Arsip Kategori: kejahatan facebook

Pacar Menyamar Di Facebook Untuk Memeras Kekasih Agar Berpose Mesum dan Telanjang

Pasangan kekasih seharusnya saling menyayangi. Namun tidak demikian bagi Darrel Bingham, pria asal Inggris ini. Dia menipu habis-habisan pacarnya sendiri melalui situs jejaring Facebook.

Bingham membuat profil palsu di Facebook. Ia menyamar sebagai seorang pemain football, kemudian berteman dengan pacarnya tersebut. Si pacar tidak mengetahui profil tersebut palsu dan dibuat oleh pacarnya sendiri.

Nah melalui profil palsunya, Bingham berhasil merayu si pacar untuk mengiriminya foto telanjang. Kemudian setelah dikirimi, ia mengancam akan menyebarkan foto bersangkutan jika sang pacar tidak mau menuruti permintaannya.

Takut dengan ancaman tersebut, wanita yang tak disebut namanya itu pun terpaksa menuruti permintaan Bingham. Ia berpose mesum siang dan malam melalui webcam. Pemerasan ini berlangsung selama enam bulan lamanya.

Bingham sendiri tetap berpura-pura menjadi pacar yang baik. Ketika dilapori masalah tersebut oleh si pacar, ia pun pura-pura marah dan berjanji akan menyelesaikannya. Bahkan, ia mengaku sudah membunuh Grant dan menunjukkan fotonya.

Namun kemudian, ia ternyata tetap melanjutkan aksinya. Bingham membuat profil Facebook lainnya yang mengaku sebagai teman Grant. Kembali ia meminta sang pacar berpose bugil karena mengaku memiliki foto foto mesumnya terdahulu.

Tidak tahan dengan keadaan tersebut, sang pacar curhat kepada temannya yang lapor pada polisi. Polisi pun berhasil membongkar penyamaran Bingham dan menangkapnya. Tidak diketahui alasan Bingham sehingga melakukan perbuatan jahat itu. Yang pasti si pacar merasa sangat terluka.

“Saya merasa dikhianati dan sakit hati. Ketika saya tahu pelakuknya adalah Bingham, aku hancur. Dia adalah satu-satunya orang yang kuandalkan,” kata korban

Kisah Dua Cinta Segitiga Bermula Dari Facebook Yang Berakhir Di Penjara Karena BH dan Celana Dalam

Kisah ini berawal dari Facebook menyusur ke Bra dan Celana Dalam. Kisah bak Sinetron ini, tidak berakhir happy ending tapi sebaliknya malah di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Bagaimanakah kisah percintaan pelaut dan PNS ini, yang dibumbui cinta segitiga ini?

Rasa kesepian yang mendera Samsu Alam (39) karena jauh dari istri yang tinggal di Palopo, Sulawesi Selatan, membuatnya nekat menjalin cinta dengan wanita lain di Jakarta.

Wanita yang dipacarinya itu adalah Dede Juwitawati, seorang PNS di Ciracas Jakarta Timur. Samsu berkenalan dengan Dede lewat jejaring sosial facebook pada April 2011.

Gayung bersambut, Samsu dan Juwita bertemu 5 Juni 2011. Juwita ditemani oleh kedua orangtuanya saat menemui Samsu. Status Samsu saat itu masih seorang suami dan beranak empat, sedangkan Juwita adalah janda beranak dua dan tinggal di Depok.

Asmara yang meledak-ledak itu membuat hubungan Samsu dan Juwita makin lengket. Keduanya pun sepakat tinggal serumah layaknya suami istri dengan mengontrak rumah di Tanjungpriok, Jakarta Utara. Bahkan, Dede mengajak dua anaknya yang masih kecil tinggal dengan mereka. Agustus 2011 mereka akhirnya pindah mengontrak rumah di Ciracas, Jakarta Timur.

Layaknya suami istri dalam sebuah keluarga, pertengkaran juga mewarnai ‘rumah tangga’ mereka. Dalam suatu pertengkaran, Samsu menampar Juwita, yang berujung penahanan terhadap Samsu di Polsek Ciracas pada 8 September 2011. Pelaut itu sempat ditahan selama 15 hari.

Sejak keluar dari tahanan pada 26 September 2011 Samsu memutuskan untuk pisah dengan Juwita. Lalu ia mengemasi barang dan memilih untuk tinggal di rumah iparnya di Tanjungpriok. Setelah itu beberapa kali Samsu mendatangi Juwita untuk membicarakan hubungan mereka, namun gagal.

Pada 16 Oktober 2011, Samsu mendapat panggilan melaut. Dia lantas berkemas dan bersiap-siap untuk melaut. Tak disangka ketika mengemasi barang bawaannya, terselip celana dalam dan BH milik Juwita.

Mengetahui hal itu, Samsu menghubungi Juwita dengan maksud ingin mengembalikan celana dalam dan BH itu. Akhirnya Samsu memutuskan mendatangi kontrakan mantan kekasih gelapnya itu di Ciracas. “Sekaligus membicarakan rencananya untuk melaut,” kata Regen.

Ketika mendatangi kontrakan di Ciracas, ia tidak mendapati Juwita. Lalu dia menunggu di warung dekat kontrakan. Tak lama menunggu di sana, Samsu didatangi oleh dua orang polisi yang salah satunya adalah perwira menengah dari Polsek Ciracas untuk menangkapnya. Samsu ditangkap dengan tuduhan melakukan pencurian atas laporan dari Juwita.

Kemudian Samsu Si pelaut kapal tanker milik perusahaan Korea Selatan diborgol dan ketika sampai di Polsek Ciracas, tas digeledah dan ditemukan satu buah celana dalam wanita dan satu buah bra. Hingga kini, Samsu meringkuk di Rutan Cipinang.

Dalam persidangan perdananya di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa (10/1/2012), Samsu terlihat tenang dan percaya diri. Dengan kemeja putih dan mengenakan kopiah putih, Samsu dengan sigap menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim, Herlina Manurung.

Samsu didampingi empat orang tim pengacara dari LBH Mawar Sharon. Bahkan Pembina LBH Mawar Sharon, Hotma Sitompul, pengacara top papan atas, duduk di kursi pengacara mendampingi Samsu.

Dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum, Efni Noviza Wallad, Samsu dijerat Pasal 362 KUHP tentang pencurian dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara. Menurut JPU kerugian Dede, atas bra dan celana dalam itu senilai Rp 550.000.
Namun, tim pengacara Samsu membantah dakwaan jaksa tersebut dalam nota keberatannya.

Menurut tim pengacara, kliennya tidak melakukan pencurian yang dituduhkan. “Terdakwa tidak pernah melakukan perbuatan mencuri sepasang pakaian dalam tersebut,melainkan hanya sepasang pakaian dalam pelapor yang terselip atau terbawa ke dalam tas terdakwa,” kata Hotma Sitompul, pengacara Samsu.

Regen Silalahi, pengacara Samsu lainnya, menduga ada motif cinta segitiga antara Samsu, Dede dan salah seorang oknum perwira anggota polisi yang menangkap Samsu.

Suasana sidang berjalan riuh. Para pengunjung sidang tidak kuasa menahan geli saat jaksa membacakan celana dalam atau BH. Tiap kali dua pakaian dalam itu disebut, pengunjung sidang tersenyum dan berbisik-bisik.

Ketua Majelis Hakim Herlina Manurung, akhirnya memutuskan sidang akan dilanjutkan pada Selasa (17/1/2012) depan, dengan agenda mendengar tanggapan Jaksa Penuntut Umum sekaligus putusan sela

Adik Perkosa Pacar Kakak Di Senayan City Dan Sebarkan Foto Telanjangnya Lewat Facebook dan BBM Sebagai Tanda Kemenangan dan Penaklukan

Dibantu tiga orang teman, seorang remaja memerkosa pacar kakaknya. Korban yang sebelumnya dicekoki minuman keras juga difoto. Foto-foto syur telanjang itu diedarkan melalui internet dan blackberry messenger (BBM).

Peristiwa itu diawali oleh ajakan Kiki, 15, mengajak Put, 17, untuk karaoke di Senayan City, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ajakan adik pacar itu disambut kesediaan cewek yang baru lulus SMA tersebut. Mereka lalu janjian untuk bertemu di lokasi karaoke. Ketika Put tiba di tempat itu, ternyata Kiki bersama tiga teman.

Tetapi di tempat karaoke tersebut, Put dicekoki minuman keras (miras) oleh Kiki dan ketiga temannya. Melihat Put dalam keadaan setengah sadar dan lemah, rupanya Kiki terbakar birahi melihat pacar kakaknya, Husen. Warga Cibubur, Jakarta Timur, itu lalu memerkosa Put di kamar kecil (toilet). Setelah dinodai, Put dibawa ke sofa dalam keadaan telanjang.

DIGERAYANGI
Tiga teman Kiki ikut menggerayangi Put. Kiki mempotret tubuh perempuan itu dalam berbagai pose sebagai kenang-kenangan dan piala karena sudah berhasil menaklukan perempuan tersebut. Ternyata foto-foto syur tersebut diedarkan di internet dan BBM. Setelah itu, mereka mengantar Put ke rumahnya di Rempoa, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan. “Kiki bilang sama orangtua kalau adik saya lemas karena habis dirampok HP-nya hilang dibawa kabur,” ungkap kakak kandung korban, Ki, saat bersama Put melapor ke Mapolres Jakarta Pusat, Minggu (31/7).

Terungkapnya pemerkosaan pada Kami, 26 Juli, tersebut karena Put lebih sering melamun dan menyendiri di dalam kamar. Setelah didesak keluarga, Put akhirnya buka mulut tentang aib yang menimpanya.

Siswi SMP Yang Punya Banyak Akun Facebook Dengan Nama Berbeda Kabur Dengan Pengamen Yang Dikenal melalui Facebook

Lelaki 38 tahun itu khawatir bukan main. Sudah tiga hari, anak perempuannya yang masih duduk di kelas 1 SMP 149 Kampung Melayu tak pulang ke rumah. Ia curiga dara bau kencur itu dibawa lari pengamen yang juga kekasih anaknya itu.
“Saya cari dia kemana-mana, saya juga cari lewat facebook-nya dan telepon terakhir yang keluar masih ke HP anak saya,” kata Revaldi, lelaki itu, di Polsek Jatinegara, Senin (25/7) siang. Hasil penelusurannya, ia mencium jejak anak perempuannya yang baru 15 tahun itu, Dewi Putranti alias Puput, terakhir berhubungan dengan Ardi, pacar Dewi. “Saya sama mamanya Puput mencari dan semua pencarian itu bermuara ke Ardi.”

Begitu khawatir Revaldi akan anaknya, penyakitnya kambuh. Ningsih, 34, ibu Puput, mengatakan sejak anaknya menghilang suaminya terus cemas akan nasib anaknya. “Suami saya punya penyakit limpa dan diabetes,” ungkapnya. “Penyakit itu kian menjadi karena dia terus memikirkan Puput. Semakin hari perutnya makin bengkak.”

Puput menghilang sejak kelur rumah sepulang sekolah pada Jumat (22/7) siang. Saat keluar rumah, ia tak pamit karena orangtua dan adik satu-satunya tengah tidur siang. Ditunggu sampai malam, dara belia itu tak juga kembali ke rumahnya di di Jl. Kebun Jeruk Barat, Cipinang Besar Utara, Jaktim.

FACEBOOK
Panik, keluarga itu mulai mencari-cari Puput. Orangtua itu pantas cemas. Soalnya setelah mereka memeriksa tas dan isi kamar anak sulungnya itu, Puput keluar rumah hanya mengenakan kemeja kotak-kotak merah lengan panjang dengan kaos putih juga celana panjang jins hitam. Diketahui anak itu tak membawa pakaian lain serta uang lebih yang memungkinkannya untuk hidup beberapa hari.

Kenyataan itu membuat orangtua itu kian khawatir. Pencarian juga dilakukan dengan memeriksa akun facebook Puput. Diakui Ningsih, sehari-hari di rumah anaknya itu selalu membuka facebook dan berkomunikasi dengan teman-temannya melalui situs pertemanan itu. Melalui facebook pula Puput berkenalan dengan Ardi, pengamen yang belakangan dengan dengan gadis itu.
Di situs pertemanan itu, Puput memiliki beberapa akun dengan nama dan foto berbeda. Sederet pesan yang terpampang di layar akun facebook-nya membuatnya yakin pemuda itu jatuh cinta pada putrinya. Pesan bernada sama juga terlihat pada pesan dalam HP Puput yang tertinggal di rumah.

“Semenjak kenal sama Ardi, setiap pulang sekolah anak saya bisa sampai jam 3 sore. Alasannya, selalu habis main di warnet. Tapi di rumah pun HP nggak pernah lepas dari tangannya,” ujar wanita pengusaha percetakan ini. “Kami pikir Puput kena hasut karena dia itu lugu.”

Mereka juga bertaya pada teman-teman Puput dan Ardi. Satu teman Ardi, Yuda, mengaku melihat pasangan itu pada Sabtu (23/7). Bahkan penngamen di kawasan Penas, Jaktim, itu juga meminjam Vespa miliknya dan belum dikembalikan.
Kenyataan itu makin membuat Revaldi dan Ningsih yakin anak perempannya yang dikenalnya masih polos itu dibawa kabur Ardi. “Kami berharap Puput bisa segera pulang. Kami sangat khawatir, apalagi papanya juga sakit,” kata Ningsih.

Selly Yustiawati Penipu Lewat Facebook Tertangkap Di Bali Setelah Buron Selama Setahun

Masih ingat Selly? Penipu cantik yang tahun lalu menjadi topik hangat di jejaring sosial Facebook. Sepak terjang buronan yang diperkirakan telah menipu ratusan orang di sejumlah kota besar di Indonesia ini akhirnya terhenti di tangan Polsek Denpasar Selatan.

Selly Yustiawati alias Rassellya Rahman Taher dibekuk aparat Polsek Densel saat sedang berlibur bersama kekasihnya, Bima, di hotel the Amaris, Kuta, Bali, Sabtu kemarin.

“Setelah kita pastikan ciri-cirinya sama seperti DPO yang kita terima, akhirnya kita tangkap,” ujar Kepala Polsek Denpasar Selatan AKP Leo Martin Pasaribu kepada wartawan di Mapolsek Densel, Minggu (27/3/2011).

Wanita berusia 26 tahun ini kini sedang menjalani pemeriksaan di Mapolsek Densel dan rencananya akan segera dilimpahkan ke Polres Bogor malam ini. “Untuk kasusnya akan ditangani di sana,” jelas Leo Pasaribu.

Sementara Bima, sang kekasih, dibebaskan oleh polisi karena tak terbukti terlibat aksi kejahatan Selly.

Sekadar mengingatkan, Selly sempat menjadi perbincangan para “facebooker” lebih dari setahun silam setelah dia memanfaatkan situs jejaring sosial ini untuk melakukan penipuan.

Salah satu modusnya adalah menawarkan investasi melalui bisnis pulsa dengan menjanjikan keuntungan berlipat kepada korbannya. Namun, setelah si korban mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya, Selly langsung melancarkan jurus kaki seribu alias kabur.

Korban Selly berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Tangerang, dan beberapa kota lainnya. Modus lainnya yang sempat terendus polisi adalah pada tahun 2009 Selly pernah berpura-pura menjadi wartawati Kompas dan melakukan penipuan kepada karyawan Hotel Grand Mahakam dan Kompas Gramedia.

Terkuak motif Selly Yustiawati alias Rasellya Rahman Taher, wanita yang dituduh melakukan serangkaian penipuan di beberapa kota, yang baru saja tertangkap oleh aparat Polsek Denpasar Selatan.

Wanita berparas cantik ini mengaku uang yang selama ini dipinjam dari para korban dihabiskan untuk berfoya-foya. ”Saya meminjam uang kepada teman-teman dan menghabiskan bersama mereka juga, yang dipikirkan hanya kesenangan saja,” kata Selly saat ditemui Kompas.com di Mapolsek Denpasar Selatan, Senin (28/03/2011) pagi.

”Saya tidak pernah memakai uang itu untuk diri saya, misalnya membeli motor, enggak pernah,” tutur wanita berusia 27 tahun ini.

Selly juga menceritakan bagaimana hubungannya dengan korban yang tak lain adalah temannya, yakni Vika dan Mia. ”Kalau sama Vika, saya pinjam uang sama dia, tapi saya juga belikan dia baju, HP, dan uangnya kami habiskan sama-sama,” jelasnya.

Lulusan Universitas Padjajaran Bandung ini mengaku, gaya hidup glamor yang membuatnya terjerumus dalam kasus ini. ”Karena emosi, karena pengen terus-menerus berteman dengan mereka dan berhura-hura, jadi gelap mata,” tuturnya.

Sekadar mengingatkan, Selly sempat menjadi pergunjingan para facebooker lebih dari setahun silam setelah dia memanfaatkan situs jejaring sosial ini untuk melakukan penipuan.

Salah satu modusnya adalah menawarkan investasi melalui bisnis pulsa dengan menjanjikan keuntungan berlipat kepada korbannya. Namun, setelah si korban mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya, Selly langsung melancarkan jurus kaki seribu alias kabur.

Korban Selly berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Tangerang, dan beberapa kota lainnya. Modus lainnya yang sempat terendus polisi, pada tahun 2009 Selly pernah berpura-pura menjadi wartawan Kompas dan melakukan penipuan kepada karyawan Hotel Grand Mahakam dan Kompas Gramedia.

Nama Selly Yustiawati beberapa hari terakhir menjadi pembicaraan forum dan jejaring sosial di internet. Bukan karena paras cantiknya, melainkan karena kelicikannya menipu banyak orang selama bertahun-tahun dan di banyak kota.

Facebook pun digunakan untuk menyebarkan peringatan waspada terhadap perempuan licin tersebut. Jejaring sosial itu dimanfaatkan pula sebagai sarana tukar informasi untuk memburu Selly yang keberadaannya kini bak hilang ditelan Bumi. Selly kini masuk daftar pencarian orang (DPO) di internet.

Salah satu grup diskusi “PENIPUUUUUUUUUU SELLY YUSTIAWATI” kini sudah diikuti lebih dari 1.600 orang. Di situ ditampilkan foto-foto Selly dalam berbagai pose. Juga ada diskusi yang membicarakan seluk-beluknya, seperti modus aksi penipuannya dan informasi untuk melacak keberadaannya.

Pengguna Kaskus juga saling tukar informasi mengenai penipu ulung ini dalam salah satu thread berjudul “Hati-hati Dengan Selly Yustiawati”. Laporan penipuan yang dilakukan Selly pun banyak mendapat tanggapan, termasuk dari orang-orang yang pernah merasa menjadi korban Selly.

Selly memang dikenal licin dan sering berganti nama. Ia tercatat pernah menipu puluhan mahasiswi universitas swasta di Jakarta pada tahun 2006 dengan modus sebagai agen SPG dan meminta uang sebagai pelicin. Tahun ini, ia dua kali melancarkan aksinya dengan “menyusup” sebagai karyawan. Ia menjadi staf HRD sebuah hotel di Jakarta dan mulai meminjam uang dari para karyawan, tetapi menghilang begitu saja. Selly juga pernah menjadi karyawan di surat kabar terbesar dan berhasil mengelabui banyak karyawan hingga Rp 30 juta. Terakhir, pelaku dilaporkan melancarkan aksinya di Bandung, lagi-lagi dengan melarikan pinjaman.

Kepolisian meminta kepada masyarakat yang merasa menjadi korban penipuan Selly Yustiawati untuk segera melapor agar mereka bisa menindaklanjuti kasus tersebut. Polisi tidak dapat bertindak tanpa adanya laporan dari korban.

“Beri kepercayaan kepada polisi untuk melakukan penyelidikan,” ucap Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar di Polda Metro Jaya, Senin (22/2/2010), saat ditanyai mengenai kasus Selly.

Boy menjelaskan, berdasarkan data di kepolisian, Selly pernah diperiksa di Polsek Metro Tanah Abang saat tertangkap oleh korban yang merupakan karyawan surat kabar besar. Namun, saat itu terjadi perjanjian antara korban dan pelaku bahwa pelaku bersedia mengganti seluruh uang hasil penipuannya.

“Polisi tidak patut campur tangan atas kasus itu karena ada kesepakatan antara korban dan pelaku. Kalau dipercayakan kepada polisi, akan dibuatkan berita acara pemeriksaan lalu ditangani dan akan kelihatan tindak pidananya,” ungkap Boy.

Seperti diberitakan, Selly menjadi pembicaraan di forum dan jejaring sosial di internet lantaran kelicikannya menipu banyak orang selama bertahun-tahun dan di banyak kota. Keberadaannya kini tidak diketahui.

Selly pernah menipu puluhan mahasiswa salah satu universitas swasta di Jakarta pada tahun 2006. Ia juga menipu banyak karyawan saat menjadi staf HRD di salah satu hotel di Jakarta. Aksi selanjutnya, ia menjadi karyawan di sebuah surat kabar terbesar lalu mengelabui banyak karyawannya hingga Rp 30 juta.

Selly Yustiawati alias Rasellya Rahman Taher membantah dirinya adalah seorang penipu. Ia berdalih selama ini hanya meminjam uang rekan bisnisnya dan sebagian telah dikembalikan.

“Aku enggak nipu, aku cuma pinjam, karena semua enggak ada barang bukti, enggak ada yang tertulis, karena semua dari teman,” tegas Selly saat ditemui di Mapolsek Denpasar Selatan, Senin (28/3/2011).

Selly menolak disebut penipu. Lagi pula, menurut pengakuannya, uang yang selama ini ia pinjam sudah dikembalikan. “Ada beberapa yang aku kembalikan, ada yang sudah membuat surat pernyataan, dan ada yang sudah lunas,” imbuh wanita berusia 26 tahun ini.

Saat ditanya kenapa selama ini menghilang, ia mengaku takut karena opini masyarakat telah memandang dirinya negatif. “Sekarang bukan menyesal, tapi lebih dijelasin biar terungkap semua, karena selama ini wartawan hanya melihat satu sisi korban, tapi enggak melihat dari saya juga,” ungkap Selly.

Seperti diberitakan, Selly yang selama ini terkenal sebagai penipu ulung tertangkap aparat Polsek Denpasar Selatan saat sedang berlibur di Bali bersama kekasihnya, Sabtu (26/3/2011) lalu.

Lebih dari setahun yang lalu, Selly sempat menjadi bahan pergunjingan para facebooker setelah dia memanfaatkan situs jejaring sosial ini untuk melakukan penipuan.

Salah satu modusnya adalah menawarkan investasi melalui bisnis pulsa dengan menjanjikan keuntungan berlipat kepada korbannya. Namun, setelah si korban mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya, Selly langsung kabur.

Korban Selly berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Tangerang, dan beberapa kota lainnya. Modus lainnya yang sempat terendus polisi adalah pada tahun 2009 Selly pernah berpura-pura menjadi wartawati Kompas dan melakukan penipuan kepada karyawan Hotel Grand Mahakam dan Kompas Gramedia.

Mahasiswi Berinsial TR Bugil Di Internet Facebook dan Blog

Seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta beradegan bugil di internet. Polisi dari Satuan Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya sedang mendalami kasus ini.

“Sedang ditelusuri apakah foto itu foto dia atau bukan. Atau juga apakah foto itu disebar oleh dia atau orang lain, kita masih telusuri,” ucap Ajun Komisaris Besar Hermawan, Kepala Satuan Cyber Crime, pada Rabu (23/3) siang.

Tapi, kata Hermawan, sejauh ini pihaknya belum menerima laporan dari mahasiswi yang disebut-sebut berinisial Tr itu. Menurut Hermawan, jika Tr merasa dirugikan, dia harusnya melapor ke polisi agar polisi mengusut pelaku penyebar foto porno tersebut.

“Untuk membuktikan hal itu sebagai sebuah tindak pidana, maka kita harus mencari bukti-bukti yang kuat dulu. Misalnya mendapatkan fotonya, lalu menemukan pemilik foto tersebut untuk dicek apakah foto itu memang dia. Kalau pun benar, maka kita harus mencari bukti siapa yang telah meng-upload-nya,” papar Hermawan.

Jika terbukti, maka sanksi bagi orang yang mengupload foto mahasiswi bugil dijerat dengan Undang Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) No 11 Tahun 2008 dan Undang Undang Pornografi No 44 Tahun 2008.

Foto-foto telanjang Tr awalnya beredar di akun jejaring facebook miliknya. Foto-foto itu kini tersebar di sebuah blog.

Gara Gara Kecanduan Facebook Seorang Bocah Umur 14 Tahun Mencuri Sepeda

Diduga akibat kecanduan situs jejaring social Facebook, WD (14), nekad mencuri sepeda. Uang hasil penjualan sepeda curian itu dipakai bocah ingusan tersebut untuk beaya ke warnet, bermain Facebook sampai berjam-jam per hari.

WD, warga Wirengan, Baluwarti, Pasarkliwon, sampai Selasa (15/3/2011) masih ditahan di Mapolsek Laweyan, Solo. Ia diduga sering mencuri sepeda di warnet tempat ia bermain Facebook. Ia terakhir menggondol sepeda milik Febry Tundy Yoga (14), warga Kalitan RT 01 RW 02, Laweyan, Solo. Saat akan membawa kabur sepeda BMX tersebut, Minggu (13/3/2011) siang, ia kepergok sang pemilik.

Menurut Kanit Reskrim Polsek Laweyan, AKP Sunarto, kejadian berawal saat korban datang ke Warnet Yahoo, depan rumah dinas wali kota Solo (Loji Gandrung). Saat itu, tersangka juga sedang ngenet di warnet tersebut.

“Begitu melihat sepeda korban tak dikunci di depan warnet, tersangka langsung keluar dan membawanya kabur. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 13.30 WIB,” kata Sunarto.

Saat WD berhasil membawa sepeda itu beberapa meter dari warnet, sang pemilik melihatnya dari dalam warnet. Langsung saja si pemilik mengejar beramai-ramai bersama pengunjung warnet lain dan menangkap tersangka.

Diduga akibat kecanduan situs jejaring sosial Facebook, WD (14), nekad mencuri sepeda.

Uang hasil penjualan sepeda curian itu dipakai bocah tersebut untuk biaya ke warnet, bermain Facebook sampai berjam-jam per hari.

WD, warga Wirengan, Baluwarti, Pasarkliwon, sampai Selasa (15/3/2011) masih ditahan di Mapolsek Laweyan, Solo. Ia diduga sering mencuri sepeda di warnet tempat ia bermain Facebook.

Ia terakhir menggondol sepeda milik Febry Tundy Yoga (14), warga Kalitan RT 01 RW 02, Laweyan, Solo. Saat akan membawa kabur sepeda BMX tersebut, Minggu (13/3/2011) siang, ia kepergok sang pemilik.

Menurut Kanit Reskrim Polsek Laweyan, AKP Sunarto, kejadian berawal saat korban datang ke Warnet Yahoo, depan rumah dinas wali kota Solo (Loji Gandrung). Saat itu, tersangka juga sedang ngenet di warnet tersebut.

“Begitu melihat sepeda korban tak dikunci di depan warnet, tersangka langsung keluar dan membawanya kabur. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 13.30 WIB,” kata Sunarto.

Saat WD berhasil membawa sepeda itu beberapa meter dari warnet, sang pemilik melihatnya dari dalam warnet. Langsung saja si pemilik mengejar beramai-ramai bersama pengunjung warnet lain dan menangkap tersangka.

Baru Kenal Di Facebook Seorang Wanita Berhubungan Seks Selama 2 Minggu Dengan Kenalan Barunya Hingga Hamil

Seorang oknum polisi dari Polres Ketapang, Kalimantan Barat, berinisial HR dilaporkan oleh kekasihnya, WL, ke institusi tempatnya bekerja. HR dianggap menolak bertanggungjawab setelah WL hamil.

WL yang ditemui Selasa (8/2/11) di Mapolres Ketapang mengatakan, laporan itu telah lama dibuat. Namun hingga kini masih belum ada kejelasan.

“Hari ini saya datang ke sini untuk menanyakan sejauh mana proses laporan yang saya buat. Sebagai korban saya ingin ini jelas,” ujar WL kepada wartawan.

Kapolres Ketapang, AKBP Badya Wijaya, membenarkan ada seorang gadis melaporkan oknum anggotanya lantaran menolak bertanggungjawab. Badya menjelaskan, oknum tersebut berpangkat brigadir dari Satuan Samapta.

“Kasus ini sedang bergulir dan yang bersangkutan akan kami tindak. Kami tidak akan menutup- nutupi kasus ini dan 20 Febuari ini HR akan kami sidangkan,” ujar Badya.

WL yang asal Kota Pontianak menjelaskan, kisah asmaranya berawal dari iseng kenalan melalui jejaring sosial Facebook, pertengahan 2009. Enam bulan kemudian, keduanya salin tukar nomor telepon, dan mulai berpacaran sekitar Febuari 2010.

Sebulan resmi berpacaran, yakni Maret 2010, WL diminta HR menemuinya di Ketapang. WL menginap di rumah kontrakan HR di kawasan Mulia Baru. Untuk bisa bebas tinggal di kontrakan, pasangan kekasih ini mengaku keluarga sepupu.

“Di sana kami tinggal serumah selama dua minggu, dan HL janji akan menikahi saya,” tutur WL. Dua minggu menemani HR di Ketapang, WL kembali ke Pontianak.

Sebulan kemudian, ia mengeluhkan tak datang bulan, dan ternyata dia positif hamil. Dimintai pertanggungjawaban, HR malah mengirim uang Rp 1 juta untuk biaya menggugurkan kandungan.

“Semula saya tidak ingin anak itu digugurkan. Namun Tuhan berkehendak lain, karena pada 17 Mei 2010 saya jatuh dari motor di Jl Imam Bonjol Pontianak. Ketika sampai di rumah, saya keguguran,” tutur WL.

Kemudian pada 19 Agustus 2010, WL melaporkan perkara itu ke Polres Ketapang, lantaran masih tidak ada titik temu. WL mengaku sempat nekat hendak bunuh diri karena kecewa.

Kelompotan Warga Liberia Penipu Janda Janda Muda Kaya Indonesia Lewat Facebook Dengan Iming Iming Cinta Ditangkap Polisi Dengan Kerugian Puluhan Milyar

Kepolisian Daerah Metro Jaya menahan seorang penipu yang beroperasi melalui Facebook. “Dengan identitas palsu, ia meminta korbannya untuk mengirim uang hingga miliaran rupiah,” kata Kepala Satuan Cyber Crime Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Hermawan di kantornya, Rabu lalu.

Tersangka berinisial MRGG tersebut adalah warga negara Liberia. Ia bersama rekannya, B, yang masih buron, membuat akun di Facebook dengan identitas palsu untuk mencari sasaran janda-janda kaya di Indonesia yang haus cinta. “Profilnya di Facebook dibuat sebagai duda yang gagah, berusia 40 tahun, dan mencari jodoh,” ujar Hermawan.

Tersangka juga memasang foto laki-laki tampan yang diakui sebagai dirinya sedang bermain di pantai bersama anaknya. “Dia mencitrakan dirinya sebagai family guy supaya bisa menarik korban-korbannya,” katanya.

Setelah korbannya merasa dekat, tersangka mengaku sedang sakit keras dan meminta pinjaman uang untuk berobat. “Dia juga menyuruh seorang anak untuk menelepon korban sambil menangis, dan bilang kalau dia sedang kritis sehingga butuh uang segera,” dia menambahkan.

Oleh para korban, uang tak hanya sekali ditransfer ke rekening tersangka. “Ditransfer beberapa kali, pernah juga diserahkan secara tunai, tapi waktu bertemu, dia mengaku sebagai perantara,” kata Hermawan.

Sudah ada dua korban yang melapor ke Polda Metro Jaya. Korban pertama sudah memberi uang hingga Rp 8 miliar, sedangkan korban lainnya memberi uang sebesar Rp 5 miliar. “Mereka sudah sangat rapi beroperasi, pasti ada korban-korban lain,” katanya.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 372 dan 378 Kitab Undang-undang Hukum Pidana atas penggelapan dan penipuan, yang terancam hukuman penjara di atas lima tahun.

Saat menangkap tersangka, di rumahnya di Ciracas, Jakarta Timur, polisi menyita uang tunai berbagai mata uang senilai Rp 260 juta. Beberapa barang yang dibeli tersangka dari uang hasil penipuan itu juga disita, contohnya adalah televisi layar datar 45 inci dan laptop.

Sisa uang hasil penipuan tersebut, disebutkan Hermawan, masih berada di rekening tersangka di Bangkok, Thailand. “Kami sedang bekerja sama dengan NCB Interpol Thailand untuk memblokir rekening itu,” ujarnya. Selain itu, pihaknya juga memasukkan B, warga negara Liberia, ke dalam daftar merah.

Menurut dia, sudah banyak kasus kejahatan di dunia maya yang terjadi lewat jejaring sosial, seperti Facebook. “Selalu hati-hati, kalau tidak kenal, jangan di-approve sebagai teman,” katanya.

Ade Dua Tahun Jualan Siswi SMP ABG Di Facebook Bertarif 2 Juta Per Jam

Andai LCS tidak memacari lelaki itu, sindikat prostitusi ABG (anak baru gede) di situs jejaring sosial Facebook tidak akan terungkap Cinta monyet antara LCS dan seorang lelaki membuat persahabatan tujuh ABG retak.

Ketujuh ABG itu adalah “peliharaan” seorang mucikari bernama Dede. Mereka adalah KKS (15), AC (15), VYL (13), ZV (l5), LCS (15), NF (16), dan AS (15). Ketujuh ABG itu tinggal di satu kampung di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan. Dede adalah tetangga mereka.

Persahabatan LCS dengan keenam temannya retak karena LCS memacari seorang lelaki yang merupakan sahabat keenam temannya itu. Pada suatu hari, keenam teman LCS meminta pertanggungjawaban.

“Ketika LCS dimintai penjelasan soal pacarnya itu, enam teman LCS mengeroyoknya di luar Pasaraya Manggarai hingga babak belur. Anak saya VYL ikut juga menghajar LCS,” tutur DD di rumahnya di Kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, Minggu (23/1/2011).

Selanjutnya, melihat wajah anaknya membiru, orangtua LCS melaporkan hal ini kepada guru LCS di sebuah SMP swasta di Jalan Pariaman. Sang guru kemudian memeriksa identitas LCS di akun Facebook. Ia curiga melihat beberapa foto LCS bersama enam temannya dan Dede di dalam kamar sebuah hotel.

Beberapa hari kemudian, pihak sekolah mengundang semua orangtua, termasuk petugas Kepolisian Sektor Metro Setiabudi. “Saya tadinya dipanggil untuk kasus pengeroyokan. Awalnya, polisi menyampaikan kasus perkelahian remaja. Kemudian, sang guru membeberkan foto-foto muridnya yang terlibat prostitusi via Facebook,” ujar DD.

Setelah itu, polisi menyingkirkan kasus perkelahian remaja dan beralih ke kasus lain, yaitu penjualan anak di bawah umur. Petugas menanyakan Dede ke para orangtua yang hadir, apakah ia benar tinggal di sana. “Saya jawab, ia benar sekali. Dede itu tetangga saya,” kata DD yang diamini beberapa orangtua lainnya.

Suatu hari, polisi meminta DD menunjukkan rumah Dede dan mengawasi pergerakannya. Beberapa jam kemudian, ujar DD, ada lima petugas Polsek Setiabudi datang ke rumah Dede dan menanyakan hubungannya dengan tujuh gadis di dalam foto itu. “Kepada polisi, dia (Dede) bilang anak-anaknya saja yang bandel. Polisi terus mencecar pertanyaan hingga ia mengaku mengirim L dan kawan-kawan ke sebuah apartemen di Kemayoran,” ucap DD.

Akhirnya, Dede dibawa paksa ke kantor polisi. Mengingat TKP berada di Kemayoran, polisi menyerahkan penanganan kasus tersebut kepada Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat.

Penjualan tujuh wanita berusia belasan tahun atau dikenal sebagai anak baru gede (ABG) di sebuah kamar di Apartemen Puri Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (18/1/2011) sekitar pukul 18.00, terbongkar oleh polisi.

Polisi juga menangkap Alay (50) yang hendak membeli satu dari tujuh ABG itu, dan Dede (28), yang menjadi mucikarinya. Kamar apartemen adalah milik Alay. Setiap remaja wanita berpenampilan kenes itu dihargai Dede Rp 2 juta untuk melayani nafsu seorang konsumen.

Ketujuh ABG itu adalah KKS (15), AC (15), VYL (13), ZV (l5), LCS (15), NF (16), dan AS (15). Seluruh ABG tersebut adalah tetangga dari Dede yang tinggal di Jalan Dr Saharjo, Gang Bhakri, RT 07/05 Kelurahan Manggarai, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Kasatreskrim Polrestro Jakarta Pusat Kompol Yoyon Toni Suryaputra mengatakan, Alay ditangkap saat hendak dilayani oleh dua ABG di kamar apartemennya.

Yoyon mengungkapkan, Dede yang merupakan wanita beranak satu itu sudah setahun menjajakan remaja wanita tetangganya khusus jasa layanan seks. Semua ABG yang ditawarkan berusia di bawah 17 tahun.

Dalam pekerjaannya sebagai mucikari, Dede tergolong aktif mencari para ABG wanita di sekitar rumahnya. Yoyon mengatakan, transaksi biasanya dilakukan Dede melalui ponsel. “Alay adalah salah satu langganan Dede. Jika Alay membutuhkan, Dede ditelepon lalu para ABG disiapkan,” kata Yoyon.

Pelajar SMP

DD (43), ayah VYL, mengatakan, dirinya merupakan salah satu pelapor kasus itu. Dia melakukan itu karena guru sekolah VYL memberitahu jika purtinya “dijual” oleh Dede. “Kata guru, kasus ini terbongkar setelah memeriksa akun Facebook salah seorang ABG yang kebetulan satu sekolah dengan anak saya,” kata DD.

Kasus ini pun dilaporkan pihak sekolah ke Polsektro Setiabudi. Namun, karena lokasi praktik mesum dilakukan di kawasan Jakarta Pusat, kasus itu dilimpahkan ke Polrestro Jakarta Pusat.

DD mengakui bahwa putri bungsunya itu mengalami perubahan perilaku dalam beberapa bulan terakhir. “Biasanya kalau pulang sekolah atau berangkat sekolah pasti ucapin salam, tetapi sekarang enggak. Anak saya juga sering melawan dan sering pulang malam. Kalau ditanya, jawabnya cuma main ke rumah teman saja,” ujar DD.

DD tidak menyangka bahwa anaknya telah “dijual”, karena dia tidak melihat perubahan fisik maupun barang yang dimiliki VYL. Bahkan DD tetap memberikan uang jajan Rp 20.000 per hari kepada anaknya yang masih duduk di kelas I SMP tersebut.

“Saya juga enggak tahu kalau Dede itu telah menjual anak saya,” terang DD

Komisi Nasional Perlindungan Anak menduga praktik penjualan tujuh ABG oleh mucikari ke pria hidung belang diiringi dengan perdagangan narkoba.

“Ada dugaan kuat, korban dijebak jadi pencandu sekaligus pengedar narkoba,” kata Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait seusai menerima enam orangtua korban di kantornya di Jalan TB Simatupang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Kamis (20/1/2011).

Para korban yang masih di bawah umur itu mengaku dipaksa memakai sabu oleh I. Kalau berhasil mengisap sabu per 30 detik, korban dijanjikan uang Rp 50.000. “Kami menilai I difasilitasi oleh Ade untuk menyediakan sabu. Mereka dijebak untuk jadi pengguna dan distributor,” kata Arist.

Para orangtua korban khawatir akan kondisi psikis buah hati mereka. Jika dibiarkan begitu saja, anak-anak yang jadi korban ini bisa membuat mereka malu bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. “Anak saya masih takut pergi sekolah,” kata Eti (43), orangtua A (15).

Menyikapi keluhan tersebut, Komnas PA akan memberikan psikoterapi selama 3-6 bulan kepada para korban. “Terapi mental akan melibatkan orangtua korban dan lingkungan. Hal ini penting agar sang anak tidak merasa sendiri,” kata Arist.

Selain itu, korban akan menjalani tes urine untuk mengetahui tingkat kecanduan terhadap narkoba. Kepada Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat, Arist meminta agar pelaku dikenai Pasal 82 UU Perlindungan Anak.

“Awalnya korban itu kan dijebak dan ditipu dengan iming-iming sejumlah uang. Saat korban tidak mau memenuhi keinginan tersangka, mereka diintimidasi. Kami khawatir tersangka bisa lolos kalau dijerat dengan pasal,” tegasnya.

Tak biasanya VYL melawan kedua orangtua saat ditanya dari mana dia pergi. Padahal, ia biasanya menjawab setiap pertanyaan ayah ibunya. Itulah yang membuat orangtua VYL curiga ada apa-apa dengan anaknya.

“Kalau ditanya, datang dari mana, selalu jawabnya ‘Ah, udah masa bodoh’. Itu terjadi sejak awal Desember 2010 kemarin,” keluh DD, Minggu (23/1/2011) di rumahnya di kawasan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan.

Awalnya, ia tak curiga dengan sikap anak pertama dari dua bersaudara itu. Namun, karena sudah berkali-kali, dia heran dan sering tanya ke istrinya. “Biasanya dia nurut sama kami, enggak tahu kenapa sekarang jadi begitu,” katanya.

DD mengatakan, VYL yang duduk di kelas 1 SMP rajin berangkat sekolah di sekitar Jalan Pariaman walau, ia akui, anaknya sering bolos. Habis pulang sekolah, VYL langsung ke rumah untuk makan siang dan pergi ke tempat biasa kumpul dengan enam temannya.

Kepada Kompas.com, DD menduga anaknya mengisap narkoba karena lebih dari sebulan terakhir, setiap pulang dari tempatnya main, muka anaknya selalu dalam keadaan pucat.

Hal yang sama juga dikatakan Y, orangtua AS. “Bawaannya kalau pulang ke rumah, anak itu pucat, mata lelah, dan suka marah-marah,” ujarnya.

Y sendiri khawatir anaknya kecanduan atau sampai menjual narkoba. “Kalau sudah tiap hari disumpal dengan sabu dan sebagainya, pasti jalan ke depan buat dia akan jadi pecandu dan penjual,” ujar Y yang tinggal di belakang rumah DD.

Yang paling aneh dirasakan ketika anak-anak mereka memasang behel pada giginya, masih pada Desember 2010. Tentu kedua orangtua bertanya, bagaimana anak-anak bisa membeli barang mahal itu.

Warga kelahiran Jakarta itu pun ragu kalau ada teman yang memberikan behel ke anaknya. Setelah ditelusuri, enam teman sepermainan AS juga mengenakan behel.

“Anak bisa beli behel, itu duit dari mana. Anak jawabnya dibeliin sama teman. Ya, kita percaya enggak percaya,” kata DD.

DD melanjutkan, ia yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek dekat Terminal Bus Manggarai itu biasa memberikan uang jajan Rp 20.000 per hari sebelum berangkat sekolah dan Rp 5.000 saat pulang ke rumah.

VYL dan AS adalah dua dari tujuh gadis ABG yang menjadi korban trafficking atau perdagangan anak. Perdagangan anak tersebut terbongkar setelah polisi menangkap Alay dan Dede, konsumen tetap dan mucikarinya, di sebuah kamar di Apartemen Puri Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (18/1/2011).

Setiap hari lingkungan RW 6, Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, biasanya tenang seperti pemukiman kalangan menengah ke bawah. Jalan kecil beraspal dipenuhi anak-anak berlarian ke sana ke mari.

Sementara ibu-ibu berkumpul di sudut jalan ngerumpi soal harga kebutuhan pokok dan bapak-bapak bekerja di sekitar Terminal Bus Manggarai yang tak jauh dari tempat mereka tinggal.

Suasana berubah ketika seorang wanita bernama Dede (23) pindah ke rumah mertuanya di Jalan Saharjo Gang Bakti 4. Sebelumnya, dia tinggal di rumah orangtuanya di Jalan Menteng Sukabumi, Jakarta Pusat.

Belakangan pada Desember 2010, Dede diketahui sering mengajak para gadis dekat rumah barunya untuk makan di sebuah lokasi. VYL, anak DD, dan enam teman kumpulnya adalah yang paling sering diajak Dede sampai akhirnya anak-anak SMP itu terjebak dalam dunia prostitusi. Dede menawarkan anak-anak tersebut kepada para pria hidung belang melalui Facebook.

Menurut DD, Dede sudah dua tahun menyalurkan anak-anak ke pelanggan. “Dia diusir dari rumah orangtuanya di Jalan Menteng Sukabumi gara-gara kerja begituan sampai pindah ke sini dan meracuni anak-anak kami,” kata pria yang berprofesi sebagai tukang ojek di dekat Terminal Bus Manggarai itu.

DD dan keluarga anak korban penjualan anak via Facebook lain menduga, suami Dede yang menganggur ikut terlibat. Kecurigaan itu muncul karena ia sering memperlihatkan HP baru.

“Suaminya pasti ikut karena sehari-hari tidak kerja. HP-nya baru terus dan punya duit banyak,” ujar DD kepada Kompas.com, Minggu (23/1/2011) di depan rumahnya. “Saya lihat suaminya kadang mengantar Dede ke Apartemen Puri Kemayoran pakai motor, terus balik lagi,” imbuhnya.

Meski demikian, hubungan keluarga Dede dengan para warga sekitar umumnya tetap harmonis. Seluruh warga di RW 6 menyatakan dukungan moral kepada keluarga korban penjualan anak melalui Facebook itu. Para keluarga korban berharap, Kepolisian Sektor Metro Jakarta Pusat sanggup menangani dan menuntaskan kasus yang menimpa anak mereka. DD pun siap mendukung penuh anaknya di persidangan seraya menuntut tersangka diberi hukuman yang setimpal.

Selain menangkap Dede, polisi menangkap Alay, konsumen tetap mucikari tersebut di sebuah kamar di Apartemen Puri Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (18/1/2011). Mereka ditangkap bersama tujuh gadis ABG yang menjadi korban trafficking atau perdagangan anak.

“Saya khawatir karena tersangka Alay ini kan orang berduit. Takutnya, hakim tidak adil beri hukuman,” kata DD yang Kamis (20/1/2011) lalu mendatangi Komisi Nasional Perlindungan Anak pimpinan Arist Merdeka Sirait untuk meminta dukungan dan bantuan sosial bagi anak-anak mereka.

Ade yang ditangkap jajaran Polres Jakarta Pusat, Selasa (18/1/2011) kemarin, ternyata menjual korban anak baru gede (ABG) melalui jejaring sosial Facebook.

Ade mengaku melakukan bisnis penjualan ABG sebagai pemuas nafsu seksual para hidung belang dengan menawarkan jasanya melalui situs jejaring sosial Facebook. Hal itu sudah berjalan selama dua tahun.

“Saat ini yang bersangkutan tengah menjalani pemeriksaan. Berdasarkan pengakuan sementara, pelaku telah menjalani bisnis perdagangan seks anak di bawah umur ini selama dua tahun. ABG yang dijual korban diduga mencapai puluhan orang,” ungkap Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat AKBP Yoyon Toni Suryaputra, Rabu (19/1/2011).

Berdasarkan penuturan Yoyon, dalam melakukan aksinya tersangka menggunakan situs jejaring sosial untuk menawarkan kepada calon pembeli.

Jika calon pembeli tertarik, pembeli menghubungi dan melakukan penawaran harga. Setelah sesuai, tersangka mengirim ABG ke pemesan di alamat yang disepakati.