Monthly Archives: November 2008

Polisi Kini Merazia Game Porno Di Mal

Pornografi merasuki masyarakat melalui banyak media. Bahkan akhir-akhir ini, pornografi banyak ditawarkan lewat permainan komputer. Satu toko di Supermall Lippo Karawaci yang menyediakan CD program berisi permainan porno untuk komputer, Selasa (25/11) malam, digerebek Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) Polda Metro Jaya.

Pemilik toko, Yul, 40, seorang janda, diringkus berikut barang bukti 25.200 keping VCD/DVD bajakan termasuk CD game porno.

Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raja Erizman, Rabu (26/11), mengatakan Ny.Yul kini masih menjalani pemeriksaan untuk mengetahui dari mana kepingan game porno itu diperoleh.

“CD game porno itu melanggar kesopanan. Di dalam game ini diperlihatkan gambar porno jika pemain telah memenangkan game tersebut, misalnya gadis membuka BH,” kata Raja Erizman didampingi Kepala Satuan Industri dan Perdagangan, AKBP Golkar Pangarso.

RP15 RIBU PER KEPING
Penggerebekan terhadap tempat usaha milik Ny. Yul dipimpin oleh Kompol Parulian Sinaga. Saat dilakukan penggerebekan, pemilik tidak berkutik dan pasrah.

Dari hasil pemeriksaan, tersangka mengaku telah menjalani bisnis haramnya ini selama tiga tahun. Tersangka menjual CD game porno seharga Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per keping, Harga CD program computer lainnya dipatok Rp 25 ribu – Rp50 ribu per keping. “Tersangka Yul ini melanggar undang-undang hak cipta dengan menggandakan dan memperjualbelikan VCD/DVD bajakan,” kata Raja Erizman.

Bayar 10 Juta Bila Ingin Berselingkuh Dengan Nenek Yang Sudah Punya 3 Cucu

Zaman memang sudah edan. Seorang nenek memiliki tiga cucupun berbuat mesum dengan lelaki yang menjabat sebagai ketua Karang Taruna. Ketika perbuatan bejat itu terbongkar, suami si nenek minta ganti rugi Rp10 juta.

Kasus perselingkuhan yang terjadi di Desa Sukajaya, Cibitung, Bekasi, ini terungkap Senin (24/11) malam pukul 23:00. Ketika itu Enday, 30, memergoki mertuanya Suy, 43, tengah berasyik masyuk dengan Yo, 36.

Enday menuturkan perselingkuhan antara Suy dengan Yo sebenarnya sudah bukan rahasia umum lagi. Kasak-kusuk di antara warga sudah santer terdengar ke telinga keluarganya. “Tapi Karena belum ada bukti, kami tidak berani bertindak,” tutur Enday yang juga Kaur Trantib Desa Sukajaya.

Untuk membuktikannya, pada malam itu, Enday bersama beberapa warga mengawasi perilaku Yo dan Suy. Saat Suy masuk ke dalam rumah di Kampung Cikarang, Sukajaya, dan beberapa menit kemudian disusul Yo, warga langsung mendatanginya.

Ketika kedua insan ini tengah mereguk kenikmatan di dalam kamar, warga yang sudah kesal dengan perilaku mereka, mendobrak pintu kamar. Kedua orang yang berada di dalamnya lalu ditarik keluar dan diarak ke rumah ketua RT.

MUSYAWARAH
Kades Sukajaya, Murdanih, lalu meminta warga untuk tidak mengarak pasangan itu dan permasalahannya agar diselesaikan di kantor desa. Dalam musyawarah, Sanan, 45, suami Suy bersedia menganggap selesai permasalahan, asal pelaku memberikan uang ganti rugi Rp10 juta.

“Mereka sudah musyawarah dan korban meminta ganti rugi Rp10 juta. Jumlah itu sudah disanggupi oleh pelaku,” tutur Murdanih, Kades Sukajaya. Selain itu, kata kades, pelaku juga membuat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatannya.

Camat Cibitung, Sutia, ketika dihubungi Pos Kota, mengatakan pihaknya belum mengetahui persoalan yang terjadi di Sukajaya . “Nanti mungkin lurah akan melaporkan,” ujarnya.

Menurut keterangan warga, perselingkuhan yang dilakukan Yo yang sudah memiliki 2 istri itu memanfaatkan kesehatan San, suami Suy, yang pendengarannya terganggu. “Memang bapak mertua saya budek,” tandas Enday

Taman Sari Pusat Penjualan Gadis Muda Indonesia Ke Malaysia Untuk Dijadikan Pelacur

Kawasan Taman Sari, Jakarta Barat, menjadi pusat transit kegiatan trafficking perempuan muda dan anak yang dijual untuk eksploitasi seksual di Malaysia dan negara lain. Para perempuan dan anak tersebut sebelum dikirim menjalani pelatihan di kawasan Taman Sari.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Perlindungan Anak Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak (PP IDAI) Rachmat Sentika, Selasa (25/11) di Jakarta, menjelaskan, para perempuan dan anak yang diperdagangkan untuk dieksploitasi seksual itu menjalani semacam pelatihan di pusat hiburan malam di sekitar Taman Sari, Jakarta Barat.

”Ada lokasi sejenis di Jakarta Timur. Tetapi sebagian besar kegiatan itu berlangsung di Taman Sari, Jakarta Barat. Pelatihan untuk trafficking itu berlangsung sekurangnya dalam waktu tiga bulan,” kata Rachmat Sentika.

Kegiatan ”pelatihan” itu berkedok tempat pijat dan bar. Rachmat yang sudah tujuh tahun menangani kasus trafficking anak dan perempuan terutama dari Indonesia ke Malaysia menambahkan, para perempuan dan anak juga banyak yang menjalani bedah kosmetik sebelum dikirim ke luar negeri.

”Sesudah dikirim ke Malaysia, mereka harus melayani sekurangnya 150 tamu sebelum uang yang dipakai untuk memodali mereka dianggap lunas. Mereka banyak yang terjebak trafficking karena areal lahan pertanian di desanya terus menyusut sehingga harus beralih ke sektor jasa. Namun untuk bisa masuk, mereka tidak memiliki kemampuan di sektor formal,” kata Rachmat.

Hasil kajian Rachmat yang disampaikan untuk Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI) menerangkan, pusat kegiatan perdagangan anak khususnya bagi eksploitasi seksual selain Malaysia juga menjangkau Australia, Singapura, Brunei, Thailand, Taiwan, Hongkong, Jepang, Korea, Kuwait, Irak, Arab Saudi, dan Eropa Barat.

Secara terpisah, Dubes RI untuk Kerajaan Malaysia Jenderal Polisi Purnawirawan Da’i Bachtiar menjelaskan, saat ini ada 600.000-800.000 TKI ilegal di seluruh Malaysia.

”Sudah ada sekitar 217.000 TKI yang diputihkan. Sebagian dari mereka yang menjadi korban trafficking didominasi perempuan,” kata Da’i.

TKI ilegal

Selasa kemarin, aparat kepolisian Cibinong, Jawa Barat, menangkap Farhan (38) di rumah kontrakannya di Perumahan Bumi Sentosa Cibinong, Kelurahan Nanggewer, Kecamtan Cibinong, Kabupaten Bogor.

Farhan ditangkap karena diduga bersama dua rekannya, Ikbal dan Faisal, sengaja menampung 17 perempuan dan empat laki-laki di rumah kontrakannya. Hasil penyelidikan sementara, ke-21 orang ini akan dikirim ke Malyasia atau Jepang sebagai tenaga kerja ilegal.

Menurut Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Cibinong Iptu Victor DH Inkiriwang, para korban itu berasal dari Bandung, Cirebon, Cianjur, Ambon, dan Banjarmasin. Mereka dijanjikan mendapat pekerjaan di luar negeri dengan iming-iming gaji besar. Mereka sudah dimintai uang masing-masing Rp 750.000 dengan alasan untuk pembuatan paspor.

Preman Merajalela Di Kawasan Industri dan Perumahan – Kepolisian Republik Indonesia Terlihat Tidak Mampu Memberantasnya

Meski ribuan orang telah ditangkap, praktek premanisme ternyata masih subur, terutama di kompleks perumahan dan kawasan industri. Keberadaan mereka terasa menghantui kehidupan warga karena tanda ada tindakan hukum semestinya.

Di daerah pinggiran Jakarta, aksi premanisme tampil dengan berkedok kuli angkut atau tenaga bongkar muat. Kiprahnya ada yang berkelompok kecil ada pula terorganisir dan diduga dibekingi oknum aparat.

Organisasi mereka biasanya beraroma kedaerahan menguasai kawasan industri atau perumahan. Cara kerjanya untuk mendapatkan uang dengan meminta upeti bila ada proyek pembangunan.

Setiap kendaraan yang keluar-masuk kawasan kekuasaannya membawa barang, langsung dimangsa. Kepada awak kendaraan, mereka minta sejumlah uang upeti yang besarnya ditentukan seenaknya.

”Kalau tidak diberi, mereka marah dan melempari kendaraan, ” kata Santoso, satu supplier (pemasok) bahan bangunan yang mengaku sering diperas preman di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Senin (24/11).

Kelompok ini memaksa korban pemerasan untuk menggunakan tenaga angkut atau bongkar dari anggota geng mereka. ”Saya juga heran, ketika membawa besi baja seberat 6 ton, mereka minta uang bongkar. Padahal yang nurunin forklift.”

PREMAN PERUMAHAN
Hal yang sama juga terjadi di kawasan perumahan, terutama di lokasi baru yang terdapat di Kabupaten Bekasi.”Bayangkan, ketika saya mau merenovasi rumah BTN, dikenai biaya pompa dan septictank Rp 2 jutaan. Kalau bikin sendiri tidak sampai setengahnya,” kata Ridho, warga satu perumahan di Tambun Selatan.

Dia menyebutkan bila tidak dituruti jangan harap renovasi rumah lancar. ”Belum lagi kalau bawa material dari luar, pasti dipajak mereka.”

Suasana tersebut mengesankan hukum rimba. Penegakan hukum menjadi impian banyak orang. Warga juga heran mengapa tindak kriminalitas terang-terangan tersebut dibiarkan aparat berwenang.

Menanggapi hal ini, Kapolres Metro Kabupaten Bekasi, AKBP Herri Wibowo, menegaskan pihaknya tidak segan-segan menyikat habis, terutama preman yang terorganisir.

Menurut Kasat Reskrim Polres Metro Kabupaten Bekasi, AKP Susetyo Condro, kawanan preman di kawasan industri sebenarnya sudah kerap dirazia, tetapi mereka selalu menghilang. ”Karena itu kami berharap warga jangan ragu melapor jika ada aksi premanisme di wilayahnya,” katanya pula.

SANGAT MERESAHKAN
Tidak hanya di wilayah Bekasi, praktek dan keresahan serupa berlangsung di kawasan Depok dan Tangerang. Warga perumahan di Kelurahan Rawa Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Kabupaten Tangerang, sehari-harinya menghadapi premanisme.

Modus mereka berkedok kuli panggul yang mendatangai penghuni kompleks yang sedang membangun. Preman ini biasanya berkumpul di depan toko bangunan sambil menunggu kendaraan pengangkut barang-barang.

Bila ada kendaraan yang mengangkut semen, batu bata dan pasir, mereka langsung mengejar. Setelah sampai tujuan, kawanan preman langsung menurunkan barang tanpa diperintahkan sang pemilik.

Buntutnya, mereka minta uang jasa.Jika pemilik proyek bangunan hanya memberi sedikit uang, mereka berteriak minta tambah. Tak digubris, mereka mengancam menghancurkan barang-barang.

Deniarto, warga, mengatakan, kegiatan yang dilakukan kawanan preman itu sangat menakutkan. Bila mereka kerja sebagai kuli atas dasar kesepakatan, justru sangat membantu.

“Kehadiran mereka cukup membantu, namun bila memaksa minta upah yang cukup besar, ya meresahkan juga, “ kata pria yang menjadi mandor proyek pembangunan rumah.

HARGA LEBIH TINGGI
Warga bisa tidak berhubungan langsung dengan preman yaitu melalui pengusaha material. Namun harga materialnya lebih tinggi karena telah dimasukkan biaya preman. “Biasanya pelanggan kami beritahu lebih dulu, mau bayar langsung ke kuli angkut atau lewat kami,” ujar Yunan, karyawan toko bangung.

Contohnya, batu bata harga normal Rp250/batang naik menjadi Rp300 termasuk untuk preman. “Kebanyakan pelanggan lebih memilih membeli barang berikut ongkos upah kuli panggul, biar nggak ribed.”

Praktek premanisme model serupa di Kelurahan Cinangka, Sawangan, Depok dalam bentuk permintaan jatah kuli angkut dari mobil-mobil material yang keluar-masuk perumahan. “Untuk jasa menurunkan pasir ukuran Kijang, warga dikenai tarif Rp13 ribu. Belum lagi bata dan semen. Kita sebenarnya keberatan karena menjadikan ekonomi biaya tinggi, tapi tak bisa berbuat apa-apa,” jelas warga perumahan di Cinangka.

Aparat Polsek Serpong mengaku sering mengamankan pelakunya. “Kita sering mengamankan pelaku pemerasan dengan modus seperti itu. Masyarakat jangan takut lapor,” ungkap Kanit Reskrim Polsek Serpong, Ipda Fiki Novian Ardiansyah.

KESENJANGAN EKONOMI
Erlangga Masdiana, Kriminolog Universitas Indonesia (UI), mengatakan faktor utama menyeruaknya premanisme adalah kensenjangan ekonomi. Selain itu banyak warga sekitar perumahan atau kawasan industri tidak memiliki pekerjaan tetap. “Faktor itulah yang akhirnya memicu premanisme.”

Pihak kepolisian, kata Erlangga, harus berani bertindak tegas untuk melindungi warga. Upaya mengurangi aksi premanisme khususnya di kawasan industri, diharapkan perusahaan juga harus berani mempekerjakan warga sekitar. “Dengan cara seperti ini saya rasa aksi premanisme lingkungan dapat dicegah. Selain menyiapkan lapangan pekerjaan pihak perusahaan juga harus menyediakan sekolah atau training bagi masyarakat sekitar.”

BERANTAS PREMANISME
Kaba Reskrim Mabes Polri, Komjen Pol. Susno Duadji, ketika dihubungi menegaskan semua bentuk pungutan liar baik yang dilakukan perorangan, kelompok terorganisir atau oknum berseragam adalah aksi premanisme.

“Preman di perumahan, pasar, terminal, penagih utang semua kita sikat karena sudah sangat meresahkan masyarakat. Polisi punya senjata, kenapa harus takut? Kalau aparat jadi beking juga akan kita basmi,” tegas Susno Duadji.

Selama sekitar tiga minggu digelar operasi preman di wilayah Jabodetabek, tak kurang dari 4.057 orang diduga sebagai preman dirazia. Dari jumlah tersebut , 327 dijadikan tersangka. Operasi ini terus digelar. Targetnya masyarakat betul-betul merasa aman. (tim PkPreman Hantui Warga Perumahan dan Industri
JAKARTA (Pos Kota) – Meski ribuan orang telah ditangkap, praktek premanisme ternyata masih subur, terutama di kompleks perumahan dan kawasan industri. Keberadaan mereka terasa menghantui kehidupan warga karena tanda ada tindakan hukum semestinya.

Di daerah pinggiran Jakarta, aksi premanisme tampil dengan berkedok kuli angkut atau tenaga bongkar muat. Kiprahnya ada yang berkelompok kecil ada pula terorganisir dan diduga dibekingi oknum aparat.

Organisasi mereka biasanya beraroma kedaerahan menguasai kawasan industri atau perumahan. Cara kerjanya untuk mendapatkan uang dengan meminta upeti bila ada proyek pembangunan.

Setiap kendaraan yang keluar-masuk kawasan kekuasaannya membawa barang, langsung dimangsa. Kepada awak kendaraan, mereka minta sejumlah uang upeti yang besarnya ditentukan seenaknya.

”Kalau tidak diberi, mereka marah dan melempari kendaraan, ” kata Santoso, satu supplier (pemasok) bahan bangunan yang mengaku sering diperas preman di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Senin (24/11).

Kelompok ini memaksa korban pemerasan untuk menggunakan tenaga angkut atau bongkar dari anggota geng mereka. ”Saya juga heran, ketika membawa besi baja seberat 6 ton, mereka minta uang bongkar. Padahal yang nurunin forklift.”

PREMAN PERUMAHAN
Hal yang sama juga terjadi di kawasan perumahan, terutama di lokasi baru yang terdapat di Kabupaten Bekasi.”Bayangkan, ketika saya mau merenovasi rumah BTN, dikenai biaya pompa dan septictank Rp 2 jutaan. Kalau bikin sendiri tidak sampai setengahnya,” kata Ridho, warga satu perumahan di Tambun Selatan.

Dia menyebutkan bila tidak dituruti jangan harap renovasi rumah lancar. ”Belum lagi kalau bawa material dari luar, pasti dipajak mereka.”

Suasana tersebut mengesankan hukum rimba. Penegakan hukum menjadi impian banyak orang. Warga juga heran mengapa tindak kriminalitas terang-terangan tersebut dibiarkan aparat berwenang.

Menanggapi hal ini, Kapolres Metro Kabupaten Bekasi, AKBP Herri Wibowo, menegaskan pihaknya tidak segan-segan menyikat habis, terutama preman yang terorganisir.

Menurut Kasat Reskrim Polres Metro Kabupaten Bekasi, AKP Susetyo Condro, kawanan preman di kawasan industri sebenarnya sudah kerap dirazia, tetapi mereka selalu menghilang. ”Karena itu kami berharap warga jangan ragu melapor jika ada aksi premanisme di wilayahnya,” katanya pula.

SANGAT MERESAHKAN
Tidak hanya di wilayah Bekasi, praktek dan keresahan serupa berlangsung di kawasan Depok dan Tangerang. Warga perumahan di Kelurahan Rawa Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Kabupaten Tangerang, sehari-harinya menghadapi premanisme.

Modus mereka berkedok kuli panggul yang mendatangai penghuni kompleks yang sedang membangun. Preman ini biasanya berkumpul di depan toko bangunan sambil menunggu kendaraan pengangkut barang-barang.

Bila ada kendaraan yang mengangkut semen, batu bata dan pasir, mereka langsung mengejar. Setelah sampai tujuan, kawanan preman langsung menurunkan barang tanpa diperintahkan sang pemilik.

Buntutnya, mereka minta uang jasa.Jika pemilik proyek bangunan hanya memberi sedikit uang, mereka berteriak minta tambah. Tak digubris, mereka mengancam menghancurkan barang-barang.

Deniarto, warga, mengatakan, kegiatan yang dilakukan kawanan preman itu sangat menakutkan. Bila mereka kerja sebagai kuli atas dasar kesepakatan, justru sangat membantu.

“Kehadiran mereka cukup membantu, namun bila memaksa minta upah yang cukup besar, ya meresahkan juga, “ kata pria yang menjadi mandor proyek pembangunan rumah.

HARGA LEBIH TINGGI
Warga bisa tidak berhubungan langsung dengan preman yaitu melalui pengusaha material. Namun harga materialnya lebih tinggi karena telah dimasukkan biaya preman. “Biasanya pelanggan kami beritahu lebih dulu, mau bayar langsung ke kuli angkut atau lewat kami,” ujar Yunan, karyawan toko bangung.

Contohnya, batu bata harga normal Rp250/batang naik menjadi Rp300 termasuk untuk preman. “Kebanyakan pelanggan lebih memilih membeli barang berikut ongkos upah kuli panggul, biar nggak ribed.”

Praktek premanisme model serupa di Kelurahan Cinangka, Sawangan, Depok dalam bentuk permintaan jatah kuli angkut dari mobil-mobil material yang keluar-masuk perumahan. “Untuk jasa menurunkan pasir ukuran Kijang, warga dikenai tarif Rp13 ribu. Belum lagi bata dan semen. Kita sebenarnya keberatan karena menjadikan ekonomi biaya tinggi, tapi tak bisa berbuat apa-apa,” jelas warga perumahan di Cinangka.

Aparat Polsek Serpong mengaku sering mengamankan pelakunya. “Kita sering mengamankan pelaku pemerasan dengan modus seperti itu. Masyarakat jangan takut lapor,” ungkap Kanit Reskrim Polsek Serpong, Ipda Fiki Novian Ardiansyah.

KESENJANGAN EKONOMI
Erlangga Masdiana, Kriminolog Universitas Indonesia (UI), mengatakan faktor utama menyeruaknya premanisme adalah kensenjangan ekonomi. Selain itu banyak warga sekitar perumahan atau kawasan industri tidak memiliki pekerjaan tetap. “Faktor itulah yang akhirnya memicu premanisme.”

Pihak kepolisian, kata Erlangga, harus berani bertindak tegas untuk melindungi warga. Upaya mengurangi aksi premanisme khususnya di kawasan industri, diharapkan perusahaan juga harus berani mempekerjakan warga sekitar. “Dengan cara seperti ini saya rasa aksi premanisme lingkungan dapat dicegah. Selain menyiapkan lapangan pekerjaan pihak perusahaan juga harus menyediakan sekolah atau training bagi masyarakat sekitar.”

BERANTAS PREMANISME
Kaba Reskrim Mabes Polri, Komjen Pol. Susno Duadji, ketika dihubungi menegaskan semua bentuk pungutan liar baik yang dilakukan perorangan, kelompok terorganisir atau oknum berseragam adalah aksi premanisme.

“Preman di perumahan, pasar, terminal, penagih utang semua kita sikat karena sudah sangat meresahkan masyarakat. Polisi punya senjata, kenapa harus takut? Kalau aparat jadi beking juga akan kita basmi,” tegas Susno Duadji.

Selama sekitar tiga minggu digelar operasi preman di wilayah Jabodetabek, tak kurang dari 4.057 orang diduga sebagai preman dirazia. Dari jumlah tersebut , 327 dijadikan tersangka. Operasi ini terus digelar. Targetnya masyarakat betul-betul merasa aman

Wanita Muda Dipenggal Dihotel Sehabis Berhubungan Intim

Mengerikan. Wanita berusia sekitar 22 tahun ditemukan tewas dengan kepala terpenggal di kamar Hotel Handayani 2, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Minggu (23/11) malam.

Hingga Senin (24/11) siang , polisi masih belum menemukan identitas wanita malang tersebut. Petugas menduga korban karyawati perusahaan rokok ternama perwakilan Ngawen, Kabupaten Salatiga.

Penyelidikan pihak kepolisian mengarah kepada pemilik motor AB 3758 CL, yang kini menjadi satu-satunya petunjuk selain barang bukti berupa sidik jari. “Dokter tim forensik yang memeriksa tubuh korban, menyebutkan korban dibunuh Minggu malam, di atas Pk. 22:00,” kata Kapolres Semarang, AKBP Drs Abdul Hafidz Yuhas.

Menurut kapolres, hasil pemeriksaan tim forensik, korban tewas setelah lehernya dipenggal. Dari perkembangan penyidikan, sejak Minggu malam hingga Senin dinihari, penyidik telah memeriksa sedikitnya 12 orang saksi. Termasuk, tamu yang menginap di hotel tersebut.

Dari lokasi kejadian, petugas gabungan Polsek Getasan dan Polres Semarang yang dipimpin Kapolsek Getasan, AKP Sugani hanya mengamankan kasur dan sprei yang penuh dengan noda darah, sperma, dua bantal, dua gelas dan tabloid remaja.

Kuat dugaan, pelaku telah merencanakan pembunuhan sadis tersebut. Wanita muda malang itu memiliki ciri-ciri kulit kuning langsat, tinggi diperkirakan 160 cm, usia berkisar 22-25 tahun memiliki tanda di telapak kaki kanan bagian atas berupa bercak putih.

Ciri-ciri pelaku perawakan sedang, kulit kuning langsat, rambut cepak dengan logat Jawa kental, usia berkisar 27-30 tahun. Saat datang, pelaku penggunakan celana krem, jaket kulit hitam dengan menaiki motor Suzuki Smash hitam.

Ketika ditemukan pertama kali oleh sejumlah petugas hotel, posisi korban dalam keadaan terlentang di kamar mandi hotel. Bahu menghadap pintu kamar mandi.

TANCAP GAS
Pembunuhan sadis itu baru diketahui setelah pelaku keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa dan langsung tancap gas naik sepeda motornya. Hal itu sempat dilihat Ferry,21, anak pemilik hotel. Karena curiga Fery bersama sejumlah karyawan hotel masuk ke dalam kamar dan kaget melihat korban tewas mengenaskan.

Korban dan pelaku menginap di kamar hotel hanya sekitar tiga jam. Menurut Ny Sri Mulyani,45, pemilik hotel, pelaku sengaja tidak meninggalkan identitas karena langsung membayar sewa kamar.

Berani Berbuat Tidak Berani Tanggung Jawab – 580 Pria Kabur Meninggalkan Istri dan Anak Kelaparan

Sekitar 580 pria, yang sebagian besar kepala keluarga, sejak pekan lalu kabur meninggalkan rumah mereka. Para warga Desa Lontar, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang, itu kabur dari desa mereka karena takut ditangkap polisi terkait kasus kerusuhan di proyek PLTU 3 Banten di Desa Lontar.

Keluarga yang mereka tinggalkan sudah kehabisan bahan pangan. ”Kasihan anak-anak dan istri mereka menangis terus. Tidak ada yang mencarikan nafkah. Banyak yang mulai kelaparan dan jatuh sakit,” kata Marjen, tokoh masyarakat yang dihubungi Kompas, Senin (24/11) pagi.

Marjen mengaku bingung harus mencari sumbangan ke mana untuk makanan keluarga yang ditinggal kabur oleh kepala keluarganya yang selama ini menjadi tulang punggung mereka.

Selama ini sebagian besar pria itu bekerja sebagai nelayan. Lainnya ada yang bekerja serabutan, dengan penghasilan sekitar Rp 15.000 sehari. ”Saya tahu persis,” kata Marjen yang dulunya dikenal sebagai juragan kapal itu.

Mereka kabur tanpa kabar. Ada yang menginformasikan di antara mereka ada yang menyeberang hingga Sumatera.

”Mereka takut. Ada yang beranggapan kalau menyerahkan diri akan ditembak,” tutur seorang warga lainnya.

Kepala Polsek Metro Mauk yang baru, Komisaris Dody Sundoro, Minggu (23/11) sore, berkunjung ke Desa Lontar dan berbincang-bincang dengan warga di kantor desa. Dody meminta warga yang kabur segera pulang, kasihan keluarga.

Bagi yang merasa bersalah diminta segera menyerahkan diri ke polisi. ”Yang tidak bersalah pulang saja,” kata Dody yang sebelumnya menjabat Kepala Polsek Metro Kronjo.

Dody menggantikan Komisaris Ruslan yang dicopot jabatannya karena kasus kerusuhan di PLTU 3 Banten yang berlatar belakang pemberantasan premanisme.

Bersama 15 ketua RT

Ke-580 pria itu meninggalkan desanya bersama 15 ketua RT mereka. Dua ketua RT lainnya tidak kabur karena keburu tertangkap polisi. Mereka kabur setelah kerusuhan yang disertai penjarahan dan pembakaran mes proyek PLTU 3, 14 November. Sejak itu polisi masuk desa dan mencari orang-orang yang terlibat kerusuhan.

Sampai dengan hari Senin, Polres Metro Tangerang Kabupaten telah menahan 24 warga Lontar, termasuk para perangkat desa, mulai dari kepala desa, sekretaris desa, hingga bendahara, dua ketua RT, serta sejumlah warga.

Bukan premanisme

Pemilik mayoritas armada truk dan alat berat proyek pembangunan PLTU 3 Banten, Hendriarto Setiadi, yang dihubungi terpisah semalam di rumahnya menegaskan, tak ada premanisme atau ”uang jago” dalam kasus kerusuhan di PLTU.

”Apa yang kami berikan kepada Desa Lontar adalah kompensasi atas gangguan lingkungan selama proses pengurukan kawasan tambak seluas lebih kurang 600 hektar. Gangguan itu, antara lain, debu dan suara bising alat-alat berat yang berlangsung selama 24 jam,” ujar Hendriarto.

”Kami ikhlas, bahkan merasa, pungutan tersebut wajib kami penuhi,” lanjut Hendriarto.

Apabila yang diinginkan polisi adalah pernyataan tertulis dari kontraktor bahwa pungutan yang berlangsung bukan ”uang jago” atau praktik premanisme, ”Kami, kontraktor dan sub-sub kontraktor akan lakukan,” katanya.

Hendriarto berharap, adanya pernyataan tertulis tersebut bisa dijadikan dasar polisi untuk membebaskan warga dan perangkat desa yang dituduh melakukan premanisme, kecuali mereka yang melakukan pembakaran, perusakan, dan penjarahan.

Hendriarto membantah adanya pesan singkat (SMS) tentang adanya praktik premanisme.

Terjadi Lagi … Wanita Muslim Indonesia Diperkosa, Dipenjara Serta Dicambuk Di Arab Saudi

Sosok bocah cantik yang bermain di halaman sebuah rumah berdinding keramik pada Kamis (20/11) siang itu, tampak berbeda dari teman-teman sepermainannya. Bocah itu berumur 18 bulan dengan badan gemuk, kulit putih bersih, rambut berombak indah dan hidung mancung. Wajah kearab-araban bocah bernama Rani Dwi Lestari ini gampang dibedakan dengan wajah khas Jawa teman-teman sebanya.

Memang, Rani yang tinggal bersama ibu kandung dan ayah angkatnya di Desa Wringin Telu, Kecamatan Puger, Jember ini berdarah campuran: Jawa dan Arab. Lalu kenapa bocah itu bisa berada di Puger, yang berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat kota Jember?

Rani memang anak kandung dari –sebut saja– Nur, 38. Namun Wagiman, 40, yang telah menjadi suami Nur selama 20 tahun terakhir, bukanlah ayah kandung Rani. Nur mengandung Rani setelah dia diperkosa oleh keponakan majikannya saat bekerja di Jeddah, Saudi Arabia. Sejak tiga minggu lalu, Rani menginjak Indonesia dan kemudian tinggal bersama ibunya di Puger.

Nurs menuturkan, dia mulai pergi ke Arab Saudi sebagai pembantu rumah tangga (PRT) pada April 2006 lewat PT AG yang berada di Malang. Setahun pertama Nur di Saudi tidak ada masalah. Komunikasi terus berjalan dengan keluarga di Puger, dan bahkan setelah 5 bulan bekerja ia bisa mengirimkan uang Rp 4,2 juta.

Tapi setelah itu komunikasi terputus. Keluarga baru mengetahui kondisi Nur pada Februari 2008 dari kabar lewat sepucuk surat yang ditulis teman Nur di Saudi. Surat itu membuat keluarga di Puger kaget. Sebab, isinya memberitahu bahwa Nur sedang dipenjara di tahanan khusus wanita Ar Ruwais Woman Detention Centre di Jeddah karena perbuatan asusila. Dia dikenai hukuman dua tahun plus hukuman cambuk.

Nur menuturkan, pemenjaraannya berawal ketika dirinya melahirkan Rani pada April 2007 lalu. Nur melahirkan Rani di rumah majikannya Abdullah M Argani di kota Jeddah. Tidak ada yang tahu dirinya melahirkan, namun suara bayi membuat seisi rumah kaget. Penghuni rumah itu akhirnya mengetahui bahwa Nur melahirkan seorang bayi perempuan.

Kelahiran anak Nur itu tentu membuat majikannya kalang kabut. Majikannya lantas menuduh Nur telah berzina dengan orang tidak dikenal. “Padahal, saya sudah berulangkali mengaku bahwa saya diperkosa, dan yang memperkosa itu keponakan juragan sendiri,” tutur Nur dengan polos saat ditemui Surya.

Tetapi, tak satupun keluarga juragannya mempercayai ceritanya. Nur tak menyangka, juragannya yang dia kenal baik dan tidak pelit itu, akhirnya harus melaporkan dirinya ke aparat kepolisian. Karena tuduhan berbuat zina, Nur akhirnya dihukum penjara usai empat hari berada di rumah sakit untuk perawatan kelahirannya. “Saya harus membawa bayi saya karena tidak ada yang mau merawat. Jadi, sejak bayi merah, Rani sudah menemani saya di penjara,” kata Nur sambil agak menerawang.

Untunglah, selama di penjara bayinya mendapatkan perawatan cukup memadai. “Saya bisa meminuminya ASI. Oleh pihak penjara, anak saya juga diberi susu kaleng dan imunisasi rutin. Jadi anak saya sehat,” kata Nur.

Meski berada di penjara, Nur melewati hari-harinya dengan cukup terhibur dan penuh kesibukan karena kehadiran Rani. Suasana berubah ketika hari pelaksanaan hukuman cambuk tiba. Sesuai aturan hukum di Saudi, mereka yang terjerat kasus perkosaan dikenai hukuman cambuk dengan rotan. Dan untuk kasus Nur, dia terancam 2.000 kali cambukan yang mesti dicicil selama 2 tahun.

Nur kemudian bisa berkirim surat ke suami dan keluarganya di Puger. “Saya bilang bahwa saya mempunyai anak karena diperkosa keponakan majikan. Saya minta suami saya untuk menikah lagi. Ternyata dia tidak mau dan akan menunggu saya,” kata Nur, yang mengaku bangga dengan suaminya.

Setelah pihak LSM buruh migran Indonesia mendapatkan info tentang Nur dari para buruh di Saudi, nasib Nur mulai terpantau pemerintah Indonesia. Dan hukuman 2.000 kali cambukan, akhirnya cuma didapatkannya sebanyak 50 kali. “Ada sejumlah wanita Indonesia lainnya yang menjalani hukuman di Ar Ruwais,” ucap Nur.Pada akhir Oktober lalu, Nur dibebaskan. Tak mau berurusan lebih panjang jika harus menggugat keponakan majikannya, Nur memutuskan segera pulang ke Indonesia.

Sempat Nur ingin memberikan Rani kepada orang Saudi yang berminat. Tapi, justru keluarga dan suaminya di Puger memberi dukungan dan siap menerima kedatangan Nur bersama bayinya. “Suami saya berpesan agar Rani ikut dibawa pulang. Suami saya sangat menerima. Itu yang menguatkan saya untuk menerima keadaan ini dengan pasrah,” kata Nur.

Dari pernikahannya dengan Wagiman, Nur dikarunai tiga anak, yang sudah beranjak remaja. “Saya terharu karena justru suami dan keluarga di sini sangat sayang pada Rani. Tak bisa saya bayangkan jadinya andaikata Rani saya serahkan pada orang Saudi yang menginginkan dia,” ucap Nur