata dia via SMS.

Untuk melokalisir dua kelompok massa yang bertikai, pasukan TNI dan Polri diturunkan di berbagai sudut Tarakan. Kemarin, Gubernur Kaltim Awang Faroek, Wakil Kapolri (Komisaris Jenderal Makbul Padmanegara), dan Komandan Korem Kolonel Aries Martanto juga tiba di Tarakan untuk memantau dan mengendalikan situasi.

Gubernur Awang Faroek menampik bahwa konflik di Tarakan merupakan konflik etnis.

“Ini kan berawal dari tetangga yang bermasalah. Orangtua bertemu untuk menyelesaikan masalah anak-anak mereka. Tapi malah bentrok karena anak-anak mudanya emosi. Jadi, awalnya hanya pertikaian dua keluarga, tapi karena ada provokator jadi meluas. Sekarang jadi seluruh kota,” kata Awang.

“Sama sekali bukan pertikaian etnis. Ini perselisihan antarwarga yang meluas karena ada provokator.”

Presiden SBY mengaku prihatin dengan situasi di Tarakan, dan sudah menerima laporan dari Kapolri mengenai upaya aparat keamanan dalam menangani insiden tersebut.

“Saya prihatin dengan terjadinya kekerasan antar komunitas, saya sudah menerima laporan dari Kapolri dan sudah berkomunikasi dengan Panglima TNI dan Gubernur Kaltim,” kata Presiden.

SBY mengingatkan agar penanganan insiden tersebut sungguh-sungguh sehingga tidak terulang bentrokan antarkomunitas seperti yang terjadi di Sampit, Kalimantan Tengah, sepuluh tahun yang lalu. Bentrokan waktu itu antara pendatang beretnis Madura dengan etnis lokal Dayak.

“Saya berharap itu tidak terjadi lagi, dengan syarat langkah yang dilakukan harus terpadu, pejabat turun ke lapangan untuk langkah nyata,” tegasnya

Pelanggan Jaringan Bisnis Prostitusi ABG SMP Di Minahasa Selatan Adalah Pegawai Negeri Sipil dan Polisi

Jumlah korban Stevan M alias Vidi, tersangka penyewaan gadis-gadis belia kepada para hidung belang, tak terhitung dengan jari lagi.
Kami bawa si korban ini, lalu putar-putar Minahasa Selatan untuk tunjukkan mana-mana saja kantor tempat si hidung belang, lalu dia tunjukan, makanya kami tahu.
— Ajun Komisaris Mohamad Kamidin, Kapolsek Amurang

Itu pun baru terungkap di salah satu sekolah kejuruan ternama di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, yang Rabu (29/9/2010) kemarin didatangi personel Kepolisian Sektor Amurang.

“Kami baru turun di satu sekolah untuk mengambil keterangan korban. Korban ini kami ketahui dari keterangan korban AR dan Vidi sendiri, hasilnya baru satu sekolah itu saja sudah terdapat 12 atau belasan oranglah, dan semuanya jaringan si Vidi,” ujar Ajun Komisaris Mohamad Kamidin, Kapolsek Amurang, kepada Tribun Manado.

Ia menambahkan, mereka besok akan kembali melacak korban di sekolah lain, seperti yang dibeberkan korban AR ini.

Besok kami akan turun lagi di sekolah-sekolah untuk mencari keterangan korban lainnya agar jaringan ini bisa terbongkar dan siapa lagi tersangka yang dapat diketahui,” ujar Kamidin.

Menurut dia, korban disewakan Vidi dari beberapa lapisan masyarakat, ada yang pegawai negeri sipil (PNS), pekerja swasta, bahkan ada yang anggota polisi.

“Kalau di Minahasa Selatan, berdasarkan pengakuan korban, rata-rata penyewanya adalah PNS dari berbagai golongan. Yang kami sudah ketahui pasti nama Rino T, seseorang di dinas kehutanan, dan seorang lagi mantan camat di Minsel,” ujarnya.

Korban AR pun buka mulut bahwa ia tak sempat bersetubuh dengan seorang mantan camat karena dia berlaku kasar sehingga AR pun lari. Meski demikian, dirinya sempat dipegang karena sudah disewakan oleh Vidi.

“Kami bawa si korban ini, lalu putar-putar Minahasa Selatan untuk tunjukkan mana-mana saja kantor tempat si hidung belang, lalu dia tunjukkan, makanya kami tahu,” ucap Kamidin lagi.

Bukan hanya itu. Berdasarkan pengakuan AR, ada dua atau tiga orang di antaranya anggota polisi di Polres Minsel dan menurut AR ada seorang yang sangat dikenalnya bertugas di bagian buru dan sergap. AR mengaku “dipakai” di Desa Poigar, Kecamatan Sinonsayang.

Menurut Kapolsek Amurang, pekerja swasta pun ada. Sewaktu mengantar korban untuk menunjukkan hidung belang yang disewakan Vidi, seorang pekerja swasta tersebut adalah kepala unit di sebuah kantor badan usaha milik negara (BUMN) di Minahasa Selatan.

“Keterangan korban kepada kami, dia ini kepala unit di sebuah BUMN di Minahasa Selatan,” ungkap Kamidin.

Pengakuan para korban kepada polisi, terdapat enam lokasi yang sering dipakai, yakni penginapan Transit di Sinonsayang, Hotel Minahasa Indah (MI) di Amurang, penginapan samping Pegadaian Amurang, Penginapan MCM jalan Menuju Pinaling, rumah Vidi, dan rumah penyewa itu sendiri.

Khusus untuk pesanan spesial ke Manado dan Bitung, korban memang tak mengetahui banyak siapa dan apa pekerjaan dari mereka, tetapi setahu mereka memakai seragam aparat negara.

Vidi dan Ari memang sudah seperti membisniskan penyewaan ini sebab, menurut Kapolsek Amurang, mereka berteman, tetapi terlibat persaingan gadis untuk disewakan.

“Kalau Vidi kebanyakan anak sekolahan, tetapi Ari anak-anak yang putus sekolah. Kalau ada jaringan Vidi yang direbut Ari tanpa izin, kadang Vidi dongkol sama si Ari,” ungkapnya.

Sementara beberapa warga Desa Lopana mulai resah terhadap adanya jaringan ini. Rolly Makauli, tokoh masyarakat di desa tersebut, mengatakan kepada wartawan Tribun Manado, warga di sekitar lingkungan Vidi mulai ramai membicarakan kejadian ini.

“Saya datang ke sebuah acara, mereka ramai membicarakan gonjang-ganjing mengenai si Vidi dan mereka sangat menginginkan Vidi dapat ganjaran sesuai hukum dan setimpal dengan perbuatannya,” ujarnya.

Beberapa orangtua pun mulai gelisah. “Saya takut anak saya nanti jadi korban, kalau ada yang ngajak-ngajak main ke sini-situ, tahu-tahunya nanti keterusan,” ujar seorang ibu warga Pondang

Sidang Kasus Blowfish Rusuh Di Pengadilan Jakarta Selatan, Polisi Tidak Berdaya Menghadapi Massa Yang Bersenjata Api

Pendukung terdakwa melepaskan tembakan ke arah polisi yang berjaga di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (29/9). Tembakan sempat menyerempet kaki kiri Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Gatot Eddy.

Naas peluru mengenai kaki ajudan Kapolres, yang sedang berdiri di belakangnya. Petugas yang tidak disebutkan namanya ini langsung dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina.

Gatot sempat memperlihatkan bekas serempetan peluru. Celana sobek dan terdapat bekas luka bergaris di betis kirinya.

Dua kelompok massa saling menyerang di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sekitar pukul 13.15 saat akan dilangsungkan kasus kerusuhan di tempat hiburan Blowfish yang terjadi awal April lalu.

Dari pengamatan Tempo, beberapa dari massa terlihat membawa senjata tajam seperti golok. Salah seorang dari mereka, kakinya terluka. Jalan Ampera ke arah Ragunan ditutup. Situasi masih mencekam.

Polisi mengaku kesulitan meredam massa yang emosi. “Kalau senjata tajam kami masih bisa kendalikan, tapi ini pakai senjata api,” ujar Gatot.

Mereka berupaya mengendalikan keadaan dengan membentuk barikade yang memisahkan kubu berseteru. Kubu pendukung terdakwa didesak ke arah selatan di Jalan Ampera, sementara pendukung korban berada di depan Pengadilan Negeri Jakarta atau bagian utara.

Saat ini petugas mendapatan tambahan personil dari Kepolisian Daerah. “Lebih dari 100 orang. Total ada sekitar 400 orang,” kata Gatot.

Satu korban ditemukan tewas di sebuah rumah warga yang berlokasi di sebelah Jalan Ampera Raya nomor 158, Cilandak, sekitar 200 meter dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Menurut Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Jakarta Komisaris Nurdi Satriadji korban meninggal akibat tertembak. Namun dia tidak merinci di bagian mana luka bersarang.

Dia melanjutkan, ada tiga korban meninggal yaitu: Agustinus Romadona, Saifudin, Ceko Kei. “Satu meninggal karena tembakan, dua akibat bacokan,” katanya tanpa merinci lebih lanjut.

Selain korban jiwa, ada tiga Kopaja yang rusak. Seluruh kaca pecah karena karena mengangkut satu dari dua kubu yang bentrok.

Saat ini ketiga korban masih menunggu mobil jenazah untuk dikirim ke RS Sakit Polri Sukanto, Kramatjati.

Situasi di Jalan Ampera Raya saat ini sudah berangsur normal. Setelah berhasil dipisahkan, kedua kubu tidak lagi bentrok. Lokasi malah diramaikan oleh warga sekitar yang datang menonton. Hingga laporan diturunkan Jalan Ampera masih ditutup.

Kapolda Metro Irjen Timur Pradopo menyatakan akan menindak tegas semua yang terlibat dalam bentrokan berdarah di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. “Kami tindak sesuai aturan berlaku,” kata Timur, Rabu (29/9), tanpa merinci tindakan yang akan dilakukan itu. Menurut Timur, saat ini anak buahnya masih mendata jumlah korban dan kerusakan akibat bentrokan itu.

Kapolres Jakarta Selatan Komisaris Besar Gatot Edy mengatakan, polisi akan melengkapi diri dengan senjata api dalam pengamanan sidang selanjutnya. “Kalau mereka pakai senpi (senjata api), kami juga akan siapakan,” kata Gatot.

Gatot mengatakan, saat ini ada dua anggota polisi yang menjadi korban akibat bentrokan itu. Mereka adalah Brigadir Satu Gerhana dan Ajun Komisaris Lambua. Gerhana menderita luka tembak di kaku sedangkan luka Lambua di tangan. Keduanya saat ini sudah mendapat perawatan medis.

Saat berita ini dilaporkan, situasi di Jalan Ampera Raya sudah berangsur normal. Sejumlah kendaraan bermotor terlihat melintas di jalan itu. Saat terjadi bentrokan jalan itu ditutup. Kendaraan dari arah Cilandak maupuan dari arah Kemang terpaksa harus mencari jalan lain. Garis polisi yang sebelumnya terpasang di depan kantor Medco, saat ini juga sudah dibuka.

Massa yang sebelumnya terlibat bentrok, sudah tidak terlihat lagi di sekitar gedung pengadilan.

Satu orang korban meninggal dalam kerusuhan sidang Blowfish di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dibawa ke Rumah Sakit Pusat Polri, Kramatjati, Jakarta Timur. Frederick Philo Letlet, korban meninggal itu awalnya dibawa ke rumah sakit JMC, Jakarta Selatan. “Saat sampai disini sudah meninggal dunia, sehingga langsung dibawa polisi ke RS Polri,” kata Kepala Keamanan Rumah Sakit, Sutopo Subagio pada Tempo, Rabu ini.

Pria kelahiran Merauke, 3 April 1987 itu mengalami luka bacok parah di bagian kepala kanan, mata kanan, dagu, lengan kanan, dan perut bagian kiri. Jasad Frederick sampai rumah sakit JMC sekitar pukul 14.15 WIB. “Karena sudah meninggal sehingga langsung dikirim ke RS Polri,” kata Sutopo.

Selain Frederick, 3 orang korban luka dalam kerusuhan itu juga sempat dibawa ke Rumah Sakit JMC. “Namun juga tidak dirawat di sini, tiga orang luka itu langsung dibawa ke RSPP dan RS Medistra,” lanjut Sutopo.

Namun Sutopo mengaku tidak tahu nama para korban tersebut. “Namanya kami tidak tahu, saat itu tanpa identitas dan tidak sempat dirawat di sini,” katanya. Meskipun begitu Sutopo mengaku bahwa salah satu korban luka adalah anggota polisi. “Anggota polisi yang luka dibawa ke RSPP, korban lain ke RS Medistra,” katanya.

Siswi SMP Depok Melarikan Diri Bersama Guru Taekwondo Yang Lesbian

Hubungan asmara sesama jenis kembali mencuat. Seorang siswi SMP di Depok, Jawa Barat berinisial Tn (15) terlibat hubungan lesbian dengan Sj (26) yang tidak lain guru Taekwondo-nya.

Jalinan asmara sesama jenis ini menjadi masalah setelah Tn yang sedang menjalani terapi pengobatan orientasi seksual di Rumah Perlindungan Sosial Anak (RSPA), Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, tiba-tiba menghilang pada Jumat (10/9/2010) malam lalu.

Usut punya usut, ternyata Tn dibawa kabur oleh Sj, kekasih sesama jenisnya. Sj menjadi guru taekwondo Tn sejak remaja putri itu berusia 13 tahun dan masih duduk di kelas I SMP di Depok.

Hubungan lesbian atau sesama jenis antara Tn dan Sj ini ditentang oleh orangtua Tn, yakni Mb. Mb adalah seorang konsultan perbankan.

Karena merasa khawatir dengan anaknya, Mb lalu mengadukan kasus ini ke Komisi Nasional Perlindungan Anak. Akhirnya sejak Juli lalu, Komnas memberikan terapi orientasi seksual pada Tn dengan merumahkannya di RSPA, Bambu Apus, Cipayung.

Namun, ternyata Sj tak hilang akal. Pada Hari Raya Lebaran, ia menculik Tn dari RSPA. Sj berhasil mengelabui satpam RSPA.

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengakui bahwa ketika itu petugas keamanan RSPA lalai.

“Yang jelas petugas keamanan lalai, karena tak tahu ada anak dibawa kabur orang,” tegas Arist Merdeka Sirait di kantornya, Senin (27/9/2010). Saat ini petugas keamanan akan dimintai keterangan pihak berwajib.

Kisah pertemuan Tn dengan Sj bermula dari latihan Taekwondo di sebuah tempat di Depok dua tahun silam. Mereka akhirnya sering bertemu.

Saking seringnya pertemuan mereka, Tn mengaku jatuh cinta pada Sj. Bahkan Tn juga mengaku sudah beberapa kali berhubungan intim dengan Sj.

Gadis 15 tahun berinisial T diduga dibawa lari S (26), perempuan lesbian yang tak lain guru taekwondo korban.

“T dibawa lari dari Rumah Perlindungan Sosial Anak, Bambu Apus, Jakarta Timur, sejak Idul Fitri tahun ini. T dijemput S pada malam hari,” kata Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak.

Ketika itu petugas keamanan Rumah Perlindungan Anak tidak mengetahui T dibawa lari S. “Yang jelas petugas keamanan lalai,” tegas Arist di kantornya.

T diduga menjadi korban lesbian yang dilakukan S. Menurut Arist, ayah T yang menjadi konsultan Bank Dunia telah meminta Komnas Anak menyembuhkan orientasi seks T yang menyukai sesama jenis. Namun, lanjut Arist, “Baru beberapa pekan tinggal di sana sudah kabur,” katanya.

Arist menjelaskan, kisah pertemuan T dengan S bermula dari latihan taekwondo di kawasan Depok dua tahun silam. Sekali sepekan, korban bertemu S yang menjadi pelatih taekwondo T.

Korban kemudian kerap dibawa jalan-jalan ke sejumlah tempat di Jabodetabek. Pernah korban meninggalkan rumah sampai sebulan. “T mengakui sudah sering berhubungan intim dengan S,” ujar Arist.

Menurut dia, T sulit dipisahkan karena sangat mencintai S. Arist menegaskan, polisi harus segera menangkap pelaku karena kasus ini diduga terkait dengan penculikan.

“Lebih dari 1 x 24 jam dia tidak kembali ke rumah sudah termasuk penculikan,” ujarnya.

Arist mengakui, baik korban maupun pelaku saling menyukai. Namun, berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004, hal itu tidak bisa dikategorikan sama-sama menyukai.

“Ini jelas ada unsur rayuan dan bujukan. Selain itu, korban masih anak, bukan orang dewasa,” kata Arist.

Arist mengimbau agar polisi tidak menerapkan KUHP dalam kasus ini. Sebab, bila itu dilakukan, kasus bisa tidak berakhir di meja hijau. “Unsur suka sama suka bisa membuat tersangka bebas, kasus menguap,” ujarnya.

Arist berpendapat, KUHP dinilainya tidak tepat menuntaskan kasus ini. “Sekali lagi, korbannya adalah anak. Karena itu, harus diselesaikan dengan Undang-Undang Perlindungan Anak,” katanya.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Metro Jakarta Timur Ajun Komisaris Grace Harianja, saat ditemui terpisah, mengatakan, polisi masih mencari S.

“Kami masih menghimpun informasi dari keluarga dan orang-orang dekat S,” kata Grace.

Wanita Muda Ditemukan Tewas Dan Telanjang Di Gunung Salak

Mayat wanita tanpa identitas yang ditemukan tewas membusuk di salah satu makam di Puncak Manik, Gunung Salak perbatasan Sukabumi –Bogor, Senin (13/9) siang ditemukan oleh pendaki.

Penemuan jasad wanita diperkirakan berusia 20 tahun ini berawal ketika sejumlah pendaki curiga dengan mencium bau bangkai. “Penemuan mayat ini merupakan laporan dari pendaki yang hendak turun gunung,” kata Kapolsek Cidahu, Polres Sukabumi, AKP Slamet irianto kepada Pos Kota.

Menurutnya, pada saat ditemukan jasad wanita tersebut setengah telanjang karena tidak menggunakan celana dalam. Mendapat laporan tersebut, pihaknya langsung turun untuk melakukan evakuasi jasad wanita tak dikenal itu.

“Kami belum bisa memastikan tewasnya wanita tersebut. Karena kasus ini masih dalam penyelidikan. Jadi kami belum bisa memastikan apakah dibunuh atau diperkosa dulu. Namun diperkirakan kematian wanita ini sekitar lima hari karena sudah membusuk,” jelasnya.

Kabar penemuan mayat tak dikenal tersebut membuat warga Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat geger. Pasalnya, tersiar kabar empat orang ditemukan tewas di Puncak Gunung Salak.

‘Awalnya kami dengar seperti itu. Namun ternyata hanya satu orang yang tewas. Itupun kami dapat informasi dari warga yang ikut mengevakuasi jasad korban,” kata salah seorang tokoh pemuda, Dadeng Najamudin kepada Pos Kota

Cinta Segitiga Dengan Pasangan Suami Istri Berakhir Dengan Mutilasi

Warga Desa Bailangu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, dua hari menjelang Lebaran atau 8 September, digemparkan penemuan mayat perempuan di Sungai Musi dalam kondisi mengenaskan.

Mayat itu ditemukan dalam keadaan bugil, tanpa kepala, tanpa kedua tangan, dan tanpa kedua kaki. Identitas mayat yang dimutilasi itu sangat sulit diketahui, tetapi aroma pembunuhan terasa sangat kuat.

Secara kebetulan, sehari kemudian warga menemukan potongan kepala perempuan di Sungai Musi yang diduga adalah kepala dari mayat itu. Pelacakan identitas semakin mudah setelah potongan kepala ditemukan dan dilakukan tes DNA.

Langkah awal yang dilakukan polisi adalah memastikan identitas mayat tersebut yang ternyata adalah Zuraidah Syakdiah (51), warga Jalan Tanjung, Kelurahan 20 Ilir, Palembang. Perburuan terhadap pelaku mutilasi pun dimulai.

Polisi menemukan petunjuk bahwa korban terlihat naik angkot yang dikemudikan Gofur (47), warga Jalan Ki Gede Ing Suro, Palembang, pada 7 September, sehari sebelum mayat korban ditemukan.

Otomatis polisi mencurigai Gofur si sopir angkot. Apalagi di dalam angkot itu ditemukan bercak darah dan rambut. Pria kurus berkumis itu menjadi daftar pencarian orang.

Polisi lalu menahan Rosdahawati (49), istri Gofur, dengan tuduhan membantu Gofur membunuh korban.

Kepala Bidang Humas Polda Sumsel Ajun Komisaris Sabarudin Ginting, Jumat (24/9), mengatakan, Gofur melarikan diri sejak 10 September ke Yogyakarta, Cilacap, Purwakarta, Subang, dan terakhir ke Bekasi, tempat dia berhasil diringkus pada hari Rabu (22/9).

Menurut Sabarudin, pembunuhan yang diikuti dengan mutilasi itu bermotif cinta segitiga antara Gofur dan korban. Namun, hubungan Gofur dan korban retak. Bahkan, korban melaporkan Gofur dan istrinya ke Polsek Ilir Timur I dua hari sebelum ia dibunuh karena korban mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari keduanya.

”Saat mereka dalam perjalanan ke Meranjat, Ogan Ilir, tanggal 7 September mereka bertengkar. Korban lalu dibunuh dalam angkot dengan gunting dan kunci ban,” kata Sabarudin.

Menurut Sabarudin, setelah menghabisi nyawa korban, Gofur pulang ke rumahnya di Palembang untuk menjemput istrinya pergi ke Babatoman, sementara mayat masih berada dalam angkot. Di tengah perjalanan ke Babatoman naik angkot, Gofur dibantu istrinya memutilasi korban.

”Tubuh korban dimutilasi untuk menghilangkan jejak. Namun, meskipun korban sudah dimutilasi, perbuatan Gofur masih dapat terbongkar,” kata Sabarudin.

Menurut kriminolog Universitas Sriwijaya, Syarifuddin Pettanasse, pembunuhan sadis kebanyakan justru dilakukan oleh orang yang mengenal korban. Pembunuhan sadis biasanya berlatar belakang dendam pribadi. Para pelaku pembunuhan sadis akan menunggu saat yang tepat untuk menghabisi korbannya.

Ingin Bebas Tilang … Ajak Warga Ramai Ramai Rusak Kantor Polisi Seperti Warga Bitung Curug

Kepala kepolisian Resor Metro Tangerang Kabupaten Komisaris Besar Edi Sumitro Tambunan akan mengevaluasi jajarannya. Khususnya di bagian lalu lintas terkait  banyaknya laporan masyarakat tentang penilangan di pertigaan Bitung, Jalan Raya Serang, KM 1, Curug, Kabupaten Tangerang.” Akan kami evaluasi,”katanya kepada Tempo, siang ini.
Menurut Edi, dalam laporannya warga  kesal karena terlalu sering ditilang oleh petugas kepolisian yang bertugas disana. Puncak kekesalan warga itu ditumpahkan dalam bentuk unjukrasa yang diwarnai dengan aksi pengrusakan pos lalu lintas yang ada di pertigaan Curug tersebut tadi pagi. Warga memecahkan kaca dan merusak kawat jendela pos berukuran 2 x 4 meter tersebut.
Edi menyatakan masalah ini telah diselesaikan secara musyawarah dengan warga, tokoh masyarakat dan alim ulama di Polsek Curug siang ini. Menurutnya, warga secara tertulis meminta agar polisi tidak selalu melakukan tindakan menilang kendaraan warga yang hampir setiap saat melintas dijalan itu.
Terkait tuntutan warga itu, kata Edi, pihaknya tidak bisa menyatakan setuju karena pekerjaan polisi selalu berurusan dengan legitimasi.” Paling tidak, saya sudah mengintruksikan kepada petugas lalu lintas agar pelanggar lalu lintas untuk warga cukup diberikan teguran dan tilang dilakukan sebagai langkah terakhir jika pelanggaran yang sama dilakukan berulang-ulang,”katanya.