Monthly Archives: Oktober 2011

Pelaku Pembunuhan Seksual Sadis Wanita Dalam Kardus Di Koja Berhasil Ditangkap Polisi

Penyidik Kepolisian Polda Metro Jaya meringkus dua orang yang diduga sebagai pelaku pembunuhan yang jasad korbannya dimasukkan ke dalam tas koper di Cakung, Jakarta Timur dan kardus televisi yang ditemukan di Koja, Jakarta Utara.

“Berdasarkan informasi dua orang pelaku sudah ditangkap petugas dan satu orang lainnya belum ditangkap,” kata Kepala Biro Operasi Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Sujarno di Jakarta, Jumat.

Sujarno mengatakan petugas menangkap kedua pelaku pembunuhan sadis tersebut, dalam Operasi Sikat Jaya 2011, karena tersangka termasuk target operasi.

Ia mengungkapkan penyidik menemukan adanya keterkaitan antara pelaku pembunuhan terhadap korban di Koja dengan Cakung.

Namun, perwira menengah kepolisian tersebut, belum menjelaskan identitas pelaku, kronologis maupun lokasi penangkapan tersangka.

Sebelumnya, sesosok jasad berkelamin wanita ditemukan warga di Jalan Kurnia Gang D RT 07/17 Kelurahan Tugu, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Jumat (14/10) sore.

Warga menemukan sesosok jasad wanita tanpa idenitas ditutup seprai coral bunga di dalam kardus televisi berwarna coklat dengan kondisi mengalami luka sobek akibat tusukan pada bagian perut.

Petugas menemukan tiga lembar pas foto ukuran 2X3 dan dua lembar pas foto ukuran 4X6 seorang pria tidak dikenal, serta gulungan tali plastik warna hitam di dalam kardus.

Warga juga menemukan sesosok mayat perempuan berusia 8 – 10 tahun di dalam tas koper di pinggir Jalan Raya Cacing, Cakung Barat, Cakung, Jakarta Timur, Sabtu

Polisi Menduga Pembunuh Sadis Wanita Dalam Kardus di Koja dan Anak Wanita Dalam Koper Cakung Adalah Orang Yang Sama

Kepolisian menduga penemuan mayat tak beridentitas di kawasan Koja, Jakarta Utara, dan Cakung, Jakarta Timur, saling terkait. Keterkaitan itu dilihat dari cara pembunuhan sadis yang dilakukan pelaku. “Kami duga ada kaitannya karena polanya sama,” ungkap Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan.

Dia melanjutkan, kesamaan pola itu dilihat dari cara yang dilakukan pelaku dalam membuang jenazah korban. “Di Jakarta Timur dimasukkan ke dalam kopor. Di Jakarta Utara dimasukkan ke dalam kardus, ini mirip caranya,” tutur Irwan.

Jenazah juga sengaja dibalut dengan kain. Korban di Jakarta Utara dibalut dengan kain bermotif batik berwarna biru dan merah muda, sedangkan korban tewas di Jakarta Timur dibalut dengan kain kelambu berwarna abu-abu.

Irwan mengatakan, pelaku juga tampak sengaja meninggalkan petunjuk berupa kartu nama untuk mayat bocah perempuan yang dibuang di Cakung dan foto laki-laki untuk mayat perempuan dewasa yang dibuang di sebuah gang di Koja. Petunjuk itu bisa jadi untuk memburamkan identitas pelaku sebenarnya.

“Bisa jadi itu petunjuk sebenarnya untuk memburamkan fakta, kami belum tahu. Saya dapat informasi yang di timur itu setelah diperiksa sama si pemilik kartu nama, ternyata dia enggak ada kaitannya, bisa jadi foto cowok juga begitu,” kata Irwan.

Tetapi, lanjutnya, kepolisian tetap harus menelusuri petunjuk itu. “Hasilnya bagaimana, itu nantilah, kami tetap akan telusuri petunjuk-petunjuk,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua mayat tak beridentitas ditemukan pekan lalu. Pada Jumat (14/10/2011) siang, sesosok mayat ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, berkulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam.

Belum selesai pengungkapan mayat di dalam kardus, pada Sabtu (15/10/2011), mayat tak beridentitas lagi-lagi ditemukan. Kali ini mayat di dalam kopor di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan berusia 8-10 tahun. Hingga kini, polisi masih mencari identitas kedua mayat itu.

Hingga kini belum diketahui identitas mayat perempuan yang dimasukkan ke dalam kardus televisi di Jalan Kramat Raya, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara beberapa waktu lalu. Namun, kuat dugaan pelaku pembunuhan wanita malang berusia sekitar 40 tahun cukup sadis.

Hal ini diakui Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan. Ia mengatakan dugaan kuat kematian wanita itu karena mati lemas setelah dibekap pelaku.

Namun, rupanya pelaku tidak berhenti usai membekap korban. Pelaku justru kembali menyakiti korban dengan menusuk memakai senjata tajam sehingga menyebabkan luka sedalam 25 mm di bagian perut. “Ada juga pendarahan dari luka tusuk itu,” ungkap Irwan.

Ia menambahkan bahwa saat pelaku membunuh, korban tengah hamil dengan usia kandungan 4-6 minggu. “Kami masih belum mengetahui motif di balik ini apa,” ungkap Irwan.

Ia menuturkan penyidik kini melihat adanya kesamaan antara korban tewas di Koja, Jakarta Utara dengan mayat bocah perempuan berusia 10 tahun di Cakung, Jakarta Timur. “Kami lakukan tes DNA keduanya untuk melihat apakah ada hubungan darah,” tandasnya.

Polisi menemukan selembar kartu nama bertuliskan Saripudin bersama dengan mayat bocah perempuan yang dimasukkan ke dalam koper di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Namun, setelah ditelusuri ternyata pemilik kartu nama itu tidak mengenal korban.

Kepala Unit Reskrim Polsek Metro Cakung Ajun Komisaris Made, Senin (17/10/2011) mengatakan, dalam kartu nama itu, tercantum alamat Saripudin di Jalan Boulevard Gading Permai, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Polisi kemudian menelusuri alamat tersebut dan memeriksa pemilik kartu nama.

Saat ditunjukkan foto korban, Saripudin mengaku tidak mengenalnya. Ia juga heran mengapa kartu namanya ada di dalam koper bersama anak usia 5-9 tahun yang tewas mengenaskan dalam koper itu.

“Dia itu sales alat elektronik dulunya. Memang dia sebar banyak kartu nama. Dia bingung siapa yang punya kartu namanya dan kenapa ada sama anak itu,” kata Made.

Made mengatakan, polisi masih belum dapat menyimpulkan dugaan kematian bocah malang itu. Tes DNA untuk mencocokkan adanya hubungan darah antara korban dan mayat perempuan dewasa di Koja pun sudah dilakukan hari ini. Namun, hasilnya masih belum keluar.

Mayat bocah itu ditemukan pada Sabtu (15/10/2011) di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan yang berusia 5-9 tahun. Korban memiliki gigi jarang di bagian depan, tinggi badan sekitar 105 cm, memakai anting jarum pentul warna ungu, dan memiliki bekas luka parut di bagian dagu sebelah kiri.

Korban tewas yang ditemukan di dalam kardus yang tergeletak di Jalan Kramat Raya, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara pada Jumat (14/10/2011) lalu diduga tewas karena lemas. Ada dugaan korban tewas setelah sebelumnya sempat dibekap oleh pelaku. Hal ini disampaikan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan.

“Dari hasil forensik menyebutkan dia mati lemas atau dibekap,” ujarnya. Irwan menuturkan kesimpulan itu didapat tim forensik setelah melihat bagian-bagian tubuh tertentu.

“Misalnya lubang tinja itu dilihat. Ada tandanya, yang tahu forensik, kalau dia mati lemas itu bagaimana,” ucap Irwan.

Tetapi, kata Irwan, hasil forensik juga menunjukkan penyebab kematian bisa saja karena tusukan benda tajam. Pasalnya, di bagian perut korban ditemukan luka tusuk akibat kemasukan senjata tajam sedalam 25 mm. “Diperkirakan korban tewas 12 jam sebelum ditemukan,” tambah Irwan.

Dari hasil visum yang diterima polisi, perempuan itu diketahui memiliki ciri-ciri berusia 40 tahun, bergolongan darah A, berkulit kuning langsat, berambut panjang berwarna hitam, dan tinggi badan mencapai 155 cm. Bagi pihak yang mengenali ciri-ciri itu, bisa menghubungi call center Polda Metro Jaya di nomor 0816782000, atau Call Center Polrestro Jakarta Utara yakni 081367422777.

“Kami fokus pada pengungkapan identitas korban. Kalau sudah diketahui, akan lebih mudah proses penelusurannya,” pungkas Irwan. Identitas foto anak laki-laki berusia 15-16 tahun yang disertakan bersama mayat perempuan di dalam kardus yang ditemukan di wilayah Koja, Jakarta Utara, masih misterius. Polisi sudah berkoordinasi dengan Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara dan memastikan bahwa anak laki-laki berseragam sekolah itu bukanlah pelajar di wilayah Jakarta Utara. Demikian disampaikan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan.

“Tadi sudah koordinasi dengan Sudin Disdik Jakut, Pak Gatot. Dia memastikan kalau di Jakarta Utara tidak ada sekolah baik SD, SMP, dan SMA yang memiliki seragam seperti di foto itu,” ujarnya.

Polisi sampai sekarang juga belum mendapatkan laporan pihak yang mengaku mengenali sosok laki-laki berseragam biru tersebut. Demikian pula dengan sosok jenazah perempuan yang dibunuh secara sadis dan dimasukkan ke dalam kardus.

“Belum ada satu pun yang mengenali foto laki-laki dan jenazah perempuan,” kata Irwan.

Pihak polisi, kata Irwan, sudah menyebar ratusan foto wajah perempuan yang diperkirakan berusia 40 tahun itu. Foto-foto korban disebar di berbagai tempat keramaian di wilayah Koja, Tanjung Priok, dan Cilincing.

Polres Metro Jakarta Utara dan Polda Metro Jaya kini juga membuka call center apabila ada pihak yang memiliki informasi penemuan jenazah perempuan malang itu. Adapun nomor telepon call center Polda Metro Jaya yakni 0816782000, sedangkan call center Polrestro Jakarta Utara yakni 081367422777.

Seperti diberitakan sebelumnya, sesosok mayat perempuan ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, usia 40 tahun, kulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam warna hitam.

Sebanyak 11 orang saksi diperiksa terkait penemuan mayat tak beridentitas yang dimasukkan ke dalam kardus dan koper di wilayah Koja, Jakarta Utara dan Cakung, Jakarta Timur. Hal ini disampaikan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Baharudin Djafar, Senin (17/10/2011), di Mapolda Metro Jaya. Ia melanjutkan untuk kasus penemuan mayat di dalam koper di Cakung sebanyak tiga orang sudah dimintai keterangan.

“Di timur sudah ada tiga orang saksi yang diperiksa. Mereka yang ada di sekitar lokasi saat mayat ditemukan,” ungkap Baharudin.

Sementara untuk penemuan mayat perempuan dewasa di Jakarta Utara, polisi telah memeriksa delapan orang saksi. “Di antaranya dua orang saksi yang menemukan langsung, dua orang yang melihat di ujung gang, dan empat orang pemilik rumah di sekitar lokasi,” kata Baharudin.

Saat ini, polisi juga membuka call center bagi siapa pun yang mengenali sosok mayat tersebut yakni di nomor 0816782000. Diakui Baharudin, polisi akan bertindak proaktif dalam mencari identitas kedua mayat yang diduga saling terkait itu.

“Semua sumber informasi akan jadi saran bagi kepolisian untuk membuat terang kasus ini,” kata Baharudin.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua mayat tak beridentitas ditemukan pekan lalu. Pada Jumat (14/10/2011) siang, sesosok mayat ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, berkulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam.

Belum selesai pengungkapan mayat di dalam kardus, pada Sabtu (15/10/2011), mayat tak beridentitas lagi-lagi ditemukan di dalam kopor di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan yang berusia 8-10 tahun. Hingga kini, polisi masih mencari identitas kedua mayat itu.

Polda Metro Jaya bersama Polres Metro Jakarta Utara masih terus melakukan pemeriksaan terkait penemuan mayat perempuan tak beridentitas yang dimasukkan ke dalam kardus televisi. Polisi kini mulai mencurigai pengendara motor yang diketahui warga sering bolak-balik di tempat ditemukannya mayat itu.

“Orang yang naik motor bolak-balik ini yang kami dalami. Sampai sekarang kami belum tahu motornya apa dan nomor polisinya berapa,” ungkap Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Gatot Edy Pramono, Minggu (16/10/2011) di Mapolda Metro Jaya.

Ia melanjutkan, penyidik sudah meminta keterangan dari warga setempat yang pertama kali menemukan mayat itu dan warga lain yang melihat pengendara motor itu. “Sejauh ini baru warga-warga itu. Belum ada yang lain,” tutur Gatot.

Sebelumnya, sesosok mayat perempuan ditemukan berada di dalam kardus televisi yang dibuang di pinggir Gang B RT 7 RW 17, Jalan Kramat Jaya, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara, Jumat (14/10/2011) pukul 14.30.

Menurut beberapa warga, kardus itu ditemukan setelah beberapa saat terdengar suara gaduh barang dibuang dan diikuti suara motor. Saat dilihat ternyata ada sebuah kardus televisi besar diletakkan di jalanan.

Ketika dibongkar, warga melihat sesosok mayat perempuan yang dibelit kain batik. Wajahnya ditutup rambut panjangnya yang lurus. Temuan ini pun dilaporkan ke Polres Metro Jakarta Utara. Penyidik Reskrim Polrestro Jakarta Utara yang membongkar kardus itu menemukan mayat perempuan itu hanya mengenakan pakaian dalam. Tubuhnya pun diikat dengan tali rafia sehingga badan dan kakinya menyatu. Selain itu ditemukan foto bocah laki-laki dan luka tusuk di bagian perut.

Polisi menduga dua mayat tanpa identitas di dalam kardus dan koper yang ditemukan di Koja, Jakarta Utara dan Cakung, Jakarta Timur saling berkaitan. Untuk membuktikan keterkaitan keduanya, polisi akan mencocokan DNA dari kedua jenazah.

“Hari ini dari dua temuan itu akan dicek DNA oleh kedokteran forensik untuk melihat kecocokan apakah dua jasad ini punya keterkaitan atau berhubungan darah atau tidak,” ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Baharudin Djafar, Senin (17/10/2011), di Mapolda Metro Jaya.

Diakui Baharudin, kepolisian sampai sekarang juga masih belum mengetahui identitas kedua jenazah tersebut. Pasalnya, masih belum ada pihak yang mengaku pernah mengenal jenazah itu. Baharudin menjelaskan, polisi saat ini fokus untuk mengungkap identitas keduanya. Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara dan Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur langsung membentuk tim khusus didukung Direskrimum Polda Metro Jaya.

“Tujuannya untuk cari identitas korban. Kami juga membuka call center di nomor 0816782000,” ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua mayat tak beridentitas ditemukan pekan lalu. Pada Jumat (14/10/2011) siang, sesosok mayat ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, berkulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam.

Belum selesai pengungkapan mayat di dalam kardus, pada Sabtu (15/10/2011), mayat tak beridentitas lagi-lagi ditemukan di dalam koper di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan yang berusia 8-10 tahun. Hingga kini, polisi masih mencari identitas kedua mayat itu.

Mayat Wanita berbaju Muslimah Ditemukan Dalam Koper Dengan Alat Kelamin dan Dubur Rusak

Sesosok jasad bocah perempuan yang diduga korban pemerkosaan, ditemukan di dalam koper hitam oleh di pinggir jalan dibawah tiang listrik di wilayah Jl. Cakung-Cilincing, RT 004 RW 4, Cakung Barat, Jaktim, Sabtu (15/10).

“Dugaan sementara adalah korban pembunuhan pemerkosaan, pasalnya alat kemaluan dan dubur korban rusak,” kata Kapolres Jaktim, Kombes Saidal Mursalin.

Korban diduga tewas sejak beberapa hari yang lalu, pasalnya bau menyengat dan kondisi fisiknya yang sudah hancur terlihat sangat mengenaskan. Korban pun sulit dikenali lantaran wajahnya sudah tidak terlihat utuh dimana bola matanya sudah hampir keluar dari posisinya. Selain itu, dari alat kelamin korban, terlihat usus yang keluar.

Saat ditemukan, di koper berukuran 40 cm X 30 cm itu terlihat beberapa potong pakaian, diantaranya baju jilbab muslimah warna merah, kelambu biru, celana pendek tentara, dan baju mandi warna merah jambu. Dibeberapa tumpukan pakaian tersebut, korban ditemukan tanpa sehelai benang pun dengan wajah yang lebam.

Tidak ada ciri-ciri khusus yang terdapat dari tubuh korban, sermua ini lantaran sekujur badannya melepuh akibat disiram air panah Yang terlihat korban berambut hitam yang diperkirakan sepanjang bahu, namun semuanya sudah mulai terlihat rontok.

“Kami terus melakukan penyelidikan, namun bila ada masyarakat yang kehilangan anak berusia 5 tahun sampai delapan tahun segera melaporkan ke polisi terdekat,” ujar Saidal.

Marzuki, 50, salah seorang saksi yang pertama kali menemukan koper dengan merek polo mengatakan “Waktu saya lagi jalan, saya lihat ada koper yang dikerubungi lalat. Saya yakin banget kalau itu mayat, makanya saya langsung lapor polisi,” katanya.

Sementara itu, jasad bocah malang itu langsung dibawa ke RSCM untuk di otopsi.

Terjadi Lagi, Baby Sitter Asal Karawang Diperkosa Oleh Sopir Mikrolet M 28 Jurusan Kampung Melayu – Pondok Gede

Belum habis cerita kasus pemerkosaan yang dilakukan sopir tembak angkutan umum di wilayah Jakarta Selatan, namun kejadian ini kembali terjadi di wilayah Jakarta Timur. Kali ini korbannya wanita yang bekerja sebagai baby sitter di kawasan Kalimalang, Jaktim. Korban diperkosa di sebuah Taman Garuda, Pinang Ranti, Jaktim, tak hanya itu harta benda korban juga diperas pelaku.

Peristiwa yang menimpa HL , 38, tersebut terjadi pada Sabtu (8/10) lalu, namun pelaku akhirnya dapat diringkus Rabu (12/10) malam sekitar pk 23.00 setelah korban melaporkan kejadian tersebut ke polsek Makasar. “Kita baru saja menangkap Edy Sitorus, 25, yang merupakan sopir mikrolet M 28 jurusan Kampung Melayu – Pondok Gede karena terbukti mempemerkosa penumpangnya,” kata Kabag Humas Polres Jaktim, Kompol Didik Heriyadi.

Menurut Didik, pemerkosaan itu terjadi ketika wanita asal Karawang itu, akan pulang ke rumah majikannya setelah berkunjung ke rumah kerabatnya di Pondok Gede. Korban yang baru bekerja sekitar enam bulan di Jakarta memberanikan diri untuk pulang meski sudah malam sekitar pukul 22.00.

Ketika di pertigaan Pondok Gede di mana angkutan umum biasa mangkal, wanita itu terlihat linglung. Hingga akhirnya Mikrolet yang dikendarai Edy melintas di depannya. Spontan HL langsung menanyakan apakah mobil yang dikendarainya itu melewati Jl. Raya Kalimalang, pelaku langsung mengiyakan.”Ayo ini lewat Kalimalang, naik aja,” ucap Didik seperti menirukan Edy.

Singkat cerita korban langsung menaiki angkutan umum tersebut, namun baru setengah jalan korban tersadar kalau jalan yang dilalui mobil yang ditumpainya tidak sesuai dengan rute yang seharusnya. Hingga akhirnya wanita berkulit putih itu memberanikan diri untuk menanyakan kepada sang sopir. Namun si sopir yang merupakan mantan residivis itu langsung berupaya meyakinkan korban dengan berucap “Tenang aja nanti saya anterin sampe rumah”.

Mobil melaju hingga memasuki daerah Terminal Kampung Melayu, di sini mantan tahanan kasus yang dipenjara atas kasus lalulintas itu tetap berupaya meyakinkan korban. “Nanti pokoknya habis ini saya pulangin mobil ke sopir batangan saya, habis itu kita naik angkot ke rumah majikan kamu,” ucap Didik seraya pengakuan Edy kepada penyidik.

Korban dan pelaku akhirnya kembali ke tempat asalnya di kawasan Pondok Gede untuk mengembalikan mobil. Saat sopir asli menanyakan siapa wanita yang dibawa kepada Edy, lelaki ini pun langsung menutup mulut perempuan yang tinggal di daerah Rawagabus Selatan, Karawang, Jabar. Entah mengapa si sopir asli tersebut membiarkan mereka berdua menaiki mobil KR yang akan menuju ke Kampung Rambutan.

Mereka berdua pergi dengan menaiki angkutan umum lain, ketika di kawasan Garuda, tepatnya di sekitar Tamini Square, mereka berdua turun. Di sinilah niat jahat pelaku mulai beraksi. Lelaki yang diketahui tinggal di daerah Bekasi itu, langsung menarik korban masuk ke dalam taman yang kala itu sudah tampak sepi karena waktu sudah menunjukan pk: 01.30.
Dengan nada suara yang tinggi sambil mengancam, korban diminta untuk menyerahkan uang Rp50 ribu yang ada didompetnya dan cincin 1 gram yang dipakainya. Tak hanya itu, pelaku juga langsung melucuti semua pakaian korban untuk melayani nafsu bejatnya. Usai menggauli korbannya pelaku juga masih meminta HP Nokia yang dimiliki korban.

“Sebelum diperkosa, pelaku awalnya memeras harta korban,” tutur Didik.

Usai kejadian tersebut, pelaku tak lantas pergi, demi meyakinkan korban yang terlihat polos itu, Edy memberikan nomor telepon selulernya. Mereka berdua juga masih mampir ke rumah makan untuk mengisi perut yang lapar, dan setelah itu baru pulang sendiri-sendiri.

Korban yang tiba di rumah majikannya di pagi hari sekitar pk: 05.30, langsung masuk kedalam rumah. Sang majikan yang khawatir langsung menanyakan kemana saja semalaman itu karena telepon yang ada tidak bisa dihubungi. Dia pun tidak mau mengatakan kalau dirinya menjadi korban pemerasan dan pemerkosaan.

“Dia (korban) awalnya tidak mengaku, tapi begitu terus didesak baru menceritakan kejadian yang dialaminya,” cerita Didik. Pada Rabu (12/10) korban dan majikannya langsung melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Makasar. Petugas langsung bergerak cepat, dipimpin Kanit Reskrim AKP Ujang Rohanda, pengejaran langsung dilakukan.

Kala itu polisi berupaya memancing korban dengan menghubungi telepon yang dimiliki HL. Secara kebetulanj juga, HP tersebut langsung diangkat Edy. Dengan mengiming-imingi uang sebesar Rp300 ribu, korban janjian dengan pelaku di kawasan Pondok Gede pula. Tepatnya di depan kantor Bank BRI Pondok Gede, petugas langsung dapat meringkus pelaku tanpa adanya perlawanan.

Saat akan dimasukan ke ruang tahanan, wartawan yang mencoba menanyakan kenapa begitu teganya memperkosa dan memeras korban, pria ini mengatakan kalau dirinya melihat korban dengan wajah yang linglung, sehingga dirinya berupaya mengakali korban.

“Awalnya cuma mau iseng-iseng, tapi dia (korban) malah gampang banget dibohongi. Makanya saya setubuhi aja,” kata Edy.
Pelaku yang kini meringkuk di ruang tahanan polsek Makasar sakan dikenakan dengan dua pasal berlapis. Dengan pasal 368 mengenai pemerasan serta pasal 285 tentang pemerkosaan, pelaku akan dijerat dengan hukuman 9 tahun dan 12 tahun penjara.

Tangan Ibu Dosen Universitas Sangga Buana Bandung Nyaris Putus Karena Polisi Lalai Mengamankan Jembatan Yang Rawan Kejahatan

Tangan kanan dosen muda Universitas Sangga Buana Bandung, Dita,26, nyaris buntung akibat disabet golok oleh geng motor di Jembatan Layang Pasupati, Bandung, Minggu malam. Selain itu harta benda korban termasuk motor dibawa kabur oleh pelaku.

Hingga kini korban masih dirawat di RS Bormeus Bandung. Pihak kampus dan mahasiswa meminta supaya polisi lebih serius mengamankan jembatan layang terutama di malam hari karena sering dijadikan aksi geng motor.

Pembantu Dekan Fakultas Adiminstrasi dan Komunikasi USB YPKP Bandung, Dr. H. Atang Syamsudin, ke ‘Pos Kota’ melaporkan, aksi kejahatan yang menimpa dosen Sangga Buana di jurusan Ilmu Komunikasi itu berlangsung Minggu malamn sekitar pukul 21.00.

Korban yang baru menjalni kegiatan di kampus pulang ke arah Setiabudi melalui jalur Flyover Pasupati Bandung menggunakan sepeda motor. Ketika motor korban berada di jembatan layang tersebut, tiba-tiba geng motor yang diperkirakan berjumlah 20 orang masuk ke tengah jalan kemudian mengepung dosen Dita yang sedang mengemudikan motornya. ” Korban berhenti karena jalan ditutup mereka. Bisa dibayangkan seorang perempuan dikepung 20 berandalan,” kata dia.

Saat korban tak berdaya, salah seorang geng langsung menyabet tas korban yang berisi dokumen, HP, dan uang jutaan rupiah. Korban, lanjut Atang, sempat melawan ketika tasnya dijambret.

Namun, anggota geng lain yang melihat rekasi korban bergegas mencabut golok kemudian menyikat tangan dosen tersebut. Masih belum puas, saat korban menangis dan berteriak minta tolong, pelaku menyikat sepeda motornya. Warga sekitar yang mengetahui kejadian tadi bergegas melapor ke polisi kemudian korban dilarikan ke RS Bomeus Bandung.

” Kami meminta kepada polisi supaya Jembatan Layang Pasupati diperhatikan secara serius terutama di malam hari. Kejadian ini bukan baru sekali tapi sudah belasan kali. Mengapa polisi acuh dan tak melakukan tindakan?” ungkap Atang dengan nada kesal. Sejumlah polisi di Sat Reskrim Polrestabes Bandung mengaku belum menerima laporan kasus Pasupati

Novinda Parantika Mahasiswi Institut Musik Indonesia Nekad Lompat Dari Angkot Karena Menolak Diperkosa Sopir Angkot Mikrolet M 27 (Kampungmelayu-Pulogadung) Dijalan Pemuda

Melihat gelagat yang mencurigakan dari sopir angkot, Novinda Parantika (18), mahasiswi Institut Musik Indonesia (IMI) Pulogadung, nekat meloncat dari mikrolet M 27 (Kampungmelayu-Pulogadung) di Jalan Pemuda di dekat halte busway Tugas, Kamis (6/10) pagi sekitar pukul 08.45.

Akibatnya Novinda tak sadarkan diri dan mengalami gegar otak ringan serta luka robek di kepala bagian belakang sepanjang 25 cm. Oleh petugas di halte busway Tugas, Novinda dibawa ke Rumah Sakit Harapan Jayakarta (RSHJ), Cakung.

Erryanto (41) paman korban, saat ditemui wartawan di RSHJ, Jumat (7/10) pagi, menuturkan berdasarkan pengakuan keponakannya, Novinda meloncat saat angkot melaju dengan kecepatan tinggi. Saat itu di dalam angkot hanya ada Novinda, sopir angkot, dan seorang laki-laki yang duduk di belakang sopir.

Dia curiga ada gelagat yang tak baik dari sopir angkot karena melewati jalan yang bukan rute trayeknya. Bahkan saat Novida minta turun sambil menyerahkan uang ongkosnya, sopir angkot justru tancap gas.

Khawatir akan menjadi korban kejahatan, apalagi perkosaan, mahasiswi itu nekat loncat dari angkot di depan shelter busway Tugas di Jalan Pemuda. Tubuh Novida terhempas ke aspal dan langsung tak sadarkan diri.

Menurut Erryanto dari keterangan dokter, Novinda mengalami indikasi gegar otak ringan. Novinda mendapat 5 jahitan di kepala bagian belakangnya. “Dia sadar dan sudah bisa bicara. Tapi dokter meminta kami menunggu perkembangan karena gegar otak ringan. Bisa memburuk atau membaik,” kata Erryanto.

Menurut Erryanto saat kejadian keponakannya itu tidak mengenakan pakaian yang minim atau menggairahkan seperti yang sering digembar gemborkan oleh sekelompok orang pendukung psikopat dan pendukung lelaki yang ahlakhnya buruk yang membenarkan pemerkosaan. Novinda mengenakan celana jins, kaos, dan jaket berbahan jeans.

Erryanto mengatakan pihaknya belum melaporkan peristiwa yang menimpa keponakannya ke polisi. “Mungkin nanti kami akan lapor polisi. Tapi saat ini kita fokus ke kondisi Novinda dulu,” kata Erryanto

Pascaperistiwa pemerkosaan seorang karyawati di dalam angkutan umum D-02 jurusan Pondok Labu-Ciputat, sejumlah mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN), mengaku takut naik angkot tersebut.

Sejumlah mahasiswi itu, kini lebih selektif memilih angkot, serta enggan hanya naik angkot sendirian. Rute angkutan umum D-02, memang melewati kampus UIN di Jalan IR H Juanda.

Mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum, Ana (19), mengatakan, setelah ada peristiwa itu ia jadi lebih berhati-hati.Setiap hari, Iin naik angkot D-02 untuk pulang ke rumahnya di Ciputat.

“Sekarang, saya kalau naik angkutan umum tidak mau sendirian. Harus bareng temen pokoknya,” ujar Iin, ditemui di kampusnya, Kamis (15/9). Padahal, sebelumnya ia kerap naik angkot seorang diri.

Sementara itu, Iin Aminah (19), mahasiswi Fakultas Dakwah UIN angkatan 2011, menuturkan, ia kini lebih selektif memilih angkutan umum, yakni tidak mau naik angkot berkaca gelap dan banyak diisi penumpang lelaki.

Seragam sopir
Sementara itu untuk mengantisipasi maraknya sopir angkutan kota (angkot) tembak, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menyarankan agar Dinas Perhubungan DKI Jakarta menata kembali administrasi para sopir angkot. Dengan begitu, pengawasan dan pemberian sanksi terhadap awak angkot nakal mudah dilakukan.

“Sopir angkot harus menggunakan seragam khusus dan membawa surat penunjukan dari depo-nya. Dengan begini kan identitas pengemudinya jelas. Sehingga jika terjadi pelanggaran dan ternyata identitas sopirnya beda, maka bisa ditelusuri,” ucap Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Royke Lumowa, Kamis (15/9) siang.

Penertiban dan pendataan administrasi awak angkot, kata Royke, menjadi kewenangan Dishub DKI. Jika terjadi pelanggaran maka pihak pengusaha angkot bisa kena sanksi administratif. Sedangkan pihak kepoilisian lebih kepada pelanggaran lalu lintas dan tindak kriminalitas.

Saat ini kata Royke, banyak armada angkot yang tidak terawasi keberadaannya oleh pengusaha penyedia angkutan. Angkot banyak yang jarang pulang ke kandang (depo atau pool) tapi seringnya dibawa oleh si pengemudi. Cara seperti ini memudahkan sopir tembak beroperasi.

Novinda Parantika (18), ditemukan telah terbaring tak sadarkan diri tak jauh dari tumpukan sampah, di perempatan Tugas, Pulogadung, Jakarta Timur, tak jauh dari shalter Transjakarta Tugas.

Salah seorang petugas Shalter Tugas Transjakarta, Jumali (43), mengatakan bahwa Novinda ditemukan warga tengah tergeletak tak sadarkan diri, sekitar pukul 09.00 WIB, tak jauh dari tumpukan sampah.

Ia mendapati korban telah terbaring tak sadarkan diri, dengan sejumlah luka di kepalanya. Ia pun kebingungan mengapa perempuan itu bisa tak sadarkan diri. Menurutnya saat itu tak satu pun orang yang sempat melihat adanya angkot M 27 melintas.

“Akhirnya perempuan itu dibawa sama beberapa petugas dengan menggunakan bajaj ke rumah sakit,” katanya. Hingga kini ia pun masih bertanya-tanya, bagai mana perempuan itu bisa tak sadarkan diri diseberang shalter transjakarta tempatnya bekerja.

Menurutnya, Jalan Raya Pemuda tempat Novinda ditemukan terbaring, bukanlah jalur angkot M 27, dan hampir tidak pernah sama sekali dilewati angkot tersebut. Mahasiswi Institute Musik Indonesia itu kini keadaannya sudah berangsur pulih. Perawatannya pun telah dipindah, dari RS Harapan Jayakarta, ke RS Premier Jatinegara.

Juara 1 Lomba Vokal dalam acara World Choir Grand Champion Beijing, China pada tahun 2010 lalu, Putri Novinda (18), di duga telah menjadi korban percobaan perkosaan oleh seorang supir angkot M27 jurusan Pulogadung- Kampung Melayu, Kamis (06/10/2011).

Salah seorang kerabat korban menuturkan, bahwa, Putri yang merupakan mahasiswi Institute Musik Indonesia (IMI), itu hendak berangkat kuliah dari kediamannya kawasan Pulogadung, Jakata Timur, dengan menumpangi angkot M 27.

Namun dalam perjalanan angkot yang sepi penumpang itu kemudian tiba-tiba keluar dari trayeknya, angkot tersebut tiba-tiba berbelok ke Jalan Raya Pemuda. Menurut Eryanto, Putri sempat bertanya kepada sang supir.

“Tapi kata supirnya tidak apa-apa,” katanya.

Saat itu di dalam angkot hanya terdapat sang supir, teman sang supir yang duduk di di depan, dan beberapa laki-laki. Karena ketakutan ia pun nekat melompat keluar dari angkot yang melaju, dan terjembab tepat di Jalan Pemuda.

Akibat aksi nekatnya, Putri kini harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Harapan Jayakarta, Pulogadung, Jakarta Timur. Akibat tindakan penyelamatan dirinya itu, Ia di vonis oleh dokter menderita geger otak ringan.

“Tapi kini kondisinya sudah membaik,” kata Eryanto. Novinda Parantika (18), mengaku hingga kini masih merasa pusing-pusing, setelah kepalanya cidera akibat ia melompat dari angkot M 27 Jurusan Pulogadung-Kampung Melayu di perempatan TU Gas, Pulogadung, Jakarta Timur, kemarin (06/10/2011).

Saat ditemui ruangan Cempaka 1, Rumah Sakit Harapan Jayakarta, Cakung, Jakarta Timur, (07/10/2011), ia mengatakan bahwa dirinya juga tidak bisa begitu mengingat ciri-ciri angkot dan sang supir.

Samar-samar ia mengingat bahwa sang supir merupakan laki-laki berumur sekitar 35 – 40 tahun, dengan cara bicara seperti orang mabuk. “Makanya saya takut,” katanya.

Setelah ia melompat keluar, ia langsung tidak sadarkan diri, ia baru kembali sadar setelah ia terbaring di Rumah Sakit. Ia juga tidak bisa mengingat apakah kaca angkot tersebut gelap atau terang.

Pascainsiden, tersebut, perempuan yang mengaku baru tiga bulan di Jakarta itu mengatakan bahwa ia tidak menjadi trauma menumpang angkot. Namun ia akan lebih berhati-hati memilih angkot.

“Saya akan pilih-pilih angkot nanti,” tandasnya.

Seorang Istri Diperkosa Setelah Ditinggal Suaminya Sendirian Di Pasar Sehabis Bertengkar

IV (46), warga Kampung Lengkong Wetan, Serpong, Tangerang Selatan, bernasib naas. Wanita berparas ayu itu menjadi korban perampokan dan perkosaan seorang residivis yang baru saja dikenalnya di Pasar Serpong.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Warta Kota, Iv bersama suaminya pergi ke Pasar Serpong, Rabu (8/6) sore. Entah karena persoalan apa, pasangan itu bertengkar di pasar. Beberapa menit setelah cekcok mulut, Iv ditinggal oleh sang suami.

Dalam posisi bingung dan tidak tahu bagaimana harus pulang ke rumah kontrakannya di Kelurahan Panungganan Utara, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, Iv bertemu dengan seseorang berinisial MPS (30).

Dalam pertemuan kilat itu, MPS mampu memperdaya Iv yang memang sedang dalam keadaan bingung. MPS hadir seolah bagai malaikat pelindung. Dengan penuh bujuk rayu, MPS bersedia mengantar pulang ke rumah kontrakan Iv.

Namun sesampai di rumah kontrakan sekitar pukul 21.30, kondisi rumah kontrakan kosong. Suami Iv ternyata tidak pulang ke rumah. Keadaan itu dimanfaatkan MPS. Setelah diperbolehkan masuk ke ruang tamu, ia coba meyakinkan Iv dan meminta untuk berhubungan badan. Alasan MPS, agar Iv rileks setelah berhubungan intim.

Niat busuk itu langsung ditolak Iv, apalagi mengingat ia baru saja mengenal MPS. Karena ditolak mentah-mentah, MPS jadi kesal. Dia menjadi buas, dan mencengkeram leher Iv. Dalam pergumulan itu Iv coba menendang dan memukul MPS. Karena MPS sudah kesetanan, kepala dan wajah Iv dipukul dengan batu yang kebetulan ada di ruang tamu Iv. Akibatnya Iv menderita luka pada bagian kepala dan wajah.

Dalam kondisi Iv sekarat, MPS melampiaskan nafsu birahinya. Ia memperkosa Iv yang tak mampu melawan lagi. Setelah memperkosa Iv, MPS lalu merampas ponsel dan perhiasan milik perempuan tersebut.

“Identitas pelaku sudah kami ketahui. Pelaku ternyata residivis yang pernah kami tangkap. MPS pernah dipenjara di Cipinang. Jadi tunggu saja perkembangan kasus ini. Pelaku masih dikejar oleh tim buser,” ucap Kompol Arlon Sitinjak, Kapolsek Cipondoh, saat dihubungi Warta Kota, Kamis (9/6) sore.

Menurut Arlon, MPS berhasil merampas ponsel berharga Rp 400.000 dan perhiasan emas sekitar empat gram.