Category Archives: perampok bank

Bank BTN Kalijati Subang Jawa Barat Dirampok Dengan Hipnotis

Seorang perempuan menghipnotis Dea, seorang teler Bank BTN Kalijati, Subang, Jawa Barat, Selasa, 24 Juli 12, pukul 13.30 WIB. Hanya dengan gosokan balsem, perempuan itu berhasil menghipnotis korban dan membawa kabur uang tunai Rp 185 juta dari meja korban.

Saat kejadian, Dea sedang menghitung uang setoran yang diperoleh dari para nasabah. Lalu datang perempuan berkerudung dengan kaca mata ke meja Dea. Dia berpura-pura akan mengambil tabung. Dia lalu menanyai Dea, “Sakit neng?” Dea pun mengangguk.

Lalu, perempuan itu mengeluarkan balsem dan menggosokannya di bagian kening dan leher Dea. Tak berapa lama Dea tak sadarkan diri. Dalam kondisi tersebut, perempuan itu dengan leluasa membawa kabur uang di meja Dea.

“Saya baru sadar setelah uang lenyap dari tangan saya,” kata Dea kepada polisi di Polsek Kalijati.

Kepala Polsek Kalijati, Ajun Komisasris Undang Sudrajat, mengatakan aksi penjahat itu terekam dalam kamera CCTV di kantor bank BTN Kalijati itu. “Kami sedang melakukan pengejaran,” kata Undang.

Oknum TNI Beristri Dua Terlibat Dalam Perampokan Minimarket

Kasat Reskrim Polres Kota Tangerang, Kompol Shinto Silitonga, mengatakan ada oknum TNI yang terlibat dalam rangkaian perampokan minimarket di Serpong, Kota Tangerang Selatan, beberapa waktu lalu.

“Dari hasil pengembangan penyelidikan, ternyata ada keterlibatan oknum TNI. Yang bersangkutan berinisial MCN, berusia sekitar 40 tahun, berpangkat bintara,” ucap Shinto kepada wartawan, Senin (25/6/2012).

Menurut Shinto, oknum TNI itu memiliki dua orang istri, dan tinggal di Curug dan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Oknum tersebut diduga tergabung dalam komplotan Pitam Kuning.

“Berkas dua orang tersangka yang kami tangkap beberapa waktu lalu sudah kami serahkan kepada Kejari Tangerang. Jika sudah P21, kami akan mengirim surat kepada Pomdam Jaya, untuk menindaklanjuti tersangka dari anggota TNI itu,” ucap Shinto.

Menurut Shinto, diketahuinya keterlibatan oknum TNI itu selain dari pengakuan dua tersangka yang sudah ditangkap, juga dari rekaman CCTV perampokan minimarket di Serpong. Bahkan oknum itu juga terlibat dalam perampokan toko emas di Balaraja.

“Dalam waktu 14 hari kedepan, kita akan ketahui hasilnya untuk penindakan pelaku dari pengembangan penyelidikan,” ucapnya.

Menurut Shinto, pihaknya juga sudah menyebar sketsa ciri-ciri pelaku lainnya ke beberapa daerah seperti Polda Banten hingga Karawang. “Karena daerah operasi kelompok ini hingga ke sana,” ujarnya.

Selain itu kata Shinto, pihaknya juga dibantu oleh Resmob Polda Metro Jaya. Sebab, perampokan terjadi di beberapa wilayah lainnya selain Tangerang. “Ciri – ciri pelaku lainnya sudah kami peroleh dan kini masih dalam tahap pengejaran hingga ke luar daerah,” katanya.

Seperti diketahui, komplotan Pitam Kuning merupakan organisasi yang terorganisir dengan baik. Hal tersebut diketahui dari adanya pola perekrutan anggota hingga ketua wilayah yang tersebar di Tangerang, Karawang, Bekasi, Jakarta, Serang, dan Semarang.

Tak hanya itu, setiap beraksi, ketua wilayah menyiapkan empat unit sepeda motor dan empat unit mobil bagi anggotanya. Pimpinan komplotan Pitam Kuning berinisial P, dan suka menggunakan mobil Honda Jazz berwarna merah untuk mencari lokasi perampokan dan disebarkan kepada ketua wilayah masing – masing.

Polisi Berhasil Kembali Mengungkap Pembobol Bank BNI Margona Senilai Lebih Dari 100 Milyar

Polda Metro Jaya berhasil menggulung komplotan pelaku pembobol bank milik negara, Selasa (29/3). Sepuluh tersangka dibekuk polisi, seorang di antaranya Wakil Kepala Cabang Bank BNI Margonda, Simprug, Jakarta Selatan.

Kepala Satuan Fiskal Moneter dan Devisa Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Aris Munandar, Rabu, mengungkapkan, selain menangkap pembobol Bank BNI, polisi juga menangkap otak pelaku pembobol dana PT Taspen di Bank Mandiri dan Bank BRI.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Ito Sumardi memastikan kepolisian akan mengusut tuntas kejahatan perbankan, seperti kasus pembobolan dana nasabah.

Ito menilai kejahatan perbankan dapat muncul karena kelemahan di sistem perbankan. ”Bank harus bertanggung jawab atas dana nasabah,” katanya. Karena itu, diperlukan audit reguler dari lembaga pengawas independen yang dikontrol Bank Indonesia.

Bank BUMN

Menurut Aris, semua tersangka sudah dibekuk. ”Dalam kasus pembobolan dana BRI sebesar Rp 130 miliar, kami menangkap enam tersangka. Dalam kasus dana Tabungan Asuransi Pensiunan (Taspen) di Bank Mandiri sebesar Rp 110 miliar, kami menangkap otak pelakunya, residivis AF (38) dan beberapa tersangka lain,” katanya.

AF, warga Tambun, Bekasi, membobol dana pensiun Taspen tahun 2009 dan ditangkap pada Senin malam lalu. Namun, menurut Vice President Corporate Bank Mandiri Sukoriyanto Saputro, kasus pembobolan dana pensiun ini terjadi tahun 2007.

Saat diperiksa, AF mengaku mendapat bagian uang Rp 15 miliar. Aris berjanji akan memaparkan rincian kasus pembobolan di Bank BRI, Kamis ini.

AF, kata Aris, melakukan aksinya sejak tahun 1999. ”Dia sudah beberapa kali membobol bank di beberapa kota besar di Pulau Jawa. Sasarannya selalu bank BUMN. Ia beraksi dengan melibatkan orang dalam.

Dalam kasus pembobolan Bank BNI, AF bekerja sama dengan JKD (36), Wakil Kepala Cabang BNI 46 Margonda, Simprug, Jakarta Selatan, yang memalsu kredit lewat sentra kredit menengah (SKM). Dengan cara itu, JKD meminta Bank BNI Gambir, Jakarta Pusat, mengucurkan kredit fiktif senilai Rp 4,5 miliar ke kantor cabang.

Selain AF dan JKD, polisi juga menahan tersangka NCH (39), warga Cijantung; UK (48), warga Pisangan Timur; dan SHP (40), warga Pondok Aren. Kepada AF, JKD membocorkan nomor test key yang menjadi kode pencairan kredit. Salah satu perusahaan fiktif yang bakal menerima kredit adalah PT Bogor Jaya Elektrindo (BJE) yang dibuat AF-JKD untuk menampung kucuran dana.

Tanggal 20 Desember 2010 test key dimasukkan dalam teleks SKM yang sudah dipalsukan. Teleks kemudian difaksimile ke Bank BNI Gambir. Teleks adalah sarana perintah bayar kepada kreditor yang ditunjuk SKM. Dalam teleks itu seolah-olah SKM memerintahkan BNI Gambir mencairkan dana Rp 4,5 miliar ke PT BJE.

Petugas Bank BNI Gambir ternyata cermat. Petugas mengonfirmasi teleks ke SKM, yang ternyata SKM tidak memerintahkan mencairkan uang ke PT BJE.

Aris menambahkan, sebelum mencairkan dana, petugas Bank BNI telah melakukan dua kali pemeriksaan. Pertama dengan tester, yaitu proses untuk mengecek silang validitas nomor teleks yang berlaku ketika menerima perintah teleks. Begitu valid, bagian administrasi membuka rekening kredit atas nama BJE.

Langkah terakhir, pembayar memindahbukukan rekening ke rekening perusahaan. ”Saat hendak dibayar, ternyata isi berita teleks tak sesuai. Saat dikonfirmasi keesokan harinya, ternyata berita teleks itu palsu,” ujar Aris.

Tiga lapis

Direktur Utama Bank Mandiri Tbk (Persero) Zulkifli Zaini mengatakan, selama ini Mandiri memiliki tiga lapis pencegahan, yakni di setiap cabang, kontrol internal regional di setiap wilayah, dan direktorat audit internal di kantor pusat. Pencegahan semacam itu untuk menjaga kepercayaan nasabah.

Pada Februari lalu Polda Metro Jaya menangkap pembobol bilyet deposito senilai Rp 18,7 miliar di Bank Mandiri. Kasus yang terjadi pada April 2009 itu dilaporkan Bank Mandiri kepada polisi pada awal Februari 2011.

Salah satu tersangka pembobolan itu adalah karyawan customer service Bank Mandiri yang bertugas terhadap bilyet deposito tiga nasabah. Tanpa seizin ketiga nasabahnya, bilyet deposito itu dicairkan dan ditransfer ke rekening lain (Kompas, 24/2).

Sekretaris Perusahaan BNI Putu Bagus Kresna melalui siaran pers menjelaskan, sistem internal BNI mendeteksi transaksi mencurigakan senilai Rp 4,5 miliar pada 20 Desember 2010. Setelah diverifikasi, ternyata transaksi tersebut palsu.

Pada 23 Februari 2011 transaksi itu dilaporkan kepada Polda Metro Jaya. Selanjutnya, polisi menindaklanjuti dan salah satu tersangka yang ditangkap itu adalah Wakil Kepala Cabang BNI Margonda.

Hal yang sama dilakukan PT BRI Tbk (Persero). Menurut Sekretaris Perusahaan PT BRI Tbk Muhamad Ali, BRI menerapkan sistem pengawasan internal, salah satunya dengan mencetak semua transaksi pada keesokan paginya. Dari hasil cetak itu akan diketahui hal-hal atau transaksi yang tidak wajar.

”Prinsipnya kami berintegritas tinggi. Namun, apabila dedikasi tidak bagus, sebagus apa pun sistemnya, akan terjadi hal semacam itu juga,” kata Ali.

Kasus pembobolan terakhir kali menimpa BRI Cabang Panakkukang, Sulawesi Selatan, senilai Rp 30 miliar. Kasus itu dilaporkan BRI Panakkukang pada 24 Januari 2011.

Tigor M Siahaan, Country Business Manager Institutional Clients Group Citi Indonesia, bank yang juga dilanda pembobolan oleh karyawannya senilai Rp 17 miliar, mengatakan, nasabah perbankan diminta hati-hati dalam bertransaksi. Jangan pernah menandatangani formulir transfer atau cek kosong. Selain itu, selalu meneliti materi pernyataan bank karena berpotensi disalahgunakan orang lain.

Kantor Bank BNI Cabang Gambir, Jakarta Pusat 20 Desember 2010 lalu. Mesin telex berderit-derit. Lembar demi lembar kertas keluar dari mesin jatuh di atas meja. Semua surat yang masuk melalui telex kemudian di seleksi dan diserahkan kepada yang berhag menerima.

Manajemen Bank BNI Cabang Gambir terpaku pada salah satu telex. Dikirim atas nama pejabat Sentra Kredit Menengah BNI. Pesan yang tertulis memerintahkan pencairan kredit sebesar Rp 4,5 miliar kepada PT Bogor Jaya Elektrindo. Bank mencurigai telex itu palsu.

“Ada percobaan pembobolan bank,” Kepala Satuan II Fiskal, Moneter, dan Devisa Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Aris Munandar mengatakan pada wartawan, Rabu (30/3) di Jakarta.

Menyadari telex tersebut palsu, manajemen bank melakukan penyelidikan internal. Akhir Februari lalu Bank BNI membawa kasus ini ke Polda Metro Jaya. Lima orang yang diduga sebagai pelaku ditangkap, yaitu JKD, AF, NCH, UK, dan SHP.

NCH, UK, dan SHP pernah berusaha mengambil cek dana sebesar Rp 50 juta yang ada di rekening penampung di BNI Cabang Pasar Rebo.

JKD adalah Wakil Kepala BNI Cabang Margonda yang berperan untuk membuat contoh telex dengan kode-kode yang hanya diketahui orang dalam. Sedangkan AF bertindak menginstruksikan tiga tersangka lain untuk membuka rekening penampung dan membuat telex palsu.

Sementara itu AF yang memiliki nama asli Ahmad Fadilah alias Andre Aminuddin bukan orang baru dalam kejahatan perbankan. Ahmad bahkan merupakan buron polisi untuk kasus yang sama. Dia sempat tersangkut kasus pembobolan dana Taspen di Bank Mandiri senilai Rp 110 milyar. Dalam kasus itu, AF mendapat bagian lebih dari Rp 15 milyar.

Dalam melakukan aksinya Ahmad sering bergonta ganti rekan. Pria berusia 38 tahun ini juga tercatat pernah terlibat membobol sebuah bank di Bandung dan ikut dalam jaringan buronan Bank Indonesia, Richard Latif.

Entah kebetulan atau tidak, pada saat hampir bersamaan polisi juga mengungkap pembobolan Bank Citibank senilai Rp 17 miliar oleh karyawatinya sendiri, Melinda Dee. Trik yang digunakan perempuan berusia 47 tahun ini adalah dengan menyulap blanko investasi kosong yang ditandatangani nasabah untuk pencairan dana, namun uang tersebut tidak diinvestasikan. Melinda mengalirkan duit sejumlah Rp 17 miliar ke rekening perusahaan pribadinya, dengan bantuan seorang teller berinisial D.

Modus yang dilakukan tersangka tersebut menurut Juru Bicara Marka Besar Kepolisian Ri Inspektur Jenderal Anton Bahrul Alam tergolong kategori baru. Apalagi nasabah yang ditangani bermodal ratusan juta rupiah.”Sehingga pelaku seolah dengan mudah meraup dana dalam jumlah besar,” kata Anton.

Sitem perbankan sebenarnya sudah cukup kuat untuk mencegah terjadinya pembobolan oleh kalangan internal bank. “Tapi itu memang tidak bisa menjamin 100 persen,” katanya.