Arsip Kategori: pemerkosaan

Tukang Kayu Perkosa Pramugari Yang Dikenal Lewat Facebook Di Pantai Indah Kapuk

rwan Alexandria alias Aldo (20), pelaku pembunuhan dan korbannya DES (19), wanita yang ditemukan setengah bugil di Pantai Indah Kapuk (PIK), Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (3/3) lalu, berkenalan di situs jejaring sosial Facebook. Saat berkenalan, keduanya sama-sama menutupi masing-masing jatidirinya. “Korban dengan tersangka ini kenalan via Facebook. Saat kenalan di Facebook itu, tersangka mengaku sebagai polisi sedangkan korban mengaku sebagai pramugari,” jelas Kasat Reskrim Polres Jakarta Utara AKBP Daddy Hartadi, Sabtu (8/3/2014).

Padahal, tersangka sendiri bekerja sebagai tukang profil kayu di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat. “Makanya tersangka menusuk korban dengan alat pahat. Alat itu biasa dia pakai untuk bekerja sebagai tukang profil kayu,” imbuhnya. Sementara itu, mengetahui korban sebagai ‘pramugari’, tersangka pun punya keinginan untuk menguasai harta korban.

“Tersangka berpikir kalau pramugari, dia kaya. Makanya timbul niat jahat sejak awal untuk menguasai harta korban,” imbuhnya. Hingga akhirnya, korban datang ke Jakarta pada Senin (3/3) lalu. Tersangka kemudian menjemput korban di Kota Tua setelah janjian lebih dahulu via telepon genggam. “Tersangka ke Kota Tua diantar oleh temannya bernama Iik. Setelah mengantar tersangka, Iik ditinggal dan tersangka bersama korban langsung pergi ke TKP,” lanjutnya.

Setibanya di TKP, korban kemudian diajak untuk berhubungan intim. Namun korban menolak, sehingga akhirnya tersangka mengeluarkan alat pahat untuk mengancam korban. Tersangka lalu memperkosanya.

Setelah itu, tersangka menusuk leher korban dan beberapa bagian tubuh lainnya dengan pahat itu. Tidak hanya itu, tersangka juga mencekik leher korban hingga korban sesak nafas. Selanjutnya tersangka membenamkan wajah korban ke dalam lubang tanah, hingga akhirnya korban tewas.

Irwan Alexandria alias Aldo (20) tega membunuh teman wanita yang dia kenal lewat Facebook hanya karena hasrat seksualnya yang ditolak korban. Aldo tega menghabisi nyawa wanita asal Pemalang, Jawa Tengah itu dengan cara ditusuk menggunakan alat pahat. Kasat Reskrim Polres Jakarta Utara AKBP Daddy Hartadi mengungkapkan, sebelum melakukan pembunuhan, tersangka memperkosanya lebih dahulu.

“Namun karena korban menolak, tersangka melakukan penganiaayan dengan menusuk leher dan beberapa bagian tubuh korban dengan menggunakan alat pahat,” kata Daddy, kepada wartawan, Jumat (7/3/2014). Dari hasil otopsi, kata Daddy, ditemukan bekas luka akibat senjata tajam pada kepala bagian belakang sebanyak 4 lobang, dahi kanan sebanyak 1 lobang, leher kiri 1 lobang, pergelangan tangan kanan 1 lobang, dagu 1 lobang.

“Dan terdapat luka gigitan pada lengan tangan kanan korban,” imbuh Daddy. Setelah menusuk korban bertubi-tubi, tersangka lalu mencekik korban dan menjerat leher korban dengan syal berwarna pink. Tidak puas sampai di situ, tersangka juga membenamkan wajah korban ke dalam lubang.

Korban ditemukan di lokasi oleh tukang sapu, pada Senin (3/3) pagi lalu, dalam kondisi setengah bugil dengan posisi menungging dan kepala terbenam di tanah. Penemuan mayat ini kemudian dilaporkan kepada Satpam PIK bernama Suparman, yang diteruskan ke Polsek Metro Penjaringan.

Polisi menangkap pelaku pembunuhan wanita yang ditemukan tewas di Pantai Indah Kapuk (PIK), Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (3/3) pagi lalu. Sebelum membunuh, pelaku bernama Irawan Alexandria alias Aldo (19), lebih dulu memperkosa korban yang merupakan kenalannya di Facebook itu.

“Korban dibawa ke TKP, lalu di TKP korban diancam agar mau berhubungan intim dengan pelaku,” ujar Kasat Reskrim Polres Jakarta Utara AKBP Daddy Hartadi kepada wartawan, Jumat (7/3/2014). Daddy menjelaskan, korban dan tersangka berkenalan di jejaring sosial Facebook dan intens berkomunikasi selama 1 bulan ke belakang via telepon genggam. Korban kemudian datang ke Jakarta, lalu dijemput tersangka di Stasiun Kota, Senin (3/3) lalu.

Tersangka lalu membawa korban ke PIK bersama temannya bernama Iik. Setibanya di TKP, korban kemudian diajak berhubungan intim dengan ancaman senjata tajam. “Karena korban menolak, pelaku memperkosa korban,” imbuh Daddy.

Usai memperkosa korban, tersangka lalu menganiaya dan menusuk leher dan beberapa bagian tubuhnya hingga korban tewas. Tersangka juga sempat mencekik leher korban. “Selanjutnya korban dibenamkan ke dalam lubang tanah,” Daddy menambahkan, dari hasil otopsi korban, ditemukan bercak sperma tersangka pada vagina korban. Daddy menyebut, korban tidak hamil.

Korban ditemukan di lokasi oleh tukang sapu, pada Senin (3/3) pagi lalu, dalam kondisi setengah bugil dengan posisi menungging dan kepala terbenam di tanah. Penemuan mayat ini kemudian dilaporkan kepada Satpam PIK bernama Suparman, yang diteruskan ke Polsek Metro Penjaringan. Dari hasil penyelidikan, diketahui korban berinisial DES (19), warga Pemalang, Jawa Timur.pungkasnya

Aparat Polres Jakarta Utara menangkap pelaku pembunuhan DES (19), wanita asal Pemalang yang mayatnya ditemukan dengan posisi kepala terbenam di tanah di PIK, Penjaringan, Jakut, Senin (3/3) pagi lalu. Tersangka pembunuhan, Irawan Alexandria alias Aldo merupakan teman korban yang dikenal via jejaring sosial Facebook.

“Kesimpulan sementara berdasarkan pengakuan tersangka bahwa tersangka dengan korban berkenalan di Facebook,” kata Kasat Reskrim Polres Jakarta Utara AKBP Daddy Hartadi, kepada wartawan, Jumat (7/3/2014). Daddy mengungkapkan, keduanya intens berkomunikasi via telepon genggam selama 1 bulan ke belakang. Korban kemudian diminta untuk menemui tersangka di Jakarta.

“Pada saat sebelum kejadian, tersangka menjemput korban di Kota Tua dan dibawa ke TKP bersama dengan temannya bernama Iik,” imbuh Daddy. Tersangka ditangkap di Gudang Profil, Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (7/3) siang tadi.

Saat ini polisi masih menginterogasi tersangka untuk memperdalam motif pembunuhan. Tersangka dijerat dengan Pasal 340 KUHP dan atau 338 KUHP dan 365 KUHP tentang pembunuhan berencana, pembunuhan dan pencurian dengan kekerasan.

Korban ditemukan di lokasi oleh tukang sapu, pada Senin (3/3) pagi lalu, dalam kondisi setengah bugil dengan posisi menungging dan kepala terbenam di tanah. Penemuan mayat ini kemudian dilaporkan kepada Satpam PIK bernama Suparman, yang diteruskan ke Polsek Metro Penjaringan.

Dengan Alasan Tidak Shalat Duha … Kepala Sekolah Perkosa Belasan Siswi SMK

Belasan siswi dari sebuah sekolah menengah kejuruan di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Senin (24/2/2014), mendatangi Polres Kediri Kota untuk melaporkan dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh kepala sekolahnya.

Juru bicara para siswi, RM, mengatakan, kasus itu menimpa LA dan RN. Keduanya adalah siswi kelas X. “Kita memang lapor dugaan perbuatan asusila,” kata RM, kakak kelas kedua korban.

RM menambahkan, bentuk perbuatan yang dianggap pencabulan itu adalah meraba kedua siswi itu. “Informasi yang saya kumpulkan dari adik-adik saya seperti itu. Untuk detail asusilanya seperti apa, saya kurang tahu,” imbuhnya.

RM mengatakan, menurut dua adik kelasnya itu, A selaku kepala sekolah melakukan perbuatannya di sebuah ruangan bekas kantor yang saat ini difungsikan sebagai ruang multimedia. Perbuatan itu berlangsung saat jam pelajaran dimulai.

“Alasan kepala sekolah, untuk menertibkan. Adik-adik dipanggil dengan alasan tidak shalat duha,” imbuhnya.

RM menambahkan, perbuatan itu sebenarnya sudah terjadi sekitar setahun yang lalu. Pihak korban urung melapor karena khawatir mencoreng nama baik sekolah dan keluarga.

“Tapi, hingga sekarang, kata adik-adik, situasi sekolah menjadi tidak nyaman. Mereka mengeluh,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan korban masih menjalani pemeriksaan di ruang Unit Perlindungan Perempuan dan Anak. Hanya ada satu korban yang diperiksa, satu korban lainnya tidak hadir karena sedang sakit.

“Kita sedang lakukan penyelidikan dengan pemeriksaan terhadap para pelapor,” kata Ajun Komisaris Siswandi, Kepala Sub Bagian Humas Polres Kediri Kota.

Pria Ini Selingkuhi Ibunya dan Kemudian Perkosa Anak Gadisnya Yang Berumur 10 Tahun

Kelakuan Ah (30), warga Tambak Asri, Surabaya, sungguh keterlaluan. Setelah menyelingkuhi istri temannya, anak selingkuhannya itu pun diperkosa. Akibat peselingkuhan itu, Ah akhirnya menikahi ibunda korban. Saat itu, Ah berstatus duda. Sedangkan ayah kandung korban adalah teman Ah.

Setelah tiga tahun menikah, Ah mulai menjalankan aksinya. Dia sering menggoda putri tirinya itu. Ia lantas memerkosa korban yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). “Tersangka kali pertama menyetubuhi anak tirinya saat korban masih usia 10 tahun,” kata Kasubag Humas Polres Pelabuhan Tanjung Perak Ajun Komisaris Lily Djafar, Senin (10/2/2014).

Saat itu, korban sempat melapor pada ibunya, namun ibunda korban tidak percaya. Mendapat angin segar, aksi Ah pun semakin merajalela. Sedangkan korban tidak bisa berbuat apa-apa. Perlakukan Ah itu dilakukan hingga berjalan tiga tahun. Tidak tahan dengan perlakuan ayah tirinya itu, korban akhirnya melapor kepada ayah kandungnya.

Mendangar cerita anaknya, ayah kandung korban sempat naik pitam. Dia berusaha membawa korban untuk keluar dari rumah itu. “Ayah kandung korban berusaha untuk membawa korban keluar dari rumah, tapi dia tidak berani karena takut dituduh menculik anaknya,” kata Lily.

Ayah kandung korban lalu melaporkan kejadian ini ke polisi, dengan harapan bisa membawa korban dan menanyakan apa yang dialami. Polisi membawa korban untuk dilakukan pemeriksaan. Dari situlah terungkap seluruh ulah bejat Ah. Polisi pun langsung menangkap Ah.

Menurut keterangan Ah, dia tega melakukan itu karena sayang dengan korban dan tidak ingin orang lain lebih dulu memperawaninya. “Saya sayang dengan ibunya dan dia. Saya khilaf,” kata Ah.

Seorang Wanita Diperkosa Ramai Ramai Di Depan Gerai KFC Daan Mogot Jakarta

DICULIK, dirampok, lalu diperkosa dua pria yang mengaku polisi. Jenis kejahatan keras ini dialami ER (30). Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Hengky Haryadi, Jumat (7/2), mengatakan, peristiwa itu berawal pada Rabu (29/1) dini hari. Saat itu, ER sedang berjalan di Jalan Daan Mogot di depan gerai KFC, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Tak berapa lama datang tiga pria dengan Toyota Avanza. Ketiga pria, yakni AS, R, dan H, mengaku polisi dan menuduh ER sebagai bandar narkoba. Dua pria itu lalu turun dari mobil dan memaksa ER naik mobil bersama mereka ke kantor polisi untuk diperiksa.

ER hanya bisa pasrah karena ketiga orang itu mengaku polisi. ER berharap bisa menjelaskan di kantor polisi bahwa tuduhan itu tidak benar. Namun, saat berada di mobil, ER dibekap. Dompet dan telepon seluler korban dirampas. Ketiga pria itu lalu bergantian memerkosa ER di jok belakang. Pelaku mengancam, jika ER tak mau melayani akan dibunuh dan dibuang ke Kepulauan Seribu.

Karena ketakutan dan di bawah ancaman pelaku, ER hanya bisa pasrah. Sampai akhirnya ER jatuh pingsan. ”Saya tidak tahu berapa jam kejahatan itu berlangsung. Yang pasti, ketiga pria itu mengajak berkeliling korban dengan mobil selama enam jam,” ujar Hengky.

Puas melampiaskan aksinya, pelaku meminta ER menghubungi keluarganya dan meminta uang tebusan. ”Ketika adik korban, Rangga Permana, datang membawa uang tebusan yang diminta Rp 4,5 juta, adik korban ikut ditangkap. Keduanya lalu dibuang di sekitar pangkalan taksi di kawasan Bitung, Tangerang, Banten, sekitar pukul 08.00,” papar Hengky.

ER yang ditemui wartawan di Polres Jakbar, kemarin, membenarkan adanya aksi bejat tersebut. ”Saya enggak mau ingat-ingat lagi. Kalau ingat lagi, saya jijik dan takut,” katanya. ER mengaku didatangi para pelaku saat ia sedang menunggu adik yang akan menjemputnya pulang kerja. ”Saya pulang kerja seperti biasa,” ujarnya.

Keluarga ER mengantar korban melapor ke Polres Metro Jakbar. Tim Buru Sergap pun dikerahkan. Kurang dari sehari, AS dan R dibekuk di tempat terpisah di Tangerang, Banten. ”AS kami tangkap di Mauk, sementara R kami tangkap di Cikupa, Tangerang, Banten. Keduanya kami tembak kakinya karena kabur dan melawan petugas,” kata Hengky.

Seorang pelaku lain, H, masih buron. ”Saat kejadian, ia mengemudi,” lanjut Hengky. Ia menambahkan, R adalah residivis sejumlah kasus pencurian dan penipuan. Kedua tersangka dijerat Pasal 365, 285, dan 368 KUHP dengan ancaman maksimal, penjara 12 tahun. Sementara itu, dalam kasus lain, Kapolres Metro Jakbar Komisaris Besar Fadil Imran menyatakan, tidak pernah terjadi aksi massa memotong tangan seorang pencuri rokok. ”Tidak ada berita itu,” katanya sambil menunjukkan foto tersangka. Saat ditemui pun, tersangka mengaku hanya mengalami luka gores.

Anggota Kepolisian Resor Metro Jakarta Barat menangkap dua dari tiga orang pelaku pemerkosaan terhadap E, 30 tahun. Dua orang itu adalah AS dan R. Ketiganya berkedok sebagai polisi yang sedang razia. “Mereka mengaku polisi lalu menculik korban,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Metro Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Hengki Haryadi di kantornya, Jumat 7 Februari 2014.

Hengki menuturkan kejadian tersebut bermula pada pukul 02.00 dini hari saat E melintas di Jalan Daan Mogot Gang Macan Kebon Jeruk Jakarta Barat. E yang hendak membeli makanan kemudian dihampiri pelaku yang menumpang mobil Avanza hitam. Pelaku menuduh E sebagai pengguna narkoba. Kepada penyidik, AS mengatakan H, yang saat ini masih dalam pencarian, menyuruh E masuk ke mobil, merampas dompet dan telepon genggamnya. Di dalam mobil, AS dan R lalu bergantian memperkosa E.

Hengki mengatakan AS kemudian menyuruh E menelepon keluarganya dan meminta uang tebusan. Sekitar pukul 08.00 pagi, kata dia, adik E yang bernama Rangga Permana kemudian mengantarkan uang Rp 4,5 juta di suatu lokasi atas permintaan komplotan. “Setelah itu keduanya diturunkan di pangkalan taksi,” ujarnya.

Hengki berujar AS ditangkap di Desa Pekayon Kecamatan Sukadiri Kabupaten Tangerang pada 1 Februari 2014 lalu pada pukul 17.30. Polisi menembak kaki kiri AS lantaran ia melawan saat ditangkap. Senasib dengan AS, R juga melawan saat ditangkap pada hari yang sama di Desa Bunder Kecamatan Cikupa Tangerang.

Atas perbuatannya, Hengki mengatakan AS dan R dijerat pasal berlapis yakni Pasal 365 KUHP tentang Pencurian dengan Kekerasan, Pasal 285 KUHP tentang Pemerkosaan, dan Pasal 368 KUHP tentang Pemerasan. “Ancamannya pidana kurungan paling lama 12 tahun,” kata Hengki.

Mahasiswi Di Bandung Diperkosa Ramai Ramai Di Samping Pacar Setelah Dia dan Pacar Dibuat Mabuk Oleh Teman Mereka

Dalam kondisi tak sadarkan diri karena pengaruh minuman beralkohol, mahasiswi perguruan tinggi swasta yang terkenal di Bandung ini diperkosa oleh BP (25), teman satu indekos pacarnya. Mahasiswi itu baru sadar diperkosa setelah bangun pakaiannya acak-acakan. “Secara samar-samar dan dalam keadaan gelap karena lampu dimatikan, korban mendengar salah seorang di dalam kamar tersebut menyuruh untuk mengambil baby oil. Sesekali ia sadar namun akhirnya karena merasakan kepala yang sangat pusing, korban sempat dalam keadaan tidak sadarkan diri,” ujar Kuasa Hukum Mahasiswi, Virza Roy Hizzal saat dihubungi melalui telepon, Senin (3/2/2014).

Saat korban tersadar, pakaiannya acak-acakan. “Ada sperma di badannya serta terdapat lumuran baby oil di beberapa bagian tubuh,” ungkap Virza. Pemerkosaan itu terjadi pada Senin dini hari, 27 Januari lalu. Menurut Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Mashudi, kronologi kasus tersebut berawal sewaktu korban bersama sang pacar, M, pada Minggu malam 26 Januari, berangkat dari indekos untuk mencari makan.

Dalam perjalanan, M menerima telepon dari rekan satu indekos inisial BE agar datang ke salah satu kafe di Jalan Hariabanga. Korban bersama kekasihnya itu mengiyakan dan langsung meluncur. Setiba di kafe pada pukul 22.00 WIB, M dan korban bertemu BE dan tiga rekannya yaitu BP, BT, dan Iy. Semuanya pria. “Mereka di kafe itu makan dan minum-minum (miras – red). Korban juga ikut minum,” uja Mashudi.

Korban dan pacarnya serta empat orang itu berada di kafe hingga Pukul 24.30 WIB. Waktu pulang, kata Mashudi, M mabuk berat hingga tak sadarkan diri. “Kondisi korban juga mabuk, tapi masih sadar,” jelas Mashudi. Lantaran tak sanggup berdiri, M digotong BP masuk mobil, sementara korban saat itu masih bisa berjalan. Singkat cerita, mereka berangkat ke indekos M dan BE. M masuk kamarnya dan korban dibawa BP ke kamar BE.

Di kamar itulah aksi pemerkosaan terjadi. Berdasarkan keterangan korban kepada polisi, di kamar itu merasakan disetubuhi. Korban juga mengaku merasakan ada yang memakaikan kembali celana dan bra. Barang bukti disita polisi berupa pakaian, kaus putih merah, bra, celana dalam, dan celana jins biru. BP menyerahkan diri dan ditahan sejak 31 Januari. BP diganjar Pasal 286 KUH Pidana yang ancamannya lebih lima tahun penjara. “Dia (BP) menyerahkan diri karena takut ditangkap polisi,” kata Mashudi.

Mahasiswi perguruan tinggi swasta terkenal di Bandung menjadi korban perkosaan. Dia diperkosa dalam kondisi tak sadar karena pengaruh minuman keras. Kini kondisinya shock. “Sekarang korban shock, dia sulit berinteraksi dengan orang luar. Jadi pendiam,” ujar kuasa hukum korban Virza Roy Hizzal dihubungi telepon, Senin (3/2/2014).

Menurutnya korban makin tertekan karena keluarga pelaku sempat memaksa untuk berdamai dengan menawarkan sejumlah uang. “Korbannya malah tambah shock,” ungkap Virza. Selain korban, kekasihnya yaitu M juga terpukul dengan kejadian ini. “Si pacarnya shock juga, dia terlihat bingung,”katanya.

Sebelumnya Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Mashudi mengungkapkan soal pelaporan kasus perkosaan. Pelaku berinisial BP telah ditahan. Menurut Mashudi, kronologi kasus tersebut berawal sewaktu korban bersama sang pacar, M, pada Minggu malam 26 Januari, berangkat dari indekos untuk mencari makan. Dalam perjalanan, M menerima telepon dari rekan satu indekos inisial BE agar datang ke salah satu kafe di Jalan Hariabanga. Korban bersama kekasihnya itu mengiyakan dan langsung meluncur.

Setiba di kafe pada pukul 22.00 WIB, M dan korban bertemu BE dan tiga rekannya yaitu BP, BT, dan Iy. Semuanya pria. “Mereka di kafe itu makan dan minum-minum (miras – red). Korban juga ikut minum,” uja Mashudi. Korban dan pacarnya serta empat orang itu berada di kafe hingga Pukul 00.30 WIB. Waktu pulang, kata Mashudi, M mabuk berat hingga tak sadarkan diri. “Kondisi korban juga mabuk, tapi masih sadar,” jelas Mashudi.

Lantaran tak sanggup berdiri, M digotong BP masuk mobil, sementara korban saat itu masih bisa berjalan. Singkat cerita, mereka berangkat ke indekos M dan BE. M masuk kamarnya dan korban dibawa BP ke kamar BE. Di kamar itulah aksi pemerkosaan terjadi. Berdasarkan keterangan korban kepada polisi, di kamar itu merasakan disetubuhi. Korban juga mengaku merasakan ada yang memakaikan kembali celana dan bra.

Seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta terkemuka di Kota Bandung diduga menjadi korban pemerkosaan. Korban berusia 21 tahun ini disetubuhi saat tidak sadarkan diri karena pengaruh alkohol.

Kisah nahas tersebut terjadi di indekos pacarnya korban yakni M di kawasan Sarijadi, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, pada Senin 27 Januari lalu. Pelaku berinisial BP (25) kini mendekam di ruang tahanan Polrestabes Bandung. “Proses tetap lanjut. Pelakunya sudah ditahan,” ucap Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Mashudi saat ditemui di Mapolrestabes Bandung, Jalan Jawa, Senin (3/2/2014).

Menurut Mashudi, kronologi kasus tersebut berawal sewaktu korban bersama sang pacar, M, pada Minggu malam 26 Januari, berangkat dari indekos untuk mencari makan. Dalam perjalanan, M menerima telepon dari rekan satu indekos inisial BE agar datang ke salah satu kafe di Jalan Hariabanga. Korban bersama kekasihnya itu mengiyakan dan langsung meluncur.

Setiba di kafe pada pukul 22.00 WIB, M dan korban bertemu BE dan tiga rekannya yaitu BP, BT, dan Iy. Semuanya pria. “Mereka di kafe itu makan dan minum-minum (miras – red). Korban juga ikut minum,” uja Mashudi. Korban dan pacarnya serta empat orang itu berada di kafe hingga Pukul 00.30 WIB. Waktu pulang, kata Mashudi, M mabuk berat hingga tak sadarkan diri. “Kondisi korban juga mabuk, tapi masih sadar,” jelas Mashudi.

Lantaran tak sanggup berdiri, M digotong BP masuk mobil, sementara korban saat itu masih bisa berjalan. Singkat cerita, mereka berangkat ke indekos M dan BE. M masuk kamarnya dan korban dibawa BP ke kamar BE

Diperkosa 15 Orang Selama 2 Hari Hingga Rahim Busuk … Gadis ABG Diberi Uang Damai 2 Juta

Kisah tentang perkosaan yang dialami gadis belia berusia 14 tahun di Desa Bau, Kelurahan Gunungsari, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur terus berlanjut. Melalui, Nasrul –warga setempat yang kemudian mendampingi korban, meski telah dijanjikan diobati setelah mendapatkan uang sebesar Rp 2 juta dari seorang anggota DPRD fraksi PDIP, selama di Bandarlampung, korban tidak diobati. Bahkan gadis belia itu diajak menggunakan sabu-sabu oleh anggota dewan yang menginginkan kasus itu berakhir “damai”.

Keberangkatan korban ke Bandarlampung, tanpa pendampingan dari pihak keluarga. “Saat pulang ke kampung, korban tidak diantar ke rumahnya, hanya diturunkan di sebuah persimpangan jalan dan kami yang menjemputnya karena anak ini nelpon minta dijemput,” kata Nasrul dalam percakapan dengan Kompas,com akhir pekan lalu.

Rahim membusuk
Pendamping lainnya Ali Arsyadat alias Ujang menjelaskan, kondisi korban sudah sangat memprihatinkan, rumah sakit Adiwaluyo mendiagnosa bahwa kondisi rahim korban sudah rusak bahkan mengalami kebusukan. “Bidan sudah angkat tangan, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan anak ini, harus diangkat rahimnya agar kebusukan itu tidak menjalar ke organ lainnya,” kata Ujang.

Ujang mengaku, untuk mengajak korban untuk dirawat secara medis sangatlah sulit. “Anak ini luar biasa kerasnya, sulit sekali kami mengajaknya untuk berobat dan visum, berbagai cara bujukan dipakai untuk bisa mengajak ini berobat,” kata dia. Atas persoalan yang melibatkan banyak pihak, ayah korban sebagai seorang buruh petani nan buta huruf itu merasa kelelahan mengikuti tahapan demi tahapan kasus yang menimpa putrinya itu.

“Beberapa kali ayahnya bilang, saya ini orang bodoh dan tidak punya biaya untuk meneruskan persoalan ini ke ranah hukum, ia kerap bilang pihak keluarga hanya ingin penyelesaian damai saja yang terpenting putrinya diobati,” terang Ujang.

LBH Lampung Timur mundur
Di tengah ketidakpastian hukum, LBH Lampung Timur yang semula ditunjuk menjadi kuasa hukum korban, malah mencabut diri melakukan pembelaan terhadap korban. “Pihak korban tidak kooperatif dalam memberikan keterangan. Korban tidak mau divisum hingga menyulitkan bagi kami untuk melakukan pendampingan,” kata staf advokasi LBH R Hutagalung saat dikonfirmasi.

Namun pihaknya tetap menyarankan pihak keluarga untuk melanjutkan perkara tersebut ke pihak berwajib.
Setelah berusaha panjang, Nasrul dan beberapa warga di Desa Bau, Kelurahan Gunungsari, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur, mampu membuat gadis korban perkosaan berbicara. Menurut cerita Nasrul, berdasarkan keterangan korban, gadis berusia 14 tahun ini diperkosa beramai-ramai di dua tempat berbeda hanya berselang beberapa hari.

“Kejadian pertama, korban diajak oleh teman lelakinya di satu rumah di Desa PP Brawijaya, Lampung Timur ternyata dalam rumah itu sudah ada pemuda sekitar 15 orang untuk menggilirnya,” tutur Nasrul. Dalam perkosaan itu korban dicekoki minuman hingga mabuk dan diancam jika tidak melayani akan dibunuh. Akibat tak ada perlawanan apapun dari korban, apalagi dia bungkam, korban dipanggil lagi di tempat berbeda. Kali ini sebuah lapangan di Desa Purwosari, Lampung Timur.

“Dia diperkosa oleh empat pemuda dengan perlakuan yang sama seperti kejadian pertama,” kata Nasrul. Atas permasalahan itu, ia dan beberapa warga lain termasuk kepala bersepakat menyampaikan perkara pelecehan seksual pada anak di bawah umur ini kepada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Lampung Timur.

“Tapi di tengah jalan, saya ditelpon supaya menemui salah satu anggota dewan dari PDIP yang katanya bisa membantu penyelesaian persoalan ini,” kata Nasrul. Korban tanpa didampingi keluarga inti bertemu dengan sejumlah pelaku yang didampingi keluarga pelaku dalam sebuah perundingan.

Uang damai
Nasrul mengatakan, telah terjadi kesepakatan sepihak. “Melalui tangan anggota dewan, korban diberi uang senilai Rp2 juta untuk biaya pengobatan lalu korban dibawa ke Bandarlampung,” terang dia. Beberapa hari kemudian korban menelpon Kriting, warga yang sebelumnya rumahnya disinggahi korban, ketika sakit parah. “Korban mengaku dibawa ke Bandarlampung oleh anggota dewan itu selama dua hari, ia merasa tidak betah dan minta minta pulang,” kata Nasrul lagi. Menurut pengakuan korban pula, kata Nasrul, selama di Bandarlampung korban tidak diobati. Bahkan, anak belia itu mengaku diajak memakai sabu oleh anggota dewan itu.

Seorang remaja perempuan berusia 14 tahun, warga Lampung Timur, melapor ke Polda Lampung, Rabu (22/1/2014), karena diperkosa oleh 12 orang. Peristiwa itu terjadi sebulan yang lalu, tetapi baru hari ini korban berani melapor ke polisi. Pada Rabu (22/1/2014), Kepala Bidang Humas Polda Lampung AKBP Sulistyaningsih mengatakan, tim penyidik Reskrimum masih memeriksa korban yang didampingi pamannya.

“Setelah sebulan, korban akhirnya berani mengadukan kasusnya ke Polda Lampung yang ditemani pamannya,” kata Sulistyaningsih. Lebih lanjut, ia menambahkan, dalam waktu dekat, pihaknya segera memanggil 11 orang yang diduga pelaku perkosaan yang mana salah satunya oknum anggota dewan.

Sementara itu, paman korban menyatakan, jumlah pelaku perkosaan sebanyak 12 orang. Dia menceritakan, saat itu korban yang tinggal di Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur, itu diculik, lalu diperkosa oleh lima orang yang tidak dikenal pada Desember 2013. Korban kemudian mengadukan kasus penculikan dan perkosaan itu ke saudaranya, Nas. Lalu, Nas mengajak korban menemui salah satu anggota dewan berinisial KI untuk meminta bantuan penyelesaian hukum.

Namun, sesampai di rumah KI, korban malah diajak oleh oknum wakil rakyat itu ke Bandar Lampung selama dua hari. Selama di sana, korban bukannya dibantu untuk penyelesaian hukum, malah diperkosa secara bergilir oleh KI dan enam teman KI.

Mendengar korban diperkosa 12 orang, paman korban merasa iba dan marah. Dia kemudian membawa korban ke Bandar Lampung untuk melaporkan kasusnya ke Polda Lampung.

Pemerkosa Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Dihukum Mati Mahkamah Agung

Soleh dihukum mati dan Orek dipenjara hingga tewas terkait pembunuhan dan pemerkosaan yang dilakukan secara sadis. Korban gadis berjilbab yang masih mengenyam bangku kuliah di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang diperkosa bergiliran oleh 5 orang sebelum akhirnya dibunuh. Seperti dikutip dari dakwaan jaksa yang dilansir website Mahkamah Agung (MA), Senin (13/1/2013), kasus bermula saat Soleh membekap mahasiswi di rumahnya pada 6 April 2012 tengah malam. Soleh lalu mengumpulkan teman-temannya yaitu Noriv, Chandra, Jasrip dan Endang. Setelah semuanya berkumpul di rumah Solaeh, mereka bergiliran memperkosa mahasiswa malang tersebut.

“Kumpul di sini dulu, nanti kalian abis gue,” kata Soleh kepada teman-temannya.

Setelah 15 menit memperkosa mahasiswi itu, berurutan mahasiswi itu digilir oleh Noriv, Orek dan Jasrip. Setelah puas, Orek sempat pulang kembali ke rumahnya namun dijemput lagi oleh Noriv untuk berkumpul kembali. Sesampainya di lokasi, Soleh gundah.

“Gimana tuh cewe, nggak terima diperkosa rame rame dan mau melaporkan ke polisi. Mau diapain? Apa matiin aja?,” kata Soleh.”Ya sudahlah,” jawab Orek, Noriv, Endang, Jasrip dan Endang kompak.

Lantas korban yang sudah lemas karena habis digilir rame rame dibopong ke sepeda motor untuk dibonceng dengan posisi Jasrip di depan dan Soleh di belakang. Adapun korban diapit di tengah. Udah, ikutin dari belakang,” kata Soleh kepada yang lain.

Saat melintas jalan Cor, Desa Siangir, Soleh meminta semuanya berhenti. Waktu yang merambat dini hari dan lokasi yang sepi dirasakan tempat yang aman untuk menghabisi nyawa korban. Namun sebelum dibunuh, mereka kembali memperkosa korban secara bergiliran sebanyak dua kali dengan posisi korban di atas motor.

Setelah selesai memperkosa, Chandra lalu memukul kepala korban dengan batu. Korban pun sempoyongan. Lantas Noriv memegang tangan kiri korban, Endang memegang kaki kanan, Chandra memegang kaki kiri korban dan Orek mengawasi situasi sekitar. Dalam kondisi lemah tak berdaya tersebut, leher mahasiswi tersebut digorok Soleh dengan pisau yang telah disiapkan. Mahasiswi itu pun menghembuskan nafas terakhir tepat pukul 02.30 WIB.

Atas perbuatannya, Soleh dihukum mati, Orek dipenjara seumur hidup dan lainnya dipenjara 20 tahun. MA memperberat hukuman Orek (30), salah satu gerombolan pembunuh sadis mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat. Jika sebelumnya Orek dihukum 20 tahun penjara, MA menguatkan hukuman penjara seumur hidup yang dijatuhkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Banten.

Kasus bermula saat ditemukannya korban tanpa nyawa di Jalan Ciangir, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang pada 7 April 2012. Korban mengenakan jilbab warna putih, celana hitam, baju hijau dengan dalaman kaos warna loreng. Belakangan terungkap korban yang masih kuliah di UIN Ciputat itu dibunuh oleh M Soleh, Orek, Chandra, Jasrip dan Endang dengan terlebih dahulu korban diperkosa secara bergiliran.

Pada 4 Desember 2012, jaksa menuntut Oreg penjara seumur hidup karena terlibat pembunuhan berencana dan pemerkosaan. Tuntutan ini tidak dikabulkan sepenuhnya sebab pada 18 Desember 2012 PN Tangerang menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara.

Atas vonis ini, jaksa lalu banding dan dikabulkan. Pada 14 Maret 2013 Pengadilan Tinggi Banten memperberat hukuman menjadi penjara seumur hidup atau sesuai tuntutan jaksa. Tidak terima, Orek pun mengajukan kasasi namun ditolak MA.

“Perbuatan terdakwa sangat brutal dan meresahkan masyarakat serta mengakibatkan korban meninggal dunia dengan dilakukan penganiayaan dengan cara memukul batu, kayu dan pemukulan itu setelah dilakukan pemerkosaan bergiliran,” putus MA seperti dilansir website MA, Senin (13/1/2014).

Vonis ini dijatuhkan oleh ketua majelis Andi Abu Ayub Saleh dengan hakim anggota Sofyan Sitmopul dan Syarifuddin. Dalam pertimbangannya, MA menyebutkan Orek menyadari betul melakukan tindakan kekerasan dan pemerkosaan sehingga jelas merupakan perbuatan kumulatif yang sangat berdasar hukum untuk dilakukan pemberatan pidana dengan menerapkan ketentuan concurcus realis.

“Yakni menjatuhkan pidana yang ancaman pidananya berat ditambah sepertiga atas perbuatan terdakwa melakukan perkosaan dan pembunuhan berencana,” ucap majelis secara bulat pada 23 Juli 2013 lalu.

Sebelumnya, M Soleh lebih dulu divonis mati dan putusan itu dikuatkan hingga MA. Adapun Chandra dihukum 20 tahun penjara dan dikuatkan hingga MA.

Polisi Tasikmalaya Kebingungan Cari Pasal Pidana Untuk Menjerat Pemuda Pemerkosa Ayam Tetangga

Kaur Bin Ops (KBO) Satuan Reserse Kriminal Polres Tasikmalaya Iptu Maulana mengaku kebingungan dengan pengakuan AS (17), tersangka pemerkosaan bocah perempuan, yang menyatakan juga telah memerkosa ratusan ayam. Pengakuan warga Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya, itu disampaikan saat dia menjalani sidang di Pengadilan Tasikmalaya, belum lama ini.

“Kita bingung enggak ada pasal pidana yang mengatur pemerkosaan ayam. Masak ayam harus bersaksi sebagai korban,” jelas Maulana kepada sejumlah wartawan di Markas Polres Tasikmalaya, Jumat (20/12/2013).

Menurut Maulana, saat disidik polisi beberapa bulan lalu, AS hanya mengaku memerkosa seorang anak di bawah umur. Namun, pihaknya kaget saat dalam persidangan tersangka mengaku juga telah memerkosa ayam.

“Tapi hampir tiga ratus ayam yang digituin oleh pelaku, hanya beberapa saja yang mati. Tidak semuanya mati. Pengakuan baru tersangka pun diakuinya sendiri saat menjawab pertanyaan hakim di persidangan,” kata Maulana.

Maulana menambahkan, tersangka ditangkap dengan dugaan telah menodai siswi sekolah dasar (SD) beberapa bulan lalu. Pelaku pun mengakui bahwa setelah memerkosa, korban sempat dibuang ke laut di Pantai Cikalong, Tasikmalaya Selatan. Beruntung, korban bisa diselamatkan oleh salah seorang nelayan setempat.

Menolak Damai … Korban Pemerkosaan Kini Jadi Tersangka

Bersama ayah dan pamannya, Ans (19) sepintas tampak tegar ketika menemui sejumlah wartawan di Balai Wartawan Polda Metro Jaya, Senin (6/1/2013). Namun, sesungguhnya wajahnya pucat. Tubuh mahasiswi semester tiga sebuah universitas di Jakarta itu pun kurus dan rambutnya menipis.

Ans berupaya menceritakan petaka yang menimpanya saat diperkosa seorang pemuda. Namun, suaranya semakin pelan, tenggelam. Ia ingin menangis, tetapi air matanya sepertinya sudah kering. Sejak menjadi korban pemerkosaan pada 1 September 2013, hampir setiap hari dia menangis. Terlebih lagi, polisi malah menetapkannya sebagai tersangka kasus perusakan setelah ia dan keluarganya menolak tawaran berdamai dari tersangka pemerkosanya.

”Sejak peristiwa itu, keponakan saya ini berubah drastis. Dia di rumah saja, tidak berani keluar dan akhirnya berhenti kuliah,” kata Arif Rafiatur, paman korban.

”Kalau malam hari tidak bisa tidur. Kerap terbangun atau meracau saat tidur,” tambah Afan, ayah Ans.

Arif menceritakan, keponakannya itu diperkosa HIS alias CK yang baru dikenal Ans selama empat bulan. Pemerkosaan terjadi di lantai dua sebuah ruko di Ciracas, Jakarta Timur. Lantai satunya adalah usaha warnet. Arif sudah mendatangi ruko itu. Warnet itu memasang musik sedemikian rupa sehingga jika ada teriakan di lantai dua, tidak akan kedengaran dari bawah.

”Itu sebabnya, ketika keponakan saya teriak minta tolong, enggak ada yang menolong. Namun, seorang penjaga warnet melihat saat Ans turun dari lantai dua dengan keadaan ketakutan dan menangis,” katanya.

Ans mengenal CK setelah dikenalkan Rn, teman kuliah Ans. Beberapa waktu kemudian, CK mengirim pesan singkat ke telepon seluler Ans yang isinya meminta tolong agar Ans bersedia menjadi model fotonya. CK mengaku ingin menekuni profesi sebagai fotografer mulai dari nol. ”Saya butuh bantuan kamu,” begitu isi SMS CK.

Pada 1 September, Ans bersedia diajak CK ke ruko itu karena dijanjikan akan mendapat honor. Ternyata, dalam pemotretan itu, pelaku membujuk dan mengintimidasi sehingga Ans difoto telanjang.

Setelah itu, CK memerkosanya. Tidak hanya itu, pelaku juga mengancam akan menyebar foto itu jika Ans melapor kepada orangtua dan polisi. Ketakutan yang amat sangat membuat Ans mencoba merampas kamera yang digunakan CK. Akhirnya, kamera itu jatuh ke lantai.

Sampai rumah, Ans langsung mengadu kepada orangtuanya dan bersama sang ayah dan Arif melapor ke Polres Metro Jakarta Timur. Tersangka ditangkap dan menginap di sel polisi selama 30 hari. CK lalu mengajukan penangguhan penahanan dan dikabulkan. Berkas kasusnya kini sudah P-21 sehingga tinggal menunggu persidangan.

Namun, sebelum itu, pelaku melaporkan Ans ke polres yang sama dengan sangkaan Ans merusak kamera CK. Polisi pun menetapkan Ans sebagai tersangka perusak kamera.

Kamera itu tidak lain adalah kamera yang digunakan CK untuk memotret Ans, yang menurut Arif ternyata tidak menjadi barang bukti dalam kasus pemerkosaan. Padahal, saat mem-BAP Ans dalam kasus pemerkosaan itu, polisi menyertakan empat foto telanjang Ans, yang diakui Ans dan CK difoto dengan menggunakan kamera itu. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto mengatakan, Polda akan memeriksa penanganan kasus itu. ”Polda akan mengecek proses penyidikannya,” ujarnya.

Mengaku Wartawan Setubuhi Anak Kandung Memakai Vibrator Sambil Foto Foto

Kasus ayah menyetubuhi anak kandung di Bandung sudah ditangani pihak kepolisian. Polisi menyita barang bukti antara lain kondom dan alat penggetar atau vibrator. Aksi bejat AA (35) kepada anak kandungnya berusia 11 tahun atau masih kelas 5 sekolah dasar (SD) itu terjadi Selasa 12 November lalu di indekosnya. Perilaku biadab AA akhirnya terungkap setelah korban mengadu kepada nenek dari pihak ibu. Perkara ini ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Bandung.

Kasatreskrim Pilrestabes Bandung AKBP Trunoyudho Wisnu Andhiko menuturkan polisi mengamankan barang bukti milik pelaku yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP). “Barang bukti itu antara lain satu unit alat vibrator, satu tabung vakum penis, empat bungkus kondom, satu telepon genggam, satu pisau dapur, dan tas hitam berisi botol Whisky,” jelas Truno didampingi Kanit PPA AKP Suryaningsih di Mapolrestabes Bandung, Jalan Jawa, Jumat (22/11/2013).

Selain itu, sambung Truno, penyidik juga turut menyita barang bukti milik korban. Di antaranya satu celana dalam merah muda yang masih ada bercak darah, satu kaus dalam merah muda, satu baju tidur bergambar boneka gajah, satu celana jeans biru, dan satu kerudung putih.

Akibat perbuatan asusila terhadap anak kandung, AA harus mendekam di sel tahanan Mapolrestabes Bandung. Dia diganjar Pasal 81 jo 82 UU RI no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. “Ancaman hukumannya 15 tahun penjara,” jelas Truno. AA mengaku merenggut keperawanan darah dagingnya ini. Dia memaksa anak berhubungan badan. Bahkan pelaku menampar serta menendang dan mengancam pakai pisau kepada korban. “Saya sempat foto-foto pakai kamera handphone waktu setubuhi anak,” ucap AA.

Pelaku tidak membantah alat vibrator itu sempat dipakai saat mengerayangi korban. “Vibrator itu sudah lama belinya. Biasa saya pakai bareng istri. Biar puas pas berhubungan intim,” kata AA tanpa malu-malu mengungkapkannya.

Bapak tiga anak itu tinggal sendirian menyewa kamar indekos di kawasan Sekeloa, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Sudah hampir tiga bulan istrinya kerja menjadi pemandu lagu di Semarang. Korban yang merupakan anak keduanya, selama ini dititipkan di rumah nenek atau mertua pelaku. Saat kejadian tak senonoh tersebut, korban dijemput AA dari rumah neneknya menuju indekos.

AA blak-blakan menyetubuhi anak kandungnya yang berusia 11 tahun. Dua kali pelaku beraksi bejat. Selama ini AA mengaku bekerja sebagai wartawan media cetak. “Saya juga wartawan. Lima tahun jadi wartawan,” kata AA saat ditanya ptofesinya. AA menyampaikannya sewaktu ditemui di Mapolrestabes Bandung, Jalan Jawa, Jumat (22/11/2013). “Saya pindah-pindah media. Semuanya tabloid,” ungkap AA sambil menyebut beberapa nama media tempatnya pernah bekerja.

Namun nama-nama media yang disebut AA itu jarang terdengar di Bandung. Bahkan wujud tabloidnya tak ditemui di pasaran. “Sebelum ketangkap, saya baru dua minggu kerja di Tabloid Tipikor Jabar. Tapi alamat kantornya lupa lagi,” ujar AA.

Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Bandung masih mendalami pengakuan AA yang profesinya wartawan. Polisi memang menemukan barang bukti berupa kartu pers di tempat kejadian perkara (TKP) atau indekos pelaku. “Barang bukti disita di antaranya satu stempel salah satu surat kabar umum dan enam ID Pers berbeda-beda surat kabar. Selain itu di TKP ada barang bukti satu kaset DVD porno serta satu media player,” ucap Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP Trunoyudho Wisnu Andhiko.

Tak habis pikir kenapa AA (35) tega nian menyetubuhi anak kandungnya berusia 11 tahun. Apa sebenarnya motif pelaku melakukan hubungan sedarah itu? “Saya bertengkar dengan istri soal urusan pribadi. Terus istri pergi,” ucap AA saat ditemui di Mapolrestabes Bandung, Jalan Jawa, Jumat (22/11/2013).

Semenjak istri ‘kabur’, tiga bulan lamanya AA hidup sendirian di tempat indekos, kawasan Sekeloa, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. “Istri saya kerja jadi PL (pemandu lagu) di Semarang. Saya suruh pulang ke Bandung, tapi istri enggak mau. Istri masih marah” ungkapnya.

AA beralibi gara-gara pertengakaran dengan istri menjadi pemicu menggerayangi anak kandung yang masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar (SD). “Saya stres. Saya melampiaskan rasa dendam dan kebencian kepada istri ini dengan menjadikan anak sasaran. Khilaf,” ujar AA.

Dia mengakui sudah punya niat menyetubuhi anaknya sewaktu pikiran diterpa polemik rumah tangga. AA berdalih emosinya tak terkontrol dan makin berani bertindak asusila terhadap anak lantaran terpengaruh minuman keras (miras). “Waktu kejadian, kondisi saya lagi mabuk. Mabuk minum Whisky,” ungkap AA.

Kasatreskrim Pilrestabes Bandung AKBP Trunoyudho Wisnu Andhiko menuturkan pihaknya menyita barang bukti milik pelaku yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP). Perkara ini ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).

“Barang bukti itu antara lain satu unit alat vibrator, satu tabung vakum penis, empat bungkus kondom, satu telepon genggam, satu pisau dapur, dan tas hitam berisi botol Whisky,” jelas Truno didampingi Kanit PPA AKP Suryaningsih.

Selain itu, sambung Truno, penyidik turut menyita barang bukti milik korban. Di antaranya satu celana dalam merah muda yang masih ada bercak darah, satu kaus dalam merah muda, satu baju tidur bergambar boneka gajah, satu celana jeans biru, dan satu kerudung putih.

Akibat perbuatannya, AA harus mendekam di sel tahanan Mapolrestabes Bandung. Dia diganjar Pasal 81 jo 82 UU RI no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. “Ancaman hukumannya 15 tahun penjara,” jelas Truno. AA (35) berurusan dengan polisi gara-gara menyetubuhi anak kandungnya. Pelaku juga mendokumentasikan adegan ranjang tersebut menggunakan kamera telepon genggam. Polisi menemukan barang bukti toys seks jenis vibrator milik AA. Apakah pelaku punya kelainan seks?

AA tertunduk sewaktu mengisahkan perbuatan bejatnya. Dia berbicara sambil wajah terbungkus topeng. “Saya normal. Enggak memiliki kelainan seks,” jelas AA saat ditemui di Mapolrestabes Bandung, Jalan Jawa, Jumat (22/11/2013).

Disinggung apa alasannya memfoto aksi biadab sewaktu menyetubuhi anak kandung, AA menjawab bernada santai. “Cuma iseng. Pengen foto-foto saja,” ucap pria asal Aceh ini.

Polisi menyita satu unit telepon genggam milik AA yang tersimpan foto-foto momen hubungan sedarah tersebut. Salah satu foto saat anak keduanya itu dipaksa oral seks.

Sebelum menyiksa anak kandung guna melayani nafsu bejat, AA memaksanya menonton film porno. Bahkan korban diancam menggunakan pisau jika tak mau berhubungan badan terlarang ini.

Polisi menemukan barang bukti vibrator di tempat indekos pelaku. Rupanya AA mempergunakan alat penggetar tersebut kepada anaknya. “Vibrator itu sudah lama saya beli. Biasanya dipakai buat istri. Biar puas pas berhubungan intim,” ungkap AA tanpa malu-malu mengungkapkannya.

Tindakan tak terpuji ini terjadi pada Selasa 12 November lalu di tempat indekos pelaku. AA tinggal sendirian menyewa kamar indekos di kawasan Sekeloa, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Sudah hampir tiga bulan istrinya kerja menjadi pemandu lagu di Semarang.

Korban selama ini dititipkan di rumah nenek atau mertua pelaku. Saat kejadian, korban dijemput AA dari rumah neneknya menuju indekos. Perilaku biadab AA akhirnya terungkap setelah korban mengadu kepada neneknya atau mertua pelaku. Perkara ini ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Bandung.