Monthly Archives: Mei 2012

Baru 3 Bulan Bebas Dari Penjara karena Memperkosa Seorang Sopir Taksi Kembali Memperkosa Penumpangnya

Benar-benar keterlaluan! Seorang sopir taksi di Bangkok, Thailand, terlibat kasus pemerkosaan hanya 3 bulan setelah dirinya bebas dari penjara dalam kasus yang nyaris sama. Sopir taksi ini ditangkap polisi karena memperkosa seorang penumpang wanita di dalam taksi.

Seperti dilansir oleh The Nation, Kamis (31/5/2012), perbuatan bejat Noppadon Tabanrai (30) ini dilakukan pada Senin (28/5) malam waktu setempat. Korban yang berusia 26 tahun ini, sengaja membiarkan telepon seorang rekannya tetap tersambung ketika insiden tersebut terjadi.

Rekan korban pun melapor ke kantor polisi sekitar pukul 19.15 waktu setempat, sembari memperdengarkan sambungan telepon korban tengah diperkosa yang masih tersambung dengan mode pengeras suara. Polisi yang menyadari bahwa korban dalam bahaya, segera meluncur ke lokasi.

Ketika menyisir lokasi yang diduga menjadi tempat kejadian perkara, polisi menemukan korban sedang berjalan seorang diri di wilayah Pattanakarn Soi 32 dan kemudian menanyainya. Korban yang tidak disebutkan namanya ini, memberikan informasi yang detail kepada polisi.

Dia menjelaskan gambaran pelaku dengan jelas, serta mengingat nomor polisi taksi tersebut. Hal ini yang menjadi petunjuk polisi untuk menangkap Noppadon di rumah sewaannya di wilayah On Nut Soi 17.

Kepada polisi, Noppadon mengakui hasrat seksualnya bangkit ketika melihat korban yang mengenakan celana pendek. Ketika korban menyetop taksinya, Noppadon pun dengan licik membujuk korbannya untuk melintasi jalur alternatif dengan dalih kondisi lalu lintas saat itu yang macet.

Ternyata dia kemudian memperkosa korban dan setelah itu melarikan diri. Pria itu tidak menyangka jika korban menjawab telepon ketika sedang diperkosa.

Belakangan, polisi menemukan fakta bahwa Noppadon pernah dipenjara selama 5 tahun dalam kasus pencabulan dan percobaan pemerkosaan terhadap seorang wanita Filipina yang juga penumpang taksinya. Noppadon baru saja bebas dari penjara 3 bulan yang lalu.

Forum Betawi Rempug FBR Bentrok Didepan Hotel Classic Sawah Besar

Telah terjadi bentrokan antara kubu Forum Betawi Rempug (FBR) dengan massa yang menurut saksi mata berasal dari kubu Ambon, di depan Hotel Classic, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Rabu sore, 30 Mei 2012 sekitar pukul 18.30.

“Ah itu cuma anak-anak mengamankan wilayah saja, pemicunya cewek,” kata Juru Bicara FBR, Fajri Husen, kepada TEMPO, Rabu, 30 Mei 2012. Ia mengklaim aksi massa dari FBR tidak menimbulkan korban luka-luka maupun korban jiwa.

Pengamatan TEMPO di depan hotel, suasana agak mencekam tampak karena ada segerombolan orang berjalan sambil memegang tongkat dan benda-benda panjang di tangannya. Mereka kadang berteriak namun tidak jelas meneriakkan kata apa.

Laju kendaraan di depan hotel sempat tersendat, namun tidak sampai menimbulkan kemacetan. Beberapa massa dari FBR lari ke arah Stasiun Sawah Besar, dan rupanya, itu hasil pengusiran aparat Kepolisian.

Tidak sampai 10 menit sejak peristiwa berlangsung, anggota kepolisian dari Polsek Sawah Besar datang ke lokasi, beberapa personil mencari tahu permasalahan, dan beberapa lagi memperlancar arus kendaraan.

Kapolsek Sawah Besar, Kompol Sitinjak, menyatakan belum mengetahui apa yang baru saja terjadi di depan hotel. Namun ia sudah menyebar anggota untuk mencegah bentrokan lanjutan. “Setahu kami, hingga kini tidak ada korban,” kata dia saat ditemui di lokasi kejadian. Ia menyatakan daerah tersebut sudah aman.

Hingga pukul 19.00, kondisi sudah berangsur normal, kecuali adanya mobil polisi di depan hotel. Lalu lintas lancar di kedua arah.

Gudang MLM Koperasi Langit Biru Dijarah 10 Orang

Sekitar 10 orang yang datang dengan dua mobil dan satu motor merusak pintu dan menjarah barang-barang Koperasi Langit Biru di Perumahan Bukit Cikasungka, Desa Cikasungka, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, Rabu (30/5/2012) malam. Namun, pengurus koperasi tidak bersedia melapor ke polisi.

Informasi dari Polsek Cisoka menyebutkan, para pelaku datang sekitar pukul 20.00 WIB. Mereka langsung merusak pintu gedung B koperasi itu. Setelah pintu terbuka, para pelaku masuk dan menjarah barang-barang di dalamnya.

Peristiwa disaksikan beberapa orang yang ada di tempat itu, antara lain Edi (40). Polisi yang mendapat informasi perusakan pintu gedung koperasi itu melakukan pengecekan ke lokasi. Akan tetapi, pihak koperasi tidak bersedian melaporkan peristiwa tersebut.

Namun, polisi yang datang tetap melakukan pencatatan dan penelitian atas peristiwa. Hasilnya, diketahui para pelaku tersebut telah mengambil banyak barang dari dalam gedung koperasi.

Barang yang diambil antara lain berupa 13 komputer berbagai merek, 4 televisi layar datar, 12 printer, dan 1 mesin pompa air. Total nilai barang yang dijarah sekitar Rp 50 juta.

Geng Wools dan Teror 58 Spesialis Mengincar Pelajar Untuk Dipukuli Setiap Hari Berantem Di Johar Baru

Geng Wools, kelompok pemuda yang dipimpin tersangka berinisial LH, 16 tahun, sering bikin onar. Terakhir, geng ini membacok dua remaja pada Kamis dan Sabtu, 21 April 2012 lalu. LH ditangkap polisi pada 22 April.

Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Metro Cempaka Putih, Ajun Komisaris Gozali Luhulima, mengatakan kelompok itu sering tawuran. “Hampir setiap hari mereka bikin ribut di daerah Johar Baru, Kemayoran, dan Cempaka Putih,” kata Gozali saat dihubungi Selasa, 24 April 2012.

Menurut Gozali, anggota geng Wools berjumlah 17 sampai 19 orang. Mereka memiliki ciri-ciri, yakni memakai jaket berwarna biru dengan tulisan “We Are The Wools Big Family”.

Geng ini mengincar pelajar yang mengenakan seragam sekolah. “Tidak ada target tertentu. Pokoknya, kalau ada anak sekolah yang bergerombol atau agak ngebut, pasti diserang,” kata Gozali.

Pengakuan LH kepada penyidik, geng Wools sudah eksis sejak dua tahun lalu. Tapi, kata Gozali, kasus pembacokan secara tiba-tiba seperti yang menimpa Dwiki Hendra Saputra, siswa SMP Negeri 216 Jakarta, 21 April 2012, baru pertama terjadi. “Sebelumnya mereka sering tawuran. Kalau itu, kami sudah antisipasi dengan berjaga di lapangan,” kata Gozali.

LH mengatakan Dwiki dan temannya mengendarai sepeda motor dan menggeber gas di depan tempat LH dan teman-temannya berkumpul. “Saya emosi, saya bacok saja mereka,” kata LH, 22 April 2012. LH juga membacok Rusydan Fathy, siswa MAN 3 Jakarta, Kamis, 19 April 2012.

Kepolisian Sektor Cempaka Putih telah menangkap tiga orang anggota geng ini, yakni LH, 16 tahun; RP (16); dan E (16). Ketiganya saat ini masih ditahan di Polsek Metro Cempaka Putih. “Tapi satu atau dua hari lagi akan dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Salemba Jakarta. Di sana ada tempat untuk anak. Di sini kami tidak punya fasilitas untuk anak,” ujarnya.

Geng Wools, yang tiga anggotanya kini ditahan Kepolisian Sektor Metro Cempaka Putih, ternyata masih bersaudara dengan geng Teror 58. Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Metro Cempaka Putih, Ajun Komisaris Gozali Luhulima, menyatakan ada beberapa anggota Wools yang merangkap sebagai anggota Teror 58. “Ketua gengnya pun sama, LH,” kata dia saat dihubungi Selasa, 24 April 2012.

Menurut Gozali, dalam melakukan aksinya, kedua geng itu sama-sama mengincar pelajar. “SMP, SMA, SMK, tidak ada sasaran dari sekolah tertentu,” kata Gozali menceritakan hasil pemeriksaan LH yang ditengarai sebagai Ketua Geng Wools maupun Teror 58. Perbedaannya, geng Teror 58 mengincar siswa-siswa berseragam yang menumpang Kopaja 58. “Makanya, namanya Teror 58,” ujar Gozali.

Polisi belum mengetahui jumlah anggota Teror 58. Hanya, ada beberapa anggota geng itu yang juga tergabung dalam geng Wools. Tempat nongkrong mereka pun sama, yakni di warung Wools di Jalan Cempaka Tengah IV, Jakarta Pusat. Adapun jumlah anggota geng Wools berkisar antara 17 sampai 19 orang.

Geng yang sering berkumpul di warung itu, menurut Gozali, memang kerap tawuran di daerah Johar Baru, Kemayoran, atau Cempaka Putih. “Mereka sudah ada sejak dua tahun lalu,” katanya.

Sabtu pekan lalu, LH membacok Dwiki, seorang siswa SMP Negeri 216, Jakarta Pusat. LH mengatakan Dwiki dan temannya mengendarai motor dan menggeber gas di depan tempat LH dan teman-temannya berkumpul. “Saya emosi, jadi saya bacok,” kata LH saat ditemui Ahad, 22 April.

Saat ini Kepolisian Sektor Cempaka Putih telah menangkap tiga orang anggota geng, yakni LH, 16 tahun, RP (16), dan E (16). Ketiganya saat ini masih ditahan di Polsek Metro Cempaka Putih. “Tapi satu atau dua hari lagi akan dipindahkan ke Lapas Salemba yang ada tempat untuk anak. Di sini, kami tidak punya fasilitas untuk anak,” ujarnya.

Anak Bunuh Bapak Kandung Karena Kesal Tidak Diberikan Warung Untuk Menafkahi Istri Keduanya

Pria satu ini bisa disebut anak durhaka. Ia sampai hati membacok kepala ayah kandungnya di kamar rumahnya di Beji, Depok, Rabu (23/5) dinihari. Tindakan keji ini dipicu rasa kecewa karena warung yang dibangun ayahnya bukan diberikan padanya untuk menafkahi istri keduanya melainkan disewakan ke orang lain.

Usai melampiaskan rasa kesalnya, Imron Rosadi, 36, langsung pergi meninggalkan ayahnya, Masri Muhammad yang tergeletak bersimbah darah di lantai kamar mandi rumah di Jl. Karet , Pondok Cinda, Beji. Beruntung, tetangga mendengar kegaduhan itu cepat berdatangan.

Dalam kondisi kritis, tubuh bapak delapan anak tersebut dibopong tetangga lalu dilarikan ke RS Mitra Keluarga, Depok. Tetangga juga membekuk Imron yang masih memegang clurit bernoda darah.

Dini hari itu, sekitar Pk. 02:00, Masri seorang diri di rumah karena istrinya tengah menginap rumah salah satu dari delapan anaknya. Ia terbangun dari tidur lalu pergi ke kamar kecil di belakang rumah.

Mendadak, Imron datang. Anak kelima Masri yang sudah tiga minggu minggat dari rumah, masuk menggunakan kunci cadangan. Pria beristri dua yang memberinya enam anak itu langsung mencari bapaknya. Mengetahui Masri ada di kamar mandi, Imron yang emosi mendobrak pintu.

Tanpa banyak bicara Imron mengayunkan clurit ke kepala bapaknya. Masri berteriak kesakitan lalu ambruk berdarah-darah. Tetangga pun berdatangan, sebagian meringkus Imron yang lainnya melarikan korban ke rumah sakit. Kanit Reskrim Polsek Beji, Iptu Cahyo Putra Wijaya bersama anggotanya datang ke rumah itu meringkus Imron. Clurit yang dipakai untuk menganiaya Masri disita.

KESAL SAMA BAPAK
Menurut Iptu Cahyo Putra Wijaya, saat dibawa ke kantor polisi tercium bau alkohol dari mulut tersangka. “Kami belum bisa meminta keterangan korban karena kondisinya belum memungkinkan,” katanya. Tersangka dijerat dengan pasal pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dan Undang-Undang Darurat Tahun 1951 karena kedapatan membawa senjata tajam.

Dalam pemeriksaan Imron mengaku kecewa dan kesal sama bapaknya karena warung yang didirikan di tanah orang tuanya itu semula dijanjikan akan diberikan padanya. “Tapi setelah saya merapikan warung, tiba-tiba saja bapak mau menyewakan ke orang lain,” ungkap Imron. “Padahal saya sudah menyiapkan warung itu untuk tempat dagang istri kedua.”

MERTUA DIJOTOS MENANTU
Kekerasan dalam keluarga juga dilakukan Amaluddin, 28, di rumahnya di Kampung Dukuh, Kebayoran Baru, Jaksel, Selasa (22/5) malam. Ia menghajar ibu mertuanya, Maryam Sadeli, 55, lantaran kesal ditegur karena sering menganiaya istri.
Maryam yang bibirnya jontor dan hidungnya berdarah, melapor ke Polsek Kebayoran Baru. Amaludin pun digelandang ke kantor polisi, setelah sempat dihakimi massa. Menurut Maryam, menantu pengangguran itu memang tinggal bersamanya. Maryam tak senang anaknya, Fatimah, 26, sering dianiaya hingga ia sering menasihati Amaludin.

Rupanya bapak dua anak ini tersinggung hingga ibu mertuanya dijotos. Amaludin sempat mau kabur, tapi keburu dibekuk massa. ”Dia mau kabur dan sudah mengambil golok tapi kami menangkapnya lalu membawa ke kantor sekretariat RW,” kata Heri, warga.

Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol Hamdan Maulana, mengatakan pelaku bisa dijerat pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. “Kami masih memeriksanya,” ujar kapolsek.

Alfamart Jatiasih Dirampok Penjahat Bersenjata Api dan Tajam Dengan Kerugian 34 Juta

Lima laki-laki membawa senjata api dan samurai, merampok Alfamart yang berlokasi di pintu masuk Kompleks Pemda di Kampung Kebantenan, Kelurahan/Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, pada Senin (21/5/2012) sekitar pukul 22.40. Kerugian mencapai Rp 34,6 juta.

Informasi dari Polsek Jatiasih Selasa (22/5/2012) mengungkapkan, komplotan rampok itu datang dengan menggunakan tiga sepeda motor. Tiga perampok masuk toko dan dua lagi berjaga-jaga di luar toko.

Para pelaku langsung menodongkan senjata api dan samurai ke Jumarto (38) dan Yosef Toufik (20), keduanya karyawan. Lalu pelaku mengikat kaki dan tangan korban dengan tali plastik. Pelaku juga membekap mulut keduanya dengan lakban. Setelah itu, pelaku memerintahkan korban menghadap dinding.

Komplotan rampok itu dengan cepat mengasak uang tunai di laci kasir sebesar Rp 3,8 juta, 78 slop rokok berbagai merk, sejumlah kosmetika,dan sejumlah susu kemasan.

Para penjahat itu juga membawa kabur motor milik korban, sebuah Honda Vario warna biru putih tahun 2012 dengan nomor polisi B 3454 KFS. Sehingga total kerugian akibat aksi perampokan lima penjahat itu mencapai Rp 34,6 juta.

Organisasi Pitam Kuning Rekrut Perampok Baru Dengan Bayaran 250.000 Untuk Rampok Minimarket

Perampokan bersenjata api yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya disinyalir dilakukan oleh komplotan perampok yang terorganisir. Aksi mereka pun selalu terencana baik.

Ketua organisasi dan ketua wilayah mendapat bagian 80 persen, 20 persen untuk anggota. Kalau anggota baru cuma dikasih Rp 250.000
— Bambang Priyo Andogo

Kepala Polresta Tangerang Komisaris Besar Bambang Priyo Andogo mengatakan, perampok beraksi dalam waktu amat singkat. Saat beraksi hingga membawa hasil perampokan, hanya berlangsung selama lima menit. Komplotan tersebut menamakan dirinya Pitam Kuning. Sebelum beraksi, kawanan perampok ini melakukan pengintaian terlebih dahulu terhadap targetnya selama satu minggu. “Mereka mengincar minimarket 24 jam yang sepi dan juga berpenghasilan besar,” kata Bambang, Senin (21/5/2012).

Menurut Bambang, Pitam Kuning ini tidak beroperasi di Tangerang, tapi juga di Bekasi, Jakarta, Serang, hingga Karawang, Semarang , dan Surabaya. Setiap kelompok ini dipimpin oleh ketua organisasi dan ketua wilayah. Mereka memiliki jaringan yang luas dan sangat terorganisir dengan merekrut anggota baru. Salah satu caranya adalah dengan menculik calon anggota. Jika tidak mau bergabung, calon anggota akan dipaksa dan diancam akan dibunuh jika berkhianat.

Mereka pun menggunakan sistem bagi hasil untuk setiap hasil perampokan. Ketua organisasi Pitam Kuning atau ketua wilayah akan mendapat 80 persen dari hasil perampokan tersebut, sisanya dibagikan untuk anggota.

“Menurut keterangan pelaku yang telah kita tangkap, ketua organisasi dan ketua wilayah mendapat bagian 80 persen, 20 persen untuk anggota. Kalau anggota baru cuma dikasih Rp 250.000,” katanya.

Setiap melakukan aksinya mereka berjumlah 5-7 orang. Komplotan ini diketahui tak hanya merampok minimarket, tetapi juga toko emas. Saat ini polisi masih terus melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap ketua kelompok maupun anggota lainnya. Polresta Tangerang telah menangkap dua orang perampok yang melakukan aksinya di wilayah Serpong, yakni di Indomaret 24 jam di Jalan Raya Serpong dan Alfamidi 24 jam di BSD.